• Tidak ada hasil yang ditemukan

Framework of New Digital Eco Industrial Park Tata-kelola (Governance) menjadi tulang punggung EIP

TINJAUAN FILOSOFIS

2) Analisis prospektif

2.4 Framework of New Digital Eco Industrial Park Tata-kelola (Governance) menjadi tulang punggung EIP

ter-masuk memperkuat pengembangan industri yang terikat masyarakat, aliansi, kesadaran masyarakat lokal, infra-struktur dan penanganan masalah lingkungan. Banyak perusahaan telah mencoba untuk mendorong kemitraan yang muncul menggunakan teknologi internet; sebaliknya mereka biasanya gagal karena kurang ditentukan dan kurangnya struktur pemerintahan (Ulrich, 2004). EIP harus dikonsentrasikan pada kekuatan perubahan dalam

konsorsium industri: teknik, teknologi, tren bisnis dan langkah-langkah pemerintah “(McKinnon, 2008). Elemen penting dari keberhasilan skema itu adalah informasi yang cepat dan akurat dari spektrum yang luas dari bidang ope-rasi (Lancioni, 2000). (Tessitore, 2015) melaporkan bahwa elemen kunci yang berhasil dari Taman Industri Ramah Lingkungan Italia adalah masalah administrasi, yang di-berikan oleh undang-undang nasional untuk mengelola dan mengkoordinasikan simbiosis bersama perusahaan dan untuk mengembangkan lebih berkelanjutan secara lingkungan. Bahkan pemerintah tumbuh menjadi fondasi dan kunci operasi efisiensi tinggi dari EIP yang lebih baik, tetapi ada hasil penelitian kecil tentang cara mengatur mekanisme kerja sama dan sistem kontrol di antara ang-gota EIP. Oleh karena itu, buku ini mengungkapkan meka-nisme pemerintahan yang mempertimbangkan karakteris-tik heterogenitas kawasan industri. Heterogenitas tahu gambaran global dari zona terbatas yang meneliti kendala, mekanisme dan tantangan EIP yang ada dari wilayah yang lebih luas (gap-analysis).

Pengembangan mekanisme tata kelola untuk EIP ter-inspirasi oleh kerangka kerja (Zhang, 2009). Kontribusi dari usulan buku ini untuk konsep (Zhang, 2009) terletak pada standar-standar khusus untuk pendirian EIP dan ada-nya tambahan menara kontrol (control tower) yang me-rupakan upaya digitalisasi. Faktor EIP saat ini yang ditemu-kan diproyeksiditemu-kan ke dalam tata kelola hubungan (RG-Relational Governance) atau tata kelola kontraktual (CG-Contractual Governance). Misalnya, kolaborasi dalam industri, hubungan semacam itu dapat ditetapkan sebagai

kolaborasi/kerja sama kepercayaan (informal), atau diskusi meja bundar (round table discussion), dll. Namun, kerja sama tersebut juga dapat dilakukan oleh kontrak yang dilindungi oleh hukum (kontraktual).

Gambar 17. Struktur Tata Kelola Baru Untuk EIP (Sulaiman, 2016)

Dalam gambar di atas. juga diusulkan sebuah struk-tur kerangka kerja yang mendefinisikan matriks institu-sional dimana tempat transaksi diatur. Model ini merupa-kan struktur tata kelola dua dimensi yang mengusung teori ekonomi biaya transaksi (TCE-Transaction Cost Eco-nomics) dan teori relasional menggunakan investasi spesi-fik transaksi (TSI - Transaction Specific Investment). Kedua metode ini dihubungkan untuk membentuk hubungan tata kelola yang kuat tetapi fleksibel.

Ketidakpastian

Tata kelola relasional:

Norma kerjasama

Diskusi (FGD)

Kepercayaan

Tata kelola kontrak:

Kontrak kerjasama industri

Kontrak symbiosis industry terkait konservasi SDA &

energi

Kontrak manajemen lingkungan Tata Kelola Mekanisme

Menara kontrol EIP

Dalam lingkungan yang sangat tidak dapat diprediksi dan banyak terjadi pelanggaran terhadap norma-norma lingkungan, para pelaku industri dalam EIP dapat men-coba untuk mengatur struktur tata kelola yang positif untuk mengelola situasi yang tak terduga dengan lebih baik. Dari hasil beberapa penelitian sebelumnya, seperti (Geyskens, 1998), (Claro, 2003), (Cannon, 1999), (Ganesan, 1994), (Klein, 1990) dan (Zhang, 2009), ketidakpastian lingkungan dapat menjadi diklasifikasikan menjadi ke-anekaragaman dan volatilitas. Keragaman lingkungan adalah tingkat keberagaman dan komponen-komponen lingkungan yang kompleks, sedangkan volatilitas ling-kungan mengacu pada perubahan pasar dan permintaan yang cepat. (Zhang, 2009) berpendapat bahwa dalam tingkat ketidakpastian yang tinggi, pelaku logistik (kon-sumen, pemasok, produsen, dan pengecer) berusaha untuk bekerja sama selama masa krisis, misalkan dengan menggunakan kontrak untuk menjalankan bisnis mereka dengan aman atau bergabung menjual produk untuk pasar yang sama. Dengan demikian, kerja sama timbal balik melibatkan struktur yang mengikat yang dapat berupa tata kelola kontraktual atau tata kelola relasional.

Tata kelola kontrak (CG-Contractual Governance) ter-kait dengan perjanjian apa pun (tertulis atau lisan) yang didekati oleh individu atau perusahaan atau lembaga apa pun untuk mengurangi risiko dan ketidakpastian dalam hubungan. Dalam kasus Kawasan Industri di Cilegon, ada beberapa kontrak yang muncul, misalnya kontrak pasokan limbah suatu perusahaan A yang bisa digunakan sebagai input perusahaan B, kontrak pengolahan air

ter-padu atau kontrak pemasaran (berdasarkan kondisi pem-belian & penjualan). Tata kelola relasional (RG-Relational Governance) memberikan seperangkat hubungan infor-mal dan norma sosial. Oleh karena itu, tata kelola dengan kontrak (CG) memberikan aspek hubungan yang lebih nyata, eksplisit dan formal, sementara tata kelola relasional bekerja di sisi lain yang lebih lunak, diam-diam dan infor-mal berdasarkan kepercayaan dan kejujuran. Struktur ini juga terkait dengan TSI (Investasi Spesifik Transaksi) yang berkonsentrasi pada agregasi aset yang berat dan mahal untuk beralih dari satu mitra transisi ke mitra tran-sisi lainnya; oleh karena itu, kekhususan aset muncul.

Kekhususan aset menggambarkan investasi permanen yang dilakukan untuk mendukung transaksi tertentu.

Investasi spesifik aset sangat mengungkapkan biaya yang sangat terbatas atau tidak ada nilainya di luar hubungan.

(Claro, 2003) melaporkan bahwa kekhususan aset dapat merangsang tata kelola relasional. Menurut (Williamson, 1989), investasi spesifik aset dibagi menjadi lima jenis, yaitu kekhususan lokasi, kekhususan aset fisik, kekhu-susan aset manusia, aset khusus, dan modal nama merek.

Dalam tataran implementasi, pengukuran kinerja dengan KPI (Key Performance Indicators) tertentu adalah suatu keharusan untuk menjamin terwujudnya target-target EIP dan menjamin keberlanjutan.

Penilaian dan pengukuran KPI terhadap EIP adalah bagian dari nafas vital untuk kelangsungan hidup ang-gota konsorsium industri dan struktur jaringan yang di-bangun. Memang, efisiensi dan optimalisasi biaya men-jadi pilihan utama untuk menjaga keberlanjutan. Ketika

struktur tata kelola memiliki skor yang kurang pada dua bidang ini, maka itu akan menyebabkan masalah jangka pendek atau panjang. Ukuran kinerja juga dapat diguna-kan untuk manajemen risiko. Risiko yang telah dipetadiguna-kan sejak awal desain, dapat dideteksi keberadaannya selama proses berjalan. Pada saat ini, risiko dan kinerja sistem selalu dapat diukur dan dikendalikan.

Pendekatan terakhir yang menawarkan adalah digi-talisasi. Permintaan tersebut telah muncul karena desak-an biddesak-ang industri ddesak-an pasar untuk otomatisasi mdesak-anu- manu-faktur (industri 4.0). Saat ini, teknologi industri secara bertahap telah bergerak menuju otomatisasi. Produsen yang tidak mengikuti tren ini akan kalah dalam persaing-an pasar. Konsumen semakin meminta kualitas produk, presisi, dan komoditas ramah lingkungan. Koneksi antara konsumen juga semakin mengglobal, kesan produk yang dirasakan oleh konsumen di bagian dunia akan segera dirasakan dalam waktu singkat oleh orang-orang dari daerah lain. Juga, kesadaran lingkungan mulai menguat.

Produk yang tidak ramah lingkungan dan meninggalkan jejak karbon (carbon footprint) yang lebih besar tidak akan mendapat tempat di hati konsumen. Persaingan tidak hanya dianggap di tingkat produsen tetapi juga terjadi di tingkat pemasok bahkan di antara negara-negara. Saat ini, mereka yang menguasai informasi dan teknologi digi-tal akan mengelola produk yang lebih berkualitas dan proses yang lebih efisien. Secara bertahap akan meng-ubah persepsi produsen dan pemasok.

Struktur tata kelola yang diusulkan dalam buku ini juga menghadirkan menara kontrol (control tower) sebagai

strategi digitalisasi, serta menjadi koordinator dari seluruh supply chain. Istilah control tower diperkenalkan pertama kali di London ketika pada tahun 1921, Bandara Croydon London memperkenalkan menara pengontrol lalu lintas udara pertama kali. Otoritas bandara melakukannya untuk mengelola operasi yang semakin kompleks dengan lebih baik dan memastikan keselamatan setiap pilot dan penum-pang pada penerbangan yang masuk dan keluar. Control tower yang diusulkan disini memiliki tujuan yang hampir sama, meskipun apa yang dimulai di London waktu itu dengan alat visibilitas sederhana dan hari ini konsep “Con-trol Tower” lebih mengarah pada konsep digitalisasi dari seluruh lini yang “terkontrol”.

Kompleksitas industri yang berkembang dan per-ubahan kecepatan dalam marketing mendorong para ma-nager untuk lebih mengoptimalkan dan mengukur ran-tai pasokan dengan control tower ini. Control tower mem-berikan layanan internet berbasis cloud yang berfokus pada penyediaan visibilitas dan kontrol rantai pasok (supply chain) dari ujung-ke-ujung. Dengan cara ini, dasar EIP yang mengedepankan simbiosis hijau dalam kawasan bisa dilakukan. Limbah yang menjadi input bagi pabrik lainnya dapat diatur dan dikendalikan suplai-nya secara teratur. Dengan mengintegrasikan dan memperluas sistem ERP, WMS, dan TMS milik para pemasok (supplier), pab-rikan, 3PLs, dan mitra lainnya, Control Towers harus mem-berikan kontrol yang dapat ditindaklanjuti, visibilitas gra-nular, dan operasional di seluruh rantai pasokan.

Control-Tower akan membantu mengoptimalkan waktu tunggu pemenuhan, mengurangi biaya persediaan,

mengurangi pengecualian secara waktu nyata dan mening-katkan persentase pesanan yang dikirimkan tepat waktu, penuh (On Time in Full - OTIF). Control Tower yang kuat akan melayani fungsi-fungsi berikut:

a. Perencanaan Pemesanan secara realtime: Untuk meningkatkan tingkat layanan pelanggan, Menara Kontrol harus dapat menangkap dan memanfaatkan data kunci secara realtime, seperti waktu pengiriman, ketersediaan inventaris, dan biaya transportasi. Mela-kukannya memungkinkan Anda untuk selalu memi-lih aliran pesanan terbaik, paling hemat biaya.

b. Manajemen Pengendalian: Menara Kontrol juga harus fokus pada pengiriman pesanan OTIF secara konsisten dengan melacak rantai pasokan dan mengi-rimkan peringatan ketika masalah muncul. Lebih penting lagi, solusi harus memungkinkan untuk mengambil tindakan langsung setelah muncul pada aplikasi.

c. Visibilitas Granular: Selain melacak dan melacak, control-tower akan memberikan visibilitas granular ke dalam detail setiap pesanan untuk memenuhi secara efektif pada setiap elemen yang diperlukan.

2.5 Contoh Implementasi Skenario Simbiosis Industri

Dokumen terkait