2. Faktor Agama
2.6.4 Framing Analisis Semiotika Sosial
Menurut Eriyanto (2005:3), Analisis framing adalah satu analisis yang digunakan untuk mengetahui bagaimana realitas dikonstruksi oleh media. Dengan kata lain bahwa analisis framing merupakan satu cara lain untuk membuka satu tabir dibalik sebuah hal yang masih belum jelas. Ini berarti bahwa satu realitas
dimaknai, diartikan dan dibangun dengan bentuk dan arti tertentu. Dengan analisis framing akan dimungkinkan untuk mengetahui satu kebenaran sebuah realitas dengan menggunakan seni kreativitas kebebasan untuk menginterpretasi dengan menggunakan sebuah teori atau metode.
Masih menurut Eriyanto bahwa Analisis framing adalah satu versi pendekatan analisis wacana, khususnya untuk menganalisis teks media (dalam penelitian ini teks lagu). Gagasan tentang frame pertama sekali disampaikan oleh Beterson 1995, bakwa frame dimaknai sebagai satu bentuk konseptual atau satu perangkat kepercayaan yang mengorganisir sebuah pandangan politik, kebijakan dan wacana serta menyediakan kategori standar untuk mengapresiasi realitas.
Konsep Analisis framing
Konsep tentang frame atau frame itu sendiri bukan murni konsep komunikasi semata, akan tetapi dipinjam dari ilmu kognitif (psikologis). Dalam kenyataannya analisis framing juga membuka peluang juga untuk mengimplementasikan konsep-konsep sosiologis, politik dan kultural sehingga suatu fenomena dapat terungkap dan diapresiasi dengan jalan menganalisis berdasarkan konteks sosiologis, politis, maupun kultural.
Semiotika Sosial
Menurut Ramlan (dalam M. A. Halliday-Ruqaiya Hasan), semiotik mulanya berasal dari konsep tanda, yang mempunyai hubungan dengan istilah semainon (penanda) dan semainomenon (petanda), berasal dari bahasa Yunani kuno, oleh para pakar filsafat Soik. Orang orang stoik adalah orang pertama yang menggunakan dan mengembangkan teori tentang tanda.
Oleh karena itu semiotik dapat diberi batasan sebagai satu kajian umum tentang tanda, yang selanjutnya diubah menjasi sistem tanda atau bisa juga dikatakan sebagai satu kajian tentang makna dalam arti yang luas. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam budaya manapun, masih banyak kajian tentang makna termasuk cara-cara bentuk seni lainnya seperti ukiran, lukisan bunyi-bunyian, maupun bentuk tingkah laku budaya lainnya yang semuanya saling berhubungan.
Jadi semiotik adalah satu sudut pandang yang digunakan untuk melihat bahasa, yaitu bahasa sebagai salah satu dari sejumlah sistem makna yang secara bersama-sama membentuk budaya manusia. Ini berarti bahwa kajian semiotik tidak hanya terbatas pada kajian bahasa, akan tetapi bisa berdasarkan kajian ektrinsik bahasa, misalnya sastra atau budaya. Walaupun sudah barang tentu kajian sastra dan budaya pada umumnya menggunakan bahasa sebagai mediumnya.
Bila dikaitkan dengan penelitian ini dapat dilihat bagaimana sistem tanda yang berhubungan dengan budaya Batak Toba tergambar melalui sepuluh lirik lagu Batak Toba.
Sebagai metode mikroskopis, strukturalisme dianggap mengingkari peranan subjek individual maupun masyarakat sebagai subjek transindividual. Oleh karena itulah metode dan teori strukturalisme dianggap antihumanis. Semiotika memberikan jalan keluar dengan cara mengembalikan objek sekaligus pada pengarang dan latar belakang sosial yang menghasilkannya. Argumentasi yang dikemukakan dalam teori semiotika adalah asumsi bahwa karya sastra merupakan proses komunikasi, karya sastra dapat dipahami semata-mata dalam
kaitannya dengan pengirim dan penerima. Makna tanda-tanda bukanlah milik dirinya sendiri, tetapi berasal dari konteks di mana ia diciptakan, dimana ia tertanam. Jadi semua tanda bisa memiliki arti sangat banyak, atau sama sekali tidak berarti. Ratna (2004:117).
Sementara istilah sosial yang digunakan dalam hal ini bisa bermakna ganda, yaitu sosial dalam artian sistem sosial yang berhubungan dengan budaya, dan sosial dalam artian hubungan antara bahasa dengan struktur sosial. Artinya bahwa makna sosial dalam hal ini boleh ditafsirkan dari berbagai dimensi.
Menurut Halliday (1992:3-8), semiotika sosial adalah semiotika itu sendiri, dengan memberikan penjelasan lebih detail dan menyeluruh tentang masyarakat sebagai makrostruktur. Semiotika Sosial di satu pihak mencoba memberikan penilaian pada gejala di balik objek, di lain pihak memberikan kemungkinan untuk menjelaskan hakikat masyarakat dalam rangka multidisiplin, sebagai multi kultural. Halliday dalam hal ini menganggap bahwa istilah sosial sejajar dengan kebudayaan.
Selanjutnya lagi masih menurut Halliday, semiotika sosial memiliki implikasi lebih jauh dalam kaitannya dengan hakikat teks sebagai gejala yang dinamis. Sebagai ilmu tanda, semiotika sosial mesti dipahami dalam kaitannya dengan konteks, dimana tanda-tanda tersebut difungsikan. Sebagai gejala kesusastraan, teks juga berfungsi hanya dalam pemakaian dalam interaksi antara pengirim dan penerima.
Implikasi lebih jauh terhadap semiotika sosial sebagai ilmu, teks dan konteks sebagai objek adalah metode yang harus dilakukan dalam proses pemahaman. Dalam kaitannya dengan semiotika sosial, Halliday (1992:16-18)
mendeskripsikan tiga model hubungan teks, yaitu:1) Medan, sebagai ciri-ciri semantik teks, 2) Pelaku atau orang-orang yang terlibat, 3) Sarana, yaitu ciri-ciri yang yang diperankan oleh bahasa.
Sejalan dengan penjelasan di atas bila dikaitkan dengan penelitian ini maka dapat dilihat beberapa aplikasi kontekstual ketiga unsur yang dimaksud oleh Halliday, seperti: unsur pertama, Medan Wacana (field of discourse), yaitu yang memfokuskan pada pembahasan yang berhubungan dengan hal-hal yang terjadi misal apa yang menjadi wacana oleh pelaku, yang dalam penelitian ini difokuskan pada pengarang lagu. Selanjutnya berhubungan dengan sesuatu atau hal yang terjadi di lapangan kejadian, dalam hal ini difokuskan pada masyarakat Batak Toba (BT).
Kedua, Pelibat Wacana (Tenor of Discourse), yaitu difokuskan pada siapa yang terlibat dalam teks, (sepuluh lirik lagu BT) yang dalam hal ini difokuskan pada perempuan BT, kaum bapak dan anak-anak di lingkungan komunitas masyarakat BT; selanjutnya yang berhubungan dengan sifat orang yang terlibat dalam teks, dalam hal ini difokuskan pada perempuan BT yang sangat berperan, bertanggung jawab, berjuang di ranah domestik maupun publik, seorang bapak yang mau menasihati anaknya untuk menghormati dan memperhatikan nasihat sang ibu, anak-anak yang tahu menghargai peran, tanggung jawab dan perjuangan sang ibu terhadapnya; kemudian yang berhubungan dengan kedudukan dan peranan, dalam hal ini difokuskan pada kedudukan dan peranan perempuan BT sangatlah penting. Walaupun sebagai masyarakat yang mengikuti paham patrialkal yang pada umumnya memposisikan perempuan pada posisi kedua, akan tetapi dalam peran perempuan sangatlah penting dan dominan dalam
menumbuhkan, mengembangkan dan memajukan keluarga masyarakat BT (dapat dilihat melalui lirik lagu yang digambarkan oleh masing-masing pengarang lagu).
Ketiga, Sarana Wacana (Mode of Discource), dalam hal ini difokuskan pada peran bahasa yang digunakan oleh seorang pengarang lagu dalam menciptakan karyanya, gaya bahasa apa yang digunakannya agar karyanya lebih indah dan enak didengar oleh pendengarnya ketika sang pengarang menggambarkan medan atau situasinya (masyarakat BT) dan bagaimana sang pengarang menggambarkan pelibat atau pelaku.