TINJAUAN TEOR
II.1 Kajian Pustaka
7 Frans C Singkoh
(2012) Peran Elit Politik dalam Proses Penetapan Kebijakan Publik di DPRD Kota Manado
Hasil temuan penelitian ini menunjukan bahwa peran para Elit politik DPRD dalam tugas dan fungsinya sebagai pemberi legitimasi, menetapkan anggaran serta sebagai kelompok yang mengawasi penyelenggaraan pemerinatahan di daerah diharapkan dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan publik akan menjadi panduan dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah khususnya penyelenggaraan pemerintahan di Kota Manado.
Berdasarkan pada kajian literatur terdahulu di atas, maka dapat digambarkan bahwa penelitian yang akan dilakukan
43
merupakan kajian-kajian penelitian yang sangat kontemporer karena lebih menfokuskan untuk melihat pola relasi elit politik di tingkat lokal dalam melakukan proses pembentukan dan pembahasan legislasi daerah yang akuntabel, komprhensif, akuntabilitas serta aspiratif.
Maka berdasarkan pada penelitian terdahulu di atas, dapat di uraikan bahwa fokus penelitian yang akan dilakukan sangatlah berbeda dengan penelitian yang dilakukan terdahulu. Sehinggan posisi penelitian yang akan dilakukan lebih pada bagaimana melihat Pola relasi elit politik lokal pada proses pembuatan legislasi daerah, dan mengidentifikasi faktor-faktor penyebab keterlambatan pada setiap pembahasan APBD di Kabupaten Buru Selatan Tahun 2015. Selain itu, bahwa penulis akan menganlisis dan menguraikan segala permasalahan yang terjadi pada tahapan legislasi penganggaran, dengan menggunakan menggunakan analisis interkasi para elit lokal karena memang dalam setiap pembahasan penganggaran daerah para elit-elit yang berkuasa selalu mengunakan kekuatan dan sumber daya yang dimiliki untuk memenuhi kepentingan individu atau kelompok.
44 II.2 Kerangka Teoritik
Kajian-kajian tentang pola relasi elit politik pada pembuatan legislasi daerah yang mengambil studi kasus pada pembahasan APBD Kabupaten Buru Selatan Tahun 2015, Maka penulis pada Bab ini yaitu kajian teoritik dan tinjauan pustaka dapat membuat arah penelitian dalam menganalisis, memetakan bagaimana proses Pembahasan APBD Tahun 2015 Di Kabupaten Buru Selatan yang sarat dengan kepentingan-kepentingan aktor politik. Adapun kerangka teoritik yang dipakai oleh penulis yaitu sumber yang di anggap memiliki kompetensi sehingga dapat mendukung teori-teori untuk menganalisis permasalahan yang terjadi di objek penelitian ini, meliputi:
II.3 Pola Relasi Eksekutif dan Legislatif II.3.1 Teori Pola Relasi
Pola Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBI) Yaitu pola adalah suatu gambar atau bentuk. Sedangkan relasi yaitu suatu hubungan atau perhubungan (KBI: 2008:190). Senada dengan apa yang di sampai oleh W.J.S Poerwadarminta (2002:937), menurutnya relasi berarti
45
hubungan, yaitu suatu kegiatan tertentu yang membawa akibat kepada kegiatan lain. Relasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional (2002:943) berarti hubungan, perhubungan, pertalian. Hubungan atau relasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah relasi, hubungan pengaruh DPRD dan Pemerintah Kabupaten dalam pembahasan APBD Tahun anggaran 2015.
Sedangkan menurut Setiadi dan Kolip (2011:101) bahwa yang di maksud dengan pola dalam hal ini adalah
Mekanisme atau cara dari proses interkasi sosial tersebut berlangsung di dalam kehidupan sosial. Pola lebih menekankan pada aspek kebiasaan dalam kehidupan sosial antara satu dan lainnya memiliki perbedaan-perbedaan. Menurut Madani (2011:46), bentuk relasi antara DPRD dan pemerintah daerah sebagai wujud dari fungsi mengatur (policy formulation) dan fungsi mengurus (policy implementation) yang dimiliki oleh pemerintah daerah bersama DPRD. Relasi kedua lembaga penyelenggara pemerintahan daerah tersebut menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pelaksanaan pemerintahan daerah walaupun sebenarnya dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah tidak hanya ditentukan
46
oleh proses relasi antara DPRD dan pemerintah daerah, tetapi juga melibatkan interaksi dengan berbagai institusi pusat maupun pemerintah provinsi. Rodinelli dalam kutipan Madani (2011:46) mengemukakan, bahwa salah satu faktor penentu keberhasilan penyelenggaraan desentralisasi adalah interaksi antara penyelenggara pemerintahan di tingkat lokal. Interaksi dalam konteks ini adalah relasi antara DPRD dan pemerintah daerah sebagai institusi utama yang melaksanakan tanggung jawab mengelola urusan daerah menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah.
Interaksi antara penyelenggara pemerintahan di tingkat lokal, menurut Rodinelli dalam kutipan Madani di atas, DPRD dan pemerintah daerah adalah wujud dari komunikasi antar sesama penyelenggara pemerintahan daerah sebagai bentuk hubungan atau keterkaitan antarinstitusi pemerintahan daerah. Menurut W.J.S Poerwadarminta (2002:934), bahwa relasi berarti hubungan, yaitu suatu kegiatan tertentu yang membawa akibat kepada kegiatan lain. Berdasarkan pada tinjauan tersebut, maka peneliti mempunyai asumsi bahwa interaksi adalah bagian
47
spesifikasi daripada relasi atau hubungan sehingga suatu relasi atau hubungan dapat dilihat dari sebuah interaksi.
Sedangkan menurut Soekanto (2006: 58) syarat terjadinya interaksi sosial adalah
Adanya kontak sosial (social contact) dan adanya komunikasi. Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu antara orang-perorangan, antara orang- perorangan dengan suatu kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok lainnya.
Oleh karenanya berdasarkan teori yang di kemukakan oleh Soekanto di atas. Maka relasi DPRD dan pemerintah daerah dalam penelitian ini merupakan bentuk interaksi sosial karena adanya kontak sosial dalam bentuk kelompok dengan kelompok. Interaksi kontrak sosial dilakukan dengan adanya bentuk komunikasi yang dilakukan karena pola hubungan Interest (Kepentingan) yang ingin di sampaikan baik dalam bentuk personal dengan personan, personal dengan kepompok, maupun kelompok dengan kelompok.
Sedangkan menurut Levitsky yang membagi Tipologi relasi menjadi yaitu institusi formal adalah aturan atau prosedur yang dibuat, dikomunikasikan dan bersifat memaksa untuk menembus
48
berbagai saluran/lini yang diterima sebagai aturan resmi. Sedangakan institusi informal adalah aturan sosial, biasanya tidak tertulis di mana dibuat dan dikomunikasikan serta bersifat memaksa, berada di luar aturan resmiyang menyentuh chanel tertentu. Kemunculan institusi ini di karenakan beberapa sebab diantaranya yang pertama institusi formal tidak berjalan efektif dan tidak sempurna. Kedua, institusi formal bias menjadi pilihan strategi bagi aktor yang menginginkan sesuatu tetapi tidak bisa meraih aksesnya melalui institusi formal disebabkan diantaranya institusi formal sering dianggap costless, sebagai strategi altenatif ketika institusi formal tidak efektif, dan untuk mencapai sebuah tujuan tidak harus selalu menggunakan logika penerimaan publik (Gretchen dan Levistky Steven: 2003: 7 ).