BAB IV HASIL PENELITIAN
4.3 Kebiasaan Makan
4.3.1 Frekuensi Makan Anak Stunting di SDN 040456 Berastagi
Berdasarkan hasil wawancara menggunakan formulir food frequency, diperoleh gambaran frekuensi makan anak stunting di SDN 040456 Berastagi berdasarkan kelompok jenis bahan makanan yang tercantum dalam tabel 4.2 sampai tabel 4.7 berikut ini.
Tabel 4.2 Distribusi Jenis Makanan dan Frekuensi Mengonsumsi Makanan Sumber Karbohidrat pada Anak Stunting di SDN 040456 Berastagi Makanan
Sumber Karbohidrat
Frekuensi Makan
>1x/hari 1x/hari 3-6x/minggu 1-2x/minggu <3x/bulan Tidak Pernah Total
n % n % n % n % n % n % N %
Nasi 68 94,4 4 5,6 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 72 100 Mie 0 0,0 14 19,4 32 44,4 21 29,2 5 6,9 0 0,0 72 100 Roti 0 0,0 8 11,1 28 38,9 28 38,9 8 11,1 0 0,0 72 100 Ubi 0 0,0 0 0,0 5 6,9 13 18,1 51 70,8 3 4,2 72 100
Hasil penelitian yang disajikan dalam tabel 4.2 menunjukkan semua anak stunting memenuhi kebutuhan karbohidrat dengan mengonsumsi nasi lebih dari 1 kali sehari, karena sudah menjadi kebiasaan untuk mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Anak stunting juga mengonsumsi mie dan roti sebagai sumber karbohidrat, dengan frekuensi yang berbeda-beda. Kebanyakan anak stunting mengonsumsi mie dan roti dengan frekuensi 3-6 kali per minggu dan bukan sebagai makanan pokok, melainkan makanan selingan yang dibeli dari kantin sekolah. Umumnya anak stunting di SDN 040456 Berastagi jarang mengonsumsi karbohirat ubi dan jagung. Sama seperti mie dan roti, anak stunting mengonsumsi ubi dan jagung sebagai makanan selingan dalam bentuk olahan gorengan ubi dan es jangung.
Secara umum untuk kelompok lauk pauk yang biasa dikonsumsi anak stunting adalah ikan laut dan telur sebagai lauk hewani. Ikan laut yang dikonsumsi anak stunting ada yang berupa ikan segar ada pula yang berupa ikan asin dan ikan teri, namun dari hasil wawancara diketahui bahwa yang paling umum dikonsumsi anak stunting adalah ikan asin dan ikan teri karena harganya yang lebih murah dibanding ikan laut segar. Ikan teri biasanya dikonsumsi bersama bahan makanan lain, seperti kentang, kacang, tahu atau tempe. Frekuensi mengonsumsi lauk pauk tersebut pada anak stunting di SDN 040456 Berastagi disajikan dalam tabel 4.3.
37
Tabel 4.3 Distribusi Jenis Makanan dan Frekuensi Mengonsumsi Lauk Pauk pada Anak Stunting di SDN 040456 Berastagi
Lauk Pauk
Frekuensi Makan
>1x/hari 1x/hari 3-6x/minggu 1-2x/minggu <3x/bulan Tidak Pernah Total
n % n % n % n % n % n % N %
Sebanyak 27,8% anak stunting mengonsumsi telur setiap hari, dan 54,2%
anak stunting mengonsumsi telur 3-6 kali seminggu. Selain karena harganya yang murah, pengolahan telur juga relatif mudah dan cepat, sehingga selalu tersedia di rumah.
Lauk nabati seperti tahu dan tempe umumnya dikonsumsi tiga sampai enam kali seminggu, dikarenakan harganya yang terjangkau. Biasanya tahu atau tempe ini dikonsumsi bersama ikan teri atau bersama sayuran kacang panjang.
Harga daging yang mahal menjadi penyebab banyaknya anak stunting (22,2%) yang jarang mengonsumsi daging yaitu dengan frekuensi kurang dari 3 kali sebulan. Beberapa anak stunting mengonsumsi daging hanya pada saat-saat tertentu seperti, hari raya keagamaan, acara keluarga, atau jika orang tua mereka membawa daging dari pesta.
Daerah lokasi penelitian ini merupakan daerah pertanian dimana sayuran segar mudah untuk diperoleh. Bagi petani yang memiliki lahan pertanian sendiri, sayur yang dikonsumsi di rumah biasanya adalah sayuran yang dibudidayakan di lahan pribadi atau di pekarangan rumah. Sedangkan untuk keluarga buruh tani, untuk memperoleh sayuran, mereka tetap harus membelinya dari pasar.
Rendahnya daya beli keluarga kerap kali menjadi penyebab tidak tersedianya sayur untuk dikonsumsi anak stunting dirumah, sehingga anak stunting masih jarang mengonsumsi beberapa jenis sayuran, selain dikarenakan tidak suka mengonsumsi sayuran tersebut. Distribusi jenis sayuran dan frekuensi mengonsumsi sayuran pada anak stunting di SDN 040456 Berastagi dapat dilihat dalam tabel 4.4.
Tabel 4.4 Distribusi Jenis Makanan dan Frekuensi Mengonsumsi Sayuran pada Anak Stunting di SDN 040456 Berastagi
Sayuran
Frekuensi Makan
>1x/hari 1x/hari 3-6x/minggu 1-2x/minggu <3x/bulan Tidak Pernah Total
n % n % n % n % n % n % N %
Konsumsi sayur pada anak stunting sudah bervariasi dilihat dari jenis sayur yang dikonsumsi, walaupun kebanyakan anak stunting mengonsumsi setiap jenis sayuran 1-2 kali seminggu. Lebih dari 20% anak stunting yang mengonsumsi daun ubi, sawi, kol, dan kurma parit dengan frekuensi 3-6 kali dalam seminggu.
Daun ubi sering dikonsumsi karena mudah didapatkan di sekitar tempat tinggal mereka, bahkan tanpa harus membeli. Sayuran jenis brokoli dan kol bunga, banyak diproduksi di daerah lokasi penelitian, namun dari hasil wawancara
39
diketahui bahwa lebih dari 50% anak stunting yang jarang (kurang dari 3 kali dalam sebulan) mengonsumsi sayuran tersebut karena harganya relatif mahal.
Buah-buahan segar juga mudah didapat di sekitar lokasi penelitian ini.
Jenis buah-buahan yang menjadi khas di daerah Berastagi adalah jeruk dan strawberi. Namun untuk mengonsumsi buah-buahan tersebut keluarga anak stunting juga harus membelinya, dikarenakan tidak memiliki tanaman buah sendiri. Dalam Tabel 4.5 disajikan distribusi jenis buah-buahan dan frekuensi mengonsumsi buah-buahan tersebut pada anak stunting di SDN 040456 Berastagi.
Tabel 4.5 Distribusi Jenis Makanan dan Frekuensi Mengonsumsi Buah pada Anak Stunting di SDN 040456 Berastagi
Buah-buahan
Frekuensi Makan
>1x/hari 1x/hari 3-6x/ minggu 1-2x/ minggu <3x/bulan Tidak Pernah Total
n % n % n % n % n % n % n % Setiap jenis buah-buahan pada umumnya dikonsumsi anak stunting satu sampai dua kali seminggu. Banyak anak stunting yang mengonsumsi jeruk (34,7%), nenas (29,2%), dan pisang (31,9%) dengan frekuensi 3-6 kali dalam seminggu, dikarenakan jeruk merupakan buah-buahan yang khas di Berastagi sehingga mudah untuk diperoleh, dan pisang juga merupakan jenis buah yang mudah di dapat di daerah lokasi penelitian, sedangkan nenas biasa dibeli anak
termasuk buah-buahan yang banyak dibudidayakan di Berastagi, namun harganya yang relatif mahal menjadi penyebab jarangnya anak stunting mengonsumsi strawberi. Buah-buahan lain yang dikonsumsi anak stunting dengan frekuensi kurang dari 3 kali dalam sebulan adalah, apel (59,7%), anggur (56,9%), mangga (65,3%) dan rambutan (76,4%). Hal ini dikarenakan harganya relatif mahal dibandingkan buah-buahan lain, apalagi ketersediaannya tergantung pada musim.
Konsumsi air yang cukup dapat bersumber terutama dari air minum, dan sisanya dapat dipenuhi dari minuman olahan seperti sirup, jus, dan susu. Susu sebagai bagian dari pangan hewani yang dikonsumsi berupa minuman. Susu dan hasil olahannya (yogurt, keju dll) merupakan minuman atau makanan dengan kandungan zat gizi yang cukup lengkap yang setara dengan telur. Kosumsi ikan, telur dan susu bagi kelompok anak usia 6-9 tahun sangat membantu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta peningkatan daya ingat dan kognitif di sekolah. Konsumsi minuman pada anak stunting di SDN 040456 dapat dilihat dalam tabel 4.6.
Tabel 4.6 Distribusi Jenis Makanan dan Frekuensi Mengonsumsi Minuman pada Anak Stunting di SDN 040456 Berastagi
Minuman
Frekuensi Makan
>1x/hari 1x/hari 3-6x/ minggu 1-2x/ minggu <3x/bulan Tidak Pernah Total
n % n % n % n % n % n % n %
Susu 1 1,4 7 9,7 21 29,2 28 38,9 13 18,1 2 2,8 72 100 Teh manis 2 2,8 14 19,4 38 52,8 11 15,3 7 9,7 0 0 72 100 Sirup 0 0 2 2,8 5 6,9 14 19,4 46 63,9 5 6,9 72 100 Minuman Buah 0 0 4 5,6 22 30,6 15 20,8 31 43,1 0 0 72 100
Tabel 4.6 menunjukkan banyak di antara anak stunting yang tidak rutin minum susu setiap hari, dan pada umumnya susu dikonsumsi 1-2 kali seminggu yaitu oleh 38,9% anak stunting. Diketahui dari hasil wawancara bahwa anak
41
stunting lebih sering mengonsumsi teh manis dibandingkan dengan minuman lain.
Biasanya teh manis dikonsumsi saat pagi hari sbelum pergi ke sekolah atau saat siang hari sebagai selingan. Sebanyak 30,6% anak stunting mengonsumsi minuman buah 3-6 kali dalam seminggu, karena minuman ini banyak di jual di kantin sekolah, atau warung di sekitar rumah. Biasanya minuman ekstrak buah dikonsumsi anak stunting pada jam istirahat sekolah, atau sore hari di sela-sela kegiatan bermain di rumah.
Sama seperti anak sekolah pada umumnya, anak stunting di SDN 040456 Berastagi banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk sekolah dan bermain saat sepulang sekolah. Saat jam istirahat di sekolah biasanya anak stunting akan mengonsumsi jajanan yang dijual di kantin sekolah atau di luar gerbang sekolah.
Jenis jajanan yang sering dikonsumsi dan frekuensi anak stunting mengonsumsi jajanan tersebut dapat dilihat dalam tabel 4.7.
Tabel 4.7 Distribusi Jenis Makanan dan Frekuensi Mengonsumsi Jajanan pada Anak Stunting di SDN 040456 Berastagi
Jajanan
Frekuensi Makan
>1x/hari 1x/hari 3-6x/ minggu 1-2x/ minggu <3x/bulan Tidak Pernah Total
n % n % n % n % n % n % n % dilihat bahwa hampir setengah dari anak stunting yang mengonsumsi bakso (40,3%) dan gorengan (43,1%) setiap hari. Jajanan ini sering dikonsumsi anak dikarenakan baik di sekolah maupun di sekitar rumah terdapat penjual bakso dan gorengan sehingga anak sering mengonsumsinya. Es jagung merupakan salah satu jajanan yang dijual di sekolah, dan banyak diminati oleh anak-anak sekolah.
Namun anak stunting lebih banyak (41,7%) yang mengonsumsi es jagung kurang dari 3 kali sebulan, anak stunting lebih suka membeli minuman ekstrak buah dibandingkan es jagung saat jajan di sekolah.