Hello friend, namaku panjang sekali Frisko Samudra Novarista Permata Martiyan. Nama panggilanku Indra. Aku tinggal di Jalan Kartini Lorong III No 11A Kunden , Blora. Blora lekat dengan makanan khasnya: sate. Kalau makan sate di Blora, jangan bingung ya karena penjualnya akan selalu membakar sate untuk pembelinya. Habis dimakan, pasti disodori sate panas yang berkepul-kepul lagi. Tapi tidak usah bingung, kita bisa makan secukupnya kok. Eh, jangan lupa: jangan membuang tusuknya karena si penjual akan menghitung jumlah tusuk sate itu untuk menentukan berapa uang yang kita bayarkan. Blora juga terkenal sebagai daerah yang kering karena daerah ini sulit untuk mendapatkan air. Musim kemarau baru berjalan satu bulan saja, air sudah sulit diperoleh. Karena itu jangan heran kalau di Blora pas musim kemarau jam dua malam sudah ada orang yang membocengkan dua jerigen di sepeda motornya untuk mencari air. Sopir becak juga malas-malasan mencari penumpang karena mereka lebih suka menjual air. Lumayan 6 jerigen bisa memperoleh uang Rp. 15.000. Kalau musim kemarau lebih
lama, bisa mendapatkan uang Rp. 20.000. Padahal mereka bisa kembali 20 kali dalam sehari. Bisa dihitung pendapatan mereka dalam sehari. Lebih menguntungkan daripada mencari penumpang yang kian sulit.
SMP Negeri 1 Blora adalah sekolahku. Hanya berjarak 1.5 km dari rumahku. Sekolahku termasuk sekolah favorit di Blora.Tapi bersekolah di sekolah favorit memang tidak ringan bebannya. Banyak kegiatan sekolah yang harus diikuti. Hari Selasa jam 16.30 sudah harus melaksanakan senam pagi. Selasa ada ekstra basket. Ekstrakurikuler wajib seperti pramuka pada hari Rabu. Sekolahku dekat dengan makam Jlubang. Jadi dari gedung yang bertingkat bisa melihat makam yang cukup besar di Blora itu. Aku tidak tahu apakah karena sekolahku dekat dengan makam, beberapa kali sering ada siswa yang kesurupan. Pernah sekolahku pulang pagi karena banyak siswa yang kesurupan. Tapi aku tidak percaya takhayul. Siswa yang kesurupan mungkin terlalu lelah atau bisa jadi beban ikirannya terlalu berat.
Tito adalah teman bermainku. Selain itu dia juga teman satu klub denganku: Putra Mustika Blora. Dia teman yang enak diajak ngobrol. Tahun ini saya dan Tito diterima masuk klub bulutangkis di Yogyakarta. Nama klub bulu tangkis itu adalah Tahidz-Qu. Di sana aku bisa lebih intensif berlatih karena dibimbing oleh pelatih yang profesional. Aku juga berteman dengan Danu, Bara, Kukuh, maupun Sensen. Mereka seusia denganku. Mereka juga memiliki hobi yang sama denganku: bermain bulu tangkis. Tapi mereka kadang bisa menjadi lawan pas kalau ada pertandingan. Begitu pertandingan usai akan menjadi kawan kembali. Jadi lawan itu pas di lapangan saja.
Hari Minggu pukul 11.00 sampai pukul 15.30 aku berlatih bulu tangkis di GOR Taman Sarbini. Hari Senin pukul 15.30 aku berlatih isik, berlatih mengitari stadion Kridosono Blora sebanyak 5 kali putaran. Hari Selasa pukul 17.30 aku berlatih bulu tangkis secara privat sampai pukul 20.00. Rabu aku ikut kegiatan ekstra pramuka di sekolah. Hari Kamis aku berlatih bulu tangkis di Putra Mustika dari pukul 17.00 sampai pukul
173
10 Naskah Terbaik Lomba Menulis Cerita Remaja (LMCR) Tahun 2015
19.30. Hari Jumat berlatih lagi bulu tangkis dari pukul 17.30 sampai dengan pukul 20.00. Di antara latihan-latihan rutin bulu tangkis itu aku berlatih menulis. Sekadar menulis pengalaman atau cerita yang menarik. Kadang cerita itu selesai dalam satu latihan. Kadang dua atau tiga tulisan baru bisa menghasilkan cerita. Tak jarang satu cerita tidak selesai karena aku sudah lupa cerita kelanjutannya karena aku sibuk dengan tugas-tugas sekolah yang banyak sekali. Tugas membuat kliping, latihan menari, membuat dialog dalam Bahasa Inggris atau les mengaji. Semua itu sudah menghabiskan staminaku. Aku membayangkan seandainya hari-hariku tidak padat dengan tugas dan tugas alangkah nikmatnya.
Ayah dan Ibuku adalah Guru. Mereka berdua mengajar Bahasa Inggris. Mereka berdua suka membaca buku. Punya orang tua yang jago Bahasa Inggris membuatku tidak pernah pusing kalau ada soal Bahasa Inggris yang sulit kukerjakan. Aku bisa bertanya pada Ayah atau Ibu. Mereka dengan sabar akan menjawab pertanyaanku. Ayah juga membuka les privat Bahasa Inggris di rumah. Sehingga rumahku selalu ramai dengan murid-murid Ayah. Dari hari Senin sampai Sabtu selalu ada siswa yang belajar Bahasa Inggris di rumah. Ayah juga senang bermain bulu tangkis. Aku punya hobi yang sama dengan Ayah karena dulu ketika aku kecil, ketika aku kelas dua SD sering diajak Ayah main bulu tangkis di GOR Taman Sarbini. Sekarang aku kena virus main bulu tangkis.
Tapi hobi Ayah akan terhenti kalau musim kemarau. Kau tahu kenapa? Hahaha … karena Ayah sibuk mencari air. Dengan naik sepeda motor Ayah membawa dua jerigen. Satu jerigen besar ditempatkan di jok belakang dan jerigen yang tanggung ukurannya ditaruh di depan. Ayah pagi-pagi harus mencari air, karena harus bersaing dengan sopir becak. Siang sedikit saja antrinya sudah banyak. Banyak sopir becak yang beralih profesi menjadi pencari air. Belum lagi Ayah harus berangkat mengajar kalau pagi hari. Sore hari Ayah juga harus mencari air lagi untuk mandi dan mencuci pakaian di sore hari. Aku membantu Ayah mengangkat jerigen yang tanggung untuk dimasukkan ke kamar mandi. Kalau jerigen
yang besar, berat sekali. Aku tidak kuat mengangkatnya.
Ibuku mengajar di SMA Negeri 1 Jepon Blora. Ibu sudah mengajar Bahasa Inggris selama 18 tahun lamanya. Jadi Ibu mulai mengajar Bahasa Inggris ketika aku belum lahir. Konon Ayah dan Ibuku adalah teman kuliah dulunya. Oh ya aku punya kakak satu tapi sekarang sudah bekerja di PT KIA Bandung. Kakakku sudah jarang pulang ke Blora.
Aku suka menulis sejak kecil. Ketika di SD dulu ada majalah dinding, karanganku sering tertempel di sana. Itu sudah membuatku bangga. Bahkan ketika aku mendapat juara ke delapan waktu ikut lomba menulis cerita tingkat SD, karanganku dan fotoku terpampang di majalah dinding sekolah. Bangga juga karanganku dibaca oleh seluruh siswa SD dan orang tua yang menjemput putra-putrinya. Aku juga sudah memberanikan diri mengirimkan ceritaku ke Majalah Bobo dan Suara Merdeka tapi sampai sekarang tidak ada kabarnya. Tidak dikembalikan naskahnya dan juga belum dimuat. Mungkin karanganku tidak bagus. Mungkin aku perlu bersabar dan terus menulis.
Di rumahku banyak sekali buku. Kebanyakan buku-buku referensi Bahasa Inggris. Kamus Bahasa Inggris Indonesia dan Kamus Indonesia Inggris juga ada. Ada tradisi membeli buku baru di keluargaku. Setiap kali pergi keluar kota, baik itu ke Semarang, Solo ataupun Yogyakarta membeli buku seakan sudah menjadi kebiasaan. Selain itu ada langganan koranThe Jakarta Post dan Majalah Anak Bobo. Jadi di rumahku banyak sekali buku atau majalah di rak. Rak itu sampai penuh. Membeli buku tak pernah rugi karena buku bisa bertahan sampai puluhan tahun. Tapi kalau membeli baju, tiga atau empat tahun sudah rusak. Buku yang pernah kubaca tahun 2014-2015 sudah banyak tapi aku tidak menghitungnya. Yang jelas majalah Bobo dalam setahun aku sudah membaca 50-an karena terbit 4 kali dalam sebulan.