68 | P a g e
Sekalipun Plato tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa “Being” itu adalah Allah, namun konsep ini mencerminkan pernyataan Allah tentang Diri-Nya sekitar 300 tahun sebelum Plato, yaitu pada zaman Yesaya. Alkitab mencatat pernyataan Allah tentang Diri-Nya “bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku,” (Yes. 46:9). Jadi jauh sebelum Plato, Allah telah menyatakan Diri-Nya dengan pengertian yang kemudian diberi label “Being” oleh Plato. Karena itu gereja memakai kata-kata ini (ousia, substantia, being) untuk menjelaskan keSatuan Allah.
“Who eternally exists in Three different Persons (subsistences) – The Father, The Son and The Holy Spirit”:
Didalam Satu Allah (Being) itu telah ada secara kekal Tiga Pribadi/Keberadaan74 (subsistences): Bapa, Anak dan Roh Kudus. Jadi tidak ada satupun dari keTiganya yang tidak kekal (seperti teori Arius bahwa Anak diciptakan dan tidak kekal). Allah (Being) yang Satu essensi itu secara kekal ada sebagai “Tiga Keberadaan yang berbeda.” Harap diperhatikan disini pengertian dari Pribadi (“Persons”). Didalam bahasa latin adalah “Persona” dan dalam bahasa Yunani dipakai istilah “hypostasis” (“hypo”= dibawah, “stasis” = keberadaan. Artinya sepadan dengan bahasa Inggris “subsistence”). Didalam bahasa Teologi, bahasa Inggris memakai kata “Subsistences.” Jadi, istilah-istilah Persons, Subsistences, Persona dan Hypostasis ini menggambarkan keberadaan KeTiganya dalam Diri Allah. Apakah maksud dari kata-kata ini?
Untuk dapat mengerti konsep ini, kita akan membahas kata Inggrisnya, yaitu “Subsistences.” Kita mulai dari kata yang populer “Existense” (Keberadaan). Kata ini berasal dari kata Yunani “eksistere” yang terbentuk dari 2 kata “ex (eks)” yang berarti keluar dari, dan “stere” berarti berdiri (dengan pengertian “ada”). Jadi arti eksistere adalah sesuatu yang “keluar dari suatu keberadaan.” Pengertian ini berlaku bagi semua ciptaan, karena mereka keluar dari sesuatu yang lain (setara dengan konsep “Becoming” nya Plato). Namun Allah bukanlah sesuatu yang keluar dari sesuatu yang lain, karena Ia ADA tanpa ketergantungan kepada yang lain. Jadi kata existence (eksistensi) bagi Allah tidak tepat jika mengacu kepada pengertian asli katanya. Karena itu gereja memikirkan suatu kata yang lebih tepat untuk mengungkapkan “keberadaan” keTiga Persona ini didalam Allah.
Karena keTiga Persona ini berada dibawah (dibalik) Allah (Being) Yang Esa itu, maka gereja memakai istilah “subsistences” (dengan prefiks “sub” yang artinya, dibawah, dibalik) untuk keTiganya, dan BUKAN “existences.” Artinya, keTiga keberadaan itu ada dibalik Allah Yang Esa. Kita melihat Allah adalah Allah Yang Esa, tetapi dibalik-Nya tersembunyi keTiga subsistences yang dibukakan secara progressif kepada gereja (lihat illustrasi Atom bagi pendekatan pengertian akan Trinitas dibagian “Illustrasi” setelah sub-bab ini). Saat kita berpikir bahwa Allah itu adalah Tunggal, maka kita akan diingatkan bahwa Ia memiliki Tiga keberadaan (subsistences) didalamnya. Namun saat kita mulai terus memusatkan perhatian kita kepada salah satu Keberadaan itu, maka kita kemudian akan diingatkan bahwa Ia adalah Esa.
Pola demikian akan selalu menjadi pengalaman iman orang percaya, karena Allah yang kita coba mengerti itupun menyatakan Diri-Nya dengan pola itu (lihat pembahasan didalam
74
Pengertian “Pribadi” didalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris tidak mencerminkan maksud kata itu didalam bahasa Latin maupun Yunani. Didalam bahasa Latin, “Persona” berarti “topeng” yang sering dipakai didalam lakon dipentas dimana satu orang dapat memakai beragam topeng untuk menggambarkan beragam kepribadian. Jadi artinya, seseorang dapat memiliki beberapa “persona.” Didalam bahasa Indonesia dan Inggris, selalu diartikan “satu persona/pribadi selalu satu being.” Perhatikan perbedaan ini. Untuk menghindari kesalah pahaman itu, didalam tulisan ini, kata “Pribadi” harus dipahami sebagai suatu “Keberadaan.”
69 | P a g e
2.A.1.a. diatas). Ungkapan Gregory Nazianzus75 yang sering dikutip John Calvin sebagai suatu perikop yang menyukakannya mengandung kebenaran penting tentang hubungan antara Kesatuan Allah dan Keberagaman-Nya dan tentang caranya Allah menyatakan Diri-Nya kepada kita:
Saat saya memahami akan Yang Satu [Allah], maka saat itu juga saya diiluminasi oleh kemegahan dari keTiga [Pribadi]; Saat saya membedakan Mereka, seketika itu juga saya dibawa kepada Yang Satu [Allah]. Ketika saya berpikir tentang Salah Satu dari keTiga [Pribadi], saya berpikir tentang Dia sebagai suatu keutuhan, dan mata saya berlinang, dan bagian terbesar dari apa yang sedang saya pikirkan tidak dapat saya pahami. Saya tidak dapat memahami kebesaran dari satu [Pribadi] dengan cara sedemikian rupa sehingga mengatribusikan kebesaran yang lebih besar kepada [Pribadi - Pribadi] yang lain. Ketika saya merenungkan ketiga Pribadi bersama-sama, saya hanya melihat satu obor, dan tidak dapat membagi atau mengukur terang yang tidak dapat dibagi-bagi itu.76
“all of Whom are fully God, and all of Whom are equal”
Setiap Keberadaan didalam Tritunggal ini adalah sepenuhnya Allah dan keTiganya setara. Kesetaraan dan hubungan keTiga Keberadaan ini sangat unik, tidak ada padanannya didalam ciptaan. Karena itu Bapa-bapa gereja serta konsili-konsili dan sinode-sinode penting, dalam segala keterbatasan ciptaan, telah memberikan formulasi tentang hubungan ini agar orang- orang percaya dapat mengimaninya.
Menjelaskan tentang hubungan-hubungan yang ada diantara 3 “Pribadi/Keberadaan”77 ini, Letham dengan baik menjelaskan parameter-parameter penting yang menyertai penjelasan tentang hubungan-hubungan ini dengan memperhatikan konsep-konsep Gereja, baik Gereja Barat (Latin) maupun Gereja Timur (Yunani). Letham menjelaskan parameter-parameter penting sbb.:
1. Satu Keberadaan – tiga Pribadi, tiga Pribadi – satu Keberadaan.
Dengan kalimat ini, Letham mengutip Gregory Nazianzus yang menegaskan perlunya kita mengakui ultimasi setara antara keberadaan Allah dan keTiga Pribadi. Allah adalah keberadaan yang berpribadi secara penuh, bahkan lebih dari itu, karena Ia yang menciptakan pribadi-pribadi, Ia “lebih daripada berpribadi.” Kenyataan-Nya, Ia adalah persekutuan Tiga Pribadi. Allah adalah Tiga Pribadi dengan “distingsi (pembedaan) yang
75
Gregory Nazianzus, disebut juga “Gregory Sang Teolog” karena ia adalah teolog besar pada abad ke 4 yang membentuk cara berpikir para Teolog baik Gereja Barat (latin) maupun Gereja Timur (Yunani), khususnya tentang doktrin Trinitas. Karena itu ia juga sering disebut sebagai “Teolog Trinitarian” yang karya-karyanya tetap menjadi acuan Teolog modern, khususnya tentang hubungan keTiga Pribadi dalam Trinitas. Bersama dengan Basil Yang Agung dan Gregory dari Nyssa, mereka disebut sebagai Bapa-bapa gereja Kapadokia (Wikipedia, “Gregory Nazianzus”).
76
Robert Letham, “Allah Trinitas: dalam Alkitab, Sejarah, Teologi dan Penyembahan,” Penerbit Momentum, 2011, hal. 278.
77
Setelah membahas tentang arti “Pribadi” ini, para pembaca diharap mengerti tentang arti teologis yang berbeda dengan arti sehari-hari. Arti teologis kata ini tidak sesederhana pengertian bahwa Satu Pribadi adalah satu Oknum yang terlepas dari Oknum lain. Jika diterapkan kepada Trinitas, kata ini harus dimengerti bersama-sama dengan arti kompleks yang menyertainya yang segera dibahas setelah catatan kaki ini.
70 | P a g e
tidak dapat direduksi dan berada dalam persatuan yang tidak dapat dipisahkan.” Ia adalah Satu Allah “dalam tiga cara berbeda yang tidak dapat diungkapkan.”
• Jika kita hanya menekankan keTiga Pribadi dengan perbedaan yang tidak dapat direduksi, kita akan membelok kearah Triteisme,
• Jika kita harus menekankan suatu persatuan keTiganya yang tidak dapat dipisahkan, kita akan berada dibawah paham Modalisme.
Karena itu pernyataan berikut melepaskan kita dari kedua kesalahan Triteisme dan Modalisme:
“Ada Satu Allah; dan dalam Allah terdapat Tiga Keberadaan – Bapa, Anak dan Roh Kudus, masing-masing adalah Allah.”
2. KeTiga Pribadi adalah “homoousios.” Sesuai dengan Kredo Konstantinopel, keTiga Pribadi adalah identik dalam keberadaan. Artinya, setiap Pribadi adalah Allah seutuhnya. keTiganya secara bersama-sama tidaklah lebih ilahi dari Salahsatu Pribadi tersendiri. Tidak ada gradasi keilahian, tidak ada subordinasi. Ketiga Pribadi sama-sama disembah.
3. KeTiga Pribadi saling mendiami dalam persekutuan yang dinamis. Konsep dari Gereja Timur ini disebut juga “Doktrin Perikhoresis” (koinherensi). Artinya, sekalipun keTiga Pribadi memiliki kespesifikan tersendiri, namun keTiganya saling mendiami dalam hubungan kasih yang hidup. Contoh: Roh Kudus disebutkan juga dengan nama “Roh Allah” (Mat. 3:16; Rom. 8:14 dan banyak lagi), dan juga disebut dengan nama “Roh Kristus” (Rom. 8:9; 1Pet. 1:11), “Roh Yesus” (Kis. 16:7), “Roh Yesus Kristus” (Fil. 1:19) atau “Roh Anak-Nya” (Gal. 4:6).
Yesus juga berkata bahwa “Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh. 10:38). Saat Filipus meminta Yesus menunjukkan “Bapa” kepada mereka, Yesus berkata bahwa “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh. 14:10 & 11). Yesus juga mengatakan satu kalimat yang sulit dimengerti diluar konteks Trinitas: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:30). Tidak ada padanan hubungan seperti ini didunia ini.
4. KeTiga Pribadi saling berbeda secara tidak dapat direduksi. Artinya masing-masing dari yang Tiga memiliki Pribadi secara penuh. Hal ini telihat dari adanya inkarnasi. Dengan menjadi manusia, Anak memasukkan natur manusia dalam persatuan Pribadi-Nya secara kekal.78 Hal ini tidak terjadi pada Bapa maupun Roh Kudus. Anak secara kekal berbeda dengan Bapa dan Roh Kudus. Namun sekali lagi harus diingat. Sekalipun masing-masing berdistingsi secara penuh, namun Mereka berada dalam “persatuan yang tidak dapat dipisahkan” (poin 1), karena Mereka “saling mendiami” (poin 3) dan tidak ada “subordinasi” diantara keTiganya (poin 2).
5. Sekalipun keTiganya setara, namun ada “Ordo” diantaranya.
Didalam kesetaraan hubungan-hubungan diatas, keTiganya juga memiliki ordo. “Ordo” (Letham menggunakan istilah Yunani “taxis”) tidak menyatakan urutan tingkatan (hierarki), namun menyatakan urutan peran. Misalnya Ordo Penyelamatan: dari Bapa, melalui Anak, oleh Roh Kudus. Namun Ordo ini dibalik dalam respons orang percaya kepada anugerah Allah: oleh Roh Kudus, melalui Anak kepada Bapa. Namun juga ada variasi lainnya. Misalnya
78
Inkarnasi TIDAK MENGURANGI esensi Anak, tetapi justru MENAMBAHKAN natur manusia kepada Diri- Nya.
71 | P a g e
doa berkat apostolik (2Kor. 13:13), urutannya adalah Anak, Bapa, Roh Kudus. Namun secara umum adalah Ordo baptisan: Bapa, Anak dan Roh Kudus. 79
Ordo ini dapat kita lihat juga untuk 2 Karya Utama Allah: Menciptakan dan Menebus. Ordonya sbb.:
BAPA : Mencipta, Menebus. ANAK : Menebus, Mencipta.
ROH KUDUS : Melaksanakan (Eksekutor, Operator; menjadikannya menjadi sesuatu yang dapat dialami manusia) Penciptaan dan Penebusan
dan Menyatakan (mewahyukan, mengiluminasikan) Penciptaan & Penebusan kepada manusia.
Sebagai suatu sintesa dari seluruh parameter diatas, maka Doktrin Trinitas yang setia kepada Alkitab harus memberi pengungkapan yang setara untuk setiap parameter karena parameter- parameter tersebut bukan saling meniadakan, tetapi saling menjelaskan. Pernyataan berikut merupakan sintesa konsep parameter-parameter diatas:
KeTiga Pribadi berbeda secara tidak dapat direduksi, sekaligus Mereka adalah suatu keberadaan yang identik yang saling mendiami. Ada suatu Ordo
diantara mereka, tetapi Mereka adalah setara dalam status.
2.D. Illustrasi Formulasi Gereja Tentang TRINITAS
Agar jemaat awam dapat lebih mengerti, baik tentang sejarah timbulnya Doktrin Trinitas maupun tentang arti formulasi Gereja tentang Trinitas ini, berikut disampaikan illustrasi tentang sejarah dan arti Doktrin Trinitas.
1. Penemuan Atom
Telah sejak ribuan tahun para filsuf Yunani dan India berpikir bahwa materi yang ada didunia ini merupakan kumpulan dari bagian-bagian paling kecil yang tidak dapat lagi dipecah. Democritus (sekitar 450 Sebelum Masehi) menyebut bagian-bagian terkecil ini “ἄτο ος (atomos)”, artinya “bagian paling kecil yang tidak dapat dipotong lagi.” Pada abad ke 18, para akhli kimia memformulasikan ide adanya substansi yang tidak bisa dipecah lagi dengan reaksi kimia, dan menyebutnya “atom,” sesuai dengan istilah yang diberi Democritus.
Jadi selama ribuan tahun, para akhli (filsuf, ahli kimia, fisika, biologi) melihat bahwa unit paling kecil didalam setiap materi adalah Atom.
79
Letham, “Allah Trinitas:..” Halaman 401-402.