BAGAN 1: DASAR-DASAR FILOSOFIS BAGI IDEOLOGI PENDIDIKAN
1. Fundamentalisme Pendidikan
Fundamentalisme meliputi semua corak konservatisme politik yang pada dasarnya anti-intelektual dalam arti bahwa mereka ingin meminimalkan pertimbangan- pertimbangan filosofis dan/atau intelektual, serta cenderung untuk mendasarkan diri mereka pada penerimaan yang relatif tanpa kritik terhadap kebenaran yang diwahyukan atau konsensus sosial yang sudah mapan (yang biasanya diabsahkan sebagai ‘akal sehat’)
Dalam ungkapan politisnya, konservatisme reaksioner gagasan untuk kembali kepada kebijaksanaan-kebijaksanaan atau kebijakan-kebijakan masa silam, baik yang benar-benar pernah ada ataupun yang sekadar dikhayalkan. Ada dua variasi dari sudut pandang semacam itu jika diterapkan dalam pendidikan. Variasi pertama,
fundamentalisme pendidikan religius, yang tampak dalam pondok pesantren. Variasi kedua fundamentalisme pendidikan sekular, berciri mengembangkan komitmen yang sama tidak luwesnya dibanding yang disepakati, yang umumnya menjadi pandangan dunia ‘orang biasa’.
Ideologi mendasar pendidikan fundamentalisme menurut O’neill (2002:249-253) adalah sebagai berikut.
Tujuan pendidikan secara menyeluruh LIBERALISME
PENDIDKKAN
LIBERALISME
31
Tujuan utama pendidikan adalah untuk membangkitkan dan meneguhkan kembali cara-cara lama yang lebih baik, untuk memapankan kembali tolok ukur keyakinan dan perilaku tradisional.
Tujuan-tujuan sekolah
Sekolah ada karena dua alasan mendasar: 1) untuk membantu membangun kembali masyarakat dengan cara mendorong langkah kembali ke tujuan-tujuan aslinya dan agar tetap konsisten dengan tujuan itu; 2) untuk menyalurkan informasi dan keterampilan-keterampilan yang perlu agar berhasil dalam tatanan sosial yang ada sekarang.
Ciri-ciri umum
Fundamentalisme pendidikan dapat dikarakteristisasikan sebagai berikut.
1) Ia yakin bahwa pengetahuan terutama merupakan alat untuk membangun kembali masyarakat dalam mengejar pola kesempurnaan moral yang pernah ada di masa silam.
2) Ia menekankan bahwa manusia adalah agen moral, menekankan ketaatan terhadap aturan moral yang jelas dan lengkap, dan menekankan nilai patriotisme yang dirumuskan secara sempit.
3) Secara diam-diam ataupun terang-terangan anti-intelektual, menentang pengujian kritis terhadap pola-pola keyakinan dan perilaku yang mereka pilih. 4) Pendidikan pertama-tama dipandang sebagai proses regenerasi moral.
5) Memusatkan perhatian pada tujuan asli tradisi-tradisi serta lembaga-lembaga sosial yang ada, menekankan ‘kembali ke masa silam’ sebagai sebuah orientasi-ulang yang bersifat korektif terhadap pandangan modern yang terlalu menekankan masa kini dan masa depan.
6) Menekankan pengenalan kembali cara-cara lama yang sudah teruji oleh waktu, kebutuhan untuk kembali kepada kebaikan-kebaikan nyata atau yang dikhayalkan ada di era yang lalu.
7) Berdasarkan pada sistem sosial dan/atau keagamaan yang tertutup, yang menjadi ciri era sebelumnya, membela gerakan kembali kepada kondisi- kondisi yang lebih baik yang pernah berlangsung.
32
8) Berlandaskan prakiraan-prakiraan yang tersirat dan/atau yang tidak pernah diuji kebenarannya tentang hakikat kenyataan, yang umumnya didasarkan pada ‘akal sehat’ atau kepastian intuitif atau iman keagamaan.
9) Menganggap bahwa wewenang intelektual tertinggi berada di tangan komunitas orang-orang yang memiliki iman sejati (the true believers), bahwa kebenaran ditentukan melalui sebuah kesepakatan di antara orang-orang yang telah mencapai pencerahan moral.
Anak-anak sebagai pelajar
Anak-anak condong ke arah kekeliruan dan kejahatan jika tidak ada bimbingan yang kuat dan pengajaran yang baik.
Kesamaan-kesamaan individual lebih penting ketimbang perbedaan-perbedaan di antara mereka, dan kesamaan-kesamaan ini secara tepat bersifat menentukan dalam memapankan program-program pendidikan yang baik.
Anak-anak secara moral setara di sebuah jagat ketidaksetaraan kesempatan objektif. Mereka musti memiliki kesempatan-kesempatan setara supaya bisa berjuang untuk mendapatkan ganjaran yang terbatas yang tersedia, namun keberhasilan musti dikondisikan pada prestasi personal dalam dunia yang bercirikan persaingan keras bagi keberhasilan moral dan material.
Seorang anak pada intinya mampu menentukan nasibnya sendiri; ia memiliki kehendak bebas yang personal, dalam arti tradisional dari istilah itu.
Administrasi dan kontrol
Wewenang di bidang pendidikan harus diletakkan di tangan para manajer akademik terlatih, yang tidak musti merupakan kaum intelek ataupun pendidikan profesional.
Wewenang guru harus didasarkan pada profil moral yang lebih tinggi dalam diri guru tersebut.
Hakikat kurikulum
1) Sekolah harus menekankan karakter moral yang layak, melatih siswa untuk menjadi pribadi yang baik diukur dengan tolok ukur-tolok ukur perilaku moral tradisional.
33
2) Sekolah mesti memusatkan perhatian pada pembaharuan pola-pola budaya lama; ia harus membantu siswa untuk menemukan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi-tradisi budaya mendasar.
3) Penekanan harus diberikan pada regenerasi moral, dalam hal membangun kembali masyarakat menurut jalur-jalur pendekatan tradisional terhadap keyakinan dan perilaku.
4) Lapangan studi harus dipilih untuk mengarahkan siswa.
5) Tekanan mesti diletakkan di penyesuaian moral (indoktrinasi moral) melebihi pengetahuan akademik (yakni belajar tentang bagaimana caranya belajar, serta menguasai jenis pengetahuan dan keterampilan teknis yang hanya secara tidak langsung terkait dengan persoalan-persoalan manusia yang utama). Indoktrinasi moral juga harus lebih dipentingkan ketimbang penyesuaian
praktis, yakni belajar tentang hal-hal yang segera berguna. Sekaligus meminimalkan penyesuaian intelektual (yakni yang ideasional, berurusan dengan teori penafsiran yang luas).
6) Sekolah musti menekankan latihan moral dan jenis keterampilan-keterampilan akademik serta praktis yang diperlukan untuk membantu siswa untuk menjadi anggota yang aktif dalam tatanan sosial yang diregenerasikan secara tepat: keterampilan-keterampilan belajar yang mendasar, pelatihan pembentukan karakter, pendidikan fisik (termasuk pelajaran kesehatan), sejarah nasional, kesusasteraan nasional, pelajaran agama, dan seterusnya.
Metode pengajaran dan penilaian hasil belajar
1) Penekanan harus diletakkan pada tatacara-tatacara pengajaran di dalam kelas yang tradisional, seperti misalnya ceramah, hapalan, belajar dengan diawasi dan dituntun, serta diskusi kelompok yang terstruktur secara ketat.
2) Ulangan/tes sesudah pelajaran diberikan, adalah cara terbaik untuk memapankan kebiasaan yang tepat di kelas-kelas yang rendah, namun ia harus dikembangkan supaya siswa lebih punya inisiatif sendiri dan dengan pendekatan-pendekatan yang lebih bersifat mengarahkan diri sendiri, di tingkat-tingkat pendidikan yang lebih tinggi; adalah perlu untuk melaksanakan ulangan serta hapalan yang banyak.
34
3) Yang terbaik adalah pembelajaran yang ditentukan dan diarahkan oleh guru. Sebab, siswa tidak cukup tercerahkan untuk mengarahkan proses perkembangan intelektualnya sendiri.
4) Sang guru harus dipandang sebagai panutan dalam hal kesempurnaan moral dan akademik.
5) Tes-tes untuk mengukur keterampilan dan informasi yang dimiliki siswa lebih baik daripada tes-tes yang menekankan kemampuan analitis dan spekulasi abstrak siswa.
6) Persaingan antar-personal untuk mendapatkan nilai terbaik (dalam ujian, tes, kelakuan, dan sebagainya) dan peringkat nilai tertinggi di kelas antara para siswa adalah hal yang dikehendaki dan perlu diadakan demi memupuk kesempurnaan.
7) Penekanan harus diberikan pada yang kognitif (khususnya yang informasional) dengan tekanan kedua pada yang afektif dan interpersonal. 8) Penekanan harus diletakkan pada pemulihan kembali prinsip-prinsip dan
praktik-praktik pendidikan tradisional (nasional dan/atau etnis).
9) Bimbingan dan penyuluhan pribadi serta terapi kejiwaan adalah fungsi-fungsi keluarga dan/atau gereja, bukan sekolah.
Pengendalian ruang kelas
Para siswa mesti menjadi warganegara yang baik dalam penyesuaian diri dengan cita-cita masyarakat yang melakukan regenerasi moral.
Para guru secara umum harus bersikap ketat, non-permisif, dalam tatacara- tatacara pengendalian situasi di ruang kelas, sedangkan para siswa diharapkan menyesuaikan diri dengan wewenang yang telah ditetapkan.
Pendidikan moral (latihan pembentukan watak) adalah dasar dan tujuan persekolahan.