BAB IV BENTUK, FAKTOR, DAN FUNGSI ALIH KODE
4.3 Fungsi Alih Kode
4.3.2 Fungsi Alih Kode dalam Tingkat Tutur Madya
Ada tiga fungsi alih kode tingkat tutur madya, yaitu (1)penjual bercanda dengan pembeli, (2) pembeli merasa jengkel terhadap penjual, (3) penjual merasa jengkel terhadap pembeli.
4.3.2.1 Penjual Bercanda dengan Pembeli
Biasanya keinginan untuk bergurau dengan pembeli dimungkinkan bila antara penjual dan pembeli sudah tidak ada jarak hubungannya. Seringkali ditemukan bahwa penjual cepat akrab dengan pembeli dengan harapan pembeli akan tertarik dengan dagangannya yang ditawarkannya.
Penggalan percakapan (45) berisi tuturan yang berupa alih kode dalam tingkat tutur madya yang berfungsi menyatakan penjual bercanda dengan pembeli dalam tawar-menawar.pakaian.
(45) PENJUAL :“Mboten saged, kula paske sampun lima las, manggo”
“Tidak boleh, saya paskan sudah lima belas, silakan”
PEMBELI : “Pitu setengah enthuk, yu?” “Tujuh setengah boleh, yu?”
PENJUAL : “Dereng, menawi ingkang pitu setengah kados ngaten, dik?”
“Belum, kalau yang tujuh setengah adanya ini, dik?”
PEMBELI : “Pokoke pitu setengah, cacahe sepasang” “Pokoknya tujuh setengah, jumlahnya sepasang”
78
PENJUAL : “Yo, ora oleh yen semono, yen siji sing siji melu sapo?”
“Ya, tidak boleh kalau satu yang lain ikut siapa?”,
Penggalan percakapan di atas penjual mempunyai maksud bercanda dengan pembeli. Hal ini terlihat pada tuturan "Yo ora oleh yen semono, yen siji sing siji melu sapo?" yang artinya "Ya tidak boleh kalau satu boleh yang lain ikut sapa". Penggalan tersebut dilakukan oleh penjual terhadap pembeli dengan maksud untuk bercanda yang seakan akan penjual dan pembeli sudah akrab sehingga memudahkan untuk berkomunikasi.
Penggalan percakapan (46) berisi tuturan yang berupa alih kode dalam tingkat tutur madya yang befungsi menyatakan penjual bercanda dengan pembeli pada saat tawar-menawar pakaian.
(46) PENJUAL : “Nggih kirang sekedhik”
“Ya kurang sedikit”
PEMBELI : “Kurang sekedhik piro, mbak?” “Kurang sedikit berapa, mbak?”
PENJUAL : “Gangsal atus rupiah oleh rong pasang” “Lima ratus rupiah dapat dua pasang”
Penggalan percakapan tersebut dilakukan dengan tuturan madya kepada pembeli yang terlihat pada tuturan "Nggih kirang sekedhik" yang artinya "Kurang sedikit" dan tuturan "Gangsal atus rupiah oleh sepasang" Maksud penjual tersebut kalau pembeli hanya satu saja nanti yang lain tidak dapat terjual dan akan ikur siapa. Hal ini dilakukan oleh penjual kepada pembeli dengan maksud bercanda dengan pembeli agar tertarik dengan barang yang ditawarkankan dengan harga yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah.
79
4.3.2.2 Pembeli Merasa Jengkel terhadap Penjual
Pembeli akan marah atau paling tidak sinis dan biasanya jika penjual menawarkan barang dengan harga yang menurut penilaian pembeli terlalu mahal. Bisa juga karena pelayanan penjual terhadap pembeli dirasa kurang baik.
Penggalan percakapan (47) berisi tuturan yang berupa alih kode dalam tingkat tutur madya yang berfungsi menyatakan pembeli merasa jengkel terhadap penjual yang menawarkan daster harganya terlalu tinggi.
(47) PEMBELI : “Pinten Bu daster kencana wungu?” “Berapa Bu daster kencana wungu?”
PENJUAL : “Rong puluh ewu” “Dua puluh ribu”
PEMBELI : “Mboten saged kirang” “Tidak boleh kurang”
PENJUAL : “Pas, gangsal welas” “Pas, lima belas”
PEMBELI : “Sepuluh ewu rupiah” “Sepuluh ribu rupiah”
PENJUAL : “Angsal nek alit” “Boleh tapi cilik”
PEMBELI : “Nggo apa nek cilik” “Buati apa kalaukecilk”
Penggalan percakapan tersebut yang berbunyi "Nggo apa nek cilik" yang artinya "Buat apa kalau kecil" Pembeli menggunakan tuturan madya terhadap penjual dimana pembeli merasa jengkel dengan cara bertutur penjual dimana barang yang ditawarkan tidak sesuai dengan ukuran yang diharapkan
Penggalan percakapan (48) mengandung tuturan yang berupa kode dalam tingkat tutur madya yang menaatakan pembeli merasa jengkel dalam tawar-menawar karena penjual tawar-menawarkan harga terlalu tinggi seakan-akan tidak sungguh-sungguh dalam menawarkan pakaian yang dijualnya.
80
“Berapa, dik?”
PEMBELI : “Piro?” “Berapa?”
PENJUAL : “Sepuluh ewu” “Sepuluh ribu”
PEMBELI : “Lima setengah, yen oleh” “Lima setengah, kalau boleh”
PENJUAL : “Yen gelem sepuluh ewu iku wis murah” “Kalau mau sepuluh ribu itu sudah murah”
PEMBELI : “Kuwi nek enthuk, nek ora enthuk yo wis”
“Itu kalau boleh kalau tidak ya sudah”
Penggalan percakapan di atas "Kuwi nek enthuk, nek ora enthuk yo wis" yang artinya "Itu kalau boleh kalau tidak ya sudah", di sini pembeli merasa jengkel dan marah kalau penjual menawarkan dagangannya teralu tinggi, sedangkan pembeli sendiri beranggapan kalau barang tersebut harganya tidak tinggi.
4.3.2.3 Menyatakan Kemarahan Penjual terhadap Pembeli
Penjual merasa marah terhadap pembeli, karena pembeli hanya menanyakan harga tidak ada barang yang ditawarnya. Di samping itu penjual juga dapat menjadi jengkel dengan pembeli karena ceriwis. Dengan demikian penjual menjadi emosi dan jengkel terhadap pembeli.
Penggalan percakapan (49) berisi tuturan yang berupa alih kode dalam tingkat madya yang menyatakan kemarahan penjual terhadap pembeli dalam saat tawar-menawar hem batik.
(49) PENJUAL : “Nggih njenengan ngawis mangke kulo damel pas?” “ Anda nawar dulu nanti saya paskan harganya”
PEMBELI : “Separo mawon nggih” “separo saja ya”
PENJUAL : “Mboten, sing leres mawon, mbak?”
“ Belum boleh, yang benar saja, Mbak?”
PEMBELI : “Saged nggih?” Boleh ya?” “Sambil menanyakan hem batik”
PENJUAL : “Wonten regine selawe lengen pendek”
81
PEMBELI : “Hem batike ugo ora oleh kurang saka selawe” “Hem batik ya nggak boleh kurang dari dua lima”
PENJUAL : “Nggih jenengan ngawis pinten?”
“Anda menawar berapa?”
PEMBELI : “Yen oleh limalas, ya oleh saiki mengko aku ora gelem”
“Kalau boleh lima belas, kalau boleh sekarang nanti saya tidak mau”
Penggalan percakapan tersebut dilakukan oleh penjual dengan tuturan madya "nggih njenengan ngawis mangke kula damel pas" yang artinya "Pembeli diminta untuk menawar berapa harganya” dan tuturan " saged nggih pada tuturan dimana pembeli menanyakan "hem batik" Penjual merasa jengkel pada pembeli yang hanya menanyakan harga saja tanpa menawar dengan sungguh- sungguh.
Penggalan percakapan (50) mengandung tuturan yang berupa alih kode dalam tingkat tutur madya yang menyatakan kemarahan penjual terhadap pembeli yang dinilai tidak sungguh-sungguh hendak membeli. Pada saat tawar-menawar kain bordiran.
(50) PEMBELI : “Iki pado karo sing iku?” “Ini sama dengan yang itu?”
PENJUAL : “Ya pado” “Ya sama”
PEMBELI : “Iki pitu setengah ya Pak?”
“Ini tujuh setengan ya Pak?”
PENJUAL : “Memange arep tuku piro?” “Memangnya mau beli berapa?”
PEMBELI : “Kerudung sing warnane coklat ana bordire regane piro?”
“Kerudung yang warnanya coklat ada bordirannya harganya berapa?”
PENJUAL : “Murah mung sepuluh ewu bahanne apik tur alus jahitane”
“Mirah cuma sepuluh ribu bahannya bagus dan halus jahitannya”
PEMBELI : “Ora oleh kurang? Sambil meninggalkan penjual “ “Tidak boleh kurang?”
82
Penggalan percakapan (50) menyatakan kemarahan penjual terhadap pembeli hanya menanyakan barang-barang tanpa menawar kalau menawar hanya sedikit sekali. Hal ini terlihat pada tuturan "iki pitu setengah ya Pak" dan tuturan "Kerudung sing warnane coklat ana bordire". Hal ini seakan pembeli tidak menawar hanya menanyakan barang yang membuat penjual merasa jengkel terhadap pembeli.