• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fungsi dan Mekanisme Pajak Menurut Ibnu Khaldun

BAB IV PEMIKIRAN IBNU KHALDUN TENTANG FUNGSI DAN

B. Fungsi dan Mekanisme Pajak Menurut Ibnu Khaldun

Sesungguhnya telah ditetapkan atas rakyat untuk membayar pajak dari penghasilan pekerjaan mereka meskipun manfaat yang mereka peroleh sedikit.

Apabila masyarakat telah merasakan manfaat pajak yang mereka berikan kepada pemerintah mereka akan terdorong untuk membayar pajak yang telah ditentukan atas mereka, dan apabila mereka telah melihat akan fungsi pajak

4 Ibid

5 Ibid. h. 371

yang sesuai pada jalannya mereka akan menghitung kembali kekurangannya hingga pemerintah dapat memperlakukan pajak tersebut dengan benar.6

Selanjutnya terkadang masyarakat yang melihat bahwa apa yang mereka harapkan dari pajak yang telah diberikan kepada pemerintah atau fungsi pajak itu tidak sesuai pada ketentuan-ketentuanya maka mereka akan terdorong untuk bersifat tidak jujur dalam membayar pajak mereka.

Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa penerimaan Negara melalui adanya pemungutan pajak merupakan hal yang sangat signifikan ketika pemungutan itu didasarkan atas tingkat kemampuan individu untuk membayar pajak. Oleh karena itu kadar kewajiban dan beban individu dalam pemungutan pajak yang rendah akan memberikan semangat untuk bekerja dan senang untuk meningkatkan usahanya. Usaha berkembang dan meningkat, sebab pajak yang rendah membawa kepuasan hati bagi rakyat. Apabila usaha meningkat, jumlah kewajiban dan pembebanan pajak akan meningkat juga. Artinya, pendapatan pajak yang merupakan jumlah total pembebanan individu bertambah juga.

Ibnu Khaldun mengungkapkan bahwa perekonomian yang makmur diawal sebuah pemerintahan dihasilkan melalui pajak, bagaimanapun juga menghasilkan penerimaan pajak yang lebih tinggi dengan tarif yang lebih rendah yang dibebankan kepada rakyatnya, namun sedikit jumlahnya dan banyak pembebanannya pada setiap individu akan membawa dampak depresi

6Ibid. h. 279

perekonomian diakhir pemerintahan artinya menghasilkan penerimaan pajak yang lebih rendah dengan pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi kepada rakyatnya.7

Namun apabila Negara itu telah berkembang yang berdasarkan dari sebuah Negara yang berdasarkan agama menjadi Negara yang berdasarkan kekuasaan atau seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Khaldun berdasarkan hukum dominasi dan solidaritas (‘ala sunan at-taghallub wa al-ashabiyah), maka sifat rural (luar desa) yang memiliki segala sifat kesedarhanaan sudah pasti akan menghilang diganti dengan sifat urban (kota) yang lebih merwah dan canggih.

Kehidupan sederhana menuntut agar orang-orang hidup dengan tata cara hidup bertoleransi, memuliakan orang lain, rendah hati, menjauhkan diri dari harta benda orang lain dan tidak berupaya keras untuk memperoleh harta orang lain itu, demikian pula pajak yang ditarik dari padanya yang merupakan sumber harta kekayaan Negara.

Apabila proses ini terus berlanjut dan kehidupan Negara juga selalu berkembang dengan kemakmuran dan kemewahan yang selalu meningkat serta penguasa yang selalu silih berganti dari yang satu kepada yang lain, dan mereka itu bersipat bijak sana, maka hilanglah sikap hidup sederhana.

Kemajuan dan kemewahan itu dalam pandangan Ibnu Khaldun tidak selamanya mempunyai konotasi yang positif, akan tetapi juga mengandung

7Ibid.

dampak negatif. Yang penting diantara dampak negatif ini adalah tingkat moralitas dan kejujuran yang menurun, kalau dahulunya orang biasanya tidak mau menganggu harta benda orang lain, maka dalam khidupan kota yang mewah itu menganggu harta benda orang lain telah menjadi praktek biasa.

Oleh karena itu untuk menghilangkan dampak negatif dan menurunnya tingkat moralitas serta kejujuran perlu pejabat pemerintahan yang jujur, adil dan amanah yang akan mengatur perpajakan agar pembangunan dapat terealisasikan dengan baik.

Menciptakan negara yang makmur atau masyarakat yang sejahtera sangat membutuhkan pajak untuk mendorong kegiatan-kegiatan yang di cita-citakan sebuah negara. Ibnu khaldun menjelaskan ketika kebutuhan pemerintah meningkat maka perlu pertambahan pada pajak untuk memenuhi kebutuhan bagi apa-apa yang dibutuhkan kepadanya oleh pendapatan usaha-usaha masyarakatnya, kemudian pengeluaran pajak juga akan bertambah sesuai dengan kebutuhannya.

Kemudian ketika penghasilan pajak bertambah maka semakin besar peluang masyarakat untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera, karna hakekat dari fungsi pajak itu sendiri adalah untuk membantu masyarakat yang lemah yang membutuhkan yang sering disebut “distribution of welfare”

(pemerataan kesejahteraan). Bagi pemerintah hal itu menjadi suatu “social benefit” (manfaat sosial).8

8 Ibid. h. 280-281

Tingkat pendapatan dan kesejahteraan yang semakin tinggi akan memberikan kontribusi terhadap kenaikan pendapatan pajak sehingga memungkinkan pemerintah mengeluarkan anggaran yang lebih untuk kesejahteraan. Hal ini menimbulkan perluasan didalam lapangan ekonomi dan meningkatkan pembangunan.

Tanggung jawab pembangunan ada pada pemerintah dan masyarakat.

Kedua-duanya harus terlibat langsung dan memikul pembangunan tersebut.

Dalam kaitan ini untuk memperlancar jalannya pembangunan perlu dikembangkan iklim investasi kepada rakyat dengan memberikan kepercayaan penuh kepada mereka agar pembangunan berjalan lancar. Partisipasi rakyat akan menjadi pengaruh yang sangat penting karena adanya partisipasi tersebut rakyat terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam pembangunan.

Secara garis besar fungsi dari pajak itu ada beberapa macam yang bisa penulis ungkapkan yaitu :

1 Pajak merupakan alat atau instrumen penerimaan Negara.

Untuk menjalankan tugas-tugas rutin Negara diperlukan biaya demikian juga dalam rangka melaksanakan pembangunan. Pembangunan harus bisa berjalan apabila ditopang oleh biaya yang cukup. Roda pemerintahan dalam rangka mensejahterakan warga dan rakyatnya tidak mungkin berjalan apabila dimotori dengan dana pajak yang memadai. Pajak

merupakan penerimaan Negara untuk membiayai kebutuhan pembangunan agar kontribusi pajak menjadi jelas yakni memakmurkan rakyatnya.9

Lebih lanjut Ibnu Khaldun menjelaskan, pengaruh pembebanan pajak yang selalu meningkat yang melampaui batas yang tidak wajar menurut pendapatan yang diperoleh akan memberati rakyat dan akan menimbulkan kesengsaraan terhadap rakyatnya karena ketidak mampuan mereka untuk membayar pajaknya sehingga akhirnya pajak itu sudah beralih fungsi menjadi sesuatu yang menakutkan bagi rakyatnya dan bisa juga menyengsarakan rakyatnya, sehingga ini juga bisa menyebabkan berkurangnya pendapatan pajak dan berpengaruh kepada pembangunan.

Pembebanan pajak meningkat jauh melampau batas kewajaran, akibatnya kepentingan rakyat dalam usaha-usahanya akan lenyap (gulung tikar) karena apabila mereka membandingkan pengeluaran pajak dengan pendapatan mereka, serta melihat keuntungan kecil yang mereka dapatkan, mereka kehilangan semua harapan. Oleh karena itu pendapatan total pajak akan berkurang. Hingga akhirnya semua kewajiban dan pembebanan sampai pada puncaknya, dimana tidak ada lagi manfaat dan faedah serta fungsi dari pemungutan pajak itu sendiri hilang. Fungsi utama pajak yang diharapkan oleh semua rakyatnya yakni peningkatan kesejahteraan dan ketenteraman bagi

9 M. Umer Chapra. Masadepan Ilmu Ekonomi, (Jakarta : Gema Insani Prees, 2001), h. 284

warganya tidak akan terwujud dan Negara akan mengalami krisis keuangan dan krisis kepercayaan. 10

2. Pajak merupakan alat mendorong investasi

Menciptakan iklim investasi yang lebih baik dengan memberikan insentif perpajakan sedemikian rupa sehingga dapat mendorong peningkatan investasi. Pemerintah memberikan kesempatan yang sangat luas kepada masyarakat untuk ikut ambil bagian dalam investasi pajak sehingga pemerintah dan masyarakat mempunyai tanggung jawab yang sama saling bahu membahu dalam mensukseskan program yang telah ada. Jadi investasi oleh subyek pajak pada hakikatnya merupakan instrumen pemerintah untuk membantu masyarakat yang lemah yang membutuhkan yang sering disebut

“distribution of welfare” (pemerataan kesejahteraan). Bagi pemerintah hal itu menjadi suatu “social benefit” (manfaat sosial).

Tingkat pendapatan dan kesejahteraan yang semakin tinggi akan memberikan kontribusi terhadap kenaikan pendapatan pajak sehingga memungkinkan pemerintah mengeluarkan anggaran yang lebih untuk kesejahteraan. Hal ini menimbulkan perluasan didalam lapangan ekonomi dan meningkatkan pembangunan.

Tanggung jawab pembangunan ada pada pemerintah dan masyarakat.

Kedua-duanya harus terlibat langsung dan memikul pembangunan tersebut.

Dalam kaitan ini untuk memperlancar jalannya pembangunan perlu

10 Merza Gamal, Pengkaji Sosial Ekonomi Islami, http://www.mail-archive.com

@yahoogroups.com

dikembangkan iklim investasi kepada rakyat dengan memberikan kepercayaan penuh kepada mereka agar pembangunan berjalan lancar. Partisifasi rakyat akan menjadi pengaruh yang sangat penting karena adanya partisipasi tersebut rakyat terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam pembangunan.

3. Pajak merupakan alat distribusi

Pengenaan pajak dengan tarif progresif dimaksudkan untuk mengenakan pajak yang lebih tinggi pada golongan yang lebih mampu.

Peranan pajak sebagai alat distribusi sangat penting untuk menegakkan keadilan sosial dan menciptakan suasana yang nyaman bagi rakyatnya dapat mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran. Tingkat pendapatan dan kesejahteraan yang semakin tinggi akan memberikan kontribusi terhadap kenaikan pendapatan pajak sehingga memungkinkan pemerintah mengeluarkan anggaran yang lebih untuk kesejahteraan rakyat. Hal ini akan menimbulkan perluasan lapangan kerja sehingga pendapatan perkapita akan meningkat dan distribusi menjadi tiang utama dari kesejahteraan masyarakat.

Sedangkan dalam hal mekanisme pemungutan pajak, Ibnu Khaldun mengungkapkan bahwa perlu dewan atau departemen khusus yang mengurusi pajak dengan memiliki konsentrasi penuh dan komitmen yang tinggi untuk mengolah pajak tersebut. Dalam pandangan ini Ibnu Khaldun mengemukakan, Negara ada bagian-bagian dari pemerintah yang mengurusi masalah-masalah ekonomi ini yang terpenting diantaranya adalah masalah mengurus pajak.

Dalam bahasa Arab Ibnu Khaldun menamakan lembaga ini dengan (Diwaan al-‘Amal wa al-Jibayah) mengenai hakikat dan tugas dari lembaga ini Ibnu

Khaldun menulis, “ketahuilah bahwa instansi ini adalah salah satu instansi yang sangat penting bagi kekuasaan Negara. Tugasnya adalah melaksanakan operasi pajak dan menjaga hak-hak Negara dalam hal yang berkenaan dengan pendapatan dan pengeluaran”. Ia juga membuat daftar nama anggota militer, menetukan gaji mereka, membayarkan pendapatan meraka pada waktu-waktu tertentu, dalam hal ini rujukannya adalah peraturan yang telah diatur oleh para pakar instansi itu dan para pejabat Negara.11

Dalam pandangannya Ibu Khaldun lebih lanjut menjelaskan bahwa badan yang mengurus pemungutan pajak ini baru terbentuk pertama kalinya didalam Negara ketika kekuatan serta kepentingan mereka didalam berbagai aspek kedaulatan dan didalam administrasi yang efesien telah tegak dengan kokoh. Dewan khusus yang dibentuk oleh pemerintah tersebut memiliki wewenang tertinggi dan mempunyai kebebasan mutlak untuk memungut, mengumpulkan dan memegang uang serta mengontrol kegiatan financial dan kemudian mengeluarkannya sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan dan tepat pada waktunya. Ini dikenal dengan al-Asyghal (manajer bagian keuangan) atau sekarang lebih kita kenal di Indonesia dengan Direktorat Jendral Pajak.12

Para petugas pemungut pajak mengunjungi daerah-daerah tertentu berdasarkan hak hukum yang berlaku untuk waktu tertentu dan menentukan

11 Ibnu Khaldun sangat mengutamakan hal ini sehingga dalam Muqaddimah diberikan bab khusus yang menjelaskan tentang dewan yang mengurusi pajak baik dalam hal pemungutannya maupun dalam pendistribusiannya yakni dengan nama “(Diwaan al-‘Amal wa al-Jibayah)” Op.cit. h. 243-246

12 Ibid

jumlah pajak yang wajar sesuai dengan kemampuan seorang wajib pajak.

Pajak dikumpulkan baik dalam bentuk barang atau hasil bumi maupun berupa uang kontan. Jika barangnya tak tahan lama atau ada tanda-tanda turunnya harga dan nilai barangnya, petugas pajak berhak menjualnya. Seluruh pajak yang terkumpul kemudian dihimpun di sub-perbendaharaan propinsi.

Sebagian atau seluruhnya dapat dibelanjakan untuk berbagai keperluan yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah di tetapakan.

Dalam hal ini Ibnu Khaldun menekankan profesionalitas yang menjadi ciri khas dari pemikirannya. Sehingga dalam menentukan atau menetapkan orang yang bertugas dalam menangani masalah keuangan pajak ini haruslah orang yang mempunyai kejujuran dan tingkat keikhlasan yang tinggi ditunjang dengan profesionalitas yang dimilikinya. Sumber daya manusia yang berkualitas dan berpengalaman dibidangnya akan meningkatkan kinerja dan pendapatan pajak yang baik.

Ibnu Khaldun menyarankan harus adanya penyusunan anggaran dan peraturan yang tegas terhadap manajemen keuangan. Penerimaan itu berada dalam jaminan kepala pemerintahan, yang harus dengan sebaik-baiknya, dalam usaha yang dibenarkan syari’ah. Administator harus diangkat, jika urusan itu belum ada yang mengurusnya. Seorang inspektur jenderal harus diangkat untuk mengawasi seluruh administator sesuai dengan kebutuhan.

Pengangkatan petugas itu menjadi urusan yang sangat penting dan merupakan

kebutuhan yang penting pula jika ketiadaan petugas itu akan membuat seluruh penerimaan Negara dibelanjakan secara tidak semestinya.13

Pemikiran Ibnu Khaldun dengan sesungguhnya mencerminkan trend pemikiran ilmuwan Muslim pada masanya mengenai distribusi yang adil dari beban pajak dengan mengutip sepucuk surat Tharir bin al-Husain kepada anaknya yang menjadi Gubernur disebuah provinsi :

“Maka bagikanlah (pajak) kepada semua rakyat dengan adil dan wajar diberlakukan secara umum kepada siapa saja tanpa mengecualikan seseorang karena kehormatan dan kekayaanya, dan tidak mengecualikan sekalipun pegawaimu sendiri atau para keluarga istana atau para pengikutnya. Dan janganlah membebani seseorang dengan pajak diluar kemampuan orang tersebut untuk membayarnya”.14 C. Manfaat Pemikiran Tentang Fungsi dan Mekanisme Pajak Menurut

Ibnu Khaldun

Pemerintah yang didukung oleh rakyatnya akan melancarkan segala perencanaa-perencanaan yang telah dibuat. Bila ini berlanjut akan mendorong rakyat lebih giat lagi untuk melakukan aktifitasnya, sehingga dengan sendiri dampak yang akan dirasakan adalah pendapatan pajak yang selalu mengalami peningkatan. Tidak perlu dikhawatirkan akan keuangan Negara mengalami penurunan. Pendapatan pajak yang selalu mengalami peningkatan berpengaruh terhadap situasi pada peradaban Negara, yang akan tampak jelas dalam beberapa waktu mengalami perkembangan pembangunan Negara yang akan berkembang.

Ibnu Khaldun menjelaskan dalam kitabnya bahwa manfaat pemikirannya tentang fungsi dan mekanisme pajak itu adalah menghasilkan di

13 Ibid. h. 245

14 Ibid. h. 308

dunia dan di akhirat atas dasar ilmu syari’at dengan memaslahatkan Negara dan kepemerintahannya serta memakmurkan rakyatnya. Artinya pemerintah yang akan bertanggung jawab kepada keamanan, pendidikan serta kesehatan rakyatnya oleh karennya pemerintah harus bersikap jujur, adil agar disenangi oleh rakyatnya, apabila pemerintah telah disenangi rakyatnya maka rakyat akan terdorong membayar pajak dan pendapatan pun terus meningkat sehingga keuangan Negara tidak akan pernah defisit dan pembangunan bisa berjalan dengan lancar, sedangkan diakhirat akan mendapat balasan dari Allah Swt karena telah menjaga kemaslahatan orang banyak dan memberikan hak-hak orang lain.

Dan bisa juga memberikan manfaat di dunia saja dengan menegakkan keadilan, hak, hukum-hukum politik yang dapat mensejahterakan rakyat, apabila keadilan telah ditegakkan dan hak-hak rakyat serta hukum-hukum di tegakkan dengan seadil-adilnya maka akan membawa kedaulatan yang makmur serta sejahtera. Sehingga rakyat dan pemerintah bisa kerja sama dalam mencapai maqasidnya, yaitu mencapai kedaulatan yang makmur nyaman dan sejahtera.15

Selanjutnya Ibnu Khaldun menjelaskan dalam hal kepemimpinan, bahwa seseorang yang diamanahkan sebuah kepemimpinan maka ia harus menjadi pelindung dan pemelihara bagi rakyatnya, dan bertanggung jawab penuh atas pekerjaan yang telah diamanahkan kepadanya, maka ia tidak boleh mengambil bentuk apapun dari rakyatnya baik berupa hasil atau yang lainnya

15 Ibid. h. 303

tanpa dengan pekerjaannya, sekalipun kepemimpinan ditangannya namun hak rakyat harus diberikan kepada mereka, maka bagikanlah pajak kepada semua rakyat dengan adil dan wajar diberlakukan secara umum kepada siapa saja tanpa mengecualikan seseorang karena kehormatan dan kekayaan, dan tidak mengecualikan sekalipun pegawaimu sendiri atau para keluarga istana atau para pengikutnya. Dan jangan membebani seseorang dengan pajak yang diluar kemampuan orang tersebut untuk membayarnya.16

Ketika Negara dan rakyatnya telah sejalan dalam menciptakan kedaulatan yang adil dan sejahtera, maka Negara akan mudah mengumpulkan pajak dari rakyatnya. Ibnu Khaldun lebih jauh menjelaskan bahwa apabila uang (pajak) telah terkumpul dan melimpah ruah maka hendaklah tidak digunakan kecuali untuk kemaslahatan rakyat serta memberikan hak-hak mereka dan menutupi kekurangan mereka hingga dapat memaslahatkan Negara dengan mengembangkan wilayahnya dan memperbaiki keadaan-keadaan rakyatnya sehingga tercapai Negara yang adil, makmur dan sejahtera.17

Ibnu Khaldun salah seorang tokoh pemikiran yang sangat populer, Ibnu Khladun mempunyai pola emperisme positivisme karena berisi kajian tentang sejarah, politik sosiologi dan ekonomi serta dalam mengungkapkan

16 Ibid. h. 308

17 Ibid

sebuah teori Ibnu Khaldun melihat keadaan yang terjadi disekelilingnya serta dengan pengalaman dari perjalanan hidupnya.18

Setelah kita membahas tentang pemikiran fungsi dan mekanisme pajak Ibnu Khaldun penulis akan menganalisa agar lebih mendalam tentang pengetahuan penulis tentang pajak Ibnu Khaldun. Pengertian pajak Ibnu Khaldun yang berarti Jibayah yang berarti pembebanan, atau pembebanan pemerintah bagi masyarakatnya. Pengertian ini jelas sesuai dengan pengertian penulis yaitu pembebanan pemerintah terhadap masyarakat dimana masyarakat tidak mendapatkan imbalan secara langsung dari pemerintah.

Sedangkan landasan pemikiran Ibnu Khaldun tentang pajak itu adalah ketika kita ingin mendirikan sebuah negara maka perlu bantuan atau solidaritas masyarakat agar pemerintah dapat menjalankan roda kepemerintahannya tampa bantuan dari rakyat pemerintah tidak akan bisa menjalankan program-programnya. Masyarakat harus bersatu tampa membedakan suku, Agama yang terpenting adalah integritas bangsa.

Hubungan sebuah negara dengan solidaritas masyarakat juga tidak bisa dipisahkan, tampa bantuan dari masyarakat negara tidak akan bisa berdiri.

Oleh karena itu masyarakat sangat dibutuhkan pemerintah begitu juga pemerintah juga diperlukan masyakat jadi kaitan diantara keduanya saling ketergantungan.

Ketika negara sudah mewah pendapatan sudah melimpah luah, maka peluang untuk ketidak adilan sangat luas. Ibnu Khaldun menjelaskan

18 Fuad Baali dan Ali Wardi, Op.cit. h. 40

pemerintah itu tidak akan selamanya positif terkadang akan membawa dampak yang negatif yaitu hilangnya sifat kejujuran dan keadilan dan terkadang pemerintah lupa sehingga hidup bermewah-mewah yang akan mengakibatkan sebuah kehancuran. Oleh karena itu tegak dan runtuhnya suatu negara itu terletak pada kepemerintahannya. Apabila pemerintahannya menjalankan fungsi pajak sesuai pada ketentuannya ditambah pemerintahan yang adil, jujur amanah maka tidak akan ada masyarakat yang kelaparan, serta tidak akan terjadi kerisis keuangan pada negara itu dan masyarakat akan makmur dan sejahtera.

Perkembangan selanjutnya adalah timbulnya jenis pemerintahan yang merupakan kekuasaan yang menindas dengan budaya yang menyeru untuk bersifat tidak jujur, diwaktu itu para pejabat Negara mulai hidup secara berlebihan hingga keadaan dan kebutuhan mereka itu menjadi lebih banyak karena mereka telah tenggelam dalam kenikmatan hidup dan kemewahan, mereka menambah jumlah pajak dari pungutan rakyat, para petani dan buruh perkebunan, serta semua wajib pajak. Setiap gaji dan pendapatan yang dikenakan pajak yang lebih besar, agar jumlah pajak yang mereka kumpulkan bertambah banyak.

Pertambahan pajak ini selalu terjadi dari jumlah yang satu kepada jumlah yang lain, karena semakin besarnya kebutuhan Negara untuk kemewahan yang menyababkan semakin banyak pula kebutuhan pengeluaran, akhirnya rakyat merasa bahwa pajak itu telah terlalu berat membebani mereka dan telah menjadi suatu hal yang dipaksakan sebabnya adalah karena

pertambahan itu dilakukan sedikit demi sedikit, dan orang tidak tahu lagi siapa yang menetapkan dan siapa yang memutuskannya. Akan tetapi rakyat telah merasa pasti bahwa pertambahan pajak itu lah menjadi suatu keharusan kemudian bertambah lagi sehingga menjadi berat untuk dipikul.

Ibnu Khaldun melihat bahwa pengaruh pajak yang selalu bertambah berat ini dapat terlihat ketika rakyat tidak bergairah lagi dalam berusaha, karena semangat sudah hilang dari jiwa mereka, rakyat melihat bahwa manfaat yang mereka peroleh dari berusaha itu telah menjadi sedikit sekali, terutama apabila dibandingkan antara untung dan ruginya, yaitu antara hasil yang diperolah dengan biaya yang harus dipikul. Banyak dari tenaga kerja sama sekali tidak mau bekerja lagi, karena itu jumlah pajak menurun, karena berkurangnya pendapatan yang dapat dibebani pajak.

Berdasarkan pemikiran yang telah dikemukakannya itu, Ibnu Khaldun menganjurkan bahwa setelah memahami segala hal ini, maka tindakan yang paling baik untuk kepentingan pembangunan adalah mengadakan sedikit mungkin jumlah pajak atas orang-orang yang bergerak dibidang pembangunan ini serta harus menegakkan keadilan, Abu Yusuf juga berpendapat bahwa suatu sistem pajak yang adil tidak hanya akan menimbulkan peningkatan pendapatan, melainkan juga pembangunan negara.19

Ibnu Khaldun mengemukakan bagaimana eratnya hungan antara pajak yang dibebankan kepada rakyat dan semangat untuk berusaha dan berproduksi, apabila pajak terlalu berat, rakyat akan kehilangan gairah dan

19 M. Umer Chapra.Op.cit.h. 286

semangat untuk bekerja dan berkaya mereka menyadari bahwa hasil yang mereka peroleh dari bekerja keras itu tidak akan mereka nikmati sendiri, akan tetapi semuanya kita akan pergi ke kas Negara dalam bentuk pajak.

Ibnu Khaldun juga menjelaskan bahwa pemerintah harus mempunyai sifat profesional serta jujur dan adil dalam mengumpulkan pajak tersebut, ketika pemerintah adil serta jujur dalam hal pemungutan serta pendistribusiannya maka akan tercapai negara yang makmur dan sejahtera.

Sejalan dengan pendapat para fuqaha klasik yang mendukung perpajakan, mereka hanya melihat sistem pajak yang adil, suatu sistem pajak dipandang adil apabila memenuhi tiga kriteria yaitu :

1 Pajak dipungut untuk membiayai apa yang dipandang mutlak diperlukan untuk mewujudkan maqasid.

2 Beban tidak boleh sama sehubungan dengan kemampuan orang untuk memikulnya, dan harus didistribusikan merata diantara mereka yang mampu membayar.

3 Dana pajak yang terkumpul harus dipergunakan setulusnya untuk tujuannya. 20

Para fuqaha sepakat bahwa zakat sangat jauh berbeda dengan pajak.

Para fuqaha sepakat bahwa zakat sangat jauh berbeda dengan pajak.

Dokumen terkait