BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.8 Fungsi Pelestarian Bahan Pustaka Tercetak
Pada perpustakaan perguruan tinggi pelestarian bahan pustaka sebagai sebuah upaya yang membutuhkan pertimbangan dari berbagai aspek, serta memiliki banyak kebutuhan untuk melaksanakannya secara maksimal, tentu memiliki fungsi, yakni :
Menurut Andi Ibrahim (2013: 78-79) Fungsi pelestarian adalah sebagai berikut:
1. Fungsi melindungi, bahan pustaka di lindungi dari serangan serangga, manusia, jamur, cahaya, kelembaban dan bencana alam.
2. Fungsi kesehatan, pelestarian yang baik, bahan pustaka menjadi bersih bebas dari debu, jamur, binatang perusak sehingga pembaca lebih bergairah membaca dan menggunakan bahan pustaka
3. Fungsi ekonomi, melaksanakan pelestarian, bahan pustaka menjadi lebih awet,keuangan dapat dihemat.
4. Fungsi keindahan, penataan bahan pustaka yang rapih, perpustakaan akan tampak lebih indah, sehingga menambah daya tarik pengguna bahan pustaka
5. Fungsi pengawetan, dengan dirawat baik-baik, bahan pustaka menjadi awet, bisa lebih lama dipakai, dan diharapkan lebih banyak pembaca yang dapat mempergunakan bahan pustaka tersebut.
6. Fungsi pendidikan, pemakai perpustakaan dan pustakawan sendiri harus belajar bagaimana cara memakai dan merawat dokumen. Mereka harus menjaga disiplin, tidak membawa makanan dan minuman ke dalam perpustakaan, tidak mengotori bahan pustaka maupun ruangan perpustakaan.Mendidik pemakai serta pustakawan untuk berdisiplin tinggi dan menghargai kebersihan.
7. Fungsi kesabaran, merawat bahan pustaka ibarat merawat bayi atau orang tua, jadi harus sabar. Bagaimana kita bisa menambal buku yang berlubang, membersihkan kotoran binatang kecil dan kotoran kutu buku dengan baik kalau kita tidak sabar. Menghilangkan noda dari bahan pustaka memerlukan tingkat kesabaran yang tinggi.
8. Fungsi sosial, perawatan dan pelestarian bahan pustaka tidak bisa yang dikerjakan oleh diri. Pustakawan perlu mengikut sertakan pemustaka untuk juga ikut merawat bahan pustaka dan perpustakaan. Rasa pengorbanan yang tinggi harus diberikan oleh setiap orang, demi kepentingan dan keawetan bahan pustaka.
Berdasarkan pada pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa upaya pelestarian bahan pustaka pada memiliki fungsi sebagai: perlindungan, kesehatan, keindahan, pendidikan, kesabaran, pengawetan, dan sosial.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Menurut Sumadi Suryabrata (2003:76) “penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situai-situasi atau kejadian-kejadian”.
Berdasarkan pada pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian ini merupakan penelitian jenis deskriptif, karena penelitian dilakukan untuk membuat gambaran atau deskripsi dari fenomena berupa kegiatan pelestarian bahan pustaka pada perpustakaan Universitas Medan Area. Agar peneliti dapat menemukan fakta-fakta yang dibutuhkan untuk membuat gambaran dari fenomena tersebut, maka peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif, sebagaimana yang disampaikan oleh Robert Bogdan & steven j.Taylor (1992:21)
“metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif”.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Perpustakaan Pusat Universitas Medan Area yang beralamat di Jl. Kolam No.1 Medan Estate 20133, Medan.
3.3 Data
Berdasarkan jenisnya data yang dibutuhkan dalam penelitian ilmiah dapat dibagi menjadi dua, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif.
Menurut Diana Chalil;Riantri Barus (2014: 1) “Data kuantitatif merupakan
informasi numerical berupa angka-angka, sedangkan data kualitatif merupakan informasi deskriptif berupa kata-kata atau kata-kata”.
Pada penelitian ini, Sebagian besar data berupa fakta-fakta yang berkaitan dengan proses pelestarian bahan pustaka pada perpustakaan Universitas Medan Area yang dikumpulkan dan dikaji dalam proses penelitian ini adalah berupa data kualitatif namun juga terdapat beberapa data kuantitatif sebagai pendukung pembuatan kesimpulan.
3.4 Sumber Data
Menurut lofland dan lofland (1984) dalam buku Ibrahim (2018:69) data berdasarkan sumber dari mana data tersebut berasal dapat dibedakan menjadi 2 yaitu data primer dan data sekunder . Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Data primer, yaitu sumber data utama sebagai seorang informan atau narasumber yang dapat memberikan data berupa fakta-fakta mengenai gambaran dari peristiwa diteliti, dalam penelitian ini Sumber utama tersebut adalah Pustakawan yang bertugas dalam bidang pelestarian bahan pustaka pada Perpustakaan Universitas Medan Area.Peneliti menentukan sumber data menggunakan teknik purposive sampling, Menurut Ibrahim (2018:72) “purposive sampling digunakan dalam situasi dimana peneliti menggunakan penilaiannya dalam memiliih responden dengan tujuan tertentu di dalam benaknya”, dalam penelitian ini peneliti memilih
pustakawan yang bertugas secara struktural dalam organisasi pustakawan
Perpustakaan UMA dalam bidang pelestarian bahan pustaka sebagai orang yang menjalani proses pelestarian bahan pustaka pada perpustakaan tersebut.
2. Data sekunder, yaitu data pendukung yang bersumber dari buku, jurnal, majalah, laporan, dan dokumen lain yang mengandung data yang berhubungan dengan masalah penelitian.
3.5 Instrumen penelitian
Menurut Ibrahim (2018:133) intrumen penelitian adalah “alat alat yang digunakan dalam penelitian”.
Alat yang digunakan untuk membantu peneliti dalam penelitian ini yaitu : a. Pedoman wawancara
Pedoman wawancara yang dimaksud disini adalah berupa tulisan mengenai garis besar permasalahan yang berkaitan dengan permasalahan yang akan dibicarakan dengan narasumber.
b. Pedoman observasi
Pedoman observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa petunjuk umum yang digunakan oleh peneliti sebagai acuan ketika melakukan pengamatan dilapangan, sehingga peneliti dapat menemukan segala informasi yang dibutuhkan ketika melakukan observasi, panduan ini berbentuk lembaran check list berisi daftar pernyataan mengenai proses dan teknik yang berkaitan dengan
permasalahan yang diteliti, yang akan disesuaikan dengan situasi sebenarnya yang terjadi dilapangan.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Menurut Hamidi (2010:140) “teknik pengumpulan data adalah cara peneliti memperoleh atau mengunpulkan data”. Teknik yang dimaksud disini adalah cara cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data data yang dibutuhkan dalam penelitian. Dalam penelitian kualitatif peneliti menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi untuk mengumpulkan data.
Berikut adalah penjabaran dari cara atau teknik tersebut antara lain :
1.Wawancara
Menurut Suwartono (2014:48) “wawancara adalah cara menjaring informasi atau data melalui interaksi verbal/lisan”.
Dalam melakukan proses wawancara, peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pustakwan yang bekerja dibidang pelestarian bahan pustaka pada Perpustakaan Universitas Medan Area, wawancara yang dilakukan adalah wawancara terstruktur dengan pertanyaan pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan yang sudah disiapkan oleh peneliti sebelum melakukan wawancara, yang kemudian jawaban jawaban yang diberikan oleh narasumber dicatat kembali pada lembar pedoman wawancara.
Sebelum melakukan wawancara, peneliti terlebih dahulu meminta izin kepada Universitas Medan Area melaui surat izin penelitian, kemudian segala data yang didapat melalui dokumentasi dan wawancara dengan informan diperoleh dengan meminta izin terlebih dahulu secara personal kepada pustakawan yang sedang bertugas di Perpustakaan Universitas Medan Area.
Informan yang dipilih sebagai sumber data primer dari penelitian ini adalah Pustakawan Perpustakaan UMA, pustakawan yang dipilih sebagai informan memiliki karakteristik sebagai pustakawan yang terlibat secara langsung dengan proses kegiatan pelestarian bahan pustaka pada Perpustakaan UMA.
Berikut adalah pustakawan Perpustakaan UMA yang menjadi informan dalam penelitian ini :
Tabel 3.1 informan N
NO
JABATAN Kode
informan
Kepala Bidang Pengembangan Koleksi I 1
2 Kepala sub bidang Pelestarian Bahan Pustaka
I 2
3 Staf anggota sub bidang Pelestarian Bahan Pustaka
I 3
Peneliti melakukan wawancara terhadap masing masing informan dalam waktu yang berbeda, wawancara dilakukan oleh peneliti sendiri dengan cara berdialog secara tatap muka bersama informan.
Selama wawancara berlangsung, peneliti mengajukan pertanyaan pertanyaan dari pedoman waawancara, sebagian jawaban yang diberikan oleh informan direkam menggunakan handphone.
2. Observasi
Guba dan Lincoln dalam Moleong (2014: 174) menyatakan salah satu alasan penggunaan metode observasi dalam penelitian kualitatif adalah
“memungkinkan melihat dan mengamati sendiri fenomena yang terjadi pada saat penelitian, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya”.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan observasi partisipatif dimana Untuk mengumpulkan data, peneliti melakukan observasi dengan datang langsung kelapangan yaitu perpustakaan universitas medan area untuk melakukan pengamatan secara langsung pada segala materi dan peristiwa atau kegiatan yang berkaitan dengan proses pelestarian bahan pustaka yang dilakukan oleh pustakawan.
Sebelum melakukan observasi peneliti terlebih dahulu membuat pedoman observasi sebagai acuan pada saat melakukan observasi, segala informasi yang ditemukan di tulis dalam bentuk catatan.
3. Dokumentasi
Dokumentasi menurut gulo (2002:123) “dokumentasi adalah metode pengumpulan data dengan mencatat berbagai kegiatan atau peristiwa pada waktu yang lalu”. Pada penelitian ini dokumentasi dapat
menghasilkan dokumen berupa foto foto dari segala peristiwa atau objek yang berkaitan dengan proses pelestarian bahan pustaka di Perpustakaan UMA.
3.7 Analisis Data
Menurut Sugiyono (2008:92) pengolahan data merupakan kegiatan lanjutan setelah pengumpulan data dilakukan, setelah data data dikumpulkan melalui berbabagi teknik pengumpulan data, selanjutnya data-data tersebut di interpretasi atau dianalisis melalui tiga tahapan yaitu :
1. Reduksi data
Segala data telah dikumpulkan oleh peneliti melelalui wawancara, observasi, dan dokumentasi akan di baca kembali oleh peneliti untuk memilih data data yang benar benar di perlukan dan mengelompokkan nya dengan data lain yang berkaitan langsung.
2. Penyajian data
Setelah semua data data diseleksi dan dikelompokkan seluruh data digabungkan dalam bentuk teks naratif, sehingga dapat dipahami dengan jelas isi dari data tersebut.
3. Penarikan kesimpulan
Melalui data yang telah disajiakan, peneliti selanjutnya membuat kesimpulan sebagai gagasan atau ide ide utama yang didapat dari data yang diperoleh peneliti.
3.8 Pengecekan Keabsahaan Data
Untuk menjamin keabsahan data, hingga dapat dipastikan bahwa data yang dikumpulkan oleh peneliti sesuai dengan yang sebenarnya, maka peneliti menggunakan teknik triangulasi, menurut Moleong (2005:330) triangulasi adalah
“teknik pemeriksaan keabsaahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data itu”.
Menurut Pawito (2007:99) triangulais meliputi 3 hal, yaitu : 1. Triangulasi metode
Triangulasi metode dilakukan dengan cara membandingkan data yang di dapat melalui suatu metode pengumpulan data dengan data yang didapat menggunakan metode pengumpulan data yang lain, untuk mengecek keabasahahan data tersebut.
2. Triangulasi data
Untuk mendapatkan pandangan akan kebenaran yang sebenarnya pada fenomena dalam penlitian ini adalah kegiatan pelestarian bahan pustaka, peniliti akan membandingkan data yang diperloleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan data yang di peroleh dari dokumen dokumen yang berkaitan dengan program kerja pelestarian bahan pustaka pada Perpustakaan Universitas Medan Area.
3. Triangulasi teori
Segala teori yang dikumpulkan oleh peneliti dan dihimpun di bab 2 pada skripsi ini akan dibandingkan dengan data-data pelstarian bahan pustaka yang di temukan oleh peneliti pada Perpustakaan UMA, dengan tujuan untuk menguji keabasahan dari data tersebut.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perpustakaan Universitas Medan Area
Lokasi dari penelitian ini adalah Perpustakaan Universitas Medan Area yang memiliki gedung dalam wilayah kampus 1 (satu) Universitas Medan Area (UMA), Perpustakaan UMA memiliki peran sebagai pusat kordinasi dari seluruh perpustakaan cabang yang berada di kampus 1 (satu) dan 2 (dua) Universitas Medan Area.
4.1.1 Sejarah Perpustakaan Universitas Medan Area
Universitas Medan Area sebagai perguruan tinggi yang menaungi Perpustakaan Universitas Medan Area (Perpustakaan UMA) berdiri Pada tahun 1983,pada mulanya Perpustakaan UMA didirikan di Jalan Gatot Subroto, kemudian pada tahun 1989 hingga sekarang Perpustakaan UMA dipindahkan ke jalan kolam no 1 medan estate, tepat nya di gedung rektor Universitas Medan Area, lantai 1.
Pada tahun 2008 Perpustakaan UMA mendirikan perpustakaan cabang pada fakultas Psikologi, Teknik, Hukum, Isipol, Pertanian, Biologi, Ekonomi dan Pascsarjana, saat ini Perpustakaan UMA tengah mengembangkan gedung baru perpustakaan yang nantinya akan menjadi gedung Perpustakaan Pusat UMA yang baru.
4.1.2 Visi dan Misi Perpustakaan Univeristas Medan Area
Visi dari perpustakaan Universitas Medan Area adalah Menjadi perpustakaan yang unggul sebagai pusat rujukan informasi ilmiah dalam
mendukung penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. Hal ini sejalan dengan visi Universitas Medan Area yaitu tahun 2025 menjadi Universitas yang unggul dibidang akademik, ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menghasilkan lulusan yang inovatif, berkepribadian dan mandiri. Tentunya dalam mencapai visi tersebut perpustakaan UMA memiliki misi yaitu :
1. Menyediakan dan melayani akses informasi ilmiah secara efektif dan efisien dalam pelayanan pengguna sivitas akademika Universitas Medan Area.
2. Meningkatkan pelayanan, sarana dan prasarana dan teknologi terkini untuk menunjang pendidikan dan penelitian yang bermutu.
4.1.3 Fungsi dan Tujuan Perpustakaan Universitas Medan Area
Sebagai Perpustakaan perguruan tinggi Perpustakaan UMA berfungsi sebagai:
1. Untuk memenuhi keperluan informasi sivitas akademik UMA 2. Menyediakan bahan pustaka rujukan (reference) pada semua tingkat
akademis
3. Menyediakan ruang belajar untuk pengguna perpustakaan
4. Menyediakan jasa peminjaman yang tepat guna bagi berbagai jenis pengguna
5. Menyediakan jenis informasi aktif yang tidak hanya terbatas pada lingkungan perguruan tinggi tetapi juga lembaga induknya.
Tujuan Perpustakaan UMA
1. Sebagai penunjang pendidikan dan pengajaran maka Perpustakaan UMA bertujuan untuk mengumpulkan, mengolah, menyimpan, menyajikan dan
menyebarluaskan informasi untuk mahasiswa dan dosen sesuai dengan kurikulum yang berlaku
2. Sebagai penunjang penelitian maka kegiatan Perpustakaan UMA adalah mengumpulkan, mengolah, menyimpan, menyajikan dan menyebarluaskan informasi bagi peneliti baik intern institusi atau ekstern di luar institusi.
3. Sebagai penunjang pengabdian kepada masyarakat maka PPT melakukan kegiatan dengan mengumpulkan, mengolah, menyimpan, menyajikan dan menyebarluaskan informasi bagi masyarakat
4.2 Pelestarian bahan pustaka tercetak Perpustakaan UMA
Setelah melakukan pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi, peneiliti menyusun dan menyajikan data yang didapat dalam penelitian ini sebagai berikut :
4.2.1 Kondisi Bahan Pustaka Tercetak
Pada awal di mulai nya penelitian ini, peneliti melakukan observasi dengan mengamati kondisi dari koleksi tercetak yang tersusun di rak buku untuk di layankan oleh perpustakaan UMA, pada saat melakukan pengamaatan peneliti menemukan terdapatnya koleksi tercetak berupa buku buku dengan kondisi lembaran yang telah robek, dan beberapa buku lainnya memiliki tulisan dan gambar yang telah memudar dan tak dapat dibaca.
Untuk mendapatkan informasi yang lebih detail mengenai kondisi bahan pustaka tercetak yang telah rusak pada perpustakaan UMA, maka peneliti melakukan wawancara kepada pustakwan Perpustakaan UMA sebagai informan
pada penelitian ini, rangkuman keterangan yang diberikan oleh informan pada wawancara tersebut adalah sebagai berikut :
I 1 : “Saat ini pada perpustakaan UMA terdapat beberapa buku yang telah robek, Sebagian buku buku yang telah rusak sudah disimpan di ruang penyimpanan khusus sebelum diperbaiki, sedangkan sebagian lagi dipajang di rak pada ruang perpustakaan untuk dilayankan”.
I 2 : “Ada buku yang sampulnya sudah robek”.
I 3 : “Ada buku buku pada perpustakaan yang sudah robek, dan ada beberapa buku yang jilid nya yang sudah lepas”.
Gambar 4.1 Buku dengan halaman yang sudah terlepas
Gambar 4.2 Buku buku rusak pada ruangan penyimpanan
Gambar 4.3 buku buku rusak pada ruangan baca
Dari jawaban yang diberikan oleh informan, serta foto hasil dokumentasi, dapat dikatakan bahwa pada kenyataan nya perpustakaan UMA memiliki bahan pustaka tercetak berupa buku buku yang telah mengalami kerusakan, dan sebagian dari buku buku tersebut dilayankan pada ruang perpustakaan kepada pengguna dan sebagian lagi telah disimpan di ruang penyimpanan untuk sementara sebelum diperbaiki.
4.2.2 Faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka
Setelah di ketahui bahwa pada perpustakaan UMA terdapat bahan pustaka yang telah mengalami kerusakan, peneliti melakukan wawancara untuk mengetahui hal hal yang menjadi penyebab kerusakan pada buku buku tersebut.
Dalam melakukan wawacara, peneliti memberikan beberapa pertanyaan kepada Informan, dialog antara peneliti dengan informan pada saat wawancara terangkum dalam uraian berikut :
I 1 : “Banyakbuku buku pada perpustakaan UMA robek karena sering digunakan oleh pengguna”.
I 2 : “Beberapa buku buku yang robek adalah buku buku yang telah sering digunakan oleh pengguna, dibandingkan dengan koleksi lain”.
I 3 : “Buku buku yang sudah tua banyak mengalami kerusakan berupa cover yang terkelupas dan isi nya yang luntur dan warnanya menjadi kusam”.
Gambar 4.4 Kerusakan Pada Sampul Buku
Gambar 4.5 Kerusakan pada cover buku
Gambar 4.6 Kerusakan pada jilid buku
Dari penjabaran tersebut, menunjukkan bahwa buku buku cetak yang terdapat pada perpustakaan UMA mengalami kerusakan berupa kover yang terkelupas, jilid yang lepas, lembaran yang robek serta kelunturan pada isi dari buku disebabkan oleh faktor internal penyebab kerusakan buku berupa penurunan kualitas dari fisik bahan pustaka akibat usianya yang semakin tua, selain itu kerusakan pada buku berupa jilidnya yang terlepas dan lembaranya yang telah robek disebaabkan oleh penggunaan yang sudah terlalu sering atau penggunaan berlebihan.
4.2.3 Pelestarian Bahan Pustaka Tercetak
Dengan kondisi bahan pustaka tercetak yang banyak mengalami kerusakan, peneliti mencoba memahami bagaimana upaya pelestarian bahan pustaka Perpustakaan UMA, dengan memberikan pertanyaan kepada informan mengenaikebijakan manajerial berupa program kerja pelestarian bahan pustaka tercetak pada perpustakaan UMA, serta tenaga kerja yang digunakan dalam melakukan pekerjaan tersebut. Jawaban dari masing masing informan pada wawancara tersebut terangkum dalam penjelasan berikut:
I 1 : “Dalam melakukan pelestarian bahan pustaka, perpustakaan UMA memiliki panduan sendiri yang terangkum dalam arsip resmi Perpustakaan UMA, arsip tersebut berjudul panduan pengelolaan perpustakaan, pada organisasi Perpustakaan UMA terdapat sub bidang pelestarian bahan pustaka yang bertanggung jawab secara khusus dalam menangani upaya pelestarian bahan pustaka, di dalam tim tersebut diisi oleh pustakawan dengan jumlah 4 orang, setiap orang tersebut memiliki latar belakang pendidikan lulusan sarjana bidang bidang ilmu perpustakaan”.
I 2 : “Setiap kegiatan pelestarian yang dilakukan oleh perpustakaan UMA dilakukan dengan berpedoman kepada pedoman
penyelenggaraan perpustakaan UMA, serta pendiskusian dengan pustakawan UMA lainnya, kepala sub bidang pelestarian bahan pustaka serta seluruh anggota staf yang tergabung didalamnya bertugas secara khusus dan berkordinasi dengan pustakawan UMA lainnya dalam menangani pelestarian bahan pustaka”.
I 3 : “Jika situasi dan kondis mendukung, maka pustakawan UMA akan melakukan pelestarian bahan pustaka sesuai dengan pedoman penyelenggaraan perpustakaan milik UMA, seluruh pustakawan perpustakaan UMA bertanggung jawab dalam memperhatikan kelestarian bahan pustaka yang ada didalam nya, namun secara khusus pustakawan dalam tim sub bidang pelestarian bahan pustaka bertanggung jawab secara khusus dalam menangani proses pelestarian bahan pustaka pada perpustakaan UMA”.
Berdasarkan informasi yang diberikan oleh informan pada wawancara tersebut, maka dapat dipahami bahwa perpustakaan UMA secara organisasional memiliki program kerja untuk melakukan pelestarian bahan pustaka secara dengan berpedoman kepada pedoman pengelolaan yang telah dibuat oleh Perpustakaan UMA sendiri.
Dalam melakukan upaya pelestarian bahan pustaka tercetak, pada perpustakaan UMA sub bidang pelestarian bahan pustaka menjadi tim yang bertanggung jawab secara khusus dalam melakukan upaya tersebut, sub bidang pelestarian bahan pustaka perpustakaan UMA terdiri dari 4 (empat) yang meimiliki latar belakang pendidikan lulusan sarjana ilmu perpustakaan.
Selanjutnya peneliti mencoba mendapatkan informasi mengenai sumber keuangan serta peralatan dan ruangan yang digunakan oleh perpustakaan UMA dalam melakukan upaya pelestarian bahan pustaka tercetak.
I 1 : “Perpustakaan UMA tidak memiliki anggaran khusus dalam melakukan pelestarian bahan pustaka , sumber dana yang di gunakan oleh perpustakaan UMA dalam melakukan pelestarian
bahan pustaka berasal dari pihak Universitas Medan Area yang diminta melalui permohonan proposal, saat ini perpustakaan UMA tidak memiliki ruang khusus dalam melakukan pelestarian namun nantinya pada gedung baru perpustakaan UMA sudah dibangun ruangan tersebut yang akan segera beroperasi, untuk peralatan saat ini perpustakaan UMA hanya memiliki peralatan yang tidak cukup memenuhi kebutuhan dalam melakukan pelestarian bahan pustaka”.
I 2 : “Uang untuk melakukan pelestarian berasal dari pihak Universitas Medan Area yang diminta melalui proposal, dalam melakukan pelestarian bahan pustaka, pustakawan UMA bekerja dengan memanfaatkan ruangan yang ada dengan peralatan seadanya”.
I 3 : “Setau saya sumber dana yang digunakan berasal dari pihak Universitas Medan Area, dalam melakukan kegiatan pelestarian bahan pustaka dilakukan dalam gedung perpustakaan UMA dengan memanfaatkan ruangan yang ada, menggunakan peralatan perbaikan bahan pustaka yang mengalami kerusakan kecil”.
Dari uraian data diatas menunjukkan bahwa Perpustakaan Universitas Medan Area melakukan pelestarian bahan pustaka dengan berpedoman pada pedoman pengelolaan perpustakaan Universitas Medan Area, upaya pelestarian bahan pustaka merupakan tanggung jawab secara khusus dari sub bidang pelestarian bahan pustaka, semua tenaga ahli yang terdapat pada bidang tersebut merupakan pustakawan yang memiliki latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan, namun dengan jumlah yang tidak mencukupi.
Dalam melakukan pelestarian bahan pustaka perpustakaan UMA tidak memiliki sumber pendanaan khusus, uang yang dibutuhkan untuk melakukan pelestarian bahan pustaka berasal dari pihak Universitas Medan Area, yang diminta melalui proposal.
4.2.4 Tindakan Pencegahan Kerusakan Bahan Pustaka
Terdapat berbagai tindakan yang dapat dilakukan untuk menjauhkan bahan pustaka dari hal hal yang memiliki kemungkinan dapat menjadi faktor penyebab kerusakan pada bahan pustaka tercetak dimasa yang akan datang, dengan dilakukannya tindakan tersebut maka perpustakaan dapat mencegah kerusakan pada bahan pustaka tercetak yang terdapat didalamnya.
Berikut adalah uraian transkrip hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti mengenai tindakan pencegahan yang dilakukan oleh pustakawan Perpustakaan UMA.
I 1 : “Untuk mencegah kerusakan kami menggunakan air conditioner (ac) untuk mengatur suhu udara pada ruang perpustakaan, memasang gorden, serta memberikan penyuluhan dan memberikan pedoman pengelolaan perpustakaan kepada selutruh staff perpustakaan”.
I 2 : “Untuk mencegah kerusakan pada buku, perpustakaan UMA
I 2 : “Untuk mencegah kerusakan pada buku, perpustakaan UMA