• Tidak ada hasil yang ditemukan

E.3. Politik Lokal

E.3.3. Fungsi politik Lokal

Secara teoritis, partai politik berperan sebagai sarana untuk mengoperasionalkan fungsi-fungsi politik, seperti sosialiasi politik, rekrutmen politik, artikulasi dan agregasi kepentingan politik masyarakat. Fungsi-fungsi ini terkait dengan kedudukan partai politik sebagai salah satu penghuni sistem politik. Sistem politik sendiri menurut pendekatan Fungsional Estonian terdiri dari dua sub sistem yaitu, infrastruktur politik dan suprastruktur politik. Dalam pengertian sederhana, infrastruktur politik merupakan suasana kehidupan politik di tingkat masyarakat yang mencerminkan dinamika organisasi sosial politik di luar pemerintahan. Sementara suprastruktur politik merupakan suasana kehidupan politik di dalam pemerintahan dan berkaitan dengan peran dan fungsi lembaga-lembaga pemerintahan.

Kehidupan politik baru di Aceh dimulai dengan kesuksesan perundingan damai Helsinki antara GAM-RI yang dilanjutkan dengan lahirnya UU Pemerintahan Aceh. Salah satu pesan implisit dari MoU Helsinki dan UUPA adalah kekuatan-kekuatan politik di Aceh yang selama ini berseberangan garis politik dan ideologinya dengan pemerintah

akan melakukan transformasi menjadi gerakan politik dengan membentuk partai-partai politik. Suasana baru ini disambut dengan antusias oleh banyak kalangan karena mereka melihat bahwa diantara agenda penting di Aceh adalah merawat perdamaian dan menyuburkan demokrasi. Perdamaian tidak bisa langgeng ketika kelompok kritis dan strategis tidak bisa mendapatkan ruang untuk mengartikulasikan kepentingan politiknya.32

Sedangkan desetralisasi berasal dari bahasa latin yaitu de yang berarti lepas, dan

centrum yang berarti pusat. Dengan demikian Desentralisasi berarti dilepas atau lepas E. 3.4. Pilkada Menurut UU No.32/2004 & UU.11/2006

Berbicara pilkada ada dua yang harus di perhatiakan , yaitu:

1) Undang-undang No. 32Tahun 2006 tentang pemerintahan daerah.

Undang – undang No. 32/2006 tentang pemerintahan daerah melahirkan sebuah gagasan Otonomi Daerah secara luas kepada Kabupaten/Kota yang didasarkan pada program disentralisasi. Otonomi (Autonomie) berasla dari bahasa Yunani yaitu kata auto yang berarti sendiri & nomos yang berarti Undang-undang (TB. Silalahi,1996, mengutip kamus Petitlarousse). Dengan demikian Otonomi adalah “ pemberian hak dan kekuasaan perundang-undangan untuk mengatur rumah tangganya sendiri kepada instansi, perusahan Daearah. Menurut UU No.32/2006, Otonomi Daerah didefinisikan sebagi “kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasrkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan”.

32 M.Rizwan Haji Ali : Staf Pengajar Program Studi Ilmu Politik, FISIP, Universitas Malikussaleh. FDT Bidang Politik Aceh Institute Maret 2007.

dari pusat. Davit Osborne dan Ted Gaebler dalam bukunya yang terkenal “Reinventing

Goverment” (hlm.250), mengatakan ada empat keuntungan dari desentralisasi, yaitu:

1. Desentralisasi jauh lebih fleksibel dari pada sentralisasi, oleh karena itu Desentralisai dapat merespon dengan cepat perubaha-perubahan lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

2. Desentralisasi jauh lebih efektif dari pada sentralisasi. 3. Desentralisasi jauh lebih inovatif dari pada sentralisi.

4. Desentralisasi lebih meningkatkan moral, komitmen dan produktifitas. Di dalam UU No.22/1999 bahwa Kepala Daerah dipilih oleh DPRD bukan dipilih oleh rakyat, hal ini dapat dilihat dalam Pasal 35 Undang-undang No.22/1999 seperti yang telah disebut kan di atas.

2. Undang-Undang No.11 Tahun 2006 tentang pemerintahan daerah Aceh.

Lahirnya UU. No.11/2006 tentang pemerintahan daerah Aceh ini di latar belakangi oleh berbagai ketidak sempurnaan dari peraturan perundangan yang dulu terbit yaitu UU.No.22/1999 tentang pemerintahan daerah.33

Didalam undang-undang No.11/2006 pemelihan kepala daerah dilakukan secara langsung artinya kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat. Jadi yang di maksud kepala Undang-undang pemerintahan Aceh No.11/2006. Yang di maksud pemerintahan daerah menurut Undang-Undang No.11/2006 adalah pelaksanaan fungsi- fungsi daerah yang dilakukan oleh lembaga pemerintahan daerah yaitu Pemerintahan Daerah dan DPRD.

33

Daniel S.Salossa,Mekanisme, Persyaratan, dan Tatacara Pilkada Langsung Menurut UU .No.32/2004

tentang Pemerintahan Daerah Yogyakarta: Media Prssindo,2005,hlm 9. dan Pemerintahan Daerah Aceh

daerah adalah kepala pemerintahan daerah yang dipilih secara demokratis. 34

Kajian tentang Pilkada secara langsung pada dasarnya merupakan pilar yang bersifat memperkukuh bangunan demokrasi secara nasional. Sebagai mana dinyatakan oleh Tip O Neiil,”all politics is lokal”,

Pemilihan secara demokratis terhadap kepala daerah tersebut, dengan mengingat bahwa tugas dan wewenang DPRD menurut UU.No.22 tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, menyatakan antara lain bahwa DPRD tidak memiliki tugas dan wewenang untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, maka pemilihan secara demokratis dalam UU. Ini dilakukan secara rakyat secara langsung dan Kepala Daerah dalam melaksankan tugasnya dibantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah, dan perangkat Daerah.

E.3. 5.Pilkada Sebagai Demokratisasi Politik Lokal

35

Secara sederhana demokrasi adalah sebuah sistem untuk membuat keputusan-keputusan politik dimana individu-individu mendapat kekuasaan melalui pertarungan kompetitif memperebutkan suara rakyat. Pemaknaan demokrasi, dengan tekanan pada

yang berarti demokrasi akan berkembang subur

dan terbangun kuat diaras nasioanal apabila tingkatan yang lebih rendah (Lokal) nilai-nilai demokrasi berakar kuat.Pilkada secara langsung adalah perkembangan menarik dalam sejarah perpolitikan lokal di Negeri ini, karena pilkada langsung merupakan momentum pelekatan dasar fondasi kedaulatan rakyat dan sistem politik serta demokrasi di aras lokal.

34

Daniel S. Salossa, Ibid, hlm.15. 35

Dikutip dari Indra J. Piliang, UU. No.32/2004 Tentang Pemerintahan Daerah: Peluang, Tantangan dan

konsep kompotisi dan partisipasi, antara lain di anut oleh Samuel P.Huntinton.36

Syamsudin Haris

Berlangsungnya Pemilu berkala yang bebas adil, demokratis, kompotitif, dan dengan hak pilih universal merupakan pembeda paling penting antara sistem demokrasi dan sistem

otoriter.

37

Bob Sunggeng Hadiwinata dan Puis Sunggeng Prasetyo

di dalam Analisisnya yang berjudul Pilkada Langsung dan

Penguatan Demokrasi di Indonesia Pasca Soeharto yang di sampaikan dalam Seminar

Nasional XIX dan Kongres VI AIPI. “Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung dan Demokratisasi di Indonesia,” Batam, 22-24 Maret 2005, mengatakan bahwa meskipun Kepala-Kepala Daerah hasil Pilkada memiliki legitimasi yang kuat lantaran di pilih secara langsung, Pemerintaha lokal produk Pilkada belum tentu menjanjikan kualitas demokrasi lokal dan tata pemerintahan daerah yang lebih baik. Selain problem legitimasi

yang kompleks, masyarakat tampaknya harus siap kecewa terhadap kualitas kinerja dan akuntabilitas mereka.

38

36

Samuel P.Huntinton,Gelombang Demokrasi ke Tiga, Jakarta: Pustaka Utama Grapiti, 1997 37

Lihat Jurnal Ilmu Politik No. 20 Tahun 2006. 38

I Made samiana, dkk. (Editor), Etika Politik Dan demokrasi Dinamika Politik Lokal di Indonesia, Jakarta: Pustaka Percik, 2006, hlm. 9.

Di dalam paparanya yang berjudul “Dinamika Low Politics: Kontribusi Demokrasi Lokal (Pedesaaan)

terhadap Demokratisasi di Indonesia” yang di sampaikan dalam Seminar Internasional

keenam, kampoeng percik, Selasa 2 Agustus 2005 mengatakan, bahwa hal yang membedakan demokrasi lokal dengan demokrasi lainnya adalah bahwa demokrasi lokal terdapat unsur otonomi lokal yang menyangkut kebebasan dari intertensi politik pusat, dan kebeasan untuk merefleksikan nilai-nilai dan norma-norma lokal. Kedua hal tersebut penting, mengingat bahwa besarnya intervensi pusat sebagaimana tercermin pada Orde

Baru, ternyata mematikan demokrasi dan bahwa berbagai aktivitas seperti seleksi kepemimpinan, kontrol, dan bahkan pembuatan keputusan sering kali melibatkan norma institusi- institusi tradisional setempat.

Syarif Hidayat39

Tommi A. Legowo

di dalam Makalhnya yang berjudul “Urgensi dan Bahaya

Pilkada” yang dismpaikan pada seminar Internasional keenam, Kampoeng Percik, 2

Agustus 2005 mengatakan bahwa Desentralisasi dan Otonomi Daerah sangat terkait dengan pencapaian tujuan hakiki dari Disentralisasi dan otonomi Daerah, yakni melahirkan good governance, kemakmuran, dmokratisasi ditingkat lokal. Beberapa ilmuwan mencoba membangun preposisi atau postulat, misalnya Brian Smith mengatakan bahwa Pemilihan kepala daerah secara langsung merupakan salah satu prasyarat untuk terujutnya accountability, responsvitas dan political equity (persamaan politik) di tingkat lokal. Hal serupa juga dikemukakan arghiros, yang mengatakan Desentralisasi sebagai alat dan demokratisasi sebagi tujuan, maka pilkada merupakan bagian yang menghubungkan alat tujuan tadi.

40

39

I Made samiana, Ibid, hlm. 22. 40

Lihat Jurnal Ilmu Politik No.20,Tahun 2006, hlm 42-49

di dalam analisisnya yang berjudul Pemilihanan Kepala

Daerah Secara langsung, Good Governance dan Masa Depan Otda yang di sampaikan

dalam Seminar Nasional XIX dan Kongres VI AIPI “Pilkada Secara Langsung dan Demokratisasi di Indonesia,” Batam, 22-24 Maret 2005 mengatakan bahwa Pilkada secara langsung sebenarnya merupakan pengejawantahan salah satu perinsip Good

Governance, yaitu prinsip partisipasi publik, dalam arti publik secara langsung terlibat

Good Gavernance di daerah akan merupakan jaminan bagi Otonomi Daerah yang

;langsung dan bermutu. Tetapi Otonomi daerah yang di dasarkan pada program Desentralisasi pemerintahan juga akan tergantung pada Polotical Will & Political

Commitment dari pemerintahan di tingkat pusat. Kedua hal ini merupakan faktor- faktor

utama untuk menimbang masa depan Otonomi Daerah. Otonomi Daerah yang di dasarkan pada program Desentralisasi meniscayakan kewenangan pemerintah pusat untuk menentukan seberapa besar dan luas Otonomi Daerah itu akan di berikan. Pemerintahan pusat yang di kuasai secara bergantian oleh kekuatan- kekuatan politik yang berbeda-beda aliran dapat berpengaruh terhadap berubah-ubahnya kebijakan desentrilisasi yang di terapkan untuk masa-masa yang berbeda-beda.

Smith, Dahl, maupun Mawhood mengatakan bahwa untuk mengujutkan apa yang di sebut: Lokal Accountability, Political equity, and lokal responsiveness, yang merupakan tujuan Desentralisasi, ada beberapa prasyarat yang harus di penuhi yakni: Pemerintahan Daerah harus memiliki teritorial kekuasaan yang jelas (legal territorial of

power); memiliki Pendapatan Daerah sendiri (lokal own income); meimiliki lembaga

perwakilan rakyat (lokal representative body) yang berpungsi untuk mengontrol Eksekutif Daerah; dan adanya Kepala Daerah yang di pilih secara langsung oleh masyarakat melalui mekanisme pemilihan umum (Syarif Hidayat, 2002).

Fitriyah41

41

Lihat Jurnal Ilmu Politik No. 20, Tahun 2006, hlm. 23-24

di dalam Teorinya yang berjudul Sistem dan Proses Pilkada Secara

Lngsung yang di sampaikan dalam Seminar Nasional XIX & Kongres AIPI VI : “Pilkada

secara langsung & Demokratisasi di Indonesia,” Batam, 22-24 Maret 2005 mengatakan bahwa kebijakan Otonomi luas dibawah UU. No.22/1999 belum membawa perubahan

yang signifikan terhadap peran rakyat dalam rekrutmen pejabat publik maupun dalam kebijakan publik. Dalam Pilkada peran rakyat sangat minimal, karena UU No.22/1999 menentukan bahwa Kepala Daerah di pilih sepenuhnya oelh DPRD bukan oleh rakyat secara langsung. Ini tidak menjadi masalah tatkala fungsi sebagai wakil rakyat yang sesungguhnya yang di emban oleh DPRD menjadi proritas, yakni menyerap aspirasi, mengartikulasi kepentingan, menggagregasi kepentingan rakyat daerah, termasuk menyerap aspirasi rakyat untuk menentukan siapa yang bakal menjadi pemimpinnya. Namun sayang proses politik di daerah realitasnya masih di dominasi oleh elit DPRD. Dengan kata lain UU. No.22/1999 sesungguhnya menggunakan sistem Parlementer.

Berbeda halnya yang di kemukan oleh Tommi A.Legowo42

42

Lihat Jurnal Ilmu Politik No.20, Tahun 2006, hlm 50.

di dalam Analisisnya yang berjudul Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung, Good Governance & Masa

Depan Otonomi Daerah yang di sampaikan dalam Seminar Nasional XIX & Kongres VI

AIPI “ Pilkada Secara langsung & Demokratisasi di Indonesia,” Batam, 22-24 Maret 2005 Mengatakan bahwa pasal-pasal yang terdapat di dalam UU. No.32/2004 terkesan nuansa Re-sentralisasi terhadap Otonomi Daerah yang selama ini telah dinikamati oleh Daerah berdasarkan UU. No. 22/1999. ketentuan-ketentuan tentang peraturan Daerah (Perda) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (Pasal 186), misalnya, mencerminkan lunturnya Otonomi Daerah Kabupaten/Kota karena sebelum Pemerintahan Daerah dapat mengesahkan rancangan Perda tersebut rancangan itu harus mendapat persetujuan dari Gubenur, yang tidak lain adalah wakil Pemerintahan Pusat di Daerah.

F.Metode Penelitian

Dokumen terkait