BAB 2 KAJIAN TEORI ............................................................................ 13-36
2.1.2 Fungsi Religiusitas
Fungsi religiusitas bagi manusia erat kaitannya dengan agama. Dister (1988) mengemukakan ada empat fungsi (emosional-efektif, sosio-moral, intelektual-kognitif dan psikologis) dari religiusitas, yaitu :
15
1. Untuk mengatasi frustrasi
Tidak semua residen menjalani rehabilitasi dengan sukarela. Sebagian besar dari mereka terpaksa melakukannya karena misalnya terjerat penyelidikan dan penangkapan penyalahguna narkoba yang dilakukan oleh tim kepolisian. Apapun alasan residen menjalani rehabilitasi, mereka telah dipaksa untuk keluar dari zona aman. Perubahan fungsi-fungsi dan disiplin yang terpaksa mereka jalani seringkali menimbulkan rasa putus asa dan frustrasi.
Psikologis mengobservasikan bahwa keadaan frustasi dapat menimbulkan perilaku keagamaan. Orang yang mengalami frustasi berusaha mengatasi frustasi dengan membelokkan arah kebutuhan dan keinginkan yang dimiliki dari yang bersifat keduniawian menuju keinginan kepada Tuhan, lalu mengharapkan pemenuhan keinginan tersebut dari Tuhan. Manusia akan merasa tenang apabila telah berserah diri kepada Tuhan karena merasa yakin bahwa Tuhan akan selalu menolong setiap hamba yang membutuhkan sehingga dapat memberikan ketentraman dihati setiap manusia yang sedang mengalami masalah. Disini keyakinan tersebut ada karena seseorang memiliki kualitas pemahaman keagamaan yang baik. Dengan adanya keyakinan seperti itu maka kehidupan yang dilewati akan menjadi lebih tenang dan bahagia.
2. Untuk menjaga kesusilaan serta tata tertib masyarakat
Dulu ada anggapan bahwa HIV/AIDS hanya menular di lingkungan pelaku penyimpangan seksual (pelacur dan homoseksual), tetapi sekarang ternyata bahwa tidak sedikit yang tertular HIV karena transfusi darah dan penggunaan jarum suntik secara bergilir diantara pecandu narkoba/IDU (Injecction DrugUse).
16
Angka kejadian ketularan HIV dikalangan pecandu narkoba yang menggunakan jarum suntik (IDU) secara bergilir cukup tinggi. Penelitian diantara para IDU di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta, menunjukkan bahwa 90% dari para pecandu narkoba IDU tertlar HIV (BNN, 2004).
Manusia wajib untuk hidup bermoral, bukan hanya karena kehendak Tuhan, tetapi juga demi diri dan suara hati manusia itu sendiri. Nilai-nilai moral bersifat otonom, artinya nilai-nilai seperti keadilan, kejujuran dan keteguhan hati tetap berlaku tidak tampil dalam wujud fisik yang Nampak oleh mata. Ini berarti manusia tidak dapat bergaul dengan Tuhan kalau manusia tidak hidup sesuai dengan norma-norma moral. Oleh sebab itu, seseorang perlu menginternalisasikan nilai-nilai agama agar dapat menciptakan dan mengamalkan nilai-nilai moral yang otonom dan religiusitas yang berfungsi sebagai pengendali suara hati.
Pengguna Napza bukan hanya tidak sesuai dengan tatanan agama (Q.S. Al Baqarah, 2. 219, dan Q.S. Al Quran Al Maidah, 5, 91), tetapi juga merupakan pelanggaran hukum (Pasal 59, Undang-undang No.5, Tahun 1997, tentang Psikotropika; Pasal 84, 85, dan 86, Undang-undang No. 22, Tahun 1997 tentang Napza).
3. Untuk memuaskan intelektual yang ingin tahu
Terdapat sumber kepuasan dapat ditemukan dalam agama oleh intelek yang ingin tahu, yaitu:
Agama dapat menyajikan pengetahuan rahasia yang menyelamatkan manusia dari kejasmanian yang dianggap menghambat dan mengantarkan manusia kepada kebosanan. Dengan menyajikan suatu moral agama memuaskan intelek yang ingin
17
mengetahui apa yang harus dilakukan manisia dalam hidup agar mencapai tujuan kehidupan manusia. Agama dapat memuaskan keinginan manusia yang mendalam agar hidup manusia bermakna, sehingga manusia sekurang-kurangnya ikut menyetir hidup yang dijalani dan tidak hanya diombang ambingkan saja oleh gelombang kehidupan dan terbawa arus.
4. Untuk mengatasi ketakutan
Ketakutan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu ketakutan yang ada objeknya seperti takut pada seseorang, hewan atau benda tertentu dan ketakutan yang tidak ada objeknya seperti cemas hati. Ketakutan tanpa objek inilah yang membingungkan manusia, namun apabila ketakutan itu menyertai frustasi, maka secara langsung ketakutan tersebut mempengaruhi timbulnya kelakuan keagamaan. Jadi ketakutan erat hubungannya dengan tendensi-tendensi manusiawi yang dapat menimbulkan perilaku agama itu sehingga orang meyakini bahwa Tuhan akan selalu dekat dengan setiap hambanya dan dapat melenyapkan segala kecemasan hati.
Selain itu fungsi dari agama juga sebagai pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang ada didalam individu seperti yang di ungkapkan oleh Daradjat (1982) yaitu agama sebagai kebutuhan psikis yang perlu dipenuhi.
Berbagai macam kebutuhan psikis yang perlu di penuhi dan berhubungan dengan agama antara lain adalah :
a. Rasa kasih sayang
Merasa bahwa kita disayangi dan di cintai orang, akan membawa kepada rasa bahagia. Tandanya bahwa kita dicintai orang antara lain kita diperhatiakan
18
orang, dihargai, dan di tolong apabila kita mengalami kesusahan. Maka residen yang merasa dicintai oleh orang banyak itu, akan merasa cintai pula kepada orang pada umumnya, hidupnya tenang, karena ia tidak merasa dibenci dan dimusuhi. Tapi bagi residen yang merasa tidak dicintai orang, hidupnya akan penuh dengan kecurigaan, ia akan curiga kepada setiap tindakan orang, baik tindakan-tindakan orang itu terlihat merugikan atau menguntungkannya. Karena ia berkeyakinan bahwa orang tidak akan berbuat baik kepada orang yang dibencinya. Maka dalam kesepian atau kehilangan kecintaan orang lain, residen akan merasa gelisah, sedih, bahkan mungkin terganggu kesehatan jiwanya. Dalam keadaan seperti ini dia membutuhkan seseorang yang berkuasa, yang cinta kepadanya untuk mengimbangi kecintaan orang banyak yang telah hilang. Hal itulah yang mendorong residen mencari yang berkuasa dan penyayang diluar dirinya sendiri. Bagi residen yang telah mempunyai kepercayaan kepada Tuhan, persoalan itu akan mudah, karena dalam agama, Tuhan tetap Maha Kuasa dan Maha Pengasih. Itulah sebabnya, maka dalam Islam orang dianjurkan untuk membaca bismillah, setiap memulai pekerjaan, untuk mengingatkan kepada dirinya, bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Kepada Tuhanlah ia mengharapkan kasih sayang dan memohon perlindungan dari segala kejahatan.
b. Rasa aman
Rasa aman adalah kebutuhan jiwa yang paling penting dalam kehidupan manusia. Setiap orang ingin merasa bahwa tidak ada ancaman apapun terhadap dirinya. Disinilah peran agama sangat penting, ajaran agama memberikan jalan kepada manusia untuk mencapai rasa aman, rasa tidak takut/cemas menghadapi
19
hidup ini. Ajaran-ajaran agama menunjukkan cara-cara yang harus dilakukan dan menjelaskan pula hal-hal yang harus ditinggalkan, supaya residen dapat mencapai rasa aman selama hidup ini dan selanjutnya pula diajarkan bagaimana mempersiapkan diri dengan perbuatan-perbuatan baik dan menjauhi tindakan-tindakan yang menganggu kesenangan orang lain, supaya rasa aman nanti dialam kedua tetap terjamin. Percaya dengan adanya Tuhan dan bahwa kekuasaan Tuhan itu melebihi kekuasaan apapun di dunia ini, memberikan rasa aman kepada orang yang percaya, bahwa Tuhan akan melindunginya dari segala bahaya, karena Tuhan itu Maha Penyayang dan Pengasih. Inilah sebabnya maka residen yang percaya Tuhan terlihat lebih tenang, tentram dan tidak merasa takut karena ia merasa ada Tuhan yang akan melindunginya.
c. Rasa harga diri
Bagi residen yang percaya kepada Tuhan ia merasa bahwa dirinya dekat dengan Tuhan, karena itu dengan sendirinya ia tidak akan kehilangan harga diri, sebab ia berada dekat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi. Kurangnya penghargaan orang lain tidak akan banyak menyusahkan pikirannya yang penting baginya, supaya ia selalu dapat memelihara perhatian Tuhan, maka ia akan mencari kepuasan dengan berserah diri kepada Tuhan. Sedangkan bagi orang yang berkuasa dan berpengaruhpun masih tetap membutuhkan kepercayaan kepada Tuhan supaya ia dapat dengan tenang menghadapi orang-orang yang kurang menghargainya.
20
Orang yang sering memendam perasaan karena ketidakmampuan atau ketakutannya dalam mengemukakan pendapat merupakan orang yang tidak bebas.perasaan-perasaan semacam inilah yang membuat manusia yang tidak mempunyai dasar agama yang kuat untuk mencari pelampiasan pada hal diluar Tuhan, dalam hal ini melarikan diri pada Napza. Bagi orang yang mempunyai kepercayaan kepada Tuhan akan dapatlah ia mengadukan perasaannya itu kepada Tuhan, ia dapat berkata-kata langsung kepada Tuhan dalam sembahyang dan do’anya, dia merasa bebas berbicara dengan yang paling berkuasa yaitu Tuhan. Maka tekanan-tekanan perasaan yang mungkin dihadapinya dalam hidupnya sehari-hari itu tidak akan membawanya kepada kegelisahan yang mendalam dan menjatuhkannya kepada gangguan jiwa.
e. Rasa ingin mengenal
Kebutuhan akan mengenal itulah yang membawa kemajuan, yang mendorong orang untuk mempelajari sesuatu yang bertemu dalam hidupnya, itulah yang mendorong ahli-ahli, mahasiswa-mahasiswa, untuk membuat sebuah penelitian supaya terjawab semua yang diragukan.
Namun masih banyak hal-hal yang tidak bisa dijawab dengan penganalisaan ilmiah, misalnya mengapa orang tidak bisa memperpanjang umur orang, tidak bisa mencapai apa yang diinginkannya (misalnya bentuk anak, laki-laki atau perempuan, batas-batas kemampuan otak dan bakat).
Dalam hal ini, kepercayaan akan kebijaksanaan dan kekuasaan Tuhan dibutuhkan, supaya orang bisa merasa tenang dan tenteram. Ia tidak akan
21
menyebabkan kesehatan mentalnya terganggu, kalau banyak dari perhitungannya secara logika gagal. Dan ia tidak pula menimbulkan kesalahan pada orang lain. f. Rasa sukses
Setiap kegagalan membawa kepada rasa tidak enak, baik kegagalan itu mengenai hal yang kecil dan remeh terlihatnya. Misalnya kegagalan dalam bidang sehari-hari, baik dalam keluarga, dalam dinas maupun dalam masyarakat. Kegagalan yang berulang-ulang itu akan membawa orang kepada rasa pesimis dan putus asa, perasan putus asa itu akan membawa kepada hilangnya ketenangan jiwa dan hilangnya pula rasa bahagia.
Bagi orang yang percaya kepada Tuhan, akan lebih mudah baginya menghadapi kegagalan dari pada orang yang tidak berTuhan. Karena tugas orang yang berTuhan lebih ringan, ia tidak usah gelisah dan mengamuk ke sana-ke mari atas kegagalan yang dialaminya, cukuplah ia kembali kepada kekuasaan Tuhan. Mungkin ada hikmahnya dari Tuhan, makanya ia tidak berhasil pada waktu tertentu.
Robert Nutin (dalam Mardiyatu, 2002) mengatakan bahwa manusia merupakan makhluk religius, melakukan dan bertingkah laku sesuai dengan agamanya. Individu yang beragama berarti memenuhi kebutuhannya, sehingga menjadi puas, tenteram dan aman, individu yang demikian adalah individu yang sehat. Individu yang sehat lebih mudah untuk melakukan penyesuaian diri secara konstruktif pada kenyataan, meskipun kenyataan itu buruk dan menimbulkan ketegangan dan kecemasan pada dirinya serta menerima kekecewaan untuk dipakai sebagai pelajaran dikemudian hari.