• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI FUNGSI TARI INAI

6.2 Fungsi Tari Inai

6.2.4 Fungsi Tari Inai Berdasarkan Teori Narawati dan Soedarsono

Dua pakar tari lndonesia yaitu Narawati dan R.M. Soedarsono membedakan fungsi tari menjadi dua, yaitu (1) kategori fungsi tari yang besifat primer, yang dibedakan menjadi tiga, yaitu: (a) fungsi tari sebagai sarana ritual, (b) fungsi tari sebagai ungkapan pribadi, dan (c) fungsi tari sebagai presentasi estetik, dan (2) kategori fungsi tari yang bersifat sekunder, yaitu lebih mengarah pada aspek komersial atau sebagai lapangan mata pencaharian (Narawati dan Soedarsoso, 2005: 15-16).

Berdasarkan kepada teori fungsi tari dari Narawati dan Soedarsono ini, maka fungsi tari inai dalam kebudayaan Melayu di Batang Kuis, mencakup baik itu fungsi primer dan juga fungsi sekunder. Di dalam kegiatan tari ini terdapat fungsi ritual, ungkapan pribadi, estetik, dan mata pencaharian.

Pada aktivitas tari inai, maka fungsi tari ini jelas sebagai sarana ritual, yang menjadi baagian penting dan diutamakan dalam setiap upacara memeriahkan perkawinan dalam kebudayaan Melayu. Tarian ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari serangkaian upacara adat perkawinan Melayu. Di sisi lain, dalam menarikan tarian ini setiap individu penari diperkenankan membuat gerakan-gerakan yang merupakan kreativitas pribadinya sekaligus sebagai ungkapan dirinya dalam seni. Pada bahagian lain di dalam tarian ini juga terkandung fungsi presentasi estetik, artinya melalui tarian ini, setiap penari mengekspresikan keindahan gerakan-gerakan tari yang dipandang estetik menurut tata estetik Melayu.

pendukungnya, walaupun bukan fungsi utama di dalam setiap kegiatan tari inai terdapat fungsi ekonomis, setiap penari atau pemusiknya mengharapkan imbalan ekonomis, biasanya berupa uang.

Menurut pengamatan yang penulis lakukan selama ini, seorang penari dalam rangka menari tari inai tetap mengharapkan rezeki dari jasa ia menari di dalam sebuah pesta perkawinan. Oleh karena itu, fungsi tari inai dalam kebudayaan masyarakat Melayu memang kompleks juga. Ini dapat dikaji secara mendalam melalui kaitan tari ini dengan berbagai konteks sosial dan budaya, seperti, religi, ekonomi, estetik, hiburan, sistem sosial, dan lain-lain.

BAB VII PENUTUP

7.1 Kesimpulan

Berdasarkan pada penjelasan dari bab-bab di atas, penulis menyimpulkan pembahasan dari hasil penelitian yang penulis lakukan. Kesimpulan ini adalah jawaban dari tiga pokok permasalah yang telah ditetapkan pada Bab I. Adapun pokok masalah tersebut adalah: (a) deskripsi gerak tari inai, (b) struktur musik iringan, dan (c) fungsi tari inai.

(a) Gerakan tari inai berupa gerakan silat dan menggunakan istilah-istilah gerak tertentu yang perubahan dan terdapat gerakan-gerakan variatif sesuai ide si penari. Jumlah penari pada tari inai harus genap atau berpasangan misalnya 2 penari, 4 penari, maupun 6 penari yang menggunakan properti rumah inai. Atraksi Putar Piring (dalam posisi berguling) merupakan atraksi ini penari melakukan atraksi putar piring dalam posisi berguling. Penari melakukan proses duduk, atraksi ini juga adalah atraksi yang sangat unik dan selalu digemari oleh penonton karena atraksi ini juga mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi. Penari juga harus memperhatikan bagian tubuhnya, jika tidak memperhatikan kemungkinan akan mengakibatkan terbakarnya baju dari penari tersebut.

(b) Struktur musik iringan tari inai ini adalah sebagai berikut. Tari inai diiringi oleh satu ensambel musik yang terdiri dari: satu biola, satu akordion, dan satu buah gendang ronggeng Melayu. Biola dan akordion membawakan melodis yang terjalin secara heterofonis. Sementara gendang ronggeng adalah membawakan irama atau rentak di dalam budaya musik Melayu. Melodi dan rentak musik iringan untuk tari inai disebut dengan patam-patam. Iringan musik

dalam tari Inai sangatlah penting, karena pada dasarnya tari ini mengikuti musik. Dimana sebagai pembentuk suasana dan juga untuk memperjelas tekanan-tekanan gerak, sehingga tari dapat dinikmati secara keseluruhan dengan baik.

(c) Kemudian fungsi tari inai dapat disimpulkan sebagai berikut. Tari inaiadalah salah satu jenis tarian masyarakat Melayu yang sudah lama dikenal dan disajikan pada saat kegiatan upacara malam berinai sebagai kegiatan khas masyarakat Melayu. Fungsi utamanya adalah sebagai eksp[resi ritual dalam sistem kosmologi Melayu, yaitu menjaga calon pengantin dari gangguan-gangguan manusia atau makhluk gaib. Namun dalam aktivitasnya disertai fungsi-fungsi lain seperti estetika, ekonomi, hiburan, dan lain-lain.

Kini penyajian tari inai sudah jarang ditemui karena faktor waktu dan dana,biasanya yang melakukan upacara malam berinai sekaligus tari inai adalah masyarakat yang ekonominya relatif baik. Kedudukan tari inai ini dalam setiap upacara mengalami pergeseran dari zaman dulu, yang dimana saat dulu tari ini penting digunakan dalam upacara perkawinan masyarakat Melayu khususnya malam berinai, namun dalam penerapan di masa sekarang adalah sebagai salah satu pelengkap upacara perkawinan. Jika tari ini tidak ditampilkan, upacara akan tetap terlaksana. Namun terasa kurang lengkap jika kesenian tradisional ini tidak ditampilkan. Berfungsi sebagai tanda berkumpulnya keluarga dan kerabat calon pengantin perempuan dan memakai kan inai pada jari tangan atau jari kaki si calon pengantin.

Dalam konteks kegiatan tari Inai, ada hubungan antara tari, musik iringan, dan fungsi tari di dalam masyarakat Melayu di Batang Kuis. Hubungan itu berupa hubungan pertunjukan, yang memiliki bentuk dan siklusnya tersendiri dalam dimensi waktu dan ruang.

7.2 Saran

Tari Inai sebagai salah satu kesenian tradisional masyarakat Melayu yang kinisudah jarang dijumpai dan kesenian ini semakin berkembang dengan adanya kreatifitas-kreatifitas sanggar yang berkembang di Batang Kuis, yang tentu saja akan mendapat pengaruh dari kesenian yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, sebagai upaya pelestariannya diperlukan wadah seperti sanggar-sanggar Melayu dan memiliki kesadaran untuk menjaga kesenian tradisional ini.

Generasi muda diharapkan untuk berperan aktif dalam menjaga kelangsungan kesenian daerahnya. Ini dapat dilakukan dengan melakukan sosialisasi melalui pertunjukan kesenian tradisi yang sering diadakan untuk membiasakan mereka mengenalnya. Rasa kesadaran dan cinta akan kesenian tradisional merupakan kunci permasalahannya. Penulis juga menyadari bahwa penelitian yang baru merupakan tahap awal ini masih banyak memiliki kekurangan dan perlu mendapatkan penyempurnaan. Penelitian ini hanyalah sebahagian kecil permasalahan yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu penulis menyarankan dan mengharapkan kepada siapa saja yang berminat untuk melanjutkan penelitian ini untuk lebih mendalam lagi, sehingga dapat bermanfaat bagi pengembangan Etnomusikologi dan sebagai dokumentasi data mengenai kebudayaan musical yang berkaitan dengan Melayu.

Akhir kata penulis mengharapkan semoga tulisan ini dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap apresiasi budaya dan pengetahuan terhadap ilmu pengetahuan secara umum dan bidang Etnomusikologi secara khusus.

Dokumen terkait