• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK

ILMIAH Aplikasi Probiotik untuk Meningkatkan Respon Imun Juvenil Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) terhadap Infeksi Penyakit Vibriosis. Dibimbing Oleh SUKENDA, WIDANARNI dan ENANG HARRIS

Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemberian bakteri probiotik dalam meningkatkan respons imun, kelangsungan hidup dan pertumbuhan juvenil ikan kerapu macan, terhadap infeksi penyakit vibriosis. Probiotik yang diberikan adalah isolat K7, K8, T36 dan T41. Pemberian probiotik dilakukan melalui pakan selama 28 hari, dan pada hari ke 29 diuji tantang dengan bakteri

Vibrio patogen V6 RfR dengan menyuntikkan secara intramuskular dengan

konsentrasi 106 CFU/mL. Pengamatan dilakukan terhadap respon imun, kelangsungan hidup, populasi bakteri di hati, dan pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan probiotik dapat meningkatkan total eritrosit, kadar hemoglobin, kadar hematokrit, total leukosit, differensial leukosit dan aktivitas fagosit juvenil ikan kerapu. Tingkat kelangsungan hidup setelah diuji tantang pada perlakuan probiotik sebesar 86,67-96,67% dan pada kontrol positif 56,67%. Pertumbuhan bobot sebesar 1,23-1,77% pada perlakuan dan 0,88% pada kontrol, sedangkan pertumbuhan panjang sebesar 0,70-0,98% pada perlakuan dan 0,55% pada kontrol. Populasi bakteri Vibrio patogen V6 RfR pada perlakuan dengan penambahan bakteri probiotik lebih rendah dibandingkan kontrol. Penambahan bakteri probiotik T36 memberikan hasil terbaik dibandingkan dengan isolat lainnya.

ABSTRACT

ILMIAH. Application of Probiotics to Enhance The Immune Response of Tiger Grouper (Epinephelus fuscoguttatus) Juvenile Against Infectious Disease Vibriosis. Under Supervision of SUKENDA, WIDANARNI and ENANG HARRIS. This study was performed to evaluate the efficacy of probiotic bacteria in enhancing immune response of tiger grouper on vibriosis disease infection. The probiotics feed were isolates K7, K8, T36 and T41. Administration of probiotics was performed for 28 days, and on day-29 challenge test was performed using bacteria Vibrio pathogen V6 by injection intramuscularly with a concentration of 106 CFU/mL with isolates K7, K8, T36 and T41 administration on tiger grouper juvenile. The probiotics were fed for 28 days, and at day 29 the challenge test was conducted by injection intramuscularly of a bacterial pathogen Vibrio V6 RfR with a concentration of 106 CFU/mL. Observations were carried out on the immune response, survival, number of bacteria in liver, and growth in length and weight of the fish. The results showed that the addition of probiotics may enhance immune response including total eritrocyte, haemoglobin, haematocrite levels, total leukocyte, differential leukocyte and phagocytic activity of grouper juvenile. The survival rates of the fish after challenge test in the probiotic treatments and control were from 86.67 to 96.67%, and 56.67%, respectively. Growth levels of body weight in the probiotic treatments and control were from 1.23 to 1.77%, and 0.88%, respectively, whereas the body lengths were from 0.70 to 0.98% in the probiotic treatments, and 0.55% in control. Populations of pathogenic bacteria Vibrio V6 RFRin the treatments with the addition of probiotic bacteria was to be lower than the control. The addition of probiotic bacteria T36 provided the best results compared to other isolates.

Key words: probiotics, tiger grouper, juvenile, immune response

PENDAHULUAN

Upaya pencegahan dan pengendalian penyakit secara terpadu dengan menggunakan probiotik bersama aplikasi vaksin merupakan strategi yang efektif dalam akuakultur. Vaksinasi dan immunostimulan mempunyai fungsi tersendiri dalam menyehatkan ikan dan memproteksi terhadap serangan penyakit sehingga mampu memproteksi diri terhadap serangan penyakit. Probiotik memproteksi ikan budidaya melalui mekanisme menghasilkan senyawa kimia yang mempunyai aktivitas bakterisidal atau bakteriostatik terhadap populasi bakteri lain, khususnya bakteri yang bersifat merugikan termasuk patogen (Gomez et al. 2007).

Keberadaan probiotik ini didalam usus inang baik pada permukaan usus maupun didalam lumen berperan sebagai pelindung (barier) terhadap proliferasi (pertumbuhan) patogen diantaranya melalui mekanisme produksi senyawa yang mampu menghambat pertumbuhan patogen. Salah satu alternatif yang dapat

dilakukan untuk mengatasi serangan penyakit vibriosis adalah melalui aplikasi probiotik, probiotik tidak terakumulasi dalam tubuh ikan dan tidak menyebabkan resistensi organisme patogen seperti antibiotik (Guo et al. 2009). Selain itu, probiotik dapat memproduksi senyawa-senyawa antimikroba, merangsang pertumbuhan dan memperbaiki nutrien pada inang serta dapat menstimulasi sistem imun inang (Farzanfar 2006).

Kim & Austin (2006) juga membuktikan bahwa strain Carnobacterium telah terbukti mampu meningkatkan respons imun alami pada rainbow trout yang diuji tantang dengan Aeromonas salmonicida dan Yersinia ruckeri. Nayak (2010) menyatakan bahwa efektivitas probiotik dalam hal proteksi terhadap patogen infeksius berkaitan dengan peningkatan kekebalan tubuh.

Sun et al. (2010) melakukan penelitian mengenai pengaruh pemberian probiotik B. pumilus dan B. clausii terhadap kinerja pertumbuhan dan respons imun ikan kerapu E. coioides. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa B.

pumilus dan B. clausii memiliki potensi untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan

dan mampu menginduksi regulasi respons imun selular dan humoral pada ikan kerapu E. coides. Son et al. (2009) menguji pakan dengan penambahan probiotik

Lactobacillus plantarum terhadap respons imun ikan kerapu E. coioides yang

diinfeksi bakteri Streptococcus sp. dan iridovirus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon imun ikan yang ditambahkan L. plantarum lebih baik dibanding kontrol. Chiu et al. (2010) menggunakan probiotik Saccharomyces cerevisiae (P13) dalam pakan untuk ikan kerapu, kemudian diinfeksi dengan Streptococcus sp. dan iridovirus, ternyata ikan kerapu memiliki respons imun yang lebih baik dibanding kontrol.

Probiotik yang digunakan pada penelitian ini adalah isolat K7 K8, T36 dan T41 yang merupakan hasil seleksi yang dilakukan pada penelitian sebelumnya. Isolat-isolat tersebut telah teruji mampu menghambat pertumbuhan Vibrio patogen secara in vitro dan in vivo serta dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan kerapu terhadap infeksi penyakit vibriosis. Sedangkan Vibrio patogen yang digunakan adalah Vibrio V6 yang telah diidentifikasi sebagai V parahaemolyticus dan telah diberi penanda resisten rifampisin (V6 RfR)

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemberian bakteri probiotik dalam meningkatkan respons imun juvenil ikan kerapu terhadap infeksi penyakit vibriosis.

METODOLOGI PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2011 bertempat di Laboratorium Kesehatan dan Lingkungan, Balai Budidaya Air Payau Situbondo.

Persiapan Wadah

Wadah yang digunakan dalam penelitian ini berupa bak plastik yang dilapisi dengan plastik biru berjumlah 18 buah dan diisi air laut sebanyak 50 liter. Sebelum digunakan semua peralatan dan air disterilkan terlebih dahulu. Air laut disaring menggunakan filter bag dan didesinfeksi menggunakan kaporit 150 mg/L selama satu malam, kemudian ditambahkan Natrium Thiosulfat 75 mg/L serta diaerasi kuat untuk menghilangkan residu dari kaporit.

Ikan Uji

Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah juvenil ikan kerapu macan (E. fuscoguttattus) yang diperoleh dari pembenihan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Ikan dengan bobot rata 15,00±0,08 g dan panjang rata-rata 10,00±0,29 cm dipelihara dalam wadah plastik yang diisi air laut sebanyak 50 L. Kepadatan ikan yang ditebar adalah 10 ekor/wadah. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 43 hari dengan frekuensi pemberian pakan tiga kali sehari. Sebelum diberi pakan perlakuan, ikan uji dipuasakan selama 24 jam untuk menghilangkan sisa pakan dalam tubuh, serta mengurangi stres dengan meminimalkan metabolisme tubuh.

Pakan Uji

Persiapan pakan uji meliputi tahap kultur bakteri probiotik serta pencampuran pakan. Kandidat probiotik terlebih dahulu dikultur pada media SWC cair yang diinkubasi dalam waterbath shaker pada suhu 29 oC dengan kecepatan 180 rpm dan pemanenan bakteri dilakukan sampai mencapai fase eksponensial (16-18 jam). Populasi bakteri diukur menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 620 nm. Setelah itu, suspensi bakteri dipindahkan ke dalam tabung ulir 50 ml kemudian disentrifus selama 10 menit dengan kecepatan 4.000 rpm untuk memisahkan padatan sel bakteri dengan supernatan. Pellet sel bakteri yang diperoleh kemudian dicuci dengan larutan PBS (Phosphate Buffer Saline) sebanyak 2 kali. Pellet sel bakteri

probiotik ini kemudian dicampurkan ke dalam pakan. Dosis probiotik yang digunakan sebesar 1% dari jumlah pakan yang diberikan (Wang 2007). Pencampuran dilakukan dengan menambahkan kuning telur yang berfungsi sebagai perekat sebanyak 2% dengan menyemprotkan secara merata menggunakan spuit dan dikeringudarakan.

Pakan yang digunakan dalam penelitian ini berupa pelet komersil dengan kandungan protein sebesar 48%. Pakan tersebut ditambah dengan bakteri probiotik sebagai perlakuan. Pakan uji yang diberikan pada penelitian ini terdiri dari 6 perlakuan yaitu:

K7 : Pakan komersial yang ditambah isolat K7 K8 : Pakan komersial yang ditambah isolat K8 T36: Pakan komersial yang ditambah isolat T36 T41: Pakan komersial yang ditambah isolat T41

K+ : Pakan komersial tanpa penambahan probiotik dan diinfeksi Vibrio V6 RfR K- : Pakan komersil tanpa penambahan probiotik dan tidak diinfeksi Vibrio V6 RfR

Uji tantang

Isolat Vibrio patogen V6 RfRdikultur pada media SWC cair dan diinkubasi dalam waterbath shaker pada suhu 29°C dengan kecepatan 180 rpm selama 10 jam. Hasil kultur bakteri yang diperoleh dipanen dan diukur nilai kerapatan atau

optical density (OD) dengan menggunakan spektrofotometer untuk mengetahui

populasi bakteri. Uji tantang dilakukan pada hari ke 29 dengan cara bakteri Vibrio patogen diinjeksikan dengan konsentrasi 106CFU/mL secara intramuskular sebanyak 0,1 mL/ekor. Setelah uji tantang, ikan dipelihara kembali dan dilakukan pengamatan selama 14 hari.

Pengukuran Parameter Pengamatan

Parameter pengamatan yang diukur dalam penelitian ini meliputi gambaran darah, populasi bakteri, tingkat kelangsungan hidup, dan laju pertumbuhan harian ikan.

1. Gambaran Darah

Pengambilan sampel darah dilakukan pada hari ke-0, 14, 28 perlakuan probiotik dan hari ke-1, 7 dan 14 setelah uji tantang . Pengamatan gambaran darah yang dilakukan meliputi total eritrosit, total leukosit, kadar hemoglobin,

kadar hematokrit, diferensial leukosit (limfosit, monosit dan neutrofil), dan aktivitas fagositosis.

a. Total eritrosit

Total eritrosit diukur mengikuti metode Blaxhall dan Daisley (1973). Sampel darah dihisap dengan pipet sampai pada skala 0,5 dan dilanjutkan dengan mengisap larutan Hayem’s sampai skala 101, kemudian dihomogenkan dengan cara menggerakkan tangan membentuk angka delapan selama 3-5 menit. Tetesan pertama dibuang dan tetesan berikutnya diletakkan pada hemasitometer dan ditutup dengan kaca penutup. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan mikroskop pada kotak besar hemositometer, ∑ Eritrosit = ∑ sel terhitung x 104sel/ mm3.

b. Kadar hemoglobin

Kadar hemoglobin diukur mengikuti metode Wedemeyer dan Yasutake (1977). Darah dihisap dengan pipet sahli sebanyak 0,2 mL kemudian dimasukkan ke dalam tabung sahlinometer yang telah diisi dengan larutan HCl 0,1 N sampai skala 10 (skala paling bawah pada tabung). Kemudian didiamkan selama 3-5 menit. Selanjutnya ditambahkan akuades sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai warnanya tepat sama dengan warna standar yang ada dalam Hb meter. Kemudian skala dibaca yaitu dengan melihat permukaan cairan dan dicocokkan dengan skala tabung Sahli yang dilihat pada skala jalur g% (kuning) yang berarti banyaknya hemoglobin dalam gram per 100 ml darah.

c. Kadar hematokrit

Kadar hematokrit diukur menurut metode Anderson dan Siwicki (1993). Kadar hematokrit diukur dengan cara sebagai berikut: sampel darah dimasukkan ke dalam tabung hematokrit sampai kira-kira 3/4 bagian tabung, ujung pipet yang berwarna merah disumbat dengan menggunakan kristoseal, selanjutnya disentrifus dengan kecepatan 5000 rpm selama 5 menit. Setelah itu dilakukan pengukuran darah yang mengendap (a) dan panjang total volume darah yang terdapat dalam tabung (b).Nilai kadar hematokrit dihitung dengan cara = (a/b) x 100%.

d. Total leukosit

Total leukosit dihitung mengikuti metode Blaxhall dan Daisley (1973). Sampel darah dihisap dengan pipet sampai skala 0,5 dan dilanjutkan dengan

mengisap larutan Turk’s sampai pada skala 11. Kemudian dihomogenkan dengan cara menggerakkan tangan membentuk angka delapan selama 3-5 menit. Tetesan pertama dibuang dan tetesan berikutnya diletakkan pada hemasitometer, ditutup dengan kaca penutup. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan mikroskop pada 5 kotak besar hemasitometer, ∑ Leukosit = ∑ sel terhitung x 50 sel/mm3.

e. Diferensial leukosit

Diferensial leukosit dihitung sesuai metode Blaxhall dan Daisley (1973). Sampel darah diteteskan pada gelas obyek pertama dan dibuat preparat ulas dengan cara menyentuhkan gelas obyek kedua pada tetesan darah dengan membentuk sudut 45o. Gelas obyek kedua digeser kearah belakang menyentuh tetesan darah hingga menyebar. Kemudian gelas objek kedua digeser ke arah berlawanan hingga terbentuk lapisan tipis darah, dibiarkan hingga kering. Selanjutnya difiksasi dengan metanol selama 5 menit dan dikeringudarakan, kemudian diwarnai dengan pewarna Giemsa selama 15 menit. Preparat dicuci dengan air mengalir dan dikeringkan, Ulasan diperiksa di bawah mikroskop dengan perbesaran 100 kali.

Persentase jenis sel leukosit = Jumlah tiap jenis sel leukosit x 100% Jumlah sel leukosit

f. Aktivitas Fagositosis

Perhitungan terhadap aktivitas fagositosis mengacu pada metode Anderson dan Siwicki (1993). Sampel darah sebanyak 100 µL dimasukkan ke dalam mikroplate dan ditambahkan suspensi Staphylococcus aureus (107sel/mL) sebanyak 100 µL. Campuran tersebut dihomogenkan dan diinkubasi selama 20 menit. Sebanyak 5 µL diteteskan pada obyek gelas dan dibuat preparat ulas, selanjutnya difiksasi dengan metanol selama 5 menit dan dikeringudarakan. Kemudian preparat diwarnai dengan pewarna Giemsa selama 15 menit, dicuci dengan air mengalir dan dikeringkan. Pengamatan aktivitas fagositosis dilakukan di bawah mikroskop dan dihitung persentase dari total 100 sel darah putih yang menunjukkan aktivitas fagositosis.

Aktivitas fagositosis= x 100%

2. Tingkat kelangsungan Hidup

Tingkat kelangsungan hidup ikan dihitung pada akhir pemberian probiotik dan akhir penelitian pascainfeksi Vibrio menggunakan rumus Effendie (1997):

SR = x 100% Keterangan:

SR = Tingkat kelangsungan hidup (%)

Nt = Jumlah juvenil ikan yang hidup pada akhir pengamatan (ekor) No = Jumlah juvenil ikan pada awal pengamatan (ekor)

3. Laju Pertumbuhan Harian

Pertumbuhan panjang dan bobot ikan diamati pada awal dan akhir pemberian probiotik, berdasarkan rumus Huisman (1987):

dan

Keterangan:

α = Laju pertumbuhan harian ikan (%) t = Lama waktu pemeliharaan ikan (hari) Lt = Panjang rat-rata akhir ikan (mm) Lo = Panjang rata-rata awal ikan (mm) Wt = Bobot rata-rata akhir ikan (mg) Wo = Bobot rata-rata awal ikan (mg)

4. Populasi Bakteri

Pengukuran populasi bakteri pada hati juvenil ikan kerapu dilakukan setiap 6 jam selama 48 jam setelah diuji tantang dengan metode hitungan cawan.

5. Kualitas Air

Pengukuran kualitas air dilakukan pada awal, tengah dan akhir pemeliharaan. Parameter kualitas air yang diamati meliputi salinitas, pH, suhu,

dissolve oxygen (DO), TAN dan amoniak.

6. Analisis Data

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga ulangan. Data respons imun, pertumbuhan, populasi bakteri dan kelangsungan hidup dianalisis menggunakan analisis ragam dengan tingkat kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Duncan menggunakan perangkat software SPSS 16,0 untuk melihat perbedaan antar perlakuan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL

Total Eritrosit

Hasil pengukuran total eritrosit pada masing-masing perlakuan berdasarkan Gambar 12, terlihat bahwa total eritrosit juvenil ikan kerapu terus mengalami peningkatan sampai hari ke-28. Berdasarkan hasil pengukuran total eritrosit pada akhir perlakuan probiotik (hari ke-28) diketahui bahwa ikan uji yang diberi perlakuan penambahan probiotik K7, K8, T36, dan T41 memiliki total eritrosit yang lebih tinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (p<0,05) yaitu berkisar antara 34,53-35,37 (105sel/mm3) (Lampiran 8).

Gambar 12 Total eritrosit juvenil ikan kerapu macan.

Pada hari pertama pascauji tantang dengan Vibrio V6 RfR, total eritrosit ikan kerapu pada semua pelakuan mengalami penurunan kecuali pada kontrol (-). Penurunan total eritrosit tersebut diduga akibat dari infeksi bakteri Vibrio V6 RfR. Total eritrosit ikan kerapu pada semua perlakuan kecuali kontrol (+) kemudian mengalami peningkatan pada hari ke-7 pascauji tantang dengan

Vibrio V6 sampai akhir pengamatan pada hari ke-14 pascauji tantang (Lampiran

8).

Kadar Hemoglobin

Hasil pengukuran kadar hemoglobin dengan penambahan probiotik pada pakan disajikan pada Gambar 13. Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan diketahui bahwa kadar hemoglobin ikan kerapu pada semua perlakuan mengalami peningkatan sampai hari ke-28 pada perlakuan probiotik, dan hari

20 24 28 32 36 40 0 14 28 1 7 14 To ta l Er itr os it (x 1 0 5sel/m l) Hari ke-K7 K8 T36 T41 K+ K-Uji tantang

pertama pascauji tantang dengan Vibrio V6 RfR, namun tidak berbeda dengan kontrol. Kemudian mengalami penurunan pada semua perlakuan kecuali pada kontrol negatif pada hari ke-7 pascauji tantang, dan kembali naik pada hari ke-14. Penambahan probiotik T36 memberikan nilai tertinggi disusul penambahan probotik K8, T41 dan K7. Kadar hemoglobin terendah diperoleh pada kontrol positif (p<0,05) (Lampiran 9).

Gambar 13 Kadar hemoglobin juvenil ikan kerapu macan.

Kadar Hematokrit

Hasil pengukuran kadar hematokrit ikan kerapu pada masing-masing perlakuan disajikan pada Gambar 14. Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan, diketahui bahwa sampai akhir perlakuan probiotik (hari ke-28),

Gambar 14 Kadar hematokrit juvenil ikan kerapu macan.

4 5 6 7 8 9 0 14 28 1 7 14 H em og lo bi n (g % ) Hari ke-K7 K8 T36 T41 K+ K-20 25 30 35 40 0 14 28 1 7 14 H em ato kr it (% ) Hari ke-K7 K8 T36 T41 K+ K-Uji tantang Uji tantang

kadar hematokrit ikan kerapu pada semua perlakuan mengalami peningkatan sampai hari ke-28 dan berbeda dengan kontrol (p<0,05). Perlakuan penambahan probiotik T36 mempunyai nilai hematokrit tertinggi (36,03%) sedangkan terendah pada kontrol (30,16-30,26%). Pada hari ke-1 pascauji tantang dengan Vibrio V6 RfR tetap mengalami peningkatan dengan nilai hematokrit tertinggi pada perlakuan dengan penambahan probiotik T36 sebesar 38,06% sedangkan pada kontrol positif hanya 24,20%, kemudian mengalami penurunan sampai akhir pengamatan. Kadar hematokrit perlakuan berbeda dengan kontrol positif dan kontrol negatif (p<0,05) (Lampiran 10).

Total Leukosit

Hasil pengukuran total leukosit ikan kerapu pada masing-masing perlakuan disajikan pada Gambar 15. Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan diketahui bahwa sampai akhir perlakuan probiotik (hari ke-28), total leukosit ikan kerapu pada semua perlakuan mengalami peningkatan namun tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (p>0,05).

Gambar 15 Total leukosit juvenil ikan kerapu macan.

Pada hari ke-1 pascauji tantang dengan Vibrio V6 RfR, total leukosit mengalami puncak kenaikan tertinggi. Total leukosit tertinggi terdapat pada perlakuan T36 (6,63x104sel/mm3), kemudian berturut-turut dari tinggi ke rendah adalah perlakuan K8 (6,3x104sel/mm3), T41 (6,27x104sel/mm3), K7 (6,10x 104sel/mm3), K(+) (6,03x104sel/mm3), dan K(-) (5,1x104sel/mm3). Peningkatan total leukosit ini diduga karena adanya infeksi bakteri patogen. Pada pengamatan

3 4 5 6 7 0 14 28 1 7 14 To ta l L eu ko si t (x 1 0 4sel/m l) Hari ke-K7 K8 T36 T41 K+ K-Uji tantang

hari ke-7 sampai hari ke-14 pascauji tantang, total leukosit ikan kerapu mengalami penurunan (Lampiran 11).

Differensial Leukosit Limfosit

Hasil pengukuran limfosit ikan kerapu pada masing-masing perlakuan disajikan pada Gambar 16.

Gambar 16 Persentase limfosit juvenil ikan kerapu macan.

Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan diketahui bahwa persentase limfosit pada semua perlakuan mengalami peningkatan pada hari ke-14 hingga hari ke-28. Peningkatan persentase jumlah limfosit tertinggi selama penelitian terdapat pada pengamatan hari ke-28. Persentase limfosit tertinggi diperoleh pada penambahan probiotik T36 yaitu sebesar 75,33%. Persentase limfosit juvenil ikan kerapu pada semua perlakuan kecuali kontrol (-) mengalami penurunan pada hari ke-1 pascauji tantang dengan Vibrio V6 RfR.

Monosit

Persentase jumlah monosit juvenil ikan kerapu yang diamati selama penelitian cukup berfluktuasi. Hasil pengukuran monosit pada masing-masing perlakuan disajikan pada Gambar 17, terlihat bahwa peningkatan persentase monosit terjadi secara signifikan pada hari ke-7 pascauji tantang dengan Vibrio V6 RfR dengan nilai tertinggi terdapat pada perlakuan T36 yaitu sebesar 6,7%, kemudian mengalami penurunan pada hari ke-14 pascauji tantang tetapi masih berada pada kisaran yang normal.

50 55 60 65 70 75 80 0 14 28 1 7 14 Lim fo sit ( % ) Hari ke K7 K8 T36 T41 K+ K-Uji tantang

Gambar 17 Persentase monosit juvenil ikan kerapu macan. Neutrofil

Hasil pengukuran neutrofil juvenil ikan kerapu pada masing-masing perlakuan disajikan pada Gambar 18. Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan, persentase neutrofil tertinggi pada semua perlakuan kecuali kontrol (-) selama penelitian terdapat pada pengamatan hari ke1 pascauji tantang dengan

Vibrio V6 RfR.

Gambar 18 Persentase nuetrofil juvenil ikan kerapu macan.

Aktivitas Fagositosis

Hasil pengukuran terhadap aktivitas fagositosis juvenil ikan kerapu macan selama penelitian disajikan pada Gambar 19. Terlihat bahwa nilai aktivitas fagositosis juvenil ikan kerapu mengalami peningkatan hingga pengamatan pada hari ke-1 pascauji tantang dengan Vibrio V6 RfR. Persentase aktivitas fagositosis ikan uji yang diberi perlakuan penambahan probiotik K7, K8, T36, dan T41 lebih tinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (p<0,05) dengan nilai berkisar antara 27,33-31,33% (Lampiran 12).

2 3 4 5 6 7 8 0 14 28 1 7 14 M on os it (% ) Hari ke K7 K8 T36 T41 K+ 3 4 5 6 7 8 9 0 14 28 1 7 14 N et ro fil ( % ) Hari ke K7 K8 T36 T41 K+ K-Uji tantang Uji tantang

Gambar 19 Persentase aktivitas fagositosis juvenil ikan kerapu macan.

Populasi Bakteri

Jumlah populasi bakteri Vibrio pada hati juvenil ikan kerapu disajikan pada Gambar 20. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, jumlah populasi bakteri Vibrio pada hati juvenil ikan kerapu mengalami peningkatan sampai jam ke-12 pascauji tantang dengan Vibrio V6 RfR. Jumlah populasi bakteri Vibrio pada perlakuan dengan penambahan probiotik T36 dan K7 mengalami penurunan pada jam ke-18 pascainfeksi, sedangkan pada perlakuan penambahan probiotik T41 masih terjadi peningkatan populasi bakteri. Pada jam ke-24 terjadi penurunan populasi bakteri pada semua perlakuan, hal ini menunjukkan bahwa setelah jam ke-18 pascainfeksi, aplikasi bakteri probiotik dapat menekan populasi Vibrio V6 RfR pada hati juvenil ikan kerapu macan, bahkan pada jam ke-48 bakteri Vibrio V6 RfRsudah tidak terdeteksi pada semua perlakuan kecuali kontrol (+).

Gambar 20 Populasi bakteri Vibrio V6 RfRpada hati juvenil ikan kerapu macan.

0 5 10 15 20 25 30 35 0 14 28 1 7 14 A kti vi ta s Fa go si tik (% ) Hari ke-K7 K8 T36 T41 K+ K-0 1 2 3 4 5 6 7 1 6 12 18 24 30 36 42 48 Po pu la si V ib rio R f R(log C FU /m L)

Pengamatan (jam) pasca uji tantang

K7 K8 T36 T41 K+ Uji tantang

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan penambahan isolat bakteri probiotik lebih efektif meningkatkan kemampuan ikan menghadapi serangan bakteri Vibrio V6 RfRdari pada kontrol (+).

Kelangsungan Hidup

Parameter utama pada penelitian ini adalah kelangsungan hidup juvenill ikan kerapu dari masing-masing perlakuan. Penghitungan nilai kelangsungan hidup juvenil ikan kerapu dibagi menjadi dua tahap. Nilai kelangsungan hidup yang diperoleh disajikan pada Gambar 21. Berdasarkan Gambar 21A pada akhir perlakuan probiotik sebelum dilakukan uji tantang dengan Vibrio V6 RfR menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (p>0,05) dengan nilai kelangsungan hidup berkisar antara 96,70-100,00% (Lampiran 13). Hal tersebut menunjukkan bahwa isolat bakteri tersebut aman diberikan pada ikan kerapu macan.

Gambar 21 Kelangsungan hidup juvenil ikan kerapu macan setelah perlakuan probiotik selama 28 hari (A) dan akhir penelitian setelah uji tantang (B).

Hasil pengamatan pascauji tantang menggunakan Vibrio V6 RfR menunjukkan bahwa pada kontrol (+) terjadi kematian yang cukup tinggi hingga tingkat kelangsungan hidupnya hanya mencapai 56,67% (Gambar 21B).