• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN A.Hasil Penelitian

N- gain Kelas 0,63

Berdasarkan persentase yang disajikan pada Tabel 4.9 jumlah siswa yang mendapatkan kriteria nilai N-gain tinggi adalah sebanyak 4 orang, 12 orang kriteria sedang, dan tidak siswa yang mendapatkan nilai dengan kriteria rendah, maka dapat dikatakan bahwa peningkatan hasil belajar siswa pada siklus II tergolong cukup tinggi. Nilai rata-rata dari jumlah keseluruhan N-gain kelas

5

70

mencapai angka 0,63, meskipun mengalami peningkatan dibandingkan pada siklus I, akan tetapi nilai N-gain kelas masih tergolong kedalam kategori sedang.6

3) Lembar Kerja Siswa

Pelaksanaan proses pembelajaran Think Talk Write pada siklus II untuk setiap pembelajarannya dilengkapi dengan penggunaan lembar kerja siswa yang diberikan pada tahap inti, lembar kerja siswa diberikan kepada masing-masing siswa yang dikerjakan secara berkelompok. Hasil penilaian lembar kerja siswa pada pertemuan ketiga dan keempat siklus II disajikan dalam Tabel 4.9.

Tabel 4.9 Hasil Penilaian LKS pada Siklus II

No. Kelompok Perolehan Nilai

Pertemuan 3 Pertemuan 4 1 1 80 88 2 2 76 84 3 3 88 92 4 4 76 88 Jumlah 320 352 Rata-rata 80 88

Hasil penilaian lembar kerja siswa yang dikerjakan masing-masing kelompok pada pertemuan ketiga mendapatkan nilai rata-rata 80 dengan nilai tertinggi yang berhasil dicapai adalah 88, sedangkan nilai terendah yang didapatkan adalah 76.

Hasil perolehan nilai LKS pertemuan keempat yang terdapat pada Tabel 4.10 di atas, mendapatkan nilai rata-rata 88 dengan nilai tertinggi 92 sedangkan nilai terendahnya adalah 84. Dilihat dari hasil rata-rata LKS pada pertemuan ketiga yang memperoleh nilai 80 mengalami peningkatan pada pertemuan keempat yang memperoleh nilai 88.

6

4) Hasil Evaluasi Latihan Soal

Pada tahap evaluasi, masing-masing siswa diberikan tes individu berupa latihan soal. Latihan soal yang diberikan kepada siswa berupa isian singkat sebanyak 10 soal pada pertemuan ketiga dan 10 soal pilihan ganda pada pertemuan kedua. Pemberian latihan soal ini bertujuan untuk memberikan evaluasi hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan. Selain diberikan latihan soal, siswa juga dibimbing untuk menyimbulkan materi yang telah dipelajari secara umum. Hasil evaluasi latihan soal yang diberikan kepada siswa pada siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.10 berikut:

Tabel 4.10 Hasil Evaluasi Latihan Soal Siklus II

No. Data statistik Perolehan nilai

Pertemuan 3 Pertemuan 4 1 Nilai terendah 50 60 2 Nilai tertinggi 80 100 3 Median 70 80 4 Modus 60 70 5 Rata-rata 66,3 78,1

Tabel 4.10 menggambarkan hasil evaluasi latihan soal pada siklus II. Pada pertemuan ketiga nilai terendah yang diperoleh dari hasil latihan soal adalah 50 sedangkan nilai tertinggi mencapai 80, dengan nilai tengah dari keseluruhan data adalah 70 dan modus 60, rata-rata yang diperoleh pada pertemuan pertama adalah 66,3.7

Hasil perolehan nilai latihan soal pada pertemuan keempat, mengalami peningkatan dibandingkan dengan pertemuan ketiga, nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 60 sedangkan nilai tertinggi adalah 100, nilai tengah atau median adalah 80 dan nilai yang banyak diperoleh siswa adalah 70, rata-rata dari keseluruhan nilai adalah 78,1.

7

72

5) Hasil Observasi Kegiatan Siswa

Dari hasil observasi yang dilakukan selama dilaksanakannya tindakan dengan pembelajaran kooperatif Think Talk Write diperoleh hasil kegiatan siswa selama proses pembelajaran pada siklus II adalah sebagai berikut:

Tabel 4.11 Data Observasi Aktivitas Siswa Pada Siklus II

No Tahapan Pembelajaran Pertemuan ke- Rata-rata

1 2

1 Think (berpikir) 75,00% 80,00% 77,50%

2 Talk (berbicara) 71,53% 80,00% 73,61%

3 Write (menulis) 77,08% 83,33% 80,21%

Rata-rata Aktifitas Siswa 74,54% 79,68% 77,11%

Tabel 4.11 menggambarkan kegiatan pembelajaran siswa dengan menerapkan pembelajaran Think Talk Write (TTW) pada siklus II. Guru memperbaiki kesalahan dan kekurangan pada siklus I, tujuannya untuk mendapatkan hasil proses pembelajaran yang lebih baik dari sebelumnya. Siswa sudah lebih siap dan aktif dalam proses pembelajaran berlangsung, namun pada pertemuan ketiga pada tahap talk masih ada siswa yang belum mau bertukar informasi dalam kelompok dan masih ada siswa yang tidak memperhatikan temannya ketika presentasi di kelas.8 Meskipun demikian secara keseluruhan kegiatan pembelajaran siswa siklus II jauh lebih baik dibandingkan dengan siklus I. Hal ini didukung oleh data rata-rata aktivitas siswa pada siklus II yang mencapai 77,11%. Sedangkan pada siklus I rata-rata aktivitas siswa hanya mencapai 66,23%.9 8 Lampiran 29 9 Lampiran 31

d. Refleksi

Berdasarkan pengamatan proses pemelajaran pada siklus II, diperolaeh temuan sebagai berikut:

1) Rata-rata hasil posttest pada siklus II mencapai angka 79,7. 2) N-gain kelas 0,63 dengan kategori sedang.

3) Tingkat ketuntasan atau persentase keberhasilan pada siklus II meningkat menjadi 81,25%.

4) Pada tahap think guru membimbing siswa agar dapat menyelesaikan permasalahan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan pancingan dan pemberian contoh sehingga siswa mampu menyelasaikan tugas membuat catatan kecil atau ringkasan dengan baik.

5) Pada tahap talk guru memberi penjelasan dan bimbingan secara intensif ketika mengerjakan LKS dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti. Guru mendekati siswa yang masih kurang aktif dengan memberikan motivasi agar mau bertanya dan berdiskusi dengan teman yang lain. Sehingga diskusi berjalan tertib dan bekerja sama dengan teman kelompoknya.

6) Pada tahap write dengan cara memberi contoh dan mengawasi pelaksanaan menulis serta memotivasi siswa bahwa tulisan mereka akan dikumpulkan dan dicek guru, siswa terlihat lebih sungguh-sungguh dan menyimpulkan LKS dengan tepat waktu.

Data refleksi pada siklus II tersebut, didapatkan dari hasil pengamatan selama proses pembelajaran yang menerapkan kooperatif tipe Think Talk Write berlangsung, dengan memperhatikan data perbaikan pada siklus sebelumnya. Sehingga tujuan peneliti untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif dan hasil belajar yang meningkat dapat tercapai.

Adapun rekapitulasi data yang diperoleh dari hasil pembelajaran pada siklus II, dapat dilihat pada Tabel 4.12 berikut:

74

Tabel 4.12 Data Rekapitulasi hasil Penelitian Siklus II

No Hasil Penelitian Rata-rata 1 Hasil belajar (posttest) 79,7 2 Tingkat keberhasilan KKM 81,25%

3 N-gain kelas 0,63

4 Lembar kerja siswa 84

4 Evaluasi latihan soal 72,2

6 Aktivitas siswa 77,11%

e. Keputusan

Berdasarkan hasil rekapitulasi pada Tabel 4.12 dapat disimpulkan bahwa perolehan nilai dari hasil belajar, tingkat keberhasilan, N-gain kelas, LKS, latihan soal dan aktivitas siswa pada siklus II dikategorikan baik, perolehan nilai mengalami peningkatan dari siklus I.

Indikator utama yang ditetapkan peneliti yaitu sebanyak 75 % siswa memiliki nilai di atas KKM yaitu 70, dan keadaan rata-rata aktivitas siswa 75%. Pada siklus II ini siswa mencapai tingkat keberhasilan 81,25% dan rata-rata aktivitas siswa 77,11%. Oleh karena itu peneliti memutuskan untuk mengakhiri penelitian tindakan kelas ini di siklus II karena sudah mencapai target yang ditetapkan.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) pada materi Sifat-Sifat Bunyi dan Indra Pendengar (Telinga), menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar siswa. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan nilai rata-rata hasil LKS, pembelajaran siswa diarahkan pada kemampuan berfikir, berbicara dan menulis. Siswa menyelesaikan tugas atau masalah dalam LKS yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Pada pertemuan pertama siklus I, perolehan rata-rata hasil LKS hanya mencapai 61. Hal ini dikarenakan siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar secara berkelompok. Beberapa siswa merasa tidak nyaman dengan kelompoknya, siswa masih kesulitan dalam mengerjakan LKS karena belum terbiasa memecahkan permasalahan dalam kelompok, masih terlihat beberapa anggota yang pasif dan menunggu hasil jawaban dari kelompoknya. Setelah berdiskusi guru meminta siswa mempresentasikan hasil diskusinya kepada teman sekelas. Pada awalnya siswa tidak berani menyampaikan hasil diskusinya. Nilai rata-rata hasil LKS pada pertemuan kedua mengalami peningkatan menjadi 69, karena siswa mulai terbiasa mengerjakan LKS saat proses pembelajaran. Namun demikian peningkatan tersebut masih tergolong rendah.

Pada siklus II, perolehan rata-rata dari nilai LKS mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I. Pada pertemuan ketiga rata-rata perolehan LKS yang berhasil dicapai adalah 80, sedangkan hasil perolehan nilai LKS pertemuan keempat mendapatkan nilai rata-rata 88. Proses diskusi kelompok selama mengerjakan LKS berlangsung lebih aktif, masing-masing anggota kelompok bekerjasama menyelesaikan LKS. Siswa mengajukan pertanyaan kepada guru ketika mengalami kesulitan atau kebingungan dalam mengerjakan LKS. Keadaan rata-rata aktivitas siswa pada siklus II mengalami peningkatan mencapai 77,11%, dibandingkan dengan siklus I.

Selain peningkatan hasil LKS, setelah menerapkan pembelajaran kooperatif TTW juga diperoleh data pretest dan posttest pada Gambar 4.1

Gambar 4.1 Data Rata-rata Pretest dan Posttest

0 50 100 Siklus I Siklus II Pretest Posttest

76

Pada Gambar 4.1 menunjukkan diagram peningkatan hasil pretest dan posttest pada siklus I dan II yaitu untuk siklus I nilai pretest dan posttest sebesar 47,81 dan 64,06 sedangkan pada siklus II nilai pretest dan posttest sebesar 47,38 dan 79,69. Dari data hasil pretest dan posttest tersebut maka dapat diperoleh nilai N-gain pada siklus I dan siklus II pada Gambar 4.2 sebagai berikut:

Gambar 4.2 Peningkatan Nilai N-Gain

Nilai N-gain pada siklus II mengalami peningkatan dari pada siklus I. pada siklus II tidak terdapat nilai gain dengan kategori rendah. Sedangkan nilai N-gain dengan kategori sedang dan tinggi mengalami peningkatan.

Berdasarkan nilai yang diperoleh pada siklus I dan siklus II, maka peningkatan hasil indikator ketercapaian pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Gambar 4.2 Ketuntasan Belajar dan Aktivitas Siswa 0 20 40 60 80 Siklus I Siklus II Tinggi Sedang Rendah 0 20 40 60 80 100 Siklus I Siklus II Tingkat Ketuntasan Belajar Keadaan rata-rata aktivitas siswa

Pada Gambar 4.3 menunjukkan persentase peningkatan ketercapaian KKM pada siklus I sebesar 56,25% sedangkan pada siklus II 81,25%. Keadaan rata-rata aktivitas siswa pada siklus I sebesar 66,23% sedangkan pada siklus II sebesar 77,11%.

Pada siklus I hasil belajar belum mengalami peningkatan. Nilai rata-rata pretest adalah 47,81 dan nilai posttest adalah 64,06. Jumlah siswa yang mencapai KKM 70 adalah 56,25%. Siswa yang belum mencapai KKM disebabkan karena kurangnya pemahaman dalam mengerjakan LKS. Hal ini juga didukung oleh data hasil observasi keaktifan siswa selama proses pembelajaran kooperatif Think Talk Write berlangsung. Rata-rata keaktifan siswa pada siklus I adalah 66.23%. data tersebut masih tergolong rendah, sehingga mempengaruhi hasil belajar siswa pada siklus I ini.10 Hasil belajar dari siklus I menunjukkan jumlah siswa yang mencapai KKM belum memenuhi indikator keberhasilan yaitu 75% dari jumlah siswa mencapai nilai KKM 70. Dan keadaan rata-rata aktivitas siswa juga belum mencapai 75%. Maka penelitian tindakan ini dilanjutkan pada siklus II.

Setelah dilakukan tindakan perbaikan pada siklus II ternyata hasil belajar mengalami peningkatan. Nilai rata-rata pretest 47,38 dan nilai rata-rata posttest 79,69. Jumlah siswa yang mencapai KKM pada siklus II adalah 81,25%. Selama proses pembelajaran kooperati Think Talk Write guru memiliki peranan yang sangat penting. Peranan dan tugas guru dalam mengefektifkan penggunaan strategi Think Talk Write ini sebagaimana yang dikemukakan Silver & Smith dalam Yamin dan Ansari adalah:11 mengajukan pertanyaan dan tugas yang mendatangkan keterlibatan, dan menantang setiap siswa berpikir, mendengar secara hati-hati ide siswa, menyuruh siswa mengemukakan ide secara lisan dan tulisan, memutuskan apa yang digali dan apa yang dibawa siswa dalam diskusi, memutuskan kapan memberi informasi, mengklarifikasikan persoalan-persoalan, menggunakan model, membimbing dan membiarkan siswa berjuang dengan

10

Lampiran 31

11

Martimis Yamin dan Bonsu I Ansari, Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2009), cet. 2, h. 90.

78

kesulitan, memonitoring dan menilai partisipasi siswa dalam diskusi, dan memutuskan kapan dan bagaimana mendorong setiap siswa untuk berpartisipasi.

Penerapan pendekatan pembelajaran kooperatif Think Talk Write selama pembelajaran IPA dilakukan dengan lebih bermakna dengan melibatkan keaktifan siswa dalam berpikir secara mandiri sebelum membuat catatan kecil. Selain itu siswa dapat mengungkapkan pengetahuan, ide, maupun pendapat yang dimiliki dan bertanya jawab dengan guru dan teman sekelompoknya melalui diskusi. Pembelajaran dilakukan dengan kelompok yang heterogen sehingga siswa bisa saling membantu dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Selain itu, dengan menuliskan hasil diskusi dapat membantu siswa membuat hubungan dan juga memungkinkan guru melihat pengembangan siswa.

Dengan ini melatih siswa dalam berfikir, berbicara dan menyimpulkan pemikirannya dalam bentuk tulisan sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Seperti pernyataan Widya, berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pembelajaran IPA melalui model kooperatif tipe Think Talk Write dapat meningkatkan, kemampuan guru, aktifitas komunikasi siswa, dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Bulu Lor Semarang.12 Melalui model kooperatif tipe Think Talk Write terbukti hasil belajar siswa meningkat. Begitu pula menurut hasil penelitian Indrayani, Arini, dan Rati menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW) yang berorientasi pada kearifan lokal Tri Kaya Parisudha menyajikan sebuah proses pembelajaran yang dapat sangat membantu dalam memfasilitasi siswa untuk selalu berpikir yang baik, berkata yang baik, dan berbuat yang baik pula dalam melakukan suatu kegiatan pembelajaran.13 Penelitian ini menunjukkan hasil belajar yang lebih baik dari pada model konvensional.

12 Widya Nurhayati, Sutji Wardayani, Isa Ansori,Peningkatan Komunikasi Ilmiah Pembelajaran IPA Melalui Model Kooperatif Tipe Think Talk Write,Joyful Learning Journal, 2012, h. 12.

13 Putu Susma Indrayani, Ni Wayan Arini, Ni Wayan Rati, Pengaruh Model Pembelajaran Kooperati Tipe TTW Berbasis Kearifan Lokal Tri Kaya Parisudha Terhadap Hasil Belajar IPA pada Siswa Kelas V SD, Jurnal Mimbar Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol:2 No: 1, Tahun 2014).

Peningakatan ketuntasan belajar siswa pada penelitian ini di dukung pula berdasarkan data hasil observasi aktivitas siswa pada setiap tahapan selama pembelajaran berlangsung. Dapat dikatakan bahwa ketercapaian aktivitas siswa mencapai rata-rata 77,11%, memiliki kategori baik dan telah memenuhi indikator keberhasilan yaitu 75%. Pada siklus II jumlah siswa yang mencapai nilai diatas KKM sebesar 81,25%. Persentase tersebut telah memenuhi indikator keberhasilan yaitu 75%. Hal ini terbukti dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write (TTW) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Sifat-Sifat Bunyi dan Indra Pendengar (Telinga).

80

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write (TTW) pada materi Sifat-Sifat Bunyi dan Indra Pendengar (Telinga) dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terlihat dari hasil belajar siswa dengan rata-rata nilai posttest pada siklus I sebesar 64,06 sedangkan rata-rata nilai posttest pada siklus II meningkat menjadi 79,7. Dengan persentase jumlah siswa yang mencapai KKM pada siklus I 56,25%, pada siklus II sebesar 81,25%, sedangkan indikator keberhasilan yang ditentukan adalah 75% siswa yang mencapai KKM. Dan rata-rata aktivitas siswa pada siklus I 66, 23%, pada siklus II sebesar 77,11%. Selain hasil belajar dan aktivitas siswa, nilai LKS dan latihan soal pada siklus II mengalami peningkatan dibandingkan pada siklus I.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut:

1. Untuk memaksimalkan hasil belajar siswa dengan menerapkan pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write (TTW) hendaknya guru menguasai langkah-langkah pembelajaran.

2. Penerapan pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write (TTW) dapat disesuaikan dengan media yang ada di lingkungan sekitar siswa untuk menciptakan suasana belajar yang lebih bermakna.

3. Dalam pelaksanaan di kelas, pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write (TTW) dapat dijadikan sebagai alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

81

Dokumen terkait