• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KONSEP RANCANGAN DETAIL MASTERPLAN

5.1 Gambar Rancangan Zona Sejarah dan Religi

Pada zona ini, konsep perencanaan berkaitan dengan fungsinya sebagai zona sejarah dan religi. Aktivitas yang dilakukan oleh civitas (pemedek atau wisatawan) memiliki kewajiban untuk tidak merusak fasilitas atau objek sejarah dan religi. Oleh karena itu, keamanan dari objek sejarah dan religi menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan dalam perencanaan dan perancangannya. Berikut ini, konsep rancangan pada zona sejarah dan religi daya tarik wisata baru di Desa Singapadu Tengah: a. Pura Tirta Bulan

Dalam penataan area pancoran tirta Pura Tirta Bulan, hal yang paling utama berkaitan dengan keamanan pengunjung atau pemedek yang akan melakukan ritual

penglukatan. Permasalahan yang terjadi yakni adanya longsor pada sisi Timur sungai Tukad Oos tentunya menjadi tindakan pertama atau prioritas. Tindakan tersebut berupa dilakukannya pengerukan sedimentasi dan tanah-tanah bekas longsoran. Pengerukan ini tentu akan berdampak pada kembalinya alur sikulasi air sungai dari hulu ke hilir. Setelah dilakukan pengerukan, selanjutnya pada area pancoran tirta pada sisi utara dilakukan peninggian level lantai setinggi titik pasang permukaan air sungai ketika meluap. Selain dilakukan peninggian level lantai juga dibuatkan tanggul untuk menghindari luapan air sungai ke area pancoran. Pada titik sumber mata air juga dilakukan penataan, karena level lantai ditambah maka sumber mata air dibuatkan bak sebagai penampungan air yang selanjutnya dapat dialirkan melalui pancoran. Dengan dibuatkannya bak tersebut, rembesan-rembesan air di sisi pancoran akan tertampung dan menambah debit air pancoran. Volume air yang bertambah ini dapat bermanfaat untuk menambah jumlah pancoran tirta pada sisi Utara. Pancoran tirta pada sisi Selatan juga dilakukan hal yang sama dengan sisi Utara. Ini bertujuan untuk keamanan dari pengunjung dan pemedek ketika melakukan ritual penglukatan. Selain di area sumber mata air pancoran, penataan

38 juga dilakukan pada area utama mandala dan area Goa sebagai daya tarik utama di objek ini.

1. Penataan Area Utama Mandala

Area utama mandala merupakan area utama pada Pura Tirta Bulan. Rencana penataan yang dilakukan pada area utama mandala ini berkaitan dengan penataan

pelinggih-pelinggih lama yang telah mengalami kerusakan yakni berupa renovasi pada atap ijuk, kayu pelinggih dan bataran pelinggih. Selain dari pada itu, area

utama mandala dilakukan penataan drainase untuk menghindari genangan yang ditimbulkan oleh rembesan air yang berasal dari tebing diatas Pura Tirta Bulan. Kondisi Pura ini juga cukup lembab karena sinar matahari sulit masuk ke area Pura yang ditutupi oleh pohon beringin. Oleh karena itu, penggunaan material untuk natar Pura perlu diperhatikan sehingga pertumbuhan lumut yang dapat merusak material bangunan dapat di antisipasi.

2. Penataan Area Goa

Penataan area goa di Pura Tirta Bulan diprioritaskan berkaitan dengan keamanan saat pengunjung memasuki area goa dan kemudahan pengunjung untuk memasuki area goa. Untuk meningkatkan keamanan, perlu adanya pengamanan beberapa dinding dan langit-langit goa. Selain dari pada itu, berdasarkan informasi dari pemangku Pura yakni adanya jalan tembus dari dalam goa langsung menuju sungai Tukad Oos, perlu dilakukan penataan sehingga sirkulasi pengunjung menjadi satu jalur. Entrance dari utama mandala Pura dan keluarnya dari luar Pura yakni jaba sisi tepatnya pinggir sungai Tukad Oos. Pada area dalam goa dilakukan pengamanan dibeberapa titik yang secara stuktur dianggap rawan. Di area dalam goa juga dilakukan penambahan pencahayaan buatan guna memudahkan pengunjung dalam menikmati suasana goa yang sebelumnya sangat gelap.

44 b. Pura Dalem Negari

Pura Dalem Desa Adat Negari adalah salah satu dari tiga Pura Kahyangan Tiga yang berlokasi dalam wilayah Desa Adat Negari, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Situs pura ini diprediksi sebagai sebuah kompleks bangunan pura pengembangan dari kompleks bangunan pura kuno yang sudah ada sejak masa lalu. Diperkirakan situs pura ini sudah ada sejak abad ke-18. Hal ini ditandai ditemukannya artifak-artifak arca kuno yang bercorak masa itu dalam wilayah pura ini. Selain itu, di zona belakang kompleks pura yang berbatasan

45 langsung dengan daerah tepian Sungai Oos ditemukan adanya arsitektur tinggalan masa lalu berupa candi tebing dan goa pertirtaan.

Gambaran konsep penataan area kompleks bangunan pura bersejarah ini dapat dikemukakan sebagai berikut (cf. wawancara terhadap Rosman dan Suciarta, 2016). 1. Pada bagian barat area kompleks pura, tepatnya di area bagian barat Jalan

Palguna, akan ditata menjadi lahan parkir bus, parkir mobil, dan sepeda motor. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk dapat meningkatkan kenyamanan para pengunjung pada saat pemedek memasuki area inti kompleks bangunan Pura Dalem Desa Adat Negari ini, baik bagi para wisatawan atau pun bagi mereka yang ingin melakukan kegiatan persembahyangan di pura ini. Area ini dimaknai sebagai area pendukung pura.

2. Areajaba sisi pura yang berada di bagian pojok selatan kompleks pura akan dirancang sebuah bangunan informasi dan juga penjualan tiket masuk untuk kegiatan pelayanan kepada para pengunjung yang akan memasuki area kompleks Pura Dalem Desa Adat Negari ini. Area ini diperuntukkan khusus bagi para wisatawan, hal ini merupakan syarat bagi para wisatawan yang ingin memasuki area suci Pura.

3. Pada area timur bangunan wantilan pura akan dibangun sebuah bangunan toilet yang akan difungsikan untuk dapat meningkatkan kenyamanan para pengunjung. Lokasi penempatannya terdapat di area yang merupakan areanista mandala yang juga berdekatan dengan wantilan. Seperti yang diketahui, bangunan wantilan acapkali digunakan sebagai tempat duduk-duduk maupun juga tempat beristirahat bagi para pengunjung.

4. Pada area timur Pura Mrajapati akan dibangun sebuah plaza untuk bangunan Candi Tebing yang bernilai sejarah itu sebagai tempat bersantai bagi para pengunjung kompleks pura ini. Area plaza ini juga difungsikan sebagai tempat bagi para wisatawan dalam menikmati suasana candi tebing yang difungsikan menjadi tempat bersemedi. Untuk menjaga kelestarian candi tebing, dibuat pembatas berupa kolam ikan yang berdasarkan informasi dari pemangku Pura, bahwa area ini dahulunya dipercaya menjadi tempat pemandian para dewa yang berstana di Pura Dalem Negari.

46 5. Jalur pedestrian dari kompleks bangunan pura, menuju area mata air, dan area tepian sungai yang melewati goa tepi sungai itu ditata dengan perkerasan dan material yang lebih solid akan tetapi tetap menjaga gambaran karakter bangunan lama ini.

6. Area inti tata ruang dan tata bangunan dalam area inti pura tetap dipertahankan dan dikonservasi. Apabila dilakukan renovasi bangunan, maka bangunan yang dibuat tidak mengubah nilai estetika, posisi, material dari tata bangunan dan tata ruang semula. Elemen-elemen tinggalan arkeologis dipertahankan sepenuhnya. 7. Adanya penerapan aturan radius kesucian area pura secara tradisional Bali sesuai

Keputusan Parisada Hindu Dharma Indonesia PusatNomor: 11/Kep/I/PHDIP/1994mengenaiBhisama Kesucian Pura. Radius kesucian Pura Dalem Negarimerupakan minimum berjarak apenimpug (‘sejauh lemparan orang dewasa’) atau sejauh 25 meter dari bangunan lain di sekitarnya. Jarak ini sesuai dengan kedudukan Pura Dalem Negari ini sebagai sebuah Pura Kahyangan Tiga. 8. Tapak kompleks pura sakral ini berbatasan langsung dengan sungai, sumber air,

dan daerah hijau penyangganya. Keberadaan kompleks bangunan suci ini berdampak positif bagi pelestarian ekosistem tepian sungai itu. Hal semacam ini memang lazim berlaku pada hutan atau area alam yang berdekatan dengan objek bersejarah yang disucikan Ishii, dkk. (2010).

9. Pada sisi tapak yang berbatasan langsung dengan kuburan adat (setra) akan dibangun tembok penyengker. Tembok penyengker dalam budaya tradisional Bali memang dapat berperan sebagai elemen pemisah antara area sakral (suci) dan profan (cemer) dalam wujud yang estetis berpola tri angga; kepala, badan, dan kaki (Windhu, 1984).

Dokumen terkait