• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 7 Tingkat Kelimpahan Fitoplankton pada Setiap Stasiun

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Gambar 7 Tingkat Kelimpahan Fitoplankton pada Setiap Stasiun

Faktor Fisika Kimia Air

Parameter yang diukur pada Sungai Ular meliputi parameter kimia dan parameter fisika. Pengukuran Data mentah Hasil lapangan dapat dilihat pada Lampiran 6. Hasil pengukuran parameter fisika dan kimia air yang diperoleh selama melakukan penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil Pengukuran Faktor Fisika Kimia Air dalam Setiap Stasiun

No Parameter Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Baku Mutu kelas II**

1 Suhu Air ( °C) 29,65 29,3 28,8 Deviasi 3

2 pH Air 7,75 7,7 7,65 6-9 3 Kecerahan (cm) 17,95 19,15 18,3 - 4 DO (mg/l) 5,75 6,2 5,95 - 5 Nitrat ( mg/l) 0,895 1,015 0,995 10 6 Fosfat (mg/l) 0,67 0,7 0,76 0.2 7 Amoniak (mg/l) 0,06350 0,02521 0,05344 0,5 8 Salinitas (ppt) 21 0 0 - 9 Kecepatan Arus (m/det) 0,3 1,1 1.,3 -

**PP Nomor 82 Tahun 2001 Klasifikasi Mutu Air Kelas II 41% 57% Bacillariophycea e Chlorophyceae Cyanophyceae

Analisis Data

Untuk mengetahui hubungan antara faktor fisik kimia dengan produktivitas primer perairan dari setiap stasiun, maka nilai dari kedua variabel ini dikorelasikan dengan menggunakan analisis korelasi Pearson yang dilakukan secara komputerisasi dengan spss 17.00. Hasil analisis korelasi dari variabel tersebutdapat dilihat pada Tabel 5 sebagai berikut:

Tabel 5 Nilai Korelasi Antara Faktor Fisik Kimia Perairan Sungai Ular dengan Produktivitas Primer Perairan dari Setiap Stasiun

Korelasi Pearson Kelimpahan Fitopalnkton Suhu pH Kecera han

DO Nitrat Fosfat Amoni

ak

PP 0,993 -0,575 -0,655 0,911 0,968 0,984 0,500 -0,105 Keterangan:

+ = Berkorelasi positif (searah) - = Berkorelasi negatif

Menurut Alhusin (2002), koefisien korelasi dapat menjadi beberapa tingkatan seperti pada tabel di atas dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Interval koefisien dan Tingkat Hubungan untuk Korelasi Pearson Interval koefisien Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199 Sangat rendah

0,20 – 0,399 Rendah

0,40 – 0,599 Sedang

0,60 – 0,799 Kuat

Pembahasan

Produktivitas Primer Fitoplankton

Nilai produktivitas primer pada Sungai Ular berkisar antara 225,216 – 394,128 mg C/m3/hari .Nilai produktivitas tertinggi terdapat pada Stasiun 2 yaitu sebesar 394,128 mg C/m3/hari. Tingginya tingkat produktivitas primer pada stasiun 2 diperkirakan disebabkan oleh karena pada stasiun ini memiliki tingkat kelimpahan fitoplankton yang tinggi bila dibandingkan dengan stasiun lainnya. Aktivitas fotosintesis yang dilakukan oleh fitoplankton turut menyumbang besarnya nilai produktivitas primer pada stasiun ini. Nilai kandungan fosfat dan nitrat pada stasiun ini juga turut mendukung kehidupan fitoplankton sehingga menyebabkan tingginya nilai produktivitas primer. Menurut Prabandani (2002) Kemampuan fitoplankton yang dapat berfotosintesis dan menghasilkan senyawa organik membuat fitoplankton disebut sebagai produsen primer.

Nilai dari produktivitas primer umumnya berbeda pada setiap stasiun penelitian Perbedaan nilai produktivitas primer pada setiap stasiun disebabkan oleh karena adanya pergerakan air yang membuat fitoplankton tersebar disetiap stasiun. Hal ini dikarenakan fitoplankton merupakan pelaku utama dalam produktivitas primer. Menurut Nugroho (2006) organisme fitoplankton memegang peranan penting dalam penentuan produktivitas primer suatu perairan, karena berperan sebagai produsen bagi berlangsungnya proses kehidupan (transfer energi melalui rantai makanan) dalam suatu perairan. Fitoplankton merupakan komponen utama dalam menentukan produktivitas primer suatu perairan yang sebagian besar produktivita primer dilakukan oleh fitoplankton melalui reaksi fotosintesisnya.

Nilai Produktivitas primer paling rendah terdapat pada stasiun 1 nilai produktivitas primer pada stasiun ini adalah sebesar 225,216 mg C/m3/hari. Nilai kelimpahan dari fitoplankton juga rendah pada stasiun ini. Hal ini dikarenakan karena Stasiun 1 merupakan daerah muara utama dari sungai Ular yang merupakan tempat pertemuan dari air di Sungai dengan laut lepas di Selat Malaka. Hal ini menyebabkan tingkat produktivitas primer yang rendah pada stasiun ini yang menyebabkan jenis fitoplankton tertentu tidak dapat bertoleransi pada tempat yang mengalami salinitas dan pasang surut. Selain itu, pergerakan arus air yang bergerak dari hulu sungai Ular yang menuju ke stasiun 1 juga memungkinkan banyaknya bahan-bahan buangan yang dibawa oleh aliran Sungai Ular hal ini dapat dilihat dari jumlah amoniak yang tinggi pada stasiun ini. Hal ini merupakan faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat produktivitas primer pada stasiun 1 ini. Stasiun 1 merupakan daerah yang letaknya relatif jauh dari aktivitas masyarakat sekitar.

Produktivitas primer seringkali dipadankan dengan fotosintesis. Pengukuran produktivitas primer dengan menggunakan metode oksigen didasarkan atas terbentuknya oksigen selama berlangsungnya proses fotosintesis oleh fitoplankton di dalam air. Hal ini menyebabakn adanya cahaya matahari merupakan komponen utama yang terpenting di dalam proses pengukuran fotosintesis. Menurut Barus (2004) Apabila cahaya tidak ada maka proses fotosintesis akan terhambat, sementara aktivitas respirasi terus berlangsung. Intestitas cahaya matahari baik pada saat pengukuran dan masih baiknya tingkat kecerahan suatau perairan dalam menerima cahaya matahari yang ada juga merupakan faktor penting dalam menentukan tinggi rendahnya nilai produktivitas primer dalam suatu perairan.

Fitoplankton

Nilai rata rata kelimpahan fitoplakton pada ketiga stasiun berkisar antara 8857,1428 Ind/l - 15306,1 Ind/l Nilai kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun 2 yaitu sebesar 15306,1 Ind/l. Hal ini menyebabkan wilayah ini memiliki nilai produktivitas primer yang tinggi. Pelaku utama dari produktivitas primer adalah fitoplankton. Fitoplankton merupakan organisme dominan yang menyediakan oksigen di perairan melalui fotosintesis. Menurut Nugroho (2006) suatu tingkat kesuburan suatu perairan salah satunya ditentukan oleh tingkat kelimpahan fitoplankton.

Stasiun 1 memiliki nilai kelimpahan fitoplankton yang relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan stasiun lainnya yaitu sebesar 8857,1428 Ind/l. Rendahnya tingkat kelimpahan fitoplankton ini menyebabkan laju produktivitas primer fitoplankton di wilayah ini lebih rendah bila dibandingkan dengan stasiun lainnya. Tinggi rendahnya nilai kelimpahan fitopankton dalam suatu stasiun juga dipengaruhi oleh kondisi fisik kimia air pada saat melakukan pengamatan. Faktor fisika dan kimia utama yang paling signifikan mempengaruhi adalah terutama kandungan nutrien yang ada di perairan tersebut yaitu seperti kandungan nitrat dan fosfat. Menurut Fachrul (2007) faktor yang dapat mempengaruhi kelimpahan dan penyebaran fitoplankton antara lain angin, unsur hara, kedalaman perairan, dan aktivitas pemangsaan. Perkembangan fitoplankton sangat ditentukan oleh intentitas sinar matahari, temperatur, unsur hara, dan tipe komunitas fitoplankton. Adanya perbedaan nilai produktivitas primer dan kelimpahan fitopalankton pada setiap stasiun diakibatkan juga oleh pergerakan air yang membuat fitoplankton dan unsur hara tersebar pada setiap stasiun pengamatan.

Tingginya nilai produktivitas primer dapat dipengaruhi oleh total kelimpahan dari fitoplankton yang dapat melakukan fotosintesis. Jelas terlihat bahwa nilai produktivitas primer umumnya berbanding lurus dengan nilai kelimpahan fitoplankton yang tinggi nilai kelimpahan. Menurut Raymont (1981) dalam Nontji (2006) hubungan antara komunitas fitoplankton dengan produktivitas perairan adalah positif. Bila kelimpahan fitoplankton di suatu perairan tinggi, maka dapat diduga perairan tersebut memiliki produktivitas perairan yang tinggi pula fitoplankton diikuti oleh semakin tingginya produktivitas primer.

Hasil analisis kelimpahan fitoplankton di perairan sungai Ular selama pengamatan didapatkan bahwa fitoplankton yang ada Sungai Ular terdiri dari 6 kelas dengan 39 genus yang meliputi 11 genus Bacillariophyceae, 24 genus chloropyceae, 2 genus Cyanophyceae, 1 genus Euglenaphyceae, 1 genus Rhodophyceae. Hasil analisis kelimpahan fitoplankton tiap stasiun dapat dilihat pada Lampiran 7.

Faktor Fisika Kimia Air a) Suhu

Hasil pengukuran Suhu pada masing masing stasiun penelitian berkisar 280C – 300C. Suhu di perairan Sungai Ular relatif konstan atau stabil. Flukstuasi suhu yang teramati selama penelitian tidak menunjukkan variasi yang besar. Hal ini dimungkinkan karena kondisi cuaca dan suhu udara selama pengamatan relatif sama pada saat dilakukan pengambilan sampel.

Stasiun 1 memiliki tingkat suhu yang tertinggi bila dibandingkan dengan stasiun lainnya yaitu sebesar pada 300C. Tingginya suhu di stasiun ini dikarenakan tingkat kecerahan dalam stasiun ini relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan

stasiun yang lainnya. Tingkat kecerahan suatu perairan dapat menentukan banyaknya intentitas matahari yang masuk ke dalam air. Sinar matahari merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung terjadinya fotosintesis didalam perairan tersebut. Menurut Nontji (2007) Suhu air dipengaruhi oleh kondisi meteorologi seperti: curah hujan, penguapan, kelembaban udara, suhu udara, kecepatan angin, dan intensitas radiasi matahari.

Semakin jauh suatu stasiun dari bagian hulunya juga memiliki nilai suhu yang relatif lebih tinggi. Stasiun 1 merupakan muara utama dari sungai Ular dan merupakan bagian ujung dari Sungai Ular. Stasiun 1 dan 2 merupakan bagian ke arah hilir sungai. Menurut Damanik dkk., (1984) suhu hulu sungai yang masukan airnya dari air tanah akan mendekati suhu tanah sekelilingnya, tetapi ketika air mengalir ke hilir suhunya akan naik perlahan lahan akibat bersentuhan dengan udara dan oleh cahaya matahari.

b) pH

Nilai pH yang diukur pada Sungai Ular berkisar antara 7,6 – 7,9. Berdasarkan pengamatan nilai pH yang terukur selama penelitian dapat dikatakan bahwa nilai pH pada Sungai Ular tergolong netral. Hal ini menyebabkan bahwa Sungai Ular masih dalam kondisi baik dalam mendukung kehidupan organisme organism akuatik yang hidup dan ada didalmnya di dalammnya. Berdasarkan PP No 82 Tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air, nilai pH pada Sungai Ular masih tergolong baik dan memenuhi baku mutu air untuk kelas II. Baku mutu air untuk kelas 2 umumnya digunakan untuk kegiatan budidaya dan perairan irigasi untuk masyarakat di sekitar wilayah Sungai Ular.

Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi yang ada didalam perairan sehingga nantinya dapat mempengaruhi produktivitas primer. Biota biota akuatik memiliki kisaran toleransi yang berbeda. Menurut Effendi (2003) Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7 – 8,5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan. c) Kecerahan

Hasil pengukuran kecerahan didapatkan bahwa nilai kecerahan di Sungai Ular berkisar antara 17,6 cm- 20 cm. Tingkat kecerahan pada setiap stasiun relatif sama, Nilai penetrasi cahaya pada suatu badan air dipengaruhi oleh zat-zat tersuspensi pada perairan tersebut. Menurut Effendi (2003) Nilai kecerahan dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan, dan padatan tersuspensi, serta ketelitian orang yang melakukan pengukuran. Adanya perbedaan nilai faktor faktor pendukung lainnya dalam kecerahan juga turut menentukan perbedaan tingkat kecerahan tiap stasiun ini.

Tingkat kecerahan sangat mendukung dalam kehidupan suatu fitoplankton. Stasiun yang memiliki tingkat kecerahan yang tertingi adalah stasiun 2. Kecerahan yang baik untuk kehidupan biota adalah jumlah cahaya yang masuk tidak terlalu besar, sehingga proses fotosintesis dapat berjalan seimbang dan jumlah fitoplanton memadai untuk kehidupan semua biota perairan.

Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan , yang ditentukan secara pengukuran dengan menggunakan secchi disk. Nilai kecerahan dapat mempengaruhi tingkat produktivitas primer suatu perairan. Hal ini dikarenakan nilai kecerahan dapat menentukan banyaknya sinar matahari yang masuk ke dalam badan air. Menurut Nugroho (2006) Intentitas cahaya merupakan faktor

lingkungan pertama yang mempengaruhi fotosintesis. Laju fotosintesis akan tinggi bila tingkat intentitas cahaya tinggi dan sebaliknya

d) Oksigen Terlarut (DO)

Kandungan oksigen terlarut pada sungai Ular bekisara antara 5,7 mg/l – 6, 1 mg/l. Perbedaan nilai oksigen terlarut dapat disebabkan oleh aktivitas fotosintesis oleh fitoplankton. Selain itu adanya bahan organik yang berbeda pada setiap stasiun menyebabkan konsumsi oksigen dari bakteri dan mikroorganisme untuk menguraikan senyawa organik tersebut juga berbeda.

Stasiun 2 memilik tingkat kelarutan oksigen yang tinggi jika dibandingkan dengan stasiun lainnya yaitu sebesar 6,3 mg/l. Hal ini menyebabkan stasiun 2 memiliki tingkat kelimpahan fitoplankton yang tinggi dibandingkan dengan stasiun lainnya. Menurut Barus (2004) Oksigen terlarut merupakan komponen utama yang penting dalam kehidupan fitoplankton Secara keseluruhan, kadar oksigen terlarut pada setiap stasiun masih mendukung eksistensi organisme air. Nilai oksigen terlarut di perairan sebaiknya berkisar antara 6 – 8 mg/l

Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian dan musiman, tergantung pada pencampuran (mixing) dan pergerakanan massa air , aktivitas fotosintesis, respirasi, limbah yang masuk kedalam air. Faktor faktor diatas yang turut menyumbangkan perbedaan tingkat kelarutan oksigen pada tiap stasiun e) Nitrat (NO3)

Stasiun yang memiliki kadar Nitrat yang paling tinggi adalah satsiun 2 yaitu sebesar 1,1 mg/l dan yang paling rendah adalah stasiun 3 sebesar 0,82. Nitrat merupakan bentuk fiksasi dari nitrogen yang merupakan faktor pembatas di dalam perairan. Nitrogen umumnya dapat dimanfaatkan langsung oleh fitoplankton

dalam bentuk nitrat. Menurut Manampiring (2009) Nitrat yang dihasilkan oleh fiksasi biologis digunakan oleh produsen (tumbuhan) diubah menjadi molekul protein.

Kadar Nitrat di masing masing stasiun berkisar antara 0,83 mg/l – 1 mg/l. yang pada masing masing stasiun tidak memiliki perbedaan kandungan nitrat yang jauh. Nitrat merupakan salah satu faktor pembatas dalam kehidupan fitoplankton.

Nitrat adalah merupakan nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang. Umumnya dengan banyaknya nitrat dalam suatu badan air maka akan banyak fitoplankton disana. Menurut Effendi (2003) nitrat (NO3) adalah

bentuk utama nitrogen dalam perairan alami dan merupakan nutrient utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Nitrat nitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil.

f) Fosfat (PO4)

Kadar Fosfat pada masing masing stasiun adalah berkisar 0,68 mg/l – 0,78 mg/l. Jumlah perbedaan kandungan Fosfat pada masing masing stasiun tidak terlalu berbeda jauh jumlahnya. Kandungan Fosfat yang tertinggi terdapat pada stasiun 3 yang memiliki kandungan fosfat sebesar 0,78. Nilai kandungan fosfat ini sesuai bagi pertumbuhan fitoplankton di sungai Ular. Menurut Andrianni (2004) kandungan fosfat yang optimum bagi pertumbuhan fitoplankton adalah berkisar pada 0,09 – 1,80 mg/l.

Fosfat merupakan unsur pembatas dalam dalam produktivitas primer fitoplanakton. Fosfat merupakan bentuk orthofosfat yang dimanfaatkan oleh fitoplankton. Sumber nutrient yang ada di perairan dapat berasal dari aktivitas: pemukiman, peratanian, perkebunan, kehutanan, akumulasi sisa pakan, kegiatan

budidaya ikan. Umumnya fosfat berguna bagi pertumbuhan fitoplankton. Menurut Effendi (2003) fosfor merupakan unsur yang esensial bagi tumbuhan tingkat tinggi dan alga, sehingga unsur ini menjadi faktor pembatas bagi tumbuhan dan alga akuatik serta sangat mempengaruhi tingkat produktivitas perairan. Nitrat dan fosfat merupakan bentuk nutrient yang ada di dalam badan perairan yang sangat berguna bagi pertumbuhan fitoplankton sehingga menjadi faktor pembatas bagi kehidupannya.

g) Amoniak (NH3N)

Kadar amoniak pada setiap stasiun pengamatan adalah sekitar 0,02367 mg/l – 0,10013 mg/l. Stasiun yang memiliki kandungan amoniak yang tinggi adalah stasiun 1 yang merupakan daerah muara dari Sungai Ular. Amonia umumnya mengindikasikan banyaknya bahan bahan terlarut organik maupun anorganik dalam perairan. Umumnya bahan bahan tersebut merupakan hasil buangan dari biota maupun dari hasil buangan industri. Menurut Efendi (2003) Sumber amonia adalah pemecahan nitrogen organik, dan nitrogen anorganik yang berasal dari dekomposisi bahan organik. Sumbera ammonia yang lain adalah reduksi gas nitrogen, limbah industri dan domestik dan juga limbah aktivitas metabolisme. Tinja dari biota akuatik juga banyak mengeluarkan amonia.

Besarnya nilai kadar amonia di dalam perairan juga turut dipengaruhi oleh kadar pH dan suhu. Persentase amonia bebas meningkat dengan meningkatnya nilai pH dan suhu perairan. Amonia juga dapat terserap kedalam bahan bahan tersuspensi dan koloid sehingga mengendap kedasar perairan.

h) Kecepatan Arus

Arus pada perairan Sungai Ular berkisar antara 0,3 – 1,3 m/det. Arus air mempengaruhi bahan bahan organik terlarut di dalam sungai terutama sedimen yang ada. Arus juga turut mempengaruhi dalam besar kecilnya tingkat produktivitas primer di dalam perairan. Arus akan mempengaruhi penyebaran dari fitoplankton sebagai pelaku utama produktivitas primer. Fitoplankton merupakan biota yang hidupnya masih dipengaruhi dari pergerakan arus. Arus dapat menyebabkan perbedaan penyebaran fitoplankton pada badan perairan. Menurut Supangat (2003) Arus adalah proses pergerakan massa air menuju kesetimbangan yang menyebabkan perpindahan horizontal dan vertikal massa air.

i) Salinitas

Salinitas mengatur metabolisme tubuh fitoplankton melalui proses osmoregulasi. Salinitas yang tidak sesuai dengan kebutuhan fitoplankton akan mengakibatkan energi habis terpakai untuk osmoregulasi. Salinitas juga dapat mempengaruhi kelarutan oksigen dalam air.

Stasiun 2 dan 3 merupakan daerah air tawar yang relatif masih cukup jauh dari muara Sungai Ular. Kadar salinitasnya adalah 0. Salinitas menggambarkan banyaknya garam garam terlarut di dalam air tawar. Stasiun 2 dan stasiun 3 tidak memiliki kadar salinitas. Ciri yang menunjukkan karateristik suatu wilayah perairan memiliki kadar salinitas adalah dengan ditemukannya aktivitas pasang surut pada pada wilayah perairan tersebut. Aktivitas pasang surut air hanya ditemukan pada stasiun 1 sedangkan pada stasiun 2 dan stasiun 3 tidak mengalami pasang surut.

Stasiun 1 merupakan daerah muara utama dari sungai Ular. Wilayah ini dipengaruhi oleh pasang surut air laut sehingga memiliki kisaran salinitas. Salinitas pada wilayah ini adalah berkisar 21 ppt. Hal ini memungkinkan menjadi salah satu penyebab dari rendahnya tingkat produktivitas primer dan kelimpahan fitoplankton pada stasiun ini. apabila dibandingkan dengan stasiun lainnya. Fitoplankton umumnya memiliki kisaran toleransi terhadap salinitas selain itu beberapa jenis fitoplankton tiidak dapat hidup pada tempat yang mengalami dinamika pasang surut. Menurut Kennish (1990) salinitas secara tidak langsung memengaruhi fitoplankton melalui pengaruhnya terhadap densitas air dan stabilitas kolom air. Salinitas secara langsung memengaruhi laju pembelahan sel fitoplankton, juga keberadaan, distribusi, dan produktivitas fitoplankton.

Analisis Korelasi Pearson

Dari hasil analisis korelasi diketahui bahwa produktivitas primer fitoplankton berkolerasi searah dengan kelimpahan fitopankton, kecerahan, DO, nitrat, Fosfat dan arus. Produktivitas primer berkolerasi negatif dengan Suhu, pH, dan amoniak. Nilai (+) menunjukakan adanya nilai hubungan korelasi searah antara faktor fisika kimia dengan produktivitas primer, yang artinya semakin tinggi nilai faktor yang memiliki tanda (+) maka nilai produktivitas primernya juga akan semakin meningkat begitu pula dengan sebaliknya tanda (-) menunjukkan hubungan yang tidak searah. Analisa Korelasi Pearson dapat dilihat pada Lampiran 8.

Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui bahwa nilai faktor faktor fisika, kimia memiliki tingkat hubungan yang sedang sampai sangat kuat dengan Produktivitas primer. Faktor faktor yang memiliki tingkat hubungan sedang terhadap

produktivitas primer adalah fosfat, sedangkan faktor faktor yang memiliki tingkat hubungan sangat kuat dengan produktivtas primer adalah kelimpahan fitoplankton, Nitrat, DO, kecerahan dan arus.

Organisme penting dalam produktivitas primer adalah fitoplankton. Fitoplankton akan melakukan fotosintesis yang membutuhkan cahaya matahari sebagai komponen utama dalam fotosintesis. Fitoplankton juga membutuhkan oksigen terlarut dalam menunjang kehidupannya. Penyebaran kelimpahan fitopalankton di lingkungan perairan juga turut ditentukan oleh pergerakan perairan tersebut. Menurut Sumich (1992) diacu oleh Asriyana (2012) menyatakan bahwa sebagai produsen primer, fitoplankton berperan sebagai penghasil oksigen dan bahan makanan bagi organisme perairan lain.

Pengelolaan Wilayah Kawasan Sungai Ular

Sungai Ular banyak dimanfaatkan untuk irigasi masyarakat yang tinggal di Kabupaten Deli Serdang maupun di Serdang Bedagai. Sungai Ular juga dimanfaatkan dalam bidang pertambangan yaitu penggalian bahan galian C yaitu berupa pasir dan batu kerikil dan juga untuk pengairan warga yaitu irigasi lahan pertanian.

Tingkat produktivitas primer fitoplankton di Sungai Ular masih baik hal ini dapat dilihat dari nilai produktivitas primer pada sungai Ular yaitu sebesar 225,216 – 394,128 mgC/m3/hari. Menurut Manalu (2014) Sungai Bah Bolon memiliki nilai produktivitas primer berkisar antara 112,90 – 376,35 mgC/m3/hari. Apabila dibandingakan nilai produktivitas primer di sungai ini, Sungai Ular masih memiliki nilai yang relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan Sungai Bah Bolon.

Pengelolaan sungai pada dasarnya ditujukan untuk terwujudnya kondisi yang optimal dari sumberdaya vegetasi, tanah dan air sehingga mampu memberi manfaat secara maksimal dan berkesinambungan bagi kesejahteraan manusia. Selain itu pengelolaan sungai dipahami sebagai suatu proses formulasi dan implementasi kegiatan atau program yang bersifat manipulasi sumberdaya alam dan manusia yang terdapat di sungai untuk memperoleh manfaat produksi dan jasa tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan sumberdaya air dan tanah, yang dalam hal ini termasuk identifikasi keterkaitan antara tataguna lahan, tanah dan air, dan keterkaitan antara daerah hulu dan hilir suatu sungai..

Pengelolaan sungai pada dasarnya ditujukan untuk terwujudnya kondisi yang optimal dari sumberdaya vegetasi, tanah dan air sehingga mampu memberi manfaat secara maksimal dan berkesinambungan bagi kesejahteraan manusia. Selain itu pengelolaan sungai dipahami sebagai suatu proses formulasi dan implementasi kegiatan atau program yang bersifat manipulasi sumberdaya alam dan manusia yang terdapat di sungai untuk memperoleh manfaat produksi dan jasa tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan sumberdaya air dan tanah, yang dalam hal ini termasuk identifikasi keterkaitan antara tataguna lahan, tanah dan air, dan keterkaitan antara daerah hulu dan hilir suatu sungai

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air bahwa kawasan Sungai Ular jika ditinjau dari parameter Fisika dan Kimianya masih memenuhi baku mutu air untuk kelas II dimana umumnya kelas II diperuntukkan untuk Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan ,air untuk mengairi pertanaman. Untuk

pemanfaatnannya haruslah hendaknya memperhtikan kelestarian lingkungan yang ada di wilayah sekitarnya sehingga tercipta pengelolaan yang berkelanjutan (Sustainable).

Ditinjau dari masih baiknya kondisi Sungai Ular secara keseluruhan maka perlu diadakannya pemanfaatan yang lebih lanjut dalam Sungai Ular. Salah satu sektor yang dapat dikembangkan dalam Sungai Ular adalah pengembangan sektor budidaya keramba. Terutama dalam pembesaran ikan. Mengingat belum terlalu dikembangkannya sektor perikanan di sepanjang aliran Sungai Ular.

Sungai Ular memiliki potensi dikembangkannnya Budidaya keramba, seperti budidaya jaring apung untuk perairan air tawar. Parameter kimia dan fisika cukup mendukung untuk dikembangkannya kegiatan budidaya pada wilayah ini. Kegiatan budidaya yang dimaksudkan disini adalah pengembangan budidaya yang berkelanjutan yang dalam pengelolaannya pemerintah dan pihak pihak terkait harus benar benar memperhatikan keseimbangan lingkungan yang ada di wilayah

Dokumen terkait