HASIL PENELITIAN
C. Gambaran Ketimpangan Ekonomi Lampung Barat
Beberapa permasalahan pokok yang dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten
Lampung Barat dalam pembangunan daerahnya adalah:
Rendahnya ketersediaan infrasturuktur, terutama akses transportasi
keperintisan dan komunikasi serta listrik pedesaan Sehingga dengan kondisi
yang seperti itu menjadi penghambat distribusi pendapatan masyarakat
Lampung Barat. Dengan dominannya sektor primer maka kebutuhan sarana
dan prasarana sangat mendesak.
Rendahnya tingkat pelayanan sosial dasar terutama pendidikan dan kesehatan.
ekonomi lokal, terutama dalam hal koordinasi dan kerjasama kelembagaan,
baik di pusat maupun di daerah dan keuangan daerah, sehingga adanya
kelemahan kapasitas kelembagaan pemerintahan daerah dalam mengelola
potensi sumber daya lokal dan rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat
setempat. Belum optimalnya peran kota kecil dan menengah dalam
menstimulan pertumbuhan wilayah sehingga peran kota – kota kecil dan menengah sebagai kota perantara dari proses produksi di perdesaan, di kota –
kota besar dan metropolitan belum efektif.
Untuk itu pemerintah kabupaten lampung barat perlu upaya maksimal dalam
menyusun dan menyiapkan struktur perkotaan dalam usaha menetapkan peran
serta fungsi kota untuk mendukung pengembangan kota – kota secara hirarkis dan memiliki keterkaitan kegiatan ekonomi antar kota yang sinergis dan
saling mendukung. Mengembangkan dan mengoptimalkan peran kota kecil
dan menengah sebagai pendukung ekonomi perdesaan serta meningkatkan
kapasitas pemerintah daerah kabupaten lampung Barat dalam pelayanan
publik dan pengelolaan lingkungan Sehingga masyarakat kabupaten Barat
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Pada tahun 2005 ketimpangan pendapatan sebesar 0,7545123 yang merupakan ketimpangan pendapatan dengan kategori ketimpangan pendapatan berat, sedangkan laju pertumbuhan ekonomi 2005 adalah 5,08 % dengan pendapatan perkapita Rp. 796.301,00. Keadaan ini menyebabkan meskipun terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi, masalah ketimpangan pendapatan tetap menjadi masalah pokok yang disebabkan rendahnya pendapatan perkapita, sehingga pola konsumsi masyarakat Kabupaten Lampung Barat terpaku pada pola permintaan untuk barang-barang makanan. Periode 2008 ketimpangan pendapatan lebih baik dari periode 2005 meskipun masuk katagori berat 0,62754501 akan tetapi pendapatan perkapita lebih rendah dibanding periode 2005 yaitu Rp. 736.695 keadaan inilah yang menyebabkan pola pengeluaran rata-rata rumah tangga untuk jenis konsumsi makanan relative lebih tinggi 73,74 %.
Periode 2011 walaupun ketimpangan pendapatan masih pada golongan berat 0,64173139 akan tetapi pertumbuhan ekonominya tertinggi mencapai 5,72 % sehingga pola pengeluaran rumah tangga rata-rata untuk jenis
makanan menjadi turun hanya 69,44 % dan untuk bukan makanan naik menjadi 30,56 %
B. Saran-saran
1. Membangun pertanian modern dengan mendorong dan memfasilitasi pengembangan industri pengolahan hasil pertanian (agroindustri), membangun infrastruktur pertanian, penyuluhan pertanian terpadu, memfasilitasi pembangunan pasar komoditas hasil pertanian, dan menerapkan teknologi pertanian terkini yang mampu meningkatkan produktivitas lahan.
2. Demi menciptakan iklim usaha yang sehat maka Pemda Kabupaten Lampung Barat diharapkan dapat membangun infrastruktur ekonomi dan memberikan kepastian usaha. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pembangunan sarana dan prasarana transportasi dan telekomunikasi, mendorong peningkatan penyediaan energi dan listrik, mendorong tumbuhnya lembaga keuangan dan pembiayaan, mendorong dan memfasilitasi pembangunan pasar, memberikan kemudahan perizinan, serta memberikan jaminan hak milik dan usaha. Dengan iklim usaha yang sehat diharapkan dapat menarik simpati investor agar menanamkan modalnya di Lampung Barat.
3. Mengoptimalkan pemanfaatan SDA, mencari sumber daya baru, menciptakan dan menerapkan teknologi tepat guna adalah cara-cara yang dapat dilakukan Pemda Kabupaten Lampung Barat guna menciptakan lapangan pekerjaan sehingga pengangguran dapat ditekan.
4. Pengawasan terhadap distribusi dan harga barang-barang kebutuhan pokok juga diharapkan dapat diperhatikan sehingga masyarakat golongan pendapatan yang rendah tetap mendapatkan barang-barang kebutuhan pokok dengan harga terjangkau dan kualitas baik.
Adelman, Irma. 1975; Development Economics: A Reassessment of Goals.
American Economics Review Paper and Proceedings: 302 – 309.
Ahluwalia, Montek S. 1976; Income Distribution and Development: Some Stylized Facts. American Economic Review-Papers and Proceedings: 128 – 135. Amidjojo, Bintro Tjokro. 1985; Perencanaan Pembangunan, Penerbit PT Gunung
Agung – Jakarta.
Arndt, H W. 1987; Pembangunan dan Pemerataan: Indonesia di Masa Orde Baru, terjemahan Konta Damanik, LP3ES Jakarta.
Baldwin, Robert E. 1986; Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi, terjemahan St.Dianjung, PT Bina Aksara Jakarta.
Bappeda Kabupaten Lampung Barat. 2001 – 2005; Renstra Kabupaten Lampung Barat
Bintoro, TjokroAmidjojo. 1985; Perencanaan Pembangunan, Penerbit PT Gunung Agung – Jakarta
BPS Provinsi Lampung. 2011; Lampung dalam Angka.
BPS Provinsi Lampung. 2011; Lampung Barat dalam Angka.
BPS Provinsi Lampung. 2011; Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Lampung.
BPS Jakarta. 2011; Statistik Kesejahteraan Rakyat:Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga
Fadil, M Abdel. 1977; A New International Economic Order?. Cambridge Journal of Economics: 205 – 213.
Hill, Hal. 2002; Ekonomi Indonesia, terjemahan Tri Wibowo Budi Santoso dan Hadi Susilo. Penerbit PT Raja Grafindo Persada.
Jhingan, M L. 1999; Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, terjemahan D.Guritno, CV Rajawali Jakarta.
Jolly, Richard. 1976; Redistribution and Growth. Employment, Income Distribution, and Development: 43 – 55.
Kartasasmita, Ginandjar. 1996; Pembangunan untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan, Pustaka CIDESINDO Jakarta.
Oshima, Harry T. 1977; Postwar Asian Growth: The Interplay Between Rural Development, Income Distribution, and Employment. Ekonomi dan Keuangan Indonesia: 312 – 329.
______________. 1977; New Directions in Development Strategies. Economic Development and Cultural Change: 555 – 567.
Salim, Emil. 1984; Perencanaan Pembangunan dan Pemerataan, Inti Dayu Jakarta.
Sitohang, Paul. 1977; Pengantar Perencanaan Regional. LP FE UI Jakarta.
Soelistyo, Sudarsono. 1979; Prospek Kesempatan Kerja dan Pemerataan Pendapatan dalam REPELITA III. Prisma:13 – 25.
Sukirno, Sadono. 1985; Ekonomi Pembangunan, Penerbit Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Bina Grafika Jakarta.
Suparmoko, M dan Irawan. 1999; Ekonomika Pembangunan, BPFE Yogyakarta.
Stewart, Francis dan Paul Streeten. 1976; New Strategies for Development: Poverty, Income Distrbution, and Growth. Oxford Economic Papers (New Series): 381 – 405.
Todaro, Michael P. 1983; Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, terjemahan Drs. Mursid, Penerbit Balai Aksara Jakarta.
_______________. 2000: Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, edisi VII, terjemahan Haris Munandar, Penerbit Erlangga.
Wie, Thee Kian. 1983; Pembangunan Ekonomi dan Pemerataan: Beberapa Pendekatan Alternatif, LP3ES Jakarta.