• Tidak ada hasil yang ditemukan

 Peraturan Daerah terkait PBL

Peraturan daerah yang yang ada dan telah ditetakkan oleh pemerintah kota Binjai terkait sektor PBL pada saat ini adalah berupa Perda No. 9 tahun 2011 tentang Izin Mendirikan Bangunan. Dengan fungsi sebagai berikut:

a. mewujudkan bangunan gedung yang fungsional dan sesuai dengan tata bangunan gedung yang sesuai dan selaras dengan lingkungannya;

b. mewujudkan tertib penyelenggaraan bangunan gedung yang menjamin keandalan teknis bangunan gedung dari segi keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan;

c. mewujudkan kepastian hukum dalam penyelenggaraan bangunan gedung.

Sedangkan dalam pendirian bangunan yang dalam fungsinya dapat berpengaruh pada kondisi lingkungan adalah diatur pada Perda Perda No. 6 tahun 2011 tentang Retribusi Perizinann Tertentu yang mensyaratkan perizinan terhadap Analisis Dampak Lingkungan (Amdal).

Sementara itu landasan hukum dan landasan operasional berupa Perda Bangunan Gedung (Perda BG) sebagai rincian lebih lanjut terhadap dukungan utama sektor PBL sampai saat ini masih dalam proses penyususnan di tingkat pemerintah Kota Binjai dan direncanakan draf perda tersebut akan rampung pada tahun 2015 ini. Peraturan Daerah terkait sektor PBL yang ada di Kota Binjai serta kutipan amanat yang tersebut didalamnya adalah seperti di tunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 6.13. Peraturan Daerah/Peraturan Walikota terkait PBL Kota Binjai

No. Peraturan Daerah Amanat Jenis Produk Pengaturan Nomor & Tahun Tentang

1 Peraturan Daerah No. 9,

Thn 2011

Izin Mendirikan Bangunan (IMB)

Pasal 6, ayat 1 :

Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan

teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung.

Pasal 21, ayat 1 :

Persyaratan Tata Bangunan untuk suatu kawasan lebih lanjut akan disusun dan ditetapkan dalam Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL).

Aspek Teknis Per Sektor VI . 28 Jenis konstruksi bangunan yang paling banyak dbangun di Kota Binjai pada tahun 2013 adalah bangunan hunian, dapat dilihat dari banyaknya Surat Izin Mendirikan Bangunan (SIMB) yang telah diterbitkan Pemko Binjai yaitu sebesar 77,99 persen merupahan jenis hunian. Untuk lebih jelasnya adalah seperti ditunjukkan pada tabel berikut

Tabel 6.14. Perkembangan Jumlah Usaha Konstruksi Menurut SIMB Kota Binjai Thn2011-2013

No Kualifikasi 2011 2012 2013 1 G6 1 - - 2 G5 4 4 4 3 G4 33 22 21 4 G3 22 25 24 5 G2 37 37 37

SIMB : Surat Izin Mendirikan Bangunan

G6-G7 : Usaha konstruksi golongn besar dengan nilai diatas 5 milyar G5 : Usaha konstruksi golongn sedang dengan nilai 1 milyar – 5 milyar

G2-G4 : Usaha konstruksi golongn kecil dengan nilai sampai 1 milyar

Sumber : Statistik Kota Binjai, BPS Kota Binjai, 2014

Adapun implementasi Perda tentang IMB di kota Binjai terlihat dari jumlah penerbitan SIMB oleh Pemko Binjai terhadap pembangunan dari berbagai jenis tipe bangunan seperti ditunjukkpkan pada tabel berikut.

Tabel 6.15. Banyaknya Penerbitan SIMB Per kecamatan di Kota Binjai Tahun 2013

No Kecamata Hu nia n Ko m er si l Pag ar So sial / Pe rib ad at an Pe nd id ik an Sh elt er , Pag ar Ban gu nan Um um Ge du ng In du st ri Gu dan g Pe ru m ah an 1 Binjai Selatan 68 6 2 - - - - - - - 1 2 Binjai Kota 31 21 - 1 - 1 - - - - - 3 Binjai Timur 125 10 1 1 1 7 - - - - 7 4 Binjai Utara 161 28 2 - - 2 - - - 1 8 5 Binjai Selatan 97 7 2 - - 6 - - - 1 1 Jumlah Binjai 482 72 5 4 1 16 - - - 2 17

Sumber : Binjai Dalam Angka, BPS Kota Binjai, 2014

Walaupun Pemda Kota Binjai telah menerbitkan Perda mengenai izin memdirikan bangunan harus sesuai dengan fungsinya namun masi terdapat beberapa bangunan yang menyalahi izin yang telah dikeluarkan seperti terlihat pada foto dokumentasi berikut

Gambar 6.6. Kondisi bangunan yang tidak tertata di pusat Kota Binjai

Thn 2011 Tertentu Bagi setiap orang atau badan yang akan

mendirikan, memperluas atau medaftarkan ulang dimana usahanya berpotensi limbah pencemaran diwajibkan melengkapi dengan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

Sumber : Website BPK RI Wilayah Sumatera Utara

Kondisi Bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi nya yaitu sebagai usaha walet di sekitar lingkungan permukiman di Kec. Binjai Kota

Aspek Teknis Per Sektor VI . 29

 Ruang Terbuka Hijau

Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada saat ini di Kota Binjai adalah berupa jalur sempadan, lahan pertanian, perkebunan, taman kota, taman lingkungan, dan lapangan olah raga. Secara umum kuantitas yang ada telah lebih dari dari 30 % dari total luas wilayah Kota Binjai yaitu 90,23 ha. Namun untuk RTH yang berfungsi khusus sebagai taman kota (RTH Kota) dan lingkungan secara kuantitas dan kualitas masih kurang dari 30 % yaitu seluas 2,675 ha. Data luasan eksisting tanah pertamanan (RTH) di wilayah Kota Binjai yang ada sampai tahun 2013 seperti di tunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 6.16. Luas Tanah Pertamanan (RTH) Per Kecamatan di Kota Binjai Tahun 2013

No Kecamatan Lapangan Olah Raga (ha) Taman (ha) Bundaran Taman Segitiga (ha) Jumlah (ha)

1 Binjai Selatan - - - - 2 Binjai Kota 2,720 0,270 0,050 3,040 3 Binjai Timur 1,380 - 0,900 2,280 4 Binjai Utara 0,730 0,050 0,025 0,805 5 Binjai Barat 0,460 - - 0,460 Jumlah Binjai 5,290 0,320 0,975 6,585

Sumber : - Binjai Dalam Angka , BPS Kota Binjai. 2014

a. Laporan & DED Fasilitasi Peningkatan RTH Kota Binjai Tahun 2011

Gambar 6.7. KondisiRTH Publik Lapangan Olah raga di Kota Binjai

Keadaan vegetasi atau pepohonan sebagai bagian dari pembentukan ruang RTH di Kota Binjai yang telah terdata adalah seperti tinjukkan pada tabelberikut.

Tabel 6.17. Jumlah Tanaman Pohon Pelindung dan Usia Pohon Per Kecamatan Tahun 2013

No Kecamatan Tua Muda Jumlah

1 Binjai Selatan 563 5.755 6.318 2 Binjai Kota 47 1.737 1.784 3 Binjai Timur 721 2.369 3.090 4 Binjai Utara 851 4.264 5.115 5 Binjai Barat 673 3611 4.284 Jumlah Binjai 2.855 17.736 20.591

Sumber : Binjai Dalam Angka , BPS Kota Binjai. 2014

Salah satu RTH yang berada di pusat Kota Binjai yaitu Kawasan Lapangan Merdeka pada saat ini merupakan kawasan yang sangat potensial dalam menampung aktivitas bersantai khususnya pada sore hari dan pada hari minggu bagi sebagian warga Kota Binjai. Namun keberadaannya

RTH Publik Lapangan Sepakbola di Kel.Payaroba Kec. Binjai Barat

Luas : ± 0,46 ha

RTH Publik Lapangan Sepakbola di Ke.Kebun Lada Kec. Binjai Utara Luas : ± 073 h

Aspek Teknis Per Sektor VI . 30 terkonsentrasi hanya pada satu kawasan di jalan Veteran / Jl. Sudirman Kelurahan Tangsi, Kecamatan Binjai Kota. Karena penataanya belum maksimal maka berpotensi mengganggu kelanjaran lalu lintas dan karean banyak pedagang kaki lima yang memanfaatkan kawasan tersebut.

Gambar 6.8. Kondisi RTH Publik Kec. Binjai Kota Yang Terkonsentrasi di Satu Kawasan

 Kawasan Tradisional Bersejarah

Kondisi kawasan-kawasan tradisional dan bersejarah yang ada di Kota Binjai sebagai bagian dari rencana pengembangan kawasan bersejarah pada sektor PBL adalah sebagai berikut.

1. Gedung Pengadilan Agama Kota Binjai.

2. Masjid Agung BinjaiTugu Perjuangan 1945.

3. Tugu Perjuangan 1945.

Berlokasi di Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Kartini, Kecamatan Binjai Kota, merupakan bangunan

peninggalan dari jaman penjajahan Belanda dan telah ada pada tahun 1930-an. Gedung ini telah ditetapkan sebagai salah satu bangunan Cagar Budaya Kota Binjai Taman Balita

Taman Remaja Lapangan Merdeka

Taman PKK

Merupakan mesjid bersejarah yang tealah ada sejak jaman kesultanan Langkat yang

Aspek Teknis Per Sektor VI . 31 4. Komplek Stasiun Kereta Api Binjai

5. Keleteng Setia Budha

6. Kawasan rumah-rumah tingaal tua

Keberadaan bangunan-bangunan dan kawasan bersejarah tersebut sudah selayaknya dijaga dan direvitalisasi dalam sebuah bingkai peraturan pelestarian cagar budaya guna mempertahankan fungsinya sebagai bagian identitas sejarah Kota Binjai sekaligus sebagai potensi pengembangan kegiatan wisata edukasi sejarah, arsitektur dan seni yang ada di Kota Binjai.

Berupa banguan dengan fungsi rumah tinggal dan rumah toko sisa peninggalan jaman penjajahan Belanda di sekitar Pasar Tavip dan Jalan HOS. Cokroaminoto.

Merupakan kompleks bangunan peribadatan bagi etnis Cina di Kota Binjai dengan gaya arsitektur Tiongkok dan sering dilaksanakan atraksi kebudayaan tari Barongsai.

Sampai saat ini gedung Stasiun Kereta Api peninggalan jaman Belanda ini masih dalam kondisi bauk dan berfungsi sebagai stasiun penumpang Kereta Api untuk Jalur Kereta api Kota Medan - Bnjai yang dikelola oleh PJKA. Berada pada persimpangan menuju Pusat Kota Binjai dan pada Jalan Lintas Sumatera sebagai Lambang pintu gerbang Kota Binjai yang menyambut kedatangan pengunjung dari luar kota. Lokasi tugu tersebut merupakan tempat Pengibaran sang saka Merah Putih pada tanggal 6 September 1945 oleh pengurus dan anggota Muhammadiyah serta masyarakat umum.

Aspek Teknis Per Sektor VI . 32

 Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan

Kegiatan-kegiatan pemberdayaan komunitas yang telah dilaksanakan di Kota Binjai selama ini merupakan bentuk Bantuan Langsung Mandiri (BLM) pada kegiatan fisik pembangunan infrastruktur bidang Pekerjaan Umum guna mendukung pemenuhan SPM yang dipersyaratkan untuk menekan angka kemiskinan di kawasan perkotaan di Kota Binjai melalui program P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan).

Kegiatan-kegiatan pemberdayaan pada lingkungan masyarakat tersebut telah terealisasi dari tahun 2008 sampai tahun 2014 melalui program PNPM Mandiri Perkotaan di seluruh kecamatan di Kota Binjai seperti dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 6.18. Kegiatan pemberdayaan Komunitas dalam Penanggualangan

Kemiskinan di Kota

Binjai tahun 2008-2013

Sumber : website PPN/Bapenas : simpadu.pnpm. bapenas.go.id, 201

Gambar 6.9. Kegiatan Masyarakat pada salah satu lokasi PNPM Perkotaan di Kota Binjai

Pembangunan jalan oleh masyarakat pada salah satu lokasi program permukiman perkotaan Binjai (PNPM) di Kelurahan Rambung Dalam, Kecamatan Binjai Selatan

Aspek Teknis Per Sektor VI . 33 B. Permasalahan dan Tantangan

Permasalahan-permasalah dan tantangan yang dihadapi pada sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan di Kota Binjai secara umum adalah sebagai berikut:

1. Penataan Lingkungan Permukiman:

 Masih kurang diperhatikannya kebutuhan sarana sistem proteksi kebakaran;

 Belum siapnya landasan hukum dan landasan operasional berupa RTBL untuk lebih

melibatkan pemerintah daerah dan swasta dalam penyiapan infrastruktur guna pengembangan lingkungan permukiman;

 Menurunnya fungsi kawasan dan terjadi degradasi kawasan kegiatan ekonomi utama kota,

kawasan tradisional bersejarah serta heritage;

 Masih rendahnya dukungan Pemda dalam pembangunan lingkungan permukiman yang

diindikasikan dengan masih kecilnya alokasi anggaran daerah untuk peningkatan kualitas lingkungan dalam rangka pemenuhan SPM.

2. Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara:

 Masih adanya kelembagaan bangunan gedung yang belum berfungsi efektif dan efisien

dalam pengelolaan Bangunan Gedung dan Rumah Negara;

 Masih kurangnya perda bangunan gedung untuk Kota Binjai sebagai kota kecil yang

sedang berkembang menjadi kota besar;

 Meningkatnya kebutuhan NSPM terutama yang berkaitan dengan pengelolaan dan

penyelenggaraan bangunan gedung (keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan);

 Kurang ditegakkannya aturan keselamatan, keamanan dan kenyamanan Bangunan Gedung

termasuk pada daerah-daerah rawan bencana;

 Prasarana dan sarana hidran kebakaran banyak yang tidak berfungsi dan kurang mendapat

perhatian;

 Lemahnya pengaturan penyelenggaraan Bangunan Gedung di Kota Binjai serta rendahnya

kualitas pelayanan publik dan perijinan;

Gambar 6.10. Kondisi bangunan yang tidak tertata di pusat Kota Binjai Isu Kecenderungan Perkembangan Kota Binjai tanpa adanya Perda Bangunan Gedung

 Masih banyak Bangunan Gedung Negara yang belum memenuhi persyaratan keselamatan,

keamanan dan kenyamanan;

 Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara kurang tertib dan efisien;

 Masih ada aset negara yang tidak teradministrasikan dengan baik.

Ada kecenderungan terjadinya penurunan kualitas lingkungan permukiman khususnya di lingkaran pusat kota (inner city) dan terjadi kecenderungan terbentuknya permukiman kumuh di beberapa spot permukiman khususnya di pusat kota akibat tidak tertatanya kawasan pusat kota

Aspek Teknis Per Sektor VI . 34 3. Penyelenggaraan Sistem Terpadu Ruang Terbuka Hijau:

 Masih kurang diperhatikannya kebutuhan sarana lingkungan hijau/terbuka yang lebih

tertata khususnya pada kawasan permukiman penduduk sehingga penanganan RTH hanya terkonsentrasi di pusat kota Binjai.

4. Kapasitas Kelembagaan Daerah:

 Masih terbatasnya kesadaran aparatur dan SDM pelaksana dalam pembinaan

penyelenggaraan bangunan gedung termasuk pengawasan;

 Masih perlunya peningkatan dan pemantapan kelembagaan bangunan gedung di Kota

Binjai dalam fasilitasi penyediaan perangkat pengaturan.

Identifikasi terhadap berbagai kondisi dan bermasalahan yang telah dijelaskan diatas selanjutnya dapat dianalisis melalui analisis SWOT seperti dijelaskan pada tabel berikut.

Aspek Teknis Per Sektor VI . 35

Tabel 6.19. Identifikasi Permasalahan dan Tantangan Penataan Bangunan dan Lingkungan Kota Binjai menurut SPPIP Kota Binjai

Kondisi, Masalah Dan Potensi Bidang Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Kondisi Eksisting Masalah/Kelemahan/Weakness Potensi/Kekuatan/Strength

1. Secara umum kuantitas ruang terbuka hijau (jalur sempadan, lahan pertanian, perkebunan, taman kota, taman lingkungan, dan lapangan olah raga) kota binjai lebih dari 30 %.

2. Khusus taman kota dan lingkungan secara kuantitas dan kualitas masih kurang (- 30 %).

3. Adanya intervensi kepentingan ekonomi kepada ruang – ruang terbuka publik.

4. Pengelolaan ruang terbuka hijau belum melibatkan partisipasi sektor swasta dan masyarakat.

1. Kesadaran pemda maupun masyarakat akan pentingnya ruang terbuka hijau masih kurang 2. Kurang efektifnya aturan tentang pengadaan dan

pengelolaan rth di tingkat lingkungan permukiman maupun di tingkat kota

3. Terbatasnya tenaga pengelola pada dinas yang membidangi RTH Kota Binjai

4. Terbatasnya personal dan peralatan untuk

pemeliharaan dan perluasan ruang terbuka publik / taman kota.

1. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan ruang – ruang publik khususnya rth berupa taman kota maupun taman lingkungan serta prasarana olah raga (lapangan olah raga skala lingkungan)

2. Adanya lembaga / instansi yang menangani taman kota / ruang publik kota

3. Meningkatnya pihak pengembangan yang

memperhatikan / peduli pada kebutuhan ruang – ruang publik skala lingkungan.

Hambatan, Peluang Dan Rekomendasi Bidang Perumahan Dan Permukiman

Hambatan/Threat Peluang/Opportunities Rekomendasi

1. Terbatasnya pendanaan pemda berkaitan dengan pengembangan ruang terbuka publik

2. Kurangnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dan pengembangan ruang terbuka hijau publik skala lingkungan

3. Adanya intervensi kepentingan ekonomi ke ruang terbuka publik (warung, cafe, kios dsb)

1. Masih adanya lahan terbuka yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ruang terbuka untuk publik baik skala kota maupun skala lingkungan

2. Meningkatnya sektor swasta yang dapat dilibatkan dalam pengelolaan ruang terbuka hijau publik 3. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan

ruang tebuka publik berupa taman maupun lapangan olah raga

1. Peningkatan ruang terbuka hijau publik maupun privat baik secara kuantitas maupun kualitas

2. Peningkatan peran instansi terkait pengelolaan RTH / taman kota

3. Peningkatan peran sektor swasta dan masyarakat dalam pengelolaan dan pengembangan ruang terbuka hijau (taman dan lapangan olah raga)

4. Efisiensi penerapan pengendalian dan pengawasan bangunan sesuai dengan aturan yang berlaku tentang garis sempadan dan koefisien bangunan (GSB, KDB dan

KLB serta zoning regulation)

Aspek Teknis Per Sektor VI . 36 6.2.3. Analisis Kebutuhan Penataan Bangunan dan Lingkungan

Analisis kebutuhan Program dan Kegiatan untuk sektor PBL Kota Binjai selanjutnya mengacu pada Lingkup Tugas DJCK untuk sektor PBL yang dinyatakan pada Permen PU No. 8 Tahun 2010, kegiatan dari Direktorat PBL meliputi:

Dokumen terkait