ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
C. HASIL TAMBAHAN PENELITIAN
C.1. Gambaran Locus of Control Kelompok Emo di Kota Medan
Berdasarkan Usia Subjek Penelitian
Berdasarkan usia, gambaran locus of control kelompok emo dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 7
Locus of Control Kelompok Emo Berdasarkan Usia Subjek Penelitian
Usia N Persentase N LOC
Internal N LOC Eksternal <18 18-21 22-25 >25 7 24 10 0 17.07% 58.54% 24.39% 0% 2 11 9 0 5 13 1 0 Jumlah 41 100% 22 19
Dari tabel diatas, kita dapat mengurutkan persentase usia subjek dan kecenderungan locus of control subjek penelitian dimana subjek yang berusia antara 18 sampai 21 tahun, yang menjadi mayoritas kelompok (58.54%).
Kelompok usia kedua, antara 22 sampai 25 tahun (24.39%). Dan kelompok usia dibawah 18 tahun (17.07%).
C.2. Gambaran Locus of Control Kelompok Emo di Kota Medan
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Subjek Penelitian
Berdasarkan usia, gambaran locus of control kelompok emo dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 8
Locus of Control Kelompok Emo Berdasarkan Tingkat Pendidikan Subjek
Tingkat Pendidikan N Persentase N LOC Internal N LOC Eksternal SMA Perguruan Tinggi 22 19 56.09% 43.9% 7 15 15 4 Jumlah 41 100% 22 19
Tabel di atas memberikan informasi yang cukup berimbang bila dibandingkan dengan hasil pengukuran berdasarkan usia subjek penelitian. Jumlah subjek dapat dikelompokkan dalam kelompok eksternal dan internal dimana dalam locus of control internal yang memiliki persentase keseluruhan 56,09% terdapat 21 subjek yang terdiri atas 8 subjek dengan tingkat pendidikan terakhir SMA dan 14 subjek dengan tingkat pendidikan terakhir perguruan tinggi dan setingkatnya; dan locus of control eksternal dengan persentase keseluruhan 43,9% yang terdiri dari 15 subjek SMA sederajat dan 4 subjek dengan tingkat pendidikan terakhir perguruan tinggi.
Berdasarkan informasi dari tabel di atas, dapat kita lihat bahwa jumlah subjek yang dikelompokkan dalam locus of control internal lebih banyak berasal
dari tingkat pendidikan perguruan tinggi dan locus of control eksternal lebih banyak berasal dari latar belakang tingkat pendidikan SMA sederajat.
Dari kedua tabel hasil tambahan penelitian di atas dapat kita lihat bahwa keberimbangan hasil tidak hanya terdapat pada hasil akhir penelitian mengenai locus of control, tetapi juga pada hasil tambahan penelitian. Hal ini di dukung dengan hasil angket emo yang memberikan hasil bahwa hanya ciri fisik saja yang benar-benar di adopsi oleh kelompok emo di kota Medan dari kelompok asli emo ini.
D. PEMBAHASAN
Asumsi dasar yang mencetuskan penelitian ini adalah kenyataan bahwa belakangan ini kelompok emo sedang berkembang pesat tidak hanya di kota-kota besar se-Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Yang menjadi permasalahan umum adalah bahwa kelompok ini ternyata kemudian dituduh membawa pengaruh buruk terhadap anggota kelompoknya karena kelompok emo mendorong sensitifitas emosional anggota kelompoknya secara berlebihan dan menurut publik terlalu negatif (Radin, 2008). Padahal mayoritas penganut emo ini, berdasarkan pengamatan peneliti di Medan, ternyata adalah remaja laki-laki yang dalam banyak kelompok sosial budaya diharapkan lebih kurang memperhatikan emosi tertentu, apalagi ternyata kesensitifan emosi ini disebut-sebut menjadi pemicu hal yang lebih besar lagi, kecenderungan bunuh diri pada anggotanya (Yancy, 2008).
Bila dikaitkan dengan locus of control, ternyata kecenderungan bunuh diri dipengaruhi oleh kurangnya kontrol terhadap dunia luar yang dianggap sangat mempengaruhi kehidupan individu (Lifestrong, 2008), hal ini biasa disebut locus
of control eksternal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Rotter (dalam Fletcher & Clark, 2001), ternyata artis (termasuk musisi) memiliki kemampuan menanggapi emosi yang lebih besar bila dibandingkan dengan profesi yang lebih mengarah kepada ilmu secara akademis.
Berdasarkan kedua asumsi di atas, dapat disimpulkan bahwa musik dan gaya hidup emo yang emosional membuat musisi emo lebih mudah menyerap emosi yang terkandung dalam karya seninya, termasuk emosi yang mengarahkan individu pada perilaku destruktif pada diri sendiri. Perilaku destruktif terhadap diri sendiri ini dipercaya terjadi karena individu merasa tidak dapat mengendalikan lingkungan disekitarnya yang merupakan manifestasi locus of control eksternal (Lifestrong, 2008). Hal inilah yang menjadi dasar timbulnya pertanyaan dalam penelitian ini, yaitu apakah musik dan gaya hidup emo yang secara teoritis memfasilitasi terbentuknya locus of control eksternal memang mempengaruhi terbentuknya locus of control eksternal pada anggota kelompok yang menjadi personil dalam band-band emo di kota Medan.
Gambaran kelompok emo di kota Medan berdasarkan penelitian ini menunjukkan kesamaan dalam karakteristik fisik dan musikal saja. Subjek penelitian cenderung lebih memilih untuk setuju dengan item-item dari karakteristik fisik seperti potongan rambut spikey (87,8%), penggunaan aksesoris wanita (82,9%), mengoleksi barang-barang bermerk terkenal (75,6%), berusaha tampil sebagai emo (78%); dan karakteristik musikal seperti mengetahui latar belakang musik emo (100%), subjek mengetahui adanya dramatisasi dalam lagu- lagu emo (75,6%), alasan subjek bermain musik emo adalah untuk menyalurkan
emosinya (80,5%). Secara keseluruhan, subjek dalam penelitian ini kurang setuju dengan karakteristik psikologis emo, terlihat dari kecenderungan mereka untuk tidak memilih item-item dari kelompok karakteristik psikologis seperti fisik pria emo menyerupai fisik seorang wanita (39%), terkadang pria emo menyukai sesamanya (17,1%), musik emo terkadang membuat subjek menangis (34,1%). Hal ini mungkin berhubungan dengan konsep budaya timur yang diterapkan di Indonesia yang berbeda dengan budaya barat, tempat asal kelompok ini. Konsep budaya timur masih menerapkan maskulinitas tradisional yang menekankan atribut-atribut seperti bersikap aktif, arogan, memiliki kemampuan, kokoh dan atribut-atribut lain semacamnya pada pria (Williams & Best, dalam Matsumoto & Juang, 2008). Atribut-atribut ini kemudian mungkin membuat pria emo di Medan kesulitan untuk setuju dan menjadi emo berdasarkan karakter psikologis kelompok emo pada umumnya.
Hasil penelitian ini juga ternyata memberikan jawaban yang berbeda dengan asumsi awal bahwa kecenderungan eksternal pada musik emo kemudian akan mendorong anggota kelompok menjadi lebih eksternal. Hal ini terlihat dari hasil pengukuran dengan skala locus of control yang menunjukkan bahwa ternyata tidak terdapat kecenderungan subjek untuk lebih memilih item-item yang bersifat eksternal, bahkan subjek secara keseluruhan cenderung menggambarkan locus of control internal dalam kelompok emo di kota Medan.
Berdasarkan hasil penelitian seperti yang dapat dilihat pada tabel 5, dapat kita lihat bahwa nilai pengkategorian kelompok terendah di mulai dari angka yang tidak berimbang dengan nilai kategori teratas. Hal ini disebabkan oleh pemilihan
item yang cenderung lebih banyak ke arah item internal pada kelompok yang menyebabkan bergesernya nilai mean yang seharusnya 18,5 menjadi 23,06. bahkan dalam pengkategorian yang cenderung sempit semakin ke atas, jumlah subjek yang tergolong internal tetap dapat mengimbangi jumlah subjek eksternal.
Dari penyebaran ini terlihat jelas bahwa tidak ada kaitan langsung antara locus of control dengan kelompok emo. Kelompok emo tidak otomatis mempengaruhi anggotanya menjadi lebih eksternal, hal ini mungkin berhubungan dengan hasil penelitian berdasarkan angket gambaran kelompok emo yang memberikan gambaran bahwa kelompok emo di kota Medan ternyata hanya memiliki kesamaan musik dan fashion dengan kelompok emo secara keseluruhan yang ternyata tidak mempengaruhi cara pandang anggota kelompok terhadap kontrol dirinya. Kelompok emo di kota Medan tidak memiliki gambaran gaya hidup atau kesensitifan berlebih (Marni, 2008; Yancy, 2008; Radin, 2008) seperti yang sering di gambarkan mengenai kelompok ini secara luas. Hal ini mungkin juga berhubungan dengan tidak terfasilitasinya karakteristik psikologis emo seperti yang telah di jelaskan sebelumnya akibat budaya yang dianut oleh masyarakat kota Medan. Konsep gender maskulin tradisional yang masih melekat pada masyarakat biasanya akan menekan efek emosi terhadap pria (Shaffer, 2005). Sementara emosi merupakan stimulus antesenden yang memfasilitasi terbentuknya locus of control (Robinson dan Shaver, dalam Lina dan Rasyid, 1997), yang bila semakin memiliki pengaruh terhadap individu akan mendorong individu untuk cenderung memiliki locus of control yang eksternal (Lifestrong, 2008).
Bila dikaitkan dengan hasil tambahan penelitian yang menunjukkan bahwa ternyata kelompok usia antara 18 sampai 21 tahun menjadi mayoritas kelompok emo, dapat ditarik kesimpulan yang menghubungkan keanggotaan dalam kelompok sebagai usaha pencarian identitas diri yang menjadi tugas psikososial remaja seperti yang dikemukakan oleh Erikson (dalam Fletcher & Clark, 2001). Menurut Erikson, usaha mendekat dengan orang lain pada usia remaja dan dewasa awal seperti ini memiliki tujuan untuk menemukan identitas diri agar dapat menyesuaikan diri dengan orang yang ada di sekitar kita. Penjelasan ini menegaskan alasan keanggotaan dalam kelompok mungkin semata-mata hanya usaha untuk mengeksplorasi kemungkinan mengenal lebih banyak kelompok dan gambaran diri ideal selama pembentukan sebuah pengertian mengenai identitas diri individu. Hal ini dikuatkan oleh pendapat Santosa (1999) yang menyatakan kelompok orang-orang sebaya biasanya bertujuan untuk membentuk identitas lewat keleluasaan untuk menyatakan diri, perasaan saling menghargai dan kesamaan status.
Berdasarkan hasil penelitian berdasarkan tingkat pendidikan akhir, subjek yang masuk dalam kategori locus of control internal rendah pada kelompok pendidikan SMA (7) dan tinggi pada kelompok pendidikan perguruan tinggi (15). Sebaliknya, kategori locus of control eksternal tinggi pada kelompok SMA (15) dan rendah pada kelompok perguruan tinggi (4). Hal ini mungkin berhubungan dengan pendapat Weiner (dalam Woolfolk, 1999) yang mengatakan bahwa secara tidak langsung, pengetahuan yang lebih banyak membuat individu lebih yakin dapat mengendalikan dirinya sendiri dan hasil yang didapatnya adalah hasil dari
perbuatannya sendiri. Pendidikan yang lebih tinggi tentu dapat di asosiasikan dengan pengetahuan yang lebih banyak. Dan hal ini tidak lepas dari hasil penelitian tambahan sebelumnya mengenai hubungan locus of control dengan usia subjek, dimana seperti yang kita tahu, terdapat batasan umum mengenai usia sekolah. Sehingga terdapat hubungan yang timbal-balik antara usia yang belum atau sudah menemukan identitas diri dengan tingkat pendidikan yang tinggi atau sebaliknya dalam diri subjek penelitian ini.
BAB V