Kondisi Geografis dan Ekonomi
Desa Kelangdepok adalah salah satu dari sembilan belas desa yang terdapat di Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Desa ini termasuk dalam daerah dataran rendah yang memiliki ketinggian rata-rata antara 6-15 meter di atas permukaan laut. Curah hujan rata-rata selama 1 tahun di desa ini adalah 302 mm. Desa Kelangdepok terbagi menjadi 2 Dusun yakni Dusun Kelang dan Dusun Depokan. Kemudian terbagi menjadi 4 RW (Rukun Warga), dan 18 RT (Rukun Tetangga). Adapun batas-batas wilayah Desa Kelangdepok adalah sebagai berikut:
a. Sebelah utara : Desa Sragi b. Sebelah timur : Desa Pendowo c. Sebelah selatan : Sungai Comal d. Sebelah barat : Desa Muncang
Tabel 1 Jumlah bangunan infrastruktur desa dan fasilitas lainnya di Desa Kelangdepok per tahun 2011
Bangunan Infrastruktur/Fasilitas Jumlah Unit
Kantor Desa 1
Balai Desa/Balai Pertemuan 1
Kantor Sekretariat BPD 1
Kantor Sekretariat LPMD 1
Kantor Sekretariat Karang Taruna 1
Taman Kanak-kanak (TK) 1
Sekolah Dasar (SD) 3
Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1
Madrasah Diniyah 2
Poliklinik 1
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) 1
Posyandu 5
Masjid 1
Surau/Langgar 10
Pos PAUD 1
Lapangan Sepak Bola 1
Lapangan Bola Voli 1
Lapangan Bulu Tangkis 1
Lapangan Bola Basket 1
Jembatan 4
Pos Keliling 1
Koperasi 1
Pos Hansip 1
32
Adapun luas wilayah Desa Kelangdepok adalah sekitar 279 Ha. Sebagian besar lahan di Desa Kelangdepok digunakan untuk persawahan. Sekitar 47 persen (131,13 Ha) wilayah desa merupakan persawahan. Selain wilayah persawahan tersebut, lahan di desa digunakan untuk bangunan pemukiman warga masyarakat, infrastruktur desa, dan juga fasilitas lainnya.
Jumlah Kepala Keluarga (KK) di Desa Kelangdepok adalah 955 KK. Total penduduk seluruhnya adalah 2 815 jiwa yang terdiri dari 1 453 jiwa penduduk perempuan dan 1 362 jiwa penduduk laki-laki. Sedangkan jumlah warga masyarakat yang tercatat dalam daftar pemilih tetap adalah sebanyak 2 537 jiwa. Jumlah keluarga yang bekerja di sektor pertanian sebanyak 329 keluarga, sedangkan jumlah keluarga yang anggota keluarganya ada buruh tani sebanyak 476 keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa sumber utama penghasilan sebagian besar masyarakat Desa Kelangdepok adalah sektor pertanian terutama di pertanian padi. Sisa jumlah lainnya bekerja di sektor perdagangan yang meliputi usaha warung kelontong, usaha warung makanan dan minuman, sektor industri di usaha konveksi, serta sebagai kalangan pegawai negeri sipil. Selanjutnya, rata-rata tingkat pendidikan warga masyarakat Desa Kelangdepok adalah lulusan jenjang Sekolah Menengah Atas.
Karakteristik Responden
Responden pada penelitian ini berjumlah 39 orang. Responden adalah anggota kelembagaan yang tercatat sebagai panitia pemilihan Kepala Desa di Desa Kelangdepok pada tahun 2010. Pembagian anggota kelembagaan yang menjadi panitia pemilihan Kepala Desa ialah menurut status keanggotaan responden dalam sebuah kelembagaan tertentu. Responden akan dibedakan menjadi responden yang berasal dari kelembagaan formal desa dan juga yang berasal dari kelembagaan informal desa. Pada penelitian ini, jumlah responden yang berasal dari kelembagaan formal adalah sebanyak 27 orang yang terdiri dari 9 anggota BPD, 9 perangkat desa, 6 anggota karang taruna, 1 anggota LPMD, dan 2 anggota dari pihak RT/RW. Jumlah responden yang berasal dari kelembagaan informal adalah sebanyak 12 orang yang terdiri 10 anggota paguyuban warga desa, dan 2 anggota dari tokoh perempuan yang juga merupakan anggota dari organisasi masyarakat keagamaan (Gambar 3).
Gambar 3 Karakteristik responden berdasarkan status keanggotaan
27 69,23 12 30,77 0 20 40 60 80 Jumlah Persentase
Status Keanggotaan
Anggota Formal Anggota Informal33 Responden terdiri dari individu yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki yakni sebanyak 92.3 persen (36 orang dari 39 orang), dan 7.7 persen (3 orang dari 39 orang) merupakan responden perempuan. Banyaknya jumlah responden laki-laki pada penelitian ini dikarenakan bahwa dalam panitia pemilihan Kepala Desa, kaum laki-laki diyakini memiliki tenaga fisik, stamina, dan gerak cekatan yang lebih apabila dibandingkan dengan kaum perempuan. Selain itu, biasanya kaum perempuan hanya diikutsertakan untuk mengurus keperluan dekorasi, dokumentasi, dan juga konsumsi.
Penggolongan status keanggotaan ini nantinya akan memperlihatkan sejauhmana anggota panitia memberikan kontribusinya dalam serangkaian kegiatan pemilihan Kepala Desa. Pemberian kontribusi juga tidak terpisahkan dari posisi atau kedudukan apa yang disandang oleh masing-masing anggota kelembagaan, baik formal maupun informal. Nantinya akan terlihat keefektifan dari keduanya, yakni antara anggota kelembagaan formal dan anggota kelembagaan informal. Keefektifan ini berdasarkan pada kesesuaian antara pemberian tanggung jawab dengan realisasi teknis di lapangannya dari beberapa faktor yang mempengaruhinya.
Tingkat pendidikan sendiri, anggota kelembagaan formal seperti BPD dan LPMD, hampir semua anggotanya merupakan lulusan perguruan tinggi, sedangkan kalangan perangkat desa didominasi dengan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Anggota kelembagaan informal, mayoritas merupakan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Dasar (SD). Berdasarkan tingkat pendidikan, responden dari anggota kelembagaan formal cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang berasal dari keanggotaan lembaga informal. Hal ini dikarenakan pada kelembagaan formal seperti lembaga desa, syarat dalam rekruitmen anggotanya, tingkat pendidikan terakhir yang harus ditempuh adalah lulusan Sekolah Menengah Atas/Sederajat. Lain halnya dengan anggota kelembagaan informal yang tidak bertumpu pada tingkat pendidikan terakhir yang ditempuh pada perekrutan anggota yang ada.
Gambar 4 Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan 0 10 20 30 40 50 60 70
Anggota Formal Anggota Informal
Per se nt as e R es ponden Lulus SD Lulus SMP Lulus SMA
34
Tingkat pendidikan dari anggota lembaga formal yang berjumlah 27 orang terdiri dari lulusan perguruan tinggi sebesar 51.85 persen (14 orang), lulusan SMA 11 sebesar 40.74 persen (11 orang), dan juga lulusan SMP sebesar 7.41 persen (2 orang). Sedangkan untuk tingkat pendidikan dari anggota lembaga informal yang berjumlah 12 orang, terdiri dari lulusan SD sebesar 58.33 persen (7 orang), lulusan SMP sebesar 33.33 persen (4 orang), dan lulusan perguruan tinggi sebesar 8.34 persen (1 orang) (Gambar 4).
Profil Kelembagaan Formal dan Kelembagaan Informal Desa Profil Kelembagaan Formal
a. Badan Permusyawaratan Desa (BPD)
Merupakan sebuah lembaga perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa. Selain itu, BPD juga menjadi mitra Kepala Desa dalam menetapkan peraturan desa, merancang Alokasi Dana Desa (ADD), serta penyelenggaraan pemerintahan lainnya, seperti pemilihan Kepala Desa. Jumlah anggota BPD Desa Kelangdepok ialah sebanyak 9 (sembilan) orang, yang terdiri dari seorang ketua, seorang sekretaris, seorang wakil ketua, dan 6 (enam) orang lainnya sebagai anggota. Pemilihan anggota BPD ini melalui musyawarah bersama berdasarkan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki, dimana kandidat dari pengurus mewakili dusun, ataupun mewakili Rukun Warga (RW) yang ada di Desa Kelangdepok. Jumlah RW yang ada sebanyak 4 (empat) RW, kandidat anggota BPD meliputi 2 (dua) orang dari RW 01, 2 (dua) orang dari RW 02, 3 (tiga) orang dari RW 03, dan 2 (dua) orang dari RW 04. Perbedaan jumlah kandidat dari RW 03 dengan RW lainnya, yakni 3 (tiga) orang disebabkan karena wilayah RW 03 lebih luas dibandingkan dengan RW yang lainnya, sehingga keterwakilan warga tidak terlalu timpang.
b. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD)
Merupakan salah satu lembaga kemasyarakatan sebagai mitra kerja pemerintah desa untuk mengelola, merencanakan dan melaksanakan pembangunan dengan menggali swadaya gotong-royong masyarakat desa. Lembaga ini juga bertugas untuk menyusun rencana pembangunan yang berpartisipatif, menggerakkan swadaya gotong-royong masyarakat, dan melaksanakan pengendalian pembangunan. Tetapi, dalam penyelenggaraan pemilihan Kepala Desa, salah satu anggota LPMD menjadi anggota panitia pemilihan Kepala Desa. Hal ini dikarenakan pemilihan Kepala Desa berhubungan dengan gotong-royong masyarakat, serta salah satu awal dari pengendalian pembangunan melalui pemilihan pemimpin yang nantinya juga melaksanakan program-program pembangunan. Anggota LPMD yang direkrut dari kalangan masyarakat melalui musyawarah bersama berdasarkan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki. Jumlah anggota LPMD Desa Kelangdepok ialah sebanyak 9 (sembilan) orang, yang terdiri dari seorang ketua, seorang sekretaris, seorang bendahara, dan 6 (enam) orang lainnya sebagai anggota.
35 c. Aparat Desa/Perangkat Desa
Merupakan unsur penyelenggara pemerintahan desa guna membantu Kepala Desa dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Dalam pelaksanaan tugasnya, perangkat desa bertanggung jawab penuh terhadap Kepala Desa. Jumlah perangkat desa yang ada di Desa Kelangdepok adalah sebanyak 9 (sembilan) orang belum termasuk sekretaris desa, yang terdiri dari seorang bendahara desa, seorang polisi desa, seorang lebe, seorang kaur pembangunan, seorang kaur pelayanan masyarakat, dan empat kepala dusun.
d. Karang Taruna
Merupakan salah satu lembaga kemasyarakatan yang menjadi wadah pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat. Karang Taruna di Desa Kelangdepok bernama “Mekar”. Jumlah anggota Karang Taruna yang ada di Desa Kelangdepok ialah sebanyak 10 (sepuluh) orang, yang terdiri dari seorang ketua, seorang sekretaris, seorang bendahara, dan 7 (tujuh) orang lainnya sebagai anggota.
Profil Kelembagaan Informal Desa a. Paguyuban Warga
Merupakan salah satu lembaga yang dibentuk oleh kalangan masyarakat setempat, juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan aspirasinya tentang isu-isu yang berhubungan dengan berbagai bentuk praktik penyelenggaraan pemerintahan desa. Nantinya akan diteruskan sampai lembaga formal desa. Anggota dari paguyuban ini terdiri dari berbagai kalangan masyarakat, seperti masyarakat biasa, kalangan profesi, atau mantan pejabat desa sekalipun. Jumlah dari anggota paguyuban ini pun lebih dari 10 (sepuluh) orang. b. Organisasi Masyarakat Keagamaan
Merupakan lembaaga atau perkumpulan warga yang tidak terikat dengan wewenang resmi dari pemerintah desa, dan berkumpul berdasarkan kesamaan kepercayaan dan keyakinan yang bertujuan untuk menjalin tali silaturahmi dan persaudaraan. Lembaga ini juga menjadi wadah bagi anggotanya untuk mengembangkan aspirasinya, dan dapat pula ikut mengawasi serta membantu pelaksanaan praktik penyelenggaraan pemerintahan desa. Perkumpulan ini meliputi perkumpulan Muhammaddiyah, perkumpulan Nahdatul Ulama (NU), perkumpulan Fathayat, perkumpulan Muslimat, dll. Biasanya pada perkumpulan Fathayat dan perkumpulan Muslimat, hampir seluruh anggotanya terdiri dari kalangan masyarakat golongan tua.
36
Latar Belakang Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa Baru
Tahun 2010, tepatnya pada bulan Maret, yakni setelah kurang dari 2 (dua) tahun masa jabatan Kepala Desa. Desa Kelangdepok mengalami sebuah krisis pemerintahan, sang Kepala Desa terlibat dalam sebuah masalah penyimpangan tugas dan wewenangnya sebagai seorang pemimpin. Penyimpangan yang berkaitan dengan anggaran dana desa, yakni penyelewengan Alokasi Dana Desa (ADD) dan juga tanah bengkok desa. Munculnya masalah ini memicu kalangan masyrarakat desa baik dari kelembagaan formal dan informal untuk melakukan pergerakan dalam menyelesaikan masalah tersebut, juga memberikan solusi terbaik demi mengembalikan keadaan pemerintahan agar bisa stabil kembali. Kronologi pergerakan penyelesaian masalah yang terjadi adalah sebagai berikut; pada bulan Maret 2010, kalangan masyarakat desa membentuk Tim 17 yang terdiri dari para tokoh masyarakat desa, dan berjumlah sebanyak 17 (tujuh belas) orang. Tim 17 ini dibentuk untuk menindak lanjuti penyelesaian masalah sang Kepala Desa lama.
Tim 17 yang telah dibentuk, berangkat ke kantor dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) Pemalang dengan menggunakan bus pada jam 8 pagi untuk menghadiri pertemuan dengan Komisi A (pemerintahan) dan pemerintah Kabupaten Pemalang. Pada pertemuan ini, Komisi A memberikan dukungan atas pemberhentian Kepala Desa Kelangdepok, serta diharapkan bahwa proses pemberhentiannya dilakukan sesegera mungkin. Pihak dari eksekutif memberikan laporan hasil inspeksi yang menyatakan bahwa Kepala Desa memang terbukti menyalahgunakan sejumlah uang dari Alokasi Dana Desa (ADD). Berdasarkan hasil ini, selanjutnya akan segera dilakukan proses pemberhentian yang dimulai dari teguran pertama, kedua, dan ketiga. Namun, sebenarnya telah ada laporan yang menyatakan bahwa Bupati telah memberikan teguran pertama kepada Bapak A, sang Kepala Desa lama. Teguran tersebut menyinggung tentang tindakan sang Kepala Desa yang telah melakukan tindakan penyimpangan, yakni penyalahgunaan Alokasi Dana Desa (ADD), dan juga penyalahgunaan tanah bengkok desa.
Penyalahgunaan ADD ini telah menimbulkan akibat yang sangat serius, pertama; tidak adanya laporan pertanggung jawaban Kepala Desa tahun 2009 kepada masyarakat dan juga BPD, dan kedua; Pemerintah Desa Kelangdepok tidak bisa membuat Perdes RAPBDes (Peraturan Desa tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Biaya Desa) tahun 2010, sehingga proses pembangunan terhenti di tahun ini sama seperti yang terjadi pada tahun 2009. Teguran ketiga dilayangkan kepada sang Kepala Desa lama setelah teguran pertama dan teguran kedua tidak direspon. Teguran terakhir ini meminta agar sang Kepala Desa lama segera untuk mengundurkan diri. Kerjasama antara Tim 17 dengan BPD, pihak Kecamatan, dan juga Pemerintah Kabupaten menuai hasil, akhirnya Bapak A, sang Kepala Desa lama mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Desa Kelangdepok. Berdasarkan pengunduran diri ini, BPD akan melaksanakan rapat untuk mengajukan surat pemberhentian jabatan Kepala Desa secara resmi ke Pemerintah Kabupaten juga mengajukan nama pejabat yang sementara menggantikan posisi Kepala Desa. Tim 17 akan dibubarkan jika surat keputusan (SK) dari Bupati Pemalang tentang pemberhentian Kepala Desa telah diterbitkan, dan lama waktu yang dibutuhkan adalah 1 (satu) bulan.
37 Satu bulan kemudian, pada awal bulan April SK Bupati Pemalang tentang pemberhentian Kepala Desa telah diterbitkan. Kemudian, saudara Nuruzzaman SP yang pada saat itu menjabat sebagai Sekretaris Desa (Sekdes) ditunjuk sebagai Pejabat Kepala Desa sementara sampai adanya Kepala Desa yang baru. Selain itu, dalam SK Bupati Pemalang tersebut juga disebutkan bahwa sang Kepala Desa lama harus mengganti uang dari ADD yang telah disalahgunakan dan juga tanah bengkok yang sudah terlanjur dijual dalam kurun waktu sebulan. Selanjutnya, agenda penting yang harus dilaksanakan ialah pembentukan panitia pemilihan Kepala Desa untuk mencari Kepala Desa yang baru.
Setelah keluarnya SK pemberhentian Kepala Desa Kelangdepok, dan menunjuk saudara Nuruzzaman SP sebagai pejabat Kepala Desa untuk sementara waktu, maka BPD bergegas mempersiapkan dan membentuk panitia pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Pembentukan panitia pemilihan Kepala Desa sendiri dilaksanakan pada bulan April 2010. Bersamaan dengan ini, seluruh masyarakat Desa Kelangdepok diberikan kesempatan untuk menduduki jabatan sebagai orang nomor satu di desa. Langkah awal yang dilaksanakan adalah pencalonan Kepala Desa melalui rukun warga (RW) masing-masing, dari berbagai calon yang ada akan dipilih satu calon. Seluruh operasional, pembiayaan, dan kewenangan dibebankan kepada RW, juga subsidi pendanaan dari Desa. Selanjutnya, calon yang terseleksi oleh RW akan diajukan kepada panitia pemilihan Kepala Desa (Pilkades) sebagai calon Kepala Desa (Kades) Kelangdepok yang mewakili RW setempat.
Panitia pemilihan Kepala Desa (Pilkades) akan memproses calon yang diajukan oleh RW masing-masing untuk mengesahkan sebagai calon tetap Kepala Desa Kelangdepok dengan mengacu kepada peraturan dan mekanisme pemilihan Kepala Desa yang ada (menyesuaikan dengan Peraturan Daerah). Kemudian, panitia akan mengatur jadwal kampanye sampai batas waktu tertentu secara adil kepada masing-masing calon untuk bersosialisasi kepada seluruh masyarakat desa tentang visi, misi dan program kerja yang akan dijalankan. Panitia juga menentukan hari pemilihan/pencoblosan tanda gambar Kepala Desa di tempat pemungutan suara yang disediakan, dan dilanjutkan dengan proses penghitungan suara.
Kondisi pemerintahan yang sedang kritis ini, menjadikan panitia pemilihan Kepala Desa menjalankan tahapan dengan sangat berhati-hati. Mekanisme dan tata cara yang dijalankan pada tahap persiapan benar-benar dikontrol sebaik mungkin. Hal ini dimaksudkan untuk; 1) memilih orang yang tepat, baik loyalitas juga pengabdiannya kepada desa dan masyarakat, serta kredibilitas yang dimiliki. Selain itu, menghindari pemimpin-pemimpin yang karbitan, asal punya uang, keluarga besar, ataupun turunan kyai; 2) penghematan, calon tidak perlu repot mengeluarkan dana untuk para pecut, pengkaderan, penggalangan masa, dan basa basi lainya, karena semuanya ditanggung bersama oleh warga RW yang selanjutnya diusung ke panitia pemilihan Kepala Desa atas rekomendasi dari RW setempat; 3) pembelajaran bagi kita bersama bahwa sesungguhnya image untuk menjadi pemimpin itu mahal tidak berlaku Di Desa Kelangdepok; 4) memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada warga masyarakat untuk menjadi pemimpin desa, sekalipun tidak bermodal, akan tetapi mempunyai jiwa kepemimpinan dan loyalitas serta pengabdian di desa secara murni dari tahun ke tahun; 5) penilaian calon oleh masyarakat dilakukan secara
38
objektif berdasarkan progam kerja yang dipaparkan dalam kampanye, hal ini secara tidak langsung menjadikan masyarakat sebagai pengontrol dari kepemimpinan yang dijalankan tersebut. Pelaksanaan pemilihan Kepala Desa yang baru dilaksanakan pada bulan Juli 2010, tepatnya pada tanggal 18 Juli 2010.