• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kabupaten Muna merupakan daerah kepulauan yang terletak di jazirah Sulawesi Tenggara meliputi bagian utara Pulau Buton dan Pulau Muna serta pulau-pulau kecil yang tersebar disekitarnya yang berjumlah 237 buah dengan kategori 22 buah pulau berpenghuni, 10 buah pulau berpenghuni sementara dan 205 buah pulau tidak berpenghuni. Secara geografis Kabupaten Muna terletak di bagian Selatan Khatulistiwa pada garis lintang 4º 06’ sampai 5.15’ Lintang Selatan dan 122º 8’ Bujur Timur sampai dengan 123º 15’ Bujur Timur. Kabupaten Muna berbatasan pada sebelah utara dengan Selat Tiworo dan Kabupaten Konawe Selatan, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Buton Utara, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Buton dan sebelah Barat berbatasan dengan Selat Spelman. Luas daratan Kabupaten Muna adalah sebesar 2.963,97 km atau 296.397 Ha. Luas tersebut dibagi menjadi 33 kecamatan, yang terdiri dari 205 desa, 31 kelurahan, dan 3 (tiga) Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT). Wilayah Kabupaten Muna memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :

a) Bagian Utara Kabupaten Muna berbatasan dengan Selat Spelman. b) Bagian Timur berbatasan dengan Kabupaten Buton Utara.

c) Bagian Selatan berbatasan dengan Kabupaten Buton.

22

Kecamatan Maligano merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Muna yang terletak di sebelah utara Pulau Buton yaitu melintang dari Barat ke selatan kira - kira 4o 36’ LS - 4° 45’ LS dan membujur dari Barat ke Timur antara 122°50’ BT 122°56’ BT. Dimana:

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Buton Utara b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Buton Utara c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Batu Kara d. Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Buton

Kecamatan Maligano pada umumnya merupakan dataran degan ketinggian 0-1000 meter di atas permukaan laut dengan luas 98,09 Km2, namun demikian topografis sebagian besar berada pada kisaran 25-100 meter dan 100-500 meter di atas permukaan laut dengan persentase masing-masing antara 32,37% dan 37,70% (BPS Kabuparen Muna, 2015). Lokasi penelitian berada di hutan Maligano Kecamatan Maligano, kondisi lokasi penelitian dekat dengan lading perkebunan warga dan terdapat aktifitas pembalakan hutan seperti pembakaran hitan dan penebangan pohon, lokasi penelitian kurang lebih berjarak 3 km dari desa terdekat, Lokasi sarang burung maleo di Kecamatan Maligano berada di areal pasir terbuka sekitar aliran sungai dengan titik kordinat 04o 38′ 34.4″ LS dan 122o 52′ 47.4″ BT dengan ketinggian 34 Mdpl habitat burung maleo di Kecamatan Maligano berada pada dataran rendah. Visualisasi lokasi penelitian dapat di lihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Peta satelit lokasi penelitian di Kecamatan Maligano (foto penelitian). B. Karakteristik Sarang Burung Maleo

Lokasi sarang burung maleo di kecamatam Maligano di sekitar aliran sungai pada pasir yang yang lebih tinggi dari aliran sungai dan memiliki sumber panas dari sinar matahari kondisi areal yang terbuka dan terpapar sinar matahari langsung tanpa terhalang oleh pepohonan jenis sarang burung maleo di Kecamatan Maligano adalah sarang komunal. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nurhalim (2013), sarang burung maleo berada di dalam hutan terbuka dataran rendah yang dekat atau dikelilingi dengan sungai. Burung maleo bertelur di areal yang tidak bervegatasi dan letakknya lebih tinggi dari sungai. Struktur tanah datar yang terdiri dari pasir, debu dan liat yang terus-menerus mendapatkan penyinaran matahari.

24

Tabel 1. Karakteristik lubang bertelur burung maleo di Kecamatan Maligano No Kedalaman (cm) Lebar (cm) Suhu ( o c) Kelembaban (%) Keasaman tanah (pH) 1 66 40 33.4 70 6 2 68 40 37.9 60 6 3 80 68 35.8 50 6 4 61 72 37.0 70 6 5 73 45 38.2 70 6 6 66 54 35.1 60 6 7 85 51 36.2 70 6 8 65 40 33.8 70 6 9 64 70 39.8 80 6 10 68 60 35.3 70 6 11 56 58 39.1 50 7 12 54 71 37.0 80 6 13 68 60 34.2 65 6 14 72 60 34.4 60 6 15 70 54 37.9 80 6 Rata-rata 67.73(±8.01) 56.2(±11.32) 36.34(±1.98) 67(±9.60) 6.06(±0.26) a. Suhu Sarang Burung Maleo

Burung maleo tidak memiliki naluri mengeram dan mengasuk anaknya, burung maleo hanya mengubur telurnya di dalam lubang lalu meninggalkanya, Temperatur merupakan hal penting dalam proses penetasan, temperatur yang sesuai akan mendukung tumbuh kembang embrio. Hasil pengukuran di lapangan (tabel 1) menunjukan bahwa suhu tanah pada sarang bertelur burung maleo berada pada kisaran 33.4-39.8oC dengan rata-rata 36.34 oC suhu ini masih berada pada kisaran normal untuk penetasan telur burung maleo. Hasil ini diperkuat pernyataan mackinnon (1981), bahwa burung maleo dapat bersarang di pasir manapun dengan kisaran suhu 32-38oC.

Kondisi lokasi penelitian di Kecamatan Meligano merupakan hamparan pasir terbuka dengan penyinaran matahari langsung, paparan sinar matari langsung terjadi sepanjang hari dan sangat berpengaruh terhadap suhu dan kelembaban tanah sehingga perkembangan embrio dapat terjaga. Gunawan (2000) Menyatakan bahwa habitat tempat bertelur burung maleo yang bersumber panas dari radiasi matahari maka temperatur tanah sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca (seperti lamanya penyinaran matahari dan curah hujan). Burung maleo membuat sarang di hamparan pasir yang terbuka untuk mendapatkan panas yang maksimal, tanah berpasir dipilih karena tidak membutuhkan banyak energi untuk menggalinya jika di bandingkan dengan jenis tanah lain seperti liat tanah jenis ini melekat sehingga menyulitkan burung maleo untuk melakukan penggalian.

b. Kelembaban Sarang

Kelembaban merupan hal penting selanjutnya dalam proses penetasan telur burung maleo, kelembaban tanah di pengaruhi oleh iklim. Pada masa inkubasi kelembaban dan temperatur merupakan dua hal penting untuk mendukung tumbuh kembang embrio. Kelembaban dan temperatur dibentuk oleh lingkungan selain paparan sinar matahari tanah menjadi faktor penting sebagai media sarang burung maleo untuk menyediakan kelembaban dan temperature yang stabil selama masa inkubasi telur. Kelembaban sarang burung maleo di lokasi penelitian hutan maligano berada pada kisaran 60-80% dengan rata-rata 67% kondisi ini masih berada dalam kisaran normal. Kelembaban yang tinggi di pengaruhi oleh kondisi cuaca saat musim

26

hujan. Visualisasi pengukuran kelembaban tanah menggunakan pH-moisture meter dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Pengukuran kelembaban tanah pada sarang burung maleo di Kecamatan Maligano. (foto penelitian).

Hasil ini tidak jauh berbeda dengan Tanari (2007), menyatakan bahwa kelembaban normal sarang burung maleo yaitu 70.7% pada pagi hari dan 89.5% pada sore hari, hal ini diperkuat dengan pernyataan Gunawan (2000), bahwa kelembaban normal sarang burung maleo berkisar antara 60-85%. Hal ini berbeda dengan pernyataan asmara (2002), yang menyatakan kelembaban sarang bertelur burung maleo berkisar atara 28-97% dengan rata-rata 59,44%.

c. Kedalaman dan Lebar Sarang

Sarang bagi burung maleo memiliki arti penting demi mendukung regenerasi, sarang burung maleo tidak memiliki bentuk dan ukuran yang seragam hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan, tekstur tanah dan naungan vegetasi, burung

maleo membuat sarang di areal tanah berpasir yang sesuai dengan kebutuhan guna penetasan telur, dalam membuat sarang burung maleo akan mengukur suhu dan kelembaban yang sesuai, sarang burung maleo bukan berdasarkan ukuran. Gunawan (2000) menyatakan bahwa penutupan permukaan tanah oleh tumbuhan bawah atau vegetasi sekunder lainnya di lokasi bertelur dapat menyulitkan burung maleo dalam menggali sarang, mengurangi areal sarang dan menghalangi proses pemanasan tanah oleh radiasi matahari. Sarang burung maleo berbentuk kerucut terbalik dengan permukaan lubang memiliki diameter yang lebih lebar dan mengecil di bagian dasar lubang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nurhalim (2013) Lubang peneluran yang ada di dua lokasi bertelur berbentuk seperti huruf V yang menjorok masuk ke depan dengan lebar yang semakin mengecil. Pengukuran pada sarang burung maleo menggunakan meteran, pengukuran kedalaman dilakukan dari dasar lubang hingga ke permukaan, sedangkan pengukuran lebar sarang burung maleo di lakukan pada permukaan lubang. Visualisasi pengukuran kedalaman srang dan lebar sarang dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Pengukuran kedalaman (kiri) dan lebar sarang (kanan) pada lubang bertelur burung maleo di Kecamatan Maligano (foto penelitian).

28

Dari hasil pengamatan yang dilakukan di Kacamatan Maligano menunjukan hasil ukuran yang tidak seragam pada lebar sarang sementara itu kedalaman sarang masih dalam kategori seragam dalam ukuran sarang, kedalaman sarang bervariasi berkisar antara 54-85 cm dengan rata-rata 67.73 cm. Sementara itu lebar sarang berkisar antara 40-72 cm dengan rata-rata 56.2 cm. Asmara (2002) menyatakan dalam penelitian yang dilakukan di Suaka Margasatwa Pinjan-Tanjung Matop Sulawesi Tengah kedalaman sarang berkisar antara 40-100 cm dengan rata-rata 65,45 cm (± 10,25). Nurhalim (2013), dalam penelitianya yang di lakukan pada dua blok hutan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai menunjukan bahwa ukuran lubang di lokasi pertama yaitu panjang 40–60 cm dengan rata-rata 50 cm, sementara ukuran lebar 50– 60 cm dengan rata-rata 56,66 cm. Lokasi peneluran kedua terlihat ukuran lubang lebih kecil, dengan ukuran panjang lubang berkisar 35–43 cm dengan rata-rata 39,66 cm, sementara ukuran lebar lubang berkisar antara 25–42 cm dengan rata-rata 33,33 cm.

d. pH tanah pada sarang bertelur

pengukuran keasaman tanah (pH) dilakukan menggunakan alat pH-moisture meter, dapat di lihat pada gambar 4 menunjukan keasaman tanah berada pada angka 6 hal ini membuktikan bahwa pH tanah di dalam lubang berada pada kondisi asam. Visualisasi pengukuran keasaman tanah dapat di lihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Pengukuran pH tanah pada lubang bertelur burung maleo di Kecamatan Maligano (foto penelitian).

Keasaman tanah (pH) pada lubang bertelur burung maleo berkisar antara 6-7 dengan rata-rata 6.06, dari 15 lubang hanya terdapat satu lubang yang memiliki pH 7 (normal) dan 14 lubang lainya memiliki pH 6 (asam). Hal ini tidak jauh berbeda dengan pernyataan Nurhalim (2013) Keasaman tanah (pH) sarang peneluran burung maleo cukup beragam dari dua lokasi pengamatan pada lokasi pertama yang merupakan pilihan lokasi bertelur yaitu berkisar antara 6,77–6,84 dengan rata-rata 6,81 dan pada lokasi yang bukan pilihan tempat bertelur berkisar antara 5,36–6,58 (6,05). Sedangkan pH tanah yang menjadi pilihan lokasi bertelur pada lokasi kedua berkisar 6,87–6,96 dengan rata-rata 6,90, sedangkan untuk lokasi yang bukan pilihan bertelur berkisar 3,07–6,54 dengan rata-rata 5,36.

e. Struktur Sarang Burung Maleo

Sarang burung maleo berada pada pemukaan tanah berpasir yang dapat menyimpan panas, tanah dengan tekstur seperti ini dipilih karena berkaitan dengan temperatur, kelembaban, dan proses penggalian. Pasir yang berada di lokasi

30

penelitian berwarna hitam pudar dengan batuan kecil hingga sedang, sedangkan lokasi yang bukan sarang memiliki batuan sedang hingga besar. Hasil uji laboratorium komposisi tanah pada lubang peneluran burung maleo dapat di sajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Komposisi material tanah pada sarang burung maleo di Kecamatan Maligano No sarang Kerikil (%) Pasir (%) Debu (%) Liat (%)

1 13.88 63.55 16.53 6.04

4 7.51 68.88 16.07 7.54

9 8.23 72.26 14.79 4.72

Rata-rata 9.87(±3.49) 68.23(±4.39) 15.79(±0.90) 6.1(±1.41) Berdasarkan data diatas dari uji laboratorium yang menggunakan 3 sampel tanah penyusun sarang burung maleo didominasi oleh pasir pada kisaran 63.55-72.26 dengan rata-rata 68.23 ±4.39%, debu 14.79-16.59% dengan rata-rata 15.79 ±0.90%, kerikil 7.51-13.88 dengan rata-rata 9.87 ±3.49%, liat 4.72-7.54 dengan rata-rata 6.1 ±1.41%. tektur tanah penyusun sarang burung maleo di Kecamatan Maligano berbeda dengan tektur tanah penyusun sarang di TNRAW Nurhalim (2013) menyatakan bahwa penyusun terbesar tempat bertelur pada lokasi pertama adalah pasir dengan kisaran 89,23–97,90% dengan rata-rata 92,75%, debu 0,87–7,22% dengan rata-rata 4,76% dan liat 1,23–3,55% dengan rata-rata 2,48%.

Dokumen terkait