GAMBARAN UMUM MENGENAI MASJID RAYA CINERE
A. Sejarah Berdirinya Masjid Raya Cinere
Dalam sejarahnya yang begitu singkat, Masjid Raya Cinere didirikan dan dibangun atas dasar kecintaan yang mendalam yang tentunya ditujukan agar umat mengingat, mensyukuri dan menyembah-Nya dengan baik.
Dengan jalan Allah SWT serta do’a yang dikabulkan sampai akhirnya ada seorang perempuan bersuku Batak Ny. Ir Maryana Wiriatmaja yang mempunyai lahan tanah seluas 3000 M persegi, sampai pada akhirnya jual beli tanah itu ada dan berlangsung pada tanggal 15 juni 1987 atas nama wakaf jamaah.
Berawal dari pengajian majelis taklim ibu-ibu warga Cinere setempat yang awalnya ingin sekali mempunyai masjid yang berada dikawasan perumahan mereka tentunya sebagai sarana mereka untuk dapat mengaji serta menunutut ilmu agama, akan tetapi PT. MEGAPOLITAN yang membangun tidak membuat sarana masjid. Sehingga kaum majelis taklim ibu-ibu merasa ada yang kurang afdhol jika rutinitas kegiatan pengajian mereka dilakukan pada tempat yang selalu berganti-ganti dan mendapat ketidakyamanan atas tempat yang selama ini mereka tempati untuk melakukan kegiatan pengajian mereka. Yang pada akhirnya mereka sepakat untuk membicarakan permasalahan mereka yang ingin memiliki masjid sebagai sarana untuk meraka kepada suami-suami mereka. Dengan mencurahkan segala bentuk keinginan mereka ternyata para suami-suami jamaah majelis taklim sangat
39
Setiap masjid ingin memiliki berbagai sarana yang bisa memfasilitasi para jamaahnya begiti juga dengan Masjid Raya Cinere, sehingga masjid bisa digunakan sebagai tempat pelaksanaan berbagai kegiatan seperti memnghafal Al-Qur’an, Lembaga Amil Zakat, Lembaga Penengah Sengketa, Lembaga Solidaritas serta Bantuan Kemanusiaan, dan Lembaga-lembaga Kursus bagi Anak-anak Muda dalam berbagai ilmu pengetahuan. Dari situlah Masjid Raya Cinere dikembangkan dengan berbagai macam-macam sarana sehingga bisa melakukan bermacam-macam kegiatan.
Masjid Raya Cinere berdiri tahun 1988-1989. Dengan berkah dan ridho Allah SWT Masjid Raya Cinere mendapatkan penambahan luas tanah atas hibah dari PT. MEGAPOLITAN BUPATI BOGOR pada tanggal 15 Februari 1990 dengan luas tanah 1000 M persegi. Bahkan Masjid Raya Cinere mendapatkan hibah tanah lagi atas nama PT. GIGA INTRAK dengan luas tanah 900 M persegi pada tanggal 19 Januari 2001. Dan pada tanggal 25 April 2002, Masjid Raya Cinere mendapatkan penambahan sarana dari wakaf jamaah yang luas tanahnya sebesar 520 M persegi.
Dari luas tanah tersebutlah Masjid Raya Cinere membuat keputusan untuk mendirikan bangunan untuk sarana pendidikan, sebab masjid sebagai salah satu sarana utama yang paling tepat bagi proses pendidikan terhadap kaum muslimin. Karena itu manakala masjid dijadikan sebagai sarana pendidikan bagi kaum muslimin, niscaya umat islam akan merasakan betul keberadaab masjid.
Masjid Raya Cinere membangun sarana pendidikan seperti TK Islam Al Kautsar Masjid Raya Cinere, TPA Masjid Raya Cinere, Majelis Taklim Masjid
Raya Cinere, dan Perpustakaan. Sebab dengan pendidikan kaum muslimi tidak hanya memiliki kepribadian yang islami, tetapi juga memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas serta menguasai ajaran islam yang baik sehingga mampu membedakan antara yang benar (hak) dan yang salah (bathil).
Selain memiliki sarana pendidikan Masjid Raya Cinere memiliki taman yang cukup luas serta area parkir, ini semua ditujukan untuk para jamaah sebagai salah satu fasilitas yang berada di masjid, sehingga para jamaah akan merasa aman dan nyaman.
Dalam upaya meningkatkan solidaritas sosial masyarakatnya masjid raya cinere berperan aktif dalam memberikan tuntunan kepada masyarakat pada pembangunan mental masyarakat serta memberikan kekuatan moral dan spiritual sehingga mampu menyentuh atau menggugah hati nurani. Sebab dengan menyentuh hati nurani diharapkan seluruh tata nilai yang terkandung dalam ajaran agama dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal in sejalan juga dengan pendapat Hurlock (1992) yang menekankan pada hati nurani serta peran rasa bersalah dan rasa malu dalam melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan harapan kelompok sosial dalam masyarakat religius seperti Indonesia tentunya sangat diwarnai oleh norma-norma agama.
B. Visi, Misi, Dan Tujuan Masjid Raya Cinere Visi
” Meningkatkan fungsi masjid bagi pemberdayaan dan persatuan umat guna mencapai kesejahteraan jamaah masjid lahir dan batin ”
41
Misi
a. Mengelola organisasi dan administrasi masjid (Idaroh). b. Mengelola kemakmuran masjid (Imaroh).
c. Mengelola pemeliharaan/bangunan fisik masjid (Riayah).
Tujuan/Sasaran Yang Akan Dicapai
a. Meningkatkan kemampuan DKM dalam pengelolaan masjid secara profesional.
b. Tersedianya dana dan sarana untuk kegiatan pengelolaan masjid.
c. Terciptanya jalinan komunikasi antara anggota jamaah masjid dan lingkungan jamaah masjid.
d. Meningkatkan kemampuan ekonomi jamaah masjid dan masyarakat lingkungan masjid.
e. Meningkatnya kemampuan pendidikan para jamaah, maupun jamaah lingkungan masyarakat dalam peningkatan kualitas iman, ilmu, amal dan akhlaq.
f. Meningkatkan peran serta jamaah/masyarakat dalam upaya kesehatan dan lingkungan masjid.
C. Struktur Organisasi Masjid Raya Cinere (mrc)
Dalam suatu organisasi atau lembaga segala aktivitasnya, terhadap hubungan diantara orang-orang yang menjalankan dalam suatu organisasi. Makin komplek pula hubungan-hubungan yang ada untuk itu perlulah dibuat suatu bangunan yang menggambarkan tentang hubungan tersebut termasuk hubungan
antara masing-masing kegiatan atau fungsi. Bagan yang dimaksud dinamakan bagan organisasi atau struktur organisasi.F
27 F
Hubungan kerja disisni sudah semakin jelas yaitu berupa kerjasama dan interaksi akan terjadi secara vertikal dan horizontal terutama kepada unit kerja organisasi yang menggambarkan unit-unit kerja dengan tugas-tugas individu didalamnya, serta kerjasama dengan individu lain dan hubungan kelembagaan antara unit-unit kerja baik secara vertikal maupun maupun horizontal.
SUSUNAN MASJID RAYA CINERE (MRC) PERIODE 2006-2009 1. PEMBINA H. M. Yahya H. Handoya H. Ahmad Syukri H. M. Choesni H. Soetopo 2. PENGAWAS H. Kadarno H. Norman f H. Martin H. Wiranto H. Arif suryono H. Agoes effendi 27
Basu Swasstha DH dan Ibnu Sakotjo W., Pengantar Bisnis Modern (Yogyakarta: Liberty, 1995), cet ke-40
43
3. PENGURUS
Ketua Umum : H. Budi Waluyo
Wakil Ketua Umum : H. Muslim Yasin
Sekretaris I : H. Abdurrahman
Sekretaris II : H. Tri Widati
Bendahara I : H. Burhanudin
Bendahara II : H. Fauzi Sungkar
4. BIDANG DAKWAH
Bidang Dakwah : KH. Syarif Rahmat
Bidang PHBI : Abd. Razak
Bidang Peribadatan : KH. Syarif Rahmat
Bidang Peribadatan : H. Moh. Daud
Bidang Unit RISMRC : H. Bambang Oetomo
5. BIDANG PELAYANAN MASYARAKAT
Bidang Pelayanan Masyarakat : H. Moh. Daud
Bidang Pengislaman : KH. Syarif Rahmat
Bidang Pernikahan : H. Abdurrahman
Bidang Bantuan Kemanusiaan : Hj. Betty Bidang Bantuan Kemanusiaan : Hj. Syukri Bidang Bantuan Kemanusiaan : Hj. Sofie
Bidang Humas : Abd. Razak
6. BIDANG PENDIDIKAN
Bidang Pendidikan : Hj. Tri Mulyati Al-Bachri
Bidang Unit TPA : Lela Shofia
Bidang Unit TK Al-Kautsar : Siti Masyitoh Bidang Unit Perpustakaan : Hj. Ida Kadarno Bidang Unit Perpustakaan : Habibi Al Amin Bidang Unit Perpustakaan : H. Adi Darma
7. BIDANG ZAKAT, INFAQ DAN SHODAQOH
Bidang ZIS : H. TM. Syahnara
Bidang ZIS : H. Budiarto Sudirman
Bidang Administrasi : H. Aris Mulyono Bidang Pengumpulan : H. Sarja Sumbada Bidang Pengumpulan : Soefi
Bidang Pengumpulan : Tati Budi
8. BIDANG USAHA
Bidang Usaha : H. Bambang Budiarto
Bidang Usaha : H. Fauzi Sungkar
Bidang Gedung Serbaguna : Amin
Bidang Perparkiran : Zaki Mubarok
Bidang Perkiosan : H. Abdurrahman
Bidang Unit KBIH : H. Bambang Budiarto
45
9. BIDANG SARANA DAN PRASARANA
Bidang Sarana dan Prasarana : H. Dhoody KH Bidang Sarana dan Prasarana : H. Firdaus Amin
Bidang Pembangunan : H. Salaman Ilyas
Bidang Pemeliharaan : Sutrisno
Bidang Coordinator KAMTIB : H. Nahari Aming
Bidang Kebersiahan : Abd. Latif
Bidang Kebersihan dan Pertamanan : Endang
Bidang Kepegawaian : H. Abdurrahman F
28 F
D. Program Kerja
Program kerja Msjid Raya Cinere menggunakan Tahun Hijriyah sebagai tahun anggaran Masjid Raya Cinere. Hal ini di samping membiasakan penggunaan Tahun Hijriyah sebagai kultur islami, juga menyesuaikan cash flow Masjid Raya Cinere, di mana perkiraan anggaran dalam satu tahun ke depan baru dapat dipastikan setelah acara Idul Fitri dan Idul Adha selesai.
Untuk Tahun 1430 H, Program Kerja Masjid Raya Cinere tetap melanjutkan Program Kegiatan Tahun 1429 H berdasarkan “Perkiraan Dukungan Anggaran” Tahun 1430 H, dengan azas afisiensi dan memperhatikan prioritas. Di samping itu Program Kerja Masjid Raya Cinere untuk Tahun 1430 H, ditandai dengan proses pergantian kepengurusan.
28
Program Kerja Pada Masing-masing Bidang a. Bidang Dakwah
a) Dakwah
Program Tahun 1430 H diarahkan untuk menambah acara pengajian oleh jamaah pria terutama pada malam hari. Di samping itu dengan sumber daya manusia yang ada akan tetap dilanjutkan pelayanan pengajian untuk:
1) Guru-guru TPA dan TK 2) Guru-guru dari Labshcool 3) Dan Lain-Lain.
b) Peringatan Hari Besar Islam (PHBI)
Program ini ditujukan untuk mewadahi animo/tuntutan jamaah yang ingin ikut serta pada kegiatan hari besar islam di Masjid Raya Cinere.
c) Peribadatan Mahdloh
Program ini diarahkan untuk menciptakan suasana yang khitmad dan khusuk yang dapat menimbulkan kepuasan rohaniah dengan suasana kesejukan dan kedamaian sehingga dapat menimbulkan kerinduan untuk senantiasa hadir ke masjid bagi jamaah.
d) Remaja Masjid Raya Cinere
Program ini diarahkan untuk membentuk serta membina Remaja Masjid yang benar-benar islami, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi Masjid Raya Cinere termasuk Jamaah Remaja dilingkungan Masjid Raya Cinere.
47
b. Bidang Pelayanan Msyarakat a) Pengislaman
Program ini diarahkan untuk memberikan pelayanan baik dalam proses pengislaman maupun pasca proses pengislaman.
b) Pernikahan
Program ini diarahkan untuk semakin memakmurkan Masjid Raya Cinere dengan memberikan pelayananan penyelenggaraan Ijab Qobul dan termasuk Walimatul Urusy (Resepsi).
c) Bantuan Kemanusiaan
Program ini diarahkan untuk membina rasa solidaritas sesama umat, sekaligus menanamkan tradisi atas kepercayaan jamaah pada Masjid Raya Cinere untuk dapat menyalurkan barang/uang jamaah secara cepat dan tepat.
d) Hubungan Masyarakat (HUMAS)
program ini diarahkan untuk mampu berperan sebagai jembatan komunikasi dan informasi timbal balik antara Masjid Raya Cinere dengan Jamaah dan Masyarakat Umum.
e) Unit Pengurusan Jenazah
Unit pelayanan duka yang secara embridual telah terbentuk, akan ditingkatkan menjadi lembaga yang profesional, sebagai salah satu lembaga dibawah kepengurusan Masjid Raya Cinere.
c. Bidang Pendidikan
Program ini akan terus dikembangkan menjadi unit pendidikan pra sekolah.
b) TPA Masjid Raya Cinere
Program ini akan diarahkan pada peningkatan kesejahteraan tenaga pengajar, disamping pemeliharaan sarana pendidikan seperti meja belajar, papan tulis dan lain-lain.
c) Majelis Taklim Masjid Raya Cinere
Program Majelis Taklim yang diselenggarakan oleh ibu-ibu Jamaah Masjid Raya Cinere berjalan secara optimal.
d) Perpustakaan
Program dibidang ini adalah memelihara dan meningkatkan pelayanan pada jamaah.
d. Bidang Zis
Untuk meningkatkan kinerja Kepengurusan Masjid Raya Cinere, pada umumnya khusussnya kinerja bidang ZIS, Tahun 1430 H, telah ditempuh pola pemisahan pengelolaan antara Zakat dan Infaq Shodaqoh mulai Tahun 1429 H.
e. Bidang Penggalangan Dana
Program dibidang ini difokuskan untuk mampu menunjang Pengumpulan Dana yang diarahkan untuk pengembangan prasarana Masjid Raya Cinere.
f. Bidang Prasarana, Sarana Dan Sumber Daya Manusia (SDM) a) Prasarana
49
b) Sarana
c) Kebersihan Gedung
Kebersihan seluruh gedung akan semakin ditingkatkan guna menjamin terselenggaranya seluruh kegiata secara optimal.
d) Halaman dan Pertamanan
Sasaran pemeliharaan halaman dan pertamanan adalah: kebersihan dan keindahan.
e) Keamanan
Upaya keamanan dan pengamanan masjid akan teru ditingkatkan dengan sasaran:
1) Menghilangkan pencurian: Sandal ,Al-Qur’an, Buku-Buku Perpustakaan, Kendaraan Bermotor, dll.
2) Memelihara kelancaran dan disiplin lalu lintas di Jl. Flamboyan.
f) Sumber Daya Manusia
Kinerja Sumber Daya Manusia, terutama para karyawan semua bidang akan terus ditingkatkan dengan cara menanamkan: Disiplin, Rasa Tanggung Jawab, Kerjasama, dan Etos Kerjanya dibarengi dengan memperhatikan tingkat kesejahteraannya sesusai dengan hasil kerjanya (Finesh and Reward).
g. Bidang usaha
a) Gedung Serbaguna
Dengan tanpa mengurang funsi utamanya, gedung serba guna akan tetap dimanfaatkan untuk pelayanan acara resepsi (khusus hari minggu) dengan infaq yang setiap tahun akan selalu disesuaikan.
b) Perdagangan Kios Dan Parkir Samping SPBU
Usaha yang dewasa ini mampu memberi masukan sekitar Rp. 4.000.000; s/d Rp. 5.000.000; setiap bulannya, akan teru dipertahankan dan tingkatkan dalam rangka meningkatkan pendapatan Masjid Raya Cinere.
c) Pelayanan Ibadah Haji Dan Umroh
Program untuk mendirikan pelayanan Ibadah Haji dan Umroh dilingkungan Masjid Raya Cinere, akan tetap dilanjutkan. Untuk sementara waktu sambil menunggu kaderisasi personil yang akan bekerja sama dengan Lembaga Pelayanan Haji yang telah memiliki repitasi dan cukup baik di Wilayah Jakarta.
h. Bidang kesekretariatan/perkantoran
Bidang Kesekretariatan/Perkantoran adalah sebagai motor penggerak pengelolaan organisasi DKM yang akan terus ditingkatkan.
E. Letak Geografis Masjid Raya Cinere
Pola masjid yang ideal salah satunya diharapkan dapat menentukan lokasi-lokasi masjid wilayah pada daerah yang strategisterhadap penduduk yang berada di dalam wilayah yang bersangkutan, sehingga masjid-masjid ini dapat melayani
51
penduduk secara efektif. Disamping harus dihindarkanterdapatnya masjid-masjid besar pada jarak yang relatife berdekatan, hal ini dimaksudkan agar pelayanannya efektif.F
29
Letak/posisi Masjid Raya Cinere berada di tengah-tengah warga perumahan Cinere sehingga memudahkan para jamaah dan tidak memberatkan penduduk yang berada di ujung untuk pergi ke masjid, sebab di dalam islam dalam membangun masjid adalah lokasi masjid itu cocok dan tepat bagi jamaah sholat. Masjid Raya Cinere berdiri pada tempat yang sangat strategis bukan di pinggir ataupun di tengah jalan raya. Masjid Raya Cinere memiliki lokasi yang indah, nayaman dan ramah lingkungan. Masjid Raya Cinere ini beralamatkan pada perumahan warga Jl. Flamboyan Blok F Cinere Limo-Depok. Sasaran Masjid Raya Cinere ini adalah pada berbagai desa lainnya yang dikhususkan kepada Desa Cinere Pekayon (Barat, Timur, Selatan), Desa Limo, Desa Gandul.
29
Nana Rukmana D.W, Masjid dan Dakwah, Penerbit Al-Mawardi Prima, Cet Pertama, Juli 2002
BAB IV
TEMUAN DAN ANALISA DATA
A. Peran Masjid Dalam Solidaritas Sosial
Realistis dari solidaritas sosial itu, dapat ditempuh berbagai cara. Baik dalam bentuk materi maupun non materi. Selain kewajiban membayar zakat, umat Islam juga diharapkan dapat mewujudkan kedamaian bagi sesamanya. Islam pada hakikatnya adalah agama Rahmatan lil alamin, yakni membahagiakan seluruh alam. Karena itu seorang muslim seyogyanya mampu memposisikan diri sebagai pemberi kebahagiaan kepada lingkungan sekitarnya, menyenangkan mesra dan peduli. Caranya dapat diawali dengan meningkatkan kepedulian kepada orang-orang di sekitar kita.F
30
Nilai solidaritas adalah sangat mahal sekali dan tidak bisa diukur dengan uang juga tidak akan terukur, karena solidaritas (dalam hal ini bangsa Indonesia) telah diterjemahkan oleh pahlawan-pahlawan kita berupa harta, pikiran, pengorbanan dan juga nyawa. Semoga Allah SWT membalas dengan surgaNya di akhirat nanti. Karena tanpa ruh pahlawan mustahil negara Indonesia akan terwujud.
Apa yang dilakukan pemimpin akan ditiru oleh rakyatnya, baik perilaku pemimpin yang baik maupun yang buruk. Maka mulailah dari keteladanan para pemimpin untuk hidup yang wajar yang tidak menimbulkan kecemburuan sosial.
53
Dengan kita membangun solidaritas sosial yang tangguh, maka bangsa kita akan menjadi bangsa yang kuat, maju, demokratis dan modern. (Dr. H. Nanat Fatah Natsir, harian Pikiran Rakyat, 7-10-2005).F
31
Hemat saya, solidaritas antar sesama manusia kini mengalami degradasi. Ini sangat terkait dengan rendahnya moralitas warga negara. Perlu diketahui, moral di sini tidak hanya bicara seputar disiplin tubuh, batas-batas aurat. Tapi, ia bermakna luas dan menyeluruh, sebagaiamana yang diemban Muhammad SAW. saat pertama kali ditugaskan untuk menyampaikan risalah: Liutammima Makarima al-Akhlaq, menyempurnakan akhlak yang mulia.
Pada saat-saat awal berdakwah, Rasulullah tidak langsung mengajarkan syari’at: semisal shalat, puasa, zakat, dll. Tapi, beliau mengajarkan umatnya tentang etika secara universal. Dapatkah kita memaknai akhlak atau moral dalam konteks ini hanya sebatas aturan aurat: sensual apa tidak sensual, mengundang syahwat atau tidak, menimbulkan fitnah atau tidak, dan seterusnya. Tidak sesederhana itu. Jika makna moral hanya disempitkan pada wilayah itu, maka Nabi tidak perlu lama-lama dalam menapaki lika-liku berdakwah.
Akhlak adalah prilaku sosial seseorang. Biasa juga disebut moral atau budi pekerti. Karena sifatnya yang universal, Abdullah Nashin Ulwan dalam al-takaful al-ijtima’i fi al-Islam merumuskannya dengan sebutan solidaritas sosial (al-takaful al-ijtima’i). Kehadiran rumusan ini tak lain untuk menjembatani pluralitas individu dan kepentingan dalam suatu masyarakat. Agar moralitas tetap tegak dan tidak diinjak-injak, maka diperlukan pemahaman tentang solidaritas sosial.
31
HU
Rasulullah menggambarkan solidaritas sosial ini, sebagaimana diceritakan Imam al-Bukhari, layaknya sekelompok orang di atas kapal. Mereka akan mengundi, siapa yang berada di dek atas dan siapa yang di bawah. Setelah itu, ketika yang di bawah ingin mengambil air minum, maka ia harus melewati mereka yang di atas, bahkan tidak sekedar melewati tapi juga minta bantuannya.
Karena sering dipersulit, salah seorang di dek bawah punya usul, “Bagaimana kalau kita belah saja perahu ini menjadi dua, sehingga kami yang di bawah tidak merepotkan yang di atas?”
Nabi pun melanjutkan cerita sambil mengomentari pertanyaan di atas. Kalau keinginan mereka itu dituruti, tentu semuanya akan celaka, tenggelam. Tapi, jika mereka saling berpegang tangan dan bekerja sama, pasti mereka akan selamat.
Bagi saya, tidak semudah itu. Mengapa? Sebab, banyak orang yang gemar memberi santunan kepada fakir miskin, korban bencana alam, anak-anak jalanan, tapi hanya untuk mencari muka dan simpatik. Sementara itu, kita dikelabuhi bahwa ‘materi’ yang mereka gunakan dalam aksi sosial itu adalah uang hasil merampok negara.
Ini senada dengan ‘teori dramaturgi’ ala sosiolog kondang abad ke-20 Erving Goffman. Yaitu sesuatu yang dipentaskan di atas panggung itu ghalibnya amat sangat bertolak belakang dengan kondisi di belakang panggung. Apa yang tampak dipermukaan dan ditonton oleh khalayak tak ubahnya sepenggal kisah drama atau sandiwara yang hilang begitu saja usai lakon dipentaskan.
55
Karena itu, solidaritas sosial harus meliputi dua hal: 1) pembentukan jati diri atau kepribadian dan 2) pembentukan prilaku sosial. Keduanya harus berjalan selaras, serasi, dan seimbang. Sebaik apapun kepribadian seseorang jika ia tidak mampu mengaktualkan dalam kehidupan bermasyarakat, maka tidak masuk kategori solidaritas sosial. Begitu pula sebaliknya. Berarti, kualitas individu dan prilaku sosial seseorang harus integral dalam satu nafas kehidupan.
Kalau begitu, bermoral sama dengan berjiwa solidaritas sosial. Kamus besar bahasa Indonesia menyebutkan, bermoral adalah mempunyai pertimbangan baik-buruk atau berakhlak baik. Prinsip ‘baik-buruk’ tentu tidak mungkin hanya melingkupi diri seseorang secara individual, tapi cakupannya luas, antara individu dengan lingkungan. Berarti, kita dapat meraba apakah ‘si fulan’ itu bermoral atau tidak, yaitu dengan melihat kepribadiannya dan tindakan sosial di masyarakat bukan dengan cara sekadar melihat gaya berpakaiannya.
Prinsip-prinsip solidaritas sosial yang mendasar dalam Islam adalah, pertama, ‘pemerataan harta’ untuk kepentingan sosial. Saking pentingnya, al-Quran menyebut harta dengan istilah ‘kebaikan’ (khair). Apabila seseorang di antara kamu kedatangan maut, lalu meninggalkan ‘kebaikan’, maka diwajibkan atas kamu untuk berwasiat kepada orang tua dan para kerabat. (QS. 2: 180). Pada ayat lain juga disebutkan, sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada ‘kebaikan’. (QS. 100: 8).
Makna kebaikan yang dimaksud dalam dua ayat tersebut tak lain adalah ‘harta’. Setidaknya ayat tersebut menyiratkan makna, bahwa harta akan bernilai jika: 1) diperoleh dari jalan yang baik dan 2) didermakan untuk kebaikan.
Karenanya, Islam melarang keras penumpukan harta untuk memperkaya diri. Surat Al-Humazah ayat 1-4 mengajarkan kepada kita, bahwa orang yang gemar harta dan tidak punya jiwa peduli sosial adalah termasuk golongan orang-orang yang culas.
B. Peran Masjid Raya Cinere Dalam Meningkatkat Solidaritas Sosial Masyarakat Cinere Limo-Depok
Masjid Raya Cinere dalam melakukan tugasnya yang biasa disebut sebagai peran telah melakukan tugasnya dengan baik dalam arti sejauh ini berhasil telah memberikan pelayanan masyarakat yang memang mereka butuhkan. Banyak kegiatan sosial yang telah dijalankan oleh Masjid Raya Cinere dalam upaya meningkatkan solidaritas sosial pada masyarakatnya. Dalam perjalanannya yang cukup singkat, Masjid Raya Cinere adalah sebagai salah satu masjid yang bisa menjalankan fungsi sosialnya tidak seperti kebanyakan masjid yang lain, meskipun letak dari Masjid Raya Cinere berada pada perumahan dan bukan berarti peran dari masjid ini tidak dijalankan.
Masjid secara umum sering kali diidentikkan dengan tempat shalat bagi mereka yang mengaku islam sebagai agama anutannya. Di luar itu, masjid seolah-olah tidak memiliki fungsi sosial apapun. Lebih-lebih untuk kegiatan yang benuansa sosial, ekonomi, ataupun kegiatan-kegiatan sosial budaya lainnya. Bahkan sebagiannya masih ada yang cenderung menanggapnya haram. Akibatnya peningkatan jumlah masjid ditengah-tengah kehidupan masyarakat dewasa ini belum banyak berpengaruh pada penurunan angka kemiskinan ataupun tensi konflik sosial yang diharapkan.
57
Optimalisasi fungsi masjid, baik pada tingkat intensifikasi maupun ekstentifikasi, pada gilirannya dapat bermanfaat bagi pembinaan masyarakat, bukan saja pada aspek ritual tapi juga pada pembinaan aspek wawasan sosial, politik dan ekonomi tuntutan dan perkembangan zaman khususnya seperti yang kita saksikan sekarang ini. Sebab kehadiran masjid di tengah-tengah kehidupan