Pada bab ini penulis akan mendeskripsikan tentang sejarah, struktur organisasi, kegiatan, permodalan dan tingkat perkembangan BMT Al – Ishlah Salatiga.
BAB IV Analisis
Pada bab ini penulis akan menguraikan tentang penjelasan mengenai analisis manajemen risiko pada pembiayaan mudharabah di BMT Al – Ishlah Salatiga.
BAB V Penutup
Pada bab ini berisi kesimpulan dari pembahasan BAB IV dan saran-saran yang ditujukan penulis kepada instansi yang terkait dari penelitian.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
Telaah penelitian sebelumnya ini sangat penting untuk dilakukan guna membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian lainnya, sehingga tidak terjadi adanya duplikasi. Pustaka-pustaka yang menjadi telaahan dalam penulisan ini antara lain :
Khuriawati (2011) yang meneliti tentang apakah ada pengaruh Manajemen Risiko dan Emotional Spiritual Quotient (ESQ) terhadap pemberian pembiayaan Mudharabah tanpa jaminan di BMT Kabupaten Purworejo. Metode penelitian menggunakan uji statistik dengan analisis Regresi Berganda. Hasil analisi regresi variabel Manajemen Risiko dan ESQ memiliki tanda positif artinya variabel Manajemen Risiko dan ESQ memiliki pengaruh positif terhadap pemberian pembiayaan Mudharabah tanpa jaminan.
Afifa (2010) yang meneliti tentang strategi meminimalisasi risiko pembiayaan macet di BMT Muhajirin Salatiga. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah cara meminimalisasi dan menanggulangi resiko pembiayaan macet meliputi pemantau dan kerjasama, eksekusi jaminan dan cadangan risiko pembiayaan tak tertagih.
Imanah, Dairotun Imanah. Riyantika, Susi & Sudarsih Umi (2015) yang meneliti tentang implementasi manajemen risiko pembiayaan dalam upaya
meningkatkan profitabilitas pada BPRS Khasanah Ummat. Metode Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan pada hakikatnya sudah di mulai jauh sebelum prosedur awal pembiayaan yaitu meliputi pemasaran pembiayaan, prosedur pemberian pembiayaan, pengawasan pembiayaan, pengelolaan pembiayaan bermasalah dan penyelesaian pembiayaan bermasalah.Implementasi manajemen risiko pembiayaan yang sesuai dengan koridor yang telah ditetapkan dapat efekif meningkatkan profitabilitas Bank.
Jamilah (2016) yang meneliti tentang pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK),
Capital Adequacy Ratio (CAR), Return On Asset (ROA), Non Performing Financing
(NPF), dan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap pembiayaan mudharabah. Sedangkan penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda, maka hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dana pihak ketiga berpengaruh positif terhadap pembiayaan
mudharabah, capital adequacy ratio berpengaruh positif terhadap pembiayaan
mudharabah, return on asset berpengaruh negatif terhadap pembiayaan mudharabah,
non performing financing tidak berpengaruh positif terhadap pembiayaan
mudharabah, biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) berpengaruh negatif terhadap pembiayaan mudharabah.
Friyanto (2013) yang meneliti tentang bagaimana meminimalisasi risiko serta memahami alternatif solusi pada pembiayaan mudharabah di Bank BTN Kantor Cabang Syariah Malang. Metode penelitian ini menggunakan metode problem
solving. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko dapat diminimalisasi dengan menentukan syarat-syarat yang harus dipatuhi oleh nasabah.
Beberapa penelitian yang telah diuraikan di atas berfungsi sebagai literatur atau referensi terhadap penelitian penulis. Sedangkan perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu pada penelitian ini lebih ditegaskan tentang penerapan manajemen risiko pembiayaan mudharabah yang lebih menyeluruh dan sebelumnya belum dilakukan penelitian tentang analisis manajemen risiko pembiayaan
mudharabah pada BMT AL – ISHLAH SALATIGA. Tabel 2.1
Penelitian Sebelumnya
Peneliti Judul Metodolo
gi Variabel Hasil Khuriawati (2011) Pengaruh Manajemen Risiko dan Emotional spiritual quotient (esq) terhadap Kinerja Pembiayaan Mudharabah tanpa jaminan (Survei BMT di kabupaten Purworejo) Analisis Regresi Variable Dependen t : Manajem en Risiko Variable Independe nt : Pembiaya an Mudharab ah Tanpa Jaminan Variabel Manajemen Risiko Dan ESQ Memiliki Tanda Positif Artinya Variabel Manajemen Risiko Dan ESQ Memiliki Pengaruh Positif Terhadap Pemberian Pembiayaan Mudharabah Tanpa Jaminan. Liza Muzayana Afifa (2011) Strategi Meminimalisasi Dan Menanggulangi Resiko Pembiayaan Macet Pada Bmt Muhajirin Deskriptif Kualitatif.
- Hasil dari penelitian ini
adalah cara
Meminimalisasi dan menanggulangi resiko
pembiayaan macet
meliputi pemantau dan kerjasama, eksekusi jaminan dan cadangan
Salatiga risiko pembiayaan tak tertagih. Fina Dairotun,Imana h, Susi Riyantika dan Umi Sudarsih Implementasi Manajemen Resiko Pembiayaan Dalam Upaya Meningkatkan Profitabilitas ( Studi Kasus Pada BPRS Khasanah Ummat Purwokerto ) Deskriptif Kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan pada hakikatnya sudah di mulai jauh sebelum
prosedur awal pembiayaan yaitu meliputi pemasaran pembiayaan, prosedur pemberian pembiayaan, pengawasan pembiayaan, pengelolaan pembiayaan bermasalah dan penyelesaian pembiayaan bermasalah.Implementas i manajemen risiko pembiayaan yang sesuai dengan koridor yang telah ditetapkan dapat efekif meningkatkan profitabilitas Bank. Jamilah (2016) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Umum Syariah Di Indonesia Analisis
Regresi Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa dana pihak ketiga berpengaruh
positif terhadap
pembiayaan mudharabah, capital adequacy ratio
berpengaruh positif terhadap pembiayaan
mudharabah, return on asset berpengaruh negatif terhadap pembiayaan
mudharabah, non performing financing tidak berpengaruh positif terhadap pembiayaan mudharabah, biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) berpengaruh
negatif terhadap pembiayaan mudharabah. Friyanto (2013) Pembiayaan mudharabah, risiko dan penanganannya (studi kasus pada bank btn kantor cabang syariah malang) Problem Solving. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa risiko dapat diminimalisasi
dengan menentukan
syarat-syarat yang harus dipatuhi oleh nasabah.
B. Kajian Teoritik 1. Pengertian Risiko
Risiko adalah kemungkinan terjadinya penyimpangan dari harapan yang dapat menimbulkan kerugian. Risiko tidak cukup dihindari, tapi harus dihadapi dengan cara-cara yang dapat memperkecil kemungkinan terjadinya suatu kerugian. Risiko dapat dating setiap saat, agar risiko tidak menghalangi kegiatan, maka risiko harus dikelola secara baik (Kasidi, 2014:4).
Bank Indonesia (PBI No. 13/25/PBI/2011) mendefinisikan risiko sebagai “potensi terjadinya kerugian akibat dari peristiwa tertentu”. Sementara itu, risiko kerugian adalah sesuatu hal yang merupakan konsekuensi baik secara langsung atau tidak langsung dari suatu kejadian. Risiko ini bersifat tidak pasti, dimana ketika terjadi suatu keadaan yang tidak diinginkan dan dapat menimbulkan ketidaksesuaian dari hasil yang diharapkan.
Sering kali risiko muncul karena adanya lebih dari satu pilihan dan dampak dari tiap pilihan tersebut belum dapat diketahui dengan pasti, sebagaimana tidak pastinya masa depan. Risiko didefinisikan sebagai
konsekuensi atas pilihan yang mengandung ketidakpastian yang berpotensi mengakibatkan hasil yang tidak diharapkan atau dampak negatif lainnya (Anggraeni, 2015).
2. Jenis-jenis Risiko
Berdasarkan PBI Nomor 13/23/PBI/2011 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah terdapat sepuluh jenis risiko yang dihadapi bank Islam, yaitu: risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko reputasi, risiko strategis, risiko kepatuhan, risiko imbal hasil, dan risiko investasi. Delapan risiko pertama merupakan risiko umum yang juga dihadapi oleh bank konvensional. Sedangkan dua risiko terakhir merupakan risiko unik yang khusus dihadapi oleh bank Islam. a. Risiko Kredit
(Kasidi et al, 2014:58) risiko kredit adalah risiko yang berkaitan dengan kemungkinan kegagalan debitur untuk melunasi utangnya, baik pokok maupun bunganya pada waktu yang telah ditentukan. Risiko kredit pada umumnya dihadapi oleh industry jasa perbankan, walaupun perseorangan atau lembaga-lembaga keuangan yang bukan bank tidak tertutup kemungkinan untuk terkena risiko ini.
Risiko kredit dapat timbul karena beberapa hal, antara lain :
1) Adanya kemungkinan pinjaman yang diberikan oleh bank atau obligasi (surat utang) yang dibeli oleh bank tidak dibayar;
2) Tidak dipenuhinya kewajiban, dimana bank yang terlibat di dalamnya dapat melalui pihak lain, misalnya kegagalan memenuhi kewajiban pada kontrak derivative; dan
3) Penyelesaian (settlement) dengan nilai tukar, suku bunga, dan produk derivative ( menurut Kasidi et al, 2014:58 dalam Imam Ghozali, 2007:12).
Kerugian risiko kredit dapat timbul sebelum terjadinya default, sehingga risiko kredit itu didefinisikan sebagai potensi kerugian nilai market to market yang mungkin timbul karena pemberian kredit oleh bank ( menurut Kasidi et al, 2014:58 dalam Imam Ghozali, 2007:12).
Risiko kekuasaan (souverign risk) merupakan risiko kredit yang muncul ketika suatu Negara memberlakukan pengawasan terhadap devisa (foreign exchange control), sehingga menyebabkan pihak lain tidak mungkin lagi melunasi utangnya, souverign risk, merupakan risiko Negara (country risk), sedangkan default merupakan risiko perbankan (Kasidi, et al 2014:58). b. Risiko Pasar
Risiko ini muncul akibat karena harga pasar bergerak kea rah yang merugikan. Risiko ini merupakan risiko gabugan yang terbentuk akibat perubahan suku bunga, perubahan nilai tukar serta hal lain yang mempengaruhi harga pasar saham, ekuitas maupun komoditas (Kasidi, et al
c. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas terbagi menjadi dua macam, yaitu risiko likuiditas asset (asset liquidity risk) dan risiko likuiditas pendanaan (funding liquidity risk). Risiko likuiditas asset atau sering disebut dengan market/product liquidity risk, timbul ketika suatu transaksi tidak dapat dilaksanakan pada harga pasar. Yang terjadi akibat besarnya nilai transaksi relative terhadap besarnya pasar. Sedangkan risiko likuiditas pendanaan yang juga sering disebut cash-flow risk, yaitu risiko ketidakmampuan memenuhi kewajiban jatuh tempo sehingga mengakibatkan likuiditas (Kasidi, et al 2014:67). d. Risiko Operasional
Proses penggunaan teknologi yang berdampak pada operasional bank merupakan risiko yang timbul akibat tindakan manusia. Oleh karena itu, kecurangan, ketidakjujuran, kegagalan manajemen, sistem pengendalian yang tidak memadai, prosedur operasional yang tidak tepat, termasuk dalam risiko operasional. Risiko operasional juga dapat menyebabkan terjadinya risiko pasar dan risiko kredit. Misalnya, adanya masalah operasional pada transaksi bisnis seperti, kegagalan settlement akan menciptakan risiko pasar dan risiko kredit, karena kerugian dari masalah operasional ini besarnya tergantung dari pergerakan harga pasar (Kasidi, et al 2014:68).
e. Risiko Hukum
Risiko hukum muncul akibat adanya tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis. Risiko ini timbul antara lain, karena adanya
tuntutan secara hukum dan ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung atau kelemahan perikatan, seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontrak atau pengikatan agunan yang tidak smpurna. Risiko ini tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh bank konvensional.
f. Risiko Reputasi
Risiko ini muncul akibat opini negative public terhadap operasional bank, sehingga dapat mengakibatkan menurunya jumlah nasabah bank tersebut atau menimbulkan biaya besar karena gugatan pengadilan atau merosotnya pendapatan bank. Persepsi public tentang pasar merupakan penyebab yang cukup signifikan dalam risiko reputasi (Kasidi, et al 2014:68). g. Risiko Strategik
Risiko ini muncul akibat penerapan strategi yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang keliru atau bank kurang responsive terhadap perubahab eksternal, sehingga bank mengalami kerugian (Kasidi, et al 2014:68).
h. Risiko Kepatuhan
Risiko ini terjadi, karena bank tidak mau mematuhi atau tidak mau melaksanaakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku. Kemudian bank Islam diharuskan memenuhi prinsip-prinsip syariah dalam aktivitas bisnisnya. Inilah yang seharusnya mencirikan bank Islam. Bank Islam harus benar-benar beroperasi murni berdasarkan syariah Islam. i. Risiko Imbal Hasil
Risiko imbal hasil terjadi akibat perubahan tingkat imbal hasil yang dibayarkan bank kepada nasabah dan memengaruhi perilaku nasabah. Risiko ini muncul sebagai akibat terjadinya perubahan tingkat imbal hasil yang diterima bank dari penyaluran dana ke debitur.
j. Risiko Investasi
Risiko investasi muncul akibat bank ikut menanggung kerugian usaha debitur yang dibiayai dalam pembiayaan berbasis bagi hasil. Berdasarkan fatwa DSN MUI, perhitungan bagi hasil tidak hanya didasarkan atas jumlah pendapatan atau penjualan yang diperoleh debitur, namun telah dikurangi dengan biaya pokoknya. Risiko investasi ini makin besar jika basis bagi hasilnya berdasarkan atas laba operasi atau laba netto usaha debitur. Bahkan jika sampai usaha debitur bangkrut, bank dapat kehilangan pokok pembiayaan yang diberikan kepada debitur.
3. Pengertian Manajemen Risiko
Manajemen berasal dari kata to manage yang artinya mengatur. Istilah Manajemen (management) telah diartikan oleh berbagai pihak dengan perspektif yang berbeda.Diantaranya yaitu pengelolaan, pembinaan, kepengurusan, tata laksana, kepemimipinan, ketatapengurusan, administrasi dan sebagainya (Khaerudin, 2015:30).
Manajemen risiko didefinisikan sebagai suatu metode logis dan sistematik dalam identifikasi, kuantifikasi, menentukan sikap, menentukan solusi, serta
melakukan monitor dan pelaporan risiko yang berlangsung pada setiap aktivitas atau proses (Idroes, 2008:5).
Manajemen risiko pada bank Islam seharusnya merupakan suatu proses berkelanjutan tentang bagaimana bank mengelola risiko yang dihadapinya. Meminimalkan potensi keterjadian dan dampak yang ditimbulkan pada berbagai risiko yang tidak dikehendaki. Pada sisi lain, menerima dan beroperasi dengan risiko tersebut. Bahkan dalam tataran yang lebih tinggi, jika memungkinkan bank Islam dapat mengonversi risiko menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. Lebih jauh, manajemen risiko adalah tentang bagaimana bank secara aktif memilih jenis dan tingkat risiko yang sesuai dengan kegiatan
usaha bank tersebut (Anggraeni, 2015:32).
Dalam kerangka manjemen risiko, kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan perlu dilakukan pada suatu program penanggulangan risiko agar tujuan program tersebut dapat tercapai secara efektif dan efisien. Program penanggulangan risiko suatu organisasi dapat diklasifikasikan kedalam beberapa kegiatan di antaranya:
a. Identifikasi Risiko (Risk Identification)
Identifikasi risiko pada dasarnya adalah suatu kegiatan untuk mengumpulkan semua informasi yang berkaitan dengan kegiatan usaha. Kemudian menganalisisnya untuk menemukan setiap eksposure risiko yang dimungkinkan dapat menjelma menjadi bentuk kerugian (Kasidi et al, 2014:11). Pengidentifikasian risiko merupakan proses analisis untuk
menemukan secara sistematis dan berkeseimbungan, risiko (kerugian potensial) yang menantang perusahaan. Teknik yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi risiko diantaranya:
1) Menganalisis laporan keuangan suatu perusahaan.
2) Menganalisis flow chart kegiatan dan operasi perusahaan untuk melihat risiko suatu proses produksi dan operasi.
3) Menganalisis kontrak yang telah dan sedang dibuat perusahaan dengan para kliennya.
4) Melihat catatan statistik kerugian dan laporan kerugian perusahaan. 5) Survey dan wawancara terhadap manajer sehubungan dengan risiko
yang biasa dihadapi sehari-hari.
b. Pengukuran dan Evaluasi Risiko (Risk Assessment)
Pengukuran dan evaluasi risiko adalah proses sistematis yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengukur tinggi rendahya risiko yang dihadapi perusahaan melalui kuantifikasi risiko. (Kasidi et al, 2014:25) Adapun tujuan pengukuran risiko adalah untuk:
1) Mengetahui relative tingkat pentingnya;
2) Memperoleh informasi untuk menetapkan kombinasi peralatan manajemen risiko yang cocok untk menanganinya.
Ada dua dimensi dalam pengukuran risiko yaitu frekuensi terjadinya kerugian dan signifikansi dan kegawatan (saverity) dari suatu
kejadian/risiko. Frekuensi suatu kejadian bisa dikelompokkan ke dalam beberapa tingkatan seperti:
1) Hampir tidak mugkin terjadi (almost nil) 2) Kemungkinan kecil terjadi (slight) 3) Mungkin terjadi (moderate) 4) Mungkin sekali terjadi (definite)
Sedangkan tingkatan signifikansi suatu kejadian suatu risiko dapat dibagi dalam:
1) Normal loss expectancy, bila kerugian masih dapat dikelola sendiri 2) Probably maximum loss, kerugian bila pegaman tidak berfungsi 3) Maximum foreseeable loss, kerugian yang tidak dapat diatasi sendiri 4) Maximum possible loss, kerugian yang tidak dapat diamankan (baik
secara pribadi maupun melalui asuransi). c. Pengelolaan Risiko
(Anggraeni et al, 2015:38) setelah risiko diidentifikasi dan diukur serta dievaluasi, barulah kita dapat melakukan pengelolaan terhadap risiko. Beberapa alternatif pengelolaan terhadap risiko dilakukan dengan antara lain penghindaran, ditahan (retention), diversifikasi, transfer risiko, dan pendanaan risiko. Penghindaran risiko dilakukan jika frekuensi terjadinya risiko sangat besar dan signifikansi/tingkat kegawatan jika risiko itu terjadi sangat besar serta perusahaan tidak akan mampu mengelolanya ataupun
menanggung kerugian risiko tersebut, bahkan pihak asuransi pun tidak mampu menahannya.
Alternatif pengelolaan berikutnya adalah menahan risiko. Menahan risiko adalah menghadapi risiko dengan kemampuan sendiri dan sumber daya yang ada tanpa meminta bantuan pihak lain separti perusahaan asuransi. Risiko ditahan jika frekuensi maupun signifikansi terjadinya risiko masih dapat diatasi sendiri dengan kemampuan sendiri, dan perusahaan diperkirakan masih dapat mengelolanya sendiri.
Diversifikasi adalah penempatan kekayaan pada beberapa asset yang berbeda dengan tujuan meminimalkan risiko. Diversifikasi bisa dilakukan oleh perusahaan yang memiliki sumber daya yang cukup. Semakin besar diversifikasi, atau semakin banyak macam asset yang dimiliki, semakin kecil risiko kerugian total akibat investasi tersebut.
Transfer risiko adalah proses pengalihan sebagian atau seluruh risiko yang ditanggung pada pihak lain (penanggung) yang biasanya adalah perusahaan asuransi. Transfer risiko dapat dilakukan hanya pada jenis risiko yang bersifat murni. Pengalihan risiko dapat dilakukan pada sebagian kecil risiko sampai pada seluruh risiko tergantung besarnya retensi perusahaan asuransi dan tergantung pada besarnya premi yang dibayarkan.
d. Pemantauan Risiko
Dalam rangka melaksanakan pemantauan risiko, bank wajib sekurang-kurangnya melakukan evaluasi terhadap eksposur risiko dan penyempurnaan
proses pelaporan apabila terdapat perubahan kegiatan usaha bank, produk, transaksi, faktor risiko, teknologi informasi, dan sistem informasi manajemen risiko (Idroes et al, 2008:59).
B. Akad Mudharabah
1. Pengertian Mudharabah
Kata mudharabah berasal dari kata dharb yang berarti memukul atau berjalan. Pengertian memukul atau berjalan ini lebih tepatnya adalah proses seseorang memukulkan kakinya dalam usaha. Kata mudharabah juga berasal dari kata adhdharby fil ardhi yaitu bepergian untuk urusan dagang. Disebut juga
qiradh yang berasal dari kata al-qardhu yang berarti potongan karena pemilik memotong hartanya untuk diperdagangkan dan memperoleh keuntungan. Secara teknis, mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh modal (100%), sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus tanggungjawab atas kerugian tersebut (Antonio, 2001: 95).
Jadi, pembiayaan mudharabah adalah pembiayaan yang disalurkan oleh bank syariah kepada pihak lain untuk suatu usaha yang produktif (Yaya, 2014 : 108).
2. Landasan Syariah
Secara umum, landasan dasar syariah mudharabah lebih mencerminkan anjuran untuk melakukan usaha. Hal ini tampak dalam ayat-ayat dan hadits berikut ini:
a. Al-Qur‟an
Beberapa dalil yang berasal dari ayat-ayat Al-Quran yang membolehkan akad mudharabah diantaranya adalah:
1) Firman Allah QS. An-Nisa [4]: 29
29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa[4]: 29)
2) Firman Allah QS. Al-Maidah [5]: 1
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Maidah [5]: 1)
3) Firman Allah Al-Baqarah [2]: 283
“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) Menyembunyikan persaksian. dan Barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Baqarah [2]: 283)
b. Al-Hadis
1) Hadis Nabi Riwayat Thabrani:
“ Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harta sebagai mudharabah, ia mensyaratkan kepada mudharibnya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu dilanggar, ia (mudharib) harus menanggung risikonya. Ketika persyaratan yang ditetapkan „Abbas itu didengar Rasulullah, beliau membenarkannya.” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas)
“Nabi bersabda, „Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli
tidak secara tunai, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum kualitas baik dengan gandum kualitas rendah untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual.” (HR. Ibnu Majah dari Shuhayb) 3) Hadis Nabi riwayat at-Tirmidziy dari „Amr bin „Awf:
“shulh (penyelesaian sengketa melalui musyawarah untuk mufakat) dapat dilakukan diamtara kaum muslimin, kecuali shulh yang mengharamkan yang haram atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terkait dengan syarat-syarat mereka, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram” (HR. at-Tirmidziy dari „Amr bin „Awf)
4) Hadis Nabi:
َراَرِضلَورَرَضَلَ
“ tidak boleh membahayakan/ merugikan (orang lain) dan tidak boleh
membalas bahaya dengan bahaya” (HR. Ibnu Majah, ad-Daraquthniy,
dan yang lain dari Abu Sa‟id al-Khudriy) c. Ijmak
Diriwayatkan sejumlah sahabat menyerahkan (kepada mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorangpun mengingkari mereka. Karenanya, hal itu dipandang sebagai ijma.
d. Qiyas
e. Kaidah Fikih
اَهِمْيِرْحَج ىَلَع ٌلْيِلَد ُّلُدَي ْنَأ َّلَِإ ْةَحاَبِ ْلْا ِت َلاَماَعُمْلا ىِف ُلْصَ ْلْا
“pada dasarnya semua bentuk muamalah adalah boleh dialkukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya”
3. Rukun dan Syarat Mudharabah
a. Rukun Mudharabah
Faktor-faktor yang harus ada (rukun) dalam akad mudharabah adalah: 1) Pelaku (pemilik dana dan pengelola dana)
Dalam akad mudharabah harus ada minimal dua pelaku. Pihak pertama sebagai pemilik modal (shahibul maal), sedangkan pihak kedua bertindak sebagai pelaksana usaha (mudharib).
2) Obyek mudharabah (modal dan kerja)
Faktor kedua (obyek mudharabah) merupakan konsekuensi logis dari tindakan yang dilakukan oleh para pelaku. Pemilik modal menyerahkan modalnya sebagai obyek mudharabah, sedangkan pelaksana usaha menyerahkan kerjanya sebagai obyek mudharabah. 3) Ijab kabul (persetujuan kedua belah pihak)
Faktor ketiga, yakni persetujuan kedua belah pihak, merupakan konsekuensi dari prinsip an-taraddin minkum (sama-sama rela).
4) Nisbah Keuntungan
Faktor keempat (nisbah) adalah rukun yang khas dalam akad
oleh kedua piihak yang bermudharabah. Mudharib mendapatkan imbalan atas kerjanya, sedangkan shahibul maal mendapat imbalan atas penyertaan modalnya (Karim, 2010 : 205-206).
b. Syarat Mudharabah
(Djuwaini, 2010 : 228) Sedangkan syarat-syarat mudharabah sebagai berikut:
1) Pelaku
a. Dalam mudharabah, harus ada minimal dua pelaku. Pihak pertama bertindak sebagai pemilik dana, sedangkan pihak kedua bertindak sebagai pengelola dana.
b. Keduanya harus cakap hukum, baligh dan memiliki kemampuan untuk diwakilkan dan mewakilkan.
c. Pelaku akad mudharabah tidak hanya antara muslim dengan