BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK PRAKTIK KERJA LAPANGAN
E. Gambaran Pegawai Berdasarkan Golongan dan Jabatan
Tabel 2.1 Gambaran Pegawai berdasarkan Golongan dan Jabatan
NO NAMA PEGAWAI GOL JABATAN
1 Sadarta Bukit,SE,M.Si IV/c Kepala dinas pendapatan pengelola keuangan dan Aset Daerah
2 Ir.Thomas Ginting IV/b Sekretaris
3 Sehati Sitepu,SH III/d Kasubag Umum dan Kepegawaian 4 Dra.Rustiana Br Sembiring III/c Kasubag Keuangan
5 Sinarta Barus,BBA III/c Staf
6 Liasna Br Tarigan III/b Staf
7 Evalina Veranita Br Bangun III/b Bendahara Pengeluaran
9 Periyanti Br Ginting II/d Staf
10 Debi Jessika Sari Pegawai Honor
11 Siska Juliana Br Sebayang,A.Md Pegawai Honor
12 Adios Tarigan Pegawai Honor
13 Andhy Prananta Sembiring Pegawai Honor
14 Unggul,SE IV/a Kabid Pajak dan Retribusi Daerah
15 Njoreken Br Tarigan,SH III/d Kasi Retribusi dan Pendapatan Lain-lain 16 Safri Saleh Perangin-angin III/d Kasi Pendapatan dan Verifikasi 17 Esti Julistanti Br Ginting,S.Kom III/d Kasi Pajak dan Pendapatan Lain-lain 18 Drs.Menalan Karo-karo IV/a Staf
19 Leo Gunawan,SE III/b Staf
20 Lenny Marlina Gultom,SE III/a Staf 21 Frisderesia Sinaga,A.Md II/d Staf
22 Nimbangsa Purba II/b Staf
23 Chokky Sanjana Barus II/d Staf
24 Iving M.Simanjorang,A.Md II/d Staf
25 Kastra Ginting II/b Staf
26 Alpinanta Kaban Pegawai Honor
27 Debi Ika Sari Br Sitepu Pegawai Honor 28 Rosi Ulina Br Purba,SH Pegawai Honor
29 Kapiten Sembiring Pegawai Honor
31 Oci Nova Veronica Purba ,SH Pegawai Honor
32 Dra.Dewi Satriani Br Ginting IV/b Kabid Perencanaan
33 Esma Dewi Br Surbakti,SE III/b Kasi Pengumpulan Data Pengelolah dan Pelaporan
34 Johanis Ginting,SH III/d Kasi Perencanaan Program dan Pengendalian
35 Kastiannelli Br L.Tobing III/c Staf
36 Mhd. Cerah,SH III/d Kabid Pasar
37 Sejati Ginting III/d Kasi Pemberdayaan dan Pembina Pasar 38 Debora Morina Br Barus III/d Kasi Sarana dan Prasarana Pasar
39 Eli Novita Pegawai Honor
40 Fredy Susilo S.Milala Pegawai Honor
41 Yan Viktor Tarigan,SE III/d Kabid Anggaran dan Pemberdayaan
42 Lelita Dewi,SSTP III/c Kasi Penatausahaan Keuangan 43 Berry Primerta Sitepu,SE III/b Kasi Anggaran dan Belanja
44 Putra Nanda,SE III/a Staf
45 Deliana Br Sitepu,A.Md II/d Staf 46 Daud H.S Sebayang,A.Md II/d Pegawai Honor
47 Riadi Tarigan,SE.MM IV/a Kabid Bidang Akuntansi dan Peng. AsetDaerah
48 Dewiani,SH III/d Kasi Pengolaan Aset Daerah 49 Emi Ermina Br Sinulingga,SE III/c Kasi Akuntansi Keuangan 50 Masdiana Br Sembiring III/b Pengurus Barang
51 Sari Menanti Br Ginting,SE III/b Staf
52 Henrichon Lingga,SE III/b Staf
53 Marike Juniwati Limbong,SE III/b Staf
54 Hiskia Satria Purba Pegawai Honor
55 Amri Ginting,SH III/b Kuasa Bendahara Umum Daerah
56 Juita Sari Br Barus,SE III/c Staf
57 Dyan Nitha Br Pinem III/a Staf
58 Eddyanto Sembiring III/a Staf
59 Refika Maha III/c Staf
60 Eka Lestari,SE Pegawai Honor
61 Merna Lista Br Purba Pegawai Honor
62 Elma Sandova Br Surbakti Pegawai Honor
63 Priyanika Bukit,A.Md Pegawai Honor
64 Pernanda HP Sembiring Pegawai Honor Sumber : Kantor Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah
BAB III
GAMBARAN DATA PAJAK HOTEL
A.Ketentuan Peraturan dan Perundang-Undangan Tentang Pajak Daerah Kabupaten Karo
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 telah menyebabkan perubahan yang mendasar mengenai peraturan hubungan pusat dan daerah, khususnya dalam bidang administrasi pemerintah dalam hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah yang dikenal sebagai era otonomi daerah.
Dalam rangka meningkatkan kemampuan keuangan daerah agar dapat melaksanakan otonomi daerah, pemerintah melakukan berbagai kebijakan perpajakan daerah diantaranya dengan menetapkan Undang-Undang 28 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pemberian kewenangan dalam pengenaan pajak dan retribusi daerah, diharapkan dapat lebih mendorong pemerintah daerah terus berupaya untuk mengumpulkan PAD, khususnya yang berasal dari pajak dan retribusi daerah. Undang-Undang tersebut didukung dengan dikeluarkannya PP Nomor 91 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah.
Dalam melaksanakan PP Nomor 91 Tahun 2010, pemerintah Kabupaten Karo diberi wewenang untuk membuat satu peraturan daerah dalam rangkka menggali sumber pemasukan daerah. Salah satu adalah dengan mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 03 Tahun 2012 tentang Pajak Daerah.
1. Daerah adalah Daerah Kabupaten Karo
Ketentuan Umum
2. Pemerintah Daerah adalah penyelenggaraan urusan Pemerintah oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
3. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggaraan Pemerintah Daerah.
4. Bupati adalah Bupati Karo
5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah Kabupaten Karo sebagai unsur penyelenggara pemerintah daerah.
6. Peraturan Bupati adalah Peraturan Bupati Karo.
7. Pajak Daerah yang selanjutnya disebut Pajak adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
8. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), atau Badan Usaha Milik Daerah
(BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk Kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
9. Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel.
10. Hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya yang dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmen, bungalau, gubuk pariwisata, wisma pariwisata, pasanggrahan, rumah penginapan, villa yang memiliki tanda daftar usaha pariwisata , bumi perkemahan, serta rumah kos dengan jumlah kamr lebih dari 10 (sepuluh). 11. Nilai Jual Objek Pajak yang selanjutnya disingkat NJOP adalah harga
rata-rata yang diperoleh dari traksaksi jual beli yang terjadi secara wajar, dan bilamana tidak terdapat transaksi jual beli, NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis, atau nilai perolehan baru, atau NJOP pengganti.
12. Subjek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang dapat dikenakan pajak. 13. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi membayar pajak,
pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundan-undangan perpajakan daerah.
14. Masa Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) bulan kalender atau jangka waktu lain yang diatur dengan peraturan bupati paling lama 3 (tiga) bulan kalender,
yang menjadi dasar bagi wajib pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang.
15. Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender, kecuali bila wajib pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender. 16. Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam
masa pajak, dalam tahun pajak, atau dalam bagian tahun pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
17. Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data objek dan subjek pajak, penentuan besarnya pajak yang terutang sampai kegiatan penagihan pajak kepada wajib pajak serta pengawasan penyetorannya.
18. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SPTPD adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
19. Surat Pemberitahuan Objek Pajak yang selanjutnya disingkat SPOP adalah surat yang digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan datan subjek dan objek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
20. Surat Setoran Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SSPD adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan
menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cari lain ke kas daerah melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Bupati.
21. Surat Ketetapan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak yang terutang.
22. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang yang selanjutnya disingkat SPPT adalah surat yang digunakan untuk memberitahukan besarnya Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan yang terutang kepada wajib pajak.
23. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar yang selanjutnya sisingkat SKPDKB adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah poko pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administratif, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar.
24. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan yang selanjutnya disingkat SKPDKBT adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan.
25. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil yang selanjutnya disingkat SKPDN adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.
26. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat SKPDLB adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan
pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau seharusnya tidak terutang.
27. Surat Tagihan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat STPD adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda.
28. Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputudan yang membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan daerah yang terdapat dalam Surat Pemberitahuan Pajak Terutang, Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, Surat Tagihan Pajak Daerah, Surat Keputusan Pembetulan, atau Surat Keputusan Keberatan.
29. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap Surat Pemberitahuan Pajak Terutang, Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang diajukan oleh wajib pajak.
30. Putusan Banding adalah putusan badan peradilan pajak atas banding terhadap Surat Keputusan Keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak.
31. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta,
kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga peerolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi untuk periode tahun pajak tersebut.
32. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional, berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah. 33. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah adalah serangkaian
tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya.