• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN A. Gambaran umum penelitian

C. Gambaran perilaku personal higiene santri

1. Gambaran perilaku personal higiene santri mengenai mandi

Berdasarkan hasil observasi didapatkan bahwa sebagian besar santri mempunyai bahan dan alat personal higien untuk mandi seperti : handuk, gayung, sabun mandi, dan pakaian bersih milik sendiri, deodorant, hand body. Ada juga yang hanya mempunyai handuk saja, sabun mandi saja, handuk dan pakaian bersih saja, dan ada juga yang tidak mempunyai gayung.

Hal ini sesuai dengan ungkapan sebagian besar informan bahwa jika mandi mereka menggunakan handuk, gayung, sabun mandi, dan memakai pakaian bersih milik sendiri setelah mandi, seperti ungkapan berikut

saya kalo mandi ya...pake handuk milik sendiri, gayung milik

sendiri, sabun mandi milik sendiri, pakaian yang bersih milik sendiri”

Para informan yang tidak mempunyai alat dan bahan mandi yang lengkap mengatakan bahwa kalau mandi menggunakan alat dan bahan yang mereka punya saja, ada juga yang mengatakan bahwa mereka terpaksa meminjam/meminta alat dan bahan milik temannya yang tergeletak dekat kamar mandi karena mereka tidak punya uang untuk membelinya sendiri, namun ada juga diantara mereka yang mengatakan menggunakan alat lain seperti sarung/kain panjang sebagai ganti handuk, seperti ungkapan berikut

ya kalo sabun mandinya lagi ga ada, terus kalo handuk..saya kan

emang ga punya, jadi... ya terpaksa cumi ja teh (Cuma minta/Cuma minjem), kan banyak... alat dan bahan punya temen yang tergeletak deket kamar mandi ya ambil aja... abisnya ga punya uang buat belinya...”

57

“saya sih kalo ga ada, ya pake seadanya aja, yang saya punya” (An 1

kelompok 2 putra)

“saya kan ga punya handuk teh...jadi pake kain panjang, terus pakean

bersih kalo musim hujan kan susah kering, jadi ya pake baju itu lagi aja”

(An 6 kelompok 1 putri)

Ustadzah pengasuhan juga menyebutkan bahwa pernah memberitahu santri agar tetap mandi meskipun tidak mempunyai sabun mandi, atau alat dan bahan yang lainnya, ustadzah juga menyebutkan bahwa hal tersebut dimaksudkan agar santri tidak tercium bau oleh orang lain. Pengurus organisasi juga menyebutkan bahwa santri terutama laki-kali suka memakai bahan dan alat mandi milik temannya yang tergeletak di dekat kamar mandi, seperti handuk, Berikut ungkapannya.

“pernah pengurus bilang si a jarang mandi bu, katanya badannya

bau terus ibu panggil dia ibu nasihatin sering mereka bilang ga punya sabunnya bu ya terus ibu bilang ja ga harus selalu pake sabun mandi itu ya dari pada kita tidak mandi gitu, ya alhamdulillah sekarang sudah ada

perubahan” (ustadzah)

“ yah setahu saya sih kalo sabun jarang ada yang suka di pake orang

lain tapi kalo handuk mah sih itu juga kalo ada handuk yang tergeletak dekat kamar mandi....nah, itu baru suka di pake santri yang lain tapi itu

juga kadang-kadang sih...” (pengurus)

Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadzah pengasuhan yang juga mengatakan bahwa yang menyebabkan para santri tidak mau mandi adalah

sabun mandinya sudah habis dan tidak mempunyai uang lagi untuk membeli sabun mandi. Hal ini disebabkan kebutuhan akan sabun mandi datang ketika keuangan santri sedang menipis, selain itu juga informan mengatakan malas mandi karena ngantri. Hal tersebut sesuai dengan yang dikatakan pengurus bahwa para santri jika mandi suka di tunda-tunda hingga waktunya habis, seperti ungkapannya berikut ini.

“yah...mungkin yang menyebabkan mereka tidak punya alat dan

bahan untuk mandi, karena kebutuhan mereka untuk membeli sabun mandi atau alat dan bahan yang lain untuk mandi, itu datang saat keuangan

mereka sedang tipis-tipisnya” (Ustadzah)

“kalo mandi juga kan suka ngantri teh soalna mandinya pada di

mepetin waktunya teh...” (pengurus)

Informan juga mengatakan bahwa tidak jarang orang tua mereka telat memberikan bekal untuk mereka, ada juga informan yang mengatakan bahwa orang tuanya suka mengurangi uang bekalnya karena orang tuanya sedang tidak mempunyai uang. Walaupun begitu masih ada informan yang mengatakan bahwa orang tua mereka datang memberi bekal atau biaya untuk hidup dipesantren dengan tepat waktu. Keterlambatan atau pengurangan biaya itulah yang membuat informan tidak dapat membeli alat dan bahan untuk mandi, ketika alat dan bahan tersebut sudah habis, sehingga frekuensi untuk melakukan mandipun berkurang, ada informan yang mengatakan mandi sehari 2x yaitu pagi dan sore, ada juga yang mengatakan mandi sehari 3-4 kali yaitu sebelum subuh, pagi, sebelum dzuhur, sore, bahkan ada juga informan yang mengatakan mandi 5x sehari namun itupun jika waktu untuk mandinya masih

59

ada, diantara informan yang suka mandi lebih dari 1x sehari ternyata masih ada informan yang memang merasa cukup hanya mandi 1x sehari pada cuaca dingin dan tidak berkeringat. Sedangkan penyebab informan tidak mandi dengan alat dan bahan adalah biaya, malas ngantri mandi, dan untuk menghilangkan rasa gerah. Informan mengatakan bahwa jika terlalu sering memakai sabun mandi maka tubuh akan menjadi bersisrik. Seperti yang dikatakan informan berikut ini

“.... mandi 2x sahari tapi make sabuna 1x sahari karena kalau terlalu

banyak memakai sabun kulit akan bersisrik teh...” (An 6 kelompok 1

putra)

“...mandi 3x sehari kalo ga gerah, pokonya minimal mandi 3x

sehari, pagi, dzuhur dan sore. Pake sabun kalo memang masih ada sabun

dan uangnya , kalo ga ada ya..ngga harus pake sabun”. (An 1 kelompok

1 putra)

Informan juga mengatakan langkah-langkah yang informan lakukan ketika mandi. Diawali dengan membasahi badan terlebih dahulu dengan air kemudian baru memakai sabun mandi dimulai dari tangan, badan, kaki, termasuk alat kelamin, seperti ungkapannya berikut ini

“pertama...basahin badan dulu...trus mandi badannya pake sabun

mulai dari tangan, badan, kaki, termasuk yang tengah teh (kelamin)” (An

4 kelompok 1 putra)

2. Gambaran perilaku personal higien santri mengenai menggosok gigi Dari hasil observasi di dapatkan bahwa para santri sudah mempunyai

sikat gigi, pasta gigi, gayung bersih/gelas bersih, lap kering/tissu, dan hanya sedikit yang mempunyai obat kumur. Tapi ada juga informan yang hanya mempunyai pasta gigi dan sikat gigi saja, ada juga informan yang menggunakan sikat gigi bersama dengan pasta gigi masing-masing, ada juga informan yang hanya mempunyai sikat giginya saja.

Hasil observasi tersebut diperkuat lagi dengan ungkapan sebagian informan yang mengatakan bahwa setelah menyikat gigi informan selalu berkumur dengan obat kumur agar lebih fresh, ada juga informan yang mengatakan kalau sikat gigi tidak memakai pasta gigi rasanya tidak nyaman, mulut rasanya masih terasa amis, jadi kalau tidak punya lebih baik meminta pada teman. Namun ada juga informan yang mengatakan lebih baik menyikat gigi dengan telunjuk dari pada meminjam/meminta alat dan bahan untuk sikat gigi pada orang lain. Hampir semua Informan juga menyebutkan caranya menggosok gigi yaitu dengan membasahi sikat terlebih dahulu baru setelah itu kumur-kumur dengan air putih dan sikat giginya kekanan, kiri, depan, dan belakang gigi. Berikut ungkapannya

“kalo saya sih, basahin sikat gigi trus kasih pasta giginya trus

kumur-kumur dulu dengan air baru deh sikat giginya yang kiri, kanan,depan, belakang ...terus kumur-kumur lagi dengan air putih, habis gosok gigi biasanya langsung kumur-kumur dengan listerin biar seger dan lebih bersih...”

“kalo saya teh ya terpaksa minta pasta giginya sama temen, abis

gimana ya teh..kalo sikat gigi ga pake pasta gigi tuh ga nyaman, mulut

61

“... saya sih ga penah tuh pinjem/minta .... bener teh... dulu kan

pernah teh pasta gigi dan sikatnya hilang, ya udah aja sikat gigi pake jari

telunjuk di gosokin seperti sikat gigi” (An.6 kelompok 2 putra)

Hal yang sama juga dikatakan pengurus organisasi bahwa jika para santri telah kehabisan alat dan bahan untuk sikat gigi, maka para santri akan meminjam/memintanya pada teman, berikut ungkapannya

“tapi kalo pasta gigi dan sikat gigi sih masing-masing sudah

punya...kecuali apabila pasta gigi dan sikat giginya telah habis, nah kalo kaya gitu sih kadang-kadang suka pada pinjem atau minta sama

temennya.” (pengurus)

Dari hasil diskusi dengan informan santri didapatkan bahwa hampir seluruh informan menyikat giginya 2x sehari yaitu pagi dan sore, ada juga yang 3-4x sehari yaitu pagi, siang, sore, dan malam sebelum tidur.

“....terus sikat gigi 3x sehari gitu teh...tiap pagi, sore, sebelum

tidur...” (An.1 kelompok 2 putri)

Informan mengaku mengetahui hal tersebut dari kemasan pasta gigi dan iklan di televisi yang mereka lihat saat liburan. Ada juga informan yang mengaku selalu diingatkan oleh ibunya untuk menyikat gigi sebelum tidur, ada juga informan yang mengatakan ikut menggosok gigi saat melihat temannya menggosok gigi, seperti ungkapan berikut

“ya kalo ngeliat temen lagi sikat gigi, walaupun kitanya males, malah jadi

ngikutin...yah secara ga sengaja temen itu ngingetin kita supaya gosok gigi”

Meskipun ada juga informan yang menyikat gigi 1x sehari, bahkan juga ada yang 2 hari sekali. Informan beralasan karena tidak mempunyai uang untuk membeli lagi pasta gigi atau sikat giginya, seperti ungkapan berikut

“...sikat gigi 2 hari sekali kalo lagi ga ada pasta giginya dan

uangnya” (An.5 kelompok 1 putra)

Dari hasil observasi juga ditemukan beberapa informan yang membuka botol dengan gigi, meretakan biji keras (seperti meretakan es batu) dengan gigi, memutuskan benang dengan gigi, dan menggunakan tusuk gigi untuk membersihkan makanan sisa di gigi.

3. Gambaran perilaku personal higien santri mengenai perawatan rambut Berdasarkan hasil observasi di dapatkan bahwa informan telah memiliki bahan dan alat untuk melakukan perawatan rambut seperti sampo, handuk, sisir rambut, Sisir kutu, minyak rambut, dan penutup kepala/kerudung milik sendiri. Kebanyakan informan menggunakan air yang sudah dipakai (bak besar) untuk berkeramas. Ada juga informan yang hanya mempunyai sisir rambut dan sampo saja, ada juga informan yang hanya mempunyai sampo

63

saja, dan ada juga dua informan yang memiliki satu botol sampo yang digunakan bersama, ada juga yang mempunyai sisir rambut dan sisir kutu saja. Kebanyakan dari informan tidak memiliki minyak rambut, namun semua informan laki-laki memiliki kopiah/penutup kepala dan informan putri memiliki kerudung untuk menutupi kepalanya.

Berikut ungkapan informan yang mengatakan bahwa ia menyisir rambutnya setiap ia membuka kerudungnya, ada juga yang mengatakan menyisir rambut setiap kali kusut, ada juga informan yang mengatakan suka mencari kutu rambut dengan sisir kutu tiap sebelum tidur, ada juga informan yang mengatakan menyisir rambutnya tiap kali ia menemukan sisir dan cermin, seperti ungkapan berikut

saya sih nyisir rambut tiap kali saya membuka kerudung teh, yah biar

ga kusut aja teh” (An 4 kelompook 1putri)

“kalo saya sih nyisir rambutnya tiap kali kusut aja teh...ya kalo lagi

gatel kepalanya, saya juga suka nyisir dengan sisir kutu setiap sebelum

tidur, karena saya ga betah terus-terusan garuk-garuk kepala.” (An 6

kelompok 1 putri)

Hasil observasi juga di dapatkan data bahwa sebagian informan suka menggaruk kepalanya karena gatal, dan beberapa informan suka mencari kutu rambut sebelum tidur dengan sisir kutu. Dari observasi juga di dapatkan satu informan yang selalu menutup kepalanya dengan kerudung sekalipun dalam keadaan tidur. Ustadzah mengatakan bahwa itu semua karena informan

merasa malu terhadap teman-temannya dikarenakan rambutnya telah dipotong sangat pendek karena ia mempunyai banyak kutu rambut, dan jenis rambutnya yang keriting gimbal, berikut ungkapannya

iya memang ada santri yang menutup kerudungnya secara

permanen karena ia malu dengan rambut gimbalnya, dan dulunya dia juga punya banyak kutu rambut, namun sekarang rambutnya sudah di potong pendek, tapi karena rambutnya masih terlihat gimbal jadi dia tetap tidak

mau melepas kerudungnya” (ustadzah)

Pengurus juga mengatakan bahwa para santri suka saling pinjam sisir rambut, kerudung, dan kopiah, ada juga dua orang yang memiliki satu sisir rambut. Dan ada juga 2 sisir kutu di pakai oleh satu asrama. Seperti ungkapan berikut

“Kalau sisir sih iya teh... suka di pake bareng-bareng, baik itu sisir rambut maupun sisir kutu. Kerudung juga suka ada yang pinjam-meminjam...”

Informan juga mengatakan ia mengeramasi rambutnya 1x sehari itu pun jika uang untuk membeli sampo masih ada, informan lain mengatakan berkeramas 2 hari sekali, ada juga informan yang mengatakan bersampo tiap kali ia mandi, dan hampir semua informan mengatakan cara mencuci rambutnya yaitu pertama rambut disiram dulu sampe basah tuangkan sampo dan cuci dengan sampo di gosok sampai berbusa kemudian dibilas lagi sampai busanya hilang, seperti ungkapan berikut

65

dan samponya masih ada” (An 5 kelompok 1 putra)

“...pertama rambut disiram dulu sampe basah trus tuangkan sampo

secukupnya ke tangan lalu beri sedikit air bis gitu langsung di taro di rambut di gosok gosok sampe berbusa itu tuh supaya kutu sama ketombenya hilang hilang trus siram lagi pake air sampai busanya

hilang....” (An. 6 kelompok 2 putra)

Ustadzah mengatakan bahwa ia menganjurkan santrinya untuk memotong / mencukur rambut satu bulan sekali. Walaupun begitu hasil observasi di dapatkan bahwa informan laki-laki kebanyakan belum mencukur rambutnya yang sudah panjang, setelah diskusi didapatkan data bahwa informan belum mempunyai uang untuk mencukur rambut. Seperti ungkapannya berikut ini

“...kalo rambut itu biasanya saya minta kepada bagian kebersihan

agar memeriksa siapa yang banyak kutunya setelah orang-orangnya di dapatkan saya minta bagian penggunting rambut untuk memotong rambutnya trus saya minta bagian kebersihan untuk memberikan peditok pada mereka, selain itu kalo hari jumat boleh potong rambut maksudnya

untuk dirapihkan” (ustadzah)

4. Gambaran perilaku personal higien santri mengenai perawatan mata Berdasarkan hasil observasi ditemukan bahwa sebagian informan jika membaca ia mencari tempat yang terang, informan juga membaca dengan jarak tidak kurang dari jarak 30 cm, informan juga membaca buku dengan posisi duduk, ada juga informan yang membaca di tempat yang pencahayaannya kurang, dan ada juga informan yang membaca dengan jarak

yang dekat yaitu kurang dari 30 cm, ada juga informan yang membaca sambil tiduran, namun diantara semua informan tidak ada yang membersihkan matanya dengan boorwater/air hangat.

Ustadzah juga mengatakan bahwa ia hanya pernah memberi tahu cara merawat mata kepada santri yang sedang sakit mata saja, sambil memberi obatnya, seperti ungkapannya berikut ini

“kalo untuk mata saya biasanya langsung memberi obat yang sakit

mata yah sambil ngasih tau pada mereka cara merawat mata..”

5. Gambaran perilaku personal higien santri mengenai perawatan hidung Hasil observasi ditemukan bahwa informan tidak menggunakan tisu /kain untuk membersihkan hidungnya, namun dari hasil diskusi di dapatkan data bahwa sebagian informan membersihkan hidungnya saat mandi, seperti ungkapanya berikut ini

“ saya sih kalo membersihkan hidung biasanya kalo lagi mandi teh”

(An 4 kelompok 1 putra)

6. Gambaran perilaku personal higien santri mengenai perawatan telinga Dari hasil observasi tidak ditemukan informan yang melakukan perawatan telinga, ataupun yang memiliki alat dan bahan untuk merawat telinga. Namun dari hasil diskusi didapatkan bahwa informan jika

67

membersihkan telinga menggunakan rumput ilalang, ada juga informan yang mengatakan bahwa ia membersihkan telinganya saat mandi, berikut ungkapannya

“membersihkan telinga saat mandi, caranya telinga di gosok agar

kotoran di daun telinganya menyingkir, nah paginya pake daun jampang untuk membersihkan lubang telinganya, selain itu juga agar pendengarn lebih tajam.” (An 4 kelompok 1 putra)

7. Gambaran perilaku personal higien santri mengenai mencuci tangan Dari hasil observasi didapatkan data bahwa informan sudah mempunyai alat dan bahan untuk mencuci tangan seperti, sabun milik sendiri, handuk/kain bersih milik sendiri untuk mengelap tangannya, dan air mengalir, mereka juga mempunyai gunting kuku untuk memotong kukunya. Namun, ada juga informan yang hanya memiliki sabun saja, ada juga informan yang memiliki handuk dan gunting kuku, ada juga informan yang mempunyai sabun dan handuk saja.

Hasil observasi bahan dan alat tersebut, diperkuat dengan perilaku informan ketika menggunakan alat dan bahan untuk mencuci tangan. Informan yang mempunyai alat dan bahan yang lengkap terlihat mencuci tangannya menggunakan sabun, mengelap tangannya dengan handuk/kain bersih, dan membilasnya dengan air bersih yang mengalir. Namun, informan yang tidak mempunyai alat dan bahan yang lengkap untuk mencuci tangan,

terlihat menggunakan bahan dan alat lain seperti mencuci tangan dengan air yang ada di bak mandi yang belum dikuras, ada juga informan yang mencuci tangan dengan sabun bekas mencuci piring, ada juga informan yang tidak langsung mencuci piringnya setelah makan sehingga ia tidak mencuci tangannya dengan sabun, ada juga informan yang mengeringkan tangannya dengan mengipas-ngipaskan tangan, namun ada juga informan yang mengeringkan tangannya dengan rok/celana yang mereka pakai.

Informan juga terlihat mencuci tangan sebelum makan, mencuci tangan setelah makan, mencuci tangan setelah buang air besar dan buang air kecil, menjaga kebersihan kuku dan merawat kuku tetap pendek dengan gunting kuku. Tapi ada juga informan yang tidak mencuci tangan sebelum makan, dan ada juga informan yang menunda mencuci tangan setelah makan karena asyik mendengarkan cerita ketika makan, untuk putra mencuci tangan setelah buang air besar tidak langsung mereka lakukan karena jamban cemplung yang mereka gunakan berjauhan dengan kamar mandi yang mereka pakai. Diantara mereka juga ada yang memelihara kukunya tetap panjang, ada juga informan yang mengikir habis sudut kukunya, ada juga informan yang membiarkan kotoran kuku tetap berada di bawah kuku.

Dari hasil diskusi di dapatkan bahwa informan sudah mengetahui pentingnya mencuci tangan, selain itu juga di dapatkan data bahwa hampir seluruh informan melakukan cuci tangan, berikut ungkapannya

69

“ menjaga bersih badan, kaki, dan tangan karena awal penyakit kan

dari tangan teh” (An1 kelompok 2 putri)

Ada juga informan yang mengatakan bahwa ia mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, dan sebelum tidur, ada juga informan yang mengatakan mencuci tangan sebelum dan sesudah memasak, ada juga informan yang mengatakan bahwa seringnya mencuci tangan tergantung karena informan tersebut menganggap wudlu juga adalah cuci tangan, informan juga mengatakan bahwa mencuci tangan pake sabunnya hanya ketika mandi saja

“cuci tangan kalo mau makan, dan sesudah makan, juga sebelum

dan sesudah memasak...kalo mau tidur biasanya cuci tangan”

“ cuci tangan tergantung teh...kan wudlu juga cuci tangan gitu teh,

terus cuci tangan pake sabunnya kalo mandi aja biar sekalian gitu..”

Pengurus organisasi juga mengatakan bahwa beberapa dari kegiatan personal higiene yang sering dilakukan diantaranya adalah mencuci tangan, selain itu juga ustadzah juga mengatakan bahwa ia memberi tahukan pada para santri mengenai cara mencuci tangan dengan menggunakan daun jambu yaitu dengan cara membasahi tangan terlebih dahulu dengan air, ambil selembar daun jambu, remas-remas, ratakan kesela-sela jari dan kuku kemudian bilas kembali dengan air hingga bersih, berikut ungkapannya

“ saya juga memberi tahu kepada santri mengenai cara mencuci

tangan, yah..walaupun hanya pada beberapa orang santri saja, tapi saya harap mereka bisa menyebar luaskan ilmu yang mereka dapat pada teman-teman mereka yang lainnya, yang saya tidak beri tahu secara

langsung, caranya pertama ya biasa gitu ya kaya cuci tangan biasanya tangan di basahin dulu, baru kemudian mengambil daun jambu secukupnya saja yah kira-kira 1-2 lembar saja kemudian di remas-remas hingga hancur kemudian ratakan keseluruh tangan termasuk sela-sela jari dan kuku, yah kaya pake sabun aja gitu, bilas lagi hingga bersih, itu nanti

tangannya ga bakal kecium amis lagi” (ustadzah)

Dari hasil diskusi juga di dapatkan bahwa sebagian informan mengatakan yang memberi tahu mereka cara mencuci tangan adalah ustadzah, namun ada juga yang mengatakan orang tua merekalah yang memberitahu dan mengingatkan mereka untuk mencuci tangan, informan yang lain mengatakan bahwa yang memberitahu dan mengingatkan mereka adalah teman dan media informasi yang terdapat dalam tiap kemasan peralatan mandi, informan juga menyebutkan mengetahui bahan lain yaitu daun jambu untuk mencuci tangan dari ustadzah, hampir semua informan juga menyebutkan langkah-langkah mencuci tangan menggunakan sabun. Berikut ungkapannya

“tangan di basahin dulu trus pake sabun, dan ratakan sabun

keseluruk bagian tangan sampai ke sela-sela tangannya juga, baru setelah itu dibilas dengan air bersih hingga busanya menghilang dan tak licin lagi