BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Gambaran Pola Tatalaksana
Tabel 4.5 Gambaran pemberian antibiotik pada pasien ISPA bagian Atas
No Diagnosis Tidak diberikan antibiotik Diberikan antibiotik
Kasus Persentase Kasus Persentase
1 Common Cold/Flu 50 38% 81 62% 2 Faringitis 7 35% 13 65% 3 Laringitis 3 100% 0 0% 4 Sinusitis 0 100% 2 100% 5 Tonsilitis 4 22% 14 78% TOTAL 64 37% 110 63%
27
Berdasarkan tabel 4.5 diatas, dapat kita simpulkan lebih dari setengah pasien dengan ISPA bagian atas diberikan antibiotik dan hanya 64 kasus (37%) yang tidak diberikan. Hasil yang serupa juga didapatkan oleh Hermawan dkk (2014) bahwa hanya 9 kasus dari 144 kasus ISPA bagian atas yang tidak diberikan antibiotik.9 Pada penyakit yang diberikan antibiotik (tabel 4.6), amoksisilin menjadi obat yang paling sering diberikan yaitu 96 (55%) dari 174 kasus. Hal ini berbeda dengan yang didapatkan oleh Hermawan dkk (2014), pada penelitiannya penoksimetil penisilin (penisilin V) diberikan sebanyak 31 (21,5%) kali dari 144 kasus, dan kotrimoksazol berada di posisi pertama yaitu sebanyak 78 kali (54,2%) dari 144 kasus.9
Tabel 4.6 Gambaran pemberian antibiotik berdasarkan diagnosis
No Diagnosis Amoksisilin Sefiksim Sefadroksil
Kasus % Kasus % Kasus %
1 Common Cold/Flu 70 53% 1 1% 10 8% 2 Faringitis 12 60% 0 0% 1 5% 3 Laringitis 0 0% 0 0% 0 0% 4 Sinusitis 1 50% 0 0% 1 50% 5 Tonsilitis 13 72% 1 6% 0 0% TOTAL 96 55% 2 1% 12 7%
Terapi commond cold menurut “Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer” hanya diberikan terapi simptomatik berupa dekongestan, antipiretik, analgetik dan juga diistirahatkan yang cukup.14 Hal ini karena pada umumnya penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya dalam 1 sampai 2 minggu. Pemberian antibiotik tidak mengurangi gejala pada commond cold/flu dan tidak direkomendasikan pemberiannya pada pasien anak maupun dewasa.23.24 Pada penelitian ini didapatkan 91 kasus (62%) kasus common cold diberikan antibiotik.
Hal ini tidak sesuai dengan panduan oleh Kemenkes dan merupakan terapi yang tidak tepat.
Pada penyakit laringitis, etiologi terbesar ialah virus influenzae (tipe A dan B) dan parainfluenza. Terapi yang diberikan bersifat simptomatik antara lain dekongestan, antipiretik, analgetik, serta menghindari iritan yang dapat membuat tenggorokan nyeri serta mengistirahatkan pita suara.14 Antibiotik sangat tidak direkomendasikan untuk diberikan.7 Antibiotik diberikan hanya jika terdapat bakteri penyebab pada kultur. Antibiotik yang dapat diberikan adalah golongan penisilin.14 Pada penelitian ini didapatkan 3 kasus dan ketiganya tidak diberikan antibiotik. Hal ini sangat baik karena telah sesuai dengan panduan yang dikeluarkan oleh Kemenkes, dan mempunyai persentase tepat terapi 100%.
Pada penelitian ini, sinusitis diterapi dengan amoksisilin 1 kasus (50%) dan sefadroksil 1 kasus (50%). Menurut “Pedoman pengobatan dasar di Puskesmas tahun 2007” pada terapi sinusitis diberikan dekongestan dan antibiotik amoksisilin ataupun kotrimoksazol.17 Pada penelitian Kaminszczik I (1986) tentang terapi akut dan kronik sinusitis pada 30 orang yang diberikan sefadroksil, dikatakan bahwa terapi sefadroksil pada sinusitis 90% hasilnya sangat baik ketika dikonfirmasi dengan pemeriksaan radiologi.25 Antibiotik harus diberikan jika dalam 10 hari sinusitis belum membaik ataupun mengalami pemburukan, menandakan bahwa itu merupakan sinusitis akibat bakteri.7 Maka dari itu dapat dikatakan terapi pada sinusitis keduanya telah tepat terapi dengan persentase 100%.
Terapi faringitis diberikan jika terdapat tanda infeksi bakteri berupa faring atau tonsil hiperemis dan terdapat eksudat dipermukannya.14.17 Jika terdapat tanda tersebut, maka dapat diberikan antibiotik Penisilin G Benzatin 50.000 U/KgBB/IM dosis tunggal, atau Amoksisilin 10 mg per berat badan. Dosis dibagi 3 kali sehari selama 10 hari.14 Pada penelitian ini didapatkan 10 kasus faringitis dengan gejala faring hiperemis dan 7 diantaranya diberikan antibiotik amoksisilin. Pada 10 kasus faringitis tanpa gejala infeksi bakteri, 3 diantaranya tidak diberikan antibiotik. Pada faringitis, sangat direkomendasikan terapi dengan golongan penisilin jika pasiennya tidak terdapat alergi terhadap penisilin.202 Maka pada penelitian ini didapatkan 10 kasus
29
yang diterapi sesuai panduan dengan persentase 50%.
Terapi tonsilitis diberikan jika terdapat tanda infeksi bakteri berupa tonsil hiperemis dan jika terdapat tanda detritus.14.17 Jika terdapat tanda tersebut, maka dapat diberikan antibiotik Penisilin G Benzatin 50.000 U/KgBB/IM dosis tunggal, atau Amoksisilin 10 mg perberat badan dosis dibagi 3 kali sehari selama 10 hari atau juga dapat diberikan kortikosteroid deksametason.14 Pada penelitian ini didapatkan 2 kasus tonsillitis dengan tanda detritus pada tonsil dan keduanya diberikan antibiotik amoksisilin. Pada 16 kasus tonsilitis tanpa gejala infeksi bakteri dan detritus, 4 diantarnya tidak diberikan antibiotik. Maka pada penelitian ini didapatkan 6 kasus yang diterapi sesuai panduan dengan persentase 33,33%.
Permasalahan pada kriteria tepat atau tidak tepatnya pada penelitian ini ialah terdapatnya diagnosis pasien yang tidak sesuai dengan gejala atau kemungkinan penulisan gejala pada rekam medis tidak lengkap. Peneliti menggolongkan tepat atau tidak tepatnya terapi berdasarkan dengan gejala dan obat antibiotik yang diberikan dan menyesuaikannya pada Pedoman Pengobatan Dasar Di Puskesmas Tahun 2007, Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer hasil
dari Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
HK.0202/MENKES/514/2015 dan juga disesuaikan dengan beberapa literatur lain. Dari analisa diatas dapat dilihat ketepatan terapi pada penelitian ini pada tabel 4.6. Tabel 4.7 Ketepatan terapi pada penyakit ISPA atas
No Diagnosis Tepat terapi % Tidak tepat terapi % 1 Common Cold/Flu 50 38.17% 81 61.83% 2 faringitis 10 50.00% 10 50.00% 3 laringitis 3 100.00% 0 0.00% 4 Sinusitis 2 100.00% 0 0.00% 5 tonsilitis 6 33.33% 12 66.67% Total 71 40.8% 103 59.2%
Tabel 4.8 Klasifikasi terapi pada tonsilitis dan faringitis berdasarkan kriteria Centor Kriteria Centor Faringitis Tonsilitis Diberikan antibiotik Tidak diberikan antibiotik Diberikan antibiotik Tidak diberikan antibiotik Skor 1 0 0 2 1 Skor 2 5 4 7 3 Skor 3 6 3 5 0 Skor 4 2 0 0 0 Skor 5 0 0 0 0
Jika kita menggunakan Kriteria Centor untuk menentukan terapi pada pasien tonsilitis dan faringitis maka hanya ada 2 kasus (10%) yang tepat diberikan antibiotik secara langsung. Pada kriteria Centor penilaian menggunakan 4 gejala/tanda, yaitu setiap nilainya bernilai 1. Gejala/tanda tersebut ialah:
1. Tidak terdapatnya batuk,
2. Pembengkakan pada nodus di leher bagian depan, 3. Demam,
4. Tonsil/Faring hiperemis dan eksudat,
5. Jika pasien berumur dibawah 14 tahun makan poin ditambah 1 dan jika berumur diatas 45 maka poin dikurang 1.
Setelah itu dihitung poinnya, jika poin =4 atau lebih, maka diberikan terapi antibiotik yang sesuai. Jika poin 2-3 maka perlu dilakukan kultur apus tenggorokan atau dilakukan rapid antigen detection test (RADT) dan jika hasil positif bakteri maka diberikan antibiotik. Jika skor dibawah 1 maka tidak diindikasikan untuk melakukan tes laboratorium.7.20 Terapi dengan menggunakan kriteria Centor telah berhasil menurunkan terapi yang tidak sesuai indikasi dan menurunkan jumlah biaya yang dikeluarkan.20 Pada penelitian Emalia Damayanti (2014) tentang ketepatan skoring kriteria Centor untuk mengidentifikasi faringitis streptococcus grup A, peneliti berkesimpulan bahwa dapat dipastikan diagnosis faringitis dengan skor dibawah 4 tidak diperlukan antibiotik. Pada diagnosis dengan skor 4 memiliki subjek dengan
31
hasil negatife pada 95% subjeknya jika dilakukan tes cepat antigen ataupun kultur apus tenggorokan.26
Dari hasil penelitian yang kita dapat, dapat dilihat bahwa 59,2% kasus pada penelitian ini masih belum tepat terapi dan pemberian antibiotik tidak berdasarkan indikasinya. Peneliti Hermawan dkk (2014) mendapatkan hasil yang serupa dan menyimpulkan pada penelitiannya bahwa pemberian antibiotik pada Puskesmas Sukasada II terapinya belum sesuai pedoman pengobatan dasar puskesmas 2007.9,17