• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Program KUBE dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan

IV. GAMBARAN UMUM PROGRAM KUBE SUKA MAKMUR

4.2. Gambaran Program KUBE dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan

Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Suka Makmur dibentuk sebagai upaya pengentasan kemiskinan anggotanya , khususnya masyarakat tani yang berada di Kelurahan Maharatu dan secara umum tempat usaha taninya berada disepanjang Jalan Kertama Pekanbaru.

Secara umum masyarakat miskin yang ada dikelurahan maharatu merupakan petani kebun sayur dan merupakan penduduk pendatang, baik yang berasal dari pedesaan yang berada di kabupaten-kabupaten di Provnsi Riau, maupun yang berasal dari luar Provinsi Riau. Kemiskinan yang merupakan salah satu permasalahan sosial secara umum terjadi pada kota-kota besar,khususnya kota pekanbaru, jika tidak cepat ditangani secara cepat dan tepat akan menimbulkan berbagai permasalahan sosial baru yang akan semakn sulit dientaskan, apalagi aturan regulasi penduduk ternyata belum mampu memperkecil arus urbanisasi dari desa ke kota. Untuk itu Pemerintah Provinsi Riau melakukan program pengentasan kemiskinan melalui penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat melalui kelompok usaha bersama (KUBE) ,dimana kegiatan ini juga dilaksanakan di Kelurahan Maharatu. Gambaran perkembangan keluarga miskin tersebut baik kelembagaan kelompok dan anggotanya sebagai berikut :

1. Gambaran umum kegiatan ekonomi keluarga miskin sebelum tergabung dalam KUBE Suka Makmur

Keluarga miskin tersebut sebelum menjadi anggota KUBE Suka Makmur, pada umumnya mempunyai pekerjaan yang tidak tetap, seperti menjadi buruh bangunan, buruh harian lepas pada perusahaan kayu, dan sebagaian besar bekerja apa adanya saja dan tanpa adanya keahlian khusus dalam bekerja. Hal ini terjadi disebabkan Sumber daya Manusia keluarga miskin tersebut (khususnya kepala keluarga) umumnya rendah, serta rata – rata hanya berpendidikan sekolah dasar saja. Kedatangan mereka ke Kota Pekanbaru hanya untuk mencoba mengadu nasib untuk perbaikan ekonomi keluarga saja. Namun demikian dalam kenyataaanya setelah sampai di Kota Pekanbaru justru terjadi keadaan ekonomi semakin buruk, sanitasi lingkungan keluarga juga semakin jelek (rumah yang tidak layak huni dengan tingkat sanitas rendah) dan merupakan rumah dalam

skala sementara untuk dijadikan tempat tinggal.

Kutipan wawancara dengan BS yang merupakan seorang anggota KUBE Suka Makmur sebagai berikut :

“Saya dan keluarga sebenarnya berasal dari Kabupaten Rokan Hulu. Sebenarnya kami merupakan warga transmigrasi yang ditempatkan pemerintah di Kabupaten Rokan Hulu. Namun demikian keadaan ekonomi yang belum berkembang di sana membuat saya dan keluarga terpaksa memilih mengadu nasib untuk pidah ke Pekanbaru. Dengan berbekal hasil penjualan rumah dan tanah saya di sana saya dan keluarga pindah ke pekanbaru. Waktu itu dengan uang yang saya punya ternya tidak mampu membeli tanah atau rumah di sini. Untung pada waktu itu di tempat ini banyak tanah kosong pemiliknya mau meminjamkan tanahnya kepada saya untuk dikelola secara gratis, dengan syarat yang sederhana, yaitu tanah yang ada harus dibersihkan dan diusahakan untuk tidak menjadi semak belukar. Namun demikian usaha ini kurang berjalan efektif karena saya juga harus mencari pekerjaan tambahan untuk menghasilkan uang, baik sebagai buruh haraian lepas, tukang dan lain sebagainya, yang penting dapat membeli kebutuhan hidup sehari-hari.

Untung pada saat itu pemerintah membantu dan kami mendirikan KUBE Suka Makmur. Berbekal modal tersebut Alhamdulillah sekarang keadaan ekonomi keluarga saya sudah menggembirakan. Saya sudah mampu membeli kebun sendiri, mampu membengun rumah permanen seperti yang terlihat, serta anak-anak tidak mempunyai permasalahan lagi dalam pendidikannya. Saya sendiri sekarang sudah mempunyai usaha lainnya selain berkebun sayur (usaha dagang dan pembuatan sumur bor)

Peningkatan ekonomi keluarga miskin setelah tergabung ke dalam KUBE Suka Makmur dari hasil pengamatan kepada beberapa orang anggota KUBE Suka Makmur, secara umum diketahui bahwa telah terjadi peningkatan taraf hidup yang sangat baik. Semua anggota kelompok telah mampu mengentaskan kemiskinan yang terjadi di keluarganya. Bantuan modal usaha yang diberikan kepada anggota kelompok ternyata cukup untuk memberikan kentungan kepada mereka untuk melaksanakan kegiatan usaha kebun sayur secara berkelanjutan. Bantuan jatah hidup satu kali proses produksi telah mampu membuat anggota kelompok lebih fokus kepada kegiatan usaha kebun sayur. Sehingga pada saat itu semua usaha anggota berhasil mendatangkan keuntungan yang baik dan mampu mengerjakan

kegiatan usaha pada musim tanam berikutnya. Dari 23 orang anggota KUBE makmur telah mampu mengolah lahan usaha kebun sayur seluas 8,5 hektar dan telah dianggap berskala ekonomi.

Kutipan wawancara dengan JM yang merupakan seorang anggota KUBE Suka Makmur sebagai berikut :

“Setelah KUBE Suka Makmur terbentuk, kegiatan ekonomi yang selama ini dikerjakan sendiri- sendiri dengan resiko yang ditanggung sendiri, kemudian berubah menjadi kegiatan usaha bersama (walaupun keuntungan dinikmati sendiri). Semua bentuk permasalahan teknis yang dialami anggota kelompok kemudian selalu dibicarakan secara bersama dan dipecahkan bersama, sehingga tingkat kegagalan usaha menjadi sangat kecil.

Kegiatan ekonomi anggota kelompok setelah KUBE terbentuk menjadi lebih fokus dan sesuai dengan sumber daya lokal yang ada di sekitar Kelurahan Maharatu yang besar yaitu kebun sayur. Dengan terbentuknya KUBE luas areal pertanaman sayuran yang selama ini tidak berskala eknomi kemudian menjadi berskala ekonomi sehingga secara bertahap terus menerus diperbesar sehingga keuntungan kepada anggota kelompok menjadi besar. Saat ini seluruh anggota telah mempunyai rumah secara pribadi, kendaraan pribadi, lahan usaha milik pribadi serta telah banyak anak anggota kelompok yang kuliah diperguruan tinggi. Saat ini telah banyak anggota kelompok yang mampu menambah kesempatan kerjanya melalui jenis usaha – usaha baru tetapi tidak meninggalkan usaha utama (kebun sayur) .

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekonomi keluarga miskin setelah KUBE Suka Makmur menjadi lebih fokus kepada usaha pertanian yaitu kebun sayur. Skala usaha anggota kelompok yang dulunya kecil dan tidak mempunyai keuntungan, setelah menjadi Anggota KUBE menjadi berskala ekonomi dan mendatangkan keuntungan dan menyebabkan usaha berkelanjutan,. Disamping itu telah mampu menciptakan peluang usaha baru seperti, pembuatan sumur bor, perdagangan kelontong, sarana produksi pertanian dan lainya.

2. Tahapan Perkembangan Kelembagaan KUBE Suka Makmur

Perkembangan Kelembagaan KUBE Suka Makmur dalam perjalanan kelembagaannya dibagi menjadi empat tahap perkembangan, yaitu:

a. Tahap persiapan dan penumbuhan

Tahap persiapan dan penumbuhan ini dimulai dari awal pembentukan KUBE Suka Makmur, setelah sosialisasi dilakukan, anggota kelompok mengadakan rapat untuk menyusun kegiatan usaha kelompok dan kemudian diajukan kepada Dinas Sosial Provinsi Riau. Hasil dari pengajuan atau proposal ini kemudian dicairkan dana usaha sebanyak Rp.23.000.000,- yang kemudian dibagikan kepada seluruh anggota untuk dipakai sebagai modal usaha. Selain itu bentuan jatah hidup seperti beras dan lauk pauk juga diberikan.

Tahapan ini sukses disebabkan seluruh anggota telah mempunyai kesadaran dalam membayar kewajibannya kepada kelompok (mengembalikan modal usaha berikut jasanya). Pertemuan kelompok juga rutin dilaksanakan sehingga secara teknis pelaksanaan kegiatan usaha hampir tidak pernah menemukan permasalahan yang berarti.

Pada tahap ini ditandai dengan mulai terjadinya kepercayaan diri anggota kelompok terhadap usaha yang dikerjakannya. Anggota kelompok juga sudah mulai mengetahui tujuan mereka dalam berkelompok. Walaupun tingkat kehadiran anggota kelompok dalam setiap pertemuan kelompok masih terbilang rendah, akan tetapi informasi mengenai perkembangan kelompok selalu diinformasikan kepada seluruh anggota oleh anggota kelompok yang hadir pada pertemuan kelompok. Kesadaran membayar iuran kelompok dan pinjaman masih kurang, kan tetapi dengan bantuan anggota kelompok yang aktif persoalan ini dapat diselesaikan melalui pendekatan-pendekatan secara personal oleh pengurus KUBE maupun anggota kelompok yang aktif.

b. Tahap Pengembangan

Pada tahap ini usaha kelompok maupun anggota kelompok KUBE Suka Makmur telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, modal usaha yang pada awalnya sebanyak Rp. 23.000.000 berkembang dengan pesat. Tahap ini terjadi pada tahun kedua dan ke tiga pelaksanaan program. Saat itu modal telah berkembang menjadi lebih dari Rp. 60.000.000 rupiah serta aset bergerak yang dinilai lebih kurang totalnya lebih dari seratus juta rupiah. Saat itu anggota kelompok telah mengerti dan paham mengenai fungsi dan tugas

nya, anggota cenderung bertambah , administrasi lengkap, sudah layak, pengurus KUBE mampu menyusun proposal, iuran dan tabungan meningkat, setiap lokasi modal digunakan untuk kegiatan produktif serta yang terpenting adalah semakin bertambahnya omset anggota maupun usaha kelompok. c. Tahap Mandiri

Tahap ini terjadi setelah tahap pengembangan selesai dilalui, tahapan mandiri dinilai dan ditetapkan Dinas Sosial Provinsi Riau melalui beberapa kriteria dan ciri –ciri yang dilihat secara langsung seperti rapat anggota teratur, kehadiran anggota dalam pertemuan kelompok lebih kurang 95 persen, AD/ART dijalankan dengan baik, administrasi organisasi dan keuangan lengkap dan tertib (laporan laba rugi), tabungan di Bank meningkat, jenis usaha beragam, pengeluaran efektif, kebutuhan akan kredit meningkat , kelompok dilibatkan dalam kegiatan pembangunan kelurahan, serta telah mulai mampu menjalin kerjasama dengan lembaga keuangan mikro dan Bank Swasta atau Pemerintah. (khusus kriteria ini KUBE Suka Makmur belum mampu menjalankannya)

d. Tahap Kemunduran Kelembagaan KUBE Suka Makmur

Setelah KUBE Suka Makmur dianggap mandiri serta pendampingan tidak dilakukan lagi, terjadi kemunduran aktivitas pada kelembagaan KUBE Suka Makmur. Kemunduran aktivitas kelembagaan ini disebabkan disepakatinya pembagian seluruh modal dan asset yang ada secara merata kepada seluruh anggota. Sejak dibagikannya modal dan asset ini pertemuan kelompok otomatis menjadi berkurang bahkan menjadi tidak ada sama sekali, sehingga secara efektif hanya pengurus KUBE Suka Makmur saja yang ada. Kemunduran aktivitas kelembagaan KUBE ini kemudian memicu meleburnya kelembagaan KUBE kepada institusi sosial masyarakt lainnya yaitu Gabungan Kelompok Tani Karya Makmur yang juga diketuai oleh Ketua KUBE Suka Makmur. Pelaburan ini juga terjadi disebabkan telah berubahnya institusi pembina komunitas dari Dinas Sosial Provinsi Riau kepada Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau. Hal ini juga disebabkan usaha anggota kelompok dominan pada bidang hortikultura.

4.2.1. Kegiatan KUBE dalam Pengembangan Ekonomi Masyarakat Miskin di Kelurahan Maharatu

Program pemberdayaan keluarga miskin melalui pengembangan kelembagaan kelompok usaha bersama (KUBE) di Kelurahan Maharatu diarahkan pada peningkatan pendapatan dan pengembangan kehidupan sosial yang dilaksanakan melalui bantuan stimulan ekonomi produktif melalui KUBE, bertujuan untuk meningkatkan motivasi masyarakat miskin untuk lebih maju, meningkatkan interaksi dan kerjasama dalam kelompok, mendayagunakan potensi dan sumber-sumber sosial-ekonomi di tingkat lokal, memperkuat budaya kewirausahaan, mengembangkan akses pasar dan menjalin kemitraan sosial ekonomi dengan berbagai pihak terkait. Kegiatan sosial ekonomi produktif yang di kembangkan di kelurahan maharatu meliputi bidang pertanian dan kegiatan ekonomi lainnya melalui penguatan kelembagaan KUBE.

Dikelurahan Maharatu KUBE pertama sekali dibentuk adalah KUBE Suka Makmur dengan jumlah anggota sebanyak 23 orang. Kegiatan pengembangan ekonomi masyarakat dilakukan dengan memberikan modal usaha yang diberikan kepada kelompok sebanyak Rp. 23.000.000,-. Modal usaha ini kemudian dikelola dalam bentuk usaha simpan pinjam dan kemudian diberikan kepada anggota kelompok sebagai bentuk modal usaha anggota kelompok tani dalam penyediaan sarana produksi pertanian seperti pupuk (organik dan organik), obat-obatan (pestisida) maupun benih sayur. Selain itu modal ini juga digunakan kelompok sebagai usaha kios untuk menjual sarana produksi pertanian, baik kepada anggota kelompok maupun masyarakat umum yang membutuhkan.

Peminjaman modal usaha ini merupakan kredit skala mikro dengan jasa pengembalian yang rendah yaitu 6 persen setahun . Selain itu anggota kelompok juga diberi kewajiban untuk membiasakan diri menabung di kelompoknya baik dalam bentuk simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukerela. Dana anggota kelompok yang terhimpun ini kemudian disepakati dapat menjadi tambahan modal usaha kelompok, sehingga setiap anggota kelompok mempunyai partisipasi yang cukup baik dalam kegiatan kelompok, yang secara sosial

KUBE dibentuk atas dasar filosofi dari, oleh, dan untuk anggota, demikian juga KUBE yang telah terbentuk di Kelurahan Maharatu. Adapun yang menjadi anggota KUBE tersebut adalah keluarga miskin yang secara bersama-sama dan memiliki tujuan yang sama. KUBE memiliki kegiatan - kegiatan seperti melakukan pertemuan kelompok, iuran kelompok. Kegiatan pokok dalam KUBE adalah usaha produktif baik yang dilakukan oleh anggota secara individu ataupun secara berkelompok, dimana usaha tersebut merupakan milik bersama anggota KUBE. KUBE Suka Makmur juga telah berhasil membangun dan memprakarsai terbentuknya KUBE baru di Kelurahan Maharatu.

Tabel 4. Nama Kelompok, Jumlah Anggota, Jenis Usaha dan Jumlah Bantuan KUBE

No Nama Kelompok Jumlah Anggota awal (orang) Jenis Usaha Produkitif Tahun berdiri Jumlah Bantuan (Rp)

1 KUBE Suka Makmur 23

Tanaman sayuran berdaun lebar, pengadaan saprodi pertanian 1998 Rp.13.000.000

2 KUBE Karya Mandiri 10

Tanaman sayuran berdaun lebar, pengadaan saprodi pertanian 2009 Rp.30.000.000

3 KUBE Suka Maju 10

Tanaman sayuran berdaun lebar, pengadaan saprodi pertanian 2009 Rp.30.000.000

4 KUBE Tunas Mandiri 10

Tanaman sayuran berdaun lebar, pengadaan saprodi pertanian 2010 -

5 KUBE Elang Sakti 10

Tanaman sayuran berdaun lebar, pengadaan saprodi pertanian 2010 - Jumlah 63

Keterangan : KUBE Tunas Mandiri dan Elang Sakti merupakan KUBE pengembangan, bantuan sedang dlam proses pencairan, jumlah bantuan Rp. 30.000.000,- per KUBE

Dari tabel 11 dapat dilihat bahwa Berdasarkan hal tersebut di atas KUBE yang ada dikelurahan maharatu yang merupakan dampingan dinas sosial Provinsi Riau telah memilih jenis usaha produktif yang akan dikembangkannya yaitu Usaha agribisnis tanaman sayur. Hal ini merupakan pilihan yang tepat disebabkan sumber daya alam dan manusia yang mendukung untuk kegiatan ini. Usaha tersebut dimulai sejak tahun 2001 yang lalu sebagai usaha alternatif, karena mengingat Kelurahan Maharatu memiliki lahan yang luas dan dapat dimanfaatkan untuk usaha pertanian. Usaha kebun sayur menjadi pilihan dengan pertimbangan

bahwa usaha tersebut belum banyak dilakukan oleh masyarakat di Kota Pelanbaru, selain itu kebutuhan sayur harian di Kota Pekanbaru sangat besar, mengingat masyarakat kota Pekanbaru mayoritas bekerja sebagai karyawan dan usaha perdaganganDalam melakukan usaha kebun sayur tersebut, sebagai modal awal berasal dari modal pribadi, karena usaha tersebut tidak banyak memerlukan biaya dan bahan yang harus dibeli. Keinginan untuk menambah modal memang muncul dari beberapa anggota kelompok, namun tidak ada keberanian untuk mengajukan pinjaman modal ke pihak luar, karena persyaratan yang mereka miliki kurang memenuhi syarat, disamping itu rasa takut usaha tersebut tidak berkembang sehingga tidak dapat mengembalikan pinjaman tersebut.

Usaha kebun sayur merupakan salah satu terobosan baru sebagai usaha masayarakat dalam menambah penghasilan keluarga kota. Di samping itu, adanya kesempatan tersebut maka usaha usaha kebun sayur merupakan terobosan yang strategis sebagai usaha peningkatan ekonomi dan sekaligus penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat. Untuk menjamin agar di antara masyarakat tidak terjadi kesenjangan maupun persaingan yang kurang sehat dengan keluarga miskin yang tergabung dalam usaha kebun sayur, maka keluarga miskin tersebut diorganisir dalam wadah Kelompok Usaha Bersama (KUBE).

Dalam upaya pemasaran hasil produksi, sejauh ini belum dilakukan dengan menjalin jejaring maupun dikelola dengan sistem penampungan hasil produksi. Para anggota KUBE Kebun Sayur belum dapat memenuhi kebutuhan luar Kota Pekanbaru. Harapan mereka bahwa hasil produksi kebun sayur tersebut ada pihak-pihak yang dapat dan mau mempromosikan hasil produksinya seperti Dinas Perindagkop maupun para pengusaha dan rekanan termasuk swalayan sehingga produksi dapat terus berlangsung tanpa henti sehingga dapat menjadi pekerjaan tetap bagi keluarga miskin.

Dokumen terkait