BAB V HASIL
2. Gambaran Risiko Pekerjaan pada Pengrajin Sepatu
Hasil penelitian mengenai faktor pekerjaan diperoleh dari pengukuran
dengan metode REBA pada bagian tubuh leher, punggung, bahu, kaki, lengan
atas, lengan bawah dan pergelangan tangan dengan mempertimbangkan durasi,
frekuensi dan beban pekerjaan yang dilakukan oleh pengrajin Sepatu di
Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung. Adapun
gambaran distribusi frequensi responden berdasarkan risiko pekerjaan dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Risiko Pekerjaan pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan
Kecamatan Cakung 2013
Variabel Min-Max Mean Median SD 95% CI Mean
Risiko pekerjaan
3-11 7,16 7,0 2,245 6.59 - 7,72
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa dari 63 responden, gambaran
distribusi risiko pekerjaan dengan nilai tengah skor REBA adalah 7,00 dan
standar deviasi 2,245. Sedangkan skor REBA terkecil adalah 3 dan skor REBA
Gambar 5.1
Postur Janggal Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung 2013
3. Gambaran Status Merokok pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Hasil penelitian terkait status merokok pengrajin sepatu di Perkampungan
Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Tabel 5.3
Distribusi Responden Berdasarkan Status Merokok pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan
Kecamatan Cakung 2013
Variabel Min-Max Mean Median SD 95% CI Mean
Jumlah rokok
0-24 10,43 12,00 5,120 9,14 – 11,72
Berdasarkan tabel 5.3, diketahui bahwa variabel status merokok berdistribusi tidak normal (P= 0,000 ), nilai rata-rata banyaknya jumlah rokok
yang dikonsumsi per hari oleh pengrajin sepatu di Perkampungan Industri Kecil 30
97 54
(PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung adalah 10,43 batang. Sedangkan nilai
tengah banyaknya jumlah rokok yang dikonsumsi per hari oleh pengrajin sepatu
di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung adalah
12,00 batang dengan standar deviasi 5,120. Dari hasil tersebut diketahui ada
pengrajin yang tidak merokok (Min = 0). Sedangkan batang rokok yang
dikonsumsi oleh pengrajin paling banyak adalah 24 batang per hari.
4. Gambaran Usia pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Hasil penelitian terkait usia pengrajin sepatu di Perkampungan Industri
Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan
Kecamatan Cakung 2013
Variabel Min-Max Mean Median SD 95% CI Mean
Usia 17-61 33,79 33,0 11,107 31,00 - 36,59
Berdasarkan tabel 5.4, diketahui bahwa variabel usia berdistribusi normal
(P= 0,200 ), nilai rata-rata usia pada pengrajin sepatu di Perkampungan Industri
Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung adalah 34 tahun, nilai tengah usia
pada pengrajin sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan
Kecamatan Cakung adalah 33,0 tahun dengan standar deviasi 11,107. Adapun
5. Gambaran Indeks Masa Tubuh pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Hasil penelitian terkait Indeks Masa Tubuh (IMT) pengrajin sepatu di
Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung dapat
dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Indeks Masa Tubuh (IMT) Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan
Kecamatan Cakung 2013 IMT Jumlah (n) % Obesitas (IMT > 25) 10 15,9 Normal (IMT = 18,5 - 25) 50 79,4 Kurus (IMT≤18,4) 3 4,8 Total 63 100 %
Dari data di atas dapat dilihat bahwa responden yang masuk dalam
katagori obesitas berjumlah 10 pekerja (15,9 %), responden yang masuk dalam
katagori under weight (kurus) berjumlah 3 pekerja (4,8 %) dan pekerja yang
memiliki IMT normal adalah sebesar 50 pekerja (79,4 %).
6. Gambaran Lama Kerja pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Hasil penelitian terkait lama kerja pengrajin sepatu di Perkampungan
Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung adalah sebagai berikut:
Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Lama Kerja Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan
Kecamatan Cakung 2013.
Variabel Min-Max Mean Median SD 95% CI Mean
Berdasarkan tabel 5.6, diketahui bahwa variabel lama kerja berdistribusi
tidak normal (P= 0,000 ), nilai tengah lama kerja pada pengrajin sepatu di
Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung adalah
5,8333. Untuk lama kerja paling rendah adalah 0,08 tahun, dan lama kerja paling
lama adalah 35 tahun.
7. Gambaran Pencahayaan pada Area Kerja Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Hasil penelitian terkait lama kerja pengrajin sepatu di Perkampungan
Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pencahayaan Area Kerja Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan
Kecamatan Cakung 2013.
Variabel Min-Max Mean Median SD 95% CI Mean
Pencahayaan 19-830 181,94 145,00 141,218 146,37-217,50
Berdasarkan tabel 5.7, diketahui bahwa variabel Pencahayaan
berdistribusi tidak normal (P= 0,000 ), nilai tengah pencahayaan pada pengrajin
sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung
adalah 145,00 Luks, sedangkan nilai rata-rata pencahayaan adalah 181,94 Luks,
Untuk pencahayaan paling rendah adalah 19 luks, dan pencahayaan paling tinggi
8. Gambaran Suhu lingkungan pada Area Kerja Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Pada penelitian ini, data suhu lingkungan didapatkan dengan
menggunakan Area Heatstress Monitor WBGT Quest Temp 36, adapun
gambaran suhu lingkungan pada area kerja pengrajin sepatu di Perkampungan
Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung adalah sebagai berikut.
Tabel 5.8
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Suhu Area Kerja Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan
Kecamatan Cakung 2013.
Berdasarkan tabel 5.8, diketahui bahwa variabel suhu lingkungan
berdistribusi tidak normal (P= 0,000 ), nilai tengah suhu lingkungan pada area
kerja pengrajin sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan
Kecamatan Cakung adalah 29.59 0C, sedangkan nilai rata-rata suhu
lingkungannya adalah 29.15 0C, Untuk suhu paling rendah adalah 27.30 0C, dan
suhu paling tinggi adalah 30.55 0C.
Variabel Min-Max Mean Median SD 95% CI Mean
B. Analisis Bivariat
1. Hubungan antara Faktor Risiko Pekerjaan dengan MSDs pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Analisis hubungan antara faktor risiko pekerjaan dengan MSDs pada
pengrajin sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan
Cakung, untuk data variabel risiko pekerjaan adalah berdistribusi tidak normal
(P= 0,003) sehingga dilakukan uji mann whitney dan hasilnya dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel 5.9
Analisis Hubungan antara Risiko Pekerjaan dengan MSDs pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan
Kecamatan Cakung2013.
Variabel MSDs N Mean Rank P value
Risiko Pekerjaan
Berat 29 39.29
0,003
Ringan 34 25.78
Berdasarkan uji statistik dengan menggunakan uji mann whitney,
diperoleh nilai rata-rata rangking risiko pekerjaan dengan MSDs berat adalah
39,29 dan rata-rata rangking risiko pekerjaan dengan MSDs ringan adalah 27,78.
Adapun nilai probabilitas (P value) sebesar 0,003 (P value < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa pada α (5%) terdapat hubungan antara risiko pekerjaan dengan MSDs pada pengrajin sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK)
2. Hubungan antara Faktor Jumlah Konsumsi Rokok dengan MSDs pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Analisis hubungan antara status merokok dengan MSDs pada pengrajin
sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Pada alpha 0,05 distribusi data status merokok adalah tidak normal. Kemudian
pada tahap selanjutnya dilakukan uji Mann Whitney, untuk mengetahui hubungan
antara status merokok dengan MSDs dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.10
Analisis Hubungan antara Status Merokok Dengan MSDs pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan
Kecamatan Cakung2013.
Variabel MSDs N Mean Rank P value
Status Merokok Berat 29 35.03 0,191
Ringan 34 29.41
Berdasarkan tabel hasil analisis di atas dengan menggunakan uji mann
whitney , diperoleh nilai rata-rata rangking status merokok dengan MSDs berat
adalah 35,03 dan rata-rata rangking status merokok dengan MSDs ringan adalah
29.41. Adapun nilai probabilitas (P value) sebesar 0,191 (P value > 0,05)
sehingga dapat disimpulkan bahwa pada α (5%) tidak ada hubungan antara status merokok dengan MSDs pada pengrajin sepatu di Perkampungan Industri Kecil
3. Hubungan antara Faktor Usia dengan MSDs pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Analisis responden berdasarkan hubungan antara usia pengrajin dengan
terjadinya MSDs. Untuk variabel usia dan diketahui bahwa variabel usia
berdistribusi normal P value > 0,05 (P value = 0,200), sehingga dilakukan uji
t-test independent, uji tersebut digunakan untuk menguji dua variabel yaitu antara
variabel numerik dan dua variabel kegorik. Pada variabel usia pekerja merupakan
variabel numerik sedangkan MSDs merupakan variabel 2 katagorik.
Adapun hasil uji analisis yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 5.10
berikut:
Tabel 5.11
Analisis Hubungan antara Usia dengan MSDs pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan
Kecamatan Cakung2013.
Variabel MSDs N Mean Std. Deviation P-value
Usia Berat 29 32.34 11.216 0.343
Ringan 34 35.03 11.027
Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji t-test independent
diperoleh nilai rata-rata usia pada responden keluhan berat adalah 32.34 tahun
dengan standar deviasi 11.216 serta rata-rata responden dengan keluhan ringan
adalah 35.03 dengan standar deviasi 11.027. Dari data tersebut diperoleh p value
0.343 (p value > 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa pada alpha (5%) tidak
rata-rata usia pekerja dengan MSDs ringan pada pada pengrajin sepatu di
Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
4. Hubungan antara faktor Indeks Masa Tubuh dengan MSDs pada pengrajin sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Hasil analisis responden berdasarkan hubungan antara Indeks Masa Tubuh
pengrajin dengan terjadinya MSDs dapat dilihat pada tabel 5.14 berikut:
Tabel 5.12
Analisis hubungan antara IMT dengan MSDs pada pengrajin sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan
Kecamatan Cakung 2013. Variabel MSDs Total P value Berat Ringan N % N % n % Obesitas 1 33,3 2 66,7 3 100 0,811 Normal 24 48,0 26 52,0 50 100 Kurus 4 40,0 6 60,0 10 100
Dari hasil uji statistik yang dilakukan, diketahui responden yang masuk
dalam katagori obesitas paling banyak merasakan MSDs ringan yaitu sebanyak 2
orang (66,7 %), responden yang masuk dalam katagori IMT normal paling
banyak juga mengalami MSDs ringan yaitu sebanyak 26 orang (52%), sedangkan
untuk katagori responden dengan IMT kurus, juga banyak mengalami MSDs
Dari hasil tersebut diperoleh nilai P Value sebesar 0,811 (P > 0,05)
sehingga dapat disimpulkan bahwa pada alpha (5%) tidak terdapat hubungan
yang signifikan antara setatus IMT pengrajin dengan MSDs pada pengrajin
sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
5. Hubungan antara faktor lama Kerja dengan MSDs pada pengrajin sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Analisis hubungan antara Lama Kerja dengan MSDs pada pengrajin
sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Pada tahap awal pengujian dilakukan uji normalitas terlebih dahulu dan
didapatkan nilai (P = 0,000) sehingga disimpulkan bahwa pada alpha 0,05
distribusi data Lama Kerja adalah tidak normal. Kemudian pada tahap
selanjutnya dilakukan uji Mann Whitney, untuk mengetahui hubungan antara
Lama Kerja dengan MSDs dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.13
Analisis Hubungan antara Lama Kerja dengan MSDs pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan
Kecamatan Cakung 2013.
Berdasarkan tabel analisis di atas dengan menggunakan uji mann whitney ,
diperoleh nilai rata-rata rangking Lama Kerja dengan MSDs berat adalah 30,60
dan rata-rata rangking Lama Kerja dengan MSDs ringan adalah 33,19. Adapun
Variabel MSDs N Mean Rank P value
Lama_kerja2 Berat 29 30.60 0,576
nilai probabilitas (P value) sebesar 0,576 (P value > 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa pada α (5%) tidak ada hubungan yang signifikan antara Lama Kerja dengan MSDs pada pengrajin sepatu di Perkampungan Industri
Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung 2013.
6. Hubungan antara Faktor Intensitas Cahaya dengan MSDs pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Analisis hubungan antara intensitas cahaya dengan MSDs pada pengrajin
sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Pada tahap awal pengujian dilakukan uji normalitas terlebih dahulu dan
didapatkan nilai (P = 0,000) sehingga disimpulkan bahwa pada alpha 0,05
distribusi data intensitas cahaya adalah tidak normal. Kemudian pada tahap
selanjutnya dilakukan uji Mann Whitney, untuk mengetahui hubungan antara
intensitas cahayadengan MSDs dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.14
Analisis hubungan antara intensitas pencahayaan area kerja dengan MSDs pada pengrajin sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK)
Penggilingan Kecamatan Cakung 2013.
Berdasarkan tabel analisis di atas dengan menggunakan uji mann whitney ,
diperoleh nilai rata-rata rangking antara intensitas pencahayaan area kerja
Variabel MSDs N Mean Rank P value
Pencahayaan Berat 29 32.34 0,890
dengan MSDs berat adalah 32,34 dan rata-rata rangking antara intensitas
pencahayaan area kerja dengan MSDs ringan adalah 31,71. Adapun nilai
probabilitas (P value) sebesar 0,890 (P value > 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa pada α (5%) tidak ada hubungan yang signifikan antara intensitas pencahayaan area kerja dengan MSDs pada pengrajin sepatu di Perkampungan
Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung 2013.
7. Hubungan antara Faktor Suhu area kerja dengan MSDs pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Analisis hubungan antara suhu area kerja dengan kejadian MSDs pada
pengrajin sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan
Cakung. Untuk variabel suhu area kerja merupakan data berdistribusi tidak
normal. sehingga dilakukan uji Mann Whitney, untuk mengetahui hubungan
antara suhu area kerjadengan MSDs dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.15
Analisis Hubungan antara Suhu Area Kerja dengan MSDs pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK)
Penggilingan Kecamatan Cakung 2013.
Berdasarkan tabel analisis 5.15 dengan menggunakan uji mann
whitney , diperoleh nilai rata-rata rangking antara suhu area kerja dengan MSDs
berat adalah 28,74 0C dan rata-rata rangking antara suhu area kerja dengan
MSDs ringan adalah 34,78 0C. Adapun nilai probabilitas (P value) sebesar 0,187
Variabel MSDs N Mean Rank P value
Suhu Berat 29 28,74 0,187
(P value > 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa pada α (5%) tidak ada hubungan antara suhu area kerja dengan MSDs pada pengrajin sepatu di
75 BAB VI PEMBAHASAN A. Keterbatasan Penelitian
1. Pada penelitian ini data MSDs didapatkan dari tabel Nordic Body Map,
melalui metode tersebut dapat diketahui bagian – bagian otot yang mengalami keluhan dengan tingkat keluhan mulai dari rasa tidak nyaman
(agak sakit) sampai pada rasa sangat sakit, dengan melihat dan
menganalisis peta tubuh (NBM) maka dapat diestimasikan jenis dan
tingkat keluhan otot skeletal yang dirasakan oleh pekerja. Metode ini
sangat sederhana, namun kelemahannya keluhan yang dirasakan itu
bersifat subjektif sehingga akan mempengaruhi pengkategorian MSDs .
2. Terbatasnya area kerja dan tingginya mobilitas pekerja menyulitkan peneliti dalam mengambil sudut gambar/video proses kerja yang
dilakukan oleh pengrajin, sehingga adakalanya pada suatu tugas kerja,
postur kerja yang diteliti menggunakan beberapa gambar yang
pengambilannya dilakukan pada waktu yang berbeda.
3. Pengukuran suhu lingkungan dilakukan pada titik area ruangan tertentu atau tempat pekerja sering melakukan pekerjaannya, sehingga
diasumsikan untuk pekerja yang berada di tempat atau ruangan yang sama
memiliki paparan suhu yang sama juga, pengukuran ini memiliki
kelemahan yaitu tidak mampu memperhitungkan panas hasil metabolisme
B. Gambaran MSDs pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan Kecamatan Cakung.
Sistem Muskuloskeletal merupakan sistem yang kompleks dan
tersusun atas tulang, sendi, otot, ligamen, tendon, serta jaringan lain yang
menghasilkan struktur dan bentuk tulang. Sistem ini juga melindungi
organ-organ vital, yang memungkinkan terjadinya gerakan, menyimpan kalsium
serta mineral lain di dalam matriks tulang yang dapat dimobilisasi bila terjadi
defisiensi, dan merupakan tempat berlangsungnya hematopoiesis (produksi sel
darah merah) di dalam susmsum tulang (Kowalak et, al 2003). Ketika terdapat
suatu gaya atau kekuatan yang melampaui kekuatan tulang dan otot saat
menahan beban tentunya akan menyebabkan tidak seimbangannya sistem
muskuloskeletal, hal ini akan berdampak pada timbulnya keluhan pada sistem
muskoluskeletal.
Sementara itu keluhan muskoluskeletal itu sendiri merupakan keluhan
rasa tidak nyaman pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh
seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Keluhan
muncul diakibatkan oleh otot menerima beban statis secara berulang dan
dalam waktu yang lama, sehingga dapat menyebabkan keluhan berupa
kerusakan pada ligamen, sendi dan tendon. Ada beberapa cara yang telah
diperkenalkan dalam melakukan evaluasi Ergonomi untuk mengetahui
hubungan antara tekanan fisik dengan risiko keluhan otot skeletal.
Model Fisik, Model Analitik, Pengamatan Melalui Monitor dan Nordic Body
Map (NBM). Pengukuran terhadap tekanan fisik ini cukup sulit karena
melibatkan berbagai faktor subjektif seperti kinerja, motivasi, harapan dan
toleransi dalam bekerja (Waters & Anderson 1996) dalam (Tarwaka 2004).
Pada penelitian ini, digunakan metode Nordic Body Map (NBM),
melalui NBM dapat diketahui bagian-bagian otot mana yang mengalami
MSDs dengan tingkat keluhan mulai dari rasa tidak nyaman (agak sakit)
sampai sangat sakit (corlett, 1992) dalam (Tarwaka, 2004).
Pada grafik 5.1, diketahui mayoritas pengrajin mengalami keluhan
pada bagian pinggang yaitu sebanyak 14,02 %, leher bagian atas sebesar 8,88
% dan bahu kanan sebesar 8,88%, sementara itu titik keluhan paling sedikit
dirasakan pengrajin pada bagian lengan bawah kanan yaitu sebesar 0,47 %.
Untuk tingkat keluhan, mayoritas pengrajin hanya mengalami keluhan pada
tingkat nyeri ringan. Untuk tingkat nyeri ringan, paling bnyak dirasakan pada
bagian pinggang (13,95 %), sedangkan untuk tingkat nyeri tak tertahankan
paling banyak dirasakan pada bagian pinggang yaitu sebesar 18,75 %.
Berdasarkan studi European Survey on Working Conditions (ESWC
bahwa MSDs yang dirasakan oleh pekerja banyak dirasakan pada tubuh
bagian leher belakang, pinggang, serta otot-otot rangka bagian atas lainnya.
Pada bagian tubuh dengan keluhan sakit punggung atau pinggang serta
anggota tubuh bagian atas, banyak disebabkan oleh adanya pekerjaan berat
berat serta postur tubuh yang tidak dapat menyesuaikan dengan posisi obyek
target yang dikerjakan, sehingga tidak terlalu memperhatikan posisi yang
Ergonomis (European Agency for Safety and Health at Work, 2010).
Peneltian lain yang dipublikasikan tahun 2000 dengan desain Cross
Sectional yang dilakukan oleh Picavet HJS et. Al pada 22.415 pekerja di
belanda baik pria maupun wanita, menyatakan bahwa, prevalensi nyeri
pinggang karena membungkuk dan memutar tubuh adalah sebesar 40,6%.
Prevalensi sering pada posisi yang sama (statis) untuk waktu yang lama
sebesar 32,6 %, prevalensi untuk sering membuat gerakan yang tiba-tiba
sebesar 30,2 % dan prevalensi untuk mengangkat, membawa, mendorong dan
menarik sebesar 30,4 %. (Picavet HJS et. Al , 2000)
Berdasarkan Labour Force Survey (LFS) U.K prevalensi kasus
Musculoskeletal Disorders sebesar 1.144.000 kasus dengan menyerang
punggung sebesar 493.000 kasus, anggota tubuh bagian atas atau leher
426.000 kasus, dan anggota tubuh bagian bawah 224.000 kasus (Health and
Safety Commite 2006/2007 dalam Soleha, 2009). Pada 2007/2008
diperkirakan ada 538.000 orang di Britania Raya yang bekerja sejak tahun lalu
menderita Musculoskeletal Disorders yang disebabkan oleh pekerjaannya
(Health and Safety Executive, 2009).
Sementara itu di indonesia, penelitian yang dilakukan oleh Nurliah
(2012), pada penelitiannya terkait Analisis Risiko Musculoskeletal Disorders
cukup tinggi dari semua operator forklift yang menjadi responden, 87%
mengalami MSDs, titik keluhan yang dirasakan antara lain pinggang (65%),
leher atas (60%), leher bawah (60%), punggung (48%) dan bahu kanan (45%).
Selain itu Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Zulfiqor (2010) yang
dilakukan pada Welder di bagian Fabrikasi PT. Caterpillar Indonesia
didapatkan pekerja dengan tingkat keluhan MSDs ringan sebanyak 58 orang
(77,3%) dan keluhan MSDs berat sejumlah 7 orang (9,3%).
C. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan MSDs pada Pengrajin Sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK).
1. Hubungan antara Risiko Pekerjaan dengan MSDs.
Penilaian risiko pekerjaan dilakukan dengan menggunakan metode
REBA. Metode REBA diperkenalkan oleh Sue Hignett dan Lynn
Mcatammney yang diterbitkan dalam jurnal Apllied Ergonomics tahun
2000. Metode ini merupakan kolaboratif oleh tim Ergonomis, fisioterapi,
ahli okupasi dan para perawat yang mengidentifikasi sekitar 600 posisi di
industri manufakturing. Metode REBA, memungkinkan dilakukan suatu
analisis secara bersamaan dari posisi yang terjadi pada anggota tubuh
bagian atas (lengan, lengan bawah dan pergelangan tangan) badan, leher,
dan kaki. Metode ini juga mendefinisikan faktor-faktor lainnya yang
diduga dapat menentukan hasil penilaian akhir dari postur tubuh seperti:
beban atau gaya yang dilakukan, jenis pegangan atau jenis aktifitas otot
posisi statis dan dinamis, dan keadaan yang dapat menunjukkan adanya
perubahan secara tiba-tiba pada postur atau posisi tidak setabil (Tarwaka,
2013).
Pada tabel 5.9, diperoleh nilai rata-rata rangking risiko pekerjaan
dengan MSDs berat adalah 39,29 dan rata-rata rangking risiko pekerjaan
dengan MSDs ringan adalah 27,78. Adapun nilai probabilitas (P value)
sebesar 0,003 (P value < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa pada α (5%) terdapat hubungan antara risiko pekerjaan dengan MSDs pada
pengrajin sepatu di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan
Kecamatan Cakung 2013. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Hendra dan Raharjo (2008) bahwa 83,7% pekerja kelapa
sawit merasakan MSDs pada leher dan punggung bawah dengan skor
risiko pekerjaan (REBA) 8-10/high risk.
Pengrajin sepatu merupakan salah satu profesi yang memiliki
potensi untuk terjadinya MSDs, hal ini dibuktikan dengan adanya
beberapa faktor seperti postur janggal pengrajin saat melakukan kegiatan
membuat pola, penjahitan bahan, pengeleman dan perangkain sepatu
hingga menjadi sebuah produk yang siap dipasarkan.
Kesesuaian antara desain kerja dengan pekerja perlu diperhatikan,
seperti halnya posisi tubuh pekerja dalam kondisi duduk cendrung
mengikuti desain kursi yang digunakan, saat ruas-ruas tulang menekuk ke
sampai kepala, sehingga otot akan melentur. Hal tersebut apabila semakin
sering dan semakin lama digunakan dengan berlebihan, maka hal
demikian akan menyebabkan hilangnya kelenturan pada otot tersebut,
dari sudut otot, sikap duduk yang baik adalah sedikit membungkuk.
Namun dari sudut tulang posisi duduk yang baik adalah tegak, agar
punggung tidak bungkuk dan otot perut tidak lemas, dianjurkan untuk
duduk pada posisi tegak, dan diselingi istirahat dengan melakukan
perenggangan dan sedikit membungkuk (Tarwaka, 2004 ).
Faktor pekerjaan ini juga dipengaruhi oleh tidak sesuainya desain