• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Sektor Pertanian Indonesia 40

Indonesia merupakan negara agraris dimana sektor pertanian dapat menjadi andalan baik dalam munyumbang terhadap PDB nasional, maupun dalam penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan data BPS 2007 sektor pertanian merupakan penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia yaitu lebih dari 40 persen. Sebagai penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia, ternyata sektor pertanian hanya mampu menyumbangkan kurang lebih 14 persen dari total PDB sebesar RP. 3957.4 triliun pada tahun 2007.

Tabel 3. Struktur PDB Indonesia Menurut Lapangan Usaha Tahun 2006 - 2007 (Persen) Lapangan Usaha (1) 2006 (2) 2007 (3) 1. Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan

Perikanan

13.0 13.8

2. Pertambangan dan Penggalian 11.0 11.2

3. Industri Pengolahan 27.5 27.0

4. Listrik, Gas dan Air Bersih 0.9 0.9

5. Konstruksi 7.5 7.7

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 15.0 14.9

7. Pengangkutan dan Komunikasi 6.9 6.7

8. Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan 8.1 7.7

9. Jasa-jasa 10.1 10.1

PDB 100.0 100.0

PDB Tanpa Migas 88.9 89.5

Sumber : BPS, 2008

Jika berdasarkan teori yang ada, sumbangan sektor pertanian terhadap PDB memang cenderung turun, sesuai dengan semakin meningkat dan terdiversifikasinya perekonomian Indonesia. Namun yang perlu diamati juga adalah peranan pertanian dalam menyerap angkatan kerja. Pangsa sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja ternyata masih yang paling besar. Dari kenyataan

itu dapat dilihat bahwa ada ketimpangan dalam struktur ekonomi Indonesia, di mana sektor yang sudah mulai menyusut peranannya dalam menyumbang PDB ternyata harus tetap menampung jumlah tenaga kerja yang jauh lebih banyak daripada yang sewajarnya terjadi.

Sektor Pertanian di Indonesia yang terdiri dari sub sektor tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan merupakan sumber perolehan devisa yang sangat menjanjikan di masa yang akan datang karena merupakan sumber daya yang dapat diperbaharui. Krisis energi yang terjadi di dunia saat ini menyebabkan setiap negara berlomba untuk menciptakan energi alternatif agar dapat memenuhi pasokan energi yang dibutuhkan. Indonesia yang tanahnya dapat menjadi tempat tumbuh subur tanaman dan hewan merupakan nilai tambah tersendiri untuk menghasilkan energi alternatif.

Penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian yang besar tetapi tidak membuat sektor pertanian menjadi sektor paling unggul di antara sektor lain karena sektor pertanian Indonesia yang sebagian besar masih subsisten. Teknologi yang masih sangat rendah serta modal yang terbatas membuat sulit untuk menjadikan pertanian Indonesia dari hanya subsisten menjadi agribisnis bahkan agriindustri. Meskipun kemajuan suatu negara terlihat dari share laju pertumbuhan sektor pertanian yang semakin rendah dan semakin meningkatnya bidang manufacture, akan tetapi sektor industripun tidak akan dapat berjalan jika tidak ada sektor pertanian yang baik dan terandal. Dengan kata lain, jika Indonesia ingin menjadi negara industri yang maju maka terlebih dahulu harus memperbaiki sektor hulunya yaitu sektor pertanian. Selain sektor pertanian dapat menjadi input bagi semua sektor hilir, dengan sektor pertanian yang maju akan dapat

meningkatkan kesejahteraan penduduk Indonesia dan meningkatkan taraf hidup petani di Indonesia.

Pertumbuhan PDB pertanian menunjukkan kecenderungan yang meningkat sejak tahun 2005. Pada tahun 2007, sektor pertanian memiliki laju pertumbuhan 26.32 persen dibandingkan tahun 2006. Dengan laju pertumbuhannya tersebut, sektor pertanian mamapu menyumbangkan 13.83 persen dari total PDB nasional. Mungkin share PDB sektor pertanian tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan industri pengolahan mengingat sektor pertanian menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia, akan tetapi apabila perhatian pemerintah terhadap sektor ini terus ditingkatkan maka sektor pertanian akan menjadi sektor yang dapat menjanjikan di masa yang akan datang mengingat pertanian merupakan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable).

Sektor pertanian yang dibahas pada penelitian ini adalah pertanian dalam arti luas yang terdiri dari sub sektor tanaman pangan, tanaman perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Pada tahun 2007 sendiri sub sektor yang menjadi penyumbang terbesar PDB sektor pertanian adalah sub sektor tanaman pangan yaitu sebesar 48.99 persen. Dari segi laju pertumbuhan sub sektor pertanian maningakat 25.09 persen dibanding tahun 2006. Hal ini terjadi karena pada tahun 2007 terjadi surplus beras pada daerah-daerah penghasil beras. Selain itu tingkat pengembalian yang tinggi dari sub sektor ini menjadi salah satu motivasi tersendiri bagi petani untuk meningkatkan produksinya, dan dapat dilihat dari NTP yang meningkat yang dapat memperlihatkan peaningkatan kesejahteraan petani yaitu sebesar 102 pada 2006 menjadi kisaran 106 pada tahun 2007.

Sub sektor lain yang juga berperan dalam peningkatan output sektor pertanian adalah sub sektor perikanan yang menyumbang 17.69 persen terhadap PDB sektor pertanian dan 2.45 persen untuk PDB nasional Indonesia. Hasil perikanan Indonesia yang melimpah baik di darat maupun laut seharusnya mampu menyumbangkan lebih besar dari saat ini. Keterbatasan dalam teknologi menyebabkan Indonesia kurang mampu mengeksploitasi hasil lautnya, padahal memilki nilai jual yang sangat tinggi baik di pasar domestik maupun internasional.

Perkebunan kelapa sawit yang sedang booming saat ini membuat laju pertumbuhannya sangat tinggi yaitu 33.21 persen dibanding tahun sebelumnya. Dengan laju pertumbuhnnya tersebut, sub sektor perkebunan mampu menyumbangkan 15.43 persen terhadap PDBsektor pertanian dan 2.13 persen terhadap PDB nasional. Trend booming perkebunan kelapa sawit saat ini harus sangat diperhatikan oleh pemerintah agar hasil yang diberikan dapat maksimal. Saat ini Indonesia hanya mampu menjual hasil perkebunan kelapa sawit dalam bentuk setengah jadi, dengan pengembangan IPTEK diharapakan akan mampu meningkatkan hasil dari perkebunan yang ada agar memiliki daya jual yang lebih tinggi. Selain memberikan banyak keuntungan ternyata sektor kelapa sawit juga memiliki kerugian. Pembukaan lahan dengan cara membakar, menyebabkan terjadi kebakaran hutan di daerah-daerah seperti Sumatera dan Kalimantan. Jika dibandingkan dengan keuntungan riil yang didapat dari hasil kelapa sawit tentu lebih besar dari hasil hutan yang belum tentu bisa menghasilkan uang, akan tetapi manfaat yang diberikan hutan untuk kelangsungan hidup umat manusia karena menjadi paru-paru dunia tentu tidak dapat dibeli dengan apapun.

Tabel 4. Laju Pertumbuhan Sektor dan Sub Sektor Pertanian Indonesia Serta

Sharenya Terhadap PDB Nasional Tahun 2007

Lapangan Usaha 2007 (Miliar Rupiah) Share Terhadap PDB Pertanian (Persen) Share Terhadap PDB Nasional (Persen) Laju Pertumbuhan (Persen) Pertanian 547235.60 100 13.83 26.32 Tanaman bahan makanan 268124.40 48.99 6.77 25.09 Tanaman perkebunan 84459.20 15.43 2.13 33.21 Peternakan dan hasil-hasilnya 62095.80 1.13 1.57 21.58 Kehutanan 35734.10 6.53 0.90 18.85 Perikanan 96822.10 17.69 2.45 30.25 PRODUK DOMESTIK BRUTO 3957403.90 - 100 18.50 Sumber : BPS, 2007

Indonesia yang merupakan negara kepulauan ternyata menjadi suatu hambatan bagi kemerataan perekonomiannya. Tidak hanya pada sektor Industri tetapi juga sektor pertanian, hal ini dapat dilihat dari share PDB sektor pertanian tiap provinsi terhadap total PDB sektor pertanian Indonesia. Pulau Jawa masih menjadi penyumbang terbesar khususnya Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat yang sharenya terhadap PDB sektor pertanian nasional lebih dari 10 persen. Daerah Sumatera yang menjadi pusat perkebunan kelapa sawit Indonesia hanya mampu memberikan kontribusi kurang dari 10 persen pada masing-masing provinsinya. Dengan kontribusi terbesar adalah Provinsi Riau yang menyubangkan 8.38 persen dari total PDB sektor pertanian.

Pada provinsi daerah timur, kontribusi untuk sektor pertanian relatif lebih kecil jika dibandingkan pulau Jawa dan Sumatera. Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa rata-rata kontribusi daerah timur terhadap sektor pertanian Indonesia kurang dari 1 persen.

Tabel 5. Distribusi Sektor Pertanian Beberapa Provinsi di Indonesia Terhadap PDB Sektor Pertanian Nasional dan PDB Nasional serta Laju Pertumbuhannya

Tahun 2006

Nama Provinsi (Juta Rupiah) 2006

Share Terhadap PDB Pertanian Nas (Persen) Share Terhadap PDB Nasional (Persen) Laju Pertumbuhan (Persen) NAD 18196887.67 4.20 0.54 19.70 Sumatera Utara 35491961.01 8.19 1.06 5.99 Sumatera Barat 13396523.71 3.09 0.40 17.17 Riau 36294175.88 8.38 1.09 20.29 Jambi 6917959.52 1.60 0.21 14.28 Sumatera Selatan 17300120.00 3.99 0.52 20.48 Bengkulu 4566247.21 1.05 0.14 11.98 Lampung 18131758.86 4.19 0.54 19.76 Kep. Bangka Belitung 2963054.44 0.68 0.09 14.44 Kep. Riau 2369108.44 0.55 0.07 8.56 DKI Jakarta 490491.74 0.11 0.01 11.63 Jawa Barat 52653017.31 12.15 1.58 13.40 Jawa Tengah 57364981.87 13.24 1.72 28.03 DI Yogyakarta 4574164.48 1.06 0.14 14.61 Jawa Timur 80746147.55 18.64 2.42 16.12 Banten 7604853.80 1.76 0.23 5.34 Bali 7463262.78 1.72 0.22 8.36

Nusa Tenggara Barat 6524916.08 1.51 0.20 12.22

Nusa Tenggara Timur 6895959.56 1.59 0.21 13.71 Kalimantan Barat 10229571.87 2.36 0.31 11.73 Kalimantan Tengah 8637176.99 1.99 0.26 19.10 Kalimantan Selatan 7849541.92 1.81 0.24 8.46 Kalimantan Timur 10563338.24 2.44 0.32 10.77 Sulawesi Utara 4168564.99 0.96 0.12 15.29 Sulawesi Tengah 8659798.77 2.00 0.26 11.25 Sulawesi Selatan 18513257.00 4.27 0.55 14.36 Sulawesi Tenggara 6219547.93 1.44 0.19 13.06 Gorontalo 1242054.65 0.29 0.04 27.25 Sulawesi Barat 2746165.92 0.63 0.08 11.06 Maluku 1802960.97 0.42 0.05 10.33 Maluku Utara 1068160.05 0.25 0.03 8.21 Papua Barat 2428810.57 0.56 0.07 12.85 Papua 5144704.90 1.19 0.15 13.33

Diantara provinsi yang ada di timur Indonesia hanya Provinsi Papua yang

sharenya terhada PDB sektor pertanian Indonesia lebih dari 1 persen, hal ini lebih

dikarenakan Provinsi Papua memiliki wilaya yang paling besar dinatara provinsi didaerah timur lainnya. Dengan kata lain pada sektor pertanian ini luas wilayah yang dimiliki suatu dareah akan mempengaruhi kontribusinya terhadap sektor pertanian nasional.

Jika dilihat dari laju pertumbuhan masing-masing provinsi, pada tahun 2006 yang memiliki laju pertumbuhan paling besar adalah Provinsi Jawa Tengah sebesar 28.03 persen yang disusul oleh Provinsi Gorontalo sebesar 27.25 persen. Pada Provinsi Jawa Tengah, peningkatan laju pertumbuhannya lebih dikarenakan daerah penghasil beras di provinsi tersebut mampu meningkatkan produksinya, selain itu perhatian yang lebih dari pemerintah daerah setempat juga merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam peningkatan produksi di suatu daerah. Sedangakan pada kasus daerah Gorontalo, laju pertumbuhan yang besar dikarenakan provinsi ini mampu meningkatkan teknologi yang ada untuk peningkatan hasil pertanian. Pengiriman tenaga ahli di bidangnya ke Provinsi Gorontalo serta kerjasama yang baik dari warga setempat terhadap kebijakan pemerintah setempat membuat sistem pertanian daerah tersebut lebih terarah sehingga hasil yang diperoleh dapat maksimal.

Dari seluruh provinsi yang ada di Indonesi yang pada tahun 2006 pertumbuhan sektor pertaniannya paling kecil adalah Provinsi Banten. Provinsi yang sebelum adanya otonomi daerah merupakan bagian dari Jawa Barat ini ternyata belum mampu memaksimalkan potensi pertanian yang ada. Sebagai daerah yang memiliki potensi pada tanaman padi dan melinjo, pertumbuhan

sektor pertaniannya harus lebih dari yang dicapai pada tahun 2006 karena Provinsi Banten telah memiliki keunggulan tersendiri yaitu tanaman melinjo.

Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa provinsi yang memiliki kontribusi terbesar terhadap sektor pertanian Indonesia adalah Provinsi Jawa Timur. Denga

share 18 persen provinsi ini juga tetap memliki pertumbuhan yang cukup tinggi

yaitu 16. 12 persen. Kekonsistenan provinsi ini dalam menangani sektor pertaniannya dapat menjadi contoh provinsi lain yang ada di Indonesia. Peningkatan sektor seperti industri, jasa dan pariwisata memang sangat penting dilakukan, akan tetapi lebih penting lagi jika membangun terlebih dahulu sektor hulu yaitu pertanian agar Indonesia tidak perlu mengimpor dalam memenuhi kebutuhan untuk berproduksi.

4.2. Pembentukan Data Siklikal

Setelah pada bab sebelumnya dijelaskan mengenai metodologi dari pembentukan leading indicator berdasarkan metode growth cycle OECD, maka pada bagian ini akan dijelaskan mengenai aplikasi metode tersebut dalam menentukan titik balik dari seri acuan dan pembentukan composite leading index pertumbuhan sektor pertanian Indonesia. Seri acuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah produk domestik bruto sektor pertanian (PDBP). Hal ini dikarenakan saat ini PDBP merupakan seri acuan yang paling memungkinkan untuk melihat siklus pada sektor pertanian.

Pada bagian ini, hasil analisis stylized facts akan disajikan dalam gambaran evolusi trend dan fluktuasi siklikal seri acuan, kemudian menggambarkan hubungan keterkaitan siklikal indikator kandidat komposit

dengan siklikal seri acuan. Metode yang digunakan untuk menghilangkan unsur musiman dan irregular dari variabel-variabel yang telah didapat adalah program

seasonally adjusted dari X-12 dalam software Eviews 4.1, dan metode yang

diguakan untuk mengestimasi trend adalah metode Hodrick Prescott filter yang juga menggunakan software Eviews 4.1. Setelah didapat estimasi trend maka dilakukan detrending (pemisahan unsur siklikal dari unsur trend-nya) yaitu data yang telah dihilangkan unsur musiman dan irregularnya dikurangi dengan estimasi trend yang juga menggunakan Eviews 4.1.

Tabel 6. Hasil Uji Akar Unit (Unit Root Test) pada Level Sebelum Detrending Variabel Nilai ADF

t-statistic

Nilai Kritis MacKinnon Keterangan 1% 5% 10%

L_PDBP 0.801053 -2.669359 -1.956406 -1.608495 Tidak Stasioner L_IHK 6.930128 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Tidak Stasioner L_IHKUS 6.395202 -2.650145 -1.953381 -1.609798 Tidak Stasioner L_IHPP -0.611776 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Tidak Stasioner

L_KI -0.301868 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Tidak Stasioner L_KM 0.001946 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Tidak Stasioner L_M2 7.267855 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Tidak Stasioner L_MP 0.942429 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Tidak Stasioner L_PBRS 0.844489 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Tidak Stasioner L_PDB 1.335578 -2.656915 -1.954414 -1.609329 Tidak Stasioner L_PSWT 1.782998 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Tidak Stasioner L_PTEH -0.818866 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Tidak Stasioner

L_RER -1.367296 -2.653401 -1.953858 -1.609571 Tidak Stasioner L_RKI -1.630694 -2.647120 -1.952910 -1.610011 Stasioner L_RKM -2.021361 -2.647120 -1.952910 -1.610011 Stasioner

L_XP 0.798256 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Tidak Stasioner L_NTP -2.193915 -3.670170 -2.963972 -2.621007 Tidak Stasioner

Dari hasil pemisahan data menjadi data siklikal, terlihat dari grafik bahwa data-data menjadi lebih stasioner di bandingkan sebelum dilakukan pemisahan

terhadap unsur musiman, irregular, dan trend. Hal ini juga dapat dilihat dari uji non-stasioneritas pada taraf nyata 10 persen. Pada tabel di atas terlihat bahwa semua variabel kecuali suku bunga kredit investasi dan suku bunga kredit modal kerja tidak stasioner. Karena data stasioner merupakan salah satu syarat dari pembentukan CLI maka syarat tersebut harus dipenuhi..

Tabel 7. Hasil Uji Akar Unit (Unit Root Test) pada Level Setelah Detrending Variabel Nilai ADF

t-statistic

Nilai Kritis MacKinnon Keterangan 1% 5% 10% D_PDBP -1.694630 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Stasioner D_IHK -1.886968 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Stasioner D_IHKUS -2.265444 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Stasioner D_IHPP -2.213094 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Stasioner D_KI -3.315675 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Stasioner D_KM -3.510287 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Stasioner D_M2 -2.679930 -2.653401 -1.953858 -1.609571 Stasioner D_MP -3.124826 -2.647120 -1.952910 -1.610011 Stasioner D_PBRS -2.962934 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Stasioner D_PDB -3.181141 -2.674290 -1.957204 -1.608175 Stasioner D_PSWT -2.795702 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Stasioner D_PTEH -3.062740 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Stasioner D_RER -2.411488 -2.647120 -1.952910 -1.610011 Stasioner D_RKI -2.475769 -2.647120 -1.952910 -1.610011 Stasioner D_RKM -4.106322 -2.647120 -1.952910 -1.610011 Stasioner D_XP -2.564600 -2.644302 -1.952473 -1.610211 Stasioner D_NTP -3.011806 -3.679322 -2.967767 -2.622989 Stasioner

Pada Tabel 7, setelah dilakukan pembersihan dari faktor musiman,

irregular, dan trend maka pada taraf nyata 10 persen seluruh varibel baik calon

komposit maupun seri acuan menjadi stasioner. Dengan demikian salah satu syarat pembentukan CLI telah terpenuhi

4.3. Karakteristik dan Titik Balik Produk Domestik Bruto untuk Sektor

Dokumen terkait