HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Gambaran Tempat Magang
Bagian daerah hutan (BDH) paliyan merupakan BDH yang berada diwilayah kerja Kesatauan Pengelolan Hutan (KPH) Yogyakarta yang terletak di Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewah Yogyakarta. BDH paliyan dipimpin oleh seorang pemimpin yang disebut dengan sinder, dalam hal ini sinder BDH paliyan adalah bapak Parjio. BDH paliyan terdiri dari 6 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) yang dipimpin oleh seoerang mantri dan dibantu oleh beberapa mandor baik mandor pegawai negeri sipil (PNS) maupun swasta. RPH yang berada di BDH paliyan antara lain yaitu RPH Grogol dengan luasan 614 ha yang dibentuk dalam 6 petak, RPH Menggoro dengan luasan 661 ha yang dibentuk dalam 7 petak, RPH Kedungwanglu dengan luasan 649,4 ha yang dibentuk dalam 6 petak, RPH Giring dengan luasan 558,3 ha yang dibentuk dalam 7 petak, RPH Mulo dengan luasan 747,2 ha yang dibentuk dalam 7 petak, RPH Karangduet dengan luasan 181 ha yang dibentuk dalam 2 petak. Setiap RPH memiliki kendali petak yang selalu diperbaharui setiap tahun, yang berisikan tentang potensi, luasan areal willyah administrasi dan kegiatan serta kelompok tani yang terlibat dalam upaya pengelolaan hutan. Dalam setiap petak terdiri atas 2 jenis pal batas yaitu pal batas luar berfungsi membasi willayah hutan negara dan hutan atau tanah milik warga dan pal batas dalam berfungsi membatasi petak antar petak, dalam pal batas dalam dipasang setiap 200 meter satu pal batas.
RPH Kedungwanglu
RPH Kedungwanglu merupakan suatu wilayah yang dipimpin bapak Sukiran selaku mantri. RPH Kedungwanglu terdiri dari dua kawasan yang dibedakan atas fungsinya yaitu hutan lindung dan hutan produksi. Hutan
18
lindung awalnya adalah hutan produksi tetapi berdasarkan keputusan dinas terkait dialih fungsikan menjadi hutan produksi sehingga vegetasi yang didalamya seperti jati tidak menjalakankan fungsi ekologisnya dengan baik sebagai hutan lindung sehinnga menjadi tugas utama dari mantri RPH Kedungwanglu dalam mengupayakan kawasan hutan lindung ini menjadi layak dalam menjalakan fungsinya.
Kawasan hutan lindung dibagi atas tiga petak yaitu petak 105 denga luasan 82,80 ha dengan vegetasi yang terdapat didalamnya yaitu jati (3.000 batang/ha) dengan luasan 58,30 ha; jenis campuran (500 batang/ha) seluas 20 ha dan tanah kosong seluas 4,5 ha. Petak 106 dengan luasan 148,70 ha dengan vegetasi yang terdapat didalamnya adalah jenis jati (3.850 batang/ha) dengan luasan 147,70 ha dan lapangan seluas 1 ha.
Petak 107 dengan luasan 130,20 ha terdir atas jenis tanaman jati (3.550 batang/ha) dengan luas 129 ha dan jenis tanaman hutan alam dengan luasan 11,20 ha. Hutan lindung juga diberikan toleransi kepada masyarakat dalam upaya pemanfaatan lahan untuk menanam tanaman pertanian dalam upaya menarik masyarakat untuk bersama-sama terlibat dalam menjaga keamanan hutan.
Hutan produksi didominasi oleh pohon jati yang merupakan hasil program Gerakan Nasioanal Rehabilitasi Hutan dan Lahan pada tahun 2003 dengan jarak tanam 2x4 meter. hutan produksi yang terdiri dari 3 petak yaitu petak 102 dengan luasan 70 ha yang komposi hutan secara keseluruan adalah jenis jati (2.370 batang/ha). Petak 103 dengan luasan 111,10 ha komposisi hutan didominasi oleh jenis jati (3.710 batang/ha)
19
dengan luasan 103,10 ha, lapangan seluas 1 ha, laptur 1 ha, kuburan 1 ha, pembibitan 1 ha, dan wisata 1 ha. Petak 104 dengan luasan 106, 40 ha dengan jenis tanaman didominasi oleh jati (3.300 batang/ha).
Dalam pengelolaannya RPH Kedungwanglu bekerjasama dengan masyarakat sebagai strategi dalam upaya perlindungan hutan dengan membentuk kelompok tani yang berjumlah 10 kelompok tani yang dibagi merata dalam 3 petak. Satu kali Dalam sebulan yaitu pada tanggal 10, kelompok tani ini akan melakukan evaluasi bersama petugas sebagai upaya siaga terhadap keadaan lapangan. Dalam pengelolaah lahan masyarakat menggunakan model tumpangsari, Model tumpangsari ini dilakukan oleh masyarakat atau kelopok tani pada tahun pertama dan kedua yaitu tahun penanaman dan tahun penyulaman dengan jenis tanaman pertanian yang ditanam yaitu ketela, jagung dan kacang namun mantri manyatakan bahwa dalam pemilihan jenis tanaman pertanian ini tidak ada upaya timbal balik antara tanaman dan unsur hara yang diambil dari dalam tanah dikarenakan tanaman yang tanam pada saat pemanenan semua bagian dieksplor sehinnga petugas lebih menyarakan untuk menanam tanaman empong-empong yang bisa meberikan fungsi ekologis.
RPH Menggoro
RPH Menggoro dipimpin oleh bapak Sugiono selaku mantri namun bapak Sugiono juga merupakan salah satu personil polisi kehutanan yang berada di BDH Paliyan. RPH Menggoro mengolah kawasan produksi yang terdiri 7 petak yaitu petak 95 dengan luasan 74,2 ha yang terdiri dari jenis kayu putih dengan luasan 10 ha dan jati yang terdiri dari HKM 1200
20
batang/ha dengan luasan 47 ha, jun 1000 batang/ha dengan luasan 2 ha dan jati bibrikan HKM. Petak 96 dengan luasan 104,7 ha yang terdiri atas 2 jenis tanaman yaitu mahoni (300 batang/ha) dengan luasan 2 ha dan jati (3.200 batang/ha) dengan luasan 102,7 ha. Petak 97 dengan luasan 139,9 ha yang didominasi oleh jenis jati (2.800 batang/ha) dengan luasan 96,5 ha dan 0,5 ha merupakan milik ABRI. Petak 98 dengan luasan 81 ha yang didominasi oleh jenis jati yang terdiri dari 1.500 batang/ha. Petak 99 dengan luasan 91 ha yang didominasi oleh jenis jati yang terdiri atas 1.700 batang/ha. Petak 100 dengan luasan 66,6 ha yang terdiri atas jenis sono (500 batang/ha) dengan luasan 5 ha dan jati (2.400 batang/ha) dengan luasan 61,6 ha. Petak 101 dengan luasan 103,6 ha yang terdiri atas 2 jenis tanaman yaitu sono (500 batang/ha) dengan luasan 10,1 ha dan jati (3.000 batang/ha) dengan luasan 93, 5 ha.
Ada model hutan kemasyarakatan dalam wilayah RPH Menggoro yang terdiri dari 3 HKM yang berada pada petak 95 dan petak 97, namun dari 3 HKM ini satu kelompok sudah non aktif yaitu kelompok mitrasari dikarenakan kepengurusan kelompok yang telah bubar sedangkan 2 kelompok lainya masih aktif dalam mengelolah hutan. Kelompok HKM ini diharapakan untuk bisa mandiri sehingga RPH lebih difokuskan pada proses perlindungan. Masyarakat yang tergabung dalam HKM ini dilibatakan pada awal dilakukan rehabilitasi hutan. Adapuan tanaman pertanian yang dikolaborasikan oleh masyarakat HKM yaitu adalah tanaman porang. Ada juga model kemitraan yang dilakukakn pada pengelolaan kawasan RPH menggoro yaitu antara PT Surya Silva
21
Mataram bersama KPH dan kelompok tani hutan yang tanaman pokok yang dimanfaatka yaitu jati unggul nusantara (JUN) sebagai kebun percobaan JUN. Jenis-jenis tanaman yang ditanam di willayah RPH Menggoro antara lain yaitu jati dengan jarak tanam pada awalnya 3x3 meter mada masa percobaan dan sekarang 4x3 meter yang menyebar pada semua petak dengan luasan 10 ha yang ditanam pada tahun 1985, sono yang terdiri dari 3 jenis yaitu sono kling; sono kembang yang terdapat pada petak 100 dan petak 101,dan sono brit, dan jenis albasia. pada pelaksanan tugasnya RPH Menggoro lebih memfokuskan pada upaya perlindungan. Upaya perlindungan yang sudah dilakukan antara lain penyuluhan oleh petugas RPH dan Dinas terkait kerusakan hutan dan keamanan hutan dan patroli dilakukan oleh petugas RPH. upaya pengamanan hutan pada dasarnya ada 3 cara yaitu prenfit (memotong unsur niat bisa melalui kegiatan penyuluhan), prefsentil (melakukan patroli dalam willayah sehingga memotong peluang untuk mencuri), reprensif ( melakukan penangkapan dan dilaporkan). Kerusakan hutan ini dipengaruhi oelh aktivitas pencurian dan kebakaran. Kegiatan pencurian dipengaruhi oleh unsur niat dan kesempatan. Pengaman hutan pada dasarnya bertujuan pengawasa kawasan dan pengawasan isi dari upaya pencurian dan kebakaran. Kegiatan pengaman dilakukan pada bibit, anakan dan pohon.
Kerusakan hutan pada RPH Menggoro biasanya disebabkan pencurian, kebakaran dan bencana alam. Tahap-tahap pengaman antara lain melihat kerusakan, pelajari masalah, pengawasan dan penagkapan.
Kendala-22
kendala dalam peroses pengaman antara lain willayah yang dijangkau dan jumlah personil yang terbatas.
RPH Karangduet
RPH Karangduwet dipimpin oleh bapak Supriyana sebagai mantri.
RPH Karangduwet mengelolah wilayah produksi yang terdiri dari 2 petak yaitu petak 142 dengan luasan 102,2 ha yang didominasi oleh jenis jati sebanyak 1510 batang/ha dan petak 143 dengan luasan 78,8 ha yang didominasi elh jenis jati sebanyak 3.100 batang/ha. RPH Karangduwet berbatasan dengan RPH Giring dan suaka margastwa. Pada petak 142 terdiri dari 33 ha yang ditanami jati pada program GN-RHL pada tahun 2005 dan 10 ha yang dikelolah oleh kelompok tani hutan yang berjumlah 2 yang tergabung dalam program hutan kemasyarakatan (HKM). secara umum kelompok tani hutan di RPH Karangduwet ada 4 yang terbagi rata 2 di lahan GN-RHL dan 2 di HKM. Tanaman yang ditanam oleh petani bermacam-macam seperti palawija, kedelai, padi, ketela, kacang tanah dan jagung. Dalam pengelolan lahan terdapat kendala dalam memiliki jenis vegetasi yang cocok ditanam dikarenakan untuk tanaman jati sendiri sangat tidak mungkin diusahakan dalam waktu dekat diakarenakan bentuk lahan yang terdiri dari bebatuan yang banyak, dalam mencari jenis vegetasi yang cocok petugas mengalami kendala terkait kondisi sosial masyrakat yang sering menjasikan daun dari tumbuahn untuk dijadiak pakan ternaknya sehinnga ada beberapa vegetasi yang cocok namun terhalang oleh sosial masyarakat yang belum memilki kesadaran yang tinggi akan pentingnya keberadaan hutan. Alasan alin juga dikarenakan
23
huatan yang termasuk hutan produksi maka pemilihan tanaman juga harus memeperhatikan fungsi produksinya, sudah perna dilakuakn usulan terkait tanaman kayu putih namun ditolak dikarenakan beberapa alasan seperti lapisan tanah yang tipis serta konsisi lahan yang sangat menyulitkan dalam proses pemanenan kayu putih nantinya.
RPH Giring
Rph Giring dipimpni oleh bapak Samido selaku mantri yang dibantu oleh 3 mandor. RPH Giring mengelolah hutan produksi yang terdiri atas 7 petak yaitu petak 144 dengan luasan 90 ha yang terdiri dari jenis tanaman seperti metemeteor (45 batang/ha) dengan luasan 7,5 ha dan diselingi model tumpangsari yang mengembangkan tanaman pertanian seperti jagung, kedelai, ketela, kacang kalanjana; ex. Jarak pagar; jati (750 batang/ha) model silvikultur intensif dan 6 ha lainya merupakan area potensi wisata goa ngeleng. Petak 145 dengan luasan 77, 5 ha yang didominasi oleh jati yang terdiri dari 840/ha batang jati SILIN, 700/ha batang GN-RHL dan 750 batang/ha jati stek pucuk. Petak 146 dengan luasan 83,5 ha yang terdiri atas ex.jarak pagar dengan luasan 10 ha, jati RASK (750 batang/ha) dengan luasan 25 ha, jati GN-RHL (700 batang/ha) dengan luasan 45 ha dan jari hasil swadaya kelompok tani (700 batang/ha) dengan luasan 3,5 ha serta 1 ha merupakan rest area wisata religi M.
Gunung Bagus. Petak 147 dengan luasan 83,5 ha dengan rincian 63,5 ha jun sebanyak 830 batang/ha, jati GN-RHL sebanyak 650 batang/ha dan 2 ha digunakan oleh masyarakat untuk tanaman tumpangsari seperti padi, kledelai, kacang tanah kalanjana. Petak 148 dengan luasan 84,5 ha dengan
24
rincian sebagai berikut 54,98 ha JUN sebanyak 830 batang; 28,5 ha jati GN-RHL sebanyak 1.450 batang/ha; 0,8 ha kayu putih sebanyak 125 batang/ha. Petak 149 dengan luasan 85,7 ha yang dirincikan sebagai berikut 85,7 ha jati GN-RHL sebanyak 2.300 batang/ha dan 6,5 ha merukan area wisata religi gunung bagus. Petak 150 dengan luasan 80,3 ha yang didominasi oleh jati GN-RHL sebanyak 2.100 batang/ha.
RPH Grogol
RPH Grogol dipimpim oleh bapak Basuki Roklimat S.E selaku mantri. RPH Grogol berada pada wilayah hutan produksi yang terdiri dari 8 petak antara lain petak 128 dengan luasan 105,6 ha yang didominasi oleh jati sebanyak 1.560 batang/ha, petak 129 dengan luasan 106,2 ha yang yang didominasi oleh kayu putih sebanyak 15,300 batang/ha, petak 130 dengan luasan 78,8 ha yang didominasi oleh kayu putih sebanyak 6.490 batang/ha, petak 131 dengan luasan 87,8 ha yang didominasi oleh kayu putih sebanyak 10,985 batang/ha, petak 132 dengan luasan 84,5 ha yang didominasi oleh kayu putih sebanyak 8.040 batang/ha, petak 133 dengan luasan 62,7 ha yang didominasi oleh kayu putih sebanyak 7.950 batang/ha, petak 134 dengan luasan 48,6 ha didominasi oleh kayu putih sebanyak 3.370, dan petak 135 dengan luasan 39,8 ha didominasi oleh jati sebanyaak 1680 batang/ha. Dalam pengelolaan hutan ada beberapa masalah yang sering muncul antara lain pencurian kayu dan kebakaran hutan, selama waktu magang terjadi sudah dua kali terjadi kejadian kebakaran hutan yang disebabkan oleh faktor manusia.
25
RPH Mulo
RPH Mulo dipimpin oleh bapak Wardiyo selaku mantri yang mengelolah hutan produksi yang terdiri atas 10 petak yaitu petak 151 dengan luasan 90,8 ha yang dirincikan sebgai berikut 12,3 ha dan 3 ha tidak dikeloah untuk ditanami tanaman kehutanan, 75,5 ha ditanami jati sebnayk 1400 batang/ha, Petak 152 dengan luasan 61,9 ha yang didominasi oleh jati sebanyak 1500 batang/ha, petak 153 dengan luasan 49,6 ha yang didominasi oleh jati sebanyak 31.117 batang/ha, petak 154 dengan luasan 60,932 ha yang akan ditanami JUN, petak 155 dengan luasan 54,5 ha dirincikan sebagai berikut jati GN sebanyak 400 batang/ ha dengan luasan 52 ha dan JUN sebanyak 900 batang/ha seluas 2,5 ha, petak 156 dengan luasan 113,8 ha yang dirincihkan 7,3 ha ditanami jati dan kayu putih sebanyak 750 batang/ha, jati GN sebanayak 1600 batang/ha dengan luasan 60 ha, jati HKM sebanyak 750 batang/ha dengan luasan 43,5 ha, JUN sebanyak 2.412 batang/ha dengan luasan 3 ha, petak 157 dengan luasan 104,5 ha yang dirincihkan JUN sebanyak 31.295 batang/ha dengan luasan 37,97 ha, mahoni sebanyak 200 batang/ha dengan luasan 2 ha, mahoni dan acacia sebanyak 124 batang/ha dengan luasan 9,53 ha, jati GN sebanyak 750 batang/ha dengan luasan 55 ha, petak 158 dengan luasan 57,1 ha yang dirincihkan sebagai berikut JUN seluas 22,93 ha sebanyak 18.905 batang/ha, jati, mahoni dan acacia GN seluas 30 ha sebanyak 1.500 batang/ha, acacia TK 15 batang/ha seluas 4,17 ha, petak 159 dengan luasan 64,2 ha yang dirincikan jati GN sebanyak 700 batang/ha dengan luasan 20 ha, jati, mahoni dan acacia HKM sebanyak 650 batang/ha
26
dengan luasan 31 ha, jati swadaya sebanyak 600 batang/ha dengan luasan 10,7 ha, serta mahoni dan acacia sebanyak 650 batang/ha dengan luasan 2,5 ha, petak 160 dengan luasan 89 ha yang dirincihkan sebagai berikut jati swadaya sebanyal 500 batng/ha dengan luasan 2 ha, jati, mahoni dan acasia sebanyak 1000 batang/ha dengan luasan 5 ha, JUN sebanyak 38.827 batang/ha dengan luasan 48 ha, jati dan acacia GN sebanyak 650 batang/ha denghan luasan 10 ha, kayu putih dan acacia sebanyak 720 batang/ha dengan luasan 4 ha, dan jati HKM debgan luaasan 20 ha sebanyak 500 batang/ha.