• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

C. Gambaran umum bank BR

1. Sejarah awal berdirinya

Pada awalnya bank BRI berdiri didaerah purwokerto jawa tengah dengan pendiri Raden Aria Wiya Atmajda dengan nama Hulpen Spaarband Deinlandsche Bestruus Ambtenaren atau biasa disebut dengan nama Bank Bantuan dan Simpanan Milik Pribumi Kaum Priyayi yang Berkebangsaan Indonesia yang berdiri pada 16 desember 1895.

Pada tahun 1946 pada pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai bank pemerintah paertama yang dimilki oleh Indonesia. Adanaya situasi pada perang mempertahnkan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1948 BRI sempat terhenti untuk sementara waktu. Lalu kembali beraktifitas kembali pada tahun 1949 dengan nama BRI serikat. Pada saat itu PERPU no.14 tahun 1960 dibuat peleburan BRI yang bernama bank koperasi tani dan nelayan.

Setalah mengalami perjalan hamper sekitar 1 bulan bank bernama koperasi untuk tani dan nelayan dilebur menjadi bank BNI dan pemerintah membuat kmbali bank khusus untuk ekspor-impor yang kemudian bank tersebut memiliki nama bank EXIM.

Sejak pada tahun 1992 berdasrkan UU perbankan no.7 tahun 1992 dan peraturan pemerintah RI no.21 tahun 1992 maka status bank BRI menjadi PT.BRI (PERSERO) yany kepemilikanya masih 100% pemerintah.

Bank BRI berdiri dari dulu sampai sekarang memiliki dasar pelayanan pada pelayanan masyarakat kecil. Hal ini sendiri tercermin pada penyaluran KUK ditahun 1994 – 1995 yang dana penyaluranya hingga Rp. 8.230 Milyardt.

Seiring dengan perkembangan perbankan yang semakin pesat bank BRI sendiri memiliki unit kerja yang berjumlah 4.447 bh kaontor kerja, tang terdiri dari: 1 kantor pusat BRI, 12 kantor wilayah, 12 kantor inspeksi, 1 SPI, 170 kantor dalam negeri cabang, 145 kantor cabang pembantu, 1 kantor cabang agency, 1 kantor cabang new york agency, 1 caymand island, 1 kantor perwakilan hong kong, 40 koritor kas, 6 kantor mobile bank, 193 post point, 3.710 BRI unit, 357 pos pelayanan desa. 2. Lokasi BRI unit makam haji

Lokasi bank BRI cabang Makam Haji sendiri sangatlah strategis, dimana lokasi nya berada pada perbatasn antara kota Solo dengan kota Gumpang. Dimana lokasi ini banyak dari masyarakat yang memilki

kebiasan modern dan sudah maju. Bank BRI cabang Makam Haji sendiri tegolong pada bank unit cabang kelas ke3, ini dilihat dari total pendapatan dan pertumbuhan bank tersebut. Bank BRI cabang Makam Haji termasuk dalam pengawasan kantor cabang pembantu Kartasura.

3. Struktur Organisasi

a. Organisasi kantor tingkat pusat, terdiri dari : 1) Tingkat kepemilikan atau pemegang saham 2) Tingkat penetapan arah strategi dan kebijakan

3) Tingkat implementasi operasional dan manajemen : direksi utama (CEO), direktur SBU mikro, direktur SBU retail, direktur SBU corporate, direktur SBU investment, direktur SSUI dan direktur SSU II

b. Organisasi tingkat daerah : 1) Kanwil

2) Kacab

3) Kacab pembantu 4) BRI unit

BRI unit terbagi dalam 3 kelas, yaitu dari kelas 1,2,3. dan BRI unit makam haji termasuk dalam golongan kelas 3 yang terdiri dari kepala unit, mantri, teller, deskman, dan keamanan. Adapun tugas yang dimilki adalah sebagai berikut ini :

a. Kepala unit

- Memilki tanggung jawab penuh atas kinerja BRI unit b. Mantri : - Mencari nasabah - Survey - Penagihan - Mengevaluasi produk b. Teller :

- Pemelihara citra BRI

- Memberi pelayanan pada nasbah - Memastikan kelancaran arus kas c. Deck man ( CS ) :

- Memelihara citra BRI - Memberi pelayan - Membuat agenda - Meberi nota

- Meregistrasi semua produk yang dimilki oleh BRI d. Keamanan :

- Menjaga ketertiban

4. Produk yang dimiliki oleh BRI unit

Produk dari bank BRI dan jasa yang dimiliki oleh BRI unit makam haji dalahsebagai berikut ini :

a. Simpanan :

Jasa pelayanan yang diberikan oleh BRI dalam melayani nasabah dalam bentuk simpanan seperti simpedes, simaskot, dan dopobri.

b. Pinjaman :

BRI unit juga memberikan pelayanan pada nasabah dalam bentuk pinjaman yang diperuntukan unutuk pengusaha kecil umu dan menengah (UMKM).seperti kredit berpenghasilan tetap, kredit untuk pensiunan, kredit usaha usaha, dan KUR.

c. Jasa lain :

Disamping dari produk simpanan dan pinjaman BRI unit jauga menerima jasa lain, seperti :

- Inkaso - Pelayanan pensiunan

- Kliring - Pembayaran NPWP

5. VISI dan MISI BRI

Keberadaan BRI unit Makam Haji untuk dapat mengelola dan mengeporasikan jasa pelayanan perbankan pada umumnya, ternasuk didalamnya nutuk menghimpun dana dan penyaluran kredit. Dalam menjalankan misi nya BRI unit Makam Haji diharapkan juga memiliki profit oriented yang dapat menghasilkan keuntungan sehingga dapat memberikan kontribusi pada BRI secara keseluruhan.

VISI :

Menjadi bank komersil terkemuka yang selalu mengutamakan kepentingan nasabah.

MISI :

1. Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakn pelayanan pada penusaha umum kecil dan menengah (UMKM) untuk dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi rakyat.

2. Memberikan pelayanan prima pada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar dan didukung oleh SDM yang professional dan dapat melaksanakan good corporate govermace.

3. Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal pada pihak yang memilki kepentingan pada BRI .

D. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan pada 70 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit KUR BRI pada BRI kanca unit Makam Haji Sukoharjo. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh proses pengajuan kredit, pendapatan usaha, lama usaha dan jangka waktu pembayaran terhadap keberhasilan pengambilan kredit pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang ada di wilayah tersebut.

1. Karakteristik Responden

Pada pembahasan mengenai karakteristik responden penelitian ini, dapat diketahui gambaran tentang besar dan kecilnya prosentase jumlah responden berdasarkan jenis kelamin dan umur. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut:

a. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan distribusi jenis kelamin responden yang merupakan 70 pengusaha yang termasuk dalam Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji, maka diperoleh hasil penyebaran data sebagai berikut:

Tabel 4.7

Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah Prosentase

1. Perempuan 24 34,29%

2. Laki-laki 46 65,71%

Sumber: Data Primer Diolah, 2009

Tabel 4.7 di atas menunjukkan distribusi responden penelitian berdasarkan jenis kelamin pada pengusaha yang termasuk dalam Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang ada di wilayah Makam Haji. Hasil distribusi diketahui bahwa 34,29% atau 24 orang responden berjenis kelamin perempuan dan 65,71% atau 46 orang responden berjenis kelamin laki-laki.

b. Distribusi Responden Berdasarkan Umur

Berdasarkan distribusi umur responden yang merupakan 70 pengusaha yang termasuk dalam Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji, maka diperoleh hasil penyebaran data sebagai berikut

Tabel 4.8

Distribusi Responden Berdasarkan Umur

No Umur Jumlah Prosentase

1. 20 – 25 Tahun 4 5,71%

2. 26 – 35 Tahun 36 51,43%

3. 36 – 40 Tahun 30 42,86%

Jumlah 100 100%

Sumber: Data Primer Diolah, 2009

Tabel 4.8 di atas menunjukkan distribusi responden penelitian berdasarkan umur pada pengusaha yang termasuk dalam Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang ada di wilayah Makam Haji. Hasil distribusi diketahui bahwa 5,71% atau 4 orang responden berumur antara 20 - 25

tahun, 51,43% atau 36 orang berusia antara 26-35 tahun, dan 42,86% atau 30 orang berusia antara 36 - 40 th.

2. Statistik Diskriptif Data Penelitian

Pada pembahasan mengenai statistik diskriptif data penelitian ini, dapat diketahui gambaran tentang besar dan kecilnya prosentase jumlah responden berdasarkan proses pengajuan kredit, lama usaha, jangka waktu pengembalian, tingkat pendapatan dan tingkat kredit perbankan. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut:

a. Proses Pengajuan Kredit

Berdasarkan distribusi proses pengajuan kredit pada responden yang merupakan 70 pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji, maka diperoleh hasil penyebaran data sebagai berikut:

Tabel 4.9

Proses Pengajuan Kredit

No Proses Pengajuan Jumlah Prosentase

1. Sulit 14 18,60%

2. Cukup Mudah 34 48,60%

3. Mudah 23 32,80%

Jumlah 70 100%

Sumber: Data Primer Diolah, 2009

Tabel 4.9 di atas menunjukkan proses pengajuan kredit yang dirasakan pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat diBRI

Makam Haji. Hasil distribusi diketahui bahwa 18,60% atau 14 orang merasakan bahwa proses pengajuan kredit termasuk kategori sulit, 48,60% atau 34 orang merasakan bahwa proses pengajuan kredit termasuk kategori cukup mudah dan 32,80% atau 23 orang merasakan proses pengajuan kredit termasuk kategori mudah.

b. Pendapatan Usaha

Berdasarkan distribusi pendapatan usaha pada responden yang merupakan 70 pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji, maka diperoleh hasil penyebaran data sebagai berikut:

Tabel 4.10 Pendapatan Usaha

No Pendapatan Usaha Jumlah Prosentase

1. < Rp 500.000,- per bulan 31 44,29% 2. Rp 500.000,- s/d Rp 750.000,- per bulan 24 34,29% 3. > Rp 750.000,- per bulan 15 21,42%

Jumlah 70 100%

Sumber: Data Primer Diolah, 2009

Tabel 4.10 di atas menunjukkan pendapatan yang diperoleh pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji memiliki Hasil distribusi, diketahui bahwa 44,29% atau 31 orang mempunyai pendapatan kurang dari atau sama dengan Rp 500.000,- per bulan, 34,29% atau 24 orang mempunyai pendapatan antara Rp

500.000,- s/d Rp 750.000,- per bulan dan 21,42% atau 15 orang mempunyai pendapatan lebih dari Rp 750.000,- per bulan.

c. Lama Usaha

Berdasarkan distribusi lama usaha pada responden yang merupakan 70 pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji, maka diperoleh hasil penyebaran data sebagai berikut:

Tabel 4.11 Lama Usaha

No Lama Usaha Jumlah Prosentase

1. < 10 Tahun 47 67,14%

2. 10 – 15 Tahun 13 18,57%

3. > 15 Tahun 10 14,29%

Jumlah 70 100%

Sumber: Data Primer Diolah, 2009

Tabel 4.11 di atas menunjukkan lama usaha para pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji memilki Hasil distribusi, diketahui bahwa 67,14% atau 47 orang mempunyai lama usaha kurang dari atau sama dengan 10 Tahun, 18,57% atau 13 orang mempunyai lama usaha antara 10 – 15 Tahun dan 14,29% atau 10 orang mempunyai lama usaha lebih dari 15 Tahun.

d. Jangka Waktu Pembayaran

Berdasarkan distribusi jangka waktu pembayaran kredit pada responden yang merupakan 70 pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji, diperoleh :

Tabel 4.12

Jangka Waktu Pembayaran

No Jangka Waktu Pembayaran Jumlah Prosentase

1. < 10 Bulan 18 25,71%

2. 10 – 15 Bulan 49 70,00%

3. > 15 Bulan 3 4,29%

Jumlah 70 100%

Sumber: Data Primer Diolah, 2009

Tabel 4.12 di atas menunjukkan jangka waktu pembayaran para pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji memiliki Hasil distribusi, diketahui bahwa 25,71% atau 18 orang mempunyai kemampuan dalam membayar kredit dengan jangka waktu kurang dari atau sama dengan 10 Bulan, 70,00% atau 49 orang mempunyai kemampuan dalam membayar kredit dengan jangka waktu antara 10 – 15 Bulan dan 4,29% atau 3 orang mempunyai kemampuan dalam membayar kredit dengan jangka waktu lebih dari 15 Bulan.

e. Pemgambilan kredit KUR

Berdasarkan distribusi tingkat kredit perbankan pada responden yang merupakan 70 pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji, maka diperoleh hasil penyebaran data sebagai berikut:

Tabel 4.13

Pemgambilan kredit KUR

No Tingkat Kredit Perbankan Jumlah Prosentase

1. < Rp 1.000.000,- 26 37,14%

2. Rp 1.000.000,- s/d Rp 1.500.000,- 31 44,29%

3. > Rp 1.500.000,- 13 18,57%

Jumlah 70 100%

Sumber: Data Primer Diolah, 2009

Tabel 4.13 di atas menunjukkan tingkat kredit perbankan yang diterima para pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji memilki Hasil distribusi, diketahui bahwa 37,14% atau 26 orang mendapatkan kredit perbankan sebesar kurang dari atau sama dengan Rp 1.000.000,-; 44,29% atau 31 orang mendapatkan kredit perbankan antara Rp 1.000.000,- s/d Rp 1.500.000,- dan 18,57% atau 13 orang mendapatkan kredit perbankan lebih dari Rp 1.500.000,-.

3. Pengujian Hipotesis

a. Pengujian Regresi Linier Berganda

Analisis regresi berganda dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh proses pengajuan, pendapatan usaha, lama usaha dan jangka waktu pembayaran terhadap tingkat kredit perbankan. Adapun berdasarkan perhitungan diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.15

Hasil Pengujian Regresi Linier Berganda

P thitung Beta Coefficient Variabel 0,005 2,895 724.608,400 (Constant) 0,019 2,415 0,185 95.336,390 Proses Pengajuan (X1) 0,000 6,085 0,488 0,990 Pendapatan Usaha (X2) 0,004 3,015 0,233 20.101,303 Lama Usaha (X3) 0,010 -2,653 -0,205 -39.805,500 Jangka Pembayaran (X4) R2 = 0,701 Fhitung = 38,014 Ftabel = 2,53 ttabel = 1,997

Sumber: Data Primer Diolah, 2009

Dari tabel 4.15 yang merupakan hasil pengujian regresi linier berganda dapat dibuat persamaan regresi sebagai berikut:

Y = 724.608,400 + 95.336,390X1 + 0,990X2 + 20.101,303X3 -

Berdasarkan persamaan regresi diketahui bahwa nilai konstan untuk persamaan regresi adalah 724.608,400 dengan parameter positif. Hal ini berarti bahwa tanpa adanya proses pengajuan, pendapatan usaha, lama usaha dan jangka waktu pembayaran, maka tingkat kredit perbankan yang diterima oleh pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji adalah sebesar Rp 724.608,400.

Nilai koefisien regresi untuk variabel Proses Pengajuan (X1)

adalah 95.336,390 dengan parameter positif. Hal ini berarti bahwa semakin mudah proses pengajuan kredit perbankan, maka akan semakin meningkatkan tingkat kredit perbankan yang diterima pengusaha sebesar Rp 95.336,390. Nilai koefisien regresi untuk variabel pendapatan usaha (X2) adalah 0,990 dengan parameter positif.

Hal ini berarti bahwa setiap terjadi peningkatan pendapatan usaha sebesar Rp 1,-, maka akan meningkatkan tingkat kredit perbankan yang diterima pengusaha sebesar Rp 0,990. Nilai koefisien regresi untuk variabel lama usaha (X3) adalah 20.101,303 dengan parameter

positif. Hal ini berarti bahwa semakin meningkat lama usaha sebesar 1 tahun, maka tingkat kredit perbankan yang diterima akan mengalami peningkatan sebesar Rp 20.101,303 dan untuk nilai koefisien regresi untuk variabel jangka waktu pembayaran (X4) adalah -39.805,500

dengan parameter negatif. Hal ini berarti bahwa setiap terjadi peningkatan jangka waktu pembayaran kredit selama 1 bulan, akan

menurunkan tingkat kredit yang diterima pengusaha sebesar Rp 39.805,500.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pendapatan usaha mempunyai nilai koefieisen beta sebesar 0,488 yang lebih besar jika dibandingkan dengan variabel-variabel yang lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan usaha lebih dominan berpengaruh terhadap tingkat kredit perbankan yang diterima oleh pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji.

b. Uji t (Pengujian Secara Parsial)

Uji t adalah pengujian terhadap koefisien regresi secara parsial untuk mengetahui signifikansi masing-masing variabel independen. Pengujian regresi digunakan pengujian dua arah (two tailed test) dengan menggunakan α = 5% yang berarti bahwa tingkat keyakinan adalah sebesar 95%. Adapun hasil uji t adalah sebagai berikut:

Tabel 4.16

Hasil Uji Ketepatan Parameter Penduga (Uji t)

No Variabel thitung p Keterangan

1 Proses Pengajuan (X1) 2,415 0,019 Signifikan

2 Pendapatan Usaha (X2) 6,085 0,000 Signifikan

3 Lama Usaha (X3) 3,015 0,004 Signifikan

4 Jangka Pembayaran (X4) -2,653 0,010 Signifikan

1) Proses Pengajuan (X1)

Berdasarkan tabel 4.16 hasil pengolahan data untuk variabel proses pengajuan (X1) diperoleh nilai thitung sebesar 2,415. Oleh karena

nilai thitung lebih besar dari ttabel (2,415 > 1,997) dengan probabilitas

0,019 < 0,05; maka H0 ditolak berarti H1 diterima, yang berarti

bahwa variabel proses pengajuan berpengaruh signifikan terhadap tingkat kredit perbankan yang diterima oleh pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji.

2) Pendapatan Usaha (X2)

Berdasarkan tabel 4.16 hasil pengolahan data untuk variabel pendapatan usaha (X2) diperoleh nilai thitung sebesar 6,085. Oleh

karena nilai thitung lebih besar dari ttabel (6,0852 > 1,997) dengan

probabilitas 0,000 < 0,05; maka H0 ditolak berarti H1 diterima,

yang berarti bahwa variabel pendapatan usaha berpengaruh signifikan terhadap tingkat kredit perbankan yang diterima oleh pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji.

3) Lama Usaha (X3)

Berdasarkan tabel 4.16 hasil pengolahan data untuk variabel lama usaha (X3) diperoleh nilai thitung sebesar 3,015. Oleh karena nilai

0,004 < 0,05; maka H0 ditolak berarti H1 diterima, yang berarti

bahwa variabel lama usaha berpengaruh signifikan terhadap tingkat kredit perbankan yang diterima oleh pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji.

4) Jangka Waktu Pembayaran (X4)

Berdasarkan tabel 4.16 hasil pengolahan data untuk variabel jangka waktu pembayaran (X4) diperoleh nilai thitung sebesar -2,653 Oleh

karena nilai thitung lebih kecil dari -ttabel (-2,653 < -1,997) dengan

probabilitas 0,010 < 0,05; maka H0 ditolak berarti H1 diterima,

yang berarti bahwa variabel jangka waktu pembayaran berpengaruh signifikan terhadap tingkat kredit perbankan yang diterima oleh pengusaha (UMKM) di Makam Haji.

c. Uji F

Uji F adalah uji terhadap koefisien regresi parsial secara bersama-sama. Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah variabel independen yang ada secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen atau untuk mengetahui apakah persamaan model cukup eksis untuk digunakan, Berdasarkan derajat keyakinan 5% diperoleh nilai Ftabel pada df: 4; 65 sebesar 2,53.

Berdasarkan hasil analisis uji F diperoleh nilai Fhitung sebesar

38,014 > 2,53 dengan probabilitas sebesar 0,000 < 0,05 maka H0

pendapatan usaha, lama usaha dan jangka waktu pembayaran secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap tingkat kredit perbankan yang diterima oleh pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji.

d. Koefisien Determinasi (R2)

Keofisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa jauh variasi dari variabel bebas dapat menerangkan dengan baik variasi dari variabel tersebut. Hasil perhitungan untuk nilai R2 dengan bantuan program SPSS 15.0 for windows, dalam analisis regresi berganda diperoleh angka koefisien determinasi atau R2 sebesar 0,701. Hal ini berarti tingkat kredit perbankan yang diterima oleh pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji 70,1% dapat dijelaskan oleh variasi perubahan pada proses pengajuan, pendapatan usaha, lama usaha dan jangka waktu pembayaran serta 29,9% diterangkan oleh faktor lain.

e. Pengujian Asumsi Klasik

Persamaan yang baik dalam ekonometrika harus memiliki sifat BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) (Gujarati, 1999: 153). Untuk mengetahui apakah persamaan sudah memiliki sifat BLE maka perlu dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi. Berikut ini adalah hasil pengujian

asumsi klasik yang terdiri dari uji multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi.

1) Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas berhubungan dengan situasi dimana hubungan linear yang pasti atau mendekati pasti diantara variabel bebas. Pengaruh multikolinearitas dalam penelitian ini akan dihilangkan dengan cara menghilangkan variabel yang memiliki korelasi derajat nol (korelasi sederhana) yang tinggi. Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinearitas adalah mempunyai nilai (VIF) disekitar angka satu, dan mempunyai Tolerance Value memdekati 0,1 sedangkan batas nilai VIF adalah 10. Berikut adalah hasil pengujian multikolinearitas:

Tabel 4.17

Hasil Pengujian Multikolinearitas

No Variabel Tolerance VIF Keterangan

1. Proses Pengajuan (X1) 0,782 1,278 Tidak Terjadi Multikolinearitas

2. Pendapatan Usaha (X2) 0,717 1,395 Tidak Terjadi Multikolinearitas

3. Lama Usaha (X3) 0,772 1,295 Tidak Terjadi Multikolinearitas

4. Jangka Pembayaran (X4) 0,768 1,302 Tidak Terjadi Multikolinearitas Sumber: Data Primer Diolah, 2009

Dengan melihat hasil pengujian multikolinearitas di atas, diketahui bahwa tidak ada satupun dari variabel bebas yang mempunyai nilai tolerance lebih kecil dari 0,1. Begitu juga nilai VIF masing-masing variabel tidak ada yang lebih besar dari 10.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada korelasi yang sempurna antara variabel bebas (independent), sehingga model regresi ini tidak ada masalah multikolinearitas.

2) Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas terjadi jika gangguan muncul dalam fungsi regresi yang mempunyai varian yang tidak sama, sehingga penaksiran Ordinary Least Square (OLS) tidak efisien baik dalam sampel kecil maupun besar. Untuk mendekteksi masalah heteroskedastisitas digunakan uji Park. Dalam hal ini perhitungan dilakukan dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS 15.0 for windows. Jika variabel bebas tidak signifikan secara statistik mempengaruhi variabel terikat, berarti disimpulkan model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas. Berikut ini adalah hasil pengujian heteroskedastisitas:

Tabel 4.18

Hasil Uji Heteroskedastisitas

No Variabel thitung p Keterangan

1. Proses Pengajuan (X1) -1,582 0,119 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas

2. Pendapatan Usaha (X2) 1,223 0,226 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas

3. Lama Usaha (X3) -0,229 0,820 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas

4. Jangka Pembayaran (X4) -0,350 0,728 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas Sumber: Data Primer Diolah, 2009

Berdasarkan hasil pengujian heteroskedastisitas diketahui bahwa variabel-variabel bebas tidak signifikan secara statistik mempengaruhi variabel terikat (p> 0,05), berarti disimpulkan model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas.

3) Uji Autokorelasi

Autokorelasi menandakan suatu kondisi yang berurutan di antara gangguan atau distribusi ai yang masuk ke dalam fungsi regresi populasi. Adanya autokorelasi antara variabel pengganggu menyebabkan penaksiran tidak lagi efisien baik dalam sampel kecil maupun dalam sampel besar. Berdasarkan pada jumlah sampel (n) = 70 dan jumlah variabel bebas (k) = 4, maka besarnya nilai tabel Durbin-Watson Test adalah du= 1,740 dan 4-dl (1,490) = 2,510. berdasarkan pada hasil analisis yang telah dilakukan diperoleh nilai du 1,740 < DW 2,426 < 2,510, maka tidak terjadi adanya autokorelasi antar variabel independen.

f. Pembahasan

Saat ini proses pengambilan kredit sangat selektif dalam pengucurannya. Dengan mewabahnya lembaga keuangan baik dari bank, BPR, Koperasi dan lain sebainya itu semakin menambah sulitnya untuk memperoleh kredit. Di setiap pelosok desa terdapat cabang-cabang dari lembaga keuangan tersebut, sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan pasar dan menguasainya. Sekarang kredit sendiri adalah hasil atau laba yang dihasilkan oleh lembaga

keuangan untuk kegiatan operasinya. Berdasarkan hasil penelitian tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan kredit usaha rakyat ( KUR ) di BRI kanca unit Makam Haji diperoleh hasil bahwa untuk variabel proses pengajuan (X1) diperoleh nilai thitung

sebesar 2,415. Oleh karena nilai thitung lebih besar dari ttabel (2,415 >

1,997) dengan probabilitas 0,019 < 0,05; maka H0 ditolak berarti H1

diterima, yang berarti bahwa variabel proses pengajuan berpengaruh signifikan terhadap tingkat kredit perbankan yang diterima oleh pengusaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengambil kredit usaha rakyat di BRI Makam Haji

Banyaknya persaingan lembaga keuangan mengakibatkan tingkat selektifitas dalam pemberian kredit perbankan cukup tinggi, terkadang banyak diantara lembaga keuangan yang sulit dalam mengurusi proses pengajuan kredit, dan hasil kredit yang diperolehpun tidak sesuai yang diinginkan. Hal ini karena adanya kekhawatiran dari pihak lembaga keuangan terhadap kredit yang diberikan. Namun, sebaliknya bagi pengusaha yang sudah dipercaya akan lebih mudah dalam mengurusi proses pengajuan kredit, dan hasil kredit yang

Dokumen terkait