• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PROFIL PROF. DR. KH. ALI MUSTAFA YAQUB, MA DAN

D. Gambaran Umum Buku Setan Berkalung Surban

Judul Buku : Setan Berkalung Surban

Penulis : Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA Editor : Denden Taupik Hidayat, SS., Lc.

Penerbit : Pustaka Firdaus

No. ISBN : 978-979-541-224

Tahun Terbit : 2014 M.

Tempat Terbit : Jakarta

12

Tim Redaksi Majalah Nabawi, Kolom Artikel Utama, (Jakarta: IMDAR, 1436 H./2015 M.), edisi 109, h. 12.

13

Cetakan : Ke-1

Jumlah Halaman : 163

Tampilan Fisik : Warna cover depan adalah hitam. Terdapat gambar surban berwarna merah di depan sampul. Di tengahnya tertera judul buku yang sangat mencolok dengan menggunakan warna merah pada kata

“Setan” dan warna putih pada kata “Berkalung Surban”. Menandakan bahwa buku ini mencoba menarik perhatian pembaca dan mencoba menjelaskan dengan singkat apa yang ada dalam buku ini. Ukuran bukunya sedang, sehingga mudah dibawa kemana-mana, dan bisa dibaca dimanapun kita berada.

2. Sekilas Tentang Buku Setan Berkalung Surban

Buku ini adalah salah satu dari karya beliau yang menjawab problematika kehidupan umat Islam di Indonesia. Buku dengan judul yang sangat mengandung makna majas ini berisi kritikan-kritikan beliau terhadap fenomena kehidupan umat sekarang ini yang semakin kompleks. Dengan buku ini beliau mencoba menerjemahkan apa yang ada pada masyarakat Indonesia, dan meluruskannya dengan pendapat beliau yang didasari pada dalil-dalil Al-Qur‟an dan Al-Hadis, serta memberikan solusi yang tepat di dalamnya.14

Buku ini berisi artikel-artikel beliau yang dimuat di berbagai media massa terkenal, seperti, Koran KOMPAS, REPUBLIKA, Majalah Nabawi. Juga memuat makalah beliau pada Seminar Intenasional, Khutbah Jumat di New York USA, dan Khutbah Nikah Duta Besar Paraguay yang baru saja

14

Wawancara Pribadi dengan Muhammad Ali Wafa, Lc., S.S.I di Kantor Madrasah Darus-Sunnah, Jakarta, 11 Mei 2015.

masuk Islam di bawah bimbingan beliau. Semua materi ini berjumlah 42 judul yang dibagi menjadi tiga kategori besar di dalamnya, yaitu akidah berjumlah 9 judul, ibadah 13 judul, dan muamalah 20 judul. Seluruhnya menggunakan bahasa Indonesia, kecuali 3 judul khusus yang berasal dari makalah beliau pada Seminar Intenasional, Khutbah Jumat di New York USA, dan Khutbah Nikah Duta Besar Paraguay.15

Kategori pertama adalah tentang akidah. Salah satu persoalan yang disorot pada bidang ini adalah toleransi umat beragama di Indonesia. Indonesia merupakan Negara yang mendapatkan perhatian besar dunia dalam hal toleransi antarumat beragama. Banyak wartawan mancanegara bahkan tokoh-tokoh dunia yang datang langsung ke Indonesia untuk menanyakan tentang rahasia stabilitas sosial di Negara Indonesia yang multietnis dan multiagama.

Dalam buku ini beliau memberi jawaban yang gamblang dan menunjukkan solusinya yang berasal dari sejarah umat Islam masa lalu, yaitu saat di Madinah Nabi Muhammad saw. membina kerukunan antara umat Islam dengan agama-agama lainnya seperti, Nashrani, Yahudi, Majusi, dan Paganisme. Bahkan Rasul saw. bersama penganut agama lain membuat perjanjian damai untuk saling menghormati dan menjaga satu sama lain yang disebut Piagam Madinah.

Tidak kalah menariknya isi pesan yang ada pada kategori ibadah. Kritik demi kritik beliau sampaikan demi membangun kesadaran umat Islam dalam menjalankan ibadah yang baik dan benar. Di dalamnya dijelaskan

15

Wawancara Pribadi dengan Denden Taupik Hidayat, S.S, Lc. di Masjid Muniroh Salamah, Jakarta, 04 Mei 2015.

banyak penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan umat Islam dalam praktek ibadah seperti, kurban, puasa Ramadhan, haji, azan, dan salat. Bahkan beliau juga mampu menguak hubungan kualitas ibadah dengan kemunduran umat Islam di Indonesia dalam bidang ekonomi. Beliau menekankan adanya reorientasi ibadah agar berpahala maksimalis sehingga berbuntut pada ekonomis maksimalis.

Kategori terakhir adalah persoalan muamalah, yang menjadi pamungkas pada buku ini, juga fokus pada penelitian ini. Problematika umat Islam dalam bidang muamalah lebih kompleks dibandingkan dengan dua bidang sebelumnya. Salah satunya adalah fenomena dai bertarif yang beliau bahasakan dengan sebuah singkatan yaitu dai walakedu (jual ayat kejar duit) yang semakin ramai muncul di masyarakat.16

16

49

ANALISIS WACANA KRITIS “DAI KOMERSIAL” DALAM BUKU

SETAN BERKALUNG SURBAN KARYA

PROF. DR. KH. ALI MUSTAFA YAQUB, MA

A.Struktur Teks yang Diwacanakan dalam Buku Setan Berkalung Surban 1. Judul: Setan Berkalung Surban

a. Level Teks

1) Struktur Makro a) Segi Tematik

Tema atau topik adalah sebuah gambaran umum dari teks, dapat juga dikatakan sebuah gagasan inti atau ringkasan utama sebuah teks. Dalam tulisan Alex Sobur yang mengutip Keraf, mengatakan bahwa tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui tulisannya.1 Topik tulisan ini adalah tentang muamalah. Gagasan intinya adalah mengkritik dai yang hanya bermodal surban tetapi berdakwah tidak berdasarkan niat karena Allah swt. melainkan mengikuti hawa nafsu dan kehendak setan.2

2) Superstruktur a) Segi Skematik

Pada umumnya, teks, atau wacana memiliki skema atau alur, yang dimulai dari pendahuluan hingga penutup. Alur tersebut

1

Alex Sobur, Analisis Teks Media, h. 75.

2

Wawancara Pribadi dengan Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA di kediaman beliau, Jakarta, 18 Mei 2015.

menunjukkan bagaimana bagian-bagian dalam teks disusun dan diurutkan sehingga membentuk kesatuan arti. Skematik memiliki dua kategori besar yaitu summary yang terdiri dari judul dan lead (teras berita) serta story (isi berita keseluruhan). Berikut penjabarannya:

Tulisan ini berjudul “Setan Berkalung Surban.” Lead (teras berita) menggambarkan mengenai judul yang diangkat untuk membawa pembaca kepada pendahuluan. Pendahuluan tulisan ini diawali dengan sebuah cerita yang berasal dari hadis Rasul saw. dengan bahasa Arab dan bahasa Indonesia, sebagai berikut:

:لاق َُع ها ير ةريرِ يأ ٌع ِة َََز ِظْفِ ِِ َىلوَسَو ُِْيَوَع ُها لَ َص ِها ُلُْسَر َِِلََو" ُجْوُقَو ، ُُُحْذَخَأَف ، ِماَع لطها ٌَِي ُْثْ ََ َنَعَجَف ، متآ ِِاَحَأَف ، َنا َضَ َر : لَ َص ِها ِلُْسَر َِإ َكلََعَفْرَ َأ اَخْ ُُ يِِإ : َلاَق ، َىلوَسَو ُِْيَوَع ُها ، ُجْحَت ْصَأَف ، ََُُْع ُجْيلوَخَف ، لةَديِدَش لثَجاَح َِِو ، للاَيِع لَََعَو ، لج : َلاَق ، " ؟ َثَحِراَْا َكُرِسْ َأ َنَعَف اَي ، َةَرْيَرُِ اَةَأ اَي " : َىلوَسَو ُِْيَوَع ُها لَ َص ُ ِِلنا َلاَقَف اَي : ُجْوُق َش ًثَجاَح َََش ،ِها َلُْسَر َلاَق ، َُُويِبَس ُجْيلوَخَف ، ُُُخْ َِِرَف ، ااَيِعَو ، ًةَديِد : " ، َكَةَذَل ْدَق ُُلٍِإ اَيَأ ".ُدُْعَيَسَو 3

Abu Hurairah ra. Bercerita: Suatu hari Rasulullah saw. menugaskan saya untuk menjaga harta zakat pada bulan Ramadhan. Tiba-tiba datanglah seseorang melihat-lihat makanan dan langsung mengambilnya. Dia lalu saya tangkap, dan saya katakan: “Kamu akan saya laporkan kepada Rasul saw.” orang itu menjawab: “Saya orang yang sudah berkeluarga dan sangat membutuhkan makanan tersebut untuk keluarga saya.” Mendengar itu saya pun melepaskannya. Ketika pagi tiba Rasul saw. bertanya: “Wahai Abu Hurairah apa yang kamu lakukan pada orang yang kamu tangkap tadi malam?” Saya menjawab: “Wahai Rasulullah, orang itu mengadukan kesusahan keluarganya, dan dia memohon harta zakat saat itu juga, lalu saya bebaskan.” Rasul saw. bersabda: Dia telah mengelabuimu, dan nanti malam ia akan datang lagi.4

Pendahuluan dalam tulisan ini menggunakan cerita dengan bahasa Arab dan bahasa Indonesia dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Tujuannya adalah untuk mengajak

3

Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Mesir: Dar al-Hadis, 2008), juz 3, h. 101.

4

pembaca agar membaca hadis Rasul saw. juga agar memberi penguatan pada pesannya. Inti dari tulisan ini berada dalam akhir cerita tersebut, yaitu:

“Dari Hadis ini, ada pelajaran menarik. Pertama, bahwa setan dapat menjelma menjadi manusia. Kedua, dalam rangka mengecoh dan mencari korban, setan dapat menjelma menjadi seorang ustaz atau ustazah dengan segala atribut dan nasehat-nasehatnya.”5

Tulisan ini ditutup dengan memberikan sebuah peringatan kepada kita agar berhati-hati terhadap segala macam bentuk rayuan setan yang ada di dunia ini. Cerita ini berlangsung sampai tiga kali berulang-ulang dan pada hari ketiga Rasul saw. memberitahukannya bahwa ia adalah setan. Kesimpulan dari tulisan ini menjelaskan bahwa meskipun seseorang itu menggunakan surban dan menjadi dai, jika dakwahnya tidak berlandaskan ikhlas karena Allah, maka sama saja dakwahnya itu mengikuti rayuan setan dan hawa nafsunya.

Story tulisan ini memberikan pandangan kepada orang-orang bahwa setan dapat menyerupai apapun dan siapapun untuk menggoda manusia, bahkan dalam bentuk yang menurut umat Islam baik (menggunakan surban). Jika para dai yang menggunakan surban melakukan dakwahnya bukan dilandaskan atas keikhlasan karena Allah swt. melainkan karena mengikuti hawa nafsunya karena ingin populer misalnya, maka sama saja dakwahnya itu mengikuti kehendak setan bukan mengikuti keinginan Allah swt.

5

3) Struktur Mikro a) Segi Semantik

Semantik adalah studi linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa.6 Elemennya adalah latar, detail, maksud, dan praanggapan. Latar tulisan ini berawal dari Abu Hurairah yang diamanati untuk menjaga zakat Ramadhan yaitu di Bait al-Mal. Detail tulisan ini sangat bagus, karena menceritakan secara naratif tentang kejadian yang dialami Abu Hurairah selama 3 hari untuk menjaga harta zakat dari awal sampai akhir. Berikut detail dalam tulisan ini:

Abu Hurairah ra. bercerita, “Suatu hari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menugaskan saya untuk menjaga harta zakat pada bulan Ramadhan. Tiba-tiba datanglah seseorang melihat-lihat makanan dan langsung mengambilnya. Dia lalu saya tangkap, dan saya katakan, “Kamu akan saya laporkan kepada Rasulullah.” Orang itu menjawab: „Saya orang yang sudah berkeluarga dan sangat membutuhkan makanan untuk keluarga saya.” Mendengar itu saya pun melepaskannya. Ketika pagi tiba, Rasulullah bertanya: “Wahai Abu Hurairah apa yang dilakukan oleh orang yang kamu tangkap tadi malam?” Saya menjawab: “Wahai Rasulullah, orang itu mengadukan kesusahan keluarganya dan dia memohon harta zakat saat itu juga, lalu saya bebaskan.” Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu bersabda: “Dia telah mengelabui kamu wahai Abu Hurairah dan nanti malam dia akan kembali lagi”.

Dari sabda Nabi ini, saya tahu bahwa dia akan kembali lagi. Malam harinya saya mengawasinya secara teliti dan ternyata betul apa yang disampaikan Rasulullah, ia telah berada di ruang harta zakat sambil memilih-milih harta zakat yang terkumpul lalu ia mengambilnya. Melihat itu, dia lalu saya tangkap, dan saya katakan, “Kamu akan saya laporkan kepada Rasulullah.” Orang itu

menjawab: “Saya betul-betul sangat membutuhkan makanan itu

sekarang, keluarga saya kini sedang menunggu sambil menahan lapar. Saya berjanji tidak akan kembali lagi esok hari”. Mendengar itu, saya merasa kasihan dan akhirnya saya lepaskan kembali. Keesokan harinya Rasulullah bertanya kembali: “Apa yang dilakukan oleh orang yang kamu tangkap tadi malam, wahai Abu Hurairah?” Saya menjawab: “Orang kemarin datang kembali dan mengambil harta zakat. Karena keluarganya sudah lama kelaparan, akhirnya

6

Abdul Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), cet. Ke-3, h. 2.

saya melepaskannya”. Mendengar itu, Rasulullah bersabda: “Dia telah membohongi kamu dan nanti malam ia akan kembali untuk yang ketiga kalinya”.

Malamnya ternyata orang itu kembali lagi dan seperti biasa dia mengambil harta zakat yang sudah terkumpul di dalam gudang. Melihat itu, dia lalu saya tangkap, dan saya katakan, “Kamu akan saya laporkan kepada Rasulullah. Bukankah kamu kemarin berjanji tidak akan kembali lagi tapi mengapa kini kembali juga?” Orang itu menjawab: “Ijinkanlah. Saya akan ajarkan kepada kamu sebuah kalimat yang apabila kamu membacanya Allah akan selalu menjaga kamu serta kamu tidak akan disentuh dan didekati oleh setan hingga pagi hari". Saya merasa tertarik dengan ucapannya lalu saya menanyakan kalimat apa itu. Dia menjawab: “Apabila kamu hendak tidur, jangan lupa membaca ayat Kursi, maka Allah akan menjaga kamu dan kamu tidak akan didekati oleh setan sehingga pagi tiba”. Para Sahabat Nabi saw. memang suka dengan amalan-amalan.

Keesokan harinya Rasulullah kembali menanyakan apa yang telah saya lakukan tadi malam dan saya katakan: “Ya Rasulullah, dia mengajarkan saya kalimat yang sangat bermanfaat dan berfaidah.” Rasulullah lalu bertanya kembali: “Kalimat apa yang diajarkannya?” Saya menjawab, “Dia mengajarkan ayat Kursi dari awal sampai akhir dan dia katakan bahwa kalau saya membacanya sebelum tidur, maka Allah akan menjaga saya sampai pagi hari.” Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu bersabda: “Yang dia sampaikan itu betul namun dia sudah berhasil mengelabui kamu dengan mengambil harta zakat. Tahukah kamu siapa orang yang mendatangi kamu tiga malam itu?” Saya menjawab: “Tidak, saya tidak tahu”. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu bersabda: “Ketahuilah bahwa dia itu adalah setan.”(HR. Al-Bukhari)7

Sedangkan maksud dalam tulisan ini menjelaskan jika ibadah bukan karena Allah swt., maka ibadah itu untuk setan, disampaikan dengan jelas dalam kalimat berikut:

“Ketika sebuah ibadah dilakukan tidak dalam rangka menjalankan perintah Allah dan atau Rasul-Nya, apalagi dalam rangka memenuhi keinginan selera alias hawa nafsu yang dibisiki oleh setan, maka di sinilah ibadah itu bukan untuk Allah tetapi untuk setan.”8

Praanggapan tulisan ini berada dalam kutipan berikut:

“Di sinilah, banyak orang terkecoh dengan penampilan setan.

Apabila yang digoda seorang yang senang beribadah, setan tidak akan menyuruhnya untuk bermain judi, mencuri, korupsi, dan sebagainya,

7

Ali Mustafa Yaqub, Setan Berkalung Surban, h. 92-94.

8

tetapi setan menyerunya untuk melakukan perbuatan yang lahiriahnya

adalah sebuah ibadah.”9 b) Sintaksis

Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar kata dalam tuturan atau kalimat.10 Maksudnya adalah bagaimana sebuah kata atau kalimat disusun menjadi kesatuan yang memilki arti. Elemen yang diamati dalam sintaksis adalah bentuk kalimat, koherensi, dan kata ganti. Bentuk kalimat dalam tulisan ini menggunakan kalimat aktif dengan awalan me-, dan kalimat pasif awalan di- dapat dilihat dalam kutipan berikut:

“Pertama, bahwa setan dapat menjelma menjadi manusia. Kedua, dalam rangka mengecoh dan mencari korban, setan dapat menjelma menjadi seorang ustaz atau ustazah dengan segala atribut dan nasehat-nasehatnya.” 11

“Untung, Abu Hurairah diberitahu Nabi saw. bahwa wiridan tersebut adalah benar.”12

Koherensi dalam tulisan ini ditandai dengan kata hubung „tetapi‟

yang bermakna pengingkaran, yang dapat dilihat dalam kutipan berikut:

“Di sinilah, banyak orang terkecoh dengan penampilan setan. Apabila yang digoda seorang yang senang beribadah, setan tidak akan menyuruhnya untuk bermain judi, mencuri, korupsi, dan sebagainya, tetapi setan menyerunya untuk melakukan perbuatan yang lahiriahnya adalah sebuah ibadah. Ketika sebuah ibadah dilakukan tidak dalam rangka menjalankan perintah Allah dan atau Rasul-Nya, apalagi dalam rangka memenuhi keinginan selera alias hawa nafsu yang dibisik oleh setan, maka di sinilah ibadah itu bukan untuk Allah tetapi untuk setan.”13

9

Ali Mustafa Yaqub, Setan Berkalung Surban, h. 94.

10

W. M. Verhaar, Asas-asas Linguistik Umum, (Jogjakarta: Universitas Gajah Mada Press, 2001) cet. Ke-3, h. 161.

11

Ali Mustafa Yaqub, Setan Berkalung Surban, h. 94.

12

Ali Mustafa Yaqub, Setan Berkalung Surban, h. 94.

13

Kata „tetapi‟ yang pertama berfungsi untuk menjelaskan situasi

orang yang beriman dan suka beribadah justru akan digoda dengan sesuatu yang lahirnya adalah ibadah akan tetapi hakikatnya mengikuti setan. Sedangkan pemahaman yang beredar adalah bahwa setan akan menggoda seseorang yang beriman dengan sesuatu yang mungkar atau buruk. Kemudian kata „tetapi‟ yang kedua berfungsi untuk menjelaskan seorang dai yang berdakwah bukan karena Allah, maka dakwahnya itu tidak lain adalah untuk mengikuti kehendak setan.

Kata ganti dalam tulisan ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu bersabda: “Yang dia sampaikan itu betul namun dia sudah berhasil mengelabui kamu dengan mengambil harta zakat. Tahukah kamu siapa orang yang mendatangi kamu tiga malam itu?” Saya menjawab: “Tidak, saya tidak tahu”. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu bersabda: “Ketahuilah bahwa dia itu adalah setan.14

Penggunaan kata „dia‟ dalam kalimat ini menggambarkan

ketidaksukaan Rasul saw. terhadap apa yang dilakukan setan.

Sedangkan kata „kamu‟ dalam kalimat ini menggambarkan kedekatan

Rasul saw. dengan Abu Hurairah.

“Hadis ini juga memberikan peringatan kepada kita agar hati-hati menghadapi rayuan setan karena boleh jadi setan betina tampil dengan jilbab dan busana muslimah dan setan jantan tampil dengan berkalung surban.”15

Penggunaan kata „kita‟ dalam kalimat ini menggambarkan tidak

adanya batas antara penulis dan pembaca. Kesan ini berfungsi untuk menciptakan perasaan yang sama antara penulis dan pembaca. Dengan demikian pembaca dapat menerima dengan mudah ajakan beliau.

14

Ali Mustafa Yaqub, Setan Berkalung Surban, h. 93-94.

15

c) Segi Stilistik

Stilistik adalah cara yang digunakan beliau untuk menyatakan maksud melalui pilihan kata yang digunakan. Seperti terdapat dalam kutipan berikut:

“Untung, Abu Hurairah diberitahu Nabi saw. bahwa wiridan tersebut adalah benar, sehingga ia mengamalkannya bukan karena mengikuti perintah setan tapi mengikuti perintah Nabi saw.”16

Dari kutipan kalimat di atas, beliau menggunakan kata wiridan untuk menjelaskan ayat kursi yang dimaksud di dalam ceritanya. d) Segi Retoris

Retoris dalam tulisan ini menggunakan bentuk ekspresi berupa peringatan tentang gangguan setan dan metafora dalam bentuk kiasan tentang setan, untuk menyampaikan pesannya kepada pembaca. Hal ini terlihat dari kutipan:

“Hadis ini juga memberikan peringatan kepada kita agar hati-hati menghadapi rayuan setan karena boleh jadi setan betina tampil dengan jilbab dan busana muslimah dan setan jantan tampil dengan berkalung surban.”17

2. Judul: Surban dan Jubah Haram a. Level Teks

1) Struktur Makro a) Segi Tematik

Topik dalam tulisan ini adalah muamalah. Gagasan intinya adalah menjelaskan tentang hukum pakaian syuhrah yaitu pakaian

16

Ali Mustafa Yaqub, Setan Berkalung Surban, h. 94.

17

yang dipakai karena ingin tenar atau dikenal orang lain, dalam hal ini ingin dikenal sebagai seorang dai atau kiai.18

2) Superstruktur a) Segi Skematik

Tulisan ini berjudul “Surban dan Jubah Haram”. Pendahuluan tulisan ini diawali dengan sebuah hadis sebagai berikut:

َي ٌْ اًراٍَ ُِيِف َبَّْ َأ لىُث ،ِثَياَيِقْها َمَْْي مثلهَذَي َبَْْث ُها َُُسَبْهَأ اَيْنُدا ِِ مةَرُّْش َبَْْث َسِبَه هاور( )ُجاي ٌةا 19

Siapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia, maka Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan pada Hari Kiamat, kemudian ia dibakar dalam api neraka. (HR. Ibnu Majah)20

Pendahuluan dalam tulisan ini menyampaikan sebuah hadis yang mengharamkan memakai pakaian syuhrah. Inti dari tulisan ini berada dalam kutipan berikut:

“Menurut para Ulama, pakaian syuhrah adalah pakaian yang berbeda dari pakaian yang dipakai oleh penduduk negeri di mana pemakainya tinggal. Disebut pakaian syuhrah (popularitas), karena pemakainya dengan pakaian tersebut ingin mudah dikenal oleh orang-orang. Pakaian syuhrah adakalanya berebda dari pakaian umumnya penduduk suatu negeri karena terlalu bagus atau berbeda karena terlalu buruk. Ketika pakaian itu berbeda dari yang lain karena terlalu bagus, pemakainya ingin tampil berbeda dari yang lain sehingga kemudian ia merasa bangga, sombong, ria, sum‟ah, dan lain sebagainya. Ketika pakaian itu berbeda karena sangat lebih buruk dari pakaian orang-orang pada umumnya, maka pemakainya ingin disebut sebagai orang yang zuhud, tidak mencintai dunia, dan lain sebagainya.”21

Tulisan ini ditutup dengan ajakan kepada kita untuk berpenampilan sesuai apa yang ada di budaya kita sendiri. Kesimpulan

18

Wawancara Pribadi dengan Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA di kediaman beliau, Jakarta, 18 Mei 2015.

19

Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, (Mesir: Dar ibn Haytsam, 2005), juz 4, h. 84.

20

Ali Mustafa Yaqub, Setan Berkalung Surban, h. 98.

21

dari tulisan ini adalah menegaskan keharaman memakai pakaian syuhrah sesuai yang telah disepakati oleh para Ulama dan menganjurkan memakai pakaian sesuai budaya masing-masing seperti yang dicontohkan oleh Rasul saw.

Story tulisan ini adalah memberikan penjelasan kepada orang-orang bahwa memakai pakian syuhrah adalah haram hukumnya, karena berbeda dari adat pemakainya berada dan terdapat niat yang buruk dalam memakainya, seperti ria, somobong, dan bahkan ingin dianggap zuhud. Dalam hal ini larangan bagi para dai untuk menggunakan pakaian yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia, karena ingin dikenal sebagai dai.

3) Struktur Mikro a) Segi Semantik

Elemennya adalah latar, detail, maksud, dan praanggapan. Latar tulisan ini berawal dari sebuah hadis yang melarang memakai pakaian syuhrah, yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Detail tulisan ini sangat bagus, karena beliau menjelaskan secara naratif tentang hukum memakai pakaian syuhrah, dari mulai mendatangkan hadisnya, menjelaskan maknanya, sampai menyimpulkannya, yang terdapat dalam kutipan berikut:

“Dalam kitab Sunan Ibn Majah, ada Hadis bahwa Rasulullah saw. mengatakan:

اًراٍَ ُِيِف َبَّْ َأ لىُث ،ِثَياَيِقْها َمَْْي مثلهَذَي َبَْْث ُها َُُسَبْهَأ اَيْنُدا ِِ مةَرُّْش َبَْْث َسِبَه ٌَْي هاور(

“Siapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia, maka Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan pada Hari Kiamat, kemudian ia dibakar di api neraka.” (HR. Ibnu Majah)

Menurut para Ulama, pakaian syuhrah adalah pakaian yang berbeda dari pakaian yang dipakai oleh penduduk negeri di mana pemakainya tinggal. Disebut pakaian syuhrah (popularitas) karena pemakainya dengan pakaian tersebut ingin mudah dikenal oleh orang-orang. Pakaian syuhrah adakalanya berbeda dari pakaian umumnya penduduk suatu negeri karena terlalu bagus atau berbeda karena terlalu buruk. Ketika pakaian itu berbeda dari yang lain karena terlalu bagus, pemakainya ingin tampil berbeda dari orang-orang pada umumnya. Akibatnya, dia merasa berbeda dari yang lain sehingga kemudian ia merasa bangga, sombong, ria, sum‟ah, dan lain sebagainya. Ketika pakaian itu berbeda karena sangat lebih buruk dari pakaian orang-orang pada umumnya, maka pemakainya ingin disebut

Dokumen terkait