METODE PENELITIAN
GAMBARAN UMUM KAYU MANIS INDONESIA
1. Perkembangan Luas Areal, Produksi, dan Produktivitas Kayu Manis di Indonesia
Kayu manis yang dalam bahasa latin disebut Cinnamomum burmanni
merupakan jenis tanaman berumur panjang penghasil kulit kayu yang dimanfaatkan sebagai rempah (spice). Tanaman kayu manis akan berproduksi baik bila ditanam di daerah dengan ketinggian 500-1.500 meter di atas permukaaan laut (mdpl). Kayu manis tumbuh baik di daerah yang beriklim tropis basah, iklim tropis basah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Kayu manis yang merupakan tanaman asli Indonesia tersebar di berbagai wilayah di beberapa propinsi di Indonesia (Kementan 2014).
Berdasarkan data Departemen Pertanian, sentra produksi kayu manis di Indonesia adalah di daerah Sumatera yang meliputi propinsi Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Bengkulu. Kelima propinsi tersebut merupakan propinsi penghasil kayu manis dengan jumlah produksi yang cukup besar diantara propinsi-propinsi penghasil kayu manis lainnya di Indonesia. Total
produksi kayu manis yang dihasilkan oleh kelima propinsi penghasil kayu manis terbesar di Indonesia selama tahun 2000 hingga 2011 dapat dilihat pada Gambar 4.
Sumber: Departemen Pertanian 2014 (diolah)
Gambar 4Total produksi kayu manis berdasarkan sentra produksi kayu manis di Indonesia (ton) tahun 2000-2011
Seperti yang terlihat pada Gambar 4, sentra produksi kayu manis terbesar di Indonesia adalah propinsi Jambi dengan total produksi selama tahun 2000 hingga 2011 mencapai 389004 ton.Propinsi penghasil kayu manis terbesar kedua setelah Jambi yaitu Sumatera Barat dengan total produksi sebesar 303 538 ton dalam kurun waktu yang sama. Selanjutnya, propinsi lainnya yang juga menjadi sentra produksi kayu manis di Indonesia yaitu Sumatera Utara dengan total produksi sebesar 26 157 ton, Sumatera Selatan dengan total produksi sebesar 11 370 ton, dan Bengkulu dengan total produksi sebesar 11 251 ton dalam kurun waktu yang sama. Jumlah produksi kayu manis dari masing-masing propinsi tersebut memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap pembentukan total produksi kayu manis Indonesia.
Sumber: Departemen Pertanian 2014 (diolah)
Gambar 5 Kontribusi produksi kayu manis berdasarkan pulau terhadap total produksi kayu manis Indonesia tahun 2001-2011
Jambi Sumatera Barat Sumatera Utara Sumatera Selatan Bengkulu Produksi 389004 303538 26157 11370 11251 0 50000 100000 150000 200000 250000 300000 350000 400000 450000 T o n Sumatera 98% Jawa 1% Kalimantan 1% Sulawesi 0%
Seperti yang telah dijelaskan pada Gambar 4 bahwa sentra produksi kayu manis di Indonesia sebagian besar terletak di Pulau Sumatera. Hal ini juga terlihat pada Gambar 5, di mana sentra produksi kayu manis di Indonesia masih didominasi oleh Pulau Sumatera dengan kontribusi yaitu sekitar 98% terhadap total produksi kayu manis Indonesia selama tahun 2001 hingga 2011. Meskipun total produksi kayu manis di Indonesia mayoritas berasal dari Pulau Sumatera, namun ternyata Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, dan Pulau Sulawesi juga berkontribusi dalam memproduksi tanaman kayu manis, meskipun nilainya jauh lebih kecil dibandingkan Pulau Sumatera.
Tabel 6 Perkembangan produksi, luas areal, dan produktivitas kayu manis di Indonesia tahun 2001-2011
Tahun Produksi (Ton) Luas Areal (Ha) Produktivitas
(Ton/Ha) 2001 40635 135572 0.30 2002 46 373 138205 0.33 2003 64830 140969 0.46 2004 99465 136577 0.73 2005 100775 125093 0.81 2006 100471 124573 0.81 2007 101880 104651 0.97 2008 102039 101961 1.00 2009 102680 103023 1.00 2010 88104 99321 0.89 2011 90276 102125 0.88 Rata-rata pertumbuhan (%) 9.94 -2.63 13.05
Sumber: Departemen Pertanian 2014
Perkembangan produksi kayu manis di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan luas areal dan produkstivitas kayu manis di Indonesia. Berdasarkan Table 6 dapat diketahuibahwa selama tahun 2001 sampai dengan 2011, produksi dan produktivitas kayu manis mengalami laju pertumbuhan yang meningkat masing-masing sebesar 9.94% dan 13.05% setiap tahunnya. Namun hal berbeda terjadi pada luas areal kayu manis yang cenderung mengalami penurunan setiap tahunnya. Selama tahun 2001 hingga 2011 ternyata laju pertumbuhan luas areal kayu manis Indonesia mengalami penurunan sebesar 2.63% setiap tahunnya.Menurut Kepala Bidang Usaha Tani Dinas Perkebunan Sumatera Utara, penurunan luas areal kayu manis tersebut disebabkan karena harga jual kayu manis ditingkat petani yang rendah sehingga membuat petani semakin enggan mengembangkannya. Selain itu, pengembangan komoditas kayu manis di Indonesia memang kurang mendapat perhatian masyarakat meski sebenarnya komoditas tersebut banyak permintaan (Medan Bisnis 2011).
Penurunan luas areal tanam kayu manis juga disebabkan oleh adanya gejala konversi tanaman kayu manis menjadi tanaman perkebunan lain khususnya kakao. Tanaman kakao dinilai lebih memberikan keuntungan kepada petani baik dari segi harga maupun budidaya. Salah satu kecamatan yang melakukan budidaya tanaman kakao sebagai pengganti tanaman kayu manis adalah Kecamatan Gunung
Raya, Jambi. Kegiatan budidaya kakao tersebut menyebabkan luas areal tanam kayu manis semakin menurun. Konversi tersebut dilakukan karena rendahnya harga kayu manis yang ditawarkan pasar. Hal ini dikarenakan banyaknya petani yang memaksakan tanamannya untuk dipanen muda karena terdesak kebutuhan ekonomi sehingga berpengaruh terhadap kualitas dari tanaman kayu manis tersebut (Ashari 2006).
2. Perkembangan Harga Ekspor Kayu Manis Indonesia
Harga ekspor kayu manis Indonesia merupakan harga yang diperoleh dari hasil pembagian antara nilaiekspor kayu manis Indonesia secara keseluruhan pada periode tertentu dengan volumeekspor kayu manis Indonesia pada periode yang sama. Perkembangan harga ekspor kayu manis Indonesia ke pasar dunia selama tahun 2001 hingga 2011 cenderung mengalami peningkatan. Perkembangan harga ekspor kayu manis Indonesia tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.
Sumber: UNComtrade 2014 (diolah)
Gambar 6 Perkembangan harga ekspor kayu manis Indonesia
Gambar 6 menunjukkan bahwa perkembangan harga ekspor kayu manis Indonesia selama tahun 2001 hingga tahun 2011 mengalami peningkatan. Harga ekspor kayu manis Indonesia pada tahun 2001 yaitu sebesar 0.50 US$/Kg dan mengalami peningkatan menjadi 1.33 US$/Kg pada tahun 2011. Harga ekspor kayu manis Indonesia pada tahun 2011 merupakan pencapaian harga ekspor kayu manis Indonesia paling tinggi selama tahun 2001 sampai dengan 2011. Peningkatan harga kayu manis Indonesia setiap tahunnya tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan peningkatan harga ekspor kayu manis negara pesaing utama Indonesia yaitu China selama kurun waktu yang sama. Perkembangan harga ekspor kayu manis China disajikan pada Gambar 7.
0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 US$ /K ilo g ra m Tahun
Sumber: UNComtrade 2014 (diolah)
Gambar 7 Perkembangan harga ekspor kayu manis China
Meskipun harga ekspor kayu manis China juga mengalami perkembangan yang sama dengan perkembangan harga ekspor kayu manis Indonesia, di mana keduanya sama-sama cenderung mengalami peningkatan selama tahun 2001 hingga 2011. Namun harga ekspor kayu manis China masih lebih tinggi dibandingkan dengan harga ekspor kayu manis Indonesia. Hal ini dapat diketahui bahwa ketika pada tahun 2001 harga ekspor kayu manis China sudah mencapai 0.78 US$/Kg, sementara harga ekspor kayu manis Indonesia pada tahun yang sama masih sebesar 0.50 US$/Kg. Pada tahun 2011, harga ekspor kayu manis China mengalami peningkatan menjadi 1.79 US$/Kg, sementara harga ekspor kayu manis Indonesia mengalami peningkatan menjadi 1.33 US$/kg. Dengan demikian, terlihat bahwa harga ekspor kayu manis Indonesia masih lebih rendah dibandingkan harga ekspor kayu manis China. Kondisi demikian mendorong negara-negara pengimpor kayu manis untuk memilih lebih banyak mengimpor kayu manis yang berasal dari Indonesia. Hal ini dikarenakan harga ekspor kayu manis Indonesia dinilai oleh negara pengimpor lebih murah jika dibandingkan dengan harga ekspor kayu manis China. Oleh karena itu, hingga saat ini Indonesia masih menjadi negara produsen dan eksportir terbesar kayu manis di dunia.
3. Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditi Kayu Manis Indonesia
Menurut Kementerian Perdagangan (2012) kayu manis termasuk ke dalam salah satu dari 23 produk ekspor yang ditetapkan pengawasan mutunya. Kajian terhadap kebijakan pemerintah terkait penetapan pengawasan mutu tersebut terdapat dalam SK Menperindag nomor 164/MPP/Kep/6/1996 tentang produk ekspor yang ditetapkan pengawasan mutunya.Adanya kebijakan tersebut tidak terlepas dari banyaknya temuan di lapang bahwa mutu komoditas yang rendah, seperti tidak adanya kewajiban penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi komoditas ekspor dari hasil perkebunan. Hal ini mengakibatkan mutu barang yang ditentukan melalui kesepakatan negara pembeli dengan produsen tidak sesuai.Tujuan dari Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik
0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60 1.80 2.00 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 US$ /K ilo g ra m Tahun
Indonesia Nomor 164/MPP/Kep/6/1996 tentang Pengawasan Mutu secara Wajib untuk Produk Ekspor tertentu antara lain yaitu:
1. Mencegah ekspor produk-produk Indonesia yang dibawah mutu standar. 2. Mempertahankan mutu produk ekspor.
Sedangkan kegiatan yang dilakukan antara lain: 1. Sertifikat Kesesuaian Mutu (SM)
2. Pemeriksaan sebelum pengapalan (pre-shipment inspection) 3. Pengambilan contoh oleh PPC (Petugas Pengambil Contoh) 4. Pengujian oleh Laboratorium Penguji
5. Memenuhi uji, bila tidak memenuhi; diterbitan LHA (Laporan Hasil Analisa)dan produk tidak boleh diekspor.
6. Eksportir melampirkan SM pada PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang). 7. Sertifikat Produk Penggunaan anda SNI.
8. Eksportir mencantumkan cap “BEBAS SM” dan nomor Sertifikat pada PEB. Pengawasan terhadap mutu kayu manis merupakan suatu hal yang sangat penting dalam menentukan harga kayu manis. Dalam laporan penelitian Wangsa dan Nuryati (2010), dijelaskan bahwa harga kayu manis ditentukan oleh tingkatan (grade) kualitas kayu manis, misalnya:
1. Tingkat pertama adalah AA atau KA
Tingkat ini dihasilkan dari kulit kayu dari batang kayu manisyang telah diproses sehingga kulit kayunya kering dan bagian epidermisnya dihilangkandan berwarna coklat muda. Tipe ini biasanya dipanen setelah usia 15-20 tahun, sehinggamenghasilkan kualitas yang sangat bagus,dan 8-10 tahun untuk menghasilkan kualitasyang bagus. Di pasaran, kayu manis kualitas ini dijual dengan harga tertinggi.
2. Tingkat kedua adalah KB
Jenis ini hampir sama dengan AA, perbedaannya terletak padaepidemisnya yang tidak dihilangkan. Warnanya coklat kehitam-hitaman. Kualitas ini dapatdihasilkan setelah pohon berusia diatas 7 tahun Jenis ini biasanya dijual dengan harga lebih murah ketimbang jenis AA.
3. Tingkat ketiga adalah KC
Kayu manis yang termasuk tipe KC ini merupakan pecahan kulit manis. Jenis ini dihasilkan dari kayumanis tipe KB. Di pasaran, jenis ini diperjual belikan ditingkat penjualan yang terendahdibandingkan dua jenis yang disebutkan sebelumnya.
Sementara menurut sumber FAO dalam Wangsa dan Nuryati (2010), kualitas kayu manis dalam perdagangan internasional diklasifikasikan menjadi 3 tingkatan (grade), yaitu:
1. Grade A : kualitas terbaik, kulit kayu manis harus sepanjang satu meter dan diambil dari batang utama.
2. Grade B : kualitas menengah, diambil dari percabangan.
3. Grade C : kualitas terendah, diambil dari pecahan kulit kayu manis.