Gambaran Lokasi Penelitian
Pasar Induk Kramat Jati merupakan fasilitas pusat perdagangan grosir buah- buahan, sayur-mayur, dan umbi-umbian di DKI Jakarta yang bersifat menyeluruh dengan fasilitas pelengkapnya. Secara hierarki, Pasar Induk Kramat Jati merupakan 153 pasar yang dikelola oleh PD Pasar Jaya. Tugas pokok pasar induk ini adalah mengatur dan menyelenggarakan pengurusan fasilitas untuk kelancaran arus bahan makanan sayur dan buah serta menyediakan fasilitas perdagangan dan pemasaran yang diperlukan bagi penyelenggaraan perdagangan besar sayur dan buah. Pasar induk yang beralamatkan di Jalan Raya Bogor Km. 22, Jakarta Timur ini berfungsi untuk menyediakan dan mengatur fasilitas perdagangan atau pemasaran, menyediakan fasilitas umum, mengatur kegiatan angkutan dan bongkar muat, dan pencatatan harga serta tonase.
Pasar Induk Kramat Jati didirikan tahun 1973, kemudian mengalami proses peremajaan dari tahun 2003 hingga akhir 2008, bekerjasama dengan pihak ke-III (PT Tritunggal Sentra Sejahtera) dengan sistem sharing. Share pasar induk sebesar 40 persen berwujud tanah dan pedagang sedangkan share PT Tritunggal Sentra Sejahtera sebesar 60 persen berupa biaya pembangunan dan izin bangunan. Pembagian keuntungan sebesar sharenya. Kawasan berareal seluas 14.7 hektar ini memiliki 4 508 tempat usaha yang terdiri dari kios, konter, los, dan unit toko (Tabel 6).
Pedagang yang memiliki SHPTU (Sertifikat Hak Pemakaian Tempat Usaha) sesuai SK Direksi PD Pasar Jaya No. 47/2006 tgl 1 Maret 2006 dapat mempergunakan los selama 20 tahun. Setelah masa pembelian selesai, pedagang dapat memperpanjang hak guna los untuk 10 tahun berikutnya. Bila terjadi force majeur maka pedagang akan dikenakan biaya. Setiap hari, pedagang dikenakan biaya pengelolaan pasar (BPP) yang besarannya berdasarkan ukuran los. Biaya yang dikenakan meliputi biaya kebersihan, keamanan, dan retribusi bagi PD Pasar Induk. Untuk biaya listrik, telepon, air, merupakan biaya yang dibayarkan sendiri oleh pedagang ke instansi terkait. Biaya parkir Rp5 000 per jam untuk truk
sedangkan mobil bak terbuka Rp2 500 per jam. Setiap pedagang yang melakukan bongkar muat akan dikenakan biaya kupon sebesar Rp75 000 per lima ton muatan.
Tabel 6 Bangunan tempat usaha di Pasar Induk Kramat Jati tahun 2013 Bangunan Jumlah tempat usaha Banyak pedagang (orang)
Grosir (A1, A2, A3) 2 188 932
Kantor pengelola 435 246
Kantor agro outlet 29 29
Subgrosir sayur (C1) 1 426 498
Subgrosir buah (C2) 350 180
Unit toko (Uniko) 80 34
Total 4 508 1 919
Sumber : Dinas Pasar Induk Kramat Jati (2013), komunikasi pribadi
Dalam satu hari, pasokan buah yang masuk ke Pasar Induk Kramat Jati antara 650 hingga 1 200 ton. Buah-buah yang masuk, 97 persen didistribusikan lagi ke pedagang dan 2 persen untuk kebutuhan restoran. Buah yang didistribusikan ke pedagang 65 persen untuk memenuhi kebutuhan Jakarta, 30 persennya didistribusikan ke Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Botabek), dan 3 persen ke luar Jabotabek, Menurut data Dinas Pasar Induk Kramat Jati (2013), pasokan durian berasal dari Lampung, Palembang, dan impor. Dari 180 pedagang di subgrosir buah (C2), sebanyak 16 pedagang menjual durian lokal dan 16 pedagang menjual durian impor di grosir A1.
Gambaran Responden
Responden pada penelitian ini terbagi dua yaitu pedagang buah durian lokal dan impor. Pemilihan dan pengambilan sampel dilakukakan secara purposive, pedagang yang menjual buah durian di lokasi tersebut. Pedagang yang dipilih sebanyak 6 orang pedagang besar durian lokal, 2 orang pedagang pengecer durian lokal, 1 importir, 1 orang pedagang pengecer besar durian impor, dan 3 orang pedagang pengecer kecil durian impor agar hasil wawancara dapat menggambarkan keragaan pemasaran durian pada Pasar Induk Kramat Jati. Untuk importir, pengambilan sampel dilakukan dengan metode snowball sampling.
Pedagang besar durian lokal menjual buah yang berasal dari pemasok dari Bengkulu, Palembang, atau Lampung. Pedagang pengecer durian lokal berasal dari daerah Klender dan Kramat Jati Jakarta. Pedagang besar durian impor mengambil buah dari importir yang berlokasi di Pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta. Jenis kelamin pedagang responden seluruhnya laki-laki. Pedagang umumnya melaksanakan kegiatan bongkar muat, sortasi, pengawasan barang, dan juga pembayaran. Semua kegiatan itu dilakukan oleh laki-laki. Wanita hanya mendampingi dan membantu jalannya usaha.
Gambar 4 menunjukkan usia pedagang responden masih dalam kategori usia yang produktif untuk bekerja yaitu 19 sampai 55 tahun. Dalam usia produktif, pedagang masih memiliki kemampuan fisik yang baik untuk melakukan usahanya
setiap hari. Pedagang juga masih memiliki daya analisis yang baik terhadap risiko maupun tren penjualan ke depan. Penyebaran usia merata di setiap tingkatan kecuali usia 41-50 tahun, menunjukkan kegiatan berdagang durian masih diminati. Karakteristik pedagang responden berdasarkan pengalaman usahanya dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 4 Karakteristik usia pedagang responden di Pasar Induk Kramat Jati
≤ 30 tahun 30.77 %
Gambar 5 Karakteristik pengalaman usaha pedagang responden di Pasar Induk Kramat Jati
31-40 tahun 15.38 % 41-50 tahun 23.08 % ≥ 51 tahun 30.77 % ≤ 10 tahun 46.15 % 11-20 tahun 30.77 % ≥ 21 tahun 23.08 %
Pedagang responden pada awal mula berusaha tidak selalu berdagang durian, ada yang berdagang buah jenis lain ataupun sayuran. Sebanyak 55 persen pedagang yang memiliki pengalaman berdagang kurang dari 10 tahun, 18 persen pedagang memiliki pengalaman berdagang 11 sampai 20 tahun, dan 27 persen telah berdagang lebih dari 21 tahun.
Bentuk usaha durian 92.31 persen adalah perorangan. Mereka yang bentuk usahanya perorangan hanya fokus berdagang durian dengan jumlah tenaga kerja sekitar tiga orang. Hanya satu usaha yang berbentuk perseroan terbatas (PT). Perusahaan tersebut memiliki tenaga kerja yang banyak dan tidak hanya berdagang durian tetapi juga buah-buahan lain seperti jeruk, anggur, apel, dsb. Pedagang durian lokal berdagang secara musiman, tergantung ketersediaan barang di sentra produksi sedangkan pedagang durian monthong berdagang setiap saat.
Gambaran Umum Perdagangan Durian
Komoditas durian sangat potensial karena memiliki pasar yang luas dan daya saingnya tinggi dibanding komoditas buah lain. Buah durian sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat Indonesia dan Asia Tenggara umumnya. Buah ini mengandung vitamin C tinggi dan merupakan sumber serat yang baik untuk tubuh. Menurut Sobir dan Napitupulu (2010), tanaman durian merupakan jenis pohon hutan basah yang tingginya mencapai 30-40 m dan garis tinggi 2-2,5 m. Tanaman ini merupakan jenis pohon tahunan. Bagian pohonnya terdiri dari daun, bunga, dan buah. Selain daging buahnya enak untuk dinikmati, tanaman, kulit, dan bijinya ternyata juga memberikan nilai manfaat.
Durian merupakan jenis buah yang cukup awet setelah dipanen karena kulitnya yang tebal dan kuat. Namun demikian, tingkat keawetan ini sangat dipengaruhi juga oleh cara pemanenan. Buah yang telah pecah saat panen karena jatuh ke tanah cepat sekali rusak dalam waktu 36 jam. Penanganan pascapanen merupakan kegiatan setelah pemanenan yang harus dilakukan dengan baik agar mutu durian tetap terjaga. Kegiatan ini meliputi pengumpulan di gudang, sortasi, pencucian, grading, labeling, pengemasan, pengepakan, penyimpanan, dan pengambilan contoh. Menurut Untung (2002) penanganan pascapanen durian di Indonesia memang belum maksimal. kehilangan hasil akibat penanganan pascapanen yang tidak benar jumlahnya cukup besar. buah yang rusak, terasa hambar, dan tidak matang banyak belum dimanfaatkan secara optimal yang akhirnya dibuang.
Perdagangan buah durian dimulai pada proses jual-beli antara produsen sebagai pemilik awal durian kepada pedagang pengumpul. Proses ini dilakukan karena memudahkan petani mendistribusikan buah ke pasar yang dekat dengan konsumen. Pedagang pengumpul ada yang langsung menjualnya ke pedagang di pasar tetapi ada juga yang menjualnya ke eksportir. Perlakuan buah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan pasar luar negeri tentu berbeda. Umumnya, buah durian dijual dalam bentuk segar dan utuh.
Buah durian yang akan diekspor diberi perlakuan : setelah buah kering, buah dibungkus kantong plastik dan diikat dengan tali rafia. Setiap kantung plastik berisi satu butir buah durian. Buah yang sudah dibungkus kantung plastik dibungkus lagi dengan kantung kertas semen. Setelah itu, dimasukkan ke dalam
kotak karton setebal 3 mm. Setiap bungkus berisi 5-6 butir durian sehingga setiap kotak karton berisi 10-15 kg durian (Redaksi Trubus 2002). Kotak ini dilekat dengan lakban (perekat plastik) tebal yang tidak mudah robek jika terkena gesekan. Teknologi pengemasan telah memperhatikan adanya lubang udara agar sirkulasi udara lancar.
Bila ingin menghasilkan durian beku untuk dipasarkan ke tempat yang jauh, maka dapat dilakukan cara pengepakan vakum udara, cara ini banyak dipakai oleh petani Thailand. Setelah dikupas kulitnya, durian dimasukkan ke dalam alat fakum udara selama 35-40 menit dengan suhu 40°C di bawah nol. Setelah itu, buah durian dimasukkan ke dalam plastik berukuran 300 gram dan diletakkan dalam kamar pendingin dengan suhu 18°C di bawah nol (Arisman 2005).
Untuk buah yang dijual ke pasar lokal, tidak ada standar mutu buah durian. Produsen melakukan sortasi dengan membuang durian yang tidak layak jual (sudah membusuk). Buah yang rusak sedikit terkadang tetap dijual oleh produsen dengan harga yang lebih rendah dari yang berkualitas baik. Buah dijual dalam satuan butir durian, bukan per kilogram bobot durian. Peluang pasar durian di Indonesia sangat cerah. Buah ini masih dianggap buah mahal sehingga harga jual buah masih dipatok cukup tinggi. Untuk kualitas biasa dijual Rp15 000 per buah sedangkan yang super Rp30 000 per buah. Musim berbuah durian di Indonesia terjadi pada bulan Oktober, November, Desember, Januari, dan Februari. Puncak pemasaran buah durian lokal terjadi pada bulan Januari (Sobir dan Napitupulu 2010).
Perdagangan durian di pasar modern juga masih dipenuhi durian monthong dari Thailand karena kualitasnya sesuai dengan selera konsumen, mutu konsisten, dan pasokannya terjamin. Di Thailand, hasil panen buah dikumpulkan, diseleksi, dan dipilah-pilah berdasarkan ukuran. Durian dianggap cacat bila di kulitnya terdapat luka bekas gerekan hama, kulit pecah atau retak, duri memar karena jatuh ke tanah. Berdasarkan bentuk dan penampilan buahnya, seleksi durian dibedakan atas tiga kelas pada monthong (Gambar 6).
Durian dikebunkan di Thailand kebanyakan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri. Menurut Redaksi Trubus (2002), dari keempat varian yang dikembangkan (kradum, chanee, kao yan, dan monthong), varian chanee dan dan monthong bukan varietas durian terbaik di Thailand. Kedua varian tersebut merupakan varian yang paling banyak dicari eksportir Thailand, tersedia dalam jumlah banyak, murah harganya, dan disukai konsumen di luar negeri. Di Indonesia, varian durian tersebut sudah dikembangkan, cocok ditanam di berbagai ketinggian tempat karena dapat berbuah dengan baik di dataran rendah seperti Jakarta maupun dataran menengah seperti Ciawi, Bogor.
Durian di Indonesia secara nasional mengalami peningkatan tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi nasional karena durian masih sedikit yang dikebunkan dalam skala komersial. Teknologi untuk produksi durian juga belum diadopsi petani Indonesia. Proses pemasaran durian lokal juga belum sampai tahap pembungkusan. Durian tidak hanya dijajakan di tepi jalan tetapi bisa didapat di toko buah ataupun kafe yang menyediakan buah dalam bentuk segar maupun olahannya.
Secara umum, cara pembayaran durian dilakukan dengan konsinyasi. Buah durian merupakan buah yang memiliki harga jual tinggi sehingga permodalan yang dibutuhkan untuk membeli buah dalam jumlah banyak besar. Pedagang
biasanya melakukan konsinyasi, durian diambil terlebih dahulu lalu dibayar kemudian. Hal ini berlaku bagi importir, pedagang besar, pedagang pengecer, dan juga supermarket. Untuk tingkat konsumen, cara pembayaran yang dilakukan secara tunai.