BAB IV HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.1.1. Keadaan Geografis Desa
a. Batas Wilayah
Desa Suka Maju adalah sebuah Desa yang terletak di Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang. Desa Suka Maju pada awalnya adalah bagian dari Desa Medan Krio yang pada tahun 1958 di mekarkan/dipecahkan menjadi satu bagian tersendiri, yakni Desa Suka Maju. Desa Suka Maju memiliki wilayah yang terdiri atas tujuh (7) dusun, yaitu Dusun I, Dusun II, Dusun III, Dusun IV, Dusun V, Dusun VI dan Dusun VII. Untuk mempermudah jalan pemerintahan atau untuk memperlancar tugas-tugas serta mempermudah penduduk untuk urusan pemerintahan, maka sehari-harinya Kepala Desa dibantu oleh Sekretaris Desa beserta perangkat desa lainnya.
Secara geografis, Desa Suka Maju memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Medan Krio
- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sei Beras Sekata dan Desa Sunggal Kanan. - Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kutajurung Kecamatan Pancur Batu. - Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sei Mencirim dan Desa Telaga Sari.
b. Luas Wilayah Desa/Kelurahan Menurut Penggunaanya
Desa Suka Maju memiliki luas wilayah ±630 Ha. Desa Suka Maju dipimpin oleh seorang Kepala Desa yang bernama Sudung Limbong. Adapun penyebaran luas wilayah tersebut menurut penggunaannya :
Tabel 4.1. Luas Wilayah Desa Suka Maju menurut penggunaannya :
No. Penggunaan Luas Lahan (Ha)
1. Perladangan ±400 Ha
2. Pemukiman ±92 Ha
3. Pertanian Sawah ±120 Ha
4. Perkebunan ±13 Ha
5. Rumah Ibadah/Fasilitas Umum :
(Kantor, Sekolah, Gereja, Mesjid, Pemakaman dan lainnya)
±5 Ha
4.1.2. Sarana Dan Pra Sarana Desa
a. Sarana Kesehatan
Pemenuhan kebutuhan kesehatan di Desa Suka Maju dilengkapi oleh beberapa prasarana kesehatan sebanyak 8 unit prasarana kesehatan yang terdiri dari Poliklinik/Balai Kesehatan, Posyandu dan Puskesmas. Secara terperinci dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.2. Sarana Kesehatan Desa Suka Maju :
No. Uraian Jumlah (unit)
1. Poliklinik/Balai Kesehatan 4
2. Posyandu 3
3. Puskesmas 1
Jumlah 8
Sumber : Profil Desa Suka Maju Tahun 2012
b. Sarana Pendidikan
Desa Suka Maju memiliki delapan sarana pendidikan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat Desa Suka Maju yaitu sarana pendidikan formal dan sarana pendidikan informal/keterampilan. Sarana pendidikan formal yang tersedia di Desa ini
sebanyak lima sekolah yaitu terdiri dari Pendidikan Anak Sekolah Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). Sarana pendidikan informal/keterampilan di Desa ini sebanyak dua buah yaitu terdiri dari kursus Bahasa Inggris dan kursus keterampilan menjahit. Secara terperinci dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.3. Sarana Pendidikan Formal Desa Suka Maju :
No. Uraian Jumlah (unit)
1. PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) 1
2. TK 5
3. SD 5
Jumlah 11
Sumber : Profil Desa Suka Maju Tahun 2012
Tabel 4.4. Sarana Pendidikan Keterampilan/Informal Desa Suka Maju :
No. Uraian Jumlah (unit)
1. Kursus Bahasa Inggris 1
2. Kursus Menjahit 1
Jumlah 2
c. Sarana Peribadatan
Desa Suka Maju memiliki sarana peribadatan untuk memenuhi kebutuhan rohaniah masyarakat Desa Suka Maju sebanyak 14 unit, yaitu enam (6) unit Masjid, tujuh (7) unit Gereja Kristen Protestant dan satu (1) unit Gereja Katholik.
Secara terperinci dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.5. Sarana Peribadatan Desa Suka Maju :
No. Uraian Jumlah (unit)
1. Masjid 6
2. Gereja Kristen Protestant 7
3. Gereja Katholik 1
Jumlah 14
Sumber : Profil Desa Suka Maju Tahun 2012
d. Sarana Transportasi
Desa Suka Maju memiliki sarana perhubungan atau transportasi yaitu sarana transportasi darat. Perhubungan darat dilengkapi dengan prasarana jalan darat yang ada di desa ini yaitu jalan Kecamatan sepanjang 15 Kilometer dan jalan desa sepanjang 10 Kilometer. Jenis prasarana perhubungan darat yang ada di desa ini terdiri dari terminal,
jalan aspal, jalan bebatuan, jalan tanah dan jembatan. Sarana transportasi darat yang ada di desa ini terdiri dari kendaraan umum roda empat, kendaraan umum roda tiga, kendaraan umum dua dan alat transportasi tradisional (becak).
e. Sarana Olah Raga
Masyarakat Desa Suka Maju aktif dalam kegiatan olah raga. Kegiatan olah raga yang biasa dilakukan oleh masyarakat Desa Suka Maju seperti olah raga sepak bola, dan bola volly (laki-laki). Peningkatan olah raga masyarakat Desa Suka Maju didukung karena adanya sarana olah raga sebanyak dua (2) unit, satu (1) unit lapangan sepak bola dan satu unit (1) lapangan bola volly.
Secara terperinci dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.6. Sarana Olah Raga Suka Maju :
No. Uraian Jumlah (unit)
1. Lapangan Sepak Bola 1
2. Lapangan Bola Volly 1
Jumlah 2
4.1.3. Keadaan Penduduk
Jumlah penduduk Desa Suka Maju, Sei Mencirim, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang pada bulan Desember 2011 adalah sebanyak 7.158 jiwa yang terdiri dari komposisi penduduk Laki-laki sebanyak 2.726 jiwa dan Prempuan sebanyak 4.432 dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 1.747 KK. Seluruh penduduk di Desa Suka Maju adalah Warga Negara Indonesia atau penduduk pribumi.
Secara terperinci dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.7. Komposisi Penduduk Desa Suka Maju Menurut Golongan Usia dan Jenis Kelamin
No. Golongan Umur (Tahun)
Jenis Kelamin Jumlah (Jiwa)
Laki-laki Prempuan 1. 0-1 104 102 206 2. 1-5 124 291 415 3. 5-6 178 213 391 4. 7-15 455 764 1.219 5. 16-21 853 838 1.691
6. 22-59 841 2.043 2.884
7. 60 tahun ke atas 171 181 352
Jumlah 2.726 4.432 7.158
Sumber : Profil Desa Suka Maju Tahun 2012
Tabel 4.8. Kepadatan Penduduk Desa Suka Maju
No. Keterangan Jumlah
1. Laki-laki 2.726
2. Prempuan 4.432
Jumlah 7.158
Sumber : Profil Desa Suka Maju Tahun 2012
4.1.4. Keadaan Perekonomian Penduduk
Penduduk di Desa Suka Maju, Sei Mencirim, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang terbagi atas tujuh dusun, tetapi meskipun berbeda dusun mata pencaharian mereka sebagian besar adalah buruh tani dan petani. Penduduk di Desa Suka Maju bermatapencaharian sebagai petani karena wilayahnya merupakan daratan yang subur dan memiliki potensi yang baik untuk menanami jagung dan tanaman pangan lainnya, serta memiliki persawahan yang didukung dengan kondisi pengairan yang cukup baik pula.
Selain bermata pencaharian sebagai petani dan buruh tani, penduduk Desa Suka Maju juga bermatapencaharian sebagai Karyawan Swasta, Pedagang, Pegawai Negeri dan lain sebagainya. Secara terperinci mata pencaharian penduduk Desa Suka Maju dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.9. Keadaan Perekonomian Penduduk menurut Mata Pencaharian
No. Jenis Mata Pencaharian Jumlah
1. Petani 530 2. Buruh tani 1232 3. Pedagang/Wiraswasta 107 4. Karyawan Swasta 120 5. PNS 32 6. Supir 143 7. Tukang Kayu 5 8. Penjahit 8 9. Guru Swasta 53 Jumlah 2230
4.3. Karakteristik Responden
Untuk mengenali responden, peneliti menggunakan kuesioner yang berisi daftar pertanyaan data-data responden. Berdasarkan hasil pengumpulan data, maka diperoleh karakteristik responden sebagai berikut :
Tabel 4.10.
Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No. Jenis Kelamin F %
1. Laki-laki 72 85
2. Prempuan 13 15
Jumlah 85 100
Sumber : Data Kuesioner Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.10 di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden adalah berjenis kelamin laki-laki sebanyak 72 orang (85 %), sedangkan responden yang berjenis kelamin prempuan 13 orang (15 %). Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa laki- laki merupakan bagian dari pekerja domestik di bidang pertanian dan merupakan tenaga kerja sebagai buruh tani pasca panen.
Tabel 4.11
Profil Responden Berdasarkan Usia
No. Kelompok Usia F %
1. 25-30 tahun 13 15 2. 31-36 tahun 17 20 3. 37-42 tahun 10 12 4. 43-48 tahun 18 21 5. 49-54 tahun 14 17 6. > 55 tahun 13 15 Total 85 100
Sumber : Data Kuesioner tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.11 di atas dapat diketahui bahwa hampir seluruh kelompok usia responden termasuk usia produktif, adapun responden terbanyak adalah responden yang berada di antara kategori 44-48 tahun yaitu sebanyak 18 orang (21 %), kemudian diikuti oleh kelompok usia 31-36 tahun sebanyak 17 orang (20 %), kemudian diikuti oleh kelompok usia 49-54 tahun sebanyak 14 orang (17 %) dan kemudian kelompok usia 25-30 tahun sebanyak 13 orang (15 %) dan kelompok usia >55 tahun sebanyak 13 orang (15 %) dan terakhir ditempati oleh kelompok usia 37-42 tahun sebanyak 10 orang responden (12 %).
Tabel 4.12
Profil Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No. Tingkat Pendidikan F %
1. SD 31 36
2. SMP 29 34
3. SLTA/Sederajat 18 21
4. Diploma/Sarjana 7 9
Total 85 100
Sumber : Data Kuesioner Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.12 di atas dapat diketahui jumlah responden berdasarkan Status Pendidikan Responden dapat dilihat bahwa sebagian besar responden memiliki pendidikan sampai di bangku SD yakni sebanyak 31 orang (36 %), kemudian diikuti oleh responden yang memiliki pendidikan tingkat SMP sebanyak 29 orang (34 %), kemudian disusul oleh responden yang memiliki pendidikan SLTA/Sederajat 18 orang (21 %), sedangkan responden yang memiliki Diploma/Sarjana sebanyak 7 orang (9 %). Dalam hal ini dapat diambil kesimpulan bahwa rendahnya tingkat pendidikan responden terutama untuk kelompok buruh tani/tenaga upahan, disebabkan karena dalam bekerja dibidang pertanian mereka beranggapan hanya mengandalkan tenaga saja dan tidak membutuhkan keterampilan apapun dan tidak membutuhkan pengetahuan yang lebih melainkan dapat dipelajari secara informal melalui sosialisasi secara turun-temurun, serta dengan mengamati secara kasat mata saja bagaimana memulai pekerjaan mereka.
Tabel 4.13
Profil Responden Berdasarkan Lama Bekerja
No. Lama Bekerja F %
1. 1-5 tahun 13 15
2. 6-10 tahun 28 33
3. 11-15 tahun 27 32
4. >15 tahun 17 20
Total 85 100
Sumber : Data Kuesioner Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.13 di atas diketahui jumlah responden berdasarkan lama waktu bekerja adalah sebanyak 28 orang responden menjawab mereka telah lama bekerja antara 6- 10 tahun (33 %), kemudian diikuti oleh responden yang lama bekerja antara 11-15 tahun sebanyak 27 orang (32 %), kemudian sebanyak 17 orang responden (20 %) lama bekerja selama >15 tahun sedangkan sebanyak 13 orang responden (15%) telah lama bekerja selama antara 1-5 tahun. Dapat ditarik kesimpulan bahwa dari seluruh responden baik untuk kategori kelompok petani pemilik lahan maupun buruh tani/tenaga upahan telah lama bekerja dan terjun dalam pengelolaan pertanian di Desa ini.
Tabel 4.14
Profil Responden Berdasarkan Status Perkawinan
No. Status Perkawinan F %
1. Kawin 85 100
2. Belum kawin - -
Total 85 100
Sumber : Data Kuesioner Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.14 di atas diketahui jumlah responden berdasarkan Status Kawin, untuk kelompok petani pemilik lahan maupun buruh tani yaitu berstatus kawin sebanyak 85 orang (100 %) dan status belum kawin tidak ada. Dapat ditarik kesimpulan bahwa dari seluruh jumlah responden berstatus kawin. Dengan demikian responden untuk penelitian ini memang merupakan keluarga yang memiliki tanggung jawab keluarganya dan bukan yang belum berkeluarga. Hal ini diperkuat juga dengan jumlah tanggungan yang harus dibiayai oleh responden. Seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan oleh responden untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
4.4. Analisis dan Interprestasi Data
4.4.1. Mekanisasi Pertanian (Variabel Bebas) (X)
Tabel 4.15
Distribusi Jawaban Responden Tentang Penggunaan Traktor Pada Lahan Pertanian
No. Pernyataan Frekuensi %
1. Menggunakan 80 94
2. Tidak menggunakan - -
3. Kadang-kadang 5 6
Jumlah 85 100
Sumber : Hasil Olah Data Kuesioner Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.15 di atas diketahui bahwa responden yang menyatakan tentang penggunaan traktor pada lahan pertanian, bahwa responden memberikan pernyataan menggunakan sebanyak 80 orang responden (94 %) . Sedangkan 5 orang responden (6 %) memberikan pernyataan hanya kadang-kadang saja menggunakan mekanisasi traktor ini, adapun alasan petani pemilik lahan yang hanya kadang-kadang saja menggunakan mekanisasi traktor dalam pengolahan lahan mereka adalah untuk menjaga kesuburan tanah, karena menurut mereka, lahan/tanah yang sudah terlalu sering di traktor akan berbeda jika dibandingkan dengan memakai tenaga babat/upahan dalam pengolahan tanah.
Tabel 4.16
Distribusi Jawaban Responden Tentang Luas Lahan yang Dimiliki Petani
No. Pernyataan Frekuensi %
1. Lebih dari satu hektar 17 85
2. Satu hektar 2 10
3. Kurang dari satu hektar 1 5
Jumlah 20 100
Sumber : Hasil Olah Data Kuesioner Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.16 di atas diketahui bahwa responden petani pemilik lahan yang menyatakan tentang luas lahan yang dimiliki sebanyak 17 orang responden (85 %) memiliki lahan lebih dari satu hektar lahan, sementara responden petani pemilik lahan yang memiliki lahan satu hektar berjumlah 2 orang (10 %), sedangkan 1 orang responden yang lain (5 %) hanya memiliki lahan kurang dari satu hektar. Dalam hal ini tampak bahwa mayoritas petani pemilik lahan memiliki lahan lebih dari satu hektar, karena mereka yang memiliki luas lahan lebih dari satu hektar lahan jagung/sawah merupakan penduduk yang telah lama menetap di desa ini. Tanah/lahan sawah yang dimiliki merupakan hasil warisan turun temurun untuk generasi keluarganya.
Tabel 4.17
Distribusi Jawaban Responden Tentang Luas Lahan yang Proses Pengolahannya Memakai Tenaga Buruh Tani
No Pernyataan Frekuensi %
1. Lebih dari satu 53 82
2. Satu hektar 12 18
3. Kurang dari satu hektar - -
Jumlah 65 100
Sumber : Hasil Olah Data Kuesioner Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.17 di atas diketahui bahwa responden buruh tani yang menyatakan tentang luas lahan yang proses pengolahannya memakai tenaga mereka, sebanyak 53 orang responden (82 %) menyatakan bahwa lahan petani yang mereka kelola adalah seluas lebih dari satu hektar, sementara responden buruh lainnya menyatakan bekerja di lahan satu hektar sebanyak 12 orang responden (18 %). Karena biasanya petani pemilik lahan mempekerjakan atau menyewa tenaga buruh tani untuk lahan jagung atau sawah yang mempunyai luas lahan satu hektar maupun lebih dari satu hektar lahan, sementara petani yang memiliki luas lahan kurang dari satu hektar biasanya mereka mengelola lahannya mulai dari proses penanaman jagung atau padi hingga proses panen tiba, dilakukan secara sendiri dengan sanak keluarganya daripada menyewa tenaga buruh tani.
Tabel 4.18
Distribusi Jawaban Responden Tentang Kepemilikan Lahan yang Diusahai
No. Pernyataan Frekuensi %
1. Milik sendiri 17 20
2. Milik orang lain 68 80
Jumlah 85 100
Sumber : Hasil Olah Data Kuesioner tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.18 di atas diketahui bahwa responden yang menyatakan tentang kepemilikan lahan yang diusahai, sebanyak 68 orang responden (80 %) menyatakan milik orang lain atau lahan yang disewa dan 17 orang responden (20 %) responden yang menjawab lahan yang disewa milik orang lain (pihak lain). Dari jawaban responden pemilik lahan tersebut dapat diketahui bahwa ada 3 orang responden petani pemilik lahan yang hanya menyewa atau mengerjakan lahan milik orang lain saja bukan lahan milik mereka sendiri. Responden yang menyatakan bahwa lahan yang mereka kerjakan status kepemilikannya menyewa atau mengerjakan lahan milik orang lain, karena mereka merupakan penduduk pendatang baru yang berasal dari desa lain ingin mencoba bertani di desa ini. Adapun sistem yang berlaku di desa ini, apabila mereka mengerjakan atau mengelola lahan milik orang lain, maka hasil panen yang didapat dibagi dua dengan pemilik lahan yang memberikan lahannya tersebut untuk dikerjakan.
Tabel 4.19
Distribusi Jawaban Responden Tentang Frekuensi Panen Dalam Satu Tahun
No. Pernyataan Frekuensi %
1. 3 kali 80 94
2. 2 kali 4 5
3. 1 kali 1 1
Jumlah 85 100
Sumber : Hasil Olah Data Kuesioner Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.19 di atas diketahui bahwa responden yang menyatakan tentang frekuensi panen dalam satu tahun, sebanyak 80 orang responden (94 %) menjawab 3 kali panen dalam setahun, sementara 1 orang responden (1 %) menjawab 1 kali panen dalam setahun dan 4 orang responden lainnya (5 %) menjawab hanya 2 kali panen saja dalam satu tahun. Produk jagung atau padi yang diperoleh responden dalam setiap kali panen pun bervariasi, hal ini tergantung bagaimana para petani mengolah lahan pertaniannya. Ada sebagian petani memperoleh hasil sesuai yang diharapkannya, namun ada juga yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya.
Tabel 4.20
Distribusi Jawaban Responden Tentang Alat Pertanian yang Digunakan Dalam Pengelolaan Lahan Jagung/Sawah
No. Pernyataan Frekuensi %
1. Memakai Traktor/Jetor 81 95
2. Memakai Tenaga Manusia 3 4
3. Memakai Tenaga Hewan 1 1
Jumlah 85 100
Sumber : Data Kuesioner Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.20 di atas diketahui bahwa responden yang menyatakan tentang alat pertanian yang digunakan dalam pengelolaan lahan jagung/sawah yaitu sebanyak 81 orang responden (95 %) telah memakai traktor/jetor dalam pengelolaan tanah pertanian mereka, sedangkan 3 orang responden (4 %) masih memakai tenaga manusia/upahan untuk mengelola lahan pertaniannya dengan alasan untuk menjaga kesuburan tanah, dan 1 orang responden memakai tenaga hewan (1 %). Dengan menggunakan alat traktor atau jetor sebagai alat modern dalam mengolah lahan jagung atau lahan sawah akan lebih cepat dan efektif jika dibandingkan dengan alat-alat tradisional seperti bajak dan cangkul, namun sebagian responden petani pemilik lahan yang memakai tenaga upahan atau tenaga hewan dalam mengelola tanah mereka karena areal lahan sawah/lahan jagung sulit dicapai dan dijangkau oleh traktor/jetor disamping jawaban responden untuk menjaga kesuburan tanah.
Tabel 4.21
Distribusi Jawaban Responden Tentang Mekanisasi Penggunaan Traktor Terhadap Efektivitas Pekerjaan
No. Pernyataan Frekuensi %
1. Lebih Efisien 75 88
2. Tidak Efisien 8 10
3. Ragu-ragu 2 2
Jumlah 10 100
Sumber : Hasil Olah Data Kuesioner Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.21 di atas diketahui bahwa responden yang menyatakan tentang mekanisasi penggunaan traktor terhadap efektivitas pekerjaan yaitu sebanyak 75 orang responden (88 %) menyatakan lebih efektif. Sementara 2 orang responden (2 %) menyatakan masih ragu-ragu karena mereka belum mengerti apa sebenarnya makna efektivitas dalam hal pengelolaan lahan menggunakan mekanisasi traktor, sedangkan 8 responden (10%) menyatakan tidak efektif karena tidak menggunakan mekanisasi traktor tersebut dalam pengelolaan lahan jagungnya.
Tabel 4.22
Distribusi Jawaban Responden Tentang Penerapan Traktor Terhadap Efesiensi Pekerjaan
No. Pernyataan Frekuensi %
1. Sangat membantu 27 32
2. Cukup membantu 5 6
3. Tidak membantu 53 62
Jumlah 85 100
Sumber : Hasil Olah Data Kuesioner Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.22 di atas diketahui bahwa responden yang menyatakan tentang penerapan traktor terhadap efesiensi pekerjaan yaitu sebanyak 27 orang responden (32 %) setuju bahwa dengan adanya traktor, pekerjaan mereka lebih cepat selesai, sedangkan sebanyak 53 orang responden (62 %) menyatakan tidak membantu, karena mereka menyatakan bahwa dengan masuknya teknologi traktor mengurangi kesempatan kerja mereka sebagai buruh tani pasca panen sementara 5 orang responden lainnya (6 %) menyatakan cukup efisien karena kurang mengerti makna efesien itu dalam hal pengelolaan lahan pertaniannya.
Tabel 4.23
Distribusi Jawaban Responden Petani Pemilik Lahan Tentang Penghasilan yang Didapat Per Bulan Sebelum Menerapkan Mekanisasi Pertanian
No. Pernyataan Frekuensi %
1. Rendah (< satu juta rupiah) 11 55
2. Sedang (satu juta rupiah-dua juta rupiah)
9 45
3. Tinggi (> dua juta rupiah) - -
Jumlah 20 100
Sumber : Hasil Olah Data Kuesioner Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.23 di atas diketahui bahwa responden petani pemilik lahan yang menyatakan tentang penghasilan yang didapat per bulan sebelum menerapkan mekanisasi pertanian, sebanyak 11 orang responden (55 %) menjawab bahwa mereka memperoleh penghasilan kategori rendah yaitu dibawah satu juta rupiah, kemudian diikuti dengan yang berpenghasilan sedang (satu sampai dua juta rupiah) sebanyak 9 orang (45 %), sedangkan responden petani pemilik lahan yang berpenghasilan tinggi yaitu di atas dua juta rupiah tidak ada. Sebelum menggunakan mekanisasi pertanian , pendapatan mayoritas responden petani pemilik lahan cenderung di bawah dua juta rupiah. Hal ini membuktikan bahwa mekanisasi pertanian dengan alat traktor sangat mempengaruhi jumlah penghasilan yang diterima oleh petani pemilik lahan, karena lebih menghemat pengeluaran dalam membayar upah buruh tani jika dibandingkan dengan memakai mekanisasi pertanian dan juga proses penanaman jagung atau padi menjadi lebih cepat dilakukan.
Tabel 4.24
Distribusi Jawaban Responden Buruh Tani Tentang Penghasilan yang Didapat Per Bulan Sebelum Menerapkan Mekanisasi Pertanian
No. Pernyataan Frekuensi %
1. Rendah (< satu juta rupiah) - -
2. Sedang (satu juta rupiah-dua juta rupiah)
7 11
3. Tinggi (> dua juta rupiah) 58 89
Jumlah 65 100
Sumber : Hasil Olah Data Kuesioner Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.24 di atas diketahui bahwa responden buruh tani yang menyatakan tentang penghasilan yang didapat per bulan sebelum menerapkan mekanisasi pertanian, sebanyak 58 orang responden (89 %) menjawab bahwa mereka memperoleh penghasilan kategori tinggi yaitu di atas dua juta rupiah, kemudian diikuti dengan responden yang berpenghasilan sedang (satu sampai dua juta rupiah) sebanyak 7 orang (11 %), sedangkan responden buruh tani yang berpenghasilan kategori rendah yaitu kurang dari satu juta rupiah tidak ada. Sebelum menggunakan mekanisasi pertanian , pendapatan mayoritas responden petani buruh tani cenderung di atas dua juta rupiah. Hal ini membuktikan bahwa sebelum adanya mekanisasi pertanian, penghasilan buruh tani di atas dua juta rupiah karena tenaga mereka masih sering dipakai dalam pengolahan lahan milik petani.
Tabel 4.25
Distribusi Jawaban Responden Tentang Penghasilan yang Didapat Petani Pemilik Lahan Per Bulan Setelah Menerapkan Mekanisasi Pertanian
No. Pernyataan Frekuensi %
1. Rendah (<satu juta rupiah) - -
2. Sedang (satu juta rupiah-dua juta rupiah)
2 10
3. Tinggi (>dua juta rupiah) 18 90
Jumlah 20 100
Sumber : Hasil Olah Data Kuesioner Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.25 di atas diketahui bahwa responden petani pemilik lahan yang menyatakan tentang penghasilan yang didapat per bulan setelah menerapkan mekanisasi pertanian, sebanyak 18 orang responden (90 %) mendapatkan penghasilan yang tinggi (di atas dua juta rupiah), dan diikuti oleh responden yang berpenghasilan sedang sebanyak 2 orang (10 %) sedangkan responden yang berpenghasilan rendah (di bawah satu juta rupiah) tidak ada. Secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa setelah para petani menerapkan mekanisasi pertanian terjadi peningkatan penghasilan yang signifikan bagi para petani pemilik lahan, yang semula penghasilan di bawah satu juta rupiah meningkat menjadi dua juta sampai di atas dua juta rupiah. Adapun responden petani pemilik lahan yang tidak ada pengaruh terhadap penghasilan yang mereka dapatkan sebelum dan setelah masuknya mekanisasi pertanian karena mereka hanya menggunakan mekanisasi pertanian bersifat sementara saja (tidak bersifat terus menerus).
Tabel 4.26
Distribusi Jawaban Responden Tentang Penghasilan yang Didapat Buruh Tani Per Bulan Setelah Menerapkan Mekanisasi Pertanian
No. Pernyataan Frekuensi %
1. Rendah (<satu juta rupiah) 52 80
2. Sedang (satu juta rupiah-dua juta rupiah)
13 20
3. Tinggi (>dua juta rupiah) - -
Jumlah 65 100
Sumber : Hasil Olah Data Kuesioner Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.26 di atas diketahui bahwa responden buruh tani yang menyatakan tentang penghasilan yang didapat per bulan setelah menerapkan mekanisasi pertanian, sebanyak 52 orang responden (80 %) mendapatkan penghasilan yang rendah (di bawah satu juta juta rupiah), dan diikuti oleh responden yang berpenghasilan sedang sebanyak 13 orang (20 %) sedangkan responden yang berpenghasilan tinggi (di atas dua juta rupiah) tidak ada. Secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa setelah diterapkannya mekanisasi pertanian oleh petani pemilik lahan terjadi penurunan penghasilan yang signifikan bagi para buruh tani, yang semula rata-rata buruh tani mendapatkan penghasilan di atas satu hingga dua juta rupiah menurun menjadi di bawah satu juta rupiah.
Tabel 4.27
Distribusi Jawaban Responden Tentang Pengaruh Mekanisasi Pertanian Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Rumah Tangga
No. Pernyataan Frekuensi %
1. Mampu 23 27
2. Tidak mampu 58 68
3. Ragu-ragu 4 5
Jumlah 85 100
Sumber : Data Kuesioner Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.27 diatas diketahui bahwa responden yang menyatakan tentang mekanisasi pertanian dalam hal pemenuhan kebutuhan rumah tangga yaitu sebanyak 58 orang responden menyatakan tidak mampu karena dari hasil wawancara peneliti dengan responden menyatakan bahwa dengan adanya mekanisasi traktor, biaya untuk memenuhi