Masa nifas (puerperium) adalah masa pulihnya kembali mulai dari selesai melahirkan sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil dengan lama 6-8 minggu.
Masa nifas dibagi menjadi tiga periode :
1) Puerperium Divia, yaitu kepulihan dimana telah diperbolehkan berdiri dan berjalan.
2) Puerperium Intermedial, yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genital yang lamanya 6-8 minggu.
3) Remote Puerperium, yaitu waktu yang diperlukan untk pulih dan sehat sempurna terutama bila ibu selama hamil atau bersalin mempunyai komplikasi. Waktu yang dibutuhkan dapat berminggu-minggu, bulanan, hingga tahunan (Mochtar, 1998).
b. Perubahan Masa Nifas 1) Perubahan Fisiologis
a) Tanda Vital (1) Suhu Badan
Suhu rektal pada 24 jam pertama setelah melahirkan berkisar antara 37,5-38°C karena penghisapan zat putih telur dari rahim selama 2 dalam 10 hari pertama. Dalam masa ini perlu di cegah terjadinya infeksi saluran kemih, mastitis, pembengkakan payudara yang terjadi pada hari kedua atau ketiga sehingga dapat
menyebabkan kenaikan suhu namun tidak lebih dari 24 jam.
Pemeriksaan suhu badan setelah sectio caesaria dilakukan setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan setiap 30 menit pada 1 jam selanjutnya.
(2) Denyut Nadi
Nadi berkisar antara 60-80 denyutan per menit. Pada masa nifas umumnya denyut nadi lebih labil dibandingkan dengan suhu badan. Normalnya, frekuensi nadi relatif lebih rendah selama minggu pertama setelah melahirkan. Denyut nadi yang cepat dapat dipengaruhi oleh infeksi. Perdarahan post sectio caesaria dapat pula menyebabkan kenaikan frekuensi nadi. Pengawasan denyut nadi setelah sectio caesaria dilakukan setiap 15 menit sekali pada 1 jam pertama dan setiap 30 menit pada 1 jam selanjutnya.
(3) Tekanan Darah
Tekanan darah pada wanita post sectio caesaria harus diperhatikan, tekanan darah normal antara 110-120 mmHg.
Pemeriksaan tekanan darah setelah sectio caesaria dilakukan setiap 15 menit sekali pada 1 jam pertama dan setiap 30 menit pada 1 jam selanjutnya.
(4) Respirasi
Pemeriksaan respirasi yang pertama adalah pastikan bahwa jalan nafas bersih dan cukup ventilasi. Respirasi pada wanita post
sectio caesaria selama tidak memiliki penyakit pernafasan akan kembali normal secara cepat berkisar 18-20 kali per menit. Pasien post sectio caesaria perlu sekali disediakan oksigen untuk menghindari kejadian sesak nafas akut akibat pengaruh anestesi.
Pemerikasaan ini dilakukan setiap 15 menit sekali pada 1 jam pertama dan setiap 30 menit pada 1 jam selanjutnya setelah operasi selesai.
b) Alat Reproduksi
Fundus uteri setinggi pusat setelah janin keluar, setelah plasenta lahir ±2 jari di bawah pusat. Pada hari pertama,setelah 12 jam setelah persalinan tinggi fundus uteri sedikit meningkat, sekitar 1 jari di atas pusat. Pada hari kelima post sectio caesaria, tinggi fundus uteri ±7 cm atas simfisis atau setengah simfisis pusat, dan sudah tidak teraba lagi setelah 10 hari atau 2 minggu.
Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah sectio caesaria selesai.
Pembuluh-pembuluh darah yang berada diantara anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah plasenta lahir.
Macam-macam lokhea antara lain : (1) Lochea rubra (cruenta),
Berisi darah segar sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, vemik kaseosa, dan mekonium, terjadi selama 2 hari pasca persalinan.
(2) Lochea sanguinolenta,
Berwarna merah kecoklatan berisi darah bercampur lendir, terjadi pada hari ke 3-7 pasca persalinan.
(3) Lochea serosa
Coklat berwarna kekuningan, cairan tidak berdarah lagi, terjadi pada hari ke 7-14 pasca persalinan.
(4) Lochea alba
Cairan berwarna putih yang terjadi setelah 2 minggu pasca persalinan.
(5) Lochea purulenta
Merupakan tanda terjadinya infeksi, keluar cairan seperti nanah yang berbau busuk.
(6) Lochistasis
Merupakan pengeluaran lochea yang tidak lancar.
Payudara mencapai maturitas yang penuh selama masa nifas kecuali jika laktasi disupresi. Payudara akan lebih besar dan kencang serta terdapat nyeri tekan sebagai reaksi terhadap perubahan status hormonal serta dimulainya laktasi (Mochtar,1998).
c. Perubahan Psikologi 1) Fase Haneymoon
Adalah anak lahir dimana terjadi intimasi dan kontak yang lama antar ibu, ayah, dan bayi. Hal ini dapat dikatakan sebagai psikis haneymoon yang tidak memerlukan hal-hal yang romantik, masing-masing
memerlukan saling memperhatikan anak dan menciptakan hubungan baru.
2) Ikatan kasih (Bounding Attachment)
Terjadi pada kala IV persalinan, dimana diadakan kontak antar ibu, ayah, dan bayi yan tetap dalam ikatan kasih. Penting bagi perawat untuk memikirkan bagaimana hal tersebut dapat terlaksana. Partisipasi suami dalam proses persalinan merupakan salah satu upaya untuk proses ikatan tersebut.
3) Fase Taking in
Perhatian ibu terutama terhadap kebutuhan dirinya masih bergantung pada orang lain selama 1-2 hari. Ibu tidak menginginkan kontak dengan bayinya, tetapi bukan berarti tidakmempertahankan bayinya. Dalam fase ini yang diperlukan oleh ibu adalah informasi tentang dirinya bukan cara merawat bayinya.
4) Fase Taking hold
Ibu berusaha mandiri dan berinisiatif, perhatian terhadap kemampuan mengatasi tubuhnya. Misalnya, kelancaran buang air besar, buang air kecil, melakukan aktifitas duduk, jalan, ingin belajar tentang perawatan diri dan bayinya. Rasa kurang percaya diri sering timbul, sehingga mudah mengatakan tidak mampu melakukan perawatan. Fase ini berlangsung sampai kira-kira 10 hari setelah persalinan.
5) Fase Letting go
Ibu merasakan bahwa bayinya adalah bagian dari dirinya, mendapatkan peran dan tanggung jawab terjadinya peningkatan kemandirian dalam merawat diri dan bayinya, penyesusaian dalam hubungan termasuk bayi.
6) Post Partum Blues
Masa nifas pada wanita kadang-kadang mengalami kekecewaan yang berkaitan dengan mudah tersinggung dan terluka, sehingga nafsu makan dan pola tidur terganggu. Manifestasi ini disebut post partum blues dan biasanya terjadi di rumah sakit. Diperkirakan hal ini berhubungan dengan perubahan hormon dan transisi peran. Hal-hal yang berhubungan dengan post partum blues adalah rasa tidak nyaman, kelelahan, kehabisan tenaga.
Tekanan dapat turun dengan cara menangis. Bila orang tua kurang mengerti hal ini, maka akan timbul rasa bersalah yang dapat mengakibatkan depresi. Untuk itu diadakan penyuluhan sebelumnya, untuk mengetahui bahwa itu adalah hal yang normal.
d. Perawatan Mandiri Masa Nifas Post Sectio Caesaria
Perawatan diri ibu nifas terdiri dari perawatan luka, nutrisi, ambulasi dini, perawatan perineum, perawatan payudara, miksi dan defekasi.
1) Perawatan Luka Sectio Caesaria
Luka insisi diperiksa setiap hari. Karena itu bebat yang tipis tanpa plester yang berlebihan lebih menguntungkan. Biasanya, jahitan kulit dilepas pada hari keempat setelah operasi (Pritchard dkk, 1991).
Pembalut luka berfungsi sebagai penghalang dan pelindung terhadap infeksi selama proses penyembuhan. Penutup luka dipertahankan selama hari pertama selama pembedahan untuk mencegah infeksi pada saat proses penyembuhan berlangsung ( Wiknjosastro, 2008).
Luka insisi dibersihkan dengan cairan Nacl dan ditutup dengan kain penutup luka. Pembalut luka diganti dan dibersihkan setiap hari dan luka yang mengalami komplikasi seperti hanya sebagian luka yang sembuh sedangkan sebagian mengalami infeksi dengan eksudat atau luka terbuka seluruhnya memerlukan perawatan khusus bahkan memerlukan reinsisi (Novita, 2006).
Pembersihan luka insisi dimulai mencuci tangan sampai bersih kemudian mengkaji atau mengobservasi status luka apakah luka bersih atau kotor serta sejenisnya. Kasa steril dipegang dengan pinset lalu dicelupkan ke dalam larutan savlon dan dilakukan pembersihan pada luka. H2O2
diberikan jika diperlukan atau diberi larutan Nacl 0,9% kemudian luka dibersihkan sampai bersih dan dilanjutkan dengan pengobatan luka menggunakan betadin atau sejenisnya. Setelah luka bersih, tangan dicuci kembali (Kuswari, 2009).
2) Nutrisi masa nifas
Nutrisi atau gizi adalah zat yang diperlukan oleh tubuh untuk keperluan metabolismenya. Kebutuhan gizi pada masa nifas meningkat 25% dari kebutuhan biasa karena berguna untuk proses kesembuhan sehabis melahirkan dan untuk memproduksi air susu yang cukup
(Sulistyawati, 2009). Makanan yang dikonsumsi harus bermutu tinggi dan cukup kalori, cukup protein, banyak cairan serta banyak buah-buahan dan sayuran karena si ibu ini mengalami hemokosentrasi (Hanafiah, 2004).
Ibu yang menyusui harus mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari, makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup, meminum sedikitnya 3 liter air setiap hari dan ibu sebaiknya minum setiap kali menyusui, pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari setelah bersalin, mengkonsumsi kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI (Safruddin, 2009).
Ibu post SC harus menghindari makanan dan minuman yang menimbulkan gas karena gas perut kadang-kadang menimbulkan masalah sesudah sectio caesaria. Jika ada gas dalam perut, ibu akan merasakan nyeri yang menusuk. Gerak fisik dan bangun dari tempat tidur, pernapasan dalam, dan bergoyang di kursi dapat membantu mencegah dan menghilangkan gas (Simkin dkk, 2007).
3) Ambulasi Dini
Biasanya setelah melahirkan ibu merasa lelah karena itu ibu harus istirahat dan tidur telentang selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian ibu boleh miring kanan dan kiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli (Mochtar, 1998).
Mochtar (1998) menjelaskan manfaat mobilisasi bagi ibu post operasi adalah :
a) Ibu merasa lebih sehat dan kuat dengan ambulasi dini. Dengan bergerak, otot–otot perut dan panggul akan kembali normal sehingga otot perutnya menjadi kuat kembali dan dapat mengurangi rasa sakit dengan demikian ibu merasa sehat dan membantu memperoleh kekuatan, mempercepat kesembuhan, fisiologi usus dan kandung kencing lebih baik. Dengan bergerak akan merangsang peristaltik usus kembali normal. Aktifitas ini juga membantu mempercepat organ-organ tubuh bekerja seperti semula.
b) Mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli, dengan mobilisasi sirkulasi darah normal/lancar sehingga resiko terjadinya trombosis dan tromboemboi dapat dihindarkan. Pasien sectio caesaria biasanya mulai ambulasi 24-36 jam sesudah melahirkan.
Jika pasien menjalani analgesia epidural, pemulihan sensibilitas yang total harus dibuktikan dahulu sebelum ambulasi dimulai (Farrer, 2004).
Pada hari pertama dapat dilakukan miring ke kanan dan ke kiri yang dapat dimulai sejak 6-10 jam setelah ibu sadar. Latihan pernafasan dapat dilakukan ibu sambil tidur terlentang sedini mungkin setelah sadar (Mochtar, 1998). Ibu turun dari tempat tidur dengan dibantu paling sedikit dua kali (Pritchard dkk, 2001). Hari kedua ibu dapat duduk dan dianjurkan untuk bernafas dalam lalu
menghembuskannya disertai batuk-batuk kecil yang gunanya untuk melonggarkan pernafasan dan sekaligus menumbuhkan kepercayaan pada diri ibu bahwa ia mulai pulih. Kemudian posisi tidur terlentang diubah menjadi setengah duduk. Selanjutnya secara berturut-turut, hari demi hari ibu yang sudah melahirkan dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan kemudian berjalan sendiri pada hari ke 3 sampai 5 hari setelah operasi. Mobilisasi secara teratur dan bertahap serta diikuti dengan istirahat dapat membantu penyembuhan ibu (Mochtar, 1998).
4) Defekasi
Fungsi gastrointestinal pada pasien obstetrik yang tindakannya tidak terlalu berat akan kembali normal dalam waktu 12 jam. Buang air besar secara spontan biasanya tertunda selama 2-3 hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada masa post partum, dehidrasi, kurang makan dan efek anastesi (Bobak, 2004). Bising usus biasanya belum terdengar pada hari pertama setelah operasi, mulai terdengar pada hari kedua dan menjadi aktif pada hari ketiga. Rasa mulas akibatgas usus karena aktivitas usus yang tidak terkoordinasi dapat mengganggu pada hari kedua dan ketiga setelah operasi.
Diet teratur dapat berguna untuk dapat buang air besar secara teratur dapat dilakukan, pemberian cairan yang banyak, makanan cukup serat dan olahraga atau ambulasi dini. Jika pada hari ketiga ibu juga tidak
buang air besar maka laksan supositoria dapat diberikan pada ibu (Wulandari, 2009).
5) Perawatan Perineum
Perawatan khusus perineum bagi wanita setelah melahirkan bayi bertujuan untuk pencegahan terjadinya infeksi, mengurangi rasatidak nyaman dan meningkatkan penyembuhan. Walaupun prosedurnya bervariasi dari satu rumah sakit lainnya, prinsip-prinsip dasarnya bersifat universal yaitu mencegah kontaminasi dari rektum, menangani dengan lembut pada jaringan yang terkena trauma dan membersihkan semua keluaran yang menjadi sumber bakteri dan bau (Hamilton, 2002).
Setelah ibu mampu mandi sendiri, biasanya daerah perineum dicuci sendiri dengan menggunakan air dalam botol atau wadah lain yang disediakan secara khusus (Farrer, 2004). Perawatan perineum dapat dilakukan dengan cara perineum dibersihkan dengan sabun yang lembut minimal sekali sehari. Cairan sabun atau sejenisnya dipakai setelah buang air kecil atau buang air besar. Dibersihkan mulai dari simfisis sampai anal sehingga tidak terjadi infeksi (Wulandari, 2009).
6) Perawatan Payudara
Perawatan payudara adalah suatu tindakan untuk merawat payudara terutama pada masa nifas (masa menyusui) untuk melancarkan pengeluaran ASI. Perawatan payudara setelah persalinan merupakan kelanjutan perawatan payudara semasa hamil. Pelaksanaan perawatan payudara setelah persalinan dimulai sedini mungkin yaitu 1–2 hari
sesudah bayi dilahirkan. Perawatan payudara dilakukan 2 kali sehari (Admin, 2009).
Perawatan payudara dapat dilakukan dengan cara :
a) Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama puting susu.
b) Menggunakan BH yang menyokong payudara.
c) Mengoleskan kolostrum atau ASI yang keluar sekitar puting susu apabila puting susu lecet dan menyusui tetap dilakukan dimulai dari puting susu yang tidak lecet.
d) Mengistirahatkan payudara apabila lecet sangat berat selama 24 jam.
e) Minum parasetamol 1 tablet setiap 4-6 jam untuk menghilangkan nyeri.
f) Melakukan pengompresan dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI, mengurut payudara dari pangkal menuju puting atau menggunakan sisir untuk mengurut payudara dengan arah Z menuju puting, ASI sebagian dikeluarkan dari bagian depan payudara sehingga puting susu menjadi lunak, bayi disusui setiap 2-3 jam dan apabila tidak dapat mengisap seluruh ASI sisanya dikeluarkan dengan tangan lalu meletakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui (Syafrudin, 2009).
7) Miksi
Berkemih hendaknya dapat dilakukan ibu nifas sendiri dengan secepatnya. Sensasi kandung kencing mungkin dilumpuhkan dengan
analgesia spinal dan pengosongan kandung kencing terganggu selama beberapa jam setelah persalinan akibatnya distensi kandung kencing sering merupakan komplikasi masa nifas (Kasdu, 2003).
Pemakaian kateter dibutuhkan pada prosedur bedah. Semakin cepat melepas kateter akan lebih baik mencegah kemungkinan infeksi dan ibu semakin cepat melakukan mobilisasi (Wiknjosastro, 2009).
Kateter pada umumnya dapat dilepas 12 jam setelah operasi atau lebih nyaman pada pagi hari setelah operasi. Kemampuan mengosongkan kandung kemih harus dipantau seperti pada kelahiran sebelum terjadi distensi yang berlebihan (Pritchard dkk, 2001).
8) Kebersihan Diri
Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan perasaan kesejahteraan ibu (Hamilton, 2002). Mandi di tempat tidur dilakukan sampai ibu dapat mandi sendiri di kamar mandi yang terutama dibersihkan adalah puting susu dan dilanjutkan perawatan payudara (Wulandari, 2009).
e. Komplikasi Masa Nifas dan Perawatannya 1) Perdarahan
Perdarahan post sectio caesaria adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan setelah sectio caesaria berlangsung.
Perdarahan post sectio caesaria dibagi menjadi perdarahan post sectio caesaria primer dan sekunder. Pada pelepasan plasenta selalu terjadi perdarahan karena banyak sinus maternalis di tempat insersinya pada
dinding uterus terbuka. Biasanya perdarahan itu tidak banyak, sebab kontraksi dan refraksi otot-otot uterus menekan pembuluh-pembuluh darah yang terbuka sehingga lumayan tertutup. Kemudian pembuluh darah tersumbat oleh bekuan darah. Istilah perdarahan post sectio caesaria digunakan apabila perdarahan melebihi 500 ml. Perdarahan primer terjadi 24 jam pertama dan sekunder setelah itu. Hal- hal yang menyebabkan perdarahan post sectio caesaria ialah atonia uteri, jahitan kendor, lepas, bekas lepasnya plasenta dari uterus, tertinggalnya sebagian dari plasenta, kelainan proses pembekuan darah. Adapun penanganannya adalah memberikan uterotonika (oxytocin), memberikan prostaglandin, melakukan tampon uterus dan vagina, menghentikan atau menghilangkan sumber perdarahan dengan ligasi arteri hipogastrika internal dan melakukan histerektomi (Kasdu, 2003).
2) Febris (Panas)
Febris adalah meningkatnya suhu badan melebihi 380C selama 2 hari berturut-turut. Biasanya terdapat pada tempat–tempat perlukaan sectio caesaria karena tindakan persalinan dan pada bekas insersi plasenta terjadi infeksi dapat didukung dengan hasil laboratorium. Infeksi tersebut diantaranya :
a) Endometritis
Infeksi terjadi pada tempat insersi placenta dan pada waktu singkat dapat mengenai seluruh endometrium.
b) Servicitis
Infeksi pada serviks agak dalam dapat menjalar ke ligamentum. Dan parametrium
c) Peritonitis
Merupakan penyebaran dari infeksi organ reproduksi lain.
3) Oedem pada Tungkai
Flagmasia alba dolens merupakan salah satu bentuk infeksi puerperalis yang mengenai pembuluh darah vena femoralis. Vena femoralis yang terinfeksi dan disertai pembentukan trombosit dapat menimbulkan gejala klinik, yaitu terjadinya pembengkakan pada tungkai, berwarna putih terasa sangat nyeri, tampak bendungan pembuluh darah, temperatur badan meningkat (Kasdu, 2003).
f. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Masa Nifas dan Perawatannya Faktor yang dapat mempengaruhi perawatan nifas selain pengetahuan yaitu pelayanan kesehatan, adat-istiadat, kebiasaan pola hidup dan pendidikan. Dari hasil penelitian tentang perawatan nifas pengetahuan nifas lebih rendah dari pada pelaksanaan perawatan nifas, ini disebabkan oleh kurangnya informasi dan pedoman perawatan ibu nifas yang adekuat (Anonim, 2006).
Faktor lain yang berpengaruh yaitu pola hidup dan pendidikan, dan perilaku ataupun pola hidup merupakan hasil jangka menengah dari pendidikan. Dengan kata lain bahwa peranan pendidikan adalah melakukan intervensi faktor perilaku sehingga perilaku individu kelompok atau masyarakat sesuai nilai kesehatan (Notoatmojo,2002).
Hambatan dalam pelaksanaan perawatan nifas juga disebabkan oleh sarana yang kurang begitu dimanfaatkan. Terbatasnya alat bantu penyuluhan tentang perawatan nifas mandiri menyebabkan pengetahuan tidak diperoleh oleh ibu secara adekuat selama dalam perawatan di RS atau puskesmas (Anonim, 2006). Meskipun petugas sering menemukan suatu bentuk perilaku yang kurang menguntungkan bagi kesehatan, namuntidak mudah untuk mengadakan perubahan terhadapnya akibat telah tertanamnya keyakinan yang melandasi sikap dan perilaku itu secara mendalam pada budaya yang ada (Swasono, 1998).
Adat istiadat juga berpengaruh dalam perawatan nifas. Betapa biaya sosial sering mengalahkan pemanfaatan optimal dan saran kesehatan yang ada (Swasono,1998).
Pertimbangan yang sangat rasional dan berguna untuk menetapkan suatu keputusan sering terjadi, contoh pelaksanaan perawatan nifas, sering terkalahkan oleh pertimbangan yang tidak rasional namun sukit dirubah kaena telah tertanam secara mendalam sebagai keyakinan yang bersumber pada faktor budaya. (Swasono, 1998).
Adanya pantangan dan keharusan makanan tertentu selama setelah bersalin tidak selalu memberikan dampak kesehatan yang baik meskipun dilandasi oleh tujuan pencegahan bahaya. Banyak masyarakat yang mengikuti tradisi, namun tidak memahami alasannya karena adanya tekanan dari pihak keluwarga atau pun dukun bayi (Swasono, 1998).
Kondisi psikologis juga dapat mempengaruhi perawatan mandiri ibu post
SC. Perubahan hormonal tubuh, kecemasan pada bayi, anak yang lain, suami serta masalah keluarga yang ada dapat mempengaruhi kondisi psikologis ibu. Jika psikologis ibu terganggu maka dapat menghambat proses pelaksanaan perawatan secara mandiri (Elizabeth, B. H., 1997).
5. Teori Drama Turgi Erving Goffman