• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOTA TANGERANG

A. Gambaran Umum Masyarakat Kelurahan Mekarsari

1. Kependudukan

Kelurahan Mekarsari merupakan salah satu kelurahan yang berada dikecamatan Neglasari Tangerang dengan luas wilayah 234.211 Ha, yang semua terbagi atas 91.09 ha digunakan untuk pemukiman, 10.000 ha digunakan untuk perkuburan, 2.213 ha digunakan untuk lahan inustri, 93. 155 ha digunakan untuk perkantoran, 10.000 ha tanah wakaf da 117.191 ha digunakan untuk perladangan, di kelurahan ini terdiri dari 6 Rw dan 33 RT. Kelurahan ini berbatasan dengan :

- Sebelah Utara : Kelurahan Kedaung Baru

- Sebelah selatan : Kali Cisadane

- Sebelah Barat : Sungai Cisadane/ Pintu air sepuluh

- Sebelah Timur : Kel. Neglasari dan Karangsari

Perkembangan penduduk di Kelurahan Mekarsari cukup pesat sampai saat ini Kelurahan Mekarsari di huni oleh 2.377 Kepala Keluarga . Hal ini di sebabkan selain karena suasana yang cukup menyenangkan karena dengan adanya keanekaragaman budaya , juga disebabkan karena lokasinya yang sangat

strategis dengan wilayah kota Tangerang itu hanya berjarak sekitar 2 Km saja. Selain itu lokasinya pula tidak jauh dengan letak Bandara Intersional Soekarno-Hatta. Di sisi lain juga disebabkan oleh tersedianya fasilitas sarana umum yang cukup memadai, baik fasilitas kesehatan, pendidikan, peribadatan dan lain-lain. Pada umumnya penduduk Kelurahan Mekarsari Tangerang adalah Betawi dan Sunda, sehingga adat istiadat yang mendominasi adalah adat Betawi dan Sunda meskipun sebagian dari mereka keturunan etnis Tionghua. Untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah ini:

Tabel 1

Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah

Laki-laki 4.034 Orang

Perempuan 5.074 Orang

Jumlah 9.108 Orang

Adapun jumlah penduduk yang berada di RW 04 ialah sebanyak 350 KK atau sekitar 1680 jiwa.

Selanjutnya jumlah penduduk Kelurahan Mekarsari Tangerang berdmenurut usia berdasarkan kelompok pendidikan ialah untuk usia 00-05 tahun berjumlah 1. 634 orang, uasi 06-11 tahun berjumlah 977 dan uasi 12 tahun keatas mencapai 914 orang. Jadi, total seluruhnya ialah 3.525 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 2

Jumlah Penduduk Menurut Usia

Usia Kelompok Pendidikan Jumlah

00-05 tahun 1.634 Orang

06-11 tahun 977 Orang

12- keatas 914 Orang

Jumlah 3.525 Orang

Jumlah penduduk Kleurahan Mekarsari Tangerang menurut usia kelompok tenaga kerja ialah usia 10-14 tahun mencapai 885 orang, usia 15-19 tahun mencapai 914 orang, usia 20-21 tahun mencapai 767 orang, usia 27-40 mencapai 684 orang, usia 41-56 mencapai 317 orang dan pada usia 57 tahun keatas mencapai 267, jadi totalnya mencapai 3. 834. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut:

Tabel 3

Jumlah Penduduk Menurut Usia

Usia Kelompok Tenaga Kerja Jumlah

10-14 tahun 885 Orang 15-19 tahun 914 Orang 20-26 tahun 767 Orang 27-40 tahun 684 Orang 41-56 tahun 317 Orang 57-keatas 267 Orang Jumlah 3.834 Orang

Dari tabel diatas jumlah tenaga kerja dengan kisaran umur antara 15-19 tahun usia ini terbilang usia remaja memilki jumlah yang paling banyak yaitu sekitar 914 orang hal ini dikarenakan banyak anak-anak atau remaja yang putus sekolah karena kebutuhan ekonomi yang menghimpit mereka. Mereka lebih memilih membantu orang tua mereka daripada membebani kedua orang tua mereka dengan biaya sekolah yang semakin melambung. Begitu pula dengan warga yang berada di RW 04 kebanyakan anak-anak remaja d RW 04, mereka lebih memilih bekerja daripada sekolah himpitan ekonomi yang dialami oleh keluarga mereka.

2. Agama dan Kepercayaan

Mayoritas penduduk Kelurahan Mekarsari adalah beragama Budha, ini di sebabkan karena banyaknya etnis Tionghua yang bermukim diwilayah ini. Namun demikian kerukunan antar umat beragama sudah berjalan dengan baik sehingga kehidupan bermasyarakat antar pemeluk agama yang satu dengan yang lainnya dapat saling menghormati. Sarana peribadatan yang adapun didominasi dengan Gereja yaitu sebanyak 11 buah, Musholah 8 buah, Masjid 1 buah, Vihara 2 buah, dan Pura 2 buah. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut:

Tabel 4

Penganut Agama/Kepercayaan Mayarakat Kelurahan Mekarsari Tangerang Agama Jumlah Islam 3.670 Orang Kristen 399 Orang Katholik 168 Orang Hindu 10 Orang Budha 4.915 Orang

Agama atau kepercayaan masyarakat Rw 04 sendiri banyak didominasi oleh pemeluk agama Budha mengingat bahwa memang penduduk di RW 04 adalah warga keturnan, di bandingkan dengan penduduk-penduduk yang

ada di RW lain, yaitu dari 350 KK , 100 KK diantaranya adalah keluarga pribumi.

3. Mata Pencaharian

Mayoritas penduduk memiliki mata pencaharian pegawai swasta/Karyawan dan buruh tani. Hal ini disebabkan karena banyaknya lahan prindustrian dan lahan pertanian dan perkebuanan yang cukup luas.

Pada umumnya hasil pertanian maupun hasil perkebunan diperuntukkan bagi hidup mereka sendiri. Walaupun begitu terkadang mereka langsung menjual kepada para konsumen yang membutuhkan dan bila hasil perkebunan serta pertanian mereka lebih dari cukup biasanya mereka menjualnya kepada para tengkulak.

Selain dibidang pertanian, perkebunan dan perindustrian, mata pencaharian sebagaian masyarakat kelurahan tergantung pada hasil peternakan dengan populasi hewan terbanyak ayam ras sekitar 1000 ekor. Selain ayam ras ada juga yang ternak babi yaitu sekitar 120 ekor hal ini disebabkan karena mengingat jumlah penduduk yang memeluk agama Budha lebih banyak dari pada pemeluk agama Islam, ini selain dijual kepasar hewan tanpa pelantara tengkulak, dan biasanya hasil ternak mereka dikonsumsi oleh mereka sendiri atau dijual langsung ke konsumen, biasanya ayam yang mereka jual dalam bentuk olahan.

Selain menjual hasil pertanian dan hasil ternak masyarakat keluraham Mekarsari juga menggantungkan hidupnya dari hasil berdagang kue

atau makanan ringan, didesa ini akan banyak dirtemui para ibu-ibu rumah tangga yang sedang asik duduk dengan membuat kue, biasanya hasil kue buatan masyarakat desa Mekarsari dijual kepasar dan daerah sekitar. Sisanya adalah petani, pegawai negeri, ABRI dan pensiunan. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut:

Tabel 5

Mata Pencaharian Masyarakat Kelurahan Mekarsari

Mata Pencaharian/Profesi Jumlah

Pegawai Negeri Sipil (PNS) 61 Orang

ABRI 20 Orang

Pegawai Swasta/Karyawan 2.524 Orang

Pertukangan 148 Orang

Buruh Tani 1.572 Orang

Pensiunan 10 Orang

Sebagian besar masyarakat keturuan di RW 04 bekerja sebagai pedagang, penjual kue, kuli angkut, sopir, petani, jasa dan pekerjaan kasar lainnya. Mereka harus berjuang berkompetisi dengan yang lainnya untuk mendapatkan sesuap nasi dan sedikit tabungan untuk pendidikan anak-anaknya.

4. Pendidikan

Masyarakat kelurahan Mekarsari pada dasarnya merupakan masyarakat yang sadar akan pendidikan baik formal maupun non formal. Di kelurahan inipun sudah ada beberapa fasilitas pendidikan formal yaitu 3 buah Taman Kanak-kanak dan 3 buah Sekolah Dasar (SD).

Sebagian besar masyarakat kelurahan Mekarsari yang apabila telah lulus sekolah Dasar (SD), biasanya tidak diteruskan ke tingkat selanjutnya yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekola Menengah Atas (SMA) apalagi ke tingkat Perguruan Tinggi, hal ini sebagaian besar dikarenaan faktor biaya dan faktor jarak.

Faktor biaya ini dikarenakan sebagaian masyarakat kelurahan Mekarsari tergolong ke dalam keluarga sejahtera 3 dan keluarga sejahtera 3 plus. Yang mana golongan-golongan tersebut termasuk didalam keluarga yang penghasilannya dibawah rata-rata dan hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan biasanya, bila tidak dapat melanjukan ke tingkat yang lebih tinggi mereka akan bekerja atau bahkan menganggur.

Sedangkan faktor jarak karena keberadaan Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas hanya ada dan terletak di daerah ibu kota kecamatan dengan jarak 7 Km, yang bila ditempuh dengan kendaran bermotor kurang lebih 15 menit, dan bila ditempuh dengan jalan kaki sekitar 3 jam. Untuk mengetahui tingkat pendidikan masyarakat Kelurahan Mekarsari Tangerang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 6

Tingkat Pendidikan Masyarakat Kelurahan Mekarsari

Tingkat Pendidikan Jumlah

Taman Kanak-kanak 608 Orang

Sekolah Dasar (SD) 1.715 Orang Sekolah Menengah Pertama (SMP) 237 Orang

Sekolah Menengah Atas (SMA) 70 Orang

Akademi/ D1-D3 40 Orang

Sarjana (S1-S3) 30 Orang

Namun di samping itu semua, ada beberapa kemajuan dari tingkat pendidikan di kelurahan Mekarsari , seperti contohnya sudah ada beberapa orang yang mengenyam pendidikan tinggi baik sekolah menengah atas maupun di bangku perkuliahan.

Sedangkan dalam pendidikan mayoritas kelurahan Mekarsari adalah sekolah dasar yaitu sekitar 1.715 orang.1

B.Sejarah Etnis Tionghua Di Tangerang

1. Etnis Tionghua di Tangerang

Warga Tionghua banyak di temui di daerah pinggiran Tanggerang. Masyarakat Tangerang pada umumnya menyebut mereka Cina Benteng

1

(Cinben). Komunitas Cina Benteng adalah warga asal Tionghua yang dahulu kala mencoba masuk Indonesia saat produk gula booming pada abad 18 ratusan pemuda asal negeri Tirai Bambu berlayar dari negaranya tujuan awalnya mereka sebenarnya adalah Batavia yang kini menjadi Kota Jakarta, namun mereka terdampar dipangkalan Teluknaga, yang kini menjadi bagian dari daerah Pantai Utara (Pantura) Kabupaten Tangerang.

Akhirnya ratusan pemuda itu di tangkap serdadu VOC. Mereka lalu diminta membuka wilayah Tangerang yang kala itu masih berupa hutan dan menjadi mandor perkebunan atau dikenal dengan nama Kapitan, pemuda yang tidak membawa pasangan dari negerinya menikah dengan warga pribumi yang menghasilkan keturunan hingga kini.

Sejarah Cina Benteng memang sulit dipisahkan dari kawasan pasar lama di Jl Ki Samaun yang berada di tepi sungai dan merupakan permukiman pertama masyarakat Cina. Pada akhir 1800-an, sejumlah orang Cina dipindahkan ke kawasan Pasar Baru. Sejak itu menyebar kedaerah-daerah lainnya.

Keturunan Tionghua di wilayah Tangerang umumnya berkulit hitam, bermata sipit, dan tidak berbahasa mandarin, mereka adalah generasi kelima Cina Benteng yang hidup di Kota Tangerang. Merekalah yang sebenarnya yang disebut Cina Benteng dan istilah itu dikenal hingga sekarang.

Istilah Cina Benteng tidak lepas dari kehadiran Benteng , Benteng yang dibangun pada masa penjajahan kolonial Belanda di tepi Sungai Cisadane sekarang sudah rata dengan tanah. Kala ini banyak keturunan Cina Tangerang

yang kurang mampu bermukim diluar Benteng Makasar. Mereka terkonsentrasi di daerah sebelah utara Tangerang yaitu sewan dan Kampung Melayu. Dari sinilah istilah Cina Benteng karena bermukim di sekitar benteng, yang hingga kini mereka kemudian disebut Cina Benteng.2

2. Klenteng/ Vihara Tjong Tek Bio

Kota Tangerang dikenal dengan istilah China Benteng. Mereka adalah warga Tionghoa yang merupakan keturunan imigran China Hokkian. Kedatangan mereka sendiri konon sudah sejak tahun 1600-an. Namun, Kelenteng Tjong Tek Bio didirikan pada tahun 1830.

Kelenteng dibuat untuk meningkatkan spiritualitas warga imigran, terutama ketika mereka sedang membutuhkan pertolongan secara batin. Karena sudah lama berada di sekitar Sungai Cisadane, warga China Benteng pun tak lagi bisa berbahasa nenek moyangnya.

"Yang kami pelihara tinggal nama yang kami pergunakan, dan berbagai seremoni, seperti Imlek, Cap Go Meh, dan tentunya ibadah yang kami lakukan di kelenteng,"

terang Lim Tjun Siong, salah satu warga China Benteng. Dirinya juga mengakui, tak hanya soal bahasa, secara fisik pun warga China Benteng berbeda

2

Artel diakses pada 20 Juni 2012 dari http//asal usul china benteng, cina benteng teluk naga, tragedi cina benteng/htm.

dengan etnis China yang sudah dikenal karena mereka memiliki warna kulit yang lebih gelap.3

China Benteng pun sudah membaur dengan baik dengan warga sekitar. Entah itu melalui perkawinan ataupun kegiatan-kegiatan bersama. Warga China Benteng pun sudah heterogen, tak hanya beragama Buddha, ada juga yang beragama Kristen dan Islam. Sehingga, ketika sentimen negatif terhadap etnis China merebak pada tahun 1998, warga China Benteng justru aman-aman saja. Kondisi harmonis ini pun masih berlangsung hingga sekarang.

Meski demikian, kelenteng ini pun pernah menghadapi tekanan yang menyulitkan, terutama di masa Orde Baru. "Kelenteng Tjong Tek Bio sempat harus berganti nama menjadi Wisma Bodhi. Karena pada masa Orde Baru, semua yang berunsur China harus dikubur. Bahkan perayaan Imlek pun dilarang," ujar Sujadi, yang juga waga China Benteng.4

Sangat disayangkan, suasana harmonis dan nilai historis yang dimiliki oleh warga China Benteng harus dihadapkan pada penggusuran. Pemkot Tangerang akan menertibkan kawasan di pinggir Sungai Cisadane dengan dasar Perda No 18 Tahun 2000 tentang K3.

Ratusan kepala keluarga dikirimi surat untuk segera mengosongkan rumah, tanpa diberikan kompensasi atau ganti rugi dari Pemkot. "Mereka beralasan tak punya dana," cetus Sujadi.5

Meski bebas dari Orde Baru, tampaknya tantangan warga China Benteng masih belum berakhir dengan adanya penggusuran di era Reformasi ini.

3

l wawancara dengan Lim Tju Siong 26 Desember 2012

4

Wawancara dengan Sujadi, 26 Desember 2012

5

Bahkan hingga saat ini sudah ada beberapa pemukiman Cina Benteng yang tinggal di bantaran sungai Cisadane yang menjadi korban penggusuran, yang sampai saat ini tidak ada yang tahu dimana mereka tinggal dan meninggalkan trauma pada korbannya.

62

Dokumen terkait