• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian

Virgiawan Listianto atau dikenal dengan Iwan Fals, lahir pada tanggal 3 September 1961.Menurut cerita ibunya, ketika ia berumur bulanan, setiap kali mendengar suara adzan magrib, selalu menangis. Iwan keciltidak mengerti kenapa sampai sekarang pun ia masih gambang menangis. Biar begini-begini, Iwan Fals adalah orang yang lembut dan gampang tersentuh. Sebagai contoh, ketika menyaksikan berita di televisi yang memberitakan ada orang sukses lalu mendapatkan penghargaan atas prestasinya, ia pun bisa menangis. Begitu juga ketika melihat seorang ibu yang menunjukkan cinta kasihnya pada anaknya, juga bisa membuat Iwan tersentuh dan kemudian menangis.

Bicara mengenai perjalanan karir musiknya, Iwanmemulainya dengan aktif nsebagai penyanyi jalanan atau biasa disebut ngamenketika di Bandung.Ia mulai ngamen ketika berumur 13 tahun. Waktu itu masih duduk di bangku SMP.Iwanpertama kali belajar main gitar dari teman-teman nongkrongnya. Kalau mereka main gitar ia suka memperhatikan. Tapi mau nanya malu.Suatu hari Iwan mudamemberanikan diri nekat memainkan gitar itu.Tapi senarnya malah putus.Ia pun dimarahi. Sejak saat itu, gitar menjadi seperti terekam kuat dalam ingatannya. Kejadian itu begitu membekas dalam ingatannya

42

Dulu Iwan Fals pernah mengecap pendidikan di Jedah, Arab Saudi, di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) selama 8 bulan. Kebetulan di sana ada saudara dari orang tuanya yang tidak mempunyai anak. Karena tinggal di negeri orang, ia merasakan sangat membutuhkan hiburan. Dan hiburan satu-satunya baginya adalah sebuah gitar yang dibawa dari Indonesia.Saat itu ada dua lagu yang selalu dimainkan, yaitu Sepasang Mata Bola dan Waiya.

Waktu sepulangnya dari Jeddah, ketika itu musim Haji, kalau di pesawat orang-orang pada bawa air zam-zam, tapi dia hanya menenteng gitar kesayangannya. Dalam perjalanan dalampesawat dari Jeddah ke Indonesia, pengetahuan gitarnyasemakin bertambah. Ketika melihat ada seorang anak kecil bawa gitar dalam pesawat, hal tersebut membuat seorang pramugari heran.Pramugari itu lalu menghampirinya dan meminjam gitarnya. Tapi begitu baru akan memainkan, pramugari itu heran. Soalnya suara gitarnya fals."Kokkayak gini stem-annya?" tanyanya. Waktu itu meski sudah bisa sedikit-sedikit, Iwan kecil memang belum bisa nyetem gitar. Setelah membetulkan gitarnya, pramugari itu lalu mengajarinya memainkan lagu Blowing in the Wind-nya Bob Dylan.

Waktu sekolah di SMP 5 Bandung pun, Iwan juga mempunyai pengalaman menarik dengan gitar. Suatu ketika, seorang gurunya menanyakan apakah ada yang bisa memainkan gitar. Meski belum begitu pintar, tapi karena ada anak perempuan yang jago memainkan gitar, ia menawarkan diri. "Gengsi dong," pikirnya waktu itu. Maka jadilah ia pemain gitar di vokal grup sekolah.

Kegandrungan Iwan pada gitar terus berlanjut.Karna saat itu teman-teman sepermainannya juga suka memainkan gitar.Biasanya mereka memainkan lagu-lagu Rolling Stones.Melihat teman-temannya jago bermain gitar, Iwan jadi iri sendiri.Ia inginbisa main gitar seperti mereka. Daripada nggak diterima di pergaulan, sementara dia nggak bisa memainkan lagu-lagu Rolling Stones, dengan bermodalkan nekat lagi, Iwan memainkan lagunya sendiri.Biar jelek-jelek, yang penting lagu ciptaannya sendiri, pikirnya.

Untuk menarik perhatian dari teman-temannya, Iwan membuat lagu-lagu yang liriknya lucu, humor, bercanda-canda, merusak lagu orang. Mulailah teman-temannya pada ketawa mendengarkan lagunya.

Setelah merasa bisa bikin lagu, apalagi bisa bikin orang tertawa, timbul keinginan untuk mencari pendengar yang lebih banyak. Kalau ada hajatan, kawinan, atau sunatan, Iwan datang untuk menyanyi. Dulu manajernya, Engkos, yang merupakan tukang bengkel sepeda motor. Karena kerja di bengkel yang banyak didatangi orang, dia selalu tahu kalau ada orang yang punya hajatan.

Di SMP dia sudah merasakan betapa pengaruh musik begitu kuat.Mungkin karena merasa nggak punya uang, nggak dikasih kendaraan dari orang tua untuk jalan-jalan, akhirnya perhatiannya lebih banyak trcurah pada gitar.Sekolahnya pun mulai nggak benar.Sering bolos, lalu pindah sekolah.

Iwan merasakan gitar bisa menjawab kesepiannya. Apalagi ketika sudah merasa bisa bikin lagu, dapat duit dari ngamen, mulailah ia menjadi sombong.

44

Tetapi sesungguhnya semuanya itu dilakukan untuk mencari teman, agar diterima dalam pergaulan.

Suatu ketika ada orang datang ke Bandung dari Jakarta.Waktu itu Iwan baru sadar kalau ternyata lagu yang diciptakan sudah terkenal di Jakarta.Maksudnya sudah banyak anak muda yang memainkan lagunya itu.Malah katanya ada yang mengakui lagu ciptaannya itu.Sebelum bertemu orang Jakarta yang punya kenalan produser itu datang ke Bandung, Iwan sebetulnya sudah pernah rekaman di Radio 8 EH.Dia bikin lagu lalu diputar di radio itu.Tapi radio itu kemudian dibredel.Setelah kedatangan orang Jakarta itu, atas anjuran teman-temannya, ia pergi ke Jakarta. Waktu itu masih sekolah di SMAK BPK Bandung. Sebelum ke Jakarta ia sempat menjual sepeda motornya untuk membuat master. Iwan tidak sendirian. Dia bersama teman-teman dari Bandung: Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul. Mereka lalu rekaman.Tapi ternyata kasetnya tidak laku. Akhirnya, ia mulai ngamen lagi, kadang-kadang ikut festival. Setelah dapat juara di festival musik country , Iwan ikut festival lagu humor. Kebetulan dapat nomor.Oleh Arwah Setiawan (almarhum) lagu-lagu humornya lalu direkam, diproduseri Handoko.Nama perusahaannya ABC Records.dia rekaman ramai-ramai, bersama Pepeng (pembawa acara kuis Jari-jari, MC, dll yang sekarang lumpuh karena penyakit), Krisna, dan Nana Krip. Tapi rekaman ini pun tak begitu sukses.Tetap minoritas.Hanya dikonsumsi kalangan tertentu saja, seperti anak-anak muda.

Akhirnya Iwan rekaman di Musica Studio. Sebelum ke Musica, ia sudah rekaman sekitar 4 sampai 5 album. Setelah rekaman di Musica itu, musiknya

mulai digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani Willy Soemantri.

Setelah tinggal di Jakarta dan masuk studio rekaman, seorang Iwan Fals masih tetap ngamen dari rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget, Blok M. Tapi setelah di Jakarta ia mulai memikir honor. Karna soal honor ini mau nggak mau jadi salah satu pemacu juga. Apalagi sebagai anak muda, ia juga butuh pacaran, butuh nonton.Kebutuhan yang wajar bagi anak-anak mudalah.

Waktu itu namanya uang transport.Tapi kalau pas dadakan, biasanya gratis.Waktu ngamen Iwan nggak pilih-pilih tempat.Panggung hajatan, sunatan, nggak masalah.Lagu lagu yang dibawakan waktu ngamen pun biasanya lagu-lagu baru yang menceritakan masalah-masalah aktual yang terjadi di masyarakat.Dulu jarang sekali pemusik memainkan lagu-lagu country. Apalagi main gitar sama harmonika sekaligus, jarang. Kalau melihat tanggapan penonton, Iwanmerasa cukup positif.

Kalau mulai ngamen Iwan juga selalu bernyanyi dengan riang gembira, meski syairnya sedih. Prinsipnya, orang sedih kan boleh saja bergembira. Soalnya, dulu kalau ia membawakan lagu-lagu sedih, teman-temannya pada kabur semua.

Tanggapan untuk ngamen juga bertambah.Iwan mulai diundang ke mana-mana.Mungkin karena pengaruh album Sarjana Muda, musiknya ditangani oleh Willy Soemantri (waktu itu album ini sangat terkenal.Semua lagunya selalu dinyanyikan anak-anak muda).

46

Ketika itu penghasilan dari ngamen saja per hari pernah sampai 20 ribu rupiah.Sebab orang yang kita datangi ngasih uangnya bukan untuk ngusir.Kalau dihitung sekarang barangkali nilainya sampai 300 ribu.Tapi, ya namanya ngamen, tentu penghasilannya tidak pasti.Kalau diambil rata-rata sehari sekitar dua ribu rupiah. Berarti sebulan bisa 60 ribu.Jumlah yang cukup lumayan untuk ukuran waktu itu, di awal tahun 1980-an.

Pada saat itu orang nggak tahu siapa Iwan Fals. Meski sudah rekaman, dan kasetnya lumayan sangat laku, tapi orang kebanyakan hanya tahu nama nggak kenal wajah. Mungkin karena dia nggak pernah masuk televisi (TVRI).Kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987.Waktu siaran acara Manasuka Siaran Niaga di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI.Iwan benar-benar stop ngamen setelah lahir anak keduanya, Cikal yang lahir tahun 1985. Iwan Fals yang bernama asli Virgiawan Listanto adalah seorang legenda hidup Indonesia.Lewat lagu-lagunya, ia memotret kehidupan dan sosial-budaya di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya.Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya tetapi juga sejumlah pencipta lain.

Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya yang kritis.

Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.

Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar.Dia sangat dipuja oleh kaum 'akar rumput'.Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar di seluruh Nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuahyayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan “Oi”. Yayasan ini mewadahi aktifitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang “Oi” dapat ditemui setiap penjuru Nusantara dan beberapa bahkan sampai ke mancanegara.

Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang di dukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi.Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.

Iwan menikahi Rosanna (Mbak Yos) dan mempunyai anak Galang Rambu Anarki (almarhum), Annisa Cikal Rambu Basae, dan Rayya Rambu Robbani.Galang mengikuti jejak ayahnya terjun di bidang musik. Walaupun demikian, musik yang ia bawakan berbeda dengan yang telah menjadi trade mark

48

ayahnya. Galang kemudian menjadi gitaris kelompok Bunga dan sempat merilis satu album perdana menjelang kematiannya.

Nama Galang juga dijadikan salah satu lagu Iwan, berjudul Galang Rambu Anarki pada album Opini , yang bercerita tentang kegelisahan orang tua menghadapi kenaikan harga-harga barang sebagai imbas dari kenaikan harga BBM pada awal tahun 1981 yaitu pada hari kelahiran Galang (1 Januari 1981).

Nama Cikal sebagai putri kedua juga diabadikan sebagai judul album dan judul lagu Iwan Fals yang terbit tahun 1991.

Galang Rambu Anarki meninggal pada bulan April 1997 secara mendadak yang membuat aktifitas bermusik Iwan Fals sempat vakum selama beberapa tahun. Galang dimakamkan di pekarangan rumah Iwan Fals di desa Leuwinanggung Bogor Jawa Barat sekitar satu jam perjalanan dari Jakarta. Sepeninggal Galang, Iwan sering menyibukkan diri dengan melukis dan berlatih bela diri.

Pada tahun 2002 Iwan mulai aktif lagi membuat album setelah sekian lama menyendiri dengan munculnya album Suara Hati yang di dalamnya terdapat lagu Hadapi Saja yang bercerita tentang kematian Galang Rambu Anarki.Pada lagu ini istri Iwan Fals (Yos) juga ikut menyumbangkan suaranya.

Sedangkan lagu Besar dan Kecil ada pada album “Belum Ada Judul”.Iwan Fals menyebutnya sebagai Album Sendiri.Album yang sempat membuat terdiam sejenak.Terpesona.Lantas larut dalam dentingan dawai gitar dan alunan harmonika menyayat penuh makna.Album yang sepi namun ramai. Sepi, lantaran

Iwan Fals bernyanyi sendiri. Ramai, akibat tarian jemarinya ditiap senar gitar begitu riuh dengan denting riangnya berbaur desah nafas yang tertangkap celah harmonika yang tak jarang begitu menyayat.

Album yang memang tidak langsung begitu saja timbulkan minat kenikmatan dalam mendengarkannya.Semua lantaran kesenyapan secara tiba-tiba setelah rangkaian keriuhan album-album sebelumnya yang telah melarutkan suasana dalam hentakan jiwa pemberontakan pada keadaan sekitar.

Kehadiran album Belum Ada Judul (BAJ), memang tak serta merta mengembalikan sosok Iwan Fals selepas berkarya bersamanya yang hingar bingar kembali kepada masa lalu, masa kesederhanaan.BAJ adalah bentuk baru dari Iwan Fals setelah berproses begitu lama dalam perjalanan musiknya.Semua ini dapat

disimpulkan menilik lirik lagu-lagu yang ada dalam album

tersebut.Kesederhanaan yang terkadang rumit. Sangat berbeda dengan kesederhanaan di masa lalunya, yang dalam pemilihan kata-katanya terkesan lugas apa adanya, tanpa kalimat yang mesti dikupas terlebih dahulu untuk menemukan maknanya.Permainan kata-katanya tak sedikit mengalami perubahan. Semua dapat dirasakan ini akibat dari berproses, bukan kembali ke masa lalu.Tapi ini adalah pergerakan dan kekinian.

Berikut adalah 11 lagu yang ada didalam album Belum Ada Judul milik Iwan Fals:

50

2. Besar dan Kecil 2. Aku Disini

3. Ia atau Tidak 3. Mencetak Sawah

4. Mereka ada di jalan 4. Panggilan dari Gunung

5. Potret 5. Coretan Dinding

6. Dimata Air Tidak Ada Air Mata

4.2. Penyajian dan Pemaknaan Data

Dokumen terkait