BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
Berdirinya kantor pelayanan pajak (KPP) di seluruh Indonesia didirikan atas dasar hukum. Pada mulanya KPP di seluruh indonesia bernama kantor inspeksi pajak yang bertugas memungut pajak di sekitar Provinsi yang bersangkutan pada tahun 1925. Untuk menampung penghasilan negara dalam bidang perpajakan, maka pemerintah paada tahun 1953 mendirikan sebuah kantor yang bertugas untuk mengatur kekayaan negara di bidang perpajakan yang diberi nama “Inspectie Van Financjen”.
Sejak kemerdekaan nama tersebut masih di pakai beberapa tahun lamanya tetapi nama tersebut dipandang tidak sesuai lagi di zaman kemerdekaan, maka pada tahun 1959 diganti menjadi Kantor Inspeksi Keuangan dan secara nasional menjadi Direktorat Jendral Pajak sedangkan untuk daerah Tingkat I dengan nama Kantor Inspeksi Pajak.
Pada tahun 1958 nama inspeksi keuangan diganti menjadi inspeksi pajak, demikian pula wilayahnya yang semakin luas dan perekonomiam yang berkembang seperti daerah Sulawesi maka dirasa perlu untuk dipisahkan menjadi dua bagian yaitu:
a. Kantor Inspeksi Makassar, meliputi Provinsi Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara (SULSELBARTRA)
b. Kantor Inspeksi Manado, meliputi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah.
Pada tahun 1989 nama kantor inspeksi pajak diganti menjadi Kantor Pelayanan Pajak sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: KEP/276/kmk01/1989 Tanggal 24 Maret 1989. Untuk mengawasi para Wajib Pajak yang tersebar di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, maka dibangunlah Kantor Dinas Luar pada Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II. Untuk wilayah Makassar sendiri terdapat beberapa Kantor Pelayanan Pajak dan untuk penelitian ini dilaksanakan di KPP Pratama Makassar Barat yang berlokasi di jalan Balaikota No. 15, Baru, kec. Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90111
Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah wajib pajak orang pribadi yang terdaftar di KPP Pratama Makassar Barat. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2019 sampai dengan Agustus 2019. Jumlah wajib pajak yang terdaftar di KPP Pratama Makassar Barat sebanyak 64958 wajib pajak, dengan mengambil sampel responden sebanyak 100 orang.
Dalam penarikan sampel dihitung menggunakan Metode Convenience sampling adalah pengambilan sampel didasarkan pada ketersediaan elemen dan kemudahan untuk mendapatkannya. Sampel yang diambil/dipilih karena sampel tersebut ada pada tempat dan waktu yang tepat yaitu wajib pajak yang terdaftar di KPP Pratama Makassar Barat. Peneliti telah menyebarkan sebanyak 100 kuesioner yang dilakukan dengan mendatangi satu-satu objek pajak yang terdaftar di KPP
Pratama Makassar Barat. Semua kuesioner telah dikembalikan dan semuanya dapat diolah lebih lanjut.
Didalam kuesioner terdapat karakteristik profil responden yang dapat digunakan untuk mengkategorikan responden berdasarkan jenis kelamin, usia, lama menjadi wajib pajak, tingkat pendidikan, dan pengetahuan Pajak.
B. Deskripsi Data dan Responden
Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari KPP Pratama Makassar Utara pada periode 2015-2018. KPP Pratama Makassar Barat membawahi empat kecamatan yang ada di Makassar yaitu Kecamatan Tamalate, Kecamatan Mamajang, Kecamatan Mariso, Kecamatan Ujung Pandang. Data yang diperoleh dari KPP Pratama Makassar Barat yaitu data jumlah wajib pajak orang pribadi yang terdaftar dan wajib pajak orang pribadi yang menyampaikan SPT periode 2015 - 2018. Kuesioner yang disebarkan sebanyak 100 kuesioner, sehingga jumlah observasi (n) dalam penelitian ini adalah 100 responden wajib pajak orang pribadi. Sebelum membahas pembuktian dari hipotesis dalam penelitian, secara deskriptif akan dijelaskan mengenai kondisi masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain kepatuhan wajib pajak orang pribadi, pengetahuan peraturan perpajakan, kesadaran wajib pajak, dan sanksi perpajakan.. Kuesioner terdiri dari 20 pertanyaan, terdapat 4 pertanyaan untuk variabel Pengetahuan peraturan perpajakan (X1), 4 pertanyaan untuk variabel Kesadaran wajib pajak (X2), 4 pertanyaan untuk variabel Sanksi Perpajakan (X3), dan 4 pertanyaan untuk variabel kepatuhan wajib pajak orang pribadi (Y). Deskripsi responden dalam penelitian dapat dilihat dari demografi
responden yang meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan. Berikut adalah tabel 4.1 yang menunjukkan deskripsi responden wajib pajak orang pribadi KPP Pratama Makassar Barat.
Tabel 4.1
Deskripsi Karakteristik Responden Wajib Pajak Orang Pribadi
Data Responden Keterangan Jumlah Persentase
Jenis kelamin Laki – laki 57 57%
Perempuan 43 43%
Sumber: data primer yang diolah (2019)
Berdasarkan Tabel 4.1. maka dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (57%), sisanya 43% berjenis kelamin perempuan. Dilihat dari usianya, sebagian besar responden berusia antara 20 hingga 30 tahun (36%). Sementara itu sebanyak 29% responden berusia antara 31 hingga 40 tahun, 23% berusia antara 41-50 tahun , dan sisanya yaitu 12% berusia diatas 50 tahun. Berdasarkan tingkat pendidikannya dapat diketahui bahwa
sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan terakhir S1 (36%), 34%
berpendididikan SMU, 16% berpendidikan D3, 11% berpendidikan S2, 3%
berpendidikan S3. Dilihat dari pekerjaan, sebanyak 43% responden memiliki pekerjaan sebagai pegawai swasta, 34% responden memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta, 16% responden memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri, dan sebesar 7% responden memiliki pekerjaan jasa profesi.
C. Analisis dan Interpretasi a. Analisis Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan suatu data secara statistik. Statistik deskriptif dalam penelitian ini merujuk pada nilai rata-rata (mean) dan simpanan baku (standar deviation), nilai minimum dan maksimum serta dari seluruh variabel dalam penelitian ini yaitu Kepatuhan Personal (Y), Pengetahuan Peraturan Perpajakan (X1), Kesadaran Wajib Pajak (X2), dan Sanksi Pajak (X3).
Kepatuhan Wajib Pajak 100 11 20 1618 16.18 1.951
Pengetahuan
Peraturan Perpajakan
100 12 20 1625 16.25 2.052
Kesadaran Wajib Pajak 100 10 20 1557 15.57 2.061
Sanksi Perpajakan 100 11 20 1623 16.23 1.906
Valid N (listwise) 100
Sumber: Data yang diolah dengan SPSS
Berdasarkan Tabel 4.1 diatas diketahui jumlah data keseluruhan dalam penelitian ini adalah 100. Dan tidak ada missing variabel dalam penelitian, yang berarti semua variabel dapat di uji. Dan dari hal tersebut dapat diketahui variabel Kepatuhan Wajib Pajak memiliki nilai minimum dan maksimum antara 11–20 dengan nilai rata-rata 16.18. Variabel Pengetahuan Peraturan Perpajakan memiliki nilai minimum dan maksimum antara 12–20 dengan nilai rata-rata 16.25. Variabel Kesadaran Wajib Pajak memiliki nilai minimum dan maksimum antara 10–20 dengan nilai rata-rata 15.57. Variabel Sanksi Perpajakan memiliki nilai minimum dan maksimum antara 11 – 20 dengan nilai rata-rata 16.23.
b. Uji Kualitas Data 1) Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dipercaya atau dapat diandalkan. Pengujian ini dilakukan dengan menghitung koefisien cronbach’s alpha dari masing – masing instrumen dalam suatu variabel. Instrumen dapat dikatakan reliabel apabila memiliki nilai cronbach’s alpha lebih dari 0,60 dikemukakan oleh Ghozali (Aryobimo, 2012).
Berikut adalah hasil uji reliabilitas atas variabel-variabel penelitian yang diolah dengan menggunakan SPSS Statistics 20.
Tabel 4.3 Hasil Uji Reliabilitas
Variabel Cronbach's alpha Ket.
Pengetahuan Peraturan 0,787 Reliabel
Perpajakan
Kesadaran Wajib Pajak 0,761 Reliabel
Sanksi Perpajakan 0,813 Reliabel
Kepatuhan Wajib Pajak 0,815 Reliabel
Sumber: Data primer yang diolah (2019)
a. Berdasarkan hasil uji reabilitas yang dilakukan dengan menggunakan program SPSS 20, didapat bahwa hasil koefisien cronbach alpa untuk Pengetahuan peraturan perpajakan dan Kesadaran wajib pajak, hasil koefisien cronbach alpa lebih besar dari 0,60 yaitu antara 0,60-0,77.
Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat reabilitas cukup baik dan data dapat diterima. Sedangkan untuk variabel Sanksi pajak dan Kepatuhan wajib pajak, hasil koefisien cronbach alpa lebih besar dari 0,80. Hal itu menunjukkan bahwa tingkat reabilitas data baik dan dapat diterima.
C. Uji Asumsi Klasik 1) Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data sampel dalam penelitian ini telah terdistribusi secara normal. Model yang tinggi adalah yang memiliki ditribusi data yang normal atau mendekati normal (Ghozali, 2011). Hasil uji normalitas data dengan menggunakan analisis histogram yaitu grafik yang berbentuk lonceng hal ini berarti data berkompetensi normal. Analisis grafik dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 1 Grafik Histogram
Uji normalitas betujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Pada Gambar di atas dapat diketahui bahwa tampilan histogram terlihat memenuhi asumsi uji normalitas. Histogram menunjukkan pola distribusi normal dan berbentuk lonceng.
2) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independent). Model regresi yang tinggi seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel bebas.
Untuk mendeteksi gejala Multikolinearitas dilakukan dengan cara melihat nilai (VIF) Variance Inflation Factor (Ghozali, 2011). Pada perhitungan ini
tidak ada satupun variabel independen yang memiliki VIF lebih dari 10, maka data ini bebas dari Multikolinearitas. Sedangkan berdasarkan nilai tolerance tidak ada satupun variabel independen yang memiliki tolerance lebih dari 0,1. Untuk hasil selengkapnya dapat dilihat dari tabel diatas:
Tabel 4.4 Hasil Uji Multikolinearitas
Variabel Independen Tolerance VIF
Pengetahuan Peraturan Perpajakan 0,774 1,291
Kesadaran Wajib Pajak 0,766 1,306
Sanksi Perpajakan 0,962 1,039
Sumber: Hasil Output data, 2019
Nilai VIF untuk masing-masing variabel independen dalam persamaan memiliki nilai kurang dari 10 dan nilai tolerance lebih besar dari 0,10 maka semua variabel dalam model tidak terkena masalah multikolinearitas. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semua variabel bebas tidak mepunyai korelasi yang sangat kuat.
3) Uji Heteroskedastisitas
Pengujian ini digunakan untuk melihat apakah variabel penganggu mempunyai varian yang sama atau tidak.
Gambar 4.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas
Dari gambar diatas dapat diketahui bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas sebab tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, sehingga dapat dikatakan uji heterokedastisitas terpenuhi.
d. Uji Hipotesis
1. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R Square) digunakan seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen. Nilai determinasi ditentukan dengan niai R square untuk regresi sederhana dan Adjusted R square untuk regresi berganda. Berdasarkan pengolahan data menggunakan SPSS 24, diperoleh nilai koefisien determinasi berikut:
Tabel 4.5 Hasil Uji Koefisien Determinasi besarnya pengaruh variabel Pengetahuan Peraturan Perpajakan (X1), Kesadaran Wajib Pajak (X2), Sanksi Perpajakan (X3) terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Y). Berdasarkan tabel di atas nilai R Square menunjukkan angka 0,321× 100% = 32.1%.
2) Uji t
Tabel 4.6 Hasil Uji t
Sumber: Output SPSS 24 (Data Kuesioner, diolah)
Pada tabel di atas menunjukkan bahwa variabel X yaitu Pengetahuan Peraturan Perpajakan (X1) mempunyai tingkat signifikan 0,05 = 0,05 dan
Model
1 (Constant) 5.697 1.792 3.180 .002
Pengetahuan
Sanksi Perpajakan .043 .079 .046 .537 .593
koefisien β = 0.241 hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan perpajakan berpengaruh terhadap kepatuhan personal dalam membayar pajak, sehingga semakin tinggi tingkat pengetahuan pajaknya maka kepatuhan terhadap pembayaran pajak semakin tinggi. Kesadaran Wajib Pajak (X2) mempunyai tingkat signifikan 0,00 < 0,05 dan koefisien β = 0,367 hal ini menunjukkan bahwa kesadaran wajib pajak semakin tinggi maka tingkat kepatuhan dalam membayar pajak juga semakin tinggi. Sanksi Pajak (X3) mempunyai tingkat signifikan 0,514 > 0,05 dan koefisien β = 0,043.
Sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi sanksi pajak yang diberikan kepada para wajib pajak maka semakin rendah juga tingkat kepatuhan mereka dalam membayar pajak.
e. Uji Analisis Regresi Liniear Berganda
Pengujian analisis regresi linier berganda dilakukan dengan menguji model persamaan regresi secara parsial masing-masing variabel bebas terhadap variabel independen. Hasil pengujian tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 4.7 Hasil Uji Liniear Berganda
Berdasarkan tabel 4.7 diatas persamaan regresi yang didapat adalah :
Y= 5,697 + 0,241X1+ 0,367X2+ 0,043X3+e Ket :
Y : Kepatuhan Wajib Pajak a : Konstanta
b1-b3 : Koefisien regresi dari setiap variabel Independen.
X1 : Pengetahuan Perpajakan
Ֆ (Constant) 5.697 1.792 3.180 .002
Pengetahuan Peraturan Perpajakan
.241 .093 .247 2.583 .011 .774 1.29
1
Kesadaran Wajib Pajak
.367 .089 .395 4.113 .000 .766 1.30
6 Sanksi
Perpajakan
.043 .079 .046 .537 .593 .962 1.03
9 Sumber: Output SPSS 24 (Data Koesoner, diolah)
X3 : Sanksi Pajak f. Interpretasi
1) Pengaruh Pengetahuan Perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Berdasarkan hasil uji hipotesis dinyatakan bahwa nilai signifikansi uji t-statistic sebesar 0,005 (sama besar dari 0.05) dan nilai koefisien sebesar 0, 241. Jadi pada Hipotesis H1 dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Pengetahuan Peraturan Perpajakan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi.
penelitian yang dilakukan oleh Sari Viega (2017), dan Rahayu (2017) yang menyatakan Pengetahuan Peraturan Perpajakan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Serta menurut Mustofa, Kertahadi, dan Mirza (2016) yang menyatakan pemahaman peraturan perpajakan secara parsial dan simultan berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.
2) Kesadaran Wajib Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Berdasarkan hasil uji hipotesis dinyatakan bahwa Kesadaran Wajib Pajak (KWP) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak, dikarenakan nilai signifikansi uji t-statistic lebih kecil daripada 0.05, 0.00 < 0.05 dengan nilai koefisien sebesar 0.367 yang berarti telah memenuhi kriteria signifikan dan terdapat pengaruh positif dan signifikan.
Hasil penelitian ini berhubungan dengan Teori Perilaku Rencanaan pada Behavioral Beliefs, Behavioral Beliefs relevan untuk menjelaskan perilaku wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Sebelum
individu melakukan sesuatu, individu tersebut akan memiliki keyakinan mengenai hasil yang akan diperoleh dari perilakunya tersebut. Kemudian yang bersangkutan akan memutuskan bahwa akan melakukannya atau tidak melakukannya. Hal tersebut berkaitan dengan kesadaran wajib pajak.
Wajib pajak yang sadar pajak, akan memiliki keyakinan mengenai pentingnya membayar pajak untuk membantu menyelenggarakan pembangunan negara (Behavioral Beliefs), Arum (2012).
Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian oleh Rohmawati dan Rasmini (2012) dan Wicaksono Ready (2015) yang menyatakan sanksi pajak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.
Dan bertentangan dengan penelitian yang dilakukan Tambun dan Eko Witriyanto (2016) menunjukkan kesadaran wajib pajak berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak.
3) Sanksi Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Berdasarkan hasil uji hipotesis dinyatakan bahwa Sanksi Pajak (SP) tidak berpengaruh terhadap Kepatuhan Wajib Pajak, dikarenakan nilai signifikansi uji t-statistic lebih besar dari pada 0.05 dengan nilai koefisien sebesar 0.043 yang berarti tidak memenuhi kriteria signifikan.
Sanksi perpajakan yang sudah diberikan secara tegas belum menunjukkan peningkatan terhadap tingkat kepatuhan. Sanksi yang sudah diatur yaitu sanksi administrasi yang meliputi denda administrasi, bunga dan kenaikan. Selain sanksi administrasi ada pula sanksi pidana yang meliputi denda pidana, pidana kurungan dan pidana penjara. Sanksi
tersebut dapat dikenakan kepada wajib pajak yang tidak membayarkan pajaknya tepat waktu, tidak mengisi SPT secara jujur dan tidak menyampaikan SPT tepat waktu. Jadi dapat disimpulkan bahwa sanksi perpajakan belum diterapkan secara tegas kepada wajib pajak yang tidak taat aturan, sehingga wajib pajak tidak merasa jera atas pelanggaran yang sudah mereka lakukan. Hasil penelitian ini didukung oleh (Maryati, 2014) yang menyatakan bahwa sanksi perpajakan tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan oleh penulis, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Pengetahuan Peraturan Perpajakan berpengaruh terhadap Kepatuhan Wajib Pajak di KPP Pratama Makassar Barat. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan wajib pajak yang terdaftar di KPP Pratama Makassar Barat mengenai perpajakan sudah memenuhi pengetahuan wajib pajak tentang informasi perpajakan. Wajib pajak yang tidak memahami pentingnya perpajakan guna kemajuan negara, maka akan dengan seenaknya untuk tidak melakukan kewajiban perpajakannya. Semakin banyak wajib pajak yang tidak memahami peraturan perpajakan, maka semakin banyak wajib pajak yang enggan memenuhi kewajibannya.
2. Kesadaran Wajib Pajak berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak di KPP Pratama Makassar Barat. Hal ini menunjukkan bahwa wajib pajak memiliki kesadaran yang tinggi untuk melakukan perpajakannya. Karena jika semakin tinggi kesadaran wajib pajak maka semakin tinggi pula tingkat kepatuhan wajib pajak.
3. Sanksi Pajak tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Wajib pajak akan mematuhi pembayaran pajak apabila memandang atau menilai sanksi
atau denda yang diterima akan lebih banyak merugikannya wajib pajak itu sendiri. Semakin banyak sisa tunggakan pajak yang harus dibayar wajib pajak, maka akan semakin berat bagi wajib pajak untuk melunasinya. Hal ini menunjukan bahwa peraturan yang tegas akan membuat usaha kecil menengah untuk patuh dan melaksanakan kewajiban pajaknya.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian serta hal-hal terkait dengan keterbatasan penelitian, maka terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :
1. Saran untuk wajib pajak di KPP Pratama Makassar Barat agar dapat lebih ikut berperan serta kepada negara dengan cara menjadi wajib pajak yang taat, patuh, dan transparan terhadap peraturan perpajakan dan ikut dalam kegiatan sosialisasi yang diberikan oleh pemerintah. karena dengan meningkatnya kepatuhan Wajib Pajak, maka kesejahteraan warga negara juga akan meningkat
2. Sebaiknya untuk KPP Pratama Makassar Barat agar dapat lebih meningkatkan lagi kinerja pelayanan agar wajib pajak tidak memiliki persepsi yang tidak baik terhadap pelayanan dan juga lebih sering lagi dilakukannya sosialisasi perpajakan, bukan hanya saat adanya perbaruan undang-undang saja namun sebaiknya secara rutin diadakan sosialisasi pajak agar wajib pajak lebih paham dan mengerti arti pentingnya perpajakan untuk suatu pembangunan.
3. Bagi peneliti selanjutnya dapat menambahkan variabel lainnya sehingga untuk selanjutnya dapat ditemukan variabel baru yang akan mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak. Selain itu, disarankan untuk melakukan observasi
penelitian yang lebih banyak sehingga data yang dihasilkan akan lebih akurat dan memungkinkan untuk dilakukan generalisasi
Andinata, Monica Claudia. (2015). Analisis Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Membayar Pajak (Studi Kasus Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surabaya Rungkut di Surabaya). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya, Vol.4 No.2.
Andinata, Monica Claudia. (2015). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Membayar Pajak (Studi pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surabaya Rungkut di Surabaya). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya, Volume 4, Nomor 2.
Arum, Harjanti Puspa. (2012). Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Pelayanan Fiskus, dan Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Yang Melakukan Kegiatan Usaha dan Pekerjaan Bebas (Studi Wilayah KPP Pratama Cilacap).
Diponegoro Journal Of Accounting, Vol.1, Nomor 1.
Ashifa, Najla. (2016). Pengaruh motivasi, sikap rasional dan persepsi baik tentang sistem perpajakan terhadap kepatuhan membayar pajak penghasilan (studi empiris terhadap wajib pajak orang pribadi di kpp pratama kalimantan barat). Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Bandura, Albert. 1977. Social Learning Theory. Prentice-Hall, Inc., New Jersey.
Chin, W. W. (1998). The partial least squares approach to structural equation modeling. Dalam Modern Methods for Business Research, Ed. G. A. Marcoulides, Lawrence Erlbaum Associates , New Jercy : pp. 295–358.
Direktorat Jenderal Pajak Kementrian Keuangan. (2017, Juli 17). Inklusi Kesadaran Pajak:Investasi Masa Depan. Diambil kembali dari
http://www.pajak.go.id/content/article/inklusi-kesadaran-pajak-investasimasa-depan.
Direktorat Jenderal pajak, Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan tata Cara Perpajakan.
Fahluzy, Septian Fahmi., & Linda Agustina. (2014). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Membayar Pajak UMKM Di Kabupaten Kendal.
Accounting Analysis Journal, Volume 3, Nomor 3, ISSN: 2252-6765.
Geisser, J.R. (1975). The Predictive Sample Reasue Method with Application.
Journal of The American Statistical Assosiation, 70.320-328.
Ghozali, Imam, Hengky Latan. (2015). Konsep, Teknik, Aplikasi Menggunakan Smart PLS 3.0 Untuk Penelitian Empiris. BP Undip. Semarang
Husnurrosyidah. (2016). Pengaruh Tax Amnesty dan Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Pajak Di Bmt Se-Karesidenan Pati. Jurnal Ekonomi Syariah, Volume 4, Nomor 2, ISSN: 2355-0228.
Imelda, Bona., & Hariyanto. (2016). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Studi pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang). Diponegoro Journal Of Accounting, Volume 3, Nomor 2, ISSN: 2337-3806.
Inne Nidya astuti. (2015). Analisis Penerapan E-Filling Sebagai Upaya Meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Gresik Utara. Jurnal Akuntansi UNESA, Vol.3, No.3.
Kemenkeu. (2018, Oktober 21). Menkeu Nilai Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Indonesia Rendah. Diambil kembali dari
https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/menkeu-nilai-tingkatkepatuhan-wajib-pajak-indonesia-masih-rendah/.
Laporan Kinerja (LAKIN) Direktorat Jendral Pajak (2016)
Mardiasmo. (2016). Perpajakan Edisi Terbaru 2016. Yogyakarta: Andi.
Mardiasmo. 2013. Perpajakan Edisi Revisi, Andi Offset, Yogyakarta
Mustofa, Fauzi Achmad., Kertahadi., & Mirza Maulihardi R. (2014). Pengaruh Pemahaman Peraturan Perpajakan, Tarif Pajak, dan Asas Keadilan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (Studi pada wajib pajak UMKM yang berada Di Wilayah Kerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Batu Setelah DiberlakukannyaPemerintah Nomor 46 Tahun 2013). Jurnal Perpajakan (JEJAK), Volume 8, Nomor 1, 2016.
Nurhakim, Tifani., & Dudi Pratomo. (2015). Pengaruh Pemahaman Wajib Pajak dan Kualitas Pelyanan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Badan (Studi Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tasikmalaya). Jurnal Akuntansi, Vol.2, No.3, ISSN: 2355-9357.
Nurlis, Islamiah Kamil. (2015). The Effect of Taxpayers Awareness, Knowledge, Tax Penalties and Tax Authorities Services on the Tax Complience (Survey on the Individual Taxpayers at Jabodetabek & Bandung). Research Journal of Finance and Accounting, Vol 6, No.2.
Oktamanora, Fina. (2017). Pengaruh Penerapan Sistem E-Filling, Kualitas Pelayanan Fiskus, Tingakt Pemahanan Perpajakan dan Kesadaran Wajib Pajak, Pengetahuan Peraturan Perpajakan dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Studi Kasus Pada KPP Pratama Jakarta Tanah Abang Tiga). Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu buana (tidak dipublikasikan). Jakarta.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2013 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.
Pranadata, I Gede Putu. 2014. Pengaruh Pemahaman wajib pajak, kualitas pelayanan pajak dan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajjib pajak orang pribadi pada KPP Pratama Batu Malang. Jurnal. Universitas Brawijaya Malang.
Rahayu, Nurulita. (2017). Pengaruh Pengetahuan Perpajakan, Ketegasan Sanksi Pajak, dan Tax Amnesty Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak. E-Jurnal Univesitas Sarjanawiyata TamanSiswa, Akuntansi Dewantara, Vol.1, No.1, ISSN: 2550-0376.
Rahayu, Siti Kurnia. (2010). Perpajakan Indonesia: Konsep dan Aspek Formal.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Resmi, Siti. (2016). Perpajakan: Teori dan Kasus. Jakarta: Salemba Empat.
Rohmawati, Alifa Nur., & Ni Ketut Rasmini. (2012). Pengaruh Kesadaran, Penyuluhan, Pelayanan, dan Sanksi Perpajakan Pada Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, ISSN: 2302-8556.
Nama : Ayu Regita Cahyani
Tempat, Tanggal Lahir : Ujung Pandang, 25 Juli 1997
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat Rumah : Jalan Arif Rahman Hakim No.124
Alamat Rumah : Jalan Arif Rahman Hakim No.124