• Tidak ada hasil yang ditemukan

Muhammadiyah

Sejarah Berdirinya IPM, Visi dan Misi IPM, Tujuan IPM, Struktur Organisasi IPM

BAB IV Analisis Komunikasi Organisasi dalam Pengembangan Kepemimpinan di SMU Muhammadiyah 4 Jakarta

Bentuk Pelaksanaan Komunikasi Organisasi dalam Pengembangan Kepemimpinan di SMU Muhammadiyah 4 Jakarta, Metode dan Materi yang diberikan untuk mengembangkan kepemimpinan para anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah, pengaruh yang terjadi pada anggota setelah mengikuti kegiatan-kegiatan Ikatan Pelajar Muhammadiyah BAB V Penutup

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Komunikasi Organisasi

1. Pengertian Komunikasi Organisasi

Menurut KBBI, pengertian komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.7 Sedangkan pengertian organisasi adalah kelompok kerjasama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama.8

Komunikasi menurut istilah yaitu proses kegiatan manusia yang diungkapkan melalui bahasa lisan dan tulisan, gambar-gambar, isyarat, bunyi-bunyian dan bentuk kode lain yang mengandung arti dan dimengerti oleh orang lain.9 Ahli komunikasi Katz dan Khan menegaskan bahwa komunikasi adalah suatu proses sosial yang mempunyai relevansi terluas didalam memfungsikan setiap kelompok, organisasi atau masyarakat.10

Organisasi menurut Everett Rogers adalah suatu sistem individu yang stabil yang bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama lewat suatu struktur hirarki dan pembagian kerja.11

7

Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h.585.

8

Ibid., h.803.

9

YS. Gunadi, Himpunan Istilah Komunikasi (Jakarta: Grasindo, 1998), h.69.

10

Daniel Katz dan Robert L.Khan, The Social Psychology of Organization (New York: Wiley, 1966), h.223.

11

Miftah Thoha, Perilaku Organisasi (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2002), cet ke-13, h.162.

Sedangkan Sondang P. Siagian menyatakan organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama, dan terikat secara formal dalam satu ikatan hirarki di mana selalu terdapat hubungan antara seorang atau sekelompok orang yang disebut pimpinan dan seorang atau sekelompok orang yang disebut bawahan.12

Organisasi juga dapat disebutkan sebagai sekumpulan orang yang tunduk pada kesepakatan bersama untuk mengadakan kerjasama dan interaksi guna mencapai tujuan bersama, dalam rangka keterbatasan sumberdaya manusia dan sumber materil.

Pengertian komunikasi organisasi menurut ahli Komunikasi Redding dan Sanborn seperti dikutip Arni Muhammad mengatakan bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks.13

Sedangkan Zelko dan Dance seperti dikutip Arni Muhammad mengatakan bahwa komunikasi organisasi adalah suatu sistem yang saling tergantung yang mencakup komunikasi internal dan komunikasi eksternal14. Kemudian bersama Lesikar, mereka menambahkan satu dimensi lagi dari komunikasi organisasi yaitu dimensi komunikasi pribadi diantara sesama anggota organisasi yang berupa pertukaran secara informasi mengenai informasi dan perasaan diantara sesama anggota organisasi.

12

Sondang P. Siagian, Peranan Taf dan Management (Jakarta: Gunung Agung, 1976), cet ke-1, h.20.

13

Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), cet ke-8, h.65.

14

Meskipun bermacam-macam persepsi dari para ahli komunikasi mengenai pengertian dari komunikasi organisasi ini tapi ada beberapa hal yang secara umum dapat disimpulkan yaitu :

a) Komunikasi organisasi terjadi dalam suatu sistem terbuka yang kompleks yang dipengaruhi oleh lingkungannya sendiri baik internal maupun eksternal.

b) Komunikasi organisasi meliputi pesan dan arusnya, tujuan, arah dan media.

c) Komunikasi organisasi meliputi orang dan sikapnya, perasaannya, hubungannya dan keterampilan/skilnya.

Komunikasi sangat berperan dalam suatu organisasi. Karena organisasi itu sendiri merupakan sekumpulan orang-orang yang selalu membutuhkan berkomunikasi dengan sesama anggota organisasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Apabila ditinjau dari segi proses pencapaian tujuan, akan terlihat dengan sangat jelas bahwa komunikasi yang efektif menunjukkan pengaruh yang sangat besar dan bahkan bersifat menentukan.15

Untuk membedakan komunikasi organisasi dengan komunikasi yang ada di luar komunikasi adalah struktur hirarki yang merupakan karakteristik dari setiap organisasi. Kalau dalam organisasi dikenal adanya susunan organisasi formal dan informal, maka komunikasinya pun dikenal dengan komunikasi formal dan informal. Komunikasi organisasi formal mengikuti jalur hubungan formal yang tergambar dalam susunan atau struktur organisasi.

15

Sondang P. Siagian, Organisasi, Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi (Jakarta: Gunung Agung, 1985), cet ke-3, h.109.

Adapun komunikasi organisasi informal, arus informasinya sesuai dengan kepentingan dan kehendak masing-masing pribadi yang ada dalam organisasi tersebut.16

2. Fungsi Organisasi

Organisasi mempunyai beberapa fungsi diantaranya adalah: a. Memenuhi Kebutuhan Pokok Organisasi

Setiap organisasi mempunyai kebutuhan pokok masing-masing dalam rangka kelangsungan hidup organisasi tersebut. Kadang-kadang beberapa organisasi memerlukan barang-barang yang berharga, tenaga kerja yang rajin dan terampil, gedung yang bersih dan lengkap peralatannya. Semuanya ini merupakan tanggung jawab organisasi untuk memenuhinya dan tanggung jawab anggotalah yang membantu organisasi dalam menentukan barang-barang yang diperlukan.

b. Mengembangkan Tugas dan Tanggung Jawab

Kebanyakan organisasi bekerja dengan bermacam-macam standar etis tertentu. Ini berarti bahwa organisasi harus hidup sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh organisasi maupun standar masyarakat dimana organisasi itu berada. Standar ini memberikan organisasi satu set tanggung jawab yang harus dilakukan oleh para anggota organisasi, baik itu ada hubungannya dengan produk yang mereka buat maupun tidak.

16

Miftah Thoha, Perilaku Organisasi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h.163-164.

Selain adanya tanggung jawab yang karena adanya standar yang perlu diikuti ada pula tanggung jawab yang diberikan oleh pemerintah berupa undang-undang.

c. Memproduksi Barang atau Orang

Fungsi utama dari organisasi adalah memproduksi barang atau orang sesuai dengan jenis organisasinya. Semua organisasi mempunyai produknya masing-masing. Efektivitas proses produksi banyak tergantung kepada ketepatan informasi.

Orang-orang dalam organisasi harus mendapatkan dan mengirimkan informasi kepada bagian-bagian yang memerlukannya sehingga aktivitas organisasi berjalan dengan lancar. Penyampaian dan pemeliharaan informasi memerlukan proses komunikasi. Oleh karena itu informasi juga tergantung kepada keterampilan berkomunikasi. d. Mempengaruhi atau dipengaruhi orang

Sebenarnya suatu organisasi digerakkan oleh orang. Orang yang membimbing, mengelola, mengarahkan dan menyebabkan pertumbuhan organisasi. Orang yang memberikan ide-ide baru, program baru dan arah yang baru.

Orang sebagai anggota organisasi maupun sebagai pemakai jasa organisasi, dipengaruhi oleh organisasi. Sebaliknya organisasi juga dipengaruhi oleh orang. Suksesnya suatu organisasi tergantung kepada kemampuan dan kualitas anggotanya dalam melakukan aktivitas organisasi.

Agar suatu organisasi dapat terus berkembang organisasi hendaknya memilih anggota organisasi yang diperlukannya yang mempunyai kemampuan yang baik dalam bidangnya dan juga memberikan kesempatan kepada seluruh anggota untuk mengembangkan diri mereka masing-masing.17

3. Bentuk-Bentuk Komunikasi Organisasi

Komunikasi dalam organisasi tidak terlepas dari bentuk komunikasi internal dan komunikasi eksternal. Betapa pentingnya komunikasi internal dalam membina manusia dalam suatu organisasi, di mana masing-masing individu anggota organisasi memiliki berbagai kepentingan, namun menjadi suatu kesatuan dengan adanya kepentingan bersama.

Deddy Mulyana, Ph.D menawarkan lingkup kajian komunikasi organisasi sebagai berikut: komunikasi organisasi terjadi dalam suatu organisasi, bersifat formal dan juga informal, dan berlangsung dalam suatu jaringan yang lebih besar dari pada komunikasi kelompok. Komunikasi organisasi seringkali melibatkan juga komunikasi diadik, komunikasi antar pribadi, dan ada kalanya juga komunikasi publik. Komunikasi formal adalah komunikasi menurut struktur organisasi, yakni komunikasi ke bawah, komunikasi ke atas, dan komunikasi horizontal. Sedangkan komunikasi informal tidak bergantung pada struktur organisasi, seperti komunikasi antar sejawat, juga termasuk gosip.18

a. Komunikasi Internal

Komunikasi internal adalah pertukaran gagasan diantara para administrator dan karyawan mereka dalam suatu perusahaan atau jawatan tersebut, lengkap dengan strukturnya yang khas (organisasi), dan pertukaran gagasan secara horisontal dan vertikal di dalam suatu

17

Ibid., h.32-35.

18

Deddy Mulyana, Ph.D, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2000), h.75.

perusahaan atau jawatan yang menyebabkan pekerjaan berlangsung (operasi dan manajemen) (Brennan, dalam Effendy, 1984:155).

Atau penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan yang terjadi di dalam suatu ruang lingkup organisasi yang berstruktur.

• Komunikasi Horizontal

Komunikasi horizontal adalah komunikasi yang mengalir melintasi berbagai fungsi dalam organisasi.19 Bentuk komunikasi ini diperlukan untuk mengkoordinasi berbagai fungsi organisasi.

Komunikasi horizontal adalah berbagai informasi diantara rekan sejawat dalam unit pekerjaan yang sama.20

• Komunikasi Vertikal

Komunikasi Vertikal terdiri dari downward communication

dan upward communication. Downward communication adalah infomasi yang berlangsung secara formal dari seseorang yang memiliki wewenang atau kedudukan lebih tinggi (atasan) kepada orang lain yang kedudukannya lebih rendah (bawahan).

Upward communication adalah komunikasi yang mengalir dari tingkat bawah ke tingkat atas sebuah organisasi, dan mencakup kotak saran, pertemuan kelompok dan prosedur keluhan.

19

FX.Suwarto, Drs., MS, Perilaku Keorganisasian (Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 1999), h.167.

20

Yenny Ratna Suminar, dkk, Komunikasi Organisasional ( Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2004), h.4.7.

• Komunikasi Diagonal

Komunikasi diagonal adalah komunikasi silang melintasi fungsi dan tingkat dalam organisasi. Hal ini penting dalam situasi dimana anggota tidak dapat berkomunikasi lewat saluran ke atas, ke bawah, atau pun horizontal.

Dimensi komunikasi internal dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yakni :

1) Komunikasi Interpersonal

Komunikasi Interpersonal yaitu proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya.

Redding mengembangkan klasifikasi komunikasi interpersonal menjadi reaksi intim, percakapan sosial, interogasi atau pemeriksaan dan wawancara.21

Komunikasi antar pribadi adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal.22

Komunikasi antar pribadi ialah komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka, seperti yang dinyatakan R.Wayne Pace (1979) seperti dikutip Hafied Cangara bahwa

21

Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), cet ke-8, h.159.

22

Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), cet ke-10, h.81.

Interpersonal Communication is communication involving two or more people in face to face setting”.23

2) Komunikasi Kelompok Kecil

Komunikasi kelompok kecil ialah proses komunikasi yang berlangsung antara tiga orang atau lebih secara tatap muka, dimana anggota-anggotanya saling berinteraksi satu sama lainnya.24

Menurut Shaw (1976) ada enam cara untuk mengindentifikasi suatu kelompok. Berdasarkan hal itu kita dapat mengatakan bahwa komunikasi kelompok kecil adalah suatu kumpulan individu yang dapat mempengaruhi satu sama lain, memperoleh beberapa kepuasan satu sama lain, berinteraksi untuk beberapa tujuan, mengambil peranan, terikat satu sama lain dan berkomunikasi tatap muka. Jika salah satu dari komponen ini hilang individu yang terlibat tidaklah berkomunikasi dalam kelompok kecil. 25

b. Komunikasi Eksternal

Komunikasi Eksternal ialah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak di luar organisasi. Komunikasi eksternal terdiri dari dua jalur secara timbal balik, yakni komunikasi dari organisasi kepada khalayak dan dari khalayak dengan organisasi.

• Komunikasi dari organisasi kepada khalayak

Komunikasi dari organisasi kepada khalayak pada umumnya bersifat informatif, yang dilakukan sedemikian rupa

23

Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), h.32.

24

Ibid., h.33.

25

Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), cet ke-8, h.182.

sehingga khalayak merasa ada keterlibatan, setidak-tidaknya ada hubungan batin. Kegiatan ini sangat penting dalam usaha memecahkan masalah jika terjadi tanpa diduga

• Komunikasi dari khalayak kepada organisasi

Komunikasi dari khalayak kepada organisasi merupakan umpan balik sebagai efek dari kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh organisasi. Jika informasi yang di sebarkan kepada khalayak itu menimbulkan efek yang sifatnya kontrofesial (menyebabkan adanya pro dan kontra di kalangan khal layak), maka disebut opini publik. Opini publik ini sering kali merugikan organisasi, karena harus di usahakan agar segera dapat di atasi, dalam arti kata tidak menimbulkan permasalahan.

B. Pengembangan Kepemimpinan

1. Pengertian Pengembangan Kepemimpinan

Dalam KBBI, Pengembangan berasal dari kata “kembang” yang mempunyai arti proses, cara, perbuatan mengembangkan.26 Sedangkan pengertian pengembangan secara etimologi yaitu membina dan meningkatkan kualitas.27

26

Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), cet ke-3, h.538.

27

Nanih Machendrawaty dan Agus Ahmad Safe’i, Pengembangan Masyarakat Islam dari Ideologim, Strategi sampai Tradisi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), h.29.

Dan menurut Wexley dan Yukl, sebagaimana dikutip oleh Mangkunegara, pengembangan merupakan istilah-istilah yang berhubungan dengan usaha-usaha berencana yang diselenggarakan untuk mencapai penguasaan skill, pengetahuan dan sikap-sikap pegawai atau anggota organisasi.28

H.Malayu SP. Hasibuan dalam bukunya mengatakan bahwa “ Pengembangan yaitu suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, konseptual, melalui pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan pelatihan yang diberikan harus dengan kebutuhan pekerjaan masa kini, maupun masa depan”.29

Secara etimologi kepemimpinan berasal dari kata dasar “Pimpin” yang berarti dibimbing atau dituntun.30 Kata kepemimpinan mendapat awalan “ke” dan sisipan “em” dan akhiran “an”.

Menurut tata bahasanya awalan “ke” dan “ke-an” berfungsi sebagai pembentuk kata benda abstrak yang mengandung arti atau peristiwa. Sedangkan sisipan “em” pada kata pemimpin membentuk kata baru yang artinya tak berbeda dengan kata dasarnya. Arti sisipan “ em” disini mengandung sifat.

28

A.A.Anwar Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), h.44.

29

H. Malayu SP.Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), h.10.

30

WJS.Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1982), cet ke-4, h.754.

Jika pemimpin berasal dari kata “pimpin”, imbuhan “pe” mempunyai arti orang yang melakukan, jadi pemimpin adalah orang yang memimpin.31

Sedangkan kepemimpinan menurut terminologi ahli komunikasi yakni Onong Uchayana Effendi dalam bukunya, “Human Relation dan Public Relation dalam Manajemen” mengatakan bahwa: “Kepemimpinan adalah suatu proses dimana seseorang memimpin (direct), membimbing (quides), mempengaruhi (influences), atau mengontrol (controls) pikiran, perasaan atau tingkah laku orang lain’’32

Haward H. Hoyt dalam bukunya “Aspect Of Modern Public Administration” berpendapat bahwa kepemimpinan adalah seni mempengaruhi tingkah laku manusia dan kemampuan untuk membimbing orang.33

Menurut G.R. Terry yang dikutip oleh Zaini Mucktarom memiliki pendapat bahwa kepemimpinan merupakan hubungan dimana seseorang atau pemimpin mempengaruhi orang-orang untuk mengerjakan tugas bersama dengan kemampuan mereka guna mencapai apa yang dikehendaki pemimpin.34

Kepemimpinan menurut Abdul Syani merupakan suatu proses pemberian pengaruh dan pengarahan dari seorang pemimpin terhadap

31

Abdullah Ambari, Intisari Tata Bahasa Indonesia (Bandung: Djatnika, ), h.231.

32

Onong Uchayana, Human Relation dan Public Relation dalam Manajemen (Bandung: CV. Mandar Maju, 1989), cet ke-7, h.195.

33

Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), cet ke-9, h.49.

34

Zaini Mucktarom, Dasar-Dasar Manajemen Dakwah (Yogyakarta: Al Amin Press, 1996), cet ke-1, h.195.

orang lain atau sekelompok orang untuk melakukan suatu aktivitas tertentu yang sesuai dengan kehendaknya.35

Wahjosumidjo mengungkapkan bahwa kepemimpinan adalah seni atau proses seseorang dalam memimpin, membimbing, mempengaruhi atau mengontrol pikiran , perasaan atau tingkah laku orang lain, sehingga mau melakukan usaha atau keinginan untuk bekerja dalam rangka mencapai tujuan tertentu.36

K. Permadi menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi manusia baik perorangan maupun kelompok.37

Tanpa kepemimpinan, organisasi hanya merupakan kegalauan orang-orang dan mesin. Kepemimpinan adalah proses mendorong dan membantu orang lain untuk bekerja dengan antusias mencapai tujuan.38 2. Fungsi Kepemimpinan

Fungsi berasal dari kata “function” yang berarti fungsi jabatan atau kedudukan.39 Kata fungsi adalah kata benda yang menyatakan suatu posisi, dengan kata lain kata fungsi mencerminkan sesuatu yang statis.40 Dari pengertian kata fungsi dan pengertian kepemimpinan yang telah dijelaskan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa fungsi kepemimpinan yaitu suatu

35

Abdul Syani, Manajemen Organisasi (Jakarta: Bina Aksara, 1987), cet ke-1, h.231.

36

Wahjosumidjo, Kiat Kepemimpinan dalam Teori dan Praktek (Jakarta: PT. Harapan Masa PGRI, 1994), cet ke-1, h.22.

37

K. Permadi, Pemimpin dan Kepemimpinan dalam Manajemen (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 1996), cet ke-1, h.12.

38

Keith Davis, John W. New, Perilaku dalam Organisasi (Jakarta: Erlangga, 1985), h.152.

39

S. Wojowasito, WJS.Poerdarminta, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia Indonesia-Inggris (Jakarta: Hasta, 1974), cet ke-3, h.58.

40

Made Wahyu Sutedja, Gusti Ketut Swalem, Manajemen Pembangunan Desa (Surabaya: Usaha Nasional, 1981), h.22.

posisi dimana seorang pemimpin dapat memfungsikan dirinya sebagai orang yang dapat memimpin di sekeliling dirinya.

Kartini Kartono dalam buku “Pemimpin dan Kepemimpinan”

menerangkan bahwa fungsi kepemimpinan ialah: memandu, menuntun, membimbing, membangun, memberi atau membangunkan motivasi-motivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan-jaringan komunikasi yang baik, memberikan supervisi atau pengawasan yang efisien dan membawa para pengikutnya kepada sasaran yang ingin dituju, sesuai dengan ketentuan waktu perencanaan.41

J. Riberu dalam buku “Dasar-Dasar Kepemimpinan” menerangkan dan membagi fungsi kepemimpinan menjadi 3 bagian, yaitu: a. Tugas menanggapi situasi hidup masyarakat.

b. Tugas menilai situasi hidup masyarakat.

c. Tugas menentukan sikap atau tindakan terhadap situasi hidup.42

Berbicara mengenai fungsi kepemimpinan menurut Veithzal Rivai dalam bukunya “Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi”. Fungsi artinya jabatan (pekerjaan) yang dilakukan atau kegunaan sesuatu hal atau kerja suatu bagian tubuh. Sedangkan fungsi kepemimpinan berhubungan langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok/organisasi masing-masing, yang mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada di dalam bukan di luar situasi itu. Fungsi kepemimpinan merupakan gejala sosial, karena harus diwujudkan dalam interaksi antar individu di dalam situasi sosial suatu kelompok/organisasi.43

Kadarman SJ dan Jusuf Udaja dalam buku “Pengantar Ilmu Manajemen” menjelaskan tentang fungsi kepemimpinan yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin, agar suatu kelompok dapat dipimpin dengan efektif. Dua fungsi utamanya yaitu:

a. Fungsi Pemecahan Masalah (Problem Solving Function)

41

Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), cet ke-9, h.81.

42

J. Riberu, Dasar-Dasar Kepemimpinan (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992), h.13.

43

Veithzal Rivai, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2003), h.53.

Fungsi ini berhubungan dengan tugas atau pekerjaan yang memberikan jalan keluar, pendapat dan informasi terhadap masalah yang dihadapi kelompok.

b. Fungsi Sosial

Fungsi ini berhubungan dengan kehidupan kelompok, yaitu memberikan dorongan kepada anggota kelompok untuk mencapai tujuan dan menciptakan suasana kerja bagi kelompoknya.

3. Tipe Kepemimpinan

Yang dimaksud dengan tipe kepemimpinan adalah suatu bentuk atau pola seseorang dalam memimpin. Tindak tanduk dari seorang pemimpin dapat dijadikan sebagai pola untuk mencocokan tipe apa yang dipakai oleh seorang pemimpin dalam menjalankan roda kepemimpinan tersebut. Untuk kepentingan teoritis dibawah ini ada 3 tipe pokok kepemimpinan, yakni:

a. Tipe Kepemimpinan Otoriter

Tipe kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan satu orang. Pemimpin bertindak sebagai penguasa tunggal.44 Tipe kepemimpinan otoriter adalah pemimpin dipandang sebagai orang yang memberi perintah dan dapat menuntut. Keputusan ada di tangan pemimpin.45

44

Ibid., h.56.

45

Hadari Nawawi dan M. Martini Hadari, Kepemimpinan yang Efektif (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2000), cet ke-3, h.94.

b. Tipe Kepemimpinan Bebas

Tipe kepemimpinan ini dijalankan dengan memberi kebebasan penuh pada orang yang dipimpin dalam mengambil keputusan dan melakukan kegiatan menurut kehendak dan kepentingan masing-masing, baik secara perorangan maupun kelompok.46 Pemimpin hanya memfungsikan dirinya sebagai penasihat.

c. Tipe Kepemimpinan Demokratis

Tipe kepemimpinan ini menempatkan manusia sebagai faktor utama dan terpenting dalam setiap kelompok atau organisasi. Tipe ini diwujudkan dengan dominasi perilaku sebagai pelindung dan penyelamat dan perilaku cenderung memajukan dan mengembangkan organisasi.47 Kepemimpinan tipe ini dalam mengambil keputusan sangat mementingkan musyawarah, yang diwujudkan pada setiap jenjang dan di dalam unit masing-masing.

Menurut Hadari Nawawi dan Martini Hadari, terdapat juga tipe kepemimpinan pelengkap yang hampir sama dengan tipe kepemimpinan pokok yang telah disebutkan di atas, namun tipe kepemimpinan ini merupakan turunan dari tipe kepemimpinan pokok, yaitu:

a. Tipe Kepemimpinan Kharismatik

Tipe kepemimpinan kharismatik yaitu kemampuan seseorang dalam menggerakkan orang lain dengan mendayagunakan keistimewaan dalam aspek kepribadian yang dimiliki pemimpin

46

Ibid., h.95.

47

sehingga menimbulkan rasa hormat, segan dan kepatuhan pada orang yang dipimpinnya.48

Tipe kepemimpinan kharismatik ini mempunyai ciri-ciri bahwa seorang pemimpin dianggap mempunyai kekuatan gaib, pemimpin yang dipatuhi mempunyai keturunan bangsawan, obyektif dalam setiap hubungannya dengan bawahan, serta mempunyai kemampuan untuk memberikan contoh terhadap bawahannya.49

b. Tipe Kepemimpinan Simbol

Tipe kepemimpinan simbol menempatkan seorang pemimpin sekedar lambang atau simbol, tanpa menjalankan kegiatan kepemimpinan yang sebenarnya. Walaupun demikian kedudukannya tidak dapat di gantikan oleh orang lain.

c. Tipe Kepemimpinan Pengayom (Headmanship)

Tipe kepemimpinan ini menempatkan seseorang sebagai kepala yang layaknya berfungsi sebagaimana kepala keluarga. Pemimpin memiliki kesediaan dan kesungguhan dalam mengayomi anggotanya, dengan berbuat segala sesuatu yang layak dan diperlukan organisasinya. Kepemimpinan ini dijalankan dengan melakukan kepeloporan, kesediaan berkorban, pengabdi, melindungi dan selalu melibatkan diri dalam usaha memecahkan masalah perseorangan/kelompok.

48

Ibid., h.103.

49

d. Tipe Kepemimpinan Ahli (Expert)

Tipe kepemimpinan ini harus dijalankan oleh seseorang yang memiliki keahlian atau keterampilan tertentu yang sesuai dengan bidang garapan atau yang dikelola oleh organisasinya. Dengan kata lain seorang pemimpin harus profesional di bidangnya.

e. Tipe Kepemimpinan Organisatoris dan Administrator

Tipe kepemimpinan ini dijalankan oleh para pemimpin yang senang dan memiliki kemampuan mewujudkan dan membina kerja sama, yang pelaksanaannya berlangsung secara sistematis dan terarah pada tujuan yang jelas. Pemimpin bekerja secara berencana, bertahap dan tertib.

f. Tipe Kepemimpinan Agitator

Tipe kepemimpinan ini diwarnai dengan kegiatan pemimpin dalam bentuk tekanan-tekanan, adu domba, memperuncing perselisihan, menimbulkan dan memperbesar perpecahan atau pertentangan dan potensi konflik dengan maksud untuk memperoleh keuntungan pribadi. Agitasi yang dilakukan terhadap kelompok atau orang yang berada di luar organisasinya semata-mata untuk kepentingan organisasinya bahkan untuk kepentingan pribadinya.50

50

Dokumen terkait