Sejarah Perusahaan PT Agricon
PT Agricon berdiri pada tanggal 17 April 1969, berdasarkan Akte Notaris Samadi, SH No. 57 (Tambahan berita Negara RI No. 31 Tanggal 12 Januari 1973, Nomor Tambahan 4), pada awalnya sebagai perusahaan swasta nasional yang mengabdikan pelayanan di bidang usaha distribusi pestisida terutama produk yang berasal dari PT ICI Indonesia.
Pada periode sebelum PT Agricon Ltd didirikan sampai dengan tahun-tahun awal setelah perseroan itu didirikan, belum terdapat perusahaan yang menghasilkan produk pestisida di Indonesia. Hampir seluruh bahan tersebut harus diimpor dari luar negeri, sehingga menghabiskan devisa negara yang sangat besar. Disamping itu, begitu banyak hambatan dan kesulitan yang dihadapi para importir pada umumnya, serta PT Agricon Ltd pada khususnya dalam usaha memasukkan berbagai produk pestisida yang amat dibutuhkan oleh para petani, baik untuk pengusaha tanaman pangan maupun tanaman perkebunan. Keadaan ini telah mendorong perusahaan untuk berusaha mengatasi masalah tersebut.
Pada tahun 1970-1971, PT Agricon Ltd mulai merintis pendirian perusahaan patungan di bidang industri pestisida di Indonesia. Cara yang ditempuh dengan mendekati Imperial Chemical Industries (ICI) London, Inggris dengan tujuan mengajak pihak ICI untuk bersama-sama mendirikan perusahaan patungan (Joint Venture) di bidang industri pestisida di Indonesia. Setelah melalui berbagai tahap kegiatan, antara lain pengajuan permohonan ulang kepada Menteri Perindustrian RI yang disertai dengan Project Proposal yang telah mendapat persetujuan Sub Panitia Penanaman Modal Asing tanggal 14 Juni 1972 dan Surat Persetujuan Presiden RI No. B-100/PRES/10/1972 tanggal 10 Oktober 1972, Menteri Perindustrian mengeluarkan Surat Keputusan No. 674/M/SK/XII/1972 pada tanggal 4 Desember 1972 tentang izin pendirian pabrik (formulation plant) yang memproduksi pestisida jenis Gramoxone dan Agroxone 4. Keluarnya SK Menteri Perindustrian tersebut, maka kedua belah pihak, yaitu ICI dan PT Agricon Ltd. mendirikan perusahaan patungan bernama PT ICI Pestisida Indonesia.
Perusahaan patungan tersebut didirikan berdasarkan Akte Notaris Dian Paramita Tamzil, SH pada tanggal 19 Februari 1973 di Jakarta. Pada perkembangan berikutnya terdapat beberapa perbaikan terhadap akte notaris pendirian perusahaan tersebut melalui Akte Notaris Kartini Mulyani, S.H, berturut-turut Nomor 116 tanggal 9 Mei 1974 dan Nomor 118 tanggal 21 Februari 1975, akte pendirian PT ICI Pestisida Indonesia diumumkan selengkapnya pada Tambahan Berita Negara RI Nomor 60 tanggal 29 Juli 1975. Dalam dokumen tersebut tercantum secara lengkap dan resmi segala ketentuan mengenai hak, kewajiban dan pemilikan saham, serta susunan personalia yang harus dipatuhi oleh kedua belah pihak sebagai pendiri perusahaan patungan tersebut.
Pada tahun 1992, PT Agricon melakukan reorganisasi dengan memisahkan diri dari PT ICI Pestisida Indonesia setelah selama kurang lebih 23 tahun melakukan kerjasama dalam bentuk perusahaan patungan. Adanya pengembangan usaha, peningkatan kualitas produk, serta pelayanan bagi pelanggan, pada akhirnya para pelopor PT Agricon bersepakat untuk mendirikan pabrik pestisida
secara mandiri pada tanggal 17 April 1994 yang berlokasi di Gunung Putri, Cibinong, Bogor, bertepatan dengan hari jadi PT Agricon yang ke-25. Pendirian pabrik pestisida tersebut sebagai langkah awal PT Agricon yang tidak hanya sebagai produsen pestisida dan sekaligus sebagai distributor produk pestisida.
Saat ini PT Agricon telah menjadi Agricon Corporations yang membawahi lima anak perusahaan, diantaranya PT Agricon LTD, PT Agricon Putra Cipta Optima, PT Asia Gala Kimia, PT ASABI (Agricon Sentra Agribisnis Indonesia), dan Terminix. PT Agricon yang berkantor pusat di Jalan Siliwangi No. 68, Bogor telah memiliki tujuh kantor perwakilan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, diantaranya Bandung, Surabaya, Medan, Palembang, Bandar Lampung, Makasar, Banjar Baru, dan Pontianak.
Selain berupaya sebagai produsen dan distributor pestisida, PT Agricon juga memberikan sarana dan kegiatan edukasi mengenai produk pestisida kepada petani. Kegiatan edukasi tersebut berupa pengenalan teknis produk dan penggunaan aplikasinya. Tujuannya adalah agar petani memiliki kualifikasi yang baik dalam berproduksi, sehingga akan meningkatkan program peningkatan ketahanan pangan guna menunjang revitalisasi pertanian.
Jenis Produk
PT Agricon sampai saat ini telah memiliki tujuh produk, yaitu insektisida, fungsida, herbisida, moluskusida, rodentisida, dan suplemen tanaman. Masing- masing produk tersebut memiliki jumlah merek yang berbeda, diantaranya insektisida tiga belas merek, fungisida enam merek, herbisida lima merek, moluskisida satu merek, rodentisida satu merek, dan suplemen tanaman empat merek.
Insektisida merupakan pestisida yang digunakan untuk mencegah dan memberantas semua jenis serangga. Produk insektisida PT Agricon diantaranya, yaitu Spontan 400 SL, Abuki 50 SL, Meteor 25 EC, Mospilan 30 EC, Applaud 440 SC, Sniper 50 EC, Takumi 20 WG, Maxima 68 WP, Cakram 25 EC, OMI 150 EC, Ultimax 550 EC, Sevin 85 SP, Easy 50 SP.
Fungisida merupakan pestisida yang digunakan untuk mencegah dan memberantas jamur. Produk fungisida PT Agricon diantaranya, yaitu Throne 250 EC, Nebijin 0.3 DP, Bazoka 80 WP, Briliant 72 WP, Bellkute 40 WP, Captive 200 SC.
Herbisida merupakan pestisida yang digunakan untuk mencegah dan memberantas tumbuhan pengganggu atau gulma. Produk-produk PT Agricon terdiri atas, Crash 480 SL, Aladin 865 SL, Trabas 150 SL, Win 20 WG, Win 10 WP.
Moluskisida merupakan pestisida yang digunakan untuk mencegah dan memberantas moluska. Produk Agricon yang termasuk ke dalam moluskisida, yaitu Rodenstida merupakan pestisida yang digunakan untuk mencegah dan memberantas binatang pengerat. Suplemen tanaman merupakan pupuk daun lengkap dalam bentuk kristal berwarna yang bersifat mudah larut di dalam air (kelarutan homogen), mudah diserap tanaman dengan sempurna.
Struktur Organisasi dan Bauran Promosi
Struktur organisasi perusahaan PT Agricon yang menempati posisi paling atas ialah president director. President director membawahi operational director.
Operational director terdiri dari beberapa divisi. Bagian atau divisi yang menjalankan pemasaran yaitu commercial general manager dengan membawahi empat bagian diantaranya, free market business manager, plantation business manager, marketing manager, technical manager. Bagian yang menjalankan komunikasi pemasaran yaitu free market business manager yang terbagi ke dalam
regional sales manager dengan wilayah yang berbeda-beda. Wilayah-wilayah tersebut diantaranya adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan. Pada bagian regional sales manager akan membawahi
technical sales executive dan field expert. Technical sales executive dan sales executive merupakan tim lapangan pendukung di daerah yang berjumlah sekitar 200 orang untuk mendampingi dan membantu petani dalam memberikan solusi terbaik. Technical sales executive dan field expert biasa disebut formulator oleh petani di wilayah tertentu yang menjadi sasaran konsumen dan mendapatkan strategi personal selling (Lampiran 4). Sasaran konsumen atau target pemasaran PT Agricon yaitu petani, baik itu petani padi maupun petani holtikultura. Hubungan komunikasi pemasaran antara president director dengan technical sales executive dan field expert atau formulator dapat dilihat dalam Gambar 8.
Gambar 8 Struktur hubungan PT Agricon dengan formulator
Promosi produk yang dilakukan PT Agricon selain personal selling juga menggunakan bauran promosi lainnya, seperti iklan, humas publisitas, promosi penjualan, dan pemasaran langsung. Bentuk promosi penjualan biasanya dengan mengadakan program SLPHT dan SLA yang dibantu oleh penyuluh pertanian dengan tujuan meningkatkan pengetahuan petani mengenai Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Periklanan dengan menggunakan poster, spanduk, brosur, banner
yang biasanya berada di kios pestisida, media promosi lain yaitu pembagian topi, jaket, kaos, buku tulis, tas kepada petani. Kegiatan humas dan publisitas berupa
President Director
Field Expert Technical Sales
Executive
Free Market Business Manager Commercial General
Manager Operational Director
sponsorship, kunjungan tani, kunjungan kios, kunjungan dinas pertanian, dan kunjungan kebun. Pemasaran langsung, seperti fax, surat, dan e-bussiness.
Profil Desa Rawagempol
Kecamatan Cilamaya Wetan memiliki 12 desa, salah satunya yaitu Desa Rawagempol. Desa Rawagempol mengalami pemekaran yang pada akhirnya dibagi menjadi 2, yaitu Desa Rawagempol Kulon dan Desa Rawagempol Wetan. Desa Rawagempol Kulon dan Wetan merupakan desa yang mejadi salah satu sasaran konsumen bagi PT Agricon, khususnya formulator. Pemilihan lokasi ini disebabkan tingkat penggunaan pestisida yang paling tinggi di Kecamatan Cilamaya Wetan. Desa Rawagempol Kulon memiliki batasan wilayah yakni sebelah utara Laut Jawa, sebelah selatan berbatasan dengan Sukatani, sebelah timur berbatasan dengan Rawagempol Wetan, dan sebelah barat berbatasan dengan Sukakerta. Memiliki luas persawahan sebesar 435.61 ha. Mayoritas berprofesi sebagai petani dengan jumlah sebanyak 848 orang. Desa Rawagempol Wetan memiliki batas wilayah yaitu sebelah utara berbatasan Desa Muara Baru, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sukatani, sebelah timur berbatasan dengan Desa Cilamaya, dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Rawagempol Kulon. Luas persawahan yang dimiliki sebesar 357.5 ha. Mata pencaharian masyarakatnya mayoritas berprofesi sebagai petani sebanyak 700 orang. Formulator atau petugas lapang PT Agricon dalam mempromosikan produknya selalu menggabungkan kedua desa ini, sebab sebelum Desa Rawagempol mengalami pemekaran, PT Agricon telah memfasilitasi Sekolah Lapang Agricon di Desa Rawagempol pada tahun 2010.