• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

1. Gambaran umum perusahaan

a. Sejarah Singkat PT. PERKEBUNAN NUSANTARA II (Persero)

Perusahaan Perseroan PT Perkebunan II yang bergerak di bidang Pertanian dan Perkebunan didirikan dengan Akte Notaris G.H.S Loemban Tobing SH Nomor 12 tanggal 5 April 1976 yang diperbaiki dengan Akte Nomor 54 tanggal 21 Desember 1976, dan Pengesahan Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan No. Y.A5/43/8 tanggal 28 Januari 1977 dan telah diumumkan dalam Lembaran Negara Nomor 52 tahun 1978 sebagai tambahan Berita Negara RI No. 6 tanggal 20 Januari 1978 yang telah didaftarkan kepada Pengadilan Negeri Tingkat I Medan tanggal 19 Februari 1977 Nomor 10/1977/PT.

Perseroan Terbatas ini bernama: Perusahaan Perseroan PT Perkebunan II, disingkat ‘PT Perkebunan II’ merupakan perubahan bentuk dan gabungan dari PN. Perkebunan II dan PN. Perkebunan Sawit Seberang. Pendirian Perusahaan ini dilakukan dalam rangka pelaksanaan ketentuan dalam Undang-undang Nomor 9 tahun 1969. Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 1969 tentang Perusahaan Perseroan dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1975. mulai tahun 1984 menurut Keputusan Rapat Umum Luar Biasa Pemegang Saham Akte Pendirian tersebut di atas telah dirubah dan diterangkan dalam Akte Notaris Imas Fatimah Nomor 94 tanggal 13 Agustus 1984 yang kemudian diperbaiki dengan Akte Nomor 26 tanggal 8 Maret 1985 dengan persetujuan Menteri Kahakiman No. C2-

5013-HT.0104 tahun 1985 tanggal 14 Agustus 1985. sesuai dengan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham tanggal 20-12-1990 Akte tersebut mengalami perubahan kembali dengan Akte Notaris Imas Fatimah No. 2 tanggal 1 April 1991 dengan persetujuan Menteri Kehakiman No. C1-4939-HT.01.04 TH-91 tanggal 20 September 1991.

Selanjutnya pada tanggal 11 Maret 1996, kembali diadakan reorganisasi berdasarkan wilayah kerja, dimana PT Perkebunan II yang didirikan dengan Akte Notaris GHS Loemban Tobing, SH No. 6 tanggal 1 April 1974 dan PT Perkebunan IX yang didirikan dengan Akte Notaris Ahmad Bajumi, SH No. 100 tanggal 18 September 1983, dilebur dan digabungkan menjadi satu dengan nama PT Perkebunan Nusantara II yang dibentuk dengan Akte Notaris Harus Kamil, SH Nomor 35 tanggal 11 Maret 1996, kemudian diperbaharui dengan Akte Notaris Sri Rahayu Prasetyo, SH No. 7 tanggal 8 Oktober 2002. Anggaran dasar ini direvisi kembali dengan Akte Notaris Nur Muhammad Dipo Nusantara Pua Upa, SH No.33 tanggal 13 Agustus 2008.

Pada tanggal 9 Juni 2009, PT Perkebunan Nusantara II (Persero) Medan melakukan kerja sama dengan Kuala Lumpur Kepong Plantation Holding BHD (KLK.PH) untuk mendirikan perusahaan patungan (PT LNK), selanjutnya pada tanggal 1 Juli 2009 PTP nusantara II melakukan Kerja Sama Operasi (KSO) dengan PT. LNK untuk mengelola Distrik Rayon Tengah (di 5 unit usaha termasuk 2 pabrik kelapa sawit di dalamnya). Saat ini perusahaan mengelola 23 unit usaha (termasuk 6 unit pabrik kelapa sawit, 2 unit Pabrik Gula (PG), 4 unit Pabrik Kakao, 4 unit Rumah Sakit, 1 unit Bengkel Pusat (BP), 1 unit

BalaiPenelitian Tembakau Deli (BPTD), dan 1 unit Riset dan Pengembangan Tebu (Risbang Tebu).

PT Perkebunan Nusantara II (Persero) Medan mengusahakan komoditi areal seluas 85.988,92 ha, karet 10.608,47 ha dan kakao seluas 1.981,96 ha. Selain penanaman komoditi pada areal sendiri plus inti, PT Perkebunan Nusantara II (Persero) Medan juga mengelola areal plasma milik petani seluas 22.460,50 ha untuk tanaman kelapa sawit. Disamping itu PT Perkebunan Nusantara II juga mengelola tanaman musiman yaitu tanaman tebu dan tembakau. Tanaman tebu lahan kering ditanam pada areal seluas 13.226,48 ha.

Selain itu PT. Perkebunan Nusantara II ini memiliki visi, misi, dan tujuan sebagai berikut :

Visi : Menjadi perusahaan agribisnis yang tangguh dan mampu bersaing di pasar global.

Misi : PTPN-II sebagai perusahaan agribisnis yang handal, memegang komitmen pada peningkatan nilai, pertumbuhan berkesinambungan, diversifikasi produk tanaman terpadu, bekerja efisien dan optimal. Tujuan : Melaksanakan dan menunjang kebijaksanaan dan program

pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan secara umum, dan di sektor pertanian dan perkebunan pada khususnya.

b. Sejarah dan Stuktur Organisasi Dapenbun Cabang PT.Perkebunan Nusantara II (Persero)

1. Sejarah Dapenbun

Dana pensiun perkebunan yang selanjutnya di singkat menjadi DAPENBUN dengan kantor pusat di Jakarta dan kantor cabang di tempat-tempat lainnya menurut kebutuhan.

Dapenbun merupakan kelanjutan dari “Yayasan Dana Pensiun Perkebunan” yang didirikan berdasarkan akte notaris Abdul Latief, SH nomor 8 tanggal 8 Januari 1976 yang menyelenggarakan program pensiun anggota Direksi dan staf yang telah disesuaikan dengan Undang-Undang Dana Pensiun dan telah disahkan Menteri berdasarkan Surat Keputusan nomor Kep-554/KM.17/1997 tanggal 29 Oktober 1997.

Perubahan terakhir telah disahkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan R.I yaitu Kep-193/KM.10/2007 tanggal 02 Oktober 2007. Perusahaan/organisasi ini didirikan untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya.

Maksud dan tujuan didirikan Dapenbun Cabang PTPN-II ini adalah hanya mengelola data base peserta Dapenbun dan setiap bulannya membuat permintaan modal kerja ke Dapenbun Pusat Jakarta dan selanjutnya membayarkan manfaat pensiun kepada peserta pensiun. Sedangkan maksud dan tujuan Dapenbun Pusat Jakarta adalah menghimpun dan mengelola dana untuk mengusahakan kesinambungan penghasilan serta meningkatkan kesejahteraan peserta program manfaat pasti.

Penelasannya dapat terlihat dari gambar flowchart alur kegiatan Dapenbun Cabang PTPN-II :

Iuran normal

Modal kerja

Pembayaran manfaat pensiun

Gambar 4 . 1

Flowchart alur kegiatan Dapenbun

Sumber : Dapenbun PTPN-II Dapenbun Pusat Jakarta PT. Perkebunan Nusantara II Dapenbun Cab. PTPN-II Peserta pensiunan

2. Struktur Organisasi Dapenbun Cabang PT. Perkebunan Nusantara II (Persero)

Strukrut organisasi Dapenbun Cabang PTPN-II (Persero) Tanjung Morawa adalah sebagai berikut :

1.Kepala Cabang

Yang di pimpin oleh Bapak Ir.H. Tambah Karo-Karo

• Bertanggung jawab terhadap penyaluran dana pensiun yang akan disalurkan kepada pensiunan, serta bertanggung jawab menjaga memilihara seluruh catatan, dokumen yang berhubungan dengan semua urusan penyaluran dana. Dan melaksanakan pembayaran manfaat iuran pasti kepada pensiunan.

• Wewenangnya adalah melakukan rapat khusus yang harus dihadiri oleh seluruh staf dan pegawai Dapenbun cabang PTPN-II.

2.Wakil Kepala Cabang

Yang di pimpin oleh Bapak H.E. Zulfan Effendi

Bertanggung jawab membantu kepala cabang dalam melaksanakan kegiatannya serta memiliki tanggung jawab dan wewenang yang hampir sama dengan kepala cabang.

3.Kordinator

Yang di pimpim oleh Bapak Jules Hutagalung

Bertanggung jawab untuk memonitori dan mengawasi jalannya penyaluran dana yang akan disalurkan serta membantu kepala dan wakil kepala dalam melaksanakan tugas-tugas.

4.Bagian Kepesertaan

Bagian ini memiliki tanggung jawab melayani seluruh pensiunan yang ada, dan membantu memberikan penjelasan tentang dana pensiun ini. Bagian kepesertaan ini terdiri atas :

Program non staf, yang dikendalikan oleh Hapy Yandri S

Program staf, yang dikendalikan oleh Oky Budianto,SP 5.Bagian Keuangan

Bagian ini memiliki tanggung jawab yang besar terhadap seluruh dana yang akan disalurkan kepada pensiunan, menetukan besarnya pensiun yang akan segera dibayarkan. Jika terjadi kesalahan jumlah nominal dari dana pensiun yang akan disalurkan maka hal ini merupakan tanggung jawab bagian keuangan untuk segera menyelsaikannya.

Bagian keuangan ini terdiri atas :

Pembukuan/gaji, yang dikendalikan oleh SY.E.Hatta dan Yuyika

Hilda Nova, Amd

Verifikasi, yang dikendalikan oleh Ade Sundari,S.Sos

Maksud dan tujuan Dapenbun adalah :

Menghimpun dana dan mengelola dana untuk mengusahakan kesinambungan penghasilan serta meningkatkan kesejahteraan peserta di hari tua dengan menyelenggarakan program Pensiun Manfaat Pasti.

c. Pemungutan, Usia, dan Perhitungan Dana yang Dilakukan Dapenbun

Pemungutan dana yang dilakukan Dapenbun PTPN-II adalah dengan cara pemotongan melalui gaji pokok peserta dan dari perusahaan atau pemberi kerja. Dipotong dari gaji pokok peserta adalah sebesar : 6%

Dipotong dari perusahaan atau pemberi kerja adalah sebesar : 6,53% 1. Usia pensiun normal ditetapkan :

a) Untuk karyawan golongan 1A s/d IID = Usia 55 tahun b) Untuk karyawan golongan IIIA s/d IVD = Usia 56 tahun 2. Usia pensiun dipercepat ditetapkan :

a) Untuk karyawan golongan IA s/d IID sekurang-kurangnya usia 45 tahun

b) Untuk karyawan golongan IIIA s/d IVD sekurang-kurangnya usia 46 tahun

3. Usia pensiun wajib ditetapkan usia 60 tahun

Perhitungan pemberian Dana pensiun sesuai dengan besar manfaat pensiun, dapat di hitung berdasarkan :

Besar manfaat pensiun = penghargaan masa kerja x masa kerja x penghasilan dasar pensiun

Besarnya penghargaan masa kerja dapat dilihat sebagai berikut :

a) Sebesar 2% untuk tiap tahun masa kerja sampai dengan 20 tahun.

b) Sebesar 2,5% untuk tiap tahun masa kerja diatas 20 tahun, maksimal masa kerja 12 tahun.

4. Pada Dapenbun Cabang PT. Perkebunan Nusantara II ini menggunakan beberapa sistem penyaluran dana pensiun yaitu dengan :

a) Manfaat pensiun normal untuk golongan IA s/d IID adalah 9.767 peserta. Golongan IIIA s/d IVD adalah 520 peserta.

Batasan : masa kepesertaan > 3 tahun

Rumus perhitungan : PMKP x PhDP x masa kerja Contoh perhitungan :

PMKP x PhDP = Uang pensiun

Nama : Ilham tanggal lahir : 01-07-1950 Gol : IIb mulai Kerja : 01-08-1973 Tanggal Pensiun : 01-08-2005 Gaji : Rp. 1.533.821 Masa kerja : 01-08-2005 01-08-1973 00-00- 32 tahun. PMKP = 20 Thn x 2% = 40% = 12 Thn x 2,5% = 30% Jadi 70% x Rp. 1.533.821 = Rp. 1.073.675

Jadi dana pensiun yang di peroleh oleh Ilham dalam per bulan adalah sebesar Rp. 1.073.675.

b) Manfaat pensiun dipercepat untuk golongan IA s/d IID adalah 733 peserta dan untuk golongan IIIA s/d IVD adalah 34 peserta.

Rumus perhitungan : nilai sekarang x penghargaan masa kerja pensiun x PhDP.

Perhitungan pada manfaat pensiun di percepat ini sama dengan perhitungan manfaat pensiun normal hanya saja pada pensiun di percepat nilai sekarang di tentukan oleh masing-masing pemberi kerja atau perusahaan, yang suatu saat dapat berubah-ubah sesuai dengan keputusan perusahaan.

c) Manfaat pensiun cacat, mulai dibayarkan pada tanggal 1 bulan berikutnya setelah yang bersangkutan oleh dokter yang ditunjuk pemberi kerja dinyatakan cacat. Untuk golongan IA s/d IIID ada 3 peserta dan untuk golongan IIIA s/d IVD tidak ada jumlah pensiun cacat.

Batasan : masa kerja pensiun dihitung = (usia pensiun normal – usia pada saat berhenti bekerja karena cacat) + masa kerja sampai berhenti. Rumus perhitungan : PMKP x PhDP

d) Manfaat pensiun janda/duda, apabila peserta meninggal dunia di bawah usia pensiun dipercepat maka manfaat pensiun yang dibayarkan kepada janda/duda adalah sebesar 60% dari besar manfaat pensiun di tunda. Manfaat pensiun ini dibayarkan dalam jangka waktu yang berkela yaitu setiap bulan dan akan di hentikan apabila meninggal dunoa atau menikah lagi.

e) Manfaat pensiun anak dibayarkan secara berkala tiap tahun samapai anak tersebut berumur 21 tahun.

Dalam hal perhitungan pemberian dan penyaluran dana pensiun ini karyawan baik golongan IA s/d IID dan golongan IIIA s/d IVD memiliki perhitungan yang sama tidak dibedakan berdasarkan pangkat atau golongan. Begitu juga dengan seluruh manajer dan kepala bagian tidak dibedakan karena peraturan tarif pensiun telah di atur dalam Keputusan Menteri Keuangan RI. Dalam hal ini yang membedakan hanya besar gaji pokok antara karyawan semua golongan dan manejer serta berapa lama pengabdiannya dalam perusahaan.

5. Penggunaan dana dan biaya lainnya yang ditanggung oleh Dapenbun Cabang PTPN-II yaitu :

a) Penggunaan dana Dapenbun harus diutamakan untuk terjaminnya kesinambungan pembayaran manfaat pensiun

b) Tunjangan-tunjangan yang diberikan antara lain sebagai berikut : • Gaji / honorarium

• Bonus

• Biaya santunan sosial (sewa rumah, listrik, air, trnsport, pakaian kerja)

• Biaya makan • Biaya lembur

• Tunjangan dan bantuan • Pajak penghasilan pegawai

• Biaya penghargaan maksimal 25 tahun, 30 tahun dan 35 tahun. 6. Keefektifan dan keefisiensian penyaluran dana pensiun pada Dapenbun

dan efisien dalam rangka kesejahteraan peserta, maka kepala cabang wajib melaksanakn tata kelola dana pensiun yang baik dengan diterapkannya prinsip-prinsip Good Pension Fund Governance (GPFG) yakni transparansi, akuntabilitas, responbilitas, indepedensi, serta kesetaraan dan kewajaran untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan dengan tetap memperhatikan kepentingan pihak terkait.

Besarnya dana yang dikeluarkan oleh Dapenbun cabang PTPN-II ini per tahunnya adalah sebesar Rp 13.925.412.230 untuk golongan IA s/d IID. Dan sebesar Rp 3.530.111.560 untuk golongan IIIA s/d IVD. Perincian iuran pensiun dan pembayaran pensiun per april 2011 adalah sebagai berikut :

Tabel 4 . 1

Perincian Iuran dan Pembayaran Pensiun Gol IA s/d IID PT.Perkebunan Nusantara II Cabang Tanjunag Morawa

Per April 2011 Rekapitulasi APARIL 2011 Koreksi MP Bulan ini Total MP Triwulan ini - Pensiun normal - Pensiun dipercepat - Pensiun janda/duda - Pensiun anak - Pensiun ditunda - Pensiun cacat 9767 2.836.899.360 733 140.232.685 3462 501.842.595 49 5.187.055 1424 0 3 519.750 9.493.880 6.075.715 -330.950 0 0 0 2.846.393.240 146.308.400 501.511.645 5.187.055 0 519.750 TOTAL SELURUH 15438 3.484.681.445 15.238.645 3.499.920.090

Sumber : Dapenbun PTPTN-II

Dari data diatas dapat dilihat bahwa jumlah pensiunan golongan IA s/d IID adalah 15438 pensiunan dengan jumlah pengeluaran dana per bulan adalah sebesar Rp 3.499.920.090. Seluruh pengeluaran ini disalurkan pada kebun-kebun

PTPN-II yang di bantu oleh Dapenbun sebagai mitra kerja perusahaan/pemberi kerja.

Tabel 4.2

Perincian Iuran dan Pembayara Pensiun Gol IIIA s/d IVD PT.Perkebunan Nusantara II Cabang Tanjung Morawa

Per April 2011 Rekapitulasi APARIL 2011 Koreksi MP Bulan ini Total MP Triwulan ini - Pensiun normal - Pensiun dipercepat - Pensiun janda/duda - Pensiun anak - Pensiun ditunda - Pensiun cacat 520 602.082.795 34 24.361.100 433 255.721.410 1 183.685 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 602.082.795 24.361.100 255.721.410 183.685 0 0 0 TOTAL SELURUH 992 882.348.990 0 882.348.990

Sumber : Dapenbun PTPTN-II

Dari data diatas dapat dilihat bahwa jumlah pensiunan golongan IIIA s/d IVD adalah 992 pensiunan dengan jumlah pengeluaran per bulan adalah sebesar Rp882.348.990. Seluruh pengeluaran ini disalurkan pada kebun-kebun PTPN-II yang di bantu oleh Dapenbun sebagai mitra kerja perusahaan/pemberi kerja.

Dari data diatas dapat juga dilihat bahwa tidak ada perbedaan antara karyawan golongan bawah dengan karyawan golongan atas begitu pula dengan manajer ataupun atasan. Dalam perhitungannya yang membedakan adalah gaji pokok masing-masing karyawan baik karyawan golongan bawah maupun golongan atas.

Besarnya tarif iuran pensiun telah ditetapkan sebelumnya sebesar 6% dari potongan gaji pokok untuk masing-masing karyawan, baik karyawan bawahan maupun karyawan atasa. Dan 6,53% yang akan di berikan oleh perusahaan atau

pemberi kerja. Akan tetapi perusahaan atau pemberi kerja memiliki wewenang untuk merubah dengan cara menaikkan atau menurunkan iuran yang akan diberikan, jadi perubahan iuran dari perusahaan atau pemberi kerja bisa berubah- ubah sesuai dengan keputusan dewan direksi.

d. Pengakuan dan Pencatatan/Jurnal Iuran Dana Pensiun

Pengakuan iuran dana pensiun di dalam neraca PTPN-II adalah sebagai kewajiban tidak lancar atau dengan kata lain disebut sebagai hutang iuran dana pensiun. Dikatakan sebagai kewajiban tidak lancar atau hutang dana pensiun adalah dikarenakan perusahaan sebagai pemberi kerja melakukan pembayaran kepada pensiunan secara berkala dengan pembayaran per bulan yang akan dibayarkan berdasarkan perhitungan yang telah ditentukan.

Dengan demikian secara langsung perusahaan atau pemberi kerja berhutang kepada pensiunan, yang pengakuannya di dalam neraca diakui sebagai kewajiaban tidak lancar atau di sebut juga hutang iuran dana pensiun.

Jurnal yang digunakan untuk mencatat pembayaran/pengeluaran bagi perurasahaan atau pemberi kerja adalah sebagai berikut :

Hutang iuran dana pensiun xxx

Jurnal pembayaran dana pensiun

Kas xxx

Atau

Biaya iuran dana pensiun xxx

Beban gaji xxx Jurnal pembayaran gaji

Kas xxx

Sedangkan jurnal penerimaan pembayaran bagi pensiunan adalah sebagai berikut :

Kas xxx

Jurnal penerimaan dana pensiun

Piutang iuran dana pensiun xxx

Jurnal penerimaan dicatat sebagai utang

Iuran dana pensiun diterima dimuka xxx

Pendapatan dana pensiun xxx

Dengan demikian dana pensiun yang ada di neraca PTPN-II diakui sebagia kewajiban tidak lancar atau disebut juga sebagai hutang iuran pensiun.