METODELOGI PENELITIAN
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Sejarah Singkat Perusahaan
Awal mulanya sebelum berubah nama menjadi CV Hadir Jaya Kayulapis, perusahaan ini belum memiliki lahan sendiri sehingga mengontrak di CV Cahaya Abadi yang sama bergerak dibidang kayu lapis juga. Dengan dimiliki oleh tiga orang yaitu bapak Hasibuan, Hj. Nana yang juga pemilik CV Cahaya Abadi, dan Bapak Muhklis dimulai bulan Januari 2009 dengan kondisi hanya memiliki tiga mesin pres. Namun karena kondisi pasar yang kurang memungkinkan akhirnya bapak Muklis keluar yaitu pada bulan Maret 2009.
Dua bulan berikutnya Hj. Nana juga keluar dengan alasan pangsa pasar yang tidak bergairah. Kemudian Bapak Dirman datang sebagai penggantinya meneruskan usaha tersebut, masih berlokasi yang sama. Mulai saat itu perusahaan tersebut ditetapkan menjadi nama CV Hadir Jaya Kayulapis yaitu singkatan dari dua orang pemiliknya yaitu Hasibuan dan Dirman (Hadir). Pada tanggal 8 Februari 2010 batas akhir kontrak CV Hadir Jaya Kayulapis di CV Cahaya Abadi. Kemudianbersamaan dengan hal itu Bapak Dirman tidak lagi bekerjasama dengan Bapak Hasibuan yang mendirikannya sendiri dimana perusahaan ini memiliki lokasi sendiri di daerah Desa Sukamakmur Kec. Teluk Jambe Timur, Dusun Pasir Panggang, Karawang hingga saat ini.
Profil Perusahaan
CV Hadir Jaya terletak di Dusun Pasir Panggang RT/RW 06/03, Desa Sukamakmur Kec. Teluk Jambe Timur, Kab.Karawang 41361, Jawa Barat. Perusahaan ini memiliki luas areal kurang lebih 600 m². Lokasi perusahaan berbatasan pada sebelah utara yaitu masjid, sebelah selatan terdapat sungai, di bagian barat merupakan pemukiman penduduk dan pada bagian timur terdapat pabrik komponen besi.
CV Hadir Jaya merupakan home industri kayu lapis yang produk akhirnya berupa sandaran dan dudukan kursi kantor. CV Hadir Jaya mempunyai target pasar ke perusahaan atau industri yang bergerak di bidang pengolahan kayu dari bahan baku setengah jadi. Saat ini CV Hadir Jaya mempunyai tiga mitra usaha, yaitu Johanes Chair, Thaeda Chair, dan CV Helindo.
Produk setengah jadi tersebut nantinya akan digunakan dalam pembuatan produk jadi berupa kursi oleh perusahaan-perusahaan seperti Johannes dan Theda Chair. Adapun CV Hadir Jaya juga mengirimkan produk kayu lapis berupa sandaran atau dudukan ( tanpa potong ) ke CV Helindo untuk diolah lebih lanjut. Untuk pengiriman barang, CV Hadir Jaya mempunyai satu kendaraan operasional
berupa mobil pick up.
CV Hadir Jaya memiliki karyawan berjumlah 11 orang yang di bagi
menjadi tiga bagian, yaitu bagian pemotongan, pengempaan, dan finishing.
Pembayaran upah karyawan dilakukan pada setiap hari kerja, namun dibayarkan pada setiap akhir minggu. Untuk menunjang produksinya, CV Hadir Jaya mempunyai empat mesin kempa berbagai macam ukuran, dari mulai R2D (45x40) sampai D6 (80x60). Kemudian memiliki alat potong vinir sebanyak tiga buah,
glue spreader satu buah, glue mixer satu buah, gerinda satu buah, table saw satu
26
Visi dan Misi Perusahaan
Visi perusahaan adalah Menciptakan kegiatan usaha yang
berkesinambungan (going concern) yang bergerak dinamis untuk mencapai tujuan
utama perusahaan yaitu kesejahteraan secara ekonomi dan sosial untuk pemilik modal, pengurus dan karyawan.
Adapun Misi perusahaan adalah sebagai berikut :
1. Menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat dan membangun karyawan
yang tangguh, ulet, jujur, tanggung jawab dan profesional dalam bidangnya
2. Membangun kemitraan yang sejajar antara perusahaan dengan rekanan
usaha, perusahaan dengan karyawan dan perusahaan dengan pemerintah
3. Mendorong dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi dari pihak yang
terlibat dengan perusahaan seperti pemerintah, rekanan usaha, karyawan, pengurus dan pemilik modal.
Produk
Produk yang dihasilkan adalah produk kayu lapis. Produk kayu lapis dibedakan berdasarkan ukurannya, dan produk yang dihasilkan oleh CV Hadir jaya yaitu R1a, R1D, D4dan D6.CV Hadir Jaya berusaha menggali potensi konten lokal yang produksinya melimpah ruah yaitu jenis kayu karet (yang sudah
berbentuk veener) yang merupakan limbah sisa industri. Keunggulan produk yang
dimiliki pada CV Hadir Jaya yaitu:
1. Produk kayu lapis yang dihasilkan oleh CV Hadir Jaya mengutamakan kualitas
terlihat dari ukuran produk yang disesuaikan dengan permintaan pelanggan atau keinginan konsumen.
2. Mengangkat konten lokal yaitu menggunakan kayu karet (yang sudah
berbentuk vinir) yang merupakan limbah sisa industri.
Produk yang dihasilkan adalah produk dengan kualitas tinggi dengan bahan baku yang merupakan sisa limbah industri kayu. Kualitas produk yang dijual tergantung permintaan dari pelanggan. Produk R1D, R1a, D4 dan D6 merupakan produk-produk yang terdapat di CV Hadir jaya dengan spesifikasi yang berbeda-beda. R1D merupakan produk Kayu lapis dengan ukuran 50 x 45 cm dan biasanya digunakan untuk sandaran kursi lipat. R1a merupakan produk Kayu lapis dengan ukuran 50 x 50 cm digunakan untuk sandaran kursi kantor. D4 adalah produk dengan ukuran 60 x 60 cm. D6 adalah produk Kayu lapis dengan ukuran 60 x 80 cm merupakan produk dengan ukuran yang paling besar dan digunakan untuk dudukan kursi. Bahan baku yang digunakan dalam produksi
kayu lapis yaitu veener, glue,dan kayu.
Pemilihan kayu dan veener disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku di pasaran, hal ini dilakukan untuk menjaga kelancaran dan keberlanjutan dalam produksi. Bahan baku buah tersebut diperoleh melalui kerjasama dengan beberapa pemasok di daerah Tangerang dan Lampung sehingga keberadaan bahan baku selalu terjaga. Produk-produk ini dijual dengan harga yang bervariasi yaitu R1D dijual dengan harga Rp 13.000,- R1a dijual dengan harga Rp 11.500,- dan D6 dijual dengan harga Rp 19.000,-. Strategi penetapan harga yang dilakukan di CV Hadir Jaya dengan perhitungan 30 persen merupakan laba yang diinginkan oleh perusahaan dari total biaya produksi kayulapis.
Proses Produksi
1. Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan kayulapis di CV Hadir Jaya adalah jenis kayu karet (sudah berbentuk vinir) yang merupakan limbah sisa industri yang di datangkan dari Lampung, Tanggerang, Sukabumi. Adapun ukuran bahan baku vinir yang diterima antara lain (15 cm x 90 cm), (20 cm x 120 cm), (25 cm x 120 cm), (30 cm x 120 cm), (40 cm x 120 cm). Dalam pengadaan bahan baku, CV Hadir Jaya melakukan kemitraan dengan beberapa pemasok yang berada di Lampung, Tangerang, dan Sukabumi. Kemitraan yang terbentuk antara CV Hadir Jaya dan pemasok merupakan kemitraan tanpa kontrak artinya tidak ada ikatan secara legal yang dilandasi oleh hukum yang bisa menyebabkna timbulnya sanksi ketika pihak yang bermitra melanggar kesepakatan yang telah dibuat.
Kebutuhan rata-rata setiap bulannya akan bahan baku kayu mencapai 30
sampai 40 m3. Dengan harga per m3 mencapai Rp 800.000,- sampai Rp
1.000.000,- harga disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku di pasar. Jika bahan baku yang tersedia cukup banyak maka harga bahan baku relatif lebih
murah seharga Rp 800.000,-/m3. Namun, jika ketersediaan bahan baku sangat
terbatas maka harga yang bahan baku di pasar mampu mencapai Rp
1.200.000,-/m3. Untuk mendukung pengembangan usaha, CV Hadir Jaya perlu melakukan
kemitraan dengan banyak pemasok tidak hanya di tiga daerah saja tetapi bisa melakukan kemitraan dengan pemasok yang berasal dari luar Pulau Jawa seperti Palembang, Riau, dan Jambi.
Produksi kayu lapis tidak hanya menggunakan vinir sebagai bahan baku, bahan penolong juga diperlukan untuk memproduksi kayu lapis. Bahan penolong
yang digunakan adalah glue. Glue dibuat dari resin glue (yang merupakan urea
formaldehyde, tepung tapioka (ekstender), asam NH4Cl (hardener). Dengan komposisi perekat seperti yang terlihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Komposisi Bahan Perekat (Glue) untuk produksi kayulapis.
Jenis bahan 1 x proses Harga
(Rp/ kg) Pemasok
Resin UF 15 kg Rp 22.285,- PT Masari Dwisepakat
Fiber
Tepung terigu 2 kg Rp 100.000,-/sak Pasar Johar
Hardener NH4Cl 0,2 kg Rp 11.684,- Toko bahan kimia Teknologi yang digunakan dalam pengolahan vinir menjadi kayulapis disesuaikan dengan tahapan dalam proses produksi. Tahapan proses produksi untuk memproduksi kayulapis yaitu:
a. Persiapan bahan baku
Perencanaan pengadaan bahan baku dilakukan dengan pembelian vinir kayu karet dalam periode yang berkesinambungan dengan durasi waktu satu minggu sekali, tergantung dari permintaan atau order yang ada.
28
Gambar 5 Bahan baku (vinir) yang digunakan dan penyimpanan pada CV Hadir Jaya 2012
Sumber: CV Hadir Jaya, 2012
i. Pemotongan vinir (face dan core)
Pada proses pemotongan vinir, dibedakan antara pemotongan vinir yang
digunakan untuk bagian face dan untuk yang bagian core. Untuk bagian face,
pemotongannya dilakukan secara manual dengan mengunakan alat potong. Ukuran pemotongan vinir pada bagian face mengunakan ukuran lebar vinir 40 cm, 55 cm, 60 cm, dan 50 cm. Pada alat potong itu sendiri, maksimal ukuran pemotongannya adalah 40 cm, untuk mendapatkan ukuran yang sesuai dilakukan penyambungan vinir dengan mengunakan staples. Proses ini dilakukan oleh 2-3 orang yang juga merangkap sebagai pemotong lembaran bahan baku.
Pemotongan vinir bagian core dilakukan menggunakan table saw,
pemotongan vinir bagian core itu sendiri tidak ada ukuran khusus, sehingga
semua ukuran yang di potong di table saw dapat digunakan pada bagian core kayu
lapisnya.
Gambar 6 Pemotongan vinir yang akan digunakan pada CV Hadir Jaya 2012 Sumber: CV Hadir Jaya, 2012
Lembaran vinir yang belum di olah atau dipress
Lembaran vinir yang telah di olah atau dipress
ii. Pencampuran Perekat (Glue Mixing)
Proses pencampuran perekat dilakukan dengan menggunakan glue mixer.
Perekat yang digunakan merupakan campuran dari resin glue, dan tepung tapioka
sebagai ekstender ataupun filler, asam NH4Cl sebagai hardener (makin asam
maka campuran perekat akan semakin cepat beku). Adapun jenis resin yang
digunakan yakni urea formaldehyde (UF). Penambahan hardener dilakukan
sebelum perekat didistribusikan ke mesin gluespreader untuk mencegah
pengerasan perekat yang terlalu cepat.
Gambar 7. Proses pencampuran perekat Urea Formaldehida pada CV Hadir Jaya
Sumber: CV Hadir Jaya, 2012
b. Pelaburan Perekat (Glue Spreading)
Pelaburan perekat dilakukan dengan menggunakan mesin glue spreader.
Produktivitas setiap mesin yaitu 1200 pcs/hari. Jumlah tenaga kerja pada mesin
glue spreader berjumlah empat orang yang sekaligus merangkap operator mesin
kempa atau pressing. Pelaburan perekat dalam satu kali proses dapat melaburi
sekitar 250 pieces yang membutuhkan 15 kg campuran perekat. Proses pelaburan
perekat ini dilakukan hanya untuk bagian corenya saja dengan cara memasukkan
vinir core tersebut ke dalam mesin glue spreader secara manual yaitu dengan memasukkannya satu per satu yang dilakukan oleh operator dari masing-masing mesin kempa itu sendiri.
c. Pengempaan Panas (Hot Press)
Kegiatan pengempaan panas dilakukan dengan mesin hot press yang
bekerja secara manual. Mesin hot press ini memiliki kapasitas empat pieces kayu
lapis untuk setiap pengempaan. Waktu pengempaan berkisar 10 menit. Terdapat
empat orang pekerja pada mesin ini, yang masing-masing mengoperasikan mesin
kempa. Tekanan kempa pada mesin hotpress adalah sebesar 150 kg untuk mesin
kempa besar dan 120 kg untuk mesin kempa kecil. Pada mesin kempa ini juga,
suhu pengempaanya berkisar antara 60-80˚C. Pada saat pengempaan, terkadang
terjadi delaminasi dan blister pada kayu lapisnya. Hal ini dapat disebabkan karena kurang ratanya perekat yang di laburkan dan tidak meratanya kadar air vinir yang digunakan.
30
Gambar 8 Proses pengempaan menggunakan mesin kempa pada CV Hadir Jaya
Sumber: CV Hadir Jaya, 2012
d. Finishing
Kegiatan finishing meliputi pemotongan kayu lapis menjadi bentuk
sandaran dan dudukan, pengamplasan, dan pendempulan (putty filling).
i. Pemotongan Kayu lapis
Kegiatan pemotongan kayu lapis dilakukan dengan mengunakan dua
mesin potong, yaitu mesin bandsaw dan gergaji tangan elektrik bermerk Bosch.
Jumlah pekerja pada bagian ini adalah 1 orang yang bertugas untuk memotong kayu lapis yang telah dikempa ke berbagai macam ukuran dudukan atau sandaran yang telah ditentukan.
Kecepatan mesin potong dapat dilakukan melalui pengaturan rpm mesin.
Produktivitas mesin perhari mencapai sekitar 300 lembaran kayulapis. Pada
bagian penerimaan, output ditumpuk dan disusun secara vertikal setiap 10 lembar
untukmemudahkan penghitungan kubikasi kayulapis dan mempermudah proses pengiriman. Pada proses ini perlu diperhatikan kesikuan kayulapis yang telah dipotong. Kesikuan adalah selisih diagonal kayu lapis yang diperkenankan sebesar 3 mm. Toleransi ukuran kayu lapis disesuikan dengan permintaan.
ii. Pengamplasan (Sanding)
Kegiatan pengamplasan kayu lapisdilakukan dengan mengunakan 1 mesin gerinda tangan. Mesin gerinda kayu lapis terdiri dari 1 mesin. Jumlah tenaga kerja pada bagian ini adalah satu orang. Kecepatan mesin dapat diatur dengan
mengontrol rpm mesin. Produktivitas pada mesin mencapai > 300 pieces kayu
lapis per/hari. Pergantian amplasnya pada mesin ini,biasanya 1 hari sekali.
Gambar 9 Proses Pengamplasan dan Pemotongan Kayu Lapis CV Hadir Jaya
Sumber: CV Hadir Jaya, 2012
iii. Pendempulan (Putty Filling)
Kegiatan pendempulan bertujuan untuk menutupi cacat pada permukaan kayu lapis sehingga dapat mencapai produk yang berkualitas dan tidak mengurangi nilai jual. Bahan dempul yang digunakan disesuaikan dengan warna kayu lapis yaitu kuning. Cacat yang diperbaiki antara lain lubang akibat mata
kayu, pecah/press mark, face yang kurang dan celah yang terbuka. Sebelum
dilakukan pendempulan, disiapkan bahan untuk pendempulnya berupa campuran dari perekat UF dan tepung terigu dengan perbandingan 1 : 2.
iv. Grading
Tahapan produksi ini adalah tahap memisahkan antara produk yang
memnuhi standar dan produk yang turun grade bahkan reject. Standar yang
dipakai untuk menentukan grade berupa standar internal dan standar eksternal.
Standar internal merupakan standar yang ditetapkan oleh perusahaan, sedangkan
standar eksternal adalah standar yang diinginkan oleh pembeli (buyer) namun
tetap berada dalam acuan standar perusahaan.
Pada CV Hadir Jaya ini proses gradingnya dilakukan setelah kayu lapis selesai dikempa dengan cara visual atau diketukkan untuk memeriksa kepadatannya. Jika terdapat kayu lapis yang tidak terekat dengan baik maka akan dipisahkan terlebih dahulu dan dikumpulkan . Setelah itu baru dilakukan proses pengempaan ulang dengan terlebih dahulu mengisi perekat pada bagian kayu lapis yang tidak terekat dengan baik. Kayu lapis yang dapat diperbaiki langsung disatukan dengan produk lain yang siap kirim atau di potong.
Proses grading ini juga dilakukan setelah proses pengampelasan. Kayu
lapis yang setelah diamplas mengalami cacat terbuka, maka kayulapis tersebut harus di dempul terlebih dahulu, sedangkan yang tidak mengalami cacat terbuka langsung disatukan di tempat penyimpanan akhir.
e. Cara Penyimpanan Produk dan Perlakuannya
Produk yang sudah jadi akan disimpan dalam suatu ruangan dan di susun menurut ukurannya. Susunan penyimpanan produk yang telah jadi disusun secara
32
vertical, hal ini dilakukan untuk menghidari kerusakan, untuk memudahkan dalam
pengakutan, serta untuk memudahkan perhitungan stock barang yang ada.
f. Pengangkutan Produk dan Administrasi
Pengiriman barang atau pengangkutan produk biasanya dilakukan tiga kali dalam seminggu, atau tergantung order yang diterima. Pengangkutan ini menggunakan kendaraan operasional berupa pick up. Untuk proses pengangkutan ini biasanya disertai dengan dokumen atau surat yang berupa surat jalan.