TULLAB KECAMATAN KEMIRI KABUPATEN
TANGERANG PROVINSI BANTEN
Pada bagian ini akan dibahas tentang sejarah berdirinya pondok pesantren, visi dan misi serta tujuan dan fungsinya, aktifitas komunikasi intruksional dalam kegiatan muhadharah, sarana dan juga prasarana.
BAB IV : ANALISA DATA
Pada bagian ini memuat serta membahas tentang proses penerapan komunikasi instruksional dalam kegiatan muhadharah di pondok pesantren Raudhatut Tullab, kemudian menerangkan tentang komunikasi instruksional dibidang kulikuler dan ekstrakulikuler, faktor pendukung dan penghambat dan cara menanggulangi hambatan.
xix BAB V : PENUTUP
Dengan selesainya pembahsan diatas, dalam bagian terakhir ini akan disampaikan beberapa butir kesimpulan dan sekaligus berfungsi sebagai jawaban yang konkrit atas masalah yang telah dirumuskan dalam bab pendahuluan, berikut disertakan saran-saran serta dilengkapi dengan daftar pustaka, hasil wawancara dan lampiran yang dianggap penting.
xx BAB II
LANDASAN TEORITIS A. Pengertian Komunikasi
1.Pengertian Komunikasi
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata latin comminicatio, dan bersumber dai kata communis yang berarti ”sama” sama disini maksudnya adalah sama makna.
Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan yang dianut secara sama. Akan tetapi definisi-definisi kontomporer menyarankan bahwa komunikasi merujuk pada cara berbagai hal tersebut, seperti dalam kalimat “kita berbagi pikiran”, “kita mendiskusikan makna”, “kita mengirimkan pesan”.5
Komunikasi secara terminologi berarti proses penyampain suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Edwar Depari dalam karyanya “Komunikasi dalam Organisasi” yang dikutp A.W Widjaya, mengatakan komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan dan pesan yang disampaikan melalui lambang tertentu. Mengandung arti, dilakukan oleh penyampaian pesan yang ditujukan kepada penerima pesan.6 Keith Davis mengatakan komunikasi sebagai, “The Tranfer Of Information and Understanding
5
Onong Uchjana Efendy, Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek, (Bandung, Remaja Rosdakarya, 1997), Cet, Ke-4, h.3-4
6
A. W Widjaya, Ilmu Komunikasi; Pengantar Studi, (Jakarta : Rhineka Cipata 2002), Cet, Ke –2, h. 13
xxi
One Person”7 secara sederhana diartikan “pengiriman inforamsi dan pemahaman dari satu orang kepada orang lain”.
Menurut Noel Gist bilamana interakasi sosial berarti sosial meliputi pengoperan arti-arti dengan jalan menggunakan lambang-lambang, maka hal ini dinamakan komunikasi.8
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa orang yang bekomunikasi berarti mengaharapakan agar orang lain ikut berpartisipasi atau bertindak sesuai dengan tujuan, harapan, dari isi pesan yang disampaikan.9
Jadi diantara orang yang terlibat dalam kegiatan komunikasi harus memiliki kesamaan arti, dan harus sama-sama mengetahui hal yang mana dikomunikasikan. Jika tidak demikian, maka kegiatan komunikasi tesebut tidak berlangsung dengan baik.
Dari pengertian diatas penulis berpendapat bahwa komunikasi adalah proses memberikan pesan kepada seseorang agar orang yang menerima pesan itu dapat mengerti dan memahami isi dari pesan tersebut, sehingga terjadilah komuniasi yang efektif.
2. Unsur-unsur Komunikasi a. Sumber (Sender atau Encoder)
Sumber adalah dasar yang digunakan dalam penyampaian pesan dan digunakan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri.10 Sumber juga dapat
7
Keith Davis, Human Behavior at Work, Organizational behavior, (New York : MC Grawwhil, 1981), h. 399
8
Onang Uchjana Efendi, Ibid.h. 10 9
T. A Lathief Rusydi, Dasar-dasar Rherotika Komunkasi dan Informasi, (Medan : 1985), Cet. Ke-1, h. 48
10
xxii
digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan. Sumber dapat berupa surat, telepon, radio, televisi, vita suara, media cetak, (surat kabar, majalah, dan selebaran)
b.Komunikator
Komunikator adalah pihak yang memulai komunikasi.11 Komunikator mungkin bisa saja seseorang ataupun institusi. Dalam proses komunikasi komunikator merupakan unsur yang aktif, yang mengambil prakarsa yang bertindak.
Dalam komunikator menyampaikan pesan kadang-kadang komunikator dapat berubah menjadi komunikan dan sebaliknya komunikan dapat menjadi komunikator. Bagi komunikator harus memperhatikan hal sebagai berikut :
1. Memiliki kredibilitas yang tinggi dalam komunikasi 2. Keterampilan berkomunikasi
3. Mempunyai pengetahuan yang luas 4. Sikap
5. Memiliki daya tarik, yakni memiliki kemampuan untuk perubahan sikap/penambah wawasan pada diri komunikan.12
Komunikator yang baik juga mengusasai ilmu Psikologi, Sosiologi, Antropologi, norma dan etika, serta menguasai materi yang akan dikomunikasikan. Beberapa gaya komunikator dan ciri-cirinya, sebagi berikut :
11
Sutaryo, Sosiologi Komunikasi, (Yogyakarta: PT. Arti Bumi Lantaran, 2005), Cet. Ke-1,h. 23
12
A. W Widjaya. Komunikasi Hubungan Masyarakat, (Jakarta : Bumi Aksara, 1997), Cet. Ket-3, h.13
xxiii
1. Komunikator yang membangun, ciri-cirinya :
a. Mau mendengarkan pendapat orang lain dan dia tidak menganggap dirinya besar
b. Ingin bekerjasama dengan memperbincangkan suatu persoalan dengan semuanya sehingga timbul saling pengertian.
c. Tidak terlalu mendominasi situasi dan mau mengadakan komunikasi timbal balik.
d. Menganggap bahwa buah pikiran orang banyak lebih baik daripada seorang.
2. Komunikator yang mengendalikan, ciri-cirinya :
a. Pendapatnya itu merupakan hal yang paling baik sehingga dia tidak mau mendengarkan pandangan orang lain intern atau ekstern b. Ia menginginkan komunikasi satu arah saja tidak akan menerima
dari arah lain
3. Komunikator yang menarik, ciri-cirinya :
a. Ia selalu bersifat pesimis, sehingga menurut keadaan tidak dapat diperbaiki
b. Ia lebih suka melihat keadaan seadanya dan kalau mungkin ia berusaha menghindari keadaan tambah buruk
c. Ia selalu diam tidak menunjukan reaksi dan jarang memberikan buah pikaran.13
13
xxiv c. Pesan (Message)
Pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator. Pesan dapat disampaikan melalui lisan, tatap muka langsung, atau
menggunakan media maupun saluran. Pesan yang disampaikan harus tepat, dimengerti oleh komunikan. Sebelum pesan itu disampaikan kepada komunikan ada hal-hal yang harus disampaikan oleh komunikator, yaitu:
1.Pesan harus direncanakan (dipersiapkan) secara baik, sesuai dengan kebutuhan kita.
2.Pesan itu dapat menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak.
3.Pesan itu harus menarik minat dan kebutuhan pribadi penerima serta menimbulkan kepuasan.14
d. Saluran/ Media (channel)
Saluran (channel) adalah saluran penyampaian pesan yang diterima melalui panca indera atau menggunakan media. Media komunikasi dapat dikategorikan menjadi dua bagian:
1.Media umum yang dapat digunakan oleh segala bentuk komunikasi contohnya adalah radio, cb, ohp, dan lain-lain.
2.Media massa, adalah media yang digunakan untuk komunikasi massal. Disebut demikian karena sifatnya yang massal, contohnya adalah pers, surat kabar, majalah, radio, film dan televisi dan lain sebagainya. 15
e. Penerima (komunikan)
Penerima adalah orang yang menerima pesan. Komunikan berfungsi sebagai decorder, yakni menerjemahkan lambang-lambang pesan kedalam konteks pengertian sendiri.16
14
A. W Widjaya, Ilmu Komunikasi Pengantar Studi,h. 32
15
A. W Widjaya, Komunikasi Hubungan Masyarakat, h. 13
16
Astrid Susanto, Komunikasi dalam Teori dan Peraktek, (Bandung: PT. Bina Cipta, 1998), cet. Ke-3, h.1
xxv f. Pengaruh (effect)
Pengaruh atau effect adalah perbedaan antara apa saja yang dipikirkan, dirasakan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan.17 Menurut Willbur Scharm untuk menghadapi efek yang baik dari komunikasi, maka prosedur yang ditempuh adalah apa yang disebut sebagai A-A prosedur, yaitu proses dari attention (perhatian) ke action (tindakan).18
Maka menurut hemat penulis, komunikasi akan dapat berjalan lancar apabila keenam unsur komunikasi tersebut dapat terpenuhi dalam melakukan komunikasi, yaitu sumber, komunikator, pesan, saluran, penerima, dan pengaruh.
3. Proses Komunikasi
Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Maka dalam proses komunikasi terbagi dalam dua tahap, yakni sebagai berikut: a. Proses Komunikasi Secara Primer
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses
komunikasi adalah bahasa, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu “menerjemahkan” pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan. Apakah itu bentuk ide, informasi atau opini yang terjadi pada saat sekarang dan masa yang akan datang.
b. Proses Komunikasi Sekunder
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan meunggunakan alat atau sarana dengan media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya. Benda ditempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Yang sering digunakan adalah surat, televisi, film, surat kabar, majalah, radio, dan lain-lain.19
4. Tujuan Komunikasi
Komunikasi sebagai suatu aktivitas dan usaha pasti mempunyai tujuan yang hendak dicapai, sebab tanpa tujuan ini maka segala bentuk pengorbanan dalam rangka kegiatan komunikasi itu menjadi sia-sia belaka. Oleh karena itu tujuan komunikasi atau berdakwah harus jelas dan konkrit, agar usaha
kegiatan komunikasi itu dapat menjadi dapat diukur atau tidak.
17
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), cet. Ke-4, h. 26
18
A. W. Widjaya, Ilmu Komunikasi Pengantar Studi, ,h. 39
19
Onong Uchjana Efendy, Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek, (Bandung, Remaja Rosdakarya, 1997), Cet, Ke-4, h.3-4
xxvi
Komunikasi mempunyai suatu tujuan. Kita mengadakan komunikasi, karena kita menghendaki seseorang berbuat, berfikir atau merasa dalam suatu cara yang tertentu, kita mengetahui kalau kita sudah mengkomunikasikannya, jika respon atau reaksi yang kita inginkan sudah teracapai atau sudah terjadi respon atau reaksi ini disebut “feed back” atau dengan kata lain umpan balik dari penerima pesan bahwa dia sudah mengerti pesan itu dan tujuannya.
Menurut R. Wayne Pare, Bret D Peterson, dan M. Dallas Daurnett dalam bukunya, Techniques For Effetive Comunication, menyatakan bahwa tujuan komunikasi tediri dari tiga tujuan utama, yaitu :
a. To secure understanding b. To establis acceptance c. To motivate action
Pertama yaitu To secure understanding adalah memastikan bahwa komunikasi mengerti pesan yang diterimanya. Andai kata ia sudah dapat mengerti dan menerima pesan maka penerimnya itu harus dibina (to establis). Pada akhirnya kegiatan dapat dimotivasikan (To motivate action). 20
Secara umum tujuan dari komunikasi dapat dilihat dari dua perspektif kepentingan yaitu kepentingan di pengirim dan di penerima. Tujuan
komunikasi dari sudut di pengirim yaitu memberikan informasi, mendidik, menyenangkan/menghibur, mengajurkan suatu tindakan/persuasif. Sedangkan dari sudut si penerima yaitu memahami informasi, mempelajari dan
menikmati.
Selanjutnya komunikasi pengajaran atau komunikasi intruksional yaitu mempunyai tujuan yang sudah jelas yaitu harus disesuaikan dengan tujuan pendidikan itu sendiri, yang sudah diatur dan ditetapkan oleh pihak sekolah itu sendiri.
Maka menurut penulis, bahwa tujuan komunikasi adalah menyampaikan informasi dari komunikator kepada komunikan dengan sebaik-baiknya agar komunikasi dapat diterima dan dimengerti oleh komunikan, sehingga komunikasi dapat berjalan dengan lancar.
B. Pengertian Komunikasi Instruksional 1. Pengertian Komunikasi Instruksional
Komunikasi Instruksional berarti komunikasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Kata komunikasi Instruksional berasal dari dua kata yang terpisah namun terdapat keterkaitan yang erat satu sama lain. Kata instruksional berasal dari kata bahasa inggris Instruction yang berarti pengajaran, pelajaran atau instruksi juga bisa diartikan sebagai perintah.
20
xxvii
Arti kata instruksional pada bidang konteks pembahasannya. Adalah Webster Third New Internasional Dictionary Of The English Langguge
mancatumkan kata intruksional (dari to Intruk) dengan arti “memberi pengetahuan atau informasi khusus dengan maksud melatih dari berbagai bidang khusus, memberikan keahlian atau pengetahuan dalam berbagai bidang seni atau spesialisasi tertentu atau dapat pula berarti “mendidik dalam subjek atau bidang pengetahuan tertentu” disini juga dicantumkan makna lain yang berkaitan dengan komando atau perintah.21
Dalam dunia pendidikan, kata instruksional disini tidak diartikan sebagai perintah, tetapi lebih mendekati kedua arti yang pertama yakni pengajaran atau pelajaran bahkan akhir-akhir ini kata tersebut diartikan sebagai pembelajaran. Memang dari ketiga kata tersebut bisa berlainan makna dan artinya karena masing-masing meniitik beratkan faktor-faktor tertentu yang menjadi pusat perhatiannya.
Pengajaran adalah proses, perbuatan, cara mangajar atau mengajarkan.22 Dari pengertian di atas dapat digali beberapa unsur yang termasuk dalam kegiatan pengajaran, perbuatan maupun metode yang digunakan dalam pengajaran.
Pengajaran juga diartikan suatu usaha yang bersifat sadar dan tujuan sistematis terarah pada perubahan tingkah laku menuju kedewasaan anak didik.
Arti belajar lebih menitikberatkan bahan belajar atau materi yang akan disampaikan atau diajarkan oleh guru. Dengan pengertian lain, informasi yang mengandung pesan belajar itulah yang diutamakan. Namun apabila diamati lebih jauh, disampaikan atau tidak oleh guru yang namanya pelajaran tetap ada karena ia adalah benda mati, berupa sederetan informasi yang bisa berarti apabila digunakan.23
K.H. Dewantara juga menjelaskan bahwa pengajaran itu adalah bagian dari pendidikan dan menyatakan bahwa pengajaran Onder Wijs itu tidak lain dan tidak bukan ialah salah satu bagian pendidikan. Jelasnya, bahwa pengajaran adalah bagian dari pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan.
Para ahli pendidikan juga telah memberikan pembatasan pengetian tentang pengajaran, diantaranya seperti dikatakan oleh Hasan Langgulung bahwa
pengajaran adalah pemindahan pengetahuan dari seseorang yang mempunyai pengetahuan kepada orang lain yang belum mengetahui.24 Dari terminologi diatas, terdapat unsur-unsur substansial kegiatan pengajaran yang meliputi : Pertama : pengajaran adalah upaya pemindahan pengetahuan. Kedua : Pengajaran adalah pemindahan pengetahuan (pengajar) kepada orang lain yang belum mengetahui (pelajar) melalui proses belajar mengajar.
21
Pawit M Yusuf, Komunikasi Pendidikan dan Komunkasi Instruksional, (Jakarta Pers, 2002), Cet Ke-1.,h.6
22
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pusataka, 1995), Cet, Ke-7. h. 7
23
Mudhofir, Tekhnologi Instruksional, ( Bandung : PT. Rosdakarya, 1990), Cet. Ke,.h. 9) 24
Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam (Jakarta : Pustaka al-Husna, 1983) Cet. Ke-3,.h.3
xxviii
Pengetahuan yang dipindahkan diperoleh dari dua sumber yaitu pertama dari sumber Ilahi dan kedua dari sumber manusiawi. Kedua jenis pengatahuan ini saling melengkapi dan pada hakikatnya keduanya berasal dari Allah yang
menciptakan manusia dan memberinya dari berbagai potensial untuk memahami dan memperoleh pengetahuan.
Pengetahuan yang bersumber dari Ilahi adalah pengetahuan yang langsung dari Allah melalui wahyunya. Adapun pengetahuan yang berasal dari manusia yaitu pengetahuan yang dipelajari dari manusia melalui pengalaman pribadi dalam kehidupan, juga dalam usahanya untuk menelaah dan memecahkan berbagai problem yang dihadapinya melalui pendidikan dan pengajaran serta penelitian ilmiah.
Kata Instruction mempunyai pengertian yang lebih luas daripada pengajaran. Jika pengajaran ada dalam konteks guru-murid di kelas (ruang formal), pembelajaran atau instruction mencakup pula kegiatan belajar mengajar yang tidak dihadiri guru secara fisik. Oleh Karena itu dapat disimpulkan dalam komunikasi instruksional yang ditekankan adalah proses belajar. Maka usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri siswa, kita sebut dengan pembelajaran yang tidak lain dengan adanya komunikasi yang efektif.25
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Pesan yang akan
dikomunikasikan adalah isi ajaran ataupun pendidikan yang ada dalam kurikulum, sumbernya atau pesannya bisa guru, siswa, orang lain ataupun penulis buku dan prosedur media, salurannya media pendidikan dan penerima pesannya adalah siswa atau juga guru. Maka proses belajar mengajar ini disebut komunikasi instruksional.
Pesan berupa isi ajaran dan didikan yang ada di kurikulum dituangkan oleh guru atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi baik simbol verbal (kata-kata lisan atau tertulis) maupun simbol non verbal atau visual. Proses penuangan pesan ke dalam simbol-simbol komunikasi disebut encoding.
Selanjutnya penerima pesan (bisa siswa, peserta latihan ataupun guru dan pelatihnya sendiri) menafsirkan simbol-simbol komunikasi yang mengandung pesan-pesan disebut encoding.
2. Hambatan-hambatan Komunikasi Instruksional
Hambatan-hambatan komunikasi yang ditemui dalam proses belajar mengajar antara lain :
25
Arief Sadiman, Media Pendidikan, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996), Cet. Ke-4, h. 7
xxix
a. Verbalisme di mana guru menerangkan pelajaran hanya melalui kata-kata atau secara lisan. Di sini yang aktif hanya guru, sedangkan murid lebih banyak bersifat pasif, dan komunikasi bersifat satu arah.
b. Perhatian yang bercabang, yaitu perhatian murid tidak berpusat pada informasi yang diberikan oleh guru, tetapi perhatiannya bercabang ke yang lainnya.
c. Kekacauan penafsiran, terjadi disebabkan berbeda daya tangkap murid, sehingga terjadi istilah-istilah yang sama diartikan berbeda-beda.
d. Tidak adanya tanggapan, yaitu murid-murid tidak merespon secara aktif apa yang disampaikan oleh guru, sehingga tidak terbentuk sikap yang diperlukan. Di sini proses pemikiran tidak terbentuk sebagaimana mestinya.
e. Kurang perhatian, disebabkan prosedur dan metode pengajaran kurang bervariasi, sehingga penyampian informasi yang sama “monoton” menyebabkan timbulnya kebosanan murid.
f. Keadaan fisik dan lingkungan yang mengganggu, misalnya objek yang terlalu besar atau kecil, gerakan yang terlalu cepat atau terlalu lambat, dan objek yang terlalu komplek serta konsep yang terlalu luas, sehingga menyebabkan tanggapan murid menjadi mengambang.
g. Sikap pasif anak didik, yaitu tidak bergairahnya siswa dalam mengikuti pelajaran disebabkan kesalahan memilih tehnik dalam komunikasi.
Di dalam buku karangan Arief S. Sadiman, yang berjudul Media Pendidikan, menyebutkan beberapa faktor yang menjadi penghambat proses komunikasi yang biasa disebut dengan istilah barriers, atau noises, yaitu:
xxx
a. Hambatan psikologis, seperti minat, sikap, pendapat, intelegensi, pengetahuan dan hambatan fisik seperti kelelahan, sakit, keterbatasan daya indera dan cacat tubuh.
b. Hambatan kultural, seperti perbedaan adat istiadat, norma-norma sosial, kepercayaan dan nilai-nilai panutan serta hambatan lingkungan.
Karen adanya berbagai jenis hambatan tersebut baik dalam diri guru maupun siswa, baik sewaktu mencode pesan maupun mendecodenya, proses komunikasi belajar mengajar seringkali berlangsung secara tidak efektif dan efesien. Media pendidikan sebagai salah- satu sumber belajar yang dapat membantu mengatasi masalah tersebut.
Pendidikan dan pembelajaran semakin tidak mungkin lagi dibatasi di ruang kelas. Proses belajar mengajar yang terjadi di lembaga-lembaga formal dan pelatihanpun tidak mungkin dengan lebih banyak menyuapi peserta didiknya, mereka harus aktif mencari informasi yang diperlukan, sementara guru atau instruktur berkewajiban memberi arahan dan membimbing.
Sumber-sumber yang semakin beraneka ragam perlu diidentifikasi, disediakan, dikembangkan, dan dimanfaatkan untuk memudahkan terjadinya proses pendidkan dan pembalajarn.
C. Pengertian Muhadhoroh
Muhadhoroh secara bahasa berasal dari bahasa Arab dari suku kata hadhoro yuhaadiru muhadhorotan, muhadhoroh adalah isim masdar qiasi yang artinya “saling hadir/menghadiri”.
Sedangkan menurut istilah muhadhoroh adalah suatu kegiatan/aktivitas manusia dalam membicarakan suatu masalah degan cara berpidato atau berdiskusi yang dihadiri oleh orang banyak (massa/audien).
Muhadhoroh yang dilakukan di pondok pesantren Raudhatut Tullab ini adalah pelatihan pidato yang dilaksanakan setiap malam Jumat pukul 20:00 WIB atau setelah melaksanakan solat isya.26
Adapun metode yang digunakan pondok pesantren Raudhatut Tullab dalam kegiatan muhadhoroh adalah sebagai berikut:
26
M. Syarifudin, Pembina Muhadoroh, Pon-Pes Raudhatut Tullab, Wawancara Pribadi,
xxxi
1. Metode ceramah/pidato, yaitu para santri dilatih untuk menyampaikan materi dari pembina/pembimbimbing dengan cara berpidato di hadapan para santri-santri yang lain.
2. Metode diskusi, yaitu metode yang digunakan para santri untuk membahas masalah-masalah agama dengan cara saling beragumentasi untuk menemukan sebuah jawaban dari permasalah tersebut.
D. Pengertian Pondok Pesantren
Kata pondok pesantren jika kita pisahkan terdiri dari dua kata, yaitu pondok dan pesantren, kata pondok berasal dari bahasa Arab yaitu finduuqun yang artinya tempat penginapan santri. Sedangkan pesantren adalah salah satu lembaga Iqomah ad-Diin, diantara lembaga-lembaga itu memilki dua fungsi yaitu taffaquh fiddiin (pengajaran, pemhaman, pendalaman agaman Islam). Dua fungsi indzar (manyampaikan dan mendakwahkan ajaran agama Islam kepada masyarakat)27
Pesantren ialah lembaga pendidikan Islam tradisional untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam dengan menekankan moral agama.28
Hampir dapat dipastikan, lahirnya pesantren berawal dari beberapa elemen dasar yang selalu ada dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Elemen tersebut ada lima antara lain :
a. Kiai
27
Didn Hafiifudin Dakwah Aktual, (Jakarta : Gema Insani Pers, 1998), h. 12 28
xxxii
Kiai adalah seorang pengasuh pondok pesantren yang sekaligus sebagai elemen yang esensial bagi suatu pondok pesantren. Biasanya pondok pesantren yang berkembang di Jawa dan Madura sosok kiai sangat berpengaruh, kharismatik, dan berwibawa sehingga amat disegani oleh masyarakat. 29
b. Pondok
Pesantren pada umumnya sering juga disebut dengan lembaga pendidikan Islam tradisional, dimana seluruh santri tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan kiai. Asrama para santri tersebut berada dilingkungan komplek pondok pesantren yang terdiri dari rumah kiai, masjid, dan ruang belajar mengaji dan kegiaran agama lainnya.
Ada dua alasan mengapa pesantren menyediakan pondok atau asrama untuk tempat tinggal santrinya. Pertama : kemasyhuran seorang kiai dan kedalaman pengetahuan dalam bidang agama Islam, merupakan daya tarik santri dari jauh untuk menggali ilmu dari seorang kiai tersebut secara terus menerus dalam waktu yang sangat lama. Kedua, hampir semua pesantren berada di desa-desa terpencil jauh dari keramaian dan tidak tersedianya rumah yang cukup untuk menampung para santri, dengan demikian diperlukan pondok.
Kata pondok biasanya para kiai juga menyebutnya ma’had, untuk membedakan makna pondok lainnya yang tidak berhubungan dengan pesantren dan kegiatan pengajian misalnya pondok sate atau sebagainya. Pondok atau tempat tinggal santri, merupakan ciri khas tradisi pesantren yang membedakan
29
M. Amin Haedari dan Abdullah Hanif, Masa Depan Pesantren, (Jakarta : ID Pers, 2004), Cet. Ke-1, h. 28