4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Gambaran Umum .1 Profil Kota Banda Aceh
Secara geografis Kota Banda Aceh memiliki posisi sangat strategis yang berhadapan dengan negara-negara di Selatan Benua Asia dan merupakan pintu gerbang Republik Indonesia di bagian Barat. Kondisi ini merupakan potensi yang besar baik secara alamiah maupun ekonomis, apalagi didukung oleh adanya kebijakan pengembangan KAPET (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu) dan dibukanya kembali Pelabuhan Bebas Sabang, serta era globalisasi. Potensi tersebut secara tidak langsung akan menjadi aset bagi Kota Banda Aceh khususnya dan Provinsi Aceh umumnya.
Kota Banda Aceh sebagai ibukota Provinsi Aceh secara geografis terletak antara 05º16’15’’–05º36’16’’ Lintang Utara dan 95º16’15’’–95º22’35’’ Bujur Timur. Tinggi rata-rata 0,80 meter di atas permukaan laut, dengan luas wilayah 61,36 km2 dengan batas-batas sebagai berikut:
- Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Darul Imarah dan Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar.
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Barona Jaya dan Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar.
- Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia.
Kota Banda Aceh terdiri dari 9 Kecamatan, 17 Mukim, 70 Desa dan 20 Kelurahan. Berikut tabel luas wilayah dan nilai persentasenya dari masing-masing Kecamatan :
Tabel 4.1
Gambaran Luas Wilayah dan Persentasenya dari Masing-Masing Kecamatan di Kota Banda Aceh
Sumber : Banda Aceh dalam angka, 2016
Kota Banda Aceh secara umum bersuhu panas, dengan suhu udara rata-rata bulanan berkisar antara 25.5°C sampai 27,5°C. Sedangkan suhu terendah dan tertinggi bervariasi antara 18,0°C hingga 20,0°C dan antara 33,0°C hingga 37,0°C. Kota Banda Aceh dibelah oleh sungai Krueng Aceh yang merupakan sungai terpanjang di Kota Banda Aceh. Ada tujuh sungai yang melalui Kota Banda Aceh yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air, sumber air baku, kegiatan perikanan, dan sebagainya, yaitu : Krueng Aceh, Krueng Daroy, Krueng Doy, Krueng Neng, Krueng Lhueng Paga, Krueng Tanjung, dan Krueng Titi Panjang. Wilayah Kota Banda Aceh memiliki air tanah yang bersifat asin, payau.
Ada tiga pintu kedatangan ke Banda Aceh, yaitu Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Pelabuhan Ulee Lheu dan terminal bus.
Gambar 4.1. Peta Administratif Kota Banda Aceh Sumber : Bappeda Kota Banda Aceh
4.2.1.2 Perekonomian
Wilayah Kota Banda Aceh sebagai kota Administratif dengan pemukiman yang cukup padat dan lahan kosong terbatas membuatnya sulit untuk memiliki industri-industri berskala besar, pertanian ataupun peternakan. Pada tahun 2015 produksi sektor pertanian hanya 507 ton, buah dan sayur sebesar 9580 Kuintal, 2024 ekor untuk sektor peternakan sapi dan 61800 ekor untuk ayam potong (Aceh Dalam Angka, BPS). Berdasarkan statisitik diketahui bahwa produksi tertinggi
didapat dari sektor perikanan laut (fishery) yaitu sekitar 111.756.000 ton (Aceh Dalam Angka, 2015) dimana Kota Banda Aceh diuntungkan oleh lokasinya yang berdekatan dengan Samudera Hindia, namun sektor ini sangat bergantung kepada
musim, cuaca dan tekhnik penangkapan ikan serta populasi dari biota laut itu sendiri.
Hal tersebut menjadikan kegiatan perekonomian di Kota Banda Aceh lebih digerakkan oleh sektor-sektor jasa. Salah satunya adalah sektor pariwisata. Itu sebabnya visi walikota yang akan menjadikan Banda Aceh sebagai Bandar Wisata Islami patut mendapat dukungan berbagai pihak dan kalangan.
4.2.1.3 Kegiatan Kepariwisataan
Banda Aceh Bandar Wisata Islami, demikian visi Walikota Banda Aceh yang bermaksud menjadikan pariwisata sebagai garda terdepan dalam pembangunan dan pengembangan Kota Banda Aceh. Penetapan visi Kota Banda Aceh ke depan ini patut diberikan acungan jempol. Sebagaimana diketahui Banda Aceh sebagai ibukota Provinsi Aceh tidak memiliki industri yang dapat dibanggakan. Demikian pula sektor pertanian, perkebunan, pertambangan dan lain sejenisnya tidak dimiliki Kota Banda Aceh. Kota Banda Aceh lebih dikenal sebagai kota Budaya dan Pendidikan.
Menurut Direktur Akademi Pariwisata Muhammadiyah Aceh, dalam artikelnya beliau mengamati kegiatan kepariwisataan di Kota Banda Aceh khususnya dan Provinsi Aceh pada umumnya Pasca Tsunami semakin berkembang pesat disebabkan tiga hal yaitu Tsunami, Helsinki dan Aksessibility.
Pertama dengan adanya peristiwa tsunami, Provinsi Aceh semakin dikenal ke berbagai penjuru dunia. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya arus kunjungan wisatawan mancanegara maupun nusantara ke Provinsi Aceh.
Peristiwa semacam itu merupakan momentum yang amat tepat untuk menjadikan
Provinsi Aceh umumnya dan Kota Banda Aceh khususnya sebagai salah satu Daerah Tujuan Wisata Islami di Indonesia. Berikut tabel jumlah wisatawan dan mancanegara di Kota Banda Aceh beberapa tahun terakhir.
Tabel 4.2
Banyaknya Wisatawan Nusantara dan Mancanegara di Kota Banda Aceh, 2015
Bulan Wisatawan Nusantara Wisatawan Mancanegara Jumlah
Januari 16 918 1 175 18 093
Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh
Kedua, perjanjian damai antara pemerintah R.I. dan GAM yang ditandatangani di Helsinki 15 Agustus 2005 yang lalu dimana salah satu butir kesepahaman menyebutkan bahwa Aceh akan menikmati akses langsung dan tanpa hambatan ke negara-negara lain melalui laut dan udara serta berhak melakukan perdagangan dan bisnis secara internal dan internasional serta menarik investor dan wisatawan asing secara langsung ke Aceh.
Ketiga, hubungan melalui udara ke Banda Aceh semakin menggembirakan.
Oleh karena itu Kota Banda Aceh yang memiliki aneka ragam potensi pariwisata akan semakin dikenal baik dalam maupun luar negeri yang pada gilirannya akan berwisata ke Kota Banda Aceh.
Pengembangan kebudayaan Aceh kedepan terutama sebagai upaya membenahi kembali kondisi Aceh menjadi daerah yang rukun, aman dan damai menjadi salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan. Maka salah satu pilarnya adalah membangun kembali tatanan dan pranata budaya masyarakat Aceh yang berakar pada adat istiadat dan budaya. Adat istiadat dan budaya merupakan elemen dan aspiratif dasar bagi pengembangan dan eksistensi budaya Aceh tersebut. Melalui pola ini maka setiap sisi kehidupan masyarakat harus dilandaskan pada kesadaran kebudayaan.
Dalam kaitan tersebut untuk dapat eksisnya kebudayaan Aceh yang bernafaskan Islam, maka mengaplikasikan Syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari perlu diwujudkan, selain membina dan mengaplikasikan hukum adat dan adat istiadat serta pranata-pranatanya sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat.
4.2.2 Uji Validitas dan Reliabilitas Data