• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

GAMBARAN UMUM PROVINSI BANTEN

Kondisi Geografis

Provinsi Banten terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten. Berdasarkan undang-undang, Provinsi Banten terdiri dari Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Kota Tangerang, Kota Cilegon. Pada tahun 2007-

2008, terjadi pemekaran wilayah dengan dibentuknya Kota Serang yang berasal dari pemekaran Kabupaten Serang dan Kota Tangerang Selatan yang berasal dari pemekaran Kabupaten Tangerang, yang menjadikan Provinsi Banten memiliki empat kabupaten dan empat kota. Kota Serang diresmikan pada tanggal 2 November 2007 berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Serang sedangkan Kota Tangerang Selatan dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan.

Secara astronomis, letak Provinsi Banten pada 5o7’50” – 7o1’11” Lintang Selatan dan 105o1’1” – 106o7’12” Bujur Timur. Provinsi Banten memiliki batas-

Tolak H0. Bukti autokorelasi positif Tidak ada keputusan Tidak ada keputusan Tolak H0* Bukti autokorelasi negatif Terima H0 atau H0* atau keduanya 0 dL dU 2 4-dU 4-dL 4

batas wilayah yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Hindia, sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat serta sebelah Barat berbatasan dengan Selat Sunda. Peta administratif Provinsi Banten dapat dilihat pada Gambar 3. Ekosistem wilayah Banten terdiri dari:

1. Lingkungan Pantai Utara yang merupakan ekosistem sawah irigasi teknis dan setengah teknis, kawasan pemukiman dan industri.

2. Kawasan Banten Bagian Tengah terdiri dari kawasan pertanian dan perkebunan serta sebagian terdiri dari pemukiman perdesaan.

3. Kawasan Banten Bagian Selatan terdiri dari kawasan lindung Gunung Halimun Salak, Kendengan hingga Malingping, Bayah merupakan daerah pegunungan yang relatif sulit untuk diakses namun menyimpan potensi sumber daya alam. DAS Cibaliung-Malingping merupakan cekungan sumber air.

4. Kawasan Banten Bagian Barat yang terdiri dari DAS Cindano dan lereng Karang-Aseupan dan Pulosari sampai DAS Ciliman wilayah Pandeglang dan Serang Bagian Barat, merupakan daerah yang kaya akan potensi air dan kawasan pertanian.

5. Ujung Kulon sebagai Taman Nasional Konservasi Badak Jawa (Rhinocerus sondaicus).

Gambar 6. Peta administratif Provinsi Banten Sumber: Kemendagri, 2013

Kependudukan

Jumlah penduduk kabupaten dan kota di Provinsi Banten pada tahun 2011 sebesar 11 005 518 jiwa. Pertumbuhan penduduk Provinsi Banten dapat dilihat pada Tabel 6. Selama kurun waktu 2001-2011, pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 33.03%. Apabila ditinjau dari kabupaten dan kota, pertumbuhan penduduk relatif tinggi pada Kota Tangerang dengan pertumbuhan sebesar 47.96%. Tingginya pertumbuhan penduduk ini berkaitan dengan potensi daerah Kota

Tangerang dan Kota Tangerang ini terletak berbatasan langsung dengan Kota DKI Jakarta, ibu kota Indonesia.

Tabel 6. Penduduk menurut kabupaten dan kota di Provinsi Banten tahun 2001 dan 2011

Kabupaten/Kota

Jumlah Penduduk (jiwa) Pertumbuhan Penduduk (%) 2001 2011 Kab Pandeglang 1 018 438 1 172 179 15.10 Kab Lebak 1 032 375 1 228 884 19.03 Kab Tangerang* 2 827 342 4 183 268 47.96 Kab Serang** 1 660 941 2 032 544 22.37 Kota Tangerang 1 335 756 1 869 791 39.98 Kota Cilegon 298 081 385 720 29.40 Total 8 172 933 11 005 518 33.03 Sumber: BPS, 2013

*Termasuk Kota Tangerang Selatan **Termasuk Kota Serang

Peningkatan jumlah penduduk disebabkan karena adanya pertumbuhan penduduk secara alami dan faktor perpindahan penduduk (migrasi) yang positif. Jumlah penduduk suatu daerah adalah suatu aset dan potensi yang besar untuk pembangunan jika penduduk daerah tersebut juga berkualitas, jika tidak, pertumbuhan penduduk hanya akan menjadi beban bagi proses pembangunan yang sedang berlangsung. Berdasarkan Tabel 7, luas wilayah Provinsi Banten sebesar 9 245 Km2 dengan kepadatan rata-rata penduduk pada tahun 2011 adalah 1 139 jiwa/Km2. Kepadatan penduduk pada tiap kabupaten dan kota berbeda satu sama lain. Kota Tangerang memiliki tingkat kepadatan penduduk tertinggi yaitu sebesar 12 147 jiwa/Km2, sedangkan kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak memiliki kepadatan penduduk di bawah rata- rata.

Tabel 7. Demografi Provinsi Banten tahun 2011

Kabupaten/Kota IbuKota Luas

(km2) Persentase Penduduk Kepadatan Penduduk per km2 Kabupaten Pandeglang Pandeglang 2 746 10.56 427 Lebak Rangkasbitung 3 426 11.17 359 Tangerang Tigaraksa 1 011 26.90 2 926 Serang Ciruas 1 734 13.03 827 Kota Tangerang Tangerang 153 16.99 12 147 Cilegon Purwakarta 175 3.50 2 198

Provinsi Banten Kota Serang 9 245 100 1 139

Sumber: BPS Provinsi Banten, 2013

Berdasarkan Tabel 8, Kabupaten Tangerang memiliki jumlah angkatan kerja maupun tertinggi sebesar 1 416 780 jiwa pada tahun 2011. Kabupaten Tangerang memiliki persentase pengangguran sebesar 30.03% pada tahun 2011. Kota

Cilegon memiliki jumlah penduduk angkatan kerja yang paling rendah sebesar 185 874 jiwa dengan persentase sebesar 3.58% pada tahun 2011. Provinsi Banten memiliki tingkat pengangguran terbuka yang tertinggi di Indonesia lainnya yaitu sebesar 19.62% pada tahun 2011 dibanding tingkat pengangguran provinsi lainnya seperti Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 2.67% dan DKI Jakarta sebesar 10.83% (RPJMD Provinsi Banten tahun 2012-2012). Angka pengangguran yang tinggi ini secara spasial berkaitan erat dengan fenomena migrasi penduduk. Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak merupakan daerah pedesaan yang perekonomiannya didominasi oleh sektor pertanian, sehingga bukan menjadi daerah tujuan migrasi. Empat kabupaten dan kota lainnya yang memiliki tingkat pengangguran terbuka sekitar 13.1% sampai 14.4%, merupakan daerah tujuan migrasi karena daerah dengan sektor perindustrian yang sangat dominan, faktor Ibukota Provinsi Banten dan adanya disparitas tingkat upah.

Tabel 8. Penduduk 15 tahun ke atas yang bekerja, mencari pekerjaan dan bukan angkatan kerja di Provinsi Banten tahun 2011

Kabupaten/Kota

Angkatan Kerja Bukan

Angkatan Kerja

Penduduk 15 Tahun ke Atas Bekerja Pengangguran Jumlah

Pandeglang 455 379 58 108 513 487 285 352 798 839 Lebak 482 907 66 471 549 378 314 439 863 817 Tangerang 1 212 422 204 358 1 416 780 622 785 2 039 565 Serang 570 246 87 433 657 679 358 176 1 015 855 Kota Tangerang 823 516 121 818 945 334 399 215 1 344 549 Kota Cilegon 161 448 24 426 185 874 79 664 265 538 Banten 4.29.660 680 654 5 210 224 2 476 135 7 286 059 Sumber: BPS Banten, 2011

Ketimpangan distribusi pendapatan dapat dilihat pada Tabel 9. Berdasarkan Tabel 9, pada tahun 2005 Kota Cilegon memiliki indeks ketimpangan paling tinggi sebesar 0.5 dan Kabupaten Tangerang menduduki posisi kedua dengan nilai indeks sebesar 0.35. Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak memiliki ketimpangan yang paling rendah sebesar 0.2 dan 0.23. Pada tahun 2010, Kota Cilegon juga masih memiliki angka ketimpangan yang tinggi sebesar 0.31 dan Kabupaten Tangerang sebesar 0.32.

Tabel 9. Indeks ketimpangan distribusi pendapatan Provinsi Banten tahun 2005- 2010 (Gini Ratio) Kabupaten/Kota 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Kabupaten Pandeglang 0.22 0.21 0.23 0.22 0.21 0.2 Kabupaten Lebak 0.23 0.26 0.22 0.24 0.2 0.23 Kabupaten Tangerang 0.35 0.31 0.25 0.23 0.32 0.32 Kabupaten Serang 0.28 0.29 0.27 0.24 0.23 0.27 Kota Tangerang 0.28 0.23 0.22 0.21 0.33 0.28 Kota Cilegon 0.50 0.26 0.27 0.25 0.29 0.31 Banten 0.38 0.31 0.29 0.30 0.35 0.32 Sumber: BPS Banten, 2013

Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak masih menduduki posisi terendah pada tahun 2010 dengan angka masing-masing sebesar 0.2 dan 0.23.

Ketimpangan pendapatan selalu dikaitkan dengan tingginya angka kemiskinan. Pada Tabel 10 disajikan persentase penduduk miskin Provinsi Banten dari tahun 2007 sampai dengan 2010. Berdasarkan Tabel 10, selama periode tahun 2007- 2011 Kabupaten Pandeglang memiliki angka persentase penduduk miskin tertinggi. Pada tahun 2007, persentase penduduk miskin mencapai 15.64% yang terus mengalami penurunan menjadi 9.8% pada tahun 2011. Kabupaten Lebak yang memiliki angka persentase terbesar kedua sebesar 14.43% yang menurun menjadi sebesar 3.98%. Kota Cilegon memiliki persentase penduduk miskin paling rendah sebesar 4.71% pada tahun 2007 yang menurun menjadi 3.98% pada tahun 2011. Perubahan dimensi ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita, tingkat pengangguran terbuka akan mempengaruhi tingkat kemiskinan. Penurunan angka kemiskinan di Provinsi Banten dapat dikaitkan dengan keberhasilan peningkatan di bidang ekonomi. Perbaikan ekonomi makro dapat dilihat dari meningkatnya pertumbuhan ekonomi.

Tabel 10. Persentase penduduk miskin Provinsi Banten tahun 2007-2011

Kabupaten/Kota Persentase Penduduk Miskin (%)

2007 2008 2009 2010 2011 Kabupaten Pandeglang 15.64 12.55 12.01 11.4 9.8 Kabupaten Lebak 14.43 12.05 10.63 10.38 9.2 Kabupaten Tangerang 7.18 7.41 6.55 7.18 6.42 Kabupaten Serang 9.47 6.48 5.8 6.34 5.63 Kota Tangerang 4.92 6.83 6.42 6.88 6.14 Kota Cilegon 4.71 3.95 4.14 4.46 3.98 Banten 9.07 8.15 8.15 7.46 6.26 Sumber: BPS Banten, 2013 Kondisi Perekonomian

Indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan perekonomian suatu wilayah salah satunya adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Berdasarkan data perkembangan PDRB kabupaten dan kota di Provinsi Banten tahun 2007-2011 atas harga berlaku maupun harga konstan yang terdiri dari sembilan sektor, secara umum sektor yang berkontribusi terbesar tahun 2007 dan 2011 masih pada sektor industri pengolahan. Pertanian juga mendominasi aktivitas masyarakat Provinsi Banten setelah industri pengolahan. Kinerja perekonomin Provinsi Banten selama tahun 2007 dan 2011 juga menunjukkan peningkatan yang didorong oleh konsumsi domestik yang tinggi dan peningkatan investasi dan kinerja ekspor sektor utama Provinsi Banten. Berlanjutnya krisis Eropa dan Amerika Serikat dapat berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekspor Banten. Kondisi ketidakpastian global yang diindikasikan dari banyaknya perkiraan dari lembaga keuangan dunia menurunkan angka proyeksi global khususnya dari negara-negara maju yang merupakan mitra dagang Provinsi Banten.

Tabel 11. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Banten atas dasar harga konstan 2000 menurut lapangan usaha tahun 2007-2011 (Juta Rp)

Lapangan Usaha Tahun

2007 2011

Pertanian 5 665 287.18 6 921 460.51

Pertambangan dan Penggalian 69 292.77 101 497.85

Industri Pengolahan 41 213 127.97 47 034 179.51

Listrik, Gas, Air Bersih 2 629 581.32 3 442 171.97

Konstruksi 1 880 273.94 2 590 502.54

Perdagangan, Hotel, Restoran 12 800 800.86 18 055 706.92

Transportasi dan Komunikasi 5 780 569.93 8 510 770.17

Keuangan, Persewaan, Jasa Perusahaan 2 302 634.01 3 465 677.76

Jasa-Jasa 3 008 042.95 4 100 387.81

PDRB 75 349 610.92 94 222 355.05

Sumber: BPS Banten, 2011

Dokumen terkait