RAPS merupakan restoran yang baru dan termasuk ke dalam usaha kecil. RAPS didirikan pada tanggal 24 Mei 2013. RAPS terletak di Jalan Malabar Ujung No. 40 Tegallega, Bogor Tengah Kota Bogor. Pemilik dari restoran tersebut adalah Bapak Hamami. Bapak Hamami saat ini berusia 26 tahun. Berdasarkan informasi dari Bapak Hamami, hasil penjualan per harinya sebesar Rp2 000 000 – Rp2 500 000, sehingga dapat dikatakan RAPS sebagai usaha kecil.
Ayam penyet merupakan masakan khas Sunda, sehingga akan banyak ditemui di berbagai wilayah seperti di Kota Bogor. Banyaknya restoran ayam penyet maka, Ayam Penyet Sangar dipilih menjadi nama restoran dikarenakan pemilik ingin menegaskan bahwa menu utama yang disajikan adalah ayam penyet dengan berbagai pilihan sambal. Ayam penyet adalah ayam goreng yang telah dipipihkan, disajikan dalam piring kayu berbentuk cobek dengan berbagai pilihan sambal. Pilihan sambal tersebut dimulai dari sambal dengan tingkat kepedasan rendah sampai ke sambal yang tingkat kepedasannya sangat pedas yaitu ayam penyet sangar.
Awal mula pemilik mendirikan RAPS, dikarenakan pemilik merasa jenuh setelah lima tahun bekerja sebagai karyawan di berbagai macam restoran mulai dari masakan Indonesia hingga ke masakan Jepang. Pemilik ingin membuka usahanya sendiri dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Selain itu, pendapatan yang lebih baik serta pengetahuan mengenai restoran yang sudah didapat juga merupakan suatu alasan pemilik untuk memberanikan diri membuka usaha RAPS.
Usaha RAPS sampai saat ini berjalan dengan baik. Dengan modal awal sebesar Rp72 000 000 RAPS berhasil menjual ayam penyet sebanyak 150 porsi per harinya. Artinya, RAPS telah memiliki banyak konsumen. Usaha RAPS berjalan dengan baik, karena didukung dengan promosi yang baik di awal usaha. Promosi tersebut diantaranya adalah memberikan diskon sebesar 50 persen untuk semua menu dan berhasil menjual 100 porsi. Dengan adanya promosi tersebut, orang akan mengenal bagaimana rasa ayam penyet di RAPS.
RAPS memiliki konsep restoran yang bersih, moderen dan murah. Dalam konsep moderen dapat dilihat dari interior ruangan restoran yang dilengkapi dengan musik. Menu yang ada di RAPS dikatakan murah karena setiap menu yang ada, dijual dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan tempat
23 lainnya. Harga murah tersebut seperti harga menu ayam penyet yaitu Rp 9000 – Rp10 000, harga nasi Rp3 000 dan dapat ditambah sepuasnya. Untuk delivery order (pesan antar) konsumen tidak dikenakan biaya tambahan dan pesanan saat ini masih diantar oleh pemiliknya langsung. Dengan adanya konsep tersebut, maka tujuan pasar dari RAPS sangat tepat yaitu mahasiswa. Disamping itu, lokasi RAPS berada di lingkungan mahasiswa.
Saat ini, pemilik berencana akan membuka cabang baru untuk mengembangkan RAPS. Pemilik juga berencana untuk memberikan diskon sebesar 50 persen untuk harga menu yang ada pada tanggal berdirinya RAPS tersebut yaitu tanggal 24 Mei 2013. Diskon tersebut diberikan sebagai ucapan terima kasih kepada konsumen yang telah loyal kepada RAPS meskipun RAPS merupakan restoran baru.
Keunggulan dan Keunikan Restoran Ayam Penyet Sangar
RAPS memiliki keunggulan dan keunikan yang berbeda dengan retoran yang lainnya. Keunggulan tersebut diantaranya adalah variasi pilihan sambal sebagai pelengkap ayam penyet. Variasi sambal yang ada di RAPS diantaranya ayam penyet sangar (ayam penyet dengan sambal merah yang sangat pedas), ayam penyet jutek (ayam penyet dengan sambal hijau), ayam penyet jail (ayam penyet dengan sambal merah ditambah dengan terasi), ayam penyet sadis (ayam penyet dengan rasa sambal manis dan asam), serta ayam penyet selow (ayam penyet dengan sambal merah yang rasanya pedas manis cenderung ke manis).
Keunggulan lainnya yang dimiliki oleh RAPS adalah harga yang murah pada nasi yaitu Rp3 000 untuk makan sepuasnya dan harga ayam penyet yang lebih murah jika dibandingkan dengan restoran lainnya.
Karakteristik Responden Restoran Ayam Penyet Sangar
Loyalitas konsumen dapat dilihat dari berbagai faktor. Faktor tersebut diantaranya terdapat pada karakteristik umum konsumen. Dari 100 orang responden, tentu memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Karakteristik umum yang diidentifikasi antara lain, usia, jenis kelamin, domisili saat ini, pendidikan terakhir, pekerjaan, suku, pendapatan atau uang saku rata-rata perbulan serta alat transportasi.
Karakteristik umum konsumen tersebut memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya seperti halnya keterkaitan antara jarak, pendapatan, alat transportasi, dan frekuensi pembelian konsumen. karakteristik umum konsumen tersebut juga dapat saling mempengaruhi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4 yaitu karakteristik konsumen RAPS yang memiliki keterkaitan dengan loyalitas.
24
Tabel 4 Hubungan karakteristik umum konsumen Restoran Ayam Penyet Sangar berdasarkan jarak, pendapatan, alat transportasi dan frekuensi pembelian serta keterkaitannya dengan loyalitas
Jaraka Pendapatanb Alat Transportasi Frekuensi
Pembelian (Mo)
Dekat Rendah Jalan kaki 24
Sedang Sedang Kendaraan bermotor pribadi 20
Jauh Tinggi Angkutan umum 1
a
Jarak dekat = ≤ 1 km, jarak sedang = 1.1 km-10 km, jarak jauh ≥ 10 km; bPendapatan rendah = ≤ Rp1 500 000, sedang = Rp1 600 000 – Rp3 200 000, Tinggi = ≥ Rp3 200 000
Loyalitas konsumen diduga dipengaruhi oleh jarak, frekuensi pembelian dan pendapatan. Berdasarkan tabel di atas, seharusnya jarak, pendapatan, dan alat transportasi dapat menentukkan frekuensi pembelian konsumen. Jarak konsumen dengan lokasi Restoran Ayam Penyet seharusnya membuat frekuensi pembelian konsumen menjadi lebih sering. Disamping itu, pendapatan yang tinggi dan ketersediaan alat transportasi juga akan meningkatkan frekuensi pembelian.
Kenyataan yang diperoleh dari hasil penelitian, bahwa benar adanya jika jarak mempengaruhi frekuensi pembelian. Jarak dekat membuat konsumen semakin sering untuk datang ke RAPS Hal ini dibuktikan dengan modus dari frekuensi pembelian untuk jarak dekat adalah 24 kali meskipun pendapatannya rendah. Tentu saja dapat disimpulkan bahwa pendapatan konsumen tidak mempengaruhi frekuensi pembelian. Pada tabel tersebut juga diketahui bahwa frekuensi pembelian yang tinggi diikuti dikarenakan kedekatan tempat tinggal dengan lokasi.
Pada jarak dekat, konsumen cenderung akan berjalan kaki menuju RAPS. Ini berarti kedekatan lokasi mendukung untuk konsumen restoran tersebut menjadi loyal, sedangkan jarak jauh membuat frekuensi pembelian konsumen semakin jarang meskipun pendapatannya tinggi. Dugaan lainnya pendapatan yang tinggi sebanding dengan pengeluaran yang tinggi juga untuk alat transportasinya, sehingga dugaan bahwa pendapatan akan mempengaruhi frekuensi pembelian konsumen adalah salah, karena pada hasil penelitian ini, pendapatan tidak memiliki pengaruh terhadap frekuensi pembelian. Meskipun demikian, kedekatan jarak dan kemudahan alat transportasi menuju ke RAPS memberikan pengaruh terhadap loyalitas.
25 Tabel 5 Karakteristik umum konsumen Restoran Ayam Penyet Sangar
Karakteristik umum konsumen Jumlah Responden Persentase (%) Total Usia 18-25 tahun 94 94 100 26-33 tahun 4 4 34-41 tahun 2 2 Pekerjaan Bekerja 15 15 100 Tidak bekerja(mahasiswa/pelajar) 85 85
Pendidikan terakhir SMA(Sederajat) 60 60
100
Perguruan tinggi 40 40
Jenis Kelamin Laki-laki 37 37
100 Perempuan 63 63 Domisili Bogor 80 80 100 Luar Bogor 20 20 Suku Sunda 35 35 100 Non Sunda 65 65
Faktor berikutnya yang terdapat dalam karakteristik umum konsumen adalah usia, pekerjaan dan pendidikan. Berdasarkan tabel 5 dari 100 orang responden RAPS, diperoleh hasil bahwa mayoritas responden RAPS berusia muda yaitu 18-25 yaitu sebesar 94 persen. Jika dikaitkan dengan pekerjaan dan pendidikan terakhirnya maka benar dan sesuai bahwa mayoritas respondennya masih berstatus sebagai mahasiswa atau pelajar dan belum bekerja. Apabila dikaitkan dengan frekuensi pembelian maupun loyalitas, usia muda atau kurang akan lebih sering melakukan pembelian di RAPS karena, di lingkungan RAPS terdapat Institut Pertanian Bogor.
Dalam tabel tersebut juga terdapat karakteristik umum konsumen RAPS yaitu jenis kelamin, domisili, dan suku. Berdasarkan data kuesioner dari 100 responden, diketahui sebanyak 63 responden atau sebesar 63 persen konsumen RAPS adalah perempuan sedangkan laki-laki hanya sebesar 37 persen. Menurut pengamatan dan wawancara kepada beberapa responden, responden perempuan lebih suka makan di RAPS dikarenakan kesukaannya terhadap makanan yang pedas seperti sambal yang menjadi pelengkap ayam penyet, sedangkan laki-laki lebih suka makan di restoran tersebut karena harganya yang terjangkau dan dapat refil atau tambah nasi.
Konsumen yang datang ke RAPS mayoritas berdomisili di wilayah Bogor. Hal ini diketahui dari data kuesioner. Sebanyak 80 responden atau sebesar 80 persen responden berdomisili di wilayah Bogor karena terdapat kemungkinan alasan kedekatan restoran dengan tempat tinggal saat ini. Menurut beberapa responden, lokasi RAPS berada dilingkungan tempat tinggal mahasiswa sehingga sangat mudah untuk ditemukan dan konsumen akan lebih sering datang karena kemudahan lokasinya seperti yang telah dijelaskan pada Tabel 4.
Suku menjadi suatu karakteristik dari konsumen yang penting untuk diketahui karena berbagai wilayah propinsi di Indonesia terdiri dari berbagai suku dan makanannya khasnya masing-masing. Ayam penyet biasanya identik dengan
26
restoran/rumah makan khas Sunda sehingga jika banyak dari suku non Sunda yang menikmati ayam penyet maka dapat dikatakan ayam penyet disukai atau dapat diterima oleh suku yang lain.
Mayoritas dari 100 responden (konsumen RAPS), sebesar 65 persen adalah berasal dari non Sunda sedangkan 35 persen adalah berasal dari suku Sunda. Ini membuktikan bahwa ayam penyet diterima oleh berbagai responden dengan berbagai suku tidak hanya suku Sunda. Kemudian, lingkungan mahasiswa yang memungkinkan berbagai mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah membuat mahasiswa tersebut mencoba makanan yang ada disekitarnya.
Keterkaitan hubungan antara jenis kelamin, suku dan domisili dengan loyalitas konsumen RAPS adalah umumnya wanita bersifat konsumtif, sama halnya dengan hasil penelitian bahwa mayoritas konsumen dari RAPS adalah wanita, dan berdomisili di wilayah Bogor. Namun berbeda dengan dugaan bahwa ternyata mayoritas suku non Sunda yang lebih banyak atau lebih sering mengkonsumsi di restoran tersebut dibandingkan dengan suku Sunda.
Persepsi Konsumen
Setiap konsumen memiliki persepsi masing-masing terhadap suatu yang dikonsumsinya. Persepsi konsumen juga dapat dijadikan sebagai acuan bagi pemilik perusahaan untuk memperbaiki perusahaan seperti yang dibayangkan atau diharapkan oleh konsumen. Berikut ini adalah Tabel 6 mengenai persepsi konsumen RAPS.
Tabel 6 Persepsi konsumen mengenai jenis dan harga Restoran Ayam Penyet Sangar
Persepsi konsumen terhadap jenis dan harga
Restoran Ayam Penyet Sangar Jumlah (%)
Jenis restoran Sunda 74
Non Sunda 26
Persepsi harga Terjangkau 90
Mahal 10
Berdasarkan tabel di atas, dari 100 orang responden sebesar 74 persen menyatakan bahwa RAPS merupakan jenis restoran Sunda, sedangkan yang lainnya sebesar 26 persen menyatakan bahwa RAPS adalah restoran non Sunda. Perbedaan persepsi tersebut dikarenakan pemikiran dan asumsi setiap orang berbeda-beda. Dugaan sebelumnya, konsumen yang berasumsi bahwa RAPS merupakan restoran Sunda, maka kemungkinan konsumen yang datang mayoritas berasal dari suku Sunda. Namun setelah dilakukan wawancara dan penyebaran kuesioner, mayoritas konsumen yang datang berasal dari suku non Sunda sehingga dugaan sebelumnya adalah salah.
Persepsi konsumen terhadap harga menu di RAPS sebesar 90 persen adalah terjangkau, sedangkan 10 persen lainnya menyatakan bahwa harga menu di RAPS tidak terjangkau atau mahal. dengan adanya persepsi tersebut dapat diketahui bahwa harga berpengaruh terhadap loyalitas. Persepsi mengenai harga sesuai dengan yang terdapat pada “Sub Bab tingkat loyalitas” dimana konsumen dari
27 RAPS sensitif terhadap perubahan harga, artinya konsumen akan beralih jika harga di RAPS meningkat.