BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN RIFA’IYAH
D. Gambaran Umum Rifa’iyah
yang bis
kungan.
eliharaan kesehatan pada balita.
n kelompok keagamaan pengikut dan simpatisan KH tasawuf dan muncul pada pertengahan abad ke-19 di pesisir u
a menunjang dan mendukungnya. Adapun jenis progaram kegiatannya adalah sebagai berikut:
1. Mengadakan kegiatan kerja bakti dalam rangka meningkatkan kebersihan dan kesehatan ling
2. Membentuk Posyandu yang berjumlah 17 lokasi / tempat untuk meningkatkan gizi dan pem
3. Membentuk Puskesmas untuk melayani masyarakat yang kurang mampu dalam memenuhi kebutuhan kesehatan
D.Gambaran Umum Rifa’iyah 1. Gerakan Rifa’iyah
Rifa’iyah merupaka Ahmad Rifa’i yang bercorak
tara Jawa Tengah tepatnya di desa Kalisalak, Batang. Pada abad ke-19 di sebagaian besar wilayah Jawa dilanda serangkaian gerakan protes yang dilakukan oleh petani khususnya di daerah pedalaman. Protes sosial yang dilakukan oleh para petani Jawa pada masa itu karena dominasi pemerintah kolonial Belanda dihampir segala aspek kehidupan. Penetrasi yang dilakukan oleh kaum penjajah menimbulkan antipati rakyat terjajah terhadap kaum penjajah tak terkecuali terhadap mereka yang bekerjasama dengan penjajah Belanda. Salah satunya adalah gerakan Rifa’iyah.2
2
Abdul Jamil, Perlawanan Kiai Desa: Pemikiran Dan Gerakan Islam KHAhmad Rifa’i,
Kemunculan Rifa’iyah dilatar belakangi oleh faktor politik-ekonomi, penetrasi pemerintah kolonial Belanda di semua aspek kehidupan dan kondisi keagama
ya di Kendal dalam hal ini Purwosa
memperkuat dan melestarikan pengajarannya selama-lamanya, Syaikh Ahmad
an orang Jawa pada masa itu yang dapat dikatakan masih jauh dari nilai-nilai Islam. Hal ini masih diperparah lagi dengan para birokrat pribumi termasuk penghulu (yang mengurusi soal agama) menjadi kaki tangan pemerintah kolonial Belanda (penguasa kafir). Gerakan protes Rifa’iyah oleh pemeintah kolonial Belanda dikhawatirkan akan menimbulkan pemberontakan yang akan mengganggu kestabilan politik di Jawa pada masa itu, untuk mengantisipasi hal itu dengan segala cara dan upaya Belanda menangkap dan mengasingkan KH Ahmad Rifa’i sebagai tokoh sentral gerakan Rifa’iyah seta menjauhkannya dari pengikutnya. Murid-murid KH Ahmad Rifa’i menjadi agen penyebaran agama Islam melalui Kitab Tarjumah karya KH Ahmad Rifa’i sehingga ajarannya disebut ajaran tarjumah / tarjamahke daerah asal mereka.3
Komunitas Rifa’iyah yang ada di Kretegan berbeda dengan komunitas Rifa’iyah dipusat pengambangan Rifa’iyah lainn
ri patebon dan Cempoko Mulyo Gemuh. Di desa tersebut pertama kali Syaikh Ahmad Rifa’i mendirikan lembaga pondok pesantren yang namanya semakin terkenal dikalangan orang banyak dan berdatangan para murid dari berbagai daerah seperti Kendal, Pekalongan, Wonosobo dan daerah lainnya. Untuk
3
Ibid, h. 36
Rifa’i mempersiapkan murid-muridnya dengan cara khusus seperti pengkaderan untuk masa depan pemikiran dan penggeraknya. Mereka itu orang-orang yang akan mengembangkan kitab-kitab yang telah dikarang oleh Syaikh Ahmad Rifa’i dan mereka di kenal sebagai para penerus (murid generasi pertama).4
Ajaran KH Ahmad Rifa’i mempunyai ciri khas dengan umat Islam pada umumnya sehingga ada pihak-pihak yang menganggap ajarannya sebagai ajaran sesat, yang sampai saat sekarang masih teguh dijalankan oleh para pengikutnya. Salah sa
tunya ajaran beliau tentang keyakinannya bahwa rukun iman hanya ada satu, yaitu membaca dua kalimat syahadat.5 Syaikh Ahmad Rifa'i berpendapat bahwa rukun Islam itu satu dalam pengertian syarthiyah, yakni yang mewajibkan (menentukan secara lahir) sahnya Islam seseorang. Dengan demikian seseorang ketika mengucapkan kedua kalimat syahadat maka orang tersebut sudah tergolong masuk Islam, tetapi dia wajib menyempuranakan imannya dengan membenarkan hatinya dan mengerjakan ajaran-ajaran Islam dengan jalan yang sesuai. Adapun implementasinya dinamai dengan perbuatan Islam ( amaliatul Islam) . Maka menurut ajaran dasar Syaikh Ahmad Rifa'i sudah termasuk Islam orang-orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat saja meskipun mereka tidak melakukan ajaran-ajaran Islam seperti yang diwajibkan kepada orang Islam. Maksudnya adalah bahwa sesungguhnya orang-orang itu menikmati keislamannya dan akan
4 Ibid
5
tetapi mereka wajib menyempurnakan apa yang kurang (seperti sholat, zakat, puasa ramadhan atau haji) dari syarat-syarat iman kepada Allah (membenarkan dan tunduk atas kewajiban tersebut).6
Pendapat Syaikh Ahmad Rifa'i dalam hukum-hukum syara' sejalan atau cenderung dengan fiqih Imam Syafi'i yang terdapat dalam bermacam-macam kitab karangan beliau yang ditulis dalam bahasa Jawa, seperti kitab Syarihul Iman, Taisir, T
2.
Pandangan Rifa’iyah terhadap masalah perkawinan tidak jauh berbeda dengan pandangan para ulama pada umumnya, karena mereka mengikuti madzhab
abyinul Islah limuradi an-Nikah, Inayah, Irsyad, Targhib dan lainnya. Ketika terdapat pembicaraan yang berbeda tentang suatu masalah maka yang terbaik adalah memikirkan bahwa perbedaan tersebut merupakan ijtihad individual Syaikh Ahmad Rifa'i, seperti pendapat beliau bahwa rukun Islam hanya satu yaitu membaca dua kalimat syahadat, tetapi wajib menyempurnakan imannya dengan menjalankan ajaran-ajaran Islam seperti sholat, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu. Untuk menyesuaikan pemikirannya dengan kebutuhan dan realitas umat, maka beliau menulis kitab-kitab yang berbahasa Jawa agar supaya mudah dipahami oleh para pengikutnya.7
Pandangan Rifa’iyah terhadap Masalah Perkawinan
6
Muhammad Amin Ridho, Usfita Syekh Ahmad Rifa’i, (Wonosobo: Manba’ul Anwar Press, 2008), h. 14-15
7
Ahmad Rifa’I, Taisir,Penerjemah Ahmad Syadzirin Amin, (Pekalongan, Yayasan Badan Wakaf Rifa’iyah, 2009), h. 17
Imam Syafi’i, hanya saja mereka sangat berhati-hati dalam melaksanakannya ehingga tidak jarang atau sering terjadi istilah perkawinan ulang. Mungkin dengan adanya perkawinan ulang terkesan berlebihan, sampai akhirnya timbul persepsi masyarakat akan adanya perbedaan dengan perkawinan yang dilakukan orang Islam pada umumnya (di Indonesia). Padahal tidak demikian (ada perbedaan), Rifa’iyah hanya mempertahankan tradisi perilaku K.H Ahmad Rifa’i yang sangat kental dengan kehati-hatiannya dalam menerapkan hukum agama (syariat).
Adapun pendapat K.H Ahmad Rifa’i tentang masalah perkawinan telah ditulis dalam sebuah kitab yang sampai sekarang masih menjadi rujukan utama para penganut Rifa’iyah dalam masalah perkawinan, yaitu kitab Tabyinul Islah Limuradi an-Nikah. Isi dari kitab tersebut adalah membahas seputar masalah perkawinan, seperti hukum, rukun dan syarat perkawinan, thalaq, ruju’ dan sebagainya. Kitab tersebut beliau tulis dengan menggunakan bahasa Jawa huruf arab latin, karena untuk memudahkan bagi orang awam yang belum paham tentang hukum agama (syariat) yang berkaitan dengan masalah perkawinan.
Pendapat K.H Ahmad Rifa’i tentang hukum nikah pada dasarnya tidak berbeda dengan pendapat mayoritas ulama , yang mana beliau berpendapat bahwa
s 8 9 8
Nurudin Fajar, “Aliran Rifa’iyah Didukuh Kretegan Desa Karangsari Kecamatan Rowosari-Kendal, Pada Tahun 1960-1975”,(Skripsi S1 Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri
emaran
min Ridho, Usfita Syaekh Ahmad Rifa’i, op.cit, h.106.
S g, 2007), h.55.
9
hukum asal perkawinan adalah mubah, tetapi adakalanya bisa menjadi wajib, sunnah, haram, bahkan makruh.10 Sedangkan pendapat beliau tentang rukun dan syarat pe
erempuan
b. Syarat sah perkawinan
1. Syarat-syarat pengantin laki;laki ada lima perkara, yaitu: 1. Baligh, bila masih keci maka bapak atau kakek kabulnya. 2. Berakal, bila hilang akalnya maka bapak kabulnya.
u sesusuan dengan pengantin wanita. 4. Dengan kehendak sendiri(ikhtiar), tidak sah apabila dipaksa.
rkawinan pada dasarnya juga tidak berbeda dengan pendapat mayoritas ulama, hanya saja beliau terkesan lebih teliti dalam merinciksnnya, baik dalam rukun maupun syarat.11 Adapun rukun dan syarat sah perkawinan menurut beliau adalah sebagai berikut:12
a. Rukun nikah ada lima perkara, yaitu; 1. Pengantin laki-laki
2. Pengantin perempuan 3. Wali pengantin p 4. Dua orang saksi 5. Ijab dan Qabul
3. Tidak senasab ata
10
Ahmad Rifai, Tabyinul Islah limuradi an-Nikah, (t.t, t.p, 1847), koras 1-2.
11
Ibid.
12
Ibid. koras 2-3.
5. Menentukan dan mengetahui nama wanita yang akan dinikahi, a dan sudah
laki, yaitu:
ndiri, tanpa ada paksaan selain wali mujbir yaitu bapak
-laki yang akan menikahinya.
m, yaitu
enikahkan wanita dengan cara memaksa meskipun ia
ujbir ada enam perkara, yaitu: 1. Bap
g laki-laki yang adil, terkenal orang yang dapat dipercaya. mengetahui akan status calon istrinya, perawan atau jand lepas ‘iddah.
2. Syarat pengantin wanita sama dengan syarat pengantin laki-1. Berusia baligh.
2. Berakal.
3. Tidak senasab atau tidak sesusuan dengan pengantin laki-laki. 4. Kehendak sen
atau kakek. 5. Mengetahui laki 3. Syarat wali
Wali yang akan menikahkan seorang wanita ada dua maca
wali mujbir dan wali bukan mujbir. Adapun wali mujbir adalah seorang wali yang boleh m
tidak rela. Syarat wali m
aknya, kakeknya atau tuan hambanya yang menjadi wali mujbir, adapun saudara dan pamannya bukanlah wali mujbir.
2. Status pengantin harus gadis perawan walaupun usia baligh. 3. Seoran
5. Dinikahkan kepada seorang laki-laki yang bukan musuh dengan anaknya.
6. Harus dapat mahar mitsil dan pengantin laki-laki sanggup
mujbir.
ak menikahkan seorang wanita bila statusnya belum baligh
enikahkannya, basic izin maupun rsebut sudah baligh, maka sah menikah
4.
, yaitu harus orang laki-laki.
dalam naungan atau dimiliki
ri dua orang laki-laki. membayarnya.
Wali bukan mujbir adalah selain wali
Selain dari dua wali di atas ada juga wali wanita janda (tsayyibah), wali mujbir berh
dan lagi perawan bukan janda. Tetapi kalau wanita tersebut ternyata janda, maka bapak dan kakeknya tidak berhak m
tidak, sama saja tidak sah. Apabila janda te
kannya dengan syarat izin daripadanya, karena janda yang belum baligh apa yang di ucapkan tidak dapt dipercaya.
Syarat saksi
Syarat sah saksi ada enam belas perkara, yaitu: 1. Islam, yaitu orang yang beragama Islam. 2. Aqil, yaitu orang yang berakal.
3. Baligh, yaitu sudah mencapai usia dewasa. 4. Laki-laki
5. Merdeka, yaitu orang yang sudah tidak tuannya.
6. Dua orang, yaitu harus terdiri da
an jelas.
k, yaitu bukan anaknya sendiri.
am keadaan aman atau bebas
ar.
isa menjaga kehormatannya. eyakini Tuhan.
taan penerimaan dari pengantin laki-laki. ah disetubuhi. Meng
8. Mendengar, yaitu bisa mendengar deng
9. Mampu mengucap, yaitu bisa mengucap dengan jelas. 10. Bukan ana
11. Bukan bapak, yaitu bukan bapaknya mempelai wanita. 12. Bukan musuh, yaitu harus orang yang dal
dari tekanan kedua mempelai.
13. Tidak fasik, yaitu orang yang tidak melakukan dosa bes 14. Bisa menjaga harga diri, yaitu orang yang b
15. Selamat keyakinannya, yaitu orang yang benar-benar m
16. Bukan orang pemarah, yaitu orang yang suka marah (emosi). 5. Syarat ijab qabul
Syarat ijab qabul ada enam perkara, yaitu:
1. Pengantin laki-laki harus mengetahui ijab dan qabul.
2. Pengantin laki-laki tidak boleh terlalu lama menjawab qabulnya. 3. Adanya pernyataan mengawinkan dari wali perempuan.
4. Adanya pernya
5. Tidak ada perjanjian menceraikan setel 6. gunakan bahasa yang bisa dimengerti.
TENTANG PERKAWINAN ULANG
A.Perkawinan Ulang 1. Pengertian
Kata “ulang” menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah kembali, lagi, atau berkali-kali.1 Apabila kata “ulang” merupakan kata tambahan untuk merangkai agar menjadi sebuah variable, maka kata sebelumya berarti kembali atau terjadi lagi. Dalam hal ini kata yang dimaksud adalah kata perkawinan, jadi maksudnya adalah bahwa perkawinan itu kembali atau terjadi lagi. Maka, apabila kedua kata tersebut digabungkan, akan menimbulkan sebuah definisi yaitu, perkawinan ulang adalah perkawinan yang dilakukan setelah sebelumnya sudah pernah terjadi perkawinan atau akad nikah.
2. Pandangan Para Tokoh tentang Perkawinan Ulang
Untuk memperoleh jawaban para tokoh penganut aliran Rifa’iyah di Kelurahan Pagerkukuh Kecamatan Wonosobo tentang perkawinan ulang, penulis telah melakukan wawancara dengan beberapa tokoh penganut aliran Rifa’iyah di kelurahan tersebut dengan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai perkawinan ulang. Salah satunya adalah wawancara dengan Bapak Kyai Hadi Sutopo yang
1
Sulkan Yasin dan Sunarto Hapsoyo, Kamus Bahasa Indonesia, (Surabaya: Mekar, 1990), h. 318.
mana beliau berpendapat bahwa, perkawinan ulang adalah merupakan sebuah anjuran untuk dilakukan bukan keharusan. Tetapi, apabila mengikuti pendapat K.H Ahmad Rifa’i (pendiri Rifa’iyah) maka, sebaiknya perkawinan ulang perlu dilakukan karena untuk menyempurnakan perkawinan, dan menurut beliau perkawinan yang dilakukan di KUA (Kantor Urusan Agama) adalah sah karena sudah memenuhi rukun dan syarat, tetapi kurang sempurna.2
Hal yang sama juga dikatakan oleh Bapak Kyai Sowarno dan para tokoh Rifa’iyah lainnya bahwa perkawinan ulang merupakan sebuah anjuran yang sifatnya setengah dari wajib untuk dilakukan, karena menurut pendapat KH. Ahmad Rifa’i (pendiri Rifa’iyah) bahwa apabila ada salah satu atau lebih rukun dan syarat perkawinan kurang terpenuhi dengan sempurna maka perkawinan ulang harus dilakukan. Akan tetapi beliau berpendapat perkawinan yang dilangsungkan di KUA (Kantor Urusan Agama) sudah sah, karena sudah memenuhi rukun dan syarat perkawinan, tapi mungkin kurang sempurna.3
Kesimpulannya adalah bahwa perkawinan ulang perlu dilakukan karena untuk menyempurnakan perkawinan.
3. Alasan Melakukan Perkawinan Ulang
Dari hasil wawancara yang telah penulis lakukan dengan beberapa tokoh tentang alasan melakukan perkawinan ulang semua berpendapat sama yaitu,
2
Bapak Kyai Hadi Sutopo, Wawancara Pribadi , (Wonosobo, 13 April 2010)
3
karena untuk mengantisipasi atau menjaga jika dikhawatirkan atau ditemukan yang menjadi saksi perkawinan di KUA (Kantor Urusan Agama) diragukan akan kesaksiannya, karena tidak atau kurang memenuhi syarat menjadi saksi. Sehingga, disangsikan perkawinan tersebut kurang sempurna atau bahkan tidak sah jika mengikuti pendapat K.H Ahmad Rifa’i (pendiri Rifa’iyah). Karena saksi merupakan salah satu rukun nikah, maka harus diperhatikan atau diperhitungkan. Dalam hal ini yaitu, orang-orang yang telah memenuhi syarat atau sepantasnya menjadi saksi meskipun tidak sepenuhnya bisa sempurna, artinya semua syarat ada pada dirinya tetapi setidaknya mendekati kesempurnaan, sehingga perkawinan bisa lebih sempurna. Akan tetapi, tidak menganggap pernikahan di KUA tidak sah akan tetapi sudah sah, dan alangkah baiknya dan tidak ada salahnya apabila dilakukan perkawinan ulang atau akad nikah baru yang intinya adalah untuk menyempurnakan perkawinan.
Adapun syarat menjadi saksi yang memenuhi tingkatan adil menurut Rifa’iyah adalah sebagai berikut :
1. Islam, yaitu orang yang beragama Islam dan tidak sah apabila dari selain orang Islam.
2. Aqil, yaitu orang yang berakal dan tidak sah apabila orang yang hilang ingatan menjadi saksi
3. Baligh, yaitu sudah mencapai usia dewasa dan sudah dikenai beban hukum syari’at dan tidak sah orang yang belum baligh menjadi saksi.
4. Laki-laki, yaitu harus orang laki-laki dan tidak sah apabila perempuan menjadi saksi
5. Merdeka, yaitu orang yang sudah tidak dalam naungan atau dimiliki tuannya dan tidak sah kesaksian seorang budak yang masih dalam hak milik tuannya. 6. Dua orang, yaitu harus terdiri dari dua orang laki-laki kalau hanya satu maka
tidak sah.
7. Melihat, yaitu bisa melihat atau tidak buta dan dapat menyaksikan tidak sah kesaksian orang buta atau tidak dapat melihat
8. Mendengar, yaitu bisa mendengar dengan jelas dan tidak sah kesaksian orang tuli atau tidak dapat mendengar.
9. Mampu mengucap, yaitu bisa mengucap dengan jelas dan tidak sah kesaksian orang bisu atau tidak mampu mengucap.
10.Bukan anak, yaitu bukan anaknya sendiri dan tidak sah kesaksian seorang anak keturunannya sendiri.
11.Bukan bapak, yaitu bukan bapaknya mempelai wanita dan tidak sah kesaksian seorang bapak mempelai wanita.
12.Bukan musuh, yaitu harus orang yang dalam keadaan aman atau bebas dari tekanan kedua mempelai.
13.Tidak fasik, yaitu orang yang tidak melakukan dosa besar dan tidak sah kesaksian orang yang sering melakukan disa besar.
14.Bisa menjaga harga diri, yaitu orang yang bisa menjaga kehormatannya dan tidak sah kesaksian orang yang tidak bisa menjaganya.
15.Selamat keyakinannya, yaitu orang yang benar-benar meyakini Tuhan tidak, tersesat imannya dan bukan ahli bid’ah seperti golongan Jabariah dan Qadiriyah
16.Bukan orang pemarah, yaitu orang yang tidak suka atau sering marah (emosi) yang berlebihan karena dorongan hawa nafsunya. 4
Menurut mereka (para tokoh) memang bukanlah hal yang mudah untuk bisa mendapatkan seorang saksi yang memenuhi syarat seperti di atas, apalagi di saat sekarang. Meskipun ada, tetapi kemungkinan kecil untuk bisa mendapatkannya, jika tidak karena kebetulan saja. Akan tetapi, mereka beranggapan bahwa yang sepantasnya menjadi saksi dalam perkawinan adalah orang yang memenuhi batas maksimal mendekati persyaratan di atas meskipun tidak sepenuhnya.
4. Tujuan Melakukan Perkawinan Ulang
Diantara beberapa tujuan melakukan perkawinan ulang adalah sebagai berikut:
1. Untuk menyempurnakan perkawinan apabila ditemukan atau diketahui yang ditunjuk menjadi saksi kurang memenuhi syarat menjadi saksi. Tetapi sama sekali tidak menganggap bahwa perkawinan yang dilangsungkan di KUA (Kantor Urusan Agama) tidak sah tetapi sudah sah, hanya saja kurang sempurna.
4
2. Untuk memberitahukan kepada kedua mempelai khususnya pihak laki-laki (suami) agar supaya berhati-hati ketika mengucapkan kalimat talaq. Karena, kadang tanpa diketahui atau disadari jika suami telah mengucapkan kalimat talaq atau kalimat lain yang maksudnya sama dengan kalimat talaq, mereka masih berkumpul selayaknya hubungan yang sah. Padahal apabila suami sudah mengucapkan kalimat talaq berarti ia tidak boleh (haram) menggauli istrinya kalau belum rujuk dan dihukumi zina. Apabila melakukan zina, maka mereka telah melakukan dosa yang besar. Untuk mengantisipasi atau menjaga agar tidak terjadi maka permasalahan ini penting untuk diketahui dan harus disampaikan kepada kedua mempelai, terutama pihak suami Karena akhir-akhir ini banyak kejadian seorang suami telah mengucapkan kalimat talaq tetapi tidak merasa bahkan tidak tahu bahwa ia telah menceraikan istrinya, dan masih melakukan hubungan selayaknya suami istri yang masih sah. Berarti menambah pengetahuan kedua mempelai agar berhati-hati dalam menjaga penikahannya.
B.Dalil atau Dasar yang Digunakan
Berbicara tentang dalil apa yang digunakan untuk melakukan perkawinan ulang atau akad nikah baru, sama sekali tidak ada dalil yang benar-benar tepat mengenai masalah tersebut. Akan tetapi, perkawinan ulang dilakukan dengan alasan merujuk sebuah hadits yang menjelaskan tentang perkawinan tidak sah tanpa adanya wali dan dua orang saksi yang adil, yaitu:
ﻻ
ِﻧﻜ
حﺎ
ِا
ِِِِﻻ
ِﺑ
ﻮ
ﻰﻟ
و
ﺷ
ِه ﺎ
ﺪ
ﻋ ى
ْﺪ
ل
“ Tidak sah nikah tanpa wali dan dua orang saksi yang adil”(HR. Daruqhutny dan Ibnu Hibban)
Dari bunyi hadits di atas menurut Rifa’yah, bahwa rukun perkawinan selain harus ada wali juga harus dihadiri oleh dua orang saksi yang adil. Kata adil disini sangat diperhitungkan oleh mereka karena rukun yang sering menjadi penyebab adanya perkawinan ulang adalah mengenai saksi yang kurang memenuhi syarat adil (penjelasan tentang syarat saksi adil sudah dijelaskan pada halaman sebelumnya). Adapun pendapat sesepuh pendiri Rifaiyah yaitu K.H Ahmad Rifa’i tentang perkawinan ulang adalah sebagai berikut:
1. Apabila ada rukun dan syarat perkawinan yang cacat atau kurang sempurna, maka perkawinan tidak bisa dianggap sah dan harus dilakukan perkawinan ulang atau akad nikah baru, terutama yang berkaitan dengan masalah saksi.
2. Apabila akad perkawinan dilakukan di hadapan hakim pemerintahan kolonial Belanda maka tidak sah atau tidak ada gunanya (batal) dan harus dilakukan perkawinan ulang atau akad nikah baru. Karena, beliau beranggapan bahwa hakim syara’ yang bekerja dalam pemerintahan kolonial Belanda tergolong orang-orang fasik yang saling membantu dengan hukum kafir.
K.H Ahmad Rifa’i adalah salah satu ulama pribumi yang sangat anti dengan kolonial Belanda. Sehingga, beliau menganggap kolonial Belanda adalah orang-orang kafir yang harus diperangi dan haram hukumnya mengikuti peraturan-peraturannya.
Akan tetapi, kalangan Rifa’iyah hanya mengikuti pendapat yang pertama yaitu, bahwa perkawinan ulang layak untuk dilakukan apabila diketahui para saksinya kurang memenuhi syarat menjadi saksi atau kurang sempurna. Maka, dianjurkan untuk melakukan perkawinan ulang atau akad nikah baru dengan tujuan untuk menyempurnakan perkawinan. Tetapi, perkawinan ulang atau akad nikah baru tersebut bukanlah merupakan kewajiban atau keharusan untuk dilakukan, hanya diperuntukan bagi mereka yang menghendaki atau menginginkan saja. Adapun pendapat yang kedua mereka tidak bisa mengikuti karena saat sekarang sudah sudah terbebas dari pemerintahan kolonial Belanda.
C.Analisis Penulis
Setelah penulis memaparkan beberapa uraian yang berhubungan dengan rumusan masalah, maka selanjutnya penulis akan memaparkan analisis terhadap rumusan masalah tersebut. Adapun analisisnya adalah sebagai berikut:
1. Memang benar menurut pendapat jumhur ulama dan telah dirumuskan oleh para ulama Indonesia bahwa salah satu syarat saksi adalah adil. Akan tetapi, menurut penulis adalah suatu hal yang sangat sulit untuk bisa mengetahui sejauh mana seseorang sudah bisa berbuat adil atau belum bahkan tidak. Penulis beranggapan cukup kiranya melihat adil atau tidaknya seseorang dari lahirnya saja, karena kehadiran saksi pada waktu akad nikah adalah untuk menyaksikan atau mengetahui bahwa perkawinan itu telah berlangsung. Oleh sebab itu, menurut hemat penulis, untuk memudahkan pelaksanaan perkawinan cukup kiranya
5
Sebenarnya tidak berbeda jauh dengan pendapat K.H Ahmad Rifa’i yaitu tentang syarat adil, tetapi masalahnya adalah sulitnya kemampuan manusia mengetahui batasan seseorang adil atau tidak. Untuk mengantisipasi hal tersebut dan memudahkan dalam memenuhi rukun nikah atau perkawinan, maka setiap orang yang ditunjuk menjadi saksi akad nikah baik di KUA maupun diluar KUA diwajibkan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan istighfar sebelum menyaksikan atau