27
28 Undang-undang Kepegawaian yang dimiliki Indonesia menjadi dasar hukum bagi Pemerintah dalam setiap membuat keputusan, maupun kebijaksanaan di bidang kepegawaian, dengan diundangkannya UU No. 8 Tahun 1974, hal itu memberikan kedudukan hukum yang jelas bagi setiap Pegawai Negeri, khususnya Pegawai Negeri Sipil. UU No. 8 Tahun 1974 mempunyai sejarah yang panjang dalam pembentukannya. Pembentukan Undang-undang tersebut berawal dari Keputusan Presiden No. 130 Tahun 1958 pada tanggal 21 juni 1958 tentang dibentuknya suatu Panitia Negara Perancang Undang-undang Kepegawaian yang diberi tugas antara lain:
1. Mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan kedudukan, hak-hak serta kewajiban Pegawai Negeri.
2. Menyiapkan rencana Undang-undang mengenai ketentuan-ketentuan pokok tentang kepegawaian.
Kepanitiaan tersebut diketuai oleh Prajudi Atmosudirjo, yang hanya diberi waktu selama 6 bulan untuk menyelesaikan tugasnya, tidak sampai 6 bulan kepanitiaan tersebut sudah membuahkan hasil. Hasil kerja kepanitiaan tersebut berupa Rancangan Undang-undang tentang Pokok-pokok Kepegawaian, kemudian pada tahun 1961 RUU tersebut resmi menjadi Undang-undang Nomor 18 Tahun 1961 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kepegawaian dalam Lembaran Negara RI Tahun 1961 No. 263.56 Undang-undang Nomor 18 Tahun 1961, pada tahun 1973 ternyata dianggap sudah tidak sesuai lagi untuk dapat mendukung atau memperlancar pembinaan kepegawaian, karena kedudukan dan peranan Pegawai Negeri yang terasa semakin penting dan menentukan. Hal tersebut disadari oleh
29 Pemerintah, lalu pada awal 1973 BAKN mengumpulkan bahan-bahan untuk menyusun RUU tentang Pokok-pokok Kepegawaian.
Proses penyusunan rancangan tersebut dikonsultasikan dengan para Pejabat dari masing-masing departemen/lembaga serta para ahli dari berbagai bidang. Rancangan BAKN ini diuraikan Ka. BAKN A.E Manihuruk yang berjudul “Proses Penyusunan Undang-undang No. 8 Tahun 1974” yang disebut dengan draft pertama. Draft pertama ini kemudian dibahas kembali secara luas di bawah Pimpinan Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara J.B. Sumarlin di dalam sektor P yang berlangsung pada bulan mei 1973.57 Pembahasan tersebut menghasilkan penyempurnaan draft pertama, yang kemudian disebut dengan draft kedua, dalam rangka lebih menyempurnakan draft kedua Menpan memutuskan, agar BAKN mengadakan rapat dengan seluruh unsur-unsur departemen/lembaga tingkat pusat maupun unsur-unsur pemerintah serta KORPRI. Hasil dari pembahasan dalam rapat-rapat yang diadakan draft kedua tersebut mengalami penyempurnaan, yang kemudian disebut draft ketiga.
Bulan September 1973 draft ketiga ini dibahas kembail oleh sektor P di bawah pimpinan Menpan, dan menghasilkan beberapa penyempurnaan kembali yang kemudian disebut dengan draft keempat. Draft keempat ini rencananya langsung diajukan sebagai RUU kepada DPR, tetapi berhubung pada akhir tahun 1973 tersebut masih ada undang-undang lain yang perlu diselesaikan lebih dahulu, maka draft tersebut belum diajukan sebagai RUU. BAKN ternyata mengkonsultasikan kembali RUU tersebut kepada pihak-pihak yang berkompeten, yang menghasilkan draft kelima, draft kelima inilah yang kemudian pada tanggal
30 13 juli 1974 diajukan sebagai RUU tentang Pokok-pokok Kepegawaian dengan Amanat Presiden No. R-07/PU/VII/1974 yang disampaikan kepada DPR RI.
RUU tersebut kemudian dibahas secara mendalam oleh Komisi II DPR, maupun dalam lobbying antara pemerintah dan fraksi-fraksi, serta panitia perumus, pada tanggal 10 Oktober 1974 DPR mengesahkan RUU ini menjadi Undang-undang dalam rapat pleno. Tanggal 6 November 1974, Undang-undang No. 8 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian tersebut diundangkan dalam Lembaran Negara Tahun 1974 No. 55. Undang-undang No.18 Tahun 1961 maupun beberapa peraturan perundang-undangan lainya yang berhubungan dengan itu dinyatakan tidak berlaku lagi, setelah diundangkannya Undang-undang No. 8 Tahun 1974. Undang-undang yang baru tersebut diharapkan menjadi landasan yang kuat bagi penyempurnaan pembinaan Pegawai Negeri Sipil yang dapat digunakan sebagai dasar hukum, harapan tersebut antara lain:
1. Menyempurnakan dan menyederhanakan peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian,
2. Melaksanakan pembinaan Pegawai Negeri Sipil atas dasar system karir dan system prestasi kerja,
3. Memungkinkan penentuan kebijaksanaan yang sama bagi segenap Pegawai Negeri Sipil, baik Pegawai Negeri Sipil pusat maupun daerah,
4. Memungkinkan usaha-usaha untuk pemupukan jiwa korps yang bulat dan pembinaan keutuhan serta kekompakan segenap Pegawai Negeri Sipil.
31 Undang-undang No. 8 Tahun 1974 yang mengalami perumusan cukup alot dengan adanya draft pertama sampai draft kelima ternyata terbukti dapat bertahan cukup lama, akhirnya tahun 1999, Undang-undang tersebut dirasa sudah tidak sesuai dengan perkembangan mengenai kepegawaian pada saat ini. Undang-undang tersebut mengalami perubahan dengan diUndang-undangkannya Undang-Undang-undang No. 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian yang diundangkan pada tanggal 30 September 1999 dan tercantum dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169.
2. Pengertian Hukum Kepegawaian
Hukum Kepegawaian ialah Hukum yang mengatur dan menjelaskan tentang kedudukan Pegawai Negeri yang dipelajari di dalam Hukum Administrasi Negara, yang menyebutkan bahwa Pegawai Negeri mempunyai suatu hubungan dinas publik. Hubungan dinas publik adalah bilamana seseorang mengikatkan dirinya sendiri, untuk tunduk pada perintah melakukan satu atau beberapa macam jabatan, yang dalam melakukan suatu atau beberapa macam jabatan itu dihargai dengan pemberian gaji dan beberapa keuntungan lain. Pegawai memang bukan hanya Pegawai Negeri saja, melainkan Pegawai yang bekerja pada perusahan–
perusahaan swasta yang tidak mempunyai hubungan dinas publik, yang semuanya itu diatur di dalam Hukum Perburuhan, yang tidak ada kaitannya atau tidak ada hubungannya dengan Hukum Kepegawaian.
Hukum Kepegawaian Dikaitkan dengan suatu pengertian tidak mempelajari tentang Hukum perburuhan dilihat dari substansi Pegawai itu sendiri.
Pegawai Negeri mempunyai hubungan Dinas Publik, sedangkan Pegawai yang
32 bekerja pada perusahaan–perusahaan swasta tidak mempunyai Hubungan Dinas Publik. Penulis dalam hal ini tidak akan membahas pegawai dalam arti luas, namun khusus membahas mengenai Pegawai Negeri Sipil atau yang biasa disingkat PNS.
Berbicara mengenai obyek Hukum Administrasi Negara, obyeknya adalah Kekuasaan Pemerintah yang terdiri dari kekuasaan penyelenggaraan pemerintahan dan kekuasaan pembuatan perundang-undangan. Pemerintah dalam menjalankan kekuasaannya memerlukan suatu bentuk perangkat yang dapat menjalankan tugas tersebut. Tugas tersebut dijalankan oleh Pejabat Publik yang berstatus sebagai Pegawai Negeri. Pejabat Publik tidak semua berstatus Pegawai Negeri seperti halnya pemegang Jabatan dari suatu Jabatan Negara, sebaliknya tidak setiap Pegawai Negeri merupakan pemegang Jabatan Publik.
3. Dasar-dasar hukum pelaksanaan disiplin Pegawai
Dasar-dasar hukum pelaksanaan disiplin Pegawai Negeri Sipil adalah sebagi berikut :
1. Undang-Undang No. 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3890).
2. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1974, tentang Pembatasan Kegiatan Pegawai Negeri dalam Usaha Swasta (Lembaran Negara Nomor 8 Tahun 1974, tambahan Lembaran Negara Nomor 3201).
33 3. Peraturan Pemerintah No. 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai
Negeri Sipil.
4. Keputusan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Nomor 02 Tahun 1999 tentang Ketentuan Pelaksanaan Pegawai Negeri Sipil yang menjadi Anggota Partai Politik.
5. Keputusan Presiden Nomor 67 Tahun 1980 tentang Badan Pertimbangan Kepegawaian.
6. Surat Edaran Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Nomor 23/SE/1980, tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.
Selain beberapa peraturan atau perangkat kebijaksanaan tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil tersebut di atas, masih ada peraturan perundang-undangan lain yang mengatur tentang kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil, peraturan tersebut adalah :
1. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1979 tentang Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1979 tentang Pemberhentian PegawaiNegeri Sipil.
3. Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 1974 tentang beberapa Pembatasan Kegiatan Pegawai Negeri Sipil dalam Rangka Pendayagunaan Aparatur Negara dan Kesederhanaan Hidup.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 jo. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 tentang Ijin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil.
34 4. Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil
Dalam rangka meningkatkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat Kota Pekanbaru, perlu adanya Pembinaan Pegawai Negeri Sipil agar tercipta pelaku– pelaku pembangunan atau aparatur negara yang bermental baik, berwibawa, berpotensi bermutu tinggi serta sadar akan tanggungjawab untuk menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan sebagaimana diatur dengan PNS yang memuat kewajiban, larangan dan sanksi apabila kewajiban tidak ditaati atau larangan dilanggar oleh Pegawai Negeri Sipil. Peraturan ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil. Apabila Pegawai Negeri Sipil tidak mentaati kewajiban dan melanggar larangan, maka dapat dikatakan bahwa Pegawai Negeri Sipil tersebut telah melakukan pelanggaran disiplin (indisipliner).
Berdasarkan Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. tersebut mengenai tingkat dan jenis hukuman yang dapat diterapkan pada Pegawai adalah sebagai berikut :
Pasal 7
(1) Tingkat hukuman disiplin terdiri dari:
a. hukuman disiplin ringan;
b. hukuman disiplin sedang; dan c. hukuman disiplin berat.
(2) Jenis hukuman disiplin ringan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari:
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis; dan
c. pernyataan tidak puas secara tertulis.
35 (3) Jenis hukuman disiplin sedang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b terdiri dari:
a. penundaan kenaikan gaji berkala selama 1 (satu) tahun;
b. penundaan kenaikan pangkat selama 1 (satu) tahun; dan
c. penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun.
(4) Jenis hukuman disiplin berat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri dari:
a. penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 (tiga) tahun;
b. pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah;
Sanksi/ hukuman yang dijatuhkan kepada PNS yang Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil sanksi yang melanggar kewajiban dan larangan PNS. Adapun kewajiban dan larangan PNS adalah sebagai berikut : Kewajiban PNS berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil 1980 Pasal 3 dan 4 yaitu :
Pasal 3
Setiap PNS wajib:
1. mengucapkan sumpah/janji PNS;
2. mengucapkan sumpah/janji jabatan;
3. setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negar Kesatuan Republik Indonesia, dan Pemerintah;
4. menaati segala ketentuan peraturan perundangundangan;
5. melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab;
6. menjunjung tinggi kehormatan negara, Pemerintah, dan martabat PNS;
7. mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri, seseorang, dan/atau golongan;
8. memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus dirahasiakan;
9. bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan negara;
10. melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan, keuangan, dan materiil;
11. masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja;
12. mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan;
36 13. menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan
sebaik-baiknya;
14. memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat;
15. membimbing bawahan dalam melaksanakan tugas;
16. memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan karier; dan
17. menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang.
Pasal 4
Setiap PNS dilarang:
1. menyalahgunakan wewenang;
2. menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau orang lain dengan menggunakan kewenangan orang lain;
3. tanpa izin Pemerintah menjadi pegawai atau bekerja untuk negara lain dan/atau lembaga atau organisasi internasional;
4. bekerja pada perusahaan asing, konsultan asing, atau lembaga swadaya masyarakat asing;
5. memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan, atau meminjamkan barang-barang baik bergerak atau tidak bergerak, dokumen atau surat berharga milik negara secara tidak sah;
6. melakukan kegiatan bersama dengan atasan, teman sejawat, bawahan, atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan, atau pihak lain, yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara;
7. memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun baik secara langsung atau tidak langsung dan dengan dalih apapun untuk diangkat
8. dalam jabatan;
9. menerima hadiah atau suatu pemberian apa saja dari siapapun juga yang berhubungan dengan jabatan dan/atau pekerjaannya;
10. bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya;
11. melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan yang dapat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayani sehingga mengakibatkan kerugian bagi yang dilayani;
12. menghalangi berjalannya tugas kedinasan;
13. memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan cara:
a. ikut serta sebagai pelaksana kampanye;
b. menjadi peserta kampanye dengan menggunakan atribut partai atau atribut PNS;
c. sebagai peserta kampanye dengan mengerahkan PNS lain; dan/atau d. sebagai peserta kampanye dengan menggunakan fasilitas negara;
14. memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden dengan cara:
37 a. membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye;
dan/atau
b. mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum, selama, dan
c. sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan, atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya, anggota keluarga, dan masyarakat;
15. memberikan dukungan kepada calon anggota Dewan Perwakilan Daerah atau calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dengan cara memberikan surat dukungan disertai foto kopi Kartu Tanda Penduduk atau Surat Keterangan Tanda Penduduk sesuai peraturan perundangundangan; Dan
16. memberikan dukungan kepada calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, dengan cara:
a. terlibat dalam kegiatan kampanye untuk mendukung calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah;
b. menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatan dalam kegiatan kampanye;
c. membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye;
dan/atau
d. mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum, selama, dan sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan, atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya, anggota keluarga, dan masyarakat.
B. Gambaran Umum Tentang Pegawai Negeri Sipil